Work Text:
Pertengahan Januari yang masih saja berangin. Taehyung menyambangi rumah Jimin, sahabatnya sejak masih balita dan memakai popok, dengan rentetan makian dan kekesalan yang tidak berhenti. Jimin memutar mata, merasa tidak ada gunanya untuk mengusir Taehyung keluar dari apartement miliknya.
“Aku akan ganti nomor lagi.” Taehyung berkata saat itu sembari melempar smartphone berwarna hitam itu ke sofa berwarna marun milik Jimin, mengabaikan layarnya yang terus berkedip dan dengungan notifikasi tanpa henti. Jimin hanya menggumam pelan sambil melemparkan kaleng soda yang diterima dengan tangkas, terlalu mengantuk untuk membalas.
Mendapat respon tidak antusias dari Jimin, Taehyung melempar pemuda berambut kelabu pudar itu dengan bantal karakter berbentuk bebek (Taehyung yakin itu bukan properti asli milik Jimin, sahabatnya itu lebih suka kodok daripada bebek). “Matikan,” gumam Jimin dengan nada serak, “Sebelum aku melihat ponselmu sebagai bom dan aku membuangnya sejauh mungkin.”
“Oh ayolah bantu aku.” Taehyung mengerang kesal.
“Apa yang kau inginkan?” Jimin mengusap wajahnya, “jika tidak ada, keluar dan jangan ganggu waktu tidurku. Semalam suntuk aku menemani Yoongi-hyung dengan skripsinya. Aku masih lelah.”
“Bantu aku menjauhkan Jeon Jungkook dariku.”
“Jeon Jungkook?” wajah Jimin kini menampilkan raut terhibur. “Tidak mungkin, aku tidak yakin. Jeon Jungkook itu keras kepala.”
Taehyung kembali mengeluh, agak kesulitan membuka kaleng minuman soda tersebut sampai Jimin mengambil alih dan membukanya dengan mudah. “Aku akan cari nomor baru.”
“Itu tidak akan berhasil, Jungkook akan selalu mendapatkanmu.”
“Oh sial.”
Ingatan mereka kembali terbang ke satu bulan yang lalu. Dimana saat itu Taehyung dan Jimin tengah berjalan-jalan di antara lautan mahasiswa baru yang tengah menjalani masa orientasi hanya karena Jimin menyeretnya, dia bilang ingin menemui Yoongi, pacarnya yang sekarang menjabat sebagai Ketua Komite Disiplin. Taehyung tengah duduk di bangku batu sambil memainkan rubik di tangannya, mendengarkan acara pembacaan surat cinta konyol yang diusulkan oleh salah satu panitia ospek.
Rubik yang sudah setengah jadi itu tergelincir dari jarinya saat ia mendengar namanya diucap dengan lantang lewat pengeras suara. Ia buru-buru mengalihkan pandangan ke tengah lapangan, di atas podium buatan, berdiri seorang mahasiswa baru berambut cokelat dan kini juga tengah menatap tepat ke arahnya. Taehyung masih ingat dengan jelas apa yang diucapkan hoobae yang satu itu.
“Kim Taehyung-sunbae! Aku menyukaimu! Tunggu saja!”
Ia masih bisa mendengar seluruh siswa berseru penuh semangat, antara iri dan menggoda. Taehyung hanya mengernyitkan kening, kemudian mendengus. Berusaha tidak peduli namun sialnya mendekam di kepalanya selama tigapuluh hari sampai sekarang. Tidak bisa dihilangkan.
“Terima saja.” Jimin meninju lengannya main-main, dibalas oleh delikan tajam dari Taehyung.
“Sampai neraka runtuh aku tidak akan mau menerimanya.”
“Dia anak yang baik, astaga. Apa yang kau khawatirkan?” Jimin menyilangkan lengannya di depan dada, menatap Taehyung intens. “Kau masih takut?”
“Aku tidak takut, sial.” Taehyung menggigit bibir bawahnya, tidak yakin.
“Ya, ya, ya. Bantah saja kenyataan itu sampai aku jadi Presiden.” Jimin memutar matanya malas.
“Bagaimana jika nanti bocah sialan itu meninggalkanku? Mengatakan itu hanya permainan dan aku ini gampangan?” Taehyung mengangkat kakinya yang terjuntai lemas, memeluk dan membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya. “Bagaimana jika dia seperti Hoseok-sunbae?”
Jimin terdiam sejenak, menyadari perubahan honorifik yang digunakan Taehyung pada Jung Hoseok, mahasiswa semester empat yang pernah menjadi orang terdekat Taehyung. “Tidak semua orang seperti Jung Hoseok, Tae.” Jimin mengusap pundak Taehyung menenangkan, sedikit merasa miris.
“Memang, tapi dia yang membuatku beranggapan begitu,” jeda sejenak sebelum Taehyung melanjutkan dengan nada pedih, “dan aku masih belum bisa membuang pikiran itu.”
Jimin menghembuskan napas panjang, kemudian beranjak berdiri sambil menarik lengan Taehyung. “Ayo keluar, kita cari sesuatu yang membuatmu senang. Kacau begini seperti bukan kau saja.”
---
“Satu buku lagi... sial.”
