Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-09-01
Words:
1,137
Chapters:
1/1
Comments:
8
Kudos:
104
Bookmarks:
2
Hits:
820

EXchange, Aftermath

Summary:

Setelah kamera TWS Club Exchange Roommate mati, Junghwan terus merapalkan satu kalimat, "It was just a planned content."

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

It was just a planned content.

Itu yang Junghwan coba rapalkan berkali-kali di benaknya sejak kamera berhenti merekam TWS Club EXchange Roommate. Kalimat itu ia ulang seperti mantra yang harus dipercaya, padahal tubuh Youngjae sudah bersandar di sisinya di dalam mobil yang membawa mereka kembali ke dorm. Nafas Youngjae terasa hangat di bahu, berat tubuhnya yang lelah menekan pelan menempel pada sang kekasih.

Kelelahan, katanya. Shooting tanpa skrip benar-benar menguras isi otaknya hari ini. Junghwan ingin percaya itu saja. Tapi hari ini terasa jauh lebih panjang dan lebih lelah untuk dilewati, bukan karena pekerjaannya, melainkan karena dirinya yang terlalu terbawa peran dan perasaan kedalam karakter tadi.

Kacamata mungil itu masih menggantung di hidung bangir Junghwan. Satu tangannya tertaut di atas pahanya dengan milik Youngjae yang masih terlelap, jari-jari mereka saling menempel sejak tadi. Tangan yang lain sibuk memijat pelipisnya yang pening, berharap emosinya segera mereda.

Kegelisahannya itu pun sampai ke mimpi Youngjae, memuat sang empu perlahan terbangun dari tidurnya dan merasakan bahu tempat sandarannya itu kian bergerak dengan kaku tanpa sebab, juga nafas sang kekasih yang terasa berat menerpa wajahnya.

Ia tak mengubah posisi, hanya membuka mata dan melirik sang kekasih yang tengah menoleh kearah jendela. Junghwan masih belum sadar Youngjae sudah bangun dan memperhatikannya untuk beberapa saat, sampai maniknya bertemu dengan sang kekasih di pantulan cahaya kaca mobil. Ia refleks menoleh, menatap wajah sayu yang baru saja bangun itu.

Waeyo, Hyungie?” lantunan manis yang membuat jantung Junghwan berdegup kencang. Bibir tebal mengkilap itu berbisik, menariknya dari pikirannya yang tengah melalang buana. Ada kaca rentan di dalam hatinya yang baru saja menolak untuk pecah saat suara lembut itu terdengar olehnya. Menghempaskan pikiran-pikiran tidak masuk akal dari kepalanya. 

Sebuah helaan nafas menjadi jawaban, dan senyum simpul ia berikan pada Youngjae. Jemarinya terulur, menangkup pipi yang lebih muda degan kelewat lembut. Mengusap pelan rona disana menggunakan ibu jarinya. Kemudian memajukan wajah tampannya untuk memberikan kecupan kecil pada pucuk hidung menggemaskan Youngjae.

“Enggak apa, maaf malah ganggu tidur kamu.”

Youngjae hanya terdiam, terlalu ngantuk dan terlalu lelah untuk merangkai kata. Matanya yang sayu mengerjap pelan sekali, dua kali, lalu menyerah. Kepalanya kembali mencari bahu Junghwan, lebih dalam dari tadi untuk jatuh tertidur. Nafasnya segera berubah berat, hangat, dan teratur di leher Junghwan.

Sedangkan yang lebih tua menahan nafas sejenak. Baru setelah merasakan Youngjae benar-benar terlelap lagi di dekapannya lagi, dadanya turun pelan. Rasa gelisah yang sedari tadi menekan pelipisnya seperti ikut tertidur, tangannya yang semula hanya menangkup pipi itu turun merangkul pinggang yang lebih muda, menariknya rapat tanpa banyak pikir. 

It was just a planned content.” benaknya berbisik dengan lebih ringan kali ini. 

 


 

Setelah sampai di dorm, Youngjae tadi dibopong Junghwan untuk melanjutkan tidurnya di ranjang mereka lebih dulu. Sedangkan Junghwan mulai mandi dan bersih-bersih duluan. Alhasil Youngjae jadi yang paling akhir membersihkan diri.

Awalnya cuma kegiatan mandi dan sikat gigi sebelum tidur. Tapi di tengah gosokannya di depan cermin wastafel kamar mandi, Youngjae mendadak berhenti. Nyawanya yang seperti belum terkumpul ditambah mengingat proses shooting tadi membuatnya agak linglung dan kepikiran. Terbawa emosional sendiri mengingat acting sang kekasih yang begitu apik. Bahkan di beberapa dialog, Youngjae bisa merasakan tatapan Junghwan padanya seolah ada luka. Ditambah skrip yang bak menabur garam di atas luka itu, Youngjae meringis sendiri. Tanpa sadar ia berhenti menggosok giginya.

