Work Text:
قَدْ فَرَضَ اللّٰهُ لَكُمْ تَحِلَّةَ اَيْمَانِكُمْۚ وَاللّٰهُ مَوْلٰىكُمْۚ وَهُوَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ ٢
"Jangan deket-deket Salman, dia suka kesurupan."
Anehnya, kalimat itu tidak pernah berbekas di hati Kamil saat pertama kali menyapa gendang telinga. Ia hanya menganggapnya sebagai riuh rendah pesantren, dongeng yang lahir dari jemu dan sempitnya cakrawala. Sebab di tempat demikian, manusia butuh ketakutan agar hari terasa bermakna. Jika setan tak ada, mereka akan memahatnya sendiri dari raga sesama. Namun belakangan, kalimat itu kerap mengetuk benaknya, terutama pada malam-malam sunyi saat ia terjaga dan merasa tatapan Tuhan sedang mengunci dirinya terlalu lama.
Salman bukanlah lelaki yang mencuri pandang. Wajahnya biasa saja, cenderung pucat, dan melelahkan untuk dipandang lama. Ia melangkah layaknya jiwa yang senantiasa meminta maaf pada bumi yang dipijaknya. Tuturnya lirih, nyaris lenyap ditelan angin. Meski begitu, dalam kesunyiannya, ia tampak menyimpan rahasia yang tidak dimiliki manusia lain. Sesuatu yang membuat orang-orang menjauh tanpa pernah benar-benar mengerti mengapa.
Konon, ia kerap berkelana dalam lelap. Seorang santri pernah menjumpainya berdiri di pelataran saat fajar membiru, dengan netra terbuka dan bibir bergetar merapal doa bagi mereka yang telah tiada. Pernah pula ia tak terjamah kesadaran, hingga sang ustadz harus mengutus beberapa orang untuk melantunkan ayat di telinganya. Sejak saat itu, desas-desus pun tumbuh, dan sebagaimana kabar burung di tanah religius, Salman perlahan menjelma menjadi sebuah kebenaran yang dianggap mutlak.
Bukan cerita-cerita demikian yang memikat atensi Kamil, melainkan sebuah kenyataan bahwa Salman tampak begitu tabah dalam kesendirian. Ia menyantap hidangan tanpa duka. Duduk membisu tanpa amarah. Bahkan sunyinya tak pernah menagih iba.
Dan bagi Kamil yang sepanjang hayat dihujani pujian atas ketaatan dan santunnya, ada sesuatu yang nyaris mencekam dari sosok yang telah berdamai dengan keterasingan.
Gerbang percakapan mereka bermula dari sebuah peristiwa remeh yang kelak terasa memalukan saat dikenang.
Satu malam, cahaya padam ditelan gelap. Hujan tumpah ruah dan angin menggedor pintu kobong serupa jemari asing yang hendak memaksa masuk. Kamil mendapati Salman di lorong sunyi dengan tubuh bergetar dan napas tersenggal tak karuan.
"Aku ketindihan lagi," bisiknya.
Hanya itu.
Tak ada pekik ngeri. Tak ada tatap mata hampa. Tak ada pula kehadiran jin. Sontak Kamil didera rasa malu kepada dirinya, kepada pesantren ini, dan kepada segala ketakutan kecil yang selama ini mereka pelihara bak sebuah peribadatan. Ia duduk bersimpuh di sisi Salman malam itu. Tak banyak kata yang terucap. Tetapi sejak saat itu, sesuatu yang mengusik mulai bersemi di hati Kamil. Pada awalnya, ia menamainya sebagai rasa iba.
Bukankah begitu semua dosa besar dimulai? Dengan nama-nama kecil yang tampak tak berbahaya.
Mereka mulai belajar bersama di perpustakaan belakang mushola. Salman begitu piawai mengeja kitab kuning, kepiawaiannya tidak datang dari hal riuh ataupun pongah, melainkan datang dari sunyi yang tumbuh dalam terlalu banyak waktu sendirian. Sesekali Kamil terpaku menatap jemari Salman yang berlumur tinta saat membalik lembaran kitab, pemandangan yang kiranya menyesakkan dada Kamil. Keduanya kini bertukar selipan surat di sela-sela halaman kitab kuning.
Mulanya Kamil menganggap hal itu hanyalah sebuah permainan kekanak-kanakan yang sia-sia.