Taehyung tanpa sadar mengumpat saat mau tidak mau harus mengambil buku di rak paling atas, jauh di atas tubuhnya. Bagaimana bisa perpustakaan di kampusnya memiliki rak setinggi itu? Membuatnya harus menarik kursi untuk mengambilnya dan meraih buku itu pelan-pelan.
Harusnya Taehyung bisa minta bantuan, namun sekarang sedang sepi. Bahkan siswa maupun guru penjaga tidak terlihat. Taehyung butuh buku itu sekarang atau ia akan terlambat mengerjakan esai minimal seribu kata miliknya. Apa dosennya itu menyuruhnya menulis cerita?
Ia sedikit berjingkat saat ujung jarinya menyentuh punggung buku tersebut, kakinya melangkah semakin ke pinggir untuk bisa meraihnya. Dan tepat saat buku itu hampir berada di genggaman jarinya, Taehyung oleng. Ia sudah bisa membayangkan ngilu dan rasa sakit yang akan diterima tubuhnya bertepatan dengan lengan yang menahan tubuhnya dan kursi yang dinaikinya terjatuh.
Buku yang tadi di raih Taehyung jatuh berdebum ke lantai, membuatnya terdiam sejenak. Sedikit syok.
“Kau baik-baik saja, sunbae?”
Suara itu.
“Jeon Jungkook!” Taehyung buru-buru melepaskan lengan Jungkook dan sedikit melompat turun dari kursi setelah mendaratkan jitakan keras di kening pemuda itu. Taehyung meraup buku yang tadi terjatuh ke pelukannya, “Apa-apaan kau disini dan jangan menyentuhku!”
“Kalau aku bisa menolong sunbae tanpa menyentuh, sudah aku lakukan dari tadi.” Jungkook menggerutu pelan, mengusap keningnya yang sedikit memerah. “Dan apa susahnya berterima kasih padaku?”
“Ya, ya, ya. Terserah. Aku pergi sekarang.”
“Hati-hati, sunbae! Jangan menabrak rak buku!”
“Aku tahu itu dengan jelas! Kau bukan ibuku—ADUH!”
Jungkook sedikit meringis saat melihat Taehyung terjatuh lagi karena sesuatu yang sudah diperingatkannya. Ia bergegas menghampiri Taehyung, menemukan lengan kakak kelasnya itu sedikit lecet. “Ternyata ini ada gunanya juga.” Jungkook mengambil plester luka bermotif kelinci berwarna merah muda dari sakunya.
Taehyung sudah hampir meledek Jungkook sebelum yang lebih muda memotong dengan nada santai. “Ini bukan milikku. Ada cewe yang tadi memberikannya padaku.” Jungkook membuka bungkusnya dan menempelkannya di lengan Taehyung, “dan ternyata memang ada gunanya. Padahal hampir kubuang.”
“Terima kasih.” Taehyung membuang muka, sedikit malu.
“Kembali.” Jungkook hanya tertawa. “Lihat, plesternya lebih cocok untukmu, sunbae.”
“Di-diam, bodoh.”
---
Taehyung menggerutu sambil memegang kepalanya. Seharusnya ia sudah bisa istirahat sekarang, namun ia harus mendapat ceramah panjang dari salah satu dosen karena kesalahan penelitian di dalam skripsinya. Satu jam Taehyung mendekam di sana, menahan malu karena di semprot habis-habisan. Taehyung bahkan tidak diberi kesempatan untuk membela diri dan hanya diam sembari menunduk. Tapi, setelah diteliti, ternyata skripsi itu bukan milik Taehyung, namun milik mahasiswa fakultas lain yang memiliki nama hampir mirip dengannya. Pantas saja Taehyung tidak mengerti apa topik yang dikaitkan dosen tersebut—juga karena Taehyung masih bertahan dengan sisi perfeksionisnya jika menyangkut tugas, sangat tidak mungkin bagi Taehyung untuk melakukan kesalahan bahkan dalam tugas sepele pun.
Dirinya kesal bukan main, ingin sekali balik memuntahkan seluruh kekesalannya pada dosen itu, namun alih-alih melakukannya, Taehyung tersenyum sembari membungkuk. Menahan kekesalan dan perasaan ingin menendang sesuatu, atau setidaknya menghancurkan sesuatu. Bukannya meminta maaf, guru tadi malah menyalahkannya dengan mengatakan seharusnya Taehyung bilang kalau skripsi itu bukan miliknya. Pepatah guru selalu benar berlaku dimana saja, yeah?
“Kau sendiri yang tidak beri kesempatan bicara. Kau itu dosen apa rapper sih?” Taehyung mengeluh, “Dan kacamata itu kurang besar? Tidak bisa mengenali anak didikmu sendiri? Cih.”
Ia melangkah gontai menuju ruang kelasnya yang hampir kosong karena jam kuliah sudah berakhir sejak setengah jam yang lalu. Namun untungnya ia mendapati Jimin masih menunggunya di dalam kelas sembari memainkan smartphone dengan headset tersumpal.
“Jiminieeeeee.” Taehyung merengek, menghambur ke arah Jimin dengan tangan terbuka minta dipeluk.