Setelah selesai berkumur membersihkan sisa-sisa busa, ia mencuci muka sekali lagi tanpa alasan. Mengusap wajahnya menyingkirkan sisa air, lalu terdiam menatap pantulannya di cermin. Memutar kembali raut Junghwan tadi di mobil membuatnya sadar, sang kekasih juga tengah terbawa suasana. Tidak hanya dirinya, membuatnya malah justru merasa bersalah tanpa sebab. 

Jadilah akhirnya ia melangkah keluar dari kamar mandi, menuju kamar mereka dimana ia melihat Junghwan sudah dengan singlet putih dan celana macan tutul khasnya terbaring di ranjangnya. Ia menghadap tembok, membuat bahu seluas samudera itu terpampang nyata disana, dengan gerakan naik turun yang berat. Ia tahu bahwa sang kekasih belum terlelap. Maka dari itu, setelah menutup pintu, ia menghampiri Junghwan di ranjangnya, menyalip dan mendorong dirinya untuk muat berada di bawah selimut yang sama. Ia hanya menatap punggung Junghwan yang nampak menyedihkan itu beberapa saat, sebelum pada akhirnya mengulurkan tangannya perlahan. Memeluk tubuh sang kekasih dari belakang, kemudian merapatkan tubuhnya untuk mengusal pada punggung lebar favoritnya. 

“Hyung…” rintihnya pelan, memanggil. 

Junghwan kaku sepersekian detik. Nafasnya tertahan di dada. Youngjae tidak memaksa, ia hanya menempelkan dahi di sela tulang belikat Junghwan, menghirup wangi sabun yang masih hangat di kulitnya, dan mengeratkan pelukan.

“Aku di sini, Hyung,” bisiknya lagi, lebih kecil, “Jangan tidur dulu.”

Hening sejenak. Lalu punggung itu bergerak, Junghwan berbalik pelan. Wajahnya masih basah samar dari mandi, kacamata sudah tidak ada, dan matanya yang semula menghindari sekarang menatap Youngjae dari jarak yang terlalu dekat, begitu intim.

“Ngantuk,” katanya, suaranya serak.

Youngjae tersenyum kecut, ujung hidungnya menyenggol dagu Junghwan. “Aku juga. Tapi Hyung keliatan lebih capek dari aku.”

Jemari Junghwan terulur naik, menelusuri pinggang Youngjae di bawah selimut, menahan tubuh yang lebih muda agar tetap di tempat. Ibu jarinya mengusap pelan kaus yang masih sedikit lembap tanpa bicara. Hanya menatap, lama, seperti tangah memastikan Youngjae benar-benar ada, bukan hanya sisa karakter yang tadi ada di depan kamera.

Youngjae yang lebih dulu tidak tahan.

Ia memajukan wajah, mengecup sudut bibir Junghwan sekali, singkat, manis, seperti yang tadi di mobil. Ketika ia hendak mundur, tangan Junghwan sudah ada di tengkuknya untuk menahan ciumannya, bahkan menarik tengkuk sang empu untuk memperdalam ciumannya. 

Ciuman berikutnya tidak lagi kecil. Junghwan menciumnya dalam, lapar, dan hati-hati di saat yang sama. Meruntuhkan seluruh kegelisahan dari shooting, dari mobil, dari mantra it was just a planned content yang sedari tadi ia rapalkan, tumpah lewat bibirnya. Youngjae menjawab dengan sama hebatnya. Jemarinya merayap ke surai setengah basah Junghwan, menarik pelan, membuka mulut ketika lidah sang kekasih meminta izin yang sebenarnya tidak perlu diminta.

Nafas mereka berantakan di sela ciuman hingga selimut bergeser. Lutut Junghwan menyusup di antara kaki Youngjae, tubuhnya menekan lebih dekat sampai tidak ada jarak tersisa. Youngjae mengerang rendah di mulutnya sebagai respon. 

Satu tangan Junghwan masih di pinggang yang lebih muda, tangan yang lain menangkup rahang Youngjae agar ciuman itu tidak putus.

Ketika akhirnya mereka terpaksa berpisah karena kehabisan nafas, dahi mereka tetap bertemu. Bibir Youngjae basah, merah, dan bengkak. Junghwan tertawa kecil, hampir tidak terdengar, lalu mengecupnya lagi disana. Lebih lambat, lebih dalam, tanpa ada niat untuk melepaskan.

Kemudian sebelum Junghwan bersuara lagi, Youngjae mengangkat tangannya, memamerkan sebuah tanda cinta yang masih terpatri sempurna di salah satu jari kurusnya. Pemberi sakral Junghwan, cincin couple

“Masih ada ini hehe,” bisik Youngjae di sela bibir mereka dengan kekehan pelan, nafasnya masih pendek.

Junghwan tidak menjawab dengan kata. Ia hanya terkekeh kecil karena Youngjae terlihat begitu menggemaskan kemudian menarik yang lebih musa kembali ke dalam ciuman yang lebih dalam dan menuntut dari sebelumnya, menenggelamkan sisa keraguan di antara nafas yang saling berebut, sampai kamar itu terasa jauh lebih hangat daripada selimut yang menyelimuti mereka. 

 


- The End -

@yojereun

Notes:

Ohh hell yeaaaah 10000/10 for this TWS Club contents <3