Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-08-29
Completed:
2026-08-29
Words:
3,400
Chapters:
2/2
Comments:
2
Kudos:
19
Bookmarks:
1
Hits:
235

Not by Choice, but by Heart

Summary:

Berawal dari perjodohan orang tua yang serba canggung, perlahan berubah menjadi rasa suka yang murni. Setelah berhasil saling jujur, malam itu berlanjut di apartemen Jihoon, di mana momen santai berujung pada ciuman pertama yang manis.

Chapter 1

Summary:

Dijodohkan bukan atas kemauan sendiri, Jihoon dan Kyungmin sepakat berpura-pura menurut, sampai mereka sadar perasaan yang tumbuh di antara mereka sudah tidak lagi soal pura-pura.

Chapter Text

Momen Kyungmin dan Jihoon bertemu pertama kali terjadi di sebuah pertemuan blind date yang diatur oleh orang tua mereka. Kala itu, Kyungmin diganggu di jam istirahat kerja lewat pesan singkat oleh orang tuanya yang mengajak makan siang di sebuah restoran.  Berbeda dengan Jihoon, ia sudah tahu maksud orang tuanya bahwa ia harus menghadiri pertemuan perjodohan tersebut. 

Selama dua puluh tahun hidupnya, baru kali ini Jihoon tidak punya pilihan atas jalan hidupnya sendiri. Hal-hal lain seperti hobi, bakat, hingga jalur pendidikan selalu bebas ia tentukan dan didukung penuh oleh orang tuanya. Namun, entah kenapa khusus soal jodoh, orang tuanya merasa perlu turun tangan dan mengatur sedemikian rupa. 

Jadilah ia sekarang duduk di hadapan Kyungmin di sebuah restoran. Kyungmin sudah tiba lebih dahulu. Kyungmin baru menyadari kedatangannya bukan sekadar untuk makan siang setelah pelayan selesai mengantar makanan ke mejanya. Sayangnya, niat Kyungmin untuk kabur bertepatan dengan kedatangan Jihoon.

“Halo, saya Jihoon,” sapa Jihoon pertama kali seraya mengulurkan tangan.
“Halo… Kyungmin,” balas Kyungmin sambil menyambut uluran tangan tersebut. 

Setelah sapaan singkat itu, barulah mereka duduk. Rencana Kyungmin untuk kabur menguap berganti dengan rasa penasaran. Walau enggan, ia ingin tahu alasan orang tuanya mengatur blind date ini, serta orang seperti apa yang datang menemuinya. 

Selama sepuluh menit awal, belum ada satu pun yang membuka suara. Kyungmin terus mengamati dengan dahi mengerut dan ekspresi tidak senang.

Sementara itu, Jihoon yang biasanya tidak tahan diam, memilih menahan diri. Muka tidak bersahabat Kyungmin menahannya agar tidak terburu-buru. Ia menghargai sikap Kyungmin. Jihoon datang dengan informasi lengkap dari orang tuanya, berbeda dengan Kyungmin yang datang tanpa tahu apa-apa.

“Jihoon, kan?” tanya Kyungmin akhirnya, memutus keheningan.
“Iya, saya Jihoon,” jawab Jihoon mengkonfirmasi.
“To the point aja deh, kamu kerja sama sama orang tua saya dibayar berapa?” tanya Kyungmin sinis.
“Nggak dibayar. Saya juga dijebak orang tua saya awalnya,” ucap Jihoon sambil tersenyum maklum.

Kyungmin mencari kebohongan di raut wajah Jihoon, namun tidak menemukannya. Jihoon benar-benar menguasai dirinya dengan tenang.

“Hmmmm… kalau gitu kamu setuju sama perjodohan ini?” tanya Kyungmin lagi.    
“Dibanding jawaban setuju atau nggak. Saya juga penasaran kenapa orang tua saya merasa masalah jodoh perlu mereka yang atur,” terang Jihoon.  
“Saya nggak tahu karakter orang tua kamu kayak gimana. Tapi kalau sampai niat jodohin begini, mereka pasti mau hasil dari pertemuan kita hari ini, kan?” lanjut Kyungmin.

