Work Text:
Suara gemericik air terdengar dari dalam kamar mandi. Jihoon sedang duduk di sofa kamar hotel sembari memainkan ponsel menunggu gilirannya mandi. Tak lama, terdengar ketukan pelan dari pintu. Jihoon bangkit, melangkah menuju pintu lalu mengintip lewat lubang intip. Begitu melihat sosok Kyungmin di luar, ia membukakan pintu.
“Ngapain?” tanya Jihoon begitu membiarkan Kyungmin masuk.
“Iseng aja,” jawab Kyungmin santai.
Mendengar jawaban asal itu, Jihoon berdecak pelan dan langsung mendorong bahu Kyungmin balik arah untuk mengusirnya.
“Nungguin Dohoon hyung! Ampun, jangan diusir,” potong Kyungmin cepat sambil menyatukan kedua telapak tangannya, memasang raut memelas.
“Hhhhh… makanya kalau ditanya tuh jawab yang bener,” keluh Jihoon. Ia menghentikan aksinya lalu kembali ke sofa, diikuti Kyungmin yang mengekor di belakang.
Keduanya duduk bersisian di sofa, sibuk dengan ponsel masing-masing. Tak lama, suara knop pintu kamar mandi terdengar terbuka, menandakan Dohoon selesai mandi.
Dohoon keluar dengan bertelanjang dada. Ia mengeryit heran begitu mendapati keberadaan Kyungmin di kamarnya. Dipandangi seperti itu, Kyungmin hanya tersenyum canggung. Sementara Jihoon langsung bergegas mengambil pakaian bersih dari koper dan masuk ke kamar mandi, tidak mau terlibat urusan Dohoon dan Kyungmin karena ia ingin cepat mandi.
“Ngapain?” tanya Dohoon sambil melangkah mendekat.
“Kenapa pas Hyung yang tanya, rasanya kayak lagi disidang ya? Serem banget mukanya” ujar Kyungmin.
“Orang cuma tanya kok. Jawab dulu,” balas Dohoon.
“Hyung nggak pake bajunya dulu?” tanya Kyungmin mengalihkan pembicaraan.
Dohoon menghela napas pasrah.
“Ngapain kamu di sini, Kyungmin?” tanya Dohoon sekali lagi.
Bukannya menjawab, Kyungmin malah menepuk-nepuk sofa sebagai gestur agar Dohoon duduk.
“Duduk dulu di sini, Hyung. Terus pakai bajunya dulu. Aku bakal kasih tahu alesan aku ke sini,” ucap Kyungmin akhirnya.
Dohoon menuruti ucapan Kyungmin. Ia mengenakan bajunya terlebih dahulu sebelum duduk di sebelah Kyungmin. Setelah Dohoon duduk, ia menunggu Kyungmin membuka suaranya. Sadar tak bisa mengulur waktu lagi, Kyungmin memutar posisi duduknya menyerong agar dapat melihat wajah Dohoon secara langsung.
Sejujurnya, Kyungmin tidak menyiapkan alasan yang benar-benar masuk akal. Sejak kembali ke kamarnya yang ia tempati bersama Hanjin, pikirannya terus tertahan pada kejadian di panggung tadi, momen ketika para member berpasangan menirukan adegan ikonik dari penampilan Dohoon dan Shinyu. Tadi ia mendapat kesempatan mencoba adegan itu bersama Dohoon. Itulah alasan ia memberanikan diri menuju kamar ini.
“Hyung…” panggil Kyungmin pelan. Matanya bergulir ke sekeliling ruangan, berusaha meredakan kegugupannya.
“Di panggung tadi… Hyung sadar nggak ngelakuin apa di depan ribuan fans?” tanya Kyungmin akhirnya memberanikan diri.
“Maksud aku… emang Hyung bisa tanggung jawab atas perbuatan Hyung? Alesan aku datang ke sini tuh mau minta tanggung jawab.”
