Work Text:
“Yang bener, mas?!”
Seonghyeon mengangguk. “Iya, jadi kamu gak perlu khawatir soal lahiran si dedek.” Tangan pria itu turun ke perut Juhoon, ia elus perut besar pasangannya, di mana di dalamnya terdapat sang jabang bayi yang mereka nanti-nantikan kelahirannya.
Kehamilan Juhoon sudah menginjak trimester ketiga, perutnya tumbuh begitu besar sampai kewalahan tiap kali berjalan atau sekadar berkegiatan sederhana.
Pada perilaku lembut sang suami, Juhoon tersenyum simpul, tangannya ikut mengelus-elus perutnya. Senyum Juhoon melebar ketika merasakan tendangan kecil dari dalam. Si jabang bayi memang jadi lincah tiap kali merasakan presensi Seonghyeon.
“Syukur kalau gitu, mas. Rezeki memang gak ke mana.” Mendengar nada bicara Juhoon yang sumringah, sebuah senyum gembira pun turut mengembang di wajah Seonghyeon.
Pria itu menyisir helaian rambut Juhoon yang jatuh ke keningnya dan menyingkapnya ke telinga. Ah, Juhoon kelihatan begitu cantik.
Meski mereka sudah bukan termasuk pasangan baru, tapi perilaku sang suami menggetarkan hati Juhoon. Pipi Juhoon merona, telinganya pun ikut memerah.
Seonghyeon mengulum senyumnya, Juhoon sungguh menggemaskan kalau lagi salah tingkah begini.
Mereka pun bergeming, hanya saling menikmati eksistensi satu sama lain pada larut malam itu. Berbaring berduaan di atas kasur kapuk Palembang yang sebenarnya sudah bau apek dan menipis.
Juhoon mengubah posisinya sedikit, badannya pasti pegal-pegal karena harus tidur di atas matras yang rasanya hampir menyatu dengan lantai. Namun Juhoon tidak pernah mengeluhkan hal itu pada Seonghyeon. Ia tidak mau membebankan suaminya dengan hal yang menurutnya sepele.
Meski begitu, bukan berarti Seonghyeon tidak tahu mengenai isu kasur mereka. Tempat tidur merupakan salah satu dari sekian isu di kamar indekos 2 petak yang mereka tinggali.
Setelah mendapatkan kabar bahwa Seonghyeon diterima bekerja sebagai kurir paket untuk suatu perusahaan e-commerce, kecemasannya mengenai biaya hidup keluarga dapat sedikit berkurang.
Juga, Seonghyeon bersyukur banyak karena artinya ia tidak harus lagi bekerja di pabrik yang pernah membuatnya hampir kehilangan kemampuannya berjalan; dua tahun yang lalu, suatu alat berat pernah menimpa kakinya, tapi ia terpaksa tetap harus bekerja karena kalau meninggalkan pekerjaan lama-lama, ia terancam dipecat. Sehingga proses pemulihan cideranya tertunda cukup lama.
Bukannya diberikan kompensasi oleh perusahaan, Seonghyeon malah kena amuk karena dinilai lalai ketika bekerja.
Seonghyeon sempat tertekan karena tidak memiliki pemasukan selama hampir dua minggu, sehingga ia terpaksa harus menggunakan tabungan biaya lahiran si jabang bayi untuk berobat. Untungnya, sehabis pulih, ia segera mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di perusahaan yang lebih terjamin pula.
Syukurlah, nanti sudah bisa mencicil kasur busa baru, pikir Seonghyeon.
Pria itu kemudian menatap wajah Juhoon lekat-lekat sambil membelai kepala Juhoon lembut. Dan ketika ditatapi seperti itu, Juhoon pun balas menatap sang suami.
“Kenapa, mas?” bisik Juhoon, kedipannya melambat, pasti sudah mulai mengantuk. Dia kelihatan menggemaskan seperti ini.
Pandangan Seonghyeon menelusuri tiap lekuk wajah Juhoon sebelum akhirnya sang suami menjawab, “Mas bahagia bisa berjodoh sama orang secantik dan sebaik kamu.”
“Hmm.”
“Kamu pengertian, udah gitu manis—lucu, selalu bikin mas bahagia,”
Hidung Juhoon langsung mengerut ketika dicolek oleh Seonghyeon, ada senyum tengil di wajah sang suami; hih, Seonghyeon memang paling tahu apa saja hal yang dapat membuat Juhoon salah tingkah.
Berbanding terbalik dari Seonghyeon, Juhoon justru orang yang pemalu, sehingga ia hanya mampu merengek, sok-sokan jengkel lalu menyembunyikan separuh wajahnya di dada Seonghyeon.