Jihoon mengangguk pelan.

“Bisa dibilang begitu. Jadi, mau dibawa ke mana arah pertemuan ini?”

Kyungmin tampak menimbang. Ia mengubah posisi duduknya yang awalnya bersandar jadi memajukan badan mendekati meja.

“Gimana kalau kita turutin aja dulu? Make it work depan mereka sambil cari tahu maksud mereka. Tapi saya harap kamu nggak berharap lebih,” jawab Kyungmin.

Awalnya Jihoon bingung dengan kalimat terakhir Kyungmin. Namun ketika Kyungmin mulai berbicara soal masa lalunya, Jihoon mulai paham. Berdasarkan pengalaman dan cerita orang-orang, membuka kisah masa lalu seperti ini adalah cara seseorang membangun benteng pertahanan dan membatasi ekspektasi orang baru. 

Jihoon mendengarkan setiap cerita Kyungmin dengan tenang. Tidak ada raut kecewa atau cemburu di wajahnya. Tak lama, Kyungmin mengakhiri ceritanya dan kembali bersandar di kursi.

“Jadi gitu,” tutup Kyungmin.

“Hmmmm…” gumam Jihoon sambil mengangguk pelan, menandakan ia menyimak.

Jihoon mengukir senyum tipis sebelum membuka suara menanggapi cerita Kyungmin.

“Kyungmin, dibanding cerita soal mantan kamu, jujur saya jauh lebih tertarik sama kamu,” ucap Jihoon tenang. 

Kalimat sederhana itu sukses membuat Kyungmin terdiam cukup lama.

“Kayaknya pertemuan hari ini cukup deh. Lanjut lagi besok,” ucap Kyungmin terburu-buru untuk menutupi kegugupannya.
“Oke, besok kamu boleh pilih tempatnya. Yuk, pulang,” ajak Jihoon lembut sambil menunggu Kyungmin berdiri lebih dulu.  
“Oke,” balas Kyungmin singkat lalu bangkit berdiri meninggalkan restoran dengan Jihoon mengikuti dari belakang.

“Kyungmin, bawa mobil sendiri?” tanya Jihoon di lobi.
“Iya, bawa mobil. Tadi minta parkir valet,” jawab Kyungmin. Tak lama, mobilnya tiba. Jihoon tetap berdiri di luar, menunggu sampai Kyungmin naik ke mobilnya. 

“Hati-hati di jalan ya. Besok saya jemput kamu di rumah,” pamit Jihoon melambaikan tangan. Setelahnya, Kyungmin langsung melajukan mobilnya.

Di sepanjang perjalanan, Kyungmin baru tersadar ucapannya. Kenapa justru ia yang mengajak Jihoon bertemu lagi besok? Otaknya seakan telat memproses ucapannya sendiri. Kegugupan akibat ucapan Jihoon bertahan lama bahkan hingga ia tiba di rumah dan merebahkan diri di kasur, ucapan Jihoon terus terngiang-ngiang.

Esok paginya, sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

[+82-10-2468-1357] Pagi, Kyungmin. Saya Jihoon. Maaf pagi-pagi sudah chat kamu. Saya dapat nomor kamu dari mama kamu yang kasih ke mama saya. Kemarin kita nggak sempat bertukar nomor. Untuk pertemuan hari ini, kamu ada rencana ingin pergi ke mana? Saya bisa jemput kamu sekitar jam 1 siang kalau kamu nggak keberatan.

Kyungmin mencerna pesan itu sejenak. Jam 1 sepertinya adalah waktu yang pas untuk akhir pekan. 