“Yah, yah, yah!” Jimin masih memainkan smartphone di tangannya dengan brutal sebelum akhirnya meraung pilu. “Astaga, sedikit lagi aku akan mendapatkan Master. Kenapa kau harus datang sekarang sih?”
Taehyung merengut kesal, menendang tulang kaki Jimin main-main. “Kau senang aku disemprot habis-habisan oleh Dosen Lee?”
“Membuatmu tersiksa, yeah. Tapi menyuruhku menunggu lama dan akhirnya menghancurkan perjuanganku selama ini untuk menamatkan level tujuhpuluh tujuh? Kim-sialan-Taehyung!”
Taehyung tertawa, menepuk pundak Jimin penuh simpati. “Cheat? Aku akan mengajarimu.”
“Aku tidak curang sepertimu.”
“Ini hanya game, astaga. Memangnya apa yang salah dengan itu? Sebulan kau masih berada di level tujuhpuluh enam. Mendekam disana sampai berlumut, itu rencanamu?” Taehyung menyilangkan lengannya di depan dada, bersikap sok persuasif.
Jimin memutar matanya, “Oke, nanti jika aku benar-benar menyerah aku akan bermain cheat.”
Taehyung hampir menyemburkan tawanya lagi, namun mendadak mematung. “Hei, mana tasku?” Taehyung menghampiri kursinya yang kosong, tidak menemukan ransel hitam yang selalu dibawanya. Ia menatap kesal pada Jimin, “Kau mengambilnya?”
“Bukan aku, tapi Jungkook.”
“APA?”
Jimin kini yang tengah tertawa melihat raut kesal Taehyung. Ia mengacak-acak rambut cokelat Taehyung, menarik pipinya gemas saat Taehyung hanya diam dengan mata membulat lebar. “Cari Jungkook sana. Aku ada kencan dengan Yoongi-ku hari ini.”
“Jeon Jungkook mengambil tasku...” Taehyung menatap Jimin tidak percaya, merasa dikhianati, “... dan kau membiarkannya? BEGITU?”
Jimin mengangkat bahu dengan senyum lebar, membentuk matanya menjadi bulan sabit namun begitu menyebalkan di mata Taehyung sekarang. “Nah, aku menunggumu hanya untuk mengatakan itu. Bye, Tae. Dia ada di parkiran kampus. Have a nice day~”
“NICE DAY KEPALAMU, PARK JIMIN!” Taehyung menggerung kesal. Sudah disemprot dosen, sekarang dirinya berhadapan dengan Jungkook. Hampir saja Taehyung melempar Jimin yang sudah berlari keluar dengan kursi di dekatnya. Mulai bertanya apa sebenarnya yang membuat Jimin dan Taehyung berteman sampai sekarang, mereka bahkan selalu merugikan satu sama lain.
Tarik napas panjang, kemudian keluarkan. Setelah melakukannya berulang kali, akhirnya Taehyung melangkah keluar kelas dan menuju ke parkiran setelah beberapa kali berbelok dan menendang sesuatu. Entah rumput, entah botol kola kosong yang jatuh dari tempat sampah, atau hanya angin. Taehyung hanya merasa begitu kesal sekarang.
“Sunbae!”
Taehyung menoleh, sedikit takjup melihat Jeon Jungkook yang nampak selalu sembarangan dengan hoodie, topi beanie, dan jins kini terlihat kasual hanya dengan kemeja putih yang digulung sampai siku. Nampak rapi dan begitu menggoda. Bahkan rambutnya yang selalu menjuntai bebas menutupi keningnya kini disisir rapi dan mengekspos keningnya dengan jelas. Jika Jungkook memakai jas dengan dasi yang diikat rapi, Taehyung akan seratus persen percaya jika Jungkook bukanlah mahasiswa apalagi adik kelasnya.
“Ayo pulang denganku.”
Perasaan kagum Taehyung runtuh dalam sekejap. Cengiran Jungkook masih sama menyebalkannya, membuatnya ingin meninju wajah yang tidak tahu malu itu.
“Mana tasku?” pinta Taehyung dengan wajah benar-benar datar, “Jangan main-main, aku mau pulang sekarang.”
“Siapa yang main-main?” tangan Taehyung yang terulur diraih Jungkook, pemuda itu membuka pintu mobil dan mendorong Taehyung masuk sebelum sempat merespon. Taehyung tersentak saat Jungkook juga masuk ke dalam mobil. “Tasmu ada di belakang, aku akan mengembalikannya saat pulang nanti.”
“Turunkan aku atau aku akan berteriak bahwa aku diculik.” Taehyung memberi ancaman, merasa gusar bukan main.
“Cobalah, itu akan menarik.” Jungkook menarik sebelah sudut bibirnya, terlihat geli. “Lagipula siapa yang tidak mau kuculik?”
“Aku.”
“Yakin?”
“Seratus persen?”
“Seribu kalau perlu.”
Jungkook mengetuk-ngetuk setir, masih tersenyum walau tidak menoleh ke arah Taehyung. “Padahal tadi aku ingin mentraktir cheesecake stroberi dan parfait cokelat. Tapi kalau sunbae tidak mau, baiklah. Aku akan mengantarmu pu—”
“Aku mau!” suara Taehyung meninggi secara mengejutkan, terdengar antusias.
