Chapter Text
Mata Keonho terbuka perlahan, disambut kegelapan yang pekat dan mengendap. Udara di sekelilingnya terasa lembab, sarat akan bau apak kayu tua dan debu bertahun-tahun. Ia mendapati dirinya terdampar di tengah ruang mahaluas sebuah gudang raksasa yang tampak seperti makam bagi benda-benda tak bernama. Siluet furniture bertubuh jangkung yang Keonho tebak adalah patung dewa yunani hingga barang-barang bersudut tajam berdiri membisu, seluruhnya tertutup kain putih kusam layaknya kafan. Keonho serta-merta menahan napas; rongga dadanya amat sensitif, dan ia sungguh enggan memicu sinusnya meledak dalam serangkaian bersin yang bakal memecah kesunyian mencekam ini. Dengan meletakkan telapak tangan di atas dada, langkah kakinya berayun pelan, berhati-hati mengekor bias cahaya remang di ujung lorong.
Memasuki ruangan di sebelahnya, lengang yang lebih dingin menyergap. Monumen megah bertembok putih keabu-abuan membentang lebar bagai museum yang ditelantarkan waktu. Di sana, bingkai-bingkai lukisan berjejal dari yang berukuran mungil hingga kanvas raksasa seluruhnya memamerkan bayang-bayang kelam dan guratan warna suram.
Langkah Keonho terhenti tepat di hadapan satu kanvas yang amat gelap. Ditatapnya lekat-lekat lukisan yang menampilkan perahu kecil merayap menuju pulau berbatu tersebut. Seketika, sebuah kesedihan asing yang amat getir mengalun di dadanya, berdenyut menyakitkan. Perasaan itu membingungkan, sebab baris deskripsi di samping kanvas tertulis dalam bahasa Jerman yang tak mampu ia cerna sama sekali.
"Arnold Böcklin, huh?"
Keonho tersentak hebat, napasnya tercekat. Suara bariton itu berbisik lembut, tepat di samping telinganya. Begitu berpaling, sosok di sebelahnya menyita seluruh ruang di kepala Keonho. Pemuda itu memiliki paras dingin namun menawan: kulitnya pucat pasi seputih pualam, bibirnya merah merekah gempal, dan matanya sipit menampung manik hitam yang begitu dalam. Rambut coklat ikal bergelombang jatuh memeluk bingkai wajahnya, sementara poninya yang melengkung hampir menyapu mata.
Hanya satu kata yang tersisa dan berulang di benak Keonho: cantik. Pakaian serba hitam dari pundak hingga balutan kain di kakinya semakin mempertegas kesan misterius. Pemuda itu menatap balik, lalu mengukir senyuman yang begitu indah—namun sarat akan kedukaan yang menyayat hati.
Sebelum Keonho sempat merangkai kata untuk bertanya, pemuda itu mendahului dengan suara serak bergema, "Pilihan kamu kali ini... nyakitin aku."
Darah Keonho serasa membeku di dalam pembuluh dadanya. Kalimat itu bergetar hebat di dalam kepalanya, memicu pusaran kebingungan yang luar biasa. Bagaimana mungkin seseorang yang baru pertama kali ia temui dalam ruang asing ini mengucapkannya seolah mereka telah saling mengikat masa lalu sejak lama?
Pemuda cantik itu melangkah mendekat tanpa suara, memangkas jarak hingga kehangatan napas mereka tertaut di udara dingin. Tanpa ragu, ia menangkup rahang Keonho dan memaut bibirnya. Ciuman itu mendarat begitu lembut, menyusupkan pusaran emosi yang meluap-luap bagai air bah: kejutan yang menyengat, kehangatan manis yang merayap di dada, rasa bersalah yang mencabik-cabik, serta kepedihan abadi yang meluluh betakkan. Keonho hilang arah, bergeming pasrah dan membiarkan dirinya tenggelam dalam pagutan tersebut.
Ketika pagutan itu perlahan terlepas, jemari lentik nan halus milik sang pemuda mengusap pipi Keonho penuh rasa kerinduan yang membuncah. Ditatapnya Keonho yang masih tertegun, lalu berbisik lembut, "Jangan pernah nyerah buat selalu nyari aku ya, Sayang. Aku pasti akan selalu nungguin kamu."
Tubuh Keonho kemudian ditarik ke dalam dekapan yang erat. Kehangatan yang menjalar dari dada pemuda itu menyapu habis rasa dingin di sekitarnya, melingkupinya dalam kenyamanan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Setelah ragu sekian detik, Keonho mengangkat kedua tangannya, berniat membalas dekapan hangat itu. Namun tepat saat jemarinya menyentuh kain hitam di punggung sang pemuda, pijakan di bawah kakinya meluruh. Lantai museum mendadak lenyap tanpa jejak, melempar tubuh Keonho jatuh melayang ke dalam hampa yang gelap gulita.
