Work Text:
Dingin itu terasa menusuk. Kulitku mulai mengering, beberapa bagian terasa sangat perih. Untungnya, aku membawa losion tubuh. Pemberian dari kekasihku yang sudah lama tidak aku temui. Rasa rindu itu menyiksa, tetapi perbedaan waktu tak merestui. Aku pun mengolesnya di tanganku yang mulai kering.
Di hadapanku terdapat pemandangan cakrawala kota. Gedung-gedung tinggi dan lampunya yang berkilau. Aku mengangkat kamera yang melingkar di leherku dan menjepret satu foto. Teman perempuanku yang berada di sebelahku menawarkan satu kaleng minuman soda yang kemudian aku tolak.
“A lot of things on your mind right now?” tanyanya khawatir.
Aku menggeleng, memilih untuk melihat jembatan ikonik kota ini. Sudah pukul satu pagi. Di tempatnya sudah pukul lima sore. Waktu yang pas untuk meneleponnya, tetapi aku merasa tak enak. Lagi pula, ia pasti baru selesai dengan pekerjaannya. Aku tidak mau mengganggu kesibukannya. Daripada membuang waktu lebih banyak, aku memilih untuk kembali ke apartemen.
Aku dan temanku langsung berjalan ke halte Subway di York Street. Kami harus menaiki Kereta F. Dalam perjalanan itu, aku dan temanku banyak berbincang. Tak terasa bahwa sebentar lagi kami berdua akan lulus. Rasanya, baru kemarin aku sampai di kota ini.
Magang dan pekerjaan paruh waktu mempersiapkanku untuk masa depanku. Tinggal di kota di mana hiburan menjadi komoditas adalah kesempatan yang tidak ingin aku sia-siakan. Aku rasa ini dapat menjadi tempat di mana aku akan menghabiskan sisa hidupku.
Tak terasa, kami akhirnya sampai juga di stasiun tujuan. Asrama kami hanya tiga ratus meter dari sini. Aku pun bergegas ke sana. Sudah larut, dingin pula. Rasanya, ingin buru-buru memakai selimut dan tidur.
“Wanna hang out again tomorrow?” tanya temanku ketika kami sudah dekat.
“I’m afraid I can’t. I’ve got some work to do. I’ll let you know when I’m free though.”
Ia mengangguk mendengar itu. Ketika di dalam lift, ia memencet lantai lima sedangkan aku memencet lantai tiga. Kebetulan, kami memang tinggal di lantai yang berbeda. Sembari berpamitan, aku pun berkata, “See you when I see you, Gabe!”
Semua beban di pundakku seketika terasa lagi. Mencoba meredam semuanya dengan menghabiskan terlalu banyak waktu main-main tidak sehat. Aku hanya menambah kehampaan di asrama. Namun, aku harus melakukan apa yang dibutuhkan demi bertahan hidup.
Sesampainya di hadapan pintu, aku langsung membukanya dan masuk. Aku belum mengunjungi tempat ini semenjak siang kemarin, walau sudah gelap, aku tetap harus mandi. Itu pun yang aku lakukan. Semua bajuku dilepas dan aku menyalakan keran shower.
Ketika air itu menyentuh kepalaku, aku malah memikirkan temanku yang tadi. Aku mengingat kembali pertemuan kami. Waktu itu, aku sedang bersantai di Washington Square bersama beberapa teman yang aku kenal berkat kelas-kelas sejarah film. Kami sedang berbincang tentang film karena kami semua pretentious film bros ketika seseorang dengan pakaian paling “skena” yang pernah aku lihat menyapa anjing temanku.
Alih-alih menjadi brief encounter, kami malah lanjut berbincang tentang banyak hal. Ternyata, ia mengambil jurusan Teknologi Musik dan satu angkatan dengan kami. Kebetulan gedung utama kami berbeda sehingga aku baru pertama kali bertemu dengannya.
Dengan lancangnya, entitas bernama Gaby tersebut mengajakku untuk makan di kafe dekat taman. Kebetulan, jika dapat menunjukkan bahwa kami berdua merupakan murid kampus setempat, mereka akan memberikan diskon. Teman-temanku langsung menyorakiku dengan norak. Ya, ternyata bule atau tidak bule, sama saja. Kalau urusan seperti ini, hebohnya sama.