Saat Jungkook menyemburkan tawanya, Taehyung segera menutup mulutnya seraya merunduk. Luar biasa malu. Bagaimana bisa Jungkook tahu kelemahan Taehyung terhadap makanan manis? Taehyung yakin ia tidak terlihat seperti itu. “Sial,” Taehyung mengumpat pelan, menahan perasaan ingin mencakar wajah Jungkook, bukan karena kesal tapi karena merasa wajahnya memanas dalam sekejap.
“Tidak biasanya kau memakai baju formal seperti itu.”
Mereka berdua kini duduk di dalam kafe, berhadapan. Menunggu pesanan. Taehyung tidak tahan berdiam diri terlalu lama, tidak ada salahnya untuk menghilangkan rasa canggung dengan mengajak Jungkook bicara kan? Lagipula Taehyung rasa ia tidak bisa merasa kesal terus-terusan pada hoobae itu.
“Apa aku terlihat menarik?” Jungkook menaikkan sebelah alisnya.
“Kau dan sikap narsismu yang menyebalkan itu.” Taehyung mengeluh.
Jungkook kembali tertawa, “Aku sudah lima kali ditegur di mata kuliah Dosen Im. Dia ketat sekali soal peraturan mengenai penampilan. Kali ini aku berusaha menurutinya. Aku tidak mau dikeluarkan.”
“Lima kali? Wow. Aku beruntung tidak mengambil mata kuliahnya. Tapi memang harus kuakui kalau Dosen Im itu tegas sekali.” Jungkook mengangguk setuju saat mendengar pernyataan Taehyung. “Tapi apa kau menghadiri mata kuliah Dosen Choi?”
“Pernah. Dan aku tertidur.”
Taehyung menyemburkan tawanya melihat raut wajah Jungkook yang sedikit meringis. “Jadi kau yang diceritakan Dosen Choi di setiap kelas? Mahasiswa baru yang sudah berani tertidur di mata kuliah pertama? Ya tuhan, Jeon. Nyalimu itu sekuat apa sih?”
“Hei, seisi kampus sudah tahu hal itu. Aku jadi terkenal gara-gara Dosen Choi, aku harus berterima kasih padanya.” Jungkook menepuk dadanya dengan ekspresi bangga, membuat tawa Taehyung semakin keras sampai beberapa orang menoleh terganggu, namun baik Jungkook maupun Taehyung sepertinya tidak peduli. “Hei, bagaimana rasanya disemprot Dosen Lee?”
“Menyebalkan.” Taehyung merengut, menggigit sendok sembari meniup rambut di keningnya ke atas. “Dosen yang satu itu bicara seperti kereta api, tidak mengijinkanku membela diri. Dan apa kau tahu, Jeon? Dia salah orang! Itu bukan skripsiku tapi aku yang kena damprat hanya karena wajahku mirip dengan Baekhyun-sunbae! Dia bahkan tidak meminta maaf!”
“Aku pernah melihat Dosen Lee marah dan dia benar-benar seperti rapper. Aku curiga dia pernah ikut Unpretty Rapstar.” Jungkook menceletuk, kembali membuat Taehyung meledakkan tawanya. Lupa dengan kejengkelannya.
Mungkin hari ini bukan hari yang benar-benar buruk, tapi juga tidak benar-benar baik. Taehyung tidak terlalu peduli.
---
“WAH! APA YANG KAU LAKUKAN DISINI, HAH?!”
Taehyung berteriak dengan suaranya yang paling keras, kaget bukan main melihat Jeon Jungkook dengan tubuh basah kuyup berdiri tepat di hadapannya. Pemuda itu hanya memberikan cengiran, menarik rambutnya yang basah ke belakang. “Aku terjebak hujan, lalu aku ingat rumahmu dekat sini, sunbae. Boleh aku menumpang sebentar?”
“Argh.” Taehyung sedikit mengerang, membuka pintu rumahnya lebih lebar. “Baiklah, masuk.”
“Yey.” Sorakan ceria dari Jungkook membuat Taehyung memutar matanya malas. Ia mengikuti langkah Jungkook setelah menutup pintu, meskipun sedikit menahan rasa canggung. Ia bisa melihat tubuh Jungkook dengan jelas karena seragam yang dikenakan pemuda itu basah. Taehyung meragukan Jungkook berada dua tahun di bawahnya karena, sungguh, Jungkook sama sekali tidak terlihat seperti itu. “Suka dengan apa yang kau lihat, sunbae?” Jungkook menarik salah satu sudut bibirnya mendapati Taehyung menatapnya tanpa berkedip, “Aku banyak berolahraga untuk ini.”
“Ti-tidak!” Taehyung tanpa sadar terpekik. Ia berdeham sambil membuang pandangan. “Kamar mandinya sebelah sana, kau bisa pakai bajuku dulu.”
“Yey, pakai baju Taehyung-sunbae.”
Ia menghabiskan waktu limabelas untuk mendorong Jungkook ke kamar mandi karena adik kelasnya itu tidak membuang sedetikpun untuk menggodanya. Taehyung hampir mati canggung melihat bagaimana otot tercetak dengan tepat dan sempurna di seluruh tempat di badan Jungkook. Taehyung bisa merasakannya hanya dengan menyentuh sekilas pundak adik kelasnya yang kelewat narsis itu.
