Work Text:
"Hei, kau benar-benar tidak ingat aku?" Jeongyo mencondongkan tubuhnya terlalu dekat. Pio berusaha mengabaikan kehadiran remaja tersebut, sibuk membaca not-not musik di bukunya.
Dengan minimnya reaksi Pio, Jeongyo kembali mengoceh bagaimana mereka saat kecil bertemu di kompetisi bersama. Pio hanya menatap sekilas ekspresi berbinar Jeongyo, lalu kembali sibuk dengan urusannya. Penolakan itu tidak menghentikan kegigihan Jeongyo untuk mencari reaksi, berharap Pio mengingatnya walau Pio menepisnya.
Hal itu sangat menjengkelkan dan menganggu.
Sejujurnya, Pio tidak mengerti mengapa dia berbohong tidak mengenal Jeongyo. Dia ingat kompetisi itu yang membuatnya sangat marah harus berada di posisi kedua. Dan sedih saat ibunya yang marah besar, membanting piala hasil kerja keras Pio mengetahui anak satu-satunya harus kalah dari anak seperti Jeongyo.
Mungkin itu dendam pribadi, atau Pio hanya merasa iri dengan bakat berpiano Jeongyo yang bahkan mengesankan istri kakeknya yang menjadi direktur Sekolah, sehingga dengan mudah mendapat beasiswa dan bersekolah yang sama dengannya.
Penolakan kakeknya sudah cukup membebaninya, dia tidak ingin ada seseorang seperti Jeongyo menggantikan posisinya.
Dia lelah, sangat lelah.
Secepat Pio berusaha mengabaikan Jeongyo, secepat itu juga diam-diam Pio merasa sedikit khawatir saat tidak sengaja mendengar bahwa Jeongyo akan dikeluarkan dari sekolah.
Tindakan itu tidak seperti Pio, terlalu gegabah, mengirimkan secara anonim rekaman cctv di mini market dimana Jeongyo pernah bekerja pada direktur Sekolah. Rekaman cctv sebagai bukti bahwa Jeongyo pernah dirundung oleh kedua bajingan yang sama yang sering menganggu Pio. Pio selalu menepis pikiran bahwa dia membantu Jeongyo, mencari alasan bahwa dirinya hanya ingin membalas dendam dan tidak ingin kedua bajingan itu menang dengan mengeluarkan Jeongyo. Tapi Pio tidak bisa berbohong, merasa lega saat Jeongyo seperti tidak ada masalah kembali menghadiri kelas.
Tapi tentu saja takdir sangat senang mempermainkan manusia, atau Pio mungkin sedang di uji oleh Tuhan bahwa dia harus latihan piano berpasangan dengan Jeongyo.
Itu adalah satu-satunya kesempatan yang bisa dia ambil atau jika dia menolak, tidak akan ada yang bisa mengajarinya piano sehebat guru Do. Jadi, Pio memulai pendekatan lebih dulu, seperti gencatan senjata diam-diam antara dia dan Jeongyo untuk mencapai tujuan.
Hari pertama latihan sangat buruk. Pio berusaha menahan kekesalannya bagaimana Jeongyo yang telah membuat Pio menunggu lama, lalu datang hanya untuk pergi begitu saja dengan alasan sakit. Seolah tidak menghargai Pio yang menunggunya.
Hari kedua latihan, Pio harus menunggu 1 jam lebih hanya untuk mendapatkan pesan dari Jeongyo yang kembali beralasan sakit.
Hari ketiga yang terburuk, emosi Pio sudah tidak terbendung menunggu tanpa kepastian dari Jeongyo yang tidak hadir lagi. Pio menahan emosinya pagi itu dengan wajah datar dan mengabaikan Jeongyo yang menawarkan untuk berlatih saat makan siang. Jeongyo sangat memaksa, membuat Pio kesal mengatakan dengan kasar agar Jeongyo berhenti sekolah jika tidak serius dengan latihan.