BIP! BIP! BIP!
Keonho melonjak kaget, tersentak bangun dari gulungan selimut oleh jeritan nyaring alarm ponselnya. Di atas kasur, Cookie—anjing kecil berbulu coklat miliknya sedang duduk bersedekap sembari menatap Keonho dengan raut wajah jengkel. Pemiliknya baru saja membuka mata, yang berarti jadwal sarapannya telah tertunda beberapa menit.
Saat Keonho terduduk di tepi ranjang sembari mengumpulkan nyawanya yang berhamburan, gonggongan kecil melengking dari Cookie. Anjing itu menggetok ujung baju kaus Keonho dengan gigitannya, menarik kain itu secara paksa menuju piring makan plastik yang masih kosong melompong di sudut kamar.
Menghela napas panjang, Keonho meraih kacamatanya di atas nakas, melangkah menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang masih sembab, lalu menuangkan makanan kering ke dalam piring Cookie. Saat butiran makanan itu tercurah, ponsel di genggamannya bergetar, menampilkan dua panggilan tak terjawab dari Martin.
Berkat rekomendasi sahabatnya itu, Keonho kini menempati posisi graphic designer di salah satu bank swasta ternama—meninggalkan agensi periklanan lamanya yang melelahkan demi kenaikan gaji yang lumayan, kuota work from home sebanyak empat kali sebulan, dan akses Transportasi umum yang praktis dari kediamannya. Hari ini, Keonho memilih menggunakan salah satu hak WFH-nya.
"Halo, Tin. Sorry baru angkat, tadi lagi kasih makan Cookie dulu," kata Keonho sembari menyandarkan ponselnya di antara bahu dan telinga.
"Iya, nyantai aja, Ken," sahut Martin dari seberang telepon. "Gue cuma mau briefing sebentar soal project yang harus lu pegang hari ini. Tim marketing baru aja masukin berkas buat acara konser orkestra gitu hasil kolaborasi sama Kedutaan Rusia."
Keonho mengangguk pelan sembari menyalakan layar laptopnya. "Oke. Scope kerjanya dari gue apa aja?"
"Fokus lu ada di key visual sama rancangan pamflet resminya. Karena ini bawa nama kedutaan dan jajaran direksi bank, materi promosi ini skala prioritas tinggi. Konsepnya harus keliatan elegan, formal, tapi tetep dapet aura klasiknya. Bahan materi lengkap, logo sponsor, sama draf copywriting-nya udah gue kirim ke email lu. Coba lu cek dulu, nanti kalau ada kendala di brief-nya langsung kabarin gue ya."
"Siap, gue cek sekarang. Deadline draf pertamanya kapan, Tin?"
"Kalau bisa sore ini udah ada opsi visual awal ya, Ken. Biar besok pagi bisa langsung gue presentasiin ke tim brand manager," jelas Martin di seberang.
Usai memutus panggilan dari Martin, Keonho menyampirkan ponselnya ke meja kerja dan memijat pelipisnya yang terasa berat. Guna mengusir pening serta menyegarkan otaknya yang linglung akibat pusaran mimpi semalam, ia memutuskan untuk turun ke lantai dasar gedung apartemennya demi berburu sarapan.
Langkahnya membawanya memasuki kedai roti kecil yang tenang, diselimuti aroma mentega gurih dan seduhan biji kopi yang menenangkan. Keonho menghampiri etalase kaca, memesan salt bread bertabur garam laut dengan tekstur renyah, sepotong sourdough beraroma asam khas yang berongga sempurna, serta segelas iced americano tanpa gula untuk membasuh tenggorokannya.
Sambil menunggu makanannya dibungkus dan kopinya diseduh, mata Keonho secara tak sengaja tertambat pada sebuah meja kayu di sudut ruangan. Meja itu tampak lengang ditinggalkan pemiliknya, namun di atas permukaannya tergeletak sebuah kotak biola berserat hitam pudar bersama satu tote bag kulit suede berwarna coklat polos.
Melihat kotak instrumen gesek tersebut, sekilas ingatan masa lalu berdesir samar di benaknya. Keonho mendengkus pelan saat teringat betapa dulu ia amat membenci sesi latihan piano di masa kecilnya—bahkan sampai bercucuran air mata di hadapan sang guru akibat tekanan lagu-lagu klasik yang rumit. Namun kini, sedikit rasa syukur menyusup di dadanya. Setidaknya jemarinya sanggup menari dengan lihai di atas tuts-tuts hitam putih setiap kali inspirasi desainnya membeku dan butuh pelepasan emosi.