"Jangan sampai ga kebagian lauk pas makan."
"Jangan tidur habis subuh."
"Kamu keliatan capek hari ini."
Namun justru kesederhanaan itulah yang meruntuhkan pertahanannya. Sebab Kamil tersadar, tak pernah ada mata yang menatapnya sedalam itu. Dunia mengagumi, menghormati, serta memuja hafalan dan santunnya. Tetapi Salman menelisik ke sela-sela jiwanya. Ada jurang perih yang memisahkan keduanya.
Lalu, perlahan Kamil mulai merayakan kepingan waktu yang kecil. Tentang derap langkah menuju perpustakaan selepas isya'. Tentang lirih suara Salman saat mengeja kitab. Tentang surat-surat pendek yang ia sembunyikan di balik bantal sebelum terlelap. Kadang Kamil merasa sangat bahagia dengan cara paling murni sampai ia ingin loloskan isaknya.
Dan setelah itu, air matanya benar-benar jatuh.
Sebab tiap secercah suka, selalu dibayangi oleh ketakutan yang hebat. Kamil mulai mendengar ceramah dengan perasaan yang lain. Ayat-ayat mengenai dosa seolah menyapa langsung ke jantungnya. Saat yang lain menunduk dalam doa, Kamil justru merasa semakin telanjang di hadapan Tuhan.
Kamil mencoba sekuat tenaga untuk melawan badai yang menderu dalam sukmanya, mengerahkan sisa benteng pertahanan yang kian rapuh. Di keheningan malam, bibirnya yang gemetar tak henti melafalkan istighfar dan untaian doa, memohon agar cahaya suci mampu mengusir bayang-bayang yang kian liar. Ia memejamkan mata lebih dini, menenggelamkan diri dalam kelam agar tak perlu beradu pandang dengan Salman. Dalam puncak nestapa, Kamil memilih jalan terjauh hingga menepi di sudut pesantren yang sunyi dan menjauhi perpustakaan selama berhari-hari. Sebuah upaya sia-sia menciptakan jarak demi menyembuhkan luka hati.
Akan tetapi, hukum alam dalam benaknya bekerja dengan kejam. Kian ia melangkah menjauh, kian erat bayang itu mendekap ingatan. Kekosongan yang ditinggalkan Salman justru menjelma gema yang memanggil namanya, hingga tiap sudut pikirannya sesak oleh senyum, suara, dan gerak sang pemuda. Di sanalah penderitaan mulai menggerogoti jiwa secara perlahan namun mematikan. Sebuah siksaan batin yang lahir dari perang abadi antara logika yang menolak dan hati yang kian terjerat.
Sebab di balik segala kepura-puraan, Kamil tak pernah mampu meyakini bahwa Salman adalah pembawa petaka. Akan lebih mudah baginya jika saja Salman adalah sosok yang buruk, manipulatif, atau penuh muslihat. Jika ada satu cela saja untuk dibenci, Kamil akan memiliki alasan logis untuk berbalik tanpa harus sesak oleh rasa bersalah yang menghujam dada.
Kamil dihujam kenyataan tanpa ampun. Salman terlalu lembut, terlalu tulus, dan terlalu suci untuk dicemari prasangka, apalagi dibenci. Pernah ada sebuah malam yang sunyi, saat angin pesantren menyusup dingin di sela jendela aula kayu, Salman merebahkan kepalanya di lipatan tangan, menatap kosong ke luar jendela. Dengan bisikan yang rapuh, ia berucap, "Kalau nanti udah gak mondok, aku pengen tinggal di tempat yang masjidnya gak pake toa."
Kamil yang tengah merapikan kitab tertegun, lalu tertawa kecil demi mencairkan suasana yang melankolis.
"Terus bangun subuh pake apa?" Tanyanya jenaka.
Namun, tawa itu luruh di tenggorokan saat Salman menatap manik matanya dengan senyum tipis penuh makna, lalu menjawab singkat, "Kamu."
Satu kata itu mengalir tenang, tetapi dampaknya meluruhkan seluruh benteng pertahanan Kamil. Sejak malam itu, Kamil kerap terpaku dalam diam yang menyiksa saat melihat Salman tertidur lelap di atas tumpukan kitab. Seketika muncul hasrat egois agar semesta berhenti menyakiti pemuda itu. Kelembutan Salman kini menjelma senjata mematikan, hanya dengan jawaban sederhana di malam sepi, Kamil tahu hatinya telah lumpuh dan hidupnya yang tenang kini tengah melangkah perlahan menuju jurang kehancuran yang tak terelakkan.