“Hmmh, apa sih …, mas ngelantur,” gumam Juhoon, ucapannya sedikit terbekap karena ia masih tidak mau muncul dari persembunyiannya di dada Seonghyeon.
“Ngelantur apanya kalau fakta?” balas Seonghyeon, ia kecup pucuk kepala Juhoon, kemudian pria itu mendekap tubuh Juhoon lebih erat meski tetap harus terpisahkan sedikit oleh dedek bayi mereka yang mungkin kini sedang terlelap dalam perut Juhoon.
Juhoon dapat mendengar helaan napas panjang Seonghyeon ketika sang suami menghirup dalam-dalam pucuk kepalanya. Katanya si mas, dia paling suka pucuk kepala Juhoon yang khas wangi Rejoice oranye. “Maafin mas, ya.”
“Hm?”
“Maafin mas,” ucap Seonghyeon, bibirnya menggelitik pucuk kepala Juhoon. “Mas belum bisa ngasih yang terbaik buat kamu.”
Kening Juhoon mengernyit. “Eh, kok mas ngomongnya kayak gitu?”
Seonghyeon membantu Juhoon yang agak kesulitan untuk bangkit ketika pasangannya itu perlahan mengubah posisinya jadi duduk. Juhoon menghela napas panjang sambil memegangi perut besarnya yang terasa berat; tidak terasa bulan depan sudah mau lahiran saja.
Juhoon menunduk sedikit supaya mereka dapat saling berpandangan di wajah. Ia saksikan bagaimana Seonghyeon—yang masih berbaring itu—kelihatan sibuk memainkan jari-jarinya di atas perut Juhoon, mengharapkan balasan dari sang jabang bayi.
Sebuah senyum mengembang di wajah Juhoon, ia tangkup pipi Seonghyeon, kemudian ia elus-elus wajah suaminya itu—jemarinya mengitari janggut tipis Seonghyeon yang dicukur asal-asalan menggunakan silet yang sudah agak berkarat.
Jantung Juhoon berdegup kencang. Seonghyeon begitu tampan. Rasanya, Juhoon takkan pernah bosan menatap fitur wajah maskulin sang suami.
“Tapi aku ngerasa mas itu selalu berusaha yang terbaik buat aku—buat si dedek juga,” respons Juhoon, kemudian tersenyum ketika Seonghyeon meraih tangannya supaya jemari mereka berdua bertautan. “Mau gimana pun, kan yang terpenting mas itu selalu ada buat keluarga, dan aku percaya si dedek juga pasti mikir kayak gitu. Ya, dek, ya?"
Ketika Seonghyeon meletakkan tangannya di perut Juhoon untuk dielus-elus, kali itu sang jabang bayi menendang kecil perut Juhoon sebagai responsnya, seolah mengerti kalau Juhoon baru saja berbicara padanya.
Hal tersebut mengundang tawa gelitik dari Seonghyeon dan Juhoon. "Tuh kan, dedek juga ngedukung Ayah," ucap Juhoon dengan panggilan baru untuk Seonghyeon yang seketika menghangatkan hati sang suami.
Seonghyeon tersenyum meski agak kelihatan seperti sedang meringis. Tiada kata-kata yang dapat mengungkapkan seberapa besar cintanya Seonghyeon kepada keluarganya.
Pria tersebut meraih tangan Juhoon, kemudian ia kecupi jemari-jemari halus itu dengan penuh kelembutan. Tanpa sadar kedua matanya mulai berkaca-kaca ketika ia berkata, "Mas sayang banget sama kamu."
Semburat merah muda muncul ke permukaan pipi bulat Juhoon, ia menundukkan wajahnya sedikit ketika membalas ucapan itu dengan, "Aku juga … aku juga sayang sama mas." Sambil meremas-remas baju tidur lusuhnya untuk menutupi salah tingkah.
Malam itu diakhiri dengan Juhoon yang tertidur sambil memeluk sebuah guling. Guling itu merupakan sebuah boneka yang bentuknya sudah gepeng dan tipis hingga menyerupai bentuk guling, dibeli di Pasar Malam pada hari ulang tahun Juhoon. Motif Hello Kitty-nya bertabrakan dengan sprei mereka yang dihiasi logo bertuliskan "Gucci".
Bising dari kipas angin butut mengisi kamar mereka. Seonghyeon tahu kalau kipas anginnya dimatikan pasti hawa panas Ibu Kota akan menyesakkan kamar 2 petak itu, sedangkan kalau dibiarkan menyala semalaman, Juhoon bisa masuk angin.