Kyungmin menahan napas, menanti reaksi Dohoon. Namun raut wajah Dohoon mendadak sulit ditebak. Nyali Kyungmin yang tadinya melambung tinggi mendadak menciut drastis. Panik karena tak mendapat jawaban, Kyungmin beranjak berdiri hendak meminta maaf.
Namun, sebelum kakinya sempat melangkah, pergelangan tangannya sudah ditahan oleh Dohoon.
“Habis berani ngomong gitu, kamu mau kabur gitu aja?” tanya Dohoon santai, tapi tatapannya terkunci pada Kyungmin.
“Nggak Hyung. Maaf…” cicit Kyungmin refleks.
Dohoon tidak melepaskan cengkramannya. Malah ia menarik pelan tangan Kyungmin hingga Kyungmin kembali terduduk di sisinya.
“Tanggung jawab kayak apa yang kamu mau?” bisik Dohoon pelan tepat di telinga Kyungmin. Kyungmin merasakan bulu kuduknya berdiri merasakan hembusan napas Dohoon akibat dekatnya jarak mereka.
“Kalau tanggung jawab yang ini… cukup nggak?”
Sebelum Kyungmin sempat mencerna kalimat itu, Dohoon sudah mendaratkan bibirnya di bibir Kyungmin. Kyungmin sempat terkejut namun perlahan ia menutup matanya, membiarkan dirinya hanyut dalam sensasi itu. Dohoon meraih tengkuk Kyungmin untuk memperdalam ciuman mereka, menyusuri bibir bawah lalu berganti ke bibir atas. Bunyi kecipak halus terdengar memenuhi keheningan kamar. Ciuman terputus sebentar untuk mengambil napas. Dohoon menarik pinggang Kyungmin memberi isyarat agar Kyungmin berpindah posisinya duduk di pangkuan Dohoon sebelum menyatukan kembali bibir mereka. Dohoon memperdalam kulumannya, menyesap bibir Kyungmin seperti orang kelaparan. Kepala Kyungmin mendadak terasa kosong, ia tak lagi sempat berpikir, hanya bisa mencengkeram kuat lengan Dohoon untuk menarik Dohoon lebih dekat.
Ciuman mereka baru terlepas ketika ponsel Kyungmin bergetar keras di sofa, memecah kesunyian yang tadinya hanya diisi napas mereka yang memburu.
Kyungmin tersentak refleks mendorong dada Dohoon menjauh. Turun dari pangkuan Dohoon sambil buru-buru meraih ponselnya.
Ia mengecek layar. Pesan dari Jihoon.
[Jihoon] Nggak usah balik, tukeran. Gua tidur sama Hanjin.
Kyungmin membaca pesan tersebut dua kali sebelum otaknya benar-benar mencerna maksudnya. Ia menoleh ke pintu kamar mandi, kosong, pintunya sudah tertutup rapi seperti tidak ada siapa-siapa sebelumnya di sana.
“Astaga… Jihoon hyung udah keluar dari tadi?” bisik Kyungmin, suaranya nyaris hilang.
Dohoon ikut menoleh ke arah kamar mandi, baru sadar akan keheningan yang tak wajar. Jihoon sudah lama pergi dan mereka tidak menyadarinya sama sekali.
Kecanggungan mendadak menyergap. Kyungmin mengunci ponselnya dan tak berani menatap Dohoon yang masih di sampingnya. Wajahnya memerah padam. Dohoon memandangi Kyungmin sebelum membuka suara.
“Daripada canggung-canggungan begini, mending istirahat aja. Udah malem,” ucap Dohoon pelan, menarik tangan Kyungmin untuk membawa mereka menuju kasur. Mereka merebahkan diri mereka bersisian dengan jarak begitu dekat.
“Selamat malam, Hyung,” ucap Kyungmin sambil menarik selimut sampai leher.
“Selamat malam, Kyungmin,” ucap Dohoon bergerak menyamping untuk mencium pipi Kyungmin singkat. Karena salah tingkah Kyungmin makin menarik selimutnya hingga menutupi kepala.