Seharusnya ia bisa menendang Jungkook ataupun langsung menutup pintu, namun Taehyung memilih untuk membuka pintu dan mempersilakan Jungkook masuk. Mungkin menolong sedikit tidak masalah, begitu pikirnya di awal, namun sekarang ia setengah mati menyesalinya. Apa yang harus ia lakukan jika Jungkook keluar dari kamar mandi? Menyapanya dan berbincang ringan? Taehyung rasa tidak semudah itu.
Pintu kamar mandi kembali terbuka sebelum Taehyung menyelesaikan pergelutan dirinya dan isi kepalanya. Nyaris menahan napas melihat Jungkook mengenakan celana longgarnya dan kaus berwarna putih milik Taehyung. Taehyung yakin itu kaus terbesar yang dimilikinya, namun itu pas di tubuh Jungkook—benar-benar pas, membentuk badan kekarnya yang membuat Taehyung tidak mampu memalingkan mata. Sejenak, Taehyung merasa sangat kecil di hadapan Jungkook.
“Hei. Sunbae.” Telapak tangan Jungkook bermain di depan wajah Taehyung yang mematung. “Kau baik-baik saja?”
“Ti-tidak—ah, maksudku tentu saja.” Taehyung menepis segala pemikiran anehnya seperti bagaimana nyamannya pelukan Jungkook atau bersandar di bahunya kemudian tertidur. Ia sedikit bergeser untuk memberi jarak kala Jungkook mendudukkan diri di sebelahnya, Taehyung memindah-mindah channel dengan acak. Berusaha menghilangkan kegugupannya. Ayolah, Jeon Jungkook adalah hoobae yang menyebalkan, bagaimana bisa Taehyung tersipu malu secara konyol hanya karena Jungkook duduk di sebelahnya.
“Tunggu, tunggu.” Jungkook memegang pergelangan Taehyung yang memindah channel, Taehyung tanpa sadar menurut, menatap seorang wanita berambut cokelat yang digelung tinggi dengan apik kini tengah membacakan laporan cuaca.
“... hujan deras melanda beberapa bagian di Seoul. Diperkirakan akan terjadi badai petir yang cukup lama pada pukul delapan sampai pukul satu malam. Pemadaman total akan diterapkan selama badai berlangsung. Diharapkan agar tidak keluar rumah untuk keselamatan bersama. Terima kasih.”
“Oh sial.” Taehyung tanpa sengaja mengumpat pelan, tanpa sengaja mencengkeram bantal sofa dengan kuat. Taehyung takut badai dan juga kegelapan, ia bukan tanpa alasan merasa takut. Ia punya trauma yang masih membekas sampai sekarang (dan soal ini hanya diberitahunya pada Jimin).
Orangtuanya dulu adalah pendidik yang keras, teramat keras malah. Ia hanya terlambat pulang, namun ia tidak boleh masuk ke luar rumah padahal sedang berlangsung hujan yang disertai petir. Taehyung juga pernah dihukum dengan dikunci di dalam ruangan gelap karena ia mendapat nilai merah dalam ujian Matematika. Masa kecil yang suram, begitu menurut Taehyung. Karenanya ia teramat senang bisa menyewa rumah sendiri di Seoul dan tinggal sendirian, terlepas dari kedua orangtuanya yang, yah, bisa dibilang keras dan disiplin.
“Sunbae? Ada apa? Apa kau ingin aku pulang sekarang?” Jungkook menoleh, khawatir melihat bagaimana rona wajah Taehyung berubah pucat dan pias. “Badainya belum mulai, kurasa aku masih sempat pulang jika kau tidak ingin aku disi—”
“Berhenti!” potong Taehyung, ia semakin memeluk bantal sofanya. Kepala Taehyung mulai pusing, ia terpekik dengan nada rendah yang masih dapat didengar saat mendengar suara berdebum seperti pecah yang menggelegar. Bantal sofa di tangannya terlepas, Taehyung menutup telinganya. Merasa ketakutan mulai merambatinya perlahan.
Taehyung butuh sesuatu, apapun, untuk mengalihkan rasa takutnya sejenak. Tapi apa? Seluruhnya terasa abu-abu dan tidak jelas. Ia mencoba memikirkan hal lain. Seperti kekesalannya pada Jimin yang meninggalkannya begitu saja hanya karena Yoongi memintanya datang, tes yang akan datang, bahkan Taehyung memikirkan Hoseok dan apa yang telah dilakukan kakak kelasnya itu. Namun nihil, itu tidak bisa meredakan tubuhnya yang menggigil secara tiba-tiba.
Gelap. Petir. Ruangan terkunci. Dingin. Taehyung teringat tangisnya yang tidak kunjung reda saat orangtuanya mengunci dirinya di dalam ruangan gelap, Taehyung masih ingat bagaimana dinginnya cuaca di saat orangtuanya tidak mengijinkannya masuk rumah. Suara keras petir dan guntur yang memekakkan telinga, seakan ingin menghancurkan gendang telinganya dalam sekejap. Tubuhnya basah kuyup membuatnya tidak sanggup membuka mata dan ambruk di lantai ubin keramik. Saksi bisu saat Taehyung dinyatakan mengalami hipotermia esok harinya.