Sehingga Seonghyeon mengambil dua helai sarung dari lemari, lalu ia selimuti tubuh Juhoon sampai menutupi lehernya.
Deru napas lembut yang terdengar dari Juhoon menandakan kalau tidurnya amat pulas. Keningnya mengernyit, bibirnya manyun sedikit, sepertinya sedang bermimpi. Juhoon kelihatan semakin menggemaskan seperti ini.
Seonghyeon membelai lembut kepala Juhoon, kemudian ia mendekat untuk melayangkan sebuah kecupan di dahi pasangannya itu. Malam itu, mereka pun tidur nyenyak dalam posisi saling berdempetan.
Rasanya seperti baru memejam mata lima menit ketika Seonghyeon mendengar suara halus yang memanggil namanya, diiringi kumandang ajakan beribadah dari rumah ibadah di RT sebelah.
"Mas, bangun …, udah subuh," Juhoon berbisik-bisik sambil mengelus-elus lengannya.
Ketika matanya dibuka, Seonghyeon langsung tersenyum simpul karena disambut wajah cantik Juhoon dengan pipi yang biasanya kelihatan lebih bulat di pagi buta begini. Seonghyeon tidak berkata apa-apa untuk beberapa saat, hanya menatap wajah Juhoon dengan tatapan mengantuk, sebelum akhirnya menarik manusia kesayangannya itu ke dalam pelukannya—dipeluk gemes.
Pada aksi tersebut, Juhoon merengek, minta dilepaskan dengan bergurau, "Lepasin, iiih …! Mas tuh bau belum mandi!"
"Ya, baguslah! Biar kita sama-sama bau," balas Seonghyeon tengil, kemudian pria itu menghujani wajah Juhoon dengan ciuman; mulai dari ciuman yang kecil sampai yang basah—dicium geregetan sehingga membuat Juhoon terkikik geli dalam dekapannya.
"Bilang dulu, 'aku sayang sama mas Seonghyeon paling ganteng sedunia'."
"Gak mau …!" respons Juhoon terdengar terbekap, wajahnya ditenggelamkan—didekap erat ke dada bidang sang suami. "Gantengan juga si James!" Maksudnya selebriti blasteran—pemain sinetron kejar tayang di RCTI yang Juhoon gemari.
Ketika Seonghyeon hendak membalas komentar Juhoon, terdengar ketukan dari dinding tripleks sebelah yang diikuti sebuah seruan, "Berisik woy!"
Ups, keasyikan bercanda, lupa kalau ini masih pagi buta.
"Sorry, bang!" Dan "Maaf, ya!" Diserukan bersamaan, kemudian hening ….
Tidak hening-hening amat sih, selain bising kipas angin mereka, terdengar juga orang grasah-grusuh dari dapur dan kamar mandi umum.
Seonghyeon dan Juhoon kini berhadapan dalam posisi masih berbaring. Seonghyeon tatap Juhoon lekat-lekat, tepat di wajah cantiknya. Pipinya yang merona membuatnya kian rupawan.
"Selamat pagi, sayang," bisik Seonghyeon dengan suara yang masih agak serak. Tangannya turun ke perut besar Juhoon, ia elus-elus kandungan besar itu. Buah hatinya. "Selamat pagi juga, dedek."
Saat Juhoon tiba-tiba mencium bibir Seonghyeon, sang suami membalas ciuman itu dengan memagut bibir bawah Juhoon dalam tempo lambat—mengisapnya begitu lembut nan mesra sampai tubuh keduanya memanas.
Kegiatan bercumbu itu harus diakhiri karena mas Seonghyeon hampir terlambat pergi bekerja. "Aku sayang sama mas …," ucap Juhoon dengan napas terengah, ia meremas lengan Seonghyeon, tidak ingin suaminya itu segera bangkit dari kasur.
"Mas juga sayang sama kamu," balas Seonghyeon, pria itu tersenyum simpul kemudian menangkup pipi Juhoon, dan mencium pelipisnya penuh kasih sayang.
Tidak henti-hentinya Seonghyeon dan Juhoon meminta rezeki lebih kepada Yang Maha Esa, tiada hentinya pula mereka bersyukur atas kehadiran satu sama lain yang saling melengkapi. Juhoon tidak berkata apa-apa untuk beberapa saat, ia hanya menatap sang suami dengan sebuah senyum kecil di wajahnya; masih tidak menyangka inilah keluarga kecilnya yang berbahagia. Juhoon amat bersyukur atas kehadiran mas Seonghyeon dan dedek bayi mereka.