Begitu pesanan kopi dingin dan bungkusan rotinya siap, Keonho segera kembali menaiki lift menuju apartemennya.
Namun, mengunyah salt bread dan meminum tegukan pahit americano ternyata tak cukup ampuh mengusir bayangan pemuda berparas cantik dari mimpinya tadi malam. Wajah pucat pasi, bibir merah gempal yang hangat, hingga sapuan rasa sedih membingungkan yang ditinggalkan dalam pagutan itu terus membayanginya secara intens. Diliputi rasa penasaran yang kian meluap dan menggerogoti pikirannya, Keonho akhirnya menyalakan laptop, lalu mulai mengetikkan barisan kata kunci untuk berburu petunjuk tentang lukisan tersebut di mesin pencari. Namun, barisan kata kunci bodoh yang ia ketik adalah
lukisan gelap ada perahu kecil terus ada orang dan ada gunung
hari pencarian itu hanya menghasilkan deretan gambar lain dan gambar buatan AI yang terlihat menjengkelkan dan tidak realistis. Keonho memijat pelipisnya, menghela napas pasrah, dan memutuskan untuk mengabaikan mimpi tersebut demi menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu.
Ia membuka Gmail dari tim pemasaran yang melampirkan berkas petunjuk rancangan pamflet. Orkestra simfoni ini rupanya bertajuk megah dan akan membawakan gubahan Isle of the Dead, Op. 29 karya komposer ternama Sergei Rachmaninoff. Didorong rasa ingin tahu profesional, Keonho mengetikkan judul karya musik tersebut di kolom pencarian.
Manik mata di balik lensa kacamatanya melebar seketika saat membaca baris informasi pertama yang muncul di layar:
Isle of the Dead (Russian: Остров мёртвых), Op. 29, is a symphonic poem composed by Sergei Rachmaninoff...
inspired by a black and white reproduction of Arnold Böcklin's painting Isle of the Dead...
Tepat di samping teks sejarah tersebut, terpampang gambar kanvas berwarna gelap: sebuah lukisan bernuansa suram berisi perahu kecil yang mengangkut peti mati menuju pulau berbatu terjal—lukisan yang persis, hadir dalam mimpinya semalam.
Bulu kuduk Keonho berdiri tegak di sekujur lengannya. Jantungnya mendadak bertalu-talu menghantam dinding dada dengan begitu kencang hingga tenggorokannya terasa kering. Secara refleks tanpa berpikir panjang, tangannya meraba meja, meraih ponsel, dan mendial nomor Martin.
"Halo? Kenapa lagi, Ken?" suara santai Martin terdengar menyapa dari seberang telepon.
Keonho membisu seketika di depan layar laptopnya. Lidahnya mendadak kelu, tak tahu harus menata kalimat seperti apa untuk menjelaskan kebetulan yang mustahil ini.
"Apaansih elah, kaga jelas dipanggil malah diam," seloroh Martin lagi dengan nada jengkel, bersiap memutus panggilan.
Sebelum nada pengakhiran pertama berbunyi, Keonho akhirnya bersuara setengah berbisik, "Tin... gue bisa dapet tiket buat nonton acara konser ini, enggak?"
Keonho tak pernah sekali pun melangkah di atas tanah asing yang begitu megah sekaligus menakutkan ini. Hampir sepekan penuh jiwanya didera kegelisahan yang tak bermuara; jemarinya tanpa henti mengusap layar ponsel, menelusuri ratusan kilas video TikTok demi mencari petunjuk setelan pakaian yang pantas. Dunianya yang lama hanyalah lapangan terbuka berdebu, tempat festival musik kampus berisik yang biasa menyelinap berbekal tiket potongan harga dari jaringan pertemanan.
Langkah Keonho terhenti kaku ketika deretan mobil mewah berkilat bergantian membelah malam, merapat di lobi gedung teater kota yang megah. Mereka yang turun mengenakan gaun malam dan jas terikat rapi—anggun, dingin, dan berjarak. Mengendarai sepeda motor menuju sudut gelap area parkir, rasa terasing yang menikam menyergap Keonho tanpa ampun. Seharusnya malam ini Martin mendampinginya, namun kekasihnya, Seonghyeon mendadak terbaring tak berdaya di bangsal rumah sakit akibat penyakit tipes. Keonho kini berdiri seorang diri, kerdil di hadapan pualam menjulang. Namun, di balik rasa canggung yang mencekik, ada rasa penasaran yang teramat dalam dan menggelap yang menyeret langkahnya melintasi batas ketakutan.