Mungkin karena amarah yang sudah lama tidak terbendung, keesokannya paginya Pio melampiaskan emosinya pada bajingan yang dengan berani mencoba melukai tangannya dengan pecahan kaca. Dia dengan kasar menarik satu bajingan yang melarikan diri, menjatuhkan tubuh itu dengan mudah hingga wajahnya begitu dekat dengan lantai yang berserakan pecahan kaca. Pio hampir melukai wajah bajingan itu sebelum Jeongyo menariknya dan menghentikan sebelum akan memperparah keadaan.
Jeongyo menyeretnya ke ruang kesehatan untuk membersihkan luka yang baru Pio rasakan perih di area lututnya. Pio menolak, tapi Jeongyo sudah berlutut di depannya, terlalu keras kepala untuk membantunya. Tidak ingin berdebat lebih panjang, Pio hanya diam memperhatikan Jeongyo yang penuh ketelitian menarik serpihan kaca yang menempel pada kulit, lalu memberikan obat tetes pada lukanya. Pio tanpa sadar melamun, menonton bagaimana Jeongyo begitu telaten dan pandai membersihkan luka.
Apa Jeongyo selalu tampak pandai dalam apapun? Apa yang Jongyo tidak bisa lakukan? Pio merasa iri.
Gerakan Jongyo berhenti, kepalanya yang sedaritadi menunduk selesai menempelkan plester pada lukanya, mendongak tiba-tiba menatap Pio. Tatapan Jeongyo yang penuh penyesalan membuat Pio sedikit tidak nyaman.
"Maaf soal kemarin. Sebenarnya, ada yang belum kuceritakan padamu." Jeongyo membuka suara.
Pio hanya bisa diam Jeongyo menjelaskan alasan mengapa dia tidak hadir ke latihan beberapa hari ini. Alasan itu tampak masuk akal, mengingat kembali saat Pio kecil mengintip di balik panggung mendapati Jeongyo yang menangisi ibunya yang tergeletak tak bernyawa di kelilingi paramedis di barisan kursi penonton. Entah bagaimana beban kemarahan yang ditujukan pada Jeongyo beberapa hari belakangan ini sirna, digantikan oleh rasa simpati yang jarang Pio berikan pada orang lain.
Dulu, saat mereka kecil mereka memang pesaing, tapi disamping itu Pio sangat senang sempat bersahabat sementara dengan Jeongyo dan memainkan piano bersama. Dan melihat raut wajah penyesalan dan kesedihan Jeongyo, menggoyahkan hati Pio, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Dan terlahirlah sebuah ide.
Pio mengirim pesan pada Jeongyo untuk bertemu di auditorium pukul 9 malam besok.
Malam itu Pio datang berharap cemas akan kedatangan Jeongyo. Pintu berderak memunculkan Jeongyo dengan ekspresi terkejut menatap sekeliling ruangan. Pio berusaha sebisa mungkin berpikir untuk tidak merasa berlebihan menyalakan puluhan lilin yang tersebar di ruangan yang telah dia beli menggunakan uang sakunya. Tapi demi tujuannya untuk bisa berlatih piano, Pio menelan rasa malunya dengan menarik lengan Jeongyo yang tak kalah gugupnya, mengekori tanpa banyak komentar saat Pio menyuruhnya untuk duduk di kursi yang telah dia sediakan di depan piano.
Lampu ruangan dimatikan digantikan cahaya redup lilin yang tampak seperti sebuah panggung dadakan. Jeongyo di sampingnya semakin gugup saat jari-jari Pio mulai menekan tuts piano. Masih dengan keraguan dan keringat dingin, Jeongyo akhirnya memberanikan diri ikut bermain berusaha menyamai langkahnya. Alunan melodi membuat Pio tersenyum. Ketukan tuts semakin cepat, dan Pio menikmati setiap detiknya.
Pio melirik Jeongyo yang mengerutkan dahinya berkonsentrasi, lalu wajahnya menoleh ke arah Pio membuat kontak mata mereka saling beradu. Jeongyo ikut tersenyum. Jantung Pio berdetak lebih cepat dari sebelumnya, wajahnya entah mengapa tampak menghangat, memalingkan wajah berpura-pura fokus pada jari-jarinya.
Pio tidak tahu apa yang terjadi padanya, pipinya tampak semakin panas, menyalahkan lilin yang tidak jauh darinya.