[Kyungmin] Pagi, Jihoon. Jam 1 oke. Kalo tempatnya di <nama kafe boardgame> oke nggak?  
[Jihoon] Oke, see you.

Setelah membalas pesan Jihoon, Kyungmin bergegas bangun untuk memilih pakaian. Sudah berulang kali ia mencoba berbagai kombinasi baju, tetapi tidak ada yang terasa pas. Ia tidak ingin terlihat terlalu niat, tapi juga tidak mau menurunkan standar gayanya. 

Baju pilihannya yaitu kaus dalaman biru dongker dengan luaran jaket denim pudar dan celana hitam panjang. Setelah mandi dan memoles wajahnya tipis-tipis, adiknya mengetuk pintu kamar. 

“Kakk, Kak Jihoon udah di bawah,” panggil adiknya.
“Iya, sebentar. Aku keluar,” sahut Kyungmin.
“Kata Mama cepetan, keburu ditahan Papa lama,” tambah adiknya lagi.

Perkataan adiknya sukses membuat Kyungmin buru-buru membuka pintu.

“Hahhh? Gimana maksudnya?” tanya Kyungmin bingung sambil menuruni tangga.
“Nggak tahu, lihat aja sendiri ke bawah,” jawab adiknya sambil mengikuti dari belakang.

“Jihoon…” panggil Kyungmin saat melihat Jihoon sedang duduk berhadapan dengan papanya yang santai menyeruput kopi.

“Oh, kalian udah mau pergi?” tanya Papa Kyungmin. Kyungmin memberi isyarat mata agar Jihoon segera berdiri dan mereka pergi. 

Jihoon berpamitan dengan sopan kepada orang tua Kyungmin. Sementara itu, Kyungmin mendapati senyum mencurigakan mamanya. Rasa sebal dengan orang tuanya kembali timbul, namun ia menahannya dan tetap berpamitan seperti biasa ke papa mamanya. 

“Stop ya, Ma. Nggak ada apa-apa,” ucap Kyungmin. Papanya langsung merangkul bahu istrinya untuk menengahi mereka agar Kyungmin bisa segera pergi. 

Ketika Kyungmin keluar rumah, Jihoon berjalan lebih dulu untuk membukakan pintu mobil bagi Kyungmin. Setelah memastikan Kyungmin duduk nyaman, barulah Jihoon memutar ke kursi pengemudi dan melajukan mobilnya keluar area perumahan menuju kafe boardgame.

“Kyungmin, kamu suka dengerin musik?” tanya Jihoon memecah keheningan di jalan.
“Suka.”  
“Hubungin aja HP kamu ke Bluetooth mobil,” ujar Jihoon. Kebetulan saat ini sedang lampu merah jadi Jihoon memanfaatkan momen untuk membantu Kyungmin menyambungkan ponselnya.
”Setel aja lagu apa pun yang kamu suka.”

Tiba di kafe boardgame, mereka memesan dua minuman dan camilan. Staff kafe membantu menjelaskan aturan beberapa game yang cocok dimainkan berdua. Selama kurang lebih dua jam, mereka mencoba sekitar lima jenis permainan. Waktu dihabiskan tidak hanya bermain saja, namun diselingi obrolan santai dan camilan.

Setelah selesai, Jihoon mengantarkan Kyungmin pulang. Saat turun dari mobil dan hendak mengantar sampai depan pintu, keluarga Kyungmin justru terlihat baru saja keluar rumah. 

“Loh, udah pulang? Masih sore padahal. Om dan Tante aja baru mau jalan,” ucap Mama Kyungmin.
“Iya, Tante,” jawab Jihoon sedikit canggung.

Kyungmin refleks menarik pelan lengan Jihoon, menuntunnya agar segera kembali ke mobil untuk menghindari pertanyaan dari orangtuanya. Jihoon hanya menurut, berpamitan singkat, tanpa sempat mendengar balasan orang tua Kyungmin karena diburu-burui pulang.

