Work Text:
Angin malam membungkam dan membungkus badan Sungho yang kini sedang berbaring di permukaan pasir, ditemani oleh no other than Jaehyun. Ombak laut berombang-ambing, menghasilkan latar suara yang terdengar lembut.
Entah bagaimana mereka bisa sampai di titik ini—berbaring menikmati suasana pantai yang sepi pada malam hari. Jika dikilas kembali, mereka telah melampaui berbagai rintangan hidup yang terkadang mereka sendiri tak menyadari.
Namun biarkan saja yang lalu, berlalu. Right? All that matters now is that they're right here—enjoying a quiet night together as the world rests.
Sungho mengubah posisi berbaringnya, menatap lurus ke arah langit malam yang bertabur bintang sebelum melirik ke samping. Jaehyun tampak tenang, menikmati hembusan angin laut.
Sungho masih terhanyut dalam lamunannya menatap langit ketika suara Jaehyun memecah keheningan.
“Sungho?” Panggil Jaehyun dengan nada yang pelan, namun dapat membuat hati Sungho berdegup kencang.
“Mmm?” Sungho bergumam sebagai respon.
Namun, Jaehyun tidak mengeluarkan separuh kata pun—melainkan mengubah posisi berbaringnya hingga kini menghadapnya. Di situlah—tatapan mereka bertemu.
Sungho dapat melihat netra Jaehyun yang berbinar, seakan-akan menampung seluruh bintang di langit malam yang lagi-lagi, berhasil membuat jantung Sungho untuk kian berdegup lebih kencang.
Hal ini sudah sering terjadi. Dari luar, Sungho tampak begitu netral hingga tak seorang pun menaruh curiga bahwa lelaki yang sedang berada di hadapannya selalu melakukan sesuatu yang nyaris membuatnya pingsan.
“Kenapa?” Sungho kembali bertanya, penasaran akan isi kepalanya.
Meskipun Jaehyun berusaha keras menyembunyikannya, garis bibirnya melengkung, membentuk senyuman tipis. “Nggak ada, just wanted to tell you how beautiful you look tonight.” Sungho menatap penuh dengan pertanyaan. Matanya terbelalak kaget, sebelah alisnya terangkat ke atas. “Kok gitu? Nggak suka di komplimen?” Jaehyun meloloskan tawa kecil ketika mendengar Sungho berdecak kesal.
Lucu sekali.
“You do it too much, terus ngulang mulu. Remed. Nggak original” Sungho membalas dengan nada kesal.
Balasan itu cukup untuk membuat Jaehyun gemas. “Not original?” Ia menggelengkan kepalanya. Unbelievable batinnya. “You look like a pencil sketch that came to life” Jaehyun kembali lagi mencoba. “Puas?”
“Pencil sketch? Jelek dong? Kan, sketsa tuh selalu berantakan, selalu kotor”
“Siapa bilang? Buktinya, sketsa kamu bagus-bagus kok”
Sungho mendengus pelan “Apasih, nggak ada ya! If you don't have any compliments for me just say it. Gak ada yang maksain juga"
Jaehyun terkekeh ringan. “Kenapa sih, your art is beautiful, loh” Tatapannya tak beralih dari wajah Sungho.
Beautiful, sama seperti yang menggambarnya.
“You're just not looking at it from my perspective” Tambah Jaehyun.
“Kamu, kan, bukan yang gambar. Jadi kamu nggak liat kesalahan-kesalahannya” Gumam Sungho sementara melarikan tatapannya kembali ke langit malam.
Jaehyun mengangguk pelan. “Itu dia”
Dua kata itu berhasil mengalihkan fokusnya kembali pada lelaki yang sedang berbaring sebelahnya.
“You pay too much attention. Kadang, ga semuanya harus diperhatikan” Jaehyun mengulurkan sebelah tangannya, menyelipkan helaian rambut Sungho ke belakang telinga. “Mistakes are just a part of life. Kalo nggak ada kesalahan, we wouldn't be here right now”
Nafasnya tertahan sesaat ketika merasakan jemari Jaehyun menyentuh telinganya. Walau hanya elusan sementara, sentuhan itu sendiri kembali membuat Sungho resah.
“Apaan sih, ngelantur mulu” gerutu Sungho.