Bagi Kamil, ketakutan sejati bukan lagi pada besarnya asmara terlarang yang ia sembunyikan untuk Salman, pun bukan pada sesak rasa bersalah yang mengikis dinding dada tiap kali nama Salman terucap. Sebuah kebenaran pahit merayap di sudut kelam hatinya bahwa sekeping jiwanya yang merupakan bagian paling jujur sekaligus keras kepala, sama sekali enggan diselamatkan. Ada sisi batinnya yang justru paripurna dalam dosa itu, yang memilih karam lebih dalam daripada harus ditarik kembali ke permukaan dan dipaksa melupakan betapa indahnya dicintai dengan begitu lembut.
Pada akhirnya, rahasia yang mereka pertaruhkan dengan seisi dunia itupun runtuh juga dalam lelah yang teramat sangat. Satu malam larut, setelah bergelut dengan hafalan dan pelarian dari kantuk, benteng mereka roboh oleh penat yang tak lagi tertahankan. Di sudut perpustakaan yang temaram oleh sisa pelita, Kamil luruh dalam lelap di bahu ringkih Salman. Di atas lembaran kitab suci yang terbuka, jari mereka bertaut erat seakan dua jiwa kecil yang ketakutan di tengah badai, saling menggenggam demi memastikan tak ada satupun yang akan pergi meninggalkan kesunyian.
Musyrif pesantren menjumpai mereka di sana tepat saat fajar hampir menyingsing membelah sunyi. Tak ada badai murka, tak ada makian kasar, pun tak ada amarah yang meledak dari bibir sang pengasuh. Namun, keheningan yang membeku itu justru menyelimuti sukma, jauh lebih mencekam daripada siksa raga mana pun. Sang Musyrif terpaku di ambang pintu, menatap lumat kedua santrinya yang terbangun dalam kepanikan, saat jemari mereka terlepas dengan tergesa.
Dengan napas yang berat, ia melangkah mendekat, menatap wajah Kamil dan Salman bergantian dengan lara yang mendalam. Ia memejamkan mata sejenak, lalu berbisik dengan suara bergetar menahan pedih, "Astaghfirullahaladzim. Jadi, desas-desus selama ini benar? Di atas kitab-Nya, kalian tega memelihara penyakit ini?"
Kamil lantas bersimpuh, menyembunyikan wajahnya yang pias di lantai, sementara Salman hanya tertunduk dengan bahu yang terguncang hebat.
"Maaf, Ustadz. Demi Allah, ini salahku, jangan salahkan Salman," rintih Kamil parau, memohon keadilan yang ia tahu telah usai.
Sang Musyrif hanya menggeleng pelan, menatap mereka dengan pandangan yang membuat Kamil merasa lebih hina daripada ribuan tamparan di depan khalayak.
"Bersihkan diri kalian. Ambil air wudhu, laksanakan shalat taubat, dan setelah fajar urusan ini akan diselesaikan secara resmi," ucapnya dingin sebelum melangkah pergi, meninggalkan derap kaki yang bergema serupa ketukan palu hakim.
Pasca malam terkutuk itu, hari-hari menjelma laksana prosesi gantung yang sengaja diperlambat, membiarkan duka merambat dalam siksa yang panjang. Lembar-lembar surat berisi rindu yang dahulu terselip di antara kitab kuning, kini dihimpun lalu dilalap api di halaman belakang, hingga hanya menyisakan abu kelam yang terbang ditiup angin. Kamar mereka dipisahkan ke ujung dunia yang berbeda, di bawah hukum ketat agar langkah mereka tak lagi bersinggungan. Tragisnya, nama Kamil mulai diselipkan dalam sindiran doa-doa pengajian, menjadi perumpamaan kelam tentang fitnah dan retaknya hati dua lelaki yang terjebak di antara cinta dan keyakinan.
Di bawah langit malam yang membeku, dalam aula yang sesak oleh santri yang menunduk takzim, suara Kyai menggema lewat pelantang, membelah sunyi dengan nada berat penuh peringatan.