“Kenapa sih, Kak? Buru-buru banget, kasian Jihoon-nya kayak diusir,” keluh Mamanya.
“Maaaa…” keluh Kyungmin lelah.

Saat orang tua dan adiknya bersiap masuk ke mobil untuk pergi, Kyungmin malah ikut menyelinap ke kursi belakang di samping adiknya.

“Harusnya Kakak pergi sama Kak Jihoon nggak sih? Masa ngintil Papa Mama?” bisik adiknya terkekeh.
“Dek, jangan ikutan ya,” tegur Kyungmin.

Malamnya, Kyungmin mengirim pesan singkat pada Jihoon menanyakan keadaannya. Kyungmin meminta maaf, merasa bersalah karena terkesan mengusirnya. Sejujurnya, Kyungmin hanya ingin diberi ruang oleh orang tuanya, biarkan Kyungmin dan Jihoon yang memutuskan arah hubungan mereka ke depannya.

Pesan malam itu menjadi pembuka obrolan mereka yang semakin intens. Dalam sebulan, mereka beberapa kali jalan bareng, bergantian mengikuti minat Jihoon. Kyungmin yang awalnya hanya berniat menuruti omongan orang tuanya, perlahan mulai terbawa suasana. Perlakuan Jihoon  yang santai, perhatian dan sesekali menggodanya sering kali membuat jantung Kyungmin berdebar tidak karuan. 

Hingga suatu hari saat libur tiga hari Chuseok, Jihoon mengajak Kyungmin untuk liburan bersama. Kyungmin meminta izin pada keluarganya hanya ikut makan siang di hari pertama lalu pergi bersama Jihoon ke luar kota.

Jihoon mengajak Kyungmin menginap di villa bersama teman-temannya. Rombongan mereka terdiri dari sebelas orang dan akan menggunakan tiga mobil. Di mobil Jihoon, ada empat orang, Jihoon, Kyungmin dan dua teman terdekat Jihoon. 

Jihoon menjemput Kyungmin lebih dulu sebelum menjemput kedua temannya.

“Halo,” sapa Kyungmin ramah saat kedua teman Jihoon masuk mobil. Kedua teman Jihoon menyapa balik dan mereka saling berkenalan. Suasana perjalanan menuju villa tidak terasa canggung dan membosankan karena teman-teman Jihoon banyak melempar candaan serta obrolan mereka pun nyambung.

Setibanya di villa, mobil mereka sampai paling awal. Jihoon mendahulukan memindahkan stok daging yang ditaruh di cooler box ke dalam freezer untuk acara BBQ nanti malam.

Tak lama, dua mobil lain menyusul. Sebelum mereka pergi ke kedai gelato terkenal di dekat sana, Jihoon berinisiatif mengenalkan teman-temannya kepada Kyungmin.

Sesampainya di kedai gelato yang juga menjual kue tiramisu dan kopi itu, Kyungmin tampak terpukau.

“Kyungmin, mau es krim berapa scoop?” tanya Jihoon.

“Hmmmm… mau semua. Kelihatan enak-enak gelatonya,” sahut Kyungmin terpaku menatap berbagai macam gelato terpajang di etalase.

“Kalau tiga scoop habis?”
“Habis,” jawab Kyungmin tak yakin.
“Dua scoop aja ya.  Aku juga dua scoop. Tapi pesen varian yang beda biar bisa saling cicip.”
“Oke deh,” jawab Kyungmin. 

Setelah membayar, mereka bergabung duduk bersama teman-teman yang lain. Jihoon menyadari raut muka Kyungmin agak cemberut karena masih ingin membeli tiga scoop.

“Nanti kalau ini udah habis dan kamu masih mau, kita beli satu scoop lagi. Sekarang habisin empat scoop kita dulu,” bujuk Jihoon lembut sambil merapikan poni Kyungmin yang menutupi matanya.