Lantas, mengapa Jaehyun begitu pandai dalam perkataannya? Mengapa ia begitu mudah menyampaikan pesan yang begitu dalam hingga menyentuh hati Sungho?
Ia mendekatkan wajahnya sedikit lagi, menepis jarak di antara mereka di atas permukaan pasir. “Aku serius loh” Jaehyun menatap lekat pada netra Sungho, jemarinya yang tadi merapikan rambut kini turun menyentuh rahang Sungho dengan lembut. Nyaris tak terasa. “Come to think of it, we’re not just friends”
Sebelah alis Sungho terangkat tinggi dengan raut wajah terkejut sekaligus tak percaya. “What do you mean?”
Jaehyun tersenyum tipis, jarinya mengusap pelan pipi Sungho.“Sebenarnya, aku gak tau menurut kamu gimana”
“Tapi kita udah ngelaluin banyak rintangan”
Jaehyun menarik napas pelan. “Together—mungkin that’s why, you feel even more special to me”
Rona merah membakar telinga dan pipi Sungho. “Kamu ngomong apa, sih? Mabuk ya? Jangan-jangan kepentok kepalanya?”
Jaehyun terkekeh pelan. Jari telunjuknya turun menyentuh bibir Sungho. “Shhh” Jaehyun memberikan senyuman hangat. “Let me speak” Sungho hanya bisa bungkam. Menahan teriakan-teriakan hatinya begitu saja.
“Selama kita kerja bareng, aku sadar kalo kamu bukan sebatas a good friend, but also a really good person as a person” lanjut Jaehyun, jemarinya menggenggam jemari Sungho di atas pasir, meremasnya pelan. “Cara kamu bertanggung jawab tiap ngelakuin tugas, endure no matter how hard things get, and the way you look up for people”
“Karena kita dekat, aku biasanya nggak ngomong kayak ini” Bisik Jaehyun. “But I like you that much”
Jaehyun menghela napas panjang. “I hope that someday, setelah waktu berlalu, kita bisa mengenang all the moments we went through together. Aku harap kita bisa tetap berhubungan dan bertemu comfortably in the future, just like we are right now”
Mendengar rangkaian kalimat itu, dada Sungho mendadak terasa sesak oleh kecemasan. “Why are you saying this?” Raut wajah Sungho berubah cemas, ia melepas jemarinya yang terjalin dengan Jaehyun. “Kamu mau ninggalin aku?”
Jaehyun langsung menggeleng cepat. Raut wajahnya berubah serius sementara, senyumnya memudar—namun kehangatannya tetap. “Gaada yang mau ninggalin kamu, Sungho” Senyumannya pun kembali. “Aku cuman mau ngomong aja”
Sungho menunduk, berusaha mempertahankan air matanya sementara menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakan yang nyaris keluar.
Jaehyun menggeser tubuhnya lebih dekat, lalu menangkup wajah Sungho dengan kedua tangannya, memaksa lelaki itu untuk mengangkat wajah dan menatap matanya. “Mulai sekarang, kita saling mengandalkan sepenuhnya, ya? Let's be together for a long time”
Sungho mengedip cepat, nafasnya tersendat di tenggorokan dengan bibir bawah yang masih bergetar. Ia hanya bisa mengangguk pelan.
Jaehyun tersenyum lega, mendekatkan wajahnya perlahan hingga dahi mereka bersentuhan erat. “Terima kasih sudah lahir, and thank you again, karena sudah berada di sisiku”
“I love you, Park Sungho” ucap Jaehyun dengan penuh ketulusan. Ia pun menyalurkan ciuman lembut dan hangat di kening Sungho.
“I love you too, Myung Jaehyun”
In conclusion, mereka cuma dua orang yang akhirnya menemukan rumah di tempat paling sederhana—berbaring berdua di atas pasir, siap tidak siap untuk melangkah ke depan. Tanpa mengetahui secara pasti apalagi situasi yang harus mereka hadapi.
Namun tak perlu lagi dikhawatirkan, karena mereka akan mengandalkan sesama, sepenuhnya.
。*゚+୨ৎ 04/09/03 。*゚+୨ৎ
Inspired by Jaehyun’s weverse post for Sungho’s birthday.