Mereka asik bermain hingga nada terakhir. Tak terasa jam menujukan 1 malam. Pio lebih panik dibanding Jeongyo yang membantunya mematikan semua lilin dan memasukkannya pada kardus.
"Apa menurutmu ini berlebihan? Aku mengira kau sedang jatuh cinta dan ingin menyatakan cinta padaku." Goda Jeongyo saat berdiri di hadapan Pio.
Kardus yang berisi setengah lilin yang di angkat Pio jatuh ke atas lantai dengan suara dentuman keras di tengah kesunyian ruangan.
"H-hah? Kau bilang apa?" Pio menatap nyalang, namun pipinya yang memerah tidak luput dari perhatian Jeongyo. Ledakan tawa pecah Jeongyo menambah kesal dan rasa malu Pio menjadi sangat sulit disembunyikan.
Pio ingin meninju Jongyo yang tidak berhenti tertawa, tapi mengurungkan niatnya karena dia harus segera pulang. Dia kembali memunguti lilin-lilin dengan kasar, mengangkat kardus ke sudut ruangan, dan memilih pergi lebih dulu tidak mengindahkan Jeongyo yang berteriak karena Pio meninggalkannya.
Dan tentu saja penjaga sekolah mengunci mereka. Kini Pio kembali panik, skenario buruk harus bermalam di sekolah bersama Jeongyo hanya menambah rasa malunya.
Jeongyo tampaknya tidak memperhatikan rona merah yang menyebar di pipi Pio, sibuk menengok kanan kiri mencari sesuatu sebelum berlari ke arah balkon terdekat. "Kau mau kemana?" Teriak Pio tapi tetap mengikuti.
"Jangan bilang kita harus melompat?" Pio menatap tidak percaya pada ketinggian balkon. Walau Jeongyo tampak antusias karena melihat tumpukan daun kering, tetap saja resiko kaki mereka terkilir, atau lebih parahnya patah sangat besar.
Pio hanya bisa menatap tidak percaya Jeongyo dengan mudahnya melompat tanpa berpikir dua kali, mendarat dengan selamat di tumpukan dedaunan. Pio berpikir Jeongyo seperti preman, bagaimana tampak terbiasanya Jeongyo melakukan lompatan seperti itu.
"Ayo turun. Cepat!" Teriak Jeongyo dari bawah, menumpuk dedaunan lebih tinggi untuk Pio, seolah hal itu akan mengurangi cedera apapun. Pio hanya bisa mendengus tampak skeptis, tapi dia tidak ada pilihan lain. Dia mengambil tarikan nafas dalam sebelum melompat hingga tubuhnya jatuh terbaring di tumpukan daun. Jantungnya berpacu begitu cepat karena adrenalin dari jatuh ketinggian.
"Kau tidak apa-apa?" Jeongyo berdiri di atasnya, bertanya dengan nada khawatir.
"Ya." Jawab Pio mengedipkan matanya begitu cepat melihat Jeongyo yang tersenyum, "Menyenangkan, bukan?" Tanya Jeongyo lalu terkekeh membuat Pio ikut tertawa.
Jeongyo mengulurkan tangan membantu Pio untuk berdiri. Tangan Pio yang dingin bersentuhan dengan tangan hangat Jeongyo dan kembali menimbulkan hawa panas menjalar ke pipinya.
Saat Pio beranjak untuk pergi, tapi Jeongyo lebih dulu menghentikan langkahnya. Tubuh Jeongyo bergeser terlalu dekat hingga Pio bisa merasakan nafas hangat remaja itu di pipinya. Pio tidak berani menutup mata, agar tidak memutuskan kontak matanya pada wajah Jeongyo yang semakin dekat.
"A-apa—" Tanya Pio penuh keraguan dan bingung.
"Ssttt..." Jeongyo menghentikan kebingungan Pio dengan menekan lembut bahu Pio. Hal itu hanya membuat Pio semakin gugup saat tangan Jeongyo terangkat lebih tinggi ke arah belakang kepala Pio. Nafasnya tercekat, bayangan sentuhan itu membuat Pio menggigil mengantisipasi apa yang dilakukan Jeongyo selanjutnya.