Mereka menikmati sore itu dengan obrolan santai sebelum berlanjut belanja di supermarket untuk membeli sayur, camilan dan minuman, bahan acara BBQ nanti. Sesampainya kembali di villa, semua orang berbagi tugas. Jihoon bertugas memanaskan panggangan, sementara Kyungmin membantu memarinasi daging.

Acara BBQ hari itu dipenuhi kehangatan. Mereka makan sembari bercanda dan bernyanyi diiringi petikan gitar. 

Selama tiga hari berada di villa, Kyungmin memerhatikan interaksi Jihoon dengan teman-temannya. Jihoon ternyata sangat kasual dalam melakukan physical touch. Jihoon tanpa ragu merangkul bahu, mengapit lengan atau bercanda mencubit pipi temannya, baik laki-laki maupun perempuan. 

Interaksi tersebut mengundang tanda tanya dalam benak Kyungmin. Ada perasaan yang mengganjal. Mengapa Jihoon jarang bersentuhan fisik dengannya? 

Tanpa Kyungmin sadari, Jihoon pun menyimpan pemikiran serupa. Saat melihat interaksi Kyungmin dengan salah satu orang baru di sana, Jihoon terganggu betapa cepatnya Kyungmin akrab dan tertawa santai dengan orang tersebut. 

Keduanya memilih memendam pemikiran mereka masing-masing hingga malam terakhir sebelum kepulangan. Karena makan malam kali ini tidak perlu repot memasak, mereka memesan layanan home service hotpot, mereka memutuskan untuk minum-minum. 

Setelah pelayan selesai menyiapkan hidangan hotpot, mereka menikmati makanan diselingi minum beberapa botol dan kaleng alkohol. 

Tak butuh lama, hampir semua orang di ruangan mulai hilang kendali. Suasana makin riuh dengan nyanyian hehoh dan racauan konyol akibat efek alkohol. Jihoon, yang toleransi alkoholnya cukup rendah, wajahnya mendadak merah padam dan berakhir menggelepar di atas lantai.

Melihat ada dua orang yang tergeletak di samping Jihoon, Kyungmin berinisiatif mengambil kasur lipat dari kamar membawanya ke ruangan depan agar mereka tidak sakit karena tidur di lantai dingin. Beruntung, masih ada teman yang sadar untuk membantunya memindahkan mereka yang tidur di lantai tersebut.

Karena belum mengantuk dan merasa bosan, Kyungmin keluar duduk di kursi goyang teras. Cukup lama ia di sana sekadar memainkan ponsel, hingga terdengar ada seseorang datang mendekat.

“Kyungmin…” panggil Jihoon dengan suara parau.

Kyungmin tidak menjawab, hanya membiarkan Jihoon mendudukkan diri di sebelahnya. Jihoon mulai meracau dengan topik yang lompat-lompat, membuat Kyungmin tertawa pelan, sampai satu pertanyaan terlontar.

“Kyungmin, kamu udah suka sama aku belum?” tanya Jihoon mendadak.

Kyungmin tertegun, bingung bagaimana harus merespons.

“Kyungmin…” panggil Jihoon lagi, sambil menatap dalam-dalam ke manik mata Kyungmin seraya menggenggam jemarinya.

Ditatap seperti itu Kyungmin salah tingkah namun ia harus menguasai dirinya.

“Jihoon, coba kamu tanya pertanyaan itu besok pas kamu udah sadar,” ucap Kyungmin akhirnya.

Jihoon menggeleng pelan.

“Kyungmin aku sadar kok. Aku tahu apa yang aku tanya ke kamu,” racau Jihoon, sebelum akhirnya menyandarkan kepala di sandaran kursi.

“Aduh pusing,” keluh Jihoon.