“Sunbae...”
Taehyung mungkin tidak butuh sesuatu, tapi seseorang.
Yang merengkuhnya sehangat sekarang, mengelus kepalanya lembut dan menenggelamkannya dalam dekapan hangat yang menjanjikan. Berbisik menenangkan bahwa ada, ada seseorang yang menggenggam Taehyung, memberinya rasa nyaman dan memberitahu bahwa ia akan selalu disana tanpa pernah melepas atau meninggalkan Taehyung sendiri.
Taehyung merengsek masuk, menduselkan wajahnya di ceruk leher Jungkook, jarinya mencengkeram erat kaus Jungkook dan bergumam lirih. Ia merasa usapan pelan di punggungnya, membuatnya semakin merapat ke arah adik kelasnya itu. Jungkook memakai sampo dan sabun milik Taehyung, namun aromanya jauh berbeda dari Taehyung. Menenangkan dan damai. Ia tidak keberatan saat Jungkook mengirim ciuman ringan di kening dan puncak kepalanya. Ia bahkan tidak lagi mendengar amukan badai di luar rumahnya.
Taehyung bisa mendengar bagaimana dada Jungkook naik turun dengan teratur, namun detaknya cukup kencang. Taehyung tidak ingat kapan ada seseorang selain Jimin yang memeluknya, namun tidak pernah sehangat seperti apa yang Jungkook lakukan. Begitu pas dan sempurna, seakan pelukan Jungkook memang terbentuk untuk mendekapnya. Begitu erat namun juga begitu rapuh.
“J-Jungkook-ah...” Taehyung merintih pelan mendengar suara benturan hujan di kaca jendela.
“Hmm?” Jungkook bergumam, jarinya tidak berhenti mengelus surai cokelat Taehyung yang lembut, menelusupkan kelima jarinya disana sementara tangannya yang bebas berada di punggung Taehyung. Nadanya begitu lembut, penuh afeksi yang membuat Taehyung merasa sesak. Ia mengeratkan cengkeramannya di kaus putih Jungkook sembari mengangkat wajahnya, menggigit bibir bawahnya ragu saat matanya bertemu dengan milik Jungkook. Namun Jungkook ternyata jauh lebih peka dari yang Taehyung kira.
“Takut?” Jungkook terkekeh pelan, penuh nada jenaka yang membuat Taehyung mengulas senyum tipis. Namun luntur saat ia mendengar suara angin membawa rintikan hujan deras menggempur kaca jendelanya, lagi. Ia menarik napas, seakan tercekik. Ia bernapas tidak karuan sekarang, dadanya terasa ngilu dan sakit.
Kini Jungkook menangkup wajah Taehyung, membawa yang lebih tua untuk menatapnya. “Tutup telingamu, jangan dengarkan apapun selain aku,” kalimat Jungkook seperti sugesti, seperti magis dan begitu ringan. Taehyung secara tidak sadar langsung menutup matanya saat Jungkook meraih ciuman di bibirnya. Bergerak begitu pelan dan hati-hati, namun mampu membuat kepala Taehyung terasa kosong.
Taehyung tidak tahu kenapa ia mau saja dicium oleh adik kelas yang sudah di cap menyebalkan sejak pertama kali bertemu olehnya. Namun gerakan lembut dan hati-hati dari Jungkook membuatnya tergugu, seakan tengah menangani cangkir porselen yang begitu rapuh (walaupun Taehyung yakin dirinya tidak seberharga itu). Taehyung sadar ia tidak bisa menolak lagi semua yang diberikan oleh Jungkook.
“Ah,” Jungkook bergumam pelan, terkekeh melihat Taehyung mengerucutkan bibirnya. Seakan tidak rela jika Jungkook berhenti menciumnya. Namun kegelapan yang dilihatnya bahkan saat membuka mata membuat Taehyung tanpa sadar merapat dan sedikit mendorong Jungkook, memeluk leher Jungkook lebih erat, memastikan bahwa Jungkook masih berada di dekatnya. Pemadaman total telah dimulai dan Taehyung sama sekali tidak sadar.
“Jangan kemana-mana!” suara Taehyung terdengar menggemaskan, walaupun keadaan saat ini cukup remang-remang dan hanya ada penerangan samar dari ponsel Jungkook yang berada di atas meja.
Taehyung dapat merasakan Jungkook tertawa di bahunya, namun Taehyung tidak peduli. “Bagaimana kalau kita nyalakan lilin? Whoa, aku romantis kan?” nada Jungkook seperti menahan tawa, membuat Taehyung mencubit kesal lengan atas Jungkook.
“Tidak lucu.” Taehyung merengut, Jungkook tidak tahan untuk tidak mendaratkan lumatan pelan di bibir Taehyung yang kenyal dan lembut.
“Lebih baik sunbae tidur.” Jungkook sedikit mengacak rambut Taehyung, ia membiarkan Taehyung beringsut menjauh untuk memberinya sedikit ruang. Jungkook berdiri sembari meraih ponselnya, namun tarikan pelan di ujung kausnya membuat Jungkook terhenti. “Kenapa?”