Ruang aula teater menyambutnya dalam kemegahan yang terasa begitu asing dan dingin. Keonho melangkah canggung menyusuri lorong berkarpet tebal, sesekali menunduk menatap pendar layar ponselnya untuk memastikan nomor tempat duduk—hingga akhirnya menemukan Baris G Nomor 18, sebuah sudut yang ia pilih tanpa arah tepat di jantung ruangan. Saat lampu perlahan meredup hingga tersisa kegelapan pekat, Keonho bergeming di kursinya, berupaya menenggelamkan diri di antara barisan manusia bertopeng ketenangan.
Pertunjukan dibuka dengan gesekan strings yang meluncur megah namun muram melalui gubahan karya Tchaikovsky. Alunan bunyinya membubung tinggi, mengalun bagai ombak malam yang menyapu dada Keonho dengan keindahan yang mengintimidasi. Disambung dengan karya kedua yang meliuk lambat; sebuah simfoni melancholic bertempo pelan tempat tiap tiupan instrumen kayu terasa bagai bisikan duka yang menelusuri rongga dadanya. Keonho membiarkan tiap dentam nada itu merayap, meremas hatinya perlahan dalam kesunyian teater.
Hingga akhirnya, gubahan terakhir yang ditunggu-tunggu dimainkan. Sebuah komposisi yang lahir dari rahim lukisan suram dalam mimpinya, membawakan kembali memori tentang sosok pemuda jelita yang pernah meninggalkan kecupan hangat dan kepedihan meremukkan di bibirnya.
Saat simfoni Isle of the Dead mengalun, Keonho tertegun. Mengapa gubahan tentang kematian dan makam berbatu ini terdengar begitu lembut, romantis, sekaligus menyayat? Apakah takdir perpisahan paling abadi memang memiliki paras seanggun ini?
Di pertengahan lagu, tatkala tempo merayap naik membubung tinggi lalu meliuk pelan mengikut kibasan jemari konduktor, sorot cahaya lampu yang dingin mendadak jatuh pada sesosok solois biola di sayap kiri panggung. Gesekan biolanya melengking tajam, menghujam udara hampa dengan kepedihan yang begitu telanjang dan berdarah.
Keonho hampir saja memekik, napasnya tercekat seketika di pangkal tenggorokan. Matanya melebar sempurna menembus pendar cahaya panggung—sosok itu nyata, presisi dengan jiwa jelita yang menyapanya di alam mimpi.
Tatapannya terkunci rapat, tak lagi mampu berpaling walau hanya sekejap. Ia terpaku menatap raut sang pemuda yang tampak begitu abstrak, retak, dan kacau. Ada amarah yang membakar di balik dahi yang berkerut tajam, mendadak luruh berganti duka maha dalam yang meremukkan rasa, hingga akhirnya menjelma ketenangan pasrah bagai keputusasaan yang abadi di tiap gesekan biolanya.
Ketika nada terakhir luruh dan gemuruh tepuk tangan membahana memenuhi aula teater, seluruh musisi berdiri dan membungkuk memberi hormat. Namun, manik mata pucat pemuda itu sama sekali tak menyapu barisan penonton. Paras indahnya tetap sendu, menampung telaga kedukaan yang nyaris tumpah melintasi pipi. Lalu, tirai beludru merah tebal perlahan turun, memutus jalinan pandangan yang bahkan belum sempat bertaut.
Di tengah lautan manusia yang beranjak pergi, Keonho berjuang menerobos kerumunan bagai orang kesetanan. Ia bergerak panik menuju belakang panggung, menelusuri tiap lorong remang demi mencari jejak sang pemuda. Namun, sosok jelita itu telah lenyap ditelan bayang-bayang, meninggalkan Keonho yang akhirnya menyerah, melangkah pulang membawa luka dan tanda tanya yang kian menganga di dalam dadanya.
Keesokan harinya, Keonho menyusuri lorong rumah sakit yang dingin dan pekat akan aroma antiseptik. Bau obat-obatan yang tajam itu seolah mengikis sedikit sisa-sisa duka ganjil yang menempel di benaknya sejak keluar dari gedung teater semalam. Ia mendorong pintu ruang rawat inap dengan bahunya, mendapati Seonghyeon atau yang biasa mereka panggil Oyon terbaring lemah dengan jarum infus tertancap di punggung tangannya, sementara Martin duduk setia di samping ranjang.
"Inilah akibat manusia sok sibuk. Tipes, kan?" ledek Keonho begitu melangkah masuk tanpa rasa bersalah. "Ini efek kebanyakan kerja atau pusing mikirin mas kawin buat nikahin Martin?"