Aku merasa sangat outmogged—lupakan, aku benci kata itu. Menggunakannya membuatku merasa seperti kehilangan lima tahun dari hidupku. Intinya, ia terlihat sangat keren dengan rambut pendeknya, jorts dan outer putih. Sedangkan, aku terlihat seperti orang yang asal mengambil barang di lemari.
Perutku belum keroncongan sehingga aku hanya memesan satu pain au chocolat sedangkan ia memesan salad. Setelah membayar, kami bergeser sedikit untuk mengambil pesanan. Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengamankan meja yang ada di dekat konter tadi.
“So… Gaby, huh?” tanyaku ketika ia sudah duduk dengan sempurna.
“Yeah. And you are?” tanyanya balik.
Aku menyebut namaku lalu sambil tertawa canggung menambahkan, “You asked me out without even knowing my name?”
“Well, yeah. Is that bad?”
Aku menggeleng karena malas berargumentasi. Apakah ini salah? Sydney sudah gelap. Pacarku pasti sedang tertidur, sedangkan aku sedang sibuk berbincang dengan orang yang baru aku kenal.
“By the way, what kind of name is that? Never heard of it before.”
“To be honest, I don’t even know. I’m pretty sure I’m the only person to have that name. My dad saw a random ass flight attendant and decided to name me after her.”
Ia tertawa kencang setelah mendengar itu. Ada sesuatu tentangnya yang bercahaya. Ia lanjut bertanya, “So, where are you from? Shit, does that sound racist?”
Aku tertawa mendengarnya panik seperti itu. Tanpa berlama-lama, aku menjawab, “I’m from Denver.”
“Oh, that’s cool.”
Entah mengapa, wajah cengonya itu lucu. Mana ia percaya-percaya saja lagi. Persona se-Bogor ini dianggap dari Denver. Papa, Mama pasti tidak terima kalau tahu.
“I’m kidding, I’m from Indonesia.”
Matanya langsung membesar. “For real? I’m also from there!”
“Yeuh, kocak. Tau gitu nggak usah pake Bahasa Inggris ngobrolnya.”
Ia malah terlihat bingung setelah aku mengucapkan itu. Pasti bermain peran. Tak mungkin.
“Sorry, I don’t understand.”
“What do you mean, you don’t understand?” tanyaku sambil tertawa canggung.
“My parents never taught me Indonesian. They moved here many years ago. All I know is that I’m Mihanasan.”
“Minahasan?”
“Yeah, whatever it is. Sorry, I don’t really know much about that part of myself.”
Perbincangan tak jelas itu berujung ke pertukaran media sosial. Pembicaraannya mengalir begitu saja. Satu detik membicarakan kota, di detik lainnya sudah menanyakan kesiapan finals. Lucunya lagi, kami baru sadar bahwa tinggal di residence hall yang sama. Bedanya, Gaby di lantai lima sedangkan aku di lantai tiga.
Cukup tentang Gaby. Pikiranku sedang tidak enak. Aku rindu kekasihku. Ia pasti sedang sibuk bekerja. Sudah beberapa waktu ini, ia sulit dihubungi. Aku juga ingin berhenti bersifat kekanak.
Ada hal jauh lebih penting dibanding anak kuliahan yang tinggal hampir enam belas ribu kilometer jauhnya. Ditambah lagi perbedaan waktu empat belas jam memisahkan. Kapankah aku bisa meminjamnya dari kehidupannya yang sibuk? Apa aku harus menyusulnya?
Ah, semuanya membuat kepalaku makin pusing. Aku memutuskan untuk membaringkan badan di kasur dan memejamkan mata. Mungkin ini satu-satunya cara untuk terbebas dari kutukan kesadaran.
***
Beberapa hari berlalu semenjak malam itu bersama Gaby. Aku hanya mendapat sedikit sisipan informasi dari kekasihku. Informasinya juga tidak begitu penting. Ia bahkan sudah tidak pernah lagi menceritakan harinya. Mentok-mentok, membuat recap tentang pekerjaannya. Namun, semua itu apa guna? Aku bukan sekretarisnya.