“Jangan pedulikan aku,” Taehyung ikut beranjak berdiri, ia bersyukur Jungkook tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, “aku tidak mau ditinggalkan.”
“Astaga, sunbae. Sini,” Jungkook melepas jari Taehyung dari bajunya, ganti menyelipkan jarinya sendiri disana, menggenggam jemari kurus Taehyung, “lebih baik?”
Mendengar gumaman Taehyung, Jungkook menariknya lembut. Mereka berjalan menuju dapur dengan bantuan penerangan dari ponsel Jungkook. “Aku melihat lilin tadi saat lewat dapur,” Jungkook bergumam, “bagaimana jika kita nyalakan lilin saja?”
“Ide bagus. Aku akan mengambil tempatnya. Jangan pergi.”
“Memangnya kemana aku akan pergi?” Jungkook lagi-lagi tertawa. Ia bantu menerangi lemari yang ingin dibuka Taehyung dengan ponselnya, kagum bagaimana Taehyung yang sangat ketus terhadapnya kini menjadi sangat menggemaskan. Jungkook tidak keberatan jika pemadaman total dan badai akan dilanjutkan lima hari ke depan. Tapi ia harus sadar bahwa Taehyung tengah ketakutan.
Jungkook sedikit tersentak saat sikutnya menyenggol serbet di dekat meja makan dan menjatuhkannya ke lantai. Ia segera merunduk, mengambil serbet yang sedikit tertendang oleh kakinya. Ponselnya terkunci sejenak dan cahayanya mati. Sedetik kemudian terdengar seperti benda alumunium yang jatuh.
“JUNGKOOK-AH!”
Jungkook mendapat tubrukan keras di tubuhnya saat ia berdiri dan meletakkan serbet tadi, sedikit berpegangan pada pinggiran meja makan untuk menahan tubuhnya yang sedikit oleng. “Sunbae?”
“Kukira kau meninggalkanku,” samar-samar terdengar isakan Taehyung, begitu pelan, mengiris dada Jungkook secara tidak sadar. “Seperti orangtuaku, seperti Hoseok-hyung, seperti—”
Jungkook membungkam racauan Taehyung, membawanya hanyut dalam pagutan manis yang tidak bisa ditolak. Mencengkeram pundak Jungkook saat pemuda itu mendekap pinggangnya, menemukan jalannya tanpa halangan. Mengambil alih kepanikan sesaat Taehyung. Taehyung frustrasi saat ia membiarkan tangannya menyelinap di tengkuk Jungkook, meremas pelan rambut Jungkook kemudian memeluk lehernya. Taehyung bernapas sejenak hanya untuk diambil kembali oleh Jungkook.
“Tidur, oke?” Jungkook menyatukan keningnya pada Taehyung, mencoba bertindak sedikit lebih jauh dengan menggigit pelan ujung hidung mancung kakak kelasnya. Taehyung berjengit sedikit namun tetap pada posisinya. “Aku bukan orangtuamu atau Hoseok-siapapun-itu, aku ini Jeon Jungkook, aku tidak akan meninggalkanmu. Kau dengar itu?” Ia bisa merasakan Taehyung mengangguk samar.
“Kau,” suara Taehyung terdengar begitu pelan, sedikit serak, “kau tidur denganku.”
“Apa?”
“Aku takut sendirian bodoh! Dan ini gelap sekali! Aku tidak bisa melihat apa-apa!” Jungkook hampir tertawa mendengar suara Taehyung yang begitu lucu, namun sekuat tenaga menahannya. Bisa-bisa nanti Taehyung marah berkepanjangan padanya. Bagaimana bisa Taehyung menemukan dirinya dan langsung memeluknya tanpa ragu saat ia bilang ia tidak bisa melihat apa-apa. “Dan lilin tidak banyak membantu!” Taehyung kembali menambahkan.
“Iya, iya. Baiklah. Astaga, sunbae,” Jungkook benar-benar tidak bisa menahan tawanya kali ini, ia mengeratkan rangkulannya di pinggang Taehyung dan menumpukan dahinya di pundak Taehyung, “kenapa kau itu imut sekali?”
“Jangan tertawa di leherku!”
“Habisnya sunbae lucu sekali sih.”
“Aku bersumpah akan menghajarmu!”
“Coba sini, akan kuhajar bibirmu terlebih dulu.”
“Yaaaakkk!”
“Tae,”
Taehyung sedikit mengernyit, “Siapa yang mengijinkanmu menyebut nama kecilku?”
“Tae,” Jungkook mengulanginya lagi, hembusan napasnya di leher Taehyung membuat Taehyung sedikit merinding namun ia balas membenamkan jarinya di punggung Jungkook. Rasanya sedikit aneh, Taehyung mulai berpikir ia sedang menggenggam dunia sekarang hanya karena Jungkook memeluknya. Taehyung mulai berpikir apakah Jungkook memang nyaman untuk dipeluk atau tubuhnya yang terlalu pas di dekapan adik kelasnya itu. “Kim Taehyung.”
“Apa?”