"Hati-hati dengan hati kalian wahai pencari ilmu," ujar suara itu, memantul di dinding-dinding kayu yang terasa kian menjepit dada Kamil. "Setan tidak selalu datang membawa sebilah pisau untuk menyuruhmu membunuh. Kadang, ia datang membawa selimut kelembutan, membisikkan rasa simpati yang berlebihan, dan membungkus syahwat yang menyimpang atas nama kasih sayang sesama saudara. Kelemahan hati seperti ini adalah fitnah terbesar bagi lelaki. Jika kalian membiarkan perasaan nista itu tumbuh di dalam ruang suci ini, maka kalian bukan hanya mengotori diri sendiri, melainkan juga sedang menantang murka Allah dan merubuhkan keberkahan ilmu yang sedang kalian tuntut!"
Setiap kata yang terucap jatuh bagai cambuk tak kasat mata di punggung Kamil. Di sudut barisan paling belakang, ia meremas ujung sarungnya, menahan tangis yang menyesak di kerongkongan, sementara ratusan pasang mata mulai berbisik lewat lirikan, memahami siapa sosok yang tengah dikuliti tanpa ampun dalam ceramah malam itu.
Untuk pertama kali dalam tujuh belas tahun usianya, Kamil mulai membenci dirinya sendiri dengan dendam yang membara. Ia tak pernah membenci Salman, demi Allah, Kamil tak sanggup membenci jiwa selembut sutra itu. Yang ia benci adalah kekalahannya sendiri, dirinya yang tetap merindukan kehangatan Salman meski telah bersujud hingga dahi terasa penat memohon ampunan semalam suntuk.
Kamil membenci telinganya yang masih refleks mencari irama langkah kaki Salman setiap adzan usai berkumandang. Yang terlebih mengutuk hatinya lagi adalah kenyataan bahwa di relung batin terdalam, Kamil masih menyimpan harapan gila bahwa suatu hari nanti, Salman akan mendobrak segala sekat, menggenggam pergelangan tangannya, dan berkata bahwa segala kehancuran ini layak diperjuangkan bersama.
Akan tetapi Salman tak kunjung datang, dan kalimat itu tak pernah meluncur dari mulutnya. Barangkali, karena Salman lebih bijak memeluk kenyataan daripada dirinya.
Di bawah naungan atap pesantren yang sama, mereka tetap tinggal meski rahasia terdalam telah tersingkap dan terkelupas tanpa sisa. Kala adzan berkumandang, mereka melangkah menuju mushola yang sama, menghirup udara yang serupa, dan bersujud menghadap kiblat yang satu. Dalam saf yang tak beraturan, jarak mereka terkadang hanya sepelemparan batu. Begitu dekat hingga Kamil mampu menangkap sayup doa yang dirapalkan Salman. Namun, jarak kasat mata itu terasa lebih mustahil ditempuh daripada palung samudera terdalam, dan menjadi pembatas tak berwujud yang dipahat oleh ketakutan mereka sendiri.
Melampaui sanksi dan pengucilan yang menghimpit, tragedi paling pilu adalah kenyataan bahwa cinta mereka masih membara dengan hebatnya. Perasaan itu tetap bening dan transparan, hingga segala upaya untuk menjauh dan pura-pura asing justru tampak menyayat hati bagi siapapun yang melihatnya. Setiap tatapan yang dialihkan, setiap langkah yang terburu saat berpapasan hanyalah tanda sahih bahwa relung hati mereka masih sepenuhnya dihuni oleh jiwa yang sama.
Sering kali, dari balik pilar aula atau sudut remang koridor, Kamil hanya mampu menatap Salman yang melangkah sunyi dari kejauhan. Dalam hening itu, ia seakan menyaksikan bayang takdir yang berbeda. Sebuah kehidupan indah yang seharusnya ia dekap, andai Tuhan menuliskan garisnya dengan cara yang berbeda. Sebuah pengandaian sia-sia lahir dari keputusasaan hamba yang terbelenggu garis hidupnya sendiri.
Pada akhirnya, manusia memang tak dihadiahi kemewahan untuk menjahit takdir. Manusia seolah diciptakan hanya untuk dibekali cinta yang teramat luas sekaligus rasa bersalah yang mengakar di dada, lalu dibiarkan sendiri menyaksikan keduanya saling menikam dan membunuh di dalam dada tanpa pernah tahu perasaan mana yang akan bertahan sebagai pemenang.