Saat ini, aku masih berada di kereta. Aku baru pulang dari Queens. Selama ini, aku fokus mencari kegiatan sampingan di lapangan yang sesuai. Untuk menjadi seorang sineas yang sukses, aku harus memiliki jaringan yang luas. Salah satunya adalah dengan menjadi Production Assistant di proyek-proyek yang dikerjakan oleh alumni atau kenalanku. Itu yang baru saja aku lakukan.
Melamun dengan telinga yang disumbat oleh musik dari earphone, aku dikagetkan oleh sebuah panggilan. Pacarku? Untuk apa ia memanggilku?
“Hi, kamu gimana kabarnya di sana?” tanyanya ketika aku angkat.
“Baik-baik aja. Tumben kamu mau reach out duluan,” balasku sedikit ketus.
“Aku telepon baik-baik loh. Aku cuman mau minta maaf karena belakangan ini sibuk banget. Aku nggak tau kamu udah denger atau belum, tapi perusahaan yang aku handle tiba-tiba blunder parah. Akhirnya, kita yang mati-matian coba bersihin nama mereka.”
“Iya, aku ngerti, Cyn,” jawabku singkat.
“Kamu kenapa sih?” tanyanya lagi. “Aku curi-curi waktu pas makan siang demi kabarin kamu, tapi kok malah begini?”
“Kalau aku emang bukan prioritas kamu, kamu nggak usah maksain.”
“Loh, kok gitu sih, Gree?” jawabnya seperti orang terkejut.
“Aku capek nungguin kamu terus. Tiap hari, yang aku tunggu itu cuman notifikasi dari kamu. Aku kira aku udah jelas soal pengennya aku. Aku nggak peduli kamu kirim di jam empat pagi waktuku, aku cuman pengen tau kabar kamu.”
“Gree, aku udah jelasin, kan. This job is a big deal for me. Mereka tiket emas aku untuk finally bisa tinggalin negara kita for good. Aku nggak mau slacking. Pas aku udah tinggal cukup lama, aku bisa apply PR dan nggak usah ribet urusin visa lagi. Terus, ujungnya aku bisa jadi warganegara. Doain aja prosesnya lancar.”
Aku terdiam sejenak setelah mendengar jabarannya. Apa tidak ada aku lagi dalam rencana-rencananya? Permanent residency di Australia? Lalu bagaimana denganku? Sampai kapan kami akan melanjutkan hubungan jarak jauh ini?
“Gree? Hello?” ucapnya yang membuyarkan lamunanku.
“Udah nggak ada ruang lagi untuk aku di masa depanmu, ya, Cyn?” tanyaku putus asa.
“Nggak gitu, nggak gitu. Kita bakal cari cara, ya? Aku nggak mau lanjut tanpa kamu.”
“Tapi, kamu tau, kan, kalau mimpi aku itu untuk berkarir di sini?”
“I know, Baby, I know,” jawabnya begitu sabar. Amarahku yang hendak memuncak perlahan menurun. Aku tak tega menyakitinya. “Aku harus pergi abis ini. Take care, ya? Nanti aku bakal cari waktu as soon as possible.”
Belum sempat aku menjawab, teleponku sudah dimatikan. Aku paham dia sibuk, tetapi mengapa harus seperti ini? Aku merasa seperti meminjamnya dari kehidupannya, seperti aku harus memaksanya untuk mengingatku. Ah, aku harus berhenti berpikir sebelum semuanya lebih parah.
Pikiranku kosong selama sisa durasi perjalananku di kereta. Aku sampai asrama pada pukul sembilan kurang. Tubuhku sudah lelah sehingga aku bergegas ke kamarku. Tadinya, aku berencana menghangatkan makanan dari kemarin, tetapi mataku sudah terlalu berat.
Seperti biasa, aku bersih-bersih terlebih dahulu. Aku tidak pernah bisa tidur tanpa mengganti baju terlebih dahulu. Rasanya kotor dan aku tidak mau mengotori tempat aku menghabiskan separuh dari waktuku.