"Ada daun di rambut mu." Jeongyo tersenyum memperlihatkan daun kering ditangannya.
Jantung Pio mencelos tidak nyaman, seolah kecewa akan sesuatu.
"Wajahmu sangat merah." bisik Jeongyo pelan yang tidak Pio tangkap dengan jelas. Daun ditangan Jeongyo terjatuh saat menangkup sisi wajah Pio.
"Apa?" Tanya Pio mengedipkan matanya bingung.
"Sangat merah." Jeongyo berkata hanya semakin membingungkan Pio, sebelum tanpa peringatan mencondongkan wajahnya hingga bibir mereka bersentuhan.
Pio butuh beberapa detik untuk menyadari tangan Jeongyo yang lain menyentuh tengkuknya, dan bahwa mereka sedang berciuman—atau lebih tepatnya Jeongyo yang memulai menciumnya.
Mata Pio membulat panik menatap Jeongyo, tangannya tanpa sadar terangkat di bahu remaja satunya—bukan untuk mendorong ataupun menarik diri. Hanya bertumpu, mencengkram jas sekolah Jeongyo sebagai pegangan karena kakinya terasa sangat lemas.
Bibir itu hangat dan rasa basah aneh saat lidah Jeongyo menyapu celah bibir Pio, seolah meminta izin untuk masuk. Tidak mengerti apa yang harus dilakukan, Pio sedikit membuka bibirnya dan tarikan di tengkuknya semakin kuat hingga tubuh mereka menempel satu sama lain. Suara Pio teredam, mata mereka mengunci satu sama lain membuat nafas Pio tersendat.
Pio tidak tahu berapa lama ciuman itu berlangsung sebelum Jeongyo menarik diri lebih dulu. "Tidak buruk dari apa yang kubayangkan." Komentar Jeongyo sangat bangga.
Ekspresi terkejut Pio berganti kesal melihat seringai Jeongyo yang tampak puas berhasil menggoda Pio. Sebelum Pio bisa memukul atau melayangkan tendangan pada Jeongyo, penjaga sekolah lebih dulu menemukan mereka. Jeongyo menarik tangan Pio menuju pagar sambil tertawa. Tawa itu menular pada Pio yang ikut tertawa.
Mereka melompati pagar dan kembali berlari lolos dari kejaran penjaga sekolah.
"Apa kau pikir dia memergoki kita?" Tanya Jeongyo yang melambatkan lari melihat penjaga berhenti mengejar.
"Kuharap tidak." Jawab Pio di sela mengatur nafas.
"Bagus. Karena aku ingin kembali merasakan bibir mu." Goda Jeongyo dengan mengedipkan mata genit.
"Dasar mesum." Pio mendengus memasang wajah sejijik mungkin yang membuat Jeongyo kembali tertawa lepas.
"Baiklah kita harus berpisah disini. Sayang sekali aku tidak bisa mengantarkan mu, sayang." Ucap Jeongyo berpura-pura sedih, sengaja menekankan kata "sayang" hanya untuk menggoda, lalu mencuri kecupan cepat di bibir Pio sebelum berlari menuju asrama.
Pio yang tersadar dari transit nya berteriak marah, "Berhenti mengatakan itu, bajingan." Reaksi itu menimbulkan tawa Pio yang tenggelam oleh angin malam, sambil melambaikan tangan mengejek.
Pio memegang wajahnya, turun ke bibirnya, mengumpat kasar yang tidak akan bisa di dengar oleh Jeongyo. Merogoh mengambil ponselnya, mengetik pesan begitu cepat, lalu menekan kirim menatap Jeongyo yang telah hilang di gerbang pintu asrama.
"Kau akan mati Choi Jeongyo mesum!"
Choi Jeongyo
"Baik, sayang. <3"
Balasan itu hanya menambah rasa malu Pio hingga wajahnya semakin memerah. Pio berusaha menyalahkan angin malam, walau dia tahu bukan itu alasan wajahnya yang sangat panas hingga jantungnya berdetak kencang. Dan fakta bahwa itu adalah ciuman pertamanya, hanya semakin membuat Pio ingin lebih mengutuk Jeongyo.