Pertanyaan-nya di sambut sebuah teplakan kencang mendarat telak di pundak Keonho.
"Kagak usah rese lu, orang lagi sakit juga." sungut Martin dengan raut wajah sok galak.
Seonghyeon terkekeh pelan dari atas kasur rumah sakit. Suaranya terdengar serak, namun matanya memancarkan binar jahil. "Kata Martin, lu habis mimpi basah di museum ya, Ken? Sampe nekat nonton orkestra cuma gara-gara lukisan di mimpi lu ada lagunya?"
Keonho membelalak, mukanya langsung memerah padam menahan malu sekaligus kesal. "Pala lu mimpi basah! Enggak, anjing!" bentaknya sembari menunjuk Martin yang hanya membalasnya dengan cengiran tanpa dosa. Percakapan mengalir santai diiringi celetukan konyol khas mereka bertiga. Namun, karena jam besuk yang sudah hampir habis dan Keonho tidak tahan terus-terusan dijadikan bahan olokan oleh pasangan tersebut, ia akhirnya memutuskan untuk pamit pulang.
Roda motornya berdecit saat Keonho merapatkan kendaraannya di area parkir apartemen. Sebelum naik ke unitnya, ia mampir sejenak ke supermarket lantai dasar untuk membeli beberapa bahan masakan serta segelas iced coffee. Bagaimanapun, perutnya butuh diisi setelah seharian menguras emosi. Sembari membawa kantong belanjaan, Keonho melangkah santai menyeberangi taman apartemen yang temaram. Dari kejauhan, matanya menangkap siluet sesosok pemuda yang sedang berjongkok di dekat semak-semak. Pemuda itu tampak kikuk mengangsurkan makanan kering ke arah seekor kucing liar mujair abu gendut yang biasa Keonho beri makan saban pagi dan sore usai sepulang kerja.
"Ijot harus disuapin dulu baru mau makan," celetuk Keonho dari balik punggung pemuda itu.
Pemuda itu tersentak kaget, berpaling perlahan saat Keonho ikut berjongkok tepat di sampingnya. Begitu mengamati paras itu dari jarak dekat di bawah remang lampu taman, jantung Keonho serasa meloncat keluar dari dadanya. Pria di sebelahnya adalah pemuda berpipi pualam dengan bibir merah gempal dan mata sipit bermanik dalam—sosok jelita yang membayanginya dari alam mimpi sekaligus sang solois biola emosional semalam. Darah Keonho berdesir hebat, namun ia berusaha mati-matian untuk tetap stay cool. Dengan cepat, ia mengalihkan tatapannya dari paras cantik itu menuju sebuah violin case yang tergeletak di rumput tepat di samping kaki sang pemuda.
"Violin, huh?" gumam Keonho santai, memecah kecanggokan.
Pemuda itu menatap Keonho sejenak sebelum mengukir senyum tipis yang amat manis. "Iya, aku violinist."
"Oh ya? Semalem gue baru aja nonton acara orkestra," sahut Keonho sambil mengelus kepala Ijot yang mulai lahap mengunyah dari telapak tangannya.
"Oh ya?" mata sipit pemuda itu membulat ramah. "Nonton di mana?"
"Di Graha Simfoni."
Pemuda itu sedikit terkejut. Kekehan kecil nan renyah lolos dari bibirnya. "Aku main di sana semalem."
Keonho berpaling menatapnya, memasang ekspresi terkejut yang dibuat-buat. "Really?"
"Iya, aku yang main solo di lagu ketiga itu."
"Oalah... the emotional man," sahut Keonho terkekeh pelan.
Pemuda itu terkekeh lebih lebar, mengangguk pasrah. "Yeah, that's me."
Keheningan mendadak merayap turun di antara mereka. Angin malam yang berhembus pelan membelai taman, menyisakan hanya denting halus daun dan suara Ijot yang sibuk mengunyah. Jeda yang cukup lama itu menggantung di udara, terasa begitu kental dan sarat akan emosi yang tak terucap.
Keonho menatap lurus ke depan sebelum akhirnya memecah kesunyian.
"But I think... aku pernah liat kamu."
"Ya kan tadi aku udah bilang, aku tampil di panggung semalem," balas pemuda itu heran, dahinya berkerut halus.
"Bukan. Bukan di sana," potong Keonho dengan suara berat.
Dahi sang violinist semakin berkerut bingung. "Terus di mana?"
Keonho menoleh melintas jarak yang begitu dekat, menatap dalam-dalam manik hitam sang pemuda jelita.
"In one of my gloomy dreams, " bisik Keonho pelan.