Saat aku keluar dari kamar mandi, terdengar ketukan di pintuku. Siapa lagi ini? Tidakkah mereka tahu pikiranku sedang kalut? Aku pun melihat melalui lobang dan menyadari bahwa tamu tak diundang kali ini adalah Gaby. Ia memang selalu datang tepat waktu.
“Hey, can I come in?” tanyanya.
“Wait let me dress up first,” balasku.
Aku memakai bajuku dan langsung membuka pintunya, mempersilakannya masuk. Ia menyelonong ke sofa dan duduk. Aku hanya bisa mengikutinya.
“I got us some Chinese food because I had a feeling that you’re gonna be hungry and sad,” ucapnya semangat.
Rezeki anak kos. Ada saja hal baik yang menghampiriku. Tidak usah susah-susah memanaskan makanan dan dibayarkan lagi. Nikmat apa yang engkau dustakan?
Aku melahap makanan itu dengan penuh nafsu. Makan siangku tidak tersentuh hari ini. Aku terlalu sibuk bepergian. Terlalu banyak hal yang harus diurus olehku.
Seperti insiden-insiden lainnya, Gaby menanyakan tentang apa yang baru terjadi. Raut wajahku tidak bisa menyembunyikannya ternyata. Terlalu banyak beban pikiranku. Akhir dari pembelajaranku sudah mulai terlihat. Proyek finalku pun sudah membayangi. Namun, aku masih dibuat pusing oleh pacarku yang sepertinya merasa bahwa ia sudah terlalu dewasa untukku.
“I’m so lost, Gabe.”
“You know what,” ujarnya dengan nada meyakinkan. “I have an idea.”
“What is it?”
“What if you just try not to care for a little while and see how it goes? You’ve been texting her a lot, right? Just try to immerse yourself with the city. Enjoy your life, man. Party, make friends, do fun shit for fuck’s sake. Don’t let her hold you back. If it’s meant to be it will be. If it isn’t it won’t.”
“But, I love her,” balasku belum setuju terhadap sarannya.
“Make her lose you. If it’s already toxic, might as well go all the way,” ungkapnya.
Apa ia mengatakan bahwa aku toxic? Aku hanya meminta sedikit dari pacarku. Masa iya itu dianggap toxic olehnya. Aku selalu berusaha pengertian.
“Are you accusing me now?” tanyaku emosional.
“Oh my God, sorry. I was referring to her. She clenches your thirst then deprives you until the point of near death before showing up again like a hero. That’s not nice.”
“I kinda don’t wanna do awful things to her,” ucapku masih ragu.
Gaby melihatku dengan tidak percaya. Ia seakan lelah mendengar racauanku. Ia lalu membuka mulut, “Dude, she didn’t even think twice to ignore you.”
“You’re right. I’ll do it. I’ll ignore her,” balasku dengan penuh tenaga.
“There you go,” ucapnya.
Setelah mengucapkan kalimat itu dan tersenyum,. ia mengangkat kaleng birnya dan mengajakku untuk bersulang. Aku mengangkat kaleng sodaku dan melakukannya. Kami minum setelah itu.
Bersamaan dengan itu, ponselku tiba-tiba berbunyi. Pesan dari perempuan yang tinggal di Sydney itu. Tanganku reflek membuka ponsel dan melihat apa yang dikirim. Ia mengirimku foto sedang di kantor. Aku langsung merasa tidak enak. Apalagi membaca caption-nya. Ia meminta maaf karena telah salah.
Aku menunjukkannya kepada Gaby, namun ia tetap memaksaku untuk tetap pada pendirianku. Ia berargumen bahwa pacarku hanya akan merasa bersalah untuk sekejap. Setelah situasi mendingin, ia akan kembali ke sifat biasanya. Aku setuju padanya. Ia memang suka begitu.
Dengan Chinese food yang menemani, aku dapat membuat dadaku lebih lega. Gaby baru pulang setelah makanannya habis. Aku memang beberapa kali hampir tertidur dengan makanan di mulut. Sangat memalukan. Ia menertawakanku dengan puas.
Aku tertidur dengan sangat lelap