“Bangun. Jangan tidur di sini, dingin,” ujar Kyungmin sambil berdiri dan menarik tangan Jihoon agar ikut bangun.
“Oke…”

Ajaibnya, Jihoon menurut walau langkahnya sudah sangat sempoyongan. Kyungmin bahkan hampir membanting tubuh Jihoon ke atas kasur karena merasa kewalahan menahan bobot tubuh Jihoon.

Esok harinya, mereka pulang seolah tidak ada kejadian apa-apa dan kembali ke rutinitas pekerjaan masing-masing. 

Namun sepanjang minggu ini, Jihoon sering kehilangan fokus. Kejadian di villa malam itu terus membayanginya. Ia sadar harus segera bertemu empat mata dengan Kyungmin untuk menjelaskan segalanya.

Sayangnya, akhir pekan ini Jihoon disibukkan oleh urusan pekerjaan sebagai ganti libur Chuseok tiga hari lalu. Karena tak mau menunda lebih lama dan membuat kebingungan untuk Kyungmin, Jihoon mengirim pesan singkat di sela kesibukannya.

[Jihoon] Halooo… sibuk nggak?
[Kyungmin] Nggak. Kenapa?
[Jihoon] Aku weekend masih harus kerja jadi maaf belum bisa ajak ketemu. Tapi kalo hari biasa, kamu ada waktu luang nggak?
[Kyungmin] Hari selasa sore palingan sehabis kerja. Mau ketemu di mana?   
[Jihoon] Di resto pertama kali ketemu, gimana? Ada yang mau aku omongin. 

Hari Selasa sore, Kyungmin sengaja datang lebih awal setelah menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin. Selain karena tidak sabar ingin bertemu Jihoon, ia juga butuh waktu meredakan kegugupannya. Kyungmin duduk di kursi yang sama persis saat pertama kali mereka bertemu. Selama menunggu, ia terus-menerus memainkan kancing baju di ujung lengan kemejanya dan menghabiskan gelas air putih di atas meja. 

Tak lama, Jihoon datang. Begitu menangkap keberadaan Kyungmin, Jihoon melangkah cepat menghampiri meja.

“Halooo…” sapa Jihoon lembut.
“Halooo…” balas Kyungmin sambil melambaikan tangannya.

Setelah sapaan singkat tersebut, Jihoon mendudukkan diri tepat di hadapan Kyungmin. Anehnya, setelah mereka duduk, tidak ada satu pun dari mereka yang membuka percakapan. Keduanya hanya saling tatap, merindukan satu sama lain.

“Ehem,” Jihoon berdeham memecah keheningan. Ia hendak bersuara tetapi tertahan karena Kyungmin memajukan tubuhnya, meminta izin untuk bicara lebih dulu.

“Jadi… kenapa pilih tempat ini lagi?” tanya Kyungmin. 

Jihoon menatap sekeliling restoran sebelum kembali memfokuskan tatapannya pada Kyungmin.

“Soalnya di meja ini, pertama kali kita memulai semuanya namun dengan kesan yang kurang baik,” ucap Jihoon jujur. “Waktu itu kita sama-sama datang karena suruhan orang tua. Tapi hari ini aku mau ganti tempat ini dengan memori yang baik,” tambah Jihoon.

Kyungmin diam mencerna semuanya. Sejujurnya, jantungnya makin berdebar mendengar perkataan itu. Tak mau lama-lama berputar dengan isi pikirannya sendiri, Kyungmin memberanikan diri melontarkan satu pertanyaan krusial.

“Jihoon, kamu ingat nggak ucapan kamu malam itu di villa?” tanya Kyungmin akhirnya.
“Ingat. Aku ingat kejadian dan ucapan aku malam itu. Aku memang berniat mau ngobrolin soal itu.” jawab Jihoon. Ia menjeda sejenak untuk melihat reaksi Kyungmin. Kyungmin mengangguk pelan, memberi gestur agar Jihoon melanjutkan ucapannya.