“Hah, sial.” Taehyung hampir mencebik mendengar umpatan pelan Jungkook, namun ia tidak bisa mengabaikan sesuatu yang berdesir di dadanya saat Jungkook berbisik pelan dengan nada rendah. “Aku tidak tahu kenapa aku jadi sangat suka padamu, sunbae.”
Taehyung tidak membalas, merutuk dalam hati kenapa ia malah tersipu-sipu seperti sekarang. Merasa jutaan kupu-kupu konyol yang tidak pernah dianggapnya ada kini mengembangkan sayap dan berterbangan di perutnya. Taehyung tidak tahu apakah ia harus berterima kasih karena kegelapan di sekitarnya telah menyembunyikan wajahnya atau tidak.
Taehyung menyadari dirinya menyelinap, beringsut mendekat ke arah Jungkook yang menyambutnya dengan tangan terbuka. Kembali melingkari tubuh Taehyung dengan tangannya dan mengusap lembut rambutnya. “Aku tidak kemana-mana dan aku tidak akan melakukan apapun. Tidurlah,” Jungkook bergumam, seakan mengerti isi pikiran Taehyung.
“Janji tidak pergi?”
Kekehan pelan lolos dari bibir Jungkook. “Janji.”
Taehyung, biarpun kesal setengah mati terhadap Jungkook, namun ia tidak bisa menahan lengkungan manis di bibirnya mendengar yang lebih muda tertawa. Hangat dan menyenangkan, menenangkan Taehyung yang selama ini selalu merasa kesepian. Ia hanya bisa menurut saat Jungkook merangkulnya dan membawanya keluar dari dapur dengan penerangan minim. Ia dengan senang hati menuntun Jungkook menuju kamarnya, mulai berpikir bahwa gelap dan badai kali ini tidaklah semenakutkan sebelumnya.
---
“SUNBAE!”
Taehyung sedikit tersedak saat sebuah lengan merangkul lehernya, ia mendengus menatap sang pelaku yang menampilkan cengirannya—cengiran yang sialnya membuat Taehyung seperti lupa cara bernapas. “A-apa yang kau lakukan disini?” buru-buru menyingkirkan tangan Jungkook di bahunya, namun sialnya lengan kokoh itu bersikeras bertengger di bahunya.
“Aku berpikir seharian soal tadi malam.”
Taehyung menelan ludah, mulai bersiap jika Jungkook mulai menanyakan sikapnya tadi malam yang benar-benar seperti anak kecil manja yang memalukan. “Apa?” tanyanya, menjaga sekuat tenaga agar suaranya tidak bergetar penuh antisipasi.
“Tadi malam aku tidur dengan sunbae,” Jungkook semakin mengeratkan rangkulannya, membawa Taehyung semakin menempel ke arahnya, “Kalau dipikir-pikir, aku hebat ya.”
“Hebat apanya?”
“Aku bisa menahan diri semalaman darimu, sunbae. Wah, biasanya aku tidak sesabar itu.” Jungkook tertawa, memberi Taehyung kecupan pelan yang tidak bisa ditolak di bagian pipi. Taehyung sadar ia sempat menahan napas sejenak. “sunbae—”
“Taehyung,”
“Apa?” Jungkook mengerjap heran.
Taehyung menggigit bibirnya pelan, “Panggil namaku saja. Taehyung.”
“Panggil ‘sayang’ saja, oke?”
Taehyung mencubit hidung Jungkook gemas, mengabaikan ringisan yang lebih muda. Jungkook mengerang, “Aku heran kenapa aku sampai suka padamu, Tae.”
“Panggil aku ‘hyung’!” Taehyung menyalak, membuang wajahnya untuk menyembunyikan senyumnya. Bagaimana bisa namanya terdengar begitu menyenangkan di bibir Jungkook. “Aku juga bingung kenapa aku sampai suka padamu juga, hoobae bodoh.”
“Apa? Kau suka padaku juga?”
“Kau bicara apa? Sudahlah, aku mau makan.” Taehyung memalingkan badannya, berjalan menjauh meninggalkan Jungkook.
“Tae! Yah, Kim Taehyung!”
Taehyung mengijinkan tawanya lolos kali ini saat Jungkook merengkuhnya dari belakang, lengan Jungkook melingkari bahunya dan pinggangnya sementara hidung Jungkook bersentuhan dengan tengkuknya. Taehyung tertawa geli saat Jungkook mengendusi lehernya. “I got you, Jeon Taehyung.”
“Apa-apaan ‘Jeon Taehyung’.” Taehyung mendengus geli sambil mencubit keras-keras lengan Jungkook di pinggangnya. Mengabaikan ringisan pilu dari Jungkook.
Jeon Jungkook memang menyebalkan dan suka bertindak semaunya, narsis tidak terkira dengan smirk menggoda yang ingin sekali Taehyung lempar dengan sepatu converse hitamnya. Namun Taehyung harus tersadar tentang sesuatu yang mengetuk batinnya, ia sudah lama menyimpan ini dan mengabaikannya, tapi sepertinya ia tidak tahan lagi menahan terlalu lama dan menampiknya.
Sebelum Jungkook berusaha mengambil atensinya, jauh di dalam, Taehyung sudah terlebih dulu memberikannya.
=END=
Dedicated for event Refresh Festival.