“Acara liburan bareng kemarin itu penting buat aku. Aku mau ngenalin kamu sama orang-orang terdekatku dan kamu bisa lihat gimana kelakuan aku kalau lagi sama mereka. Aku nggak maksain kamu harus langsung akrab sama mereka tapi waktu aku lihat kamu bisa nyaman, aku ikut senang. Walau jujur ada sedikit perasaan mengganjal waktu lihat kamu begitu cepat akrab sama mereka. Aku bahkan bandingin diri aku sendiri sama teman aku. Kenapa sama aku nggak secepat ini akrabnya? Tapi aku pikir, lebih bijak untuk nggak permasalahin itu dan memilih untuk pendam sendiri.” Jihoon menghela napas pelan sebelum melanjutkan.

“Sampai di malam kita minum-minum, aku terbawa suasana padahal aku punya toleransi alkohol rendah. Aku pikir aku bakal black out tapi aku malah ngeracau nggak jelas dan nanya apa kamu udah suka sama aku atau belum.” 

Jihoon menjeda ucapannya untuk meneguk air lalu perlahan meraih jemari Kyungmin dan menggenggamnya.

“Sejujurnya, aku udah jatuh hati sama kamu. Kalimat yang aku lontarin di hari pertama kali kita ketemu bukan sekadar flirting. Aku benar-benar tertarik sama kamu dari awal. Makin banyak waktu yang kita habisin bareng, rasa tertarik itu berubah jadi cinta. Aku senang dengan adanya kamu di hidup aku sekarang. Aku cerita ini bukan untuk buru-buru mau ajak kamu pacaran, aku cuma mau jujur ungkapin perasaan aku. Aku mau jalani hubungan ini dengan nyaman, tanpa ada ganjalan apa pun lagi,” tambah Jihoon. 

Kyungmin menanggapi pernyataan panjang Jihoon dengan menangkup genggaman tangan mereka dengan tangan satunya, sebelum mulai bersuara.

“Jihoon, aku juga mau buat pengakuan. Aku senang waktu kamu ajak liburan bareng dan bisa kenal teman-teman kamu. Selama tiga hari itu, aku perhatiin gimana interaksi kamu, care-nya kamu, dan cara kamu bercanda. Lalu ada satu hal yang baru pertama kali aku lihat, kamu banyak melakukan physical touch sama teman-teman kamu. Dalam benak aku, sentuhan fisik tunjukkin tingkat keakraban. Sementara selama sebulan lebih ini, kamu seperti menahan diri sama aku. Aku punya pemikiran kayak gitu maybe sebenarnya aku udah tertarik sama kamu. Ah, bukan…” 

Kyungmin menggeleng pelan dengan senyum tipis, menatap lurus ke dalam bola mata Jihoon sebelum melanjutkan.

“Aku jatuh cinta sama kamu.”

Pengakuan terus terang Kyungmin sukses membuat Jihoon tertegun. Ia semakin mengencangkan genggaman tangannya pada jemari Kyungmin. Senyum Jihoon merekah lebar, seolah seluruh beban yang mengendap di dadanya menguap begitu saja.

Namun tepat di saat atmosfer di antara mereka semakin menghangat, suara speaker pecah mendadak menggema di seluruh ruangan, disusul tepuk tangan meriah. Di pojok restoran, rupanya ada salah satu pengunjung yang sedang merayakan ulang tahun. Fokus mereka seketika terpecah, Jihoon dan Kyungmin refleks ikut bertepuk tangan dan tertawa pelan.

“Kyungmin… mau cari tempat lain nggak? Yang lebih tenang,” ajak Jihoon tak bisa lagi menahan tawanya.
“Boleh…” jawab Kyungmin, yang juga ikut tertawa melihat situasi tak terduga tersebut.

Jihoon berdiri lalu berjalan menuju kasir untuk menyelesaikan pembayaran, sementara Kyungmin mengekor di sampingnya. Kemudian mereka berdua melangkah keluar meninggalkan restoran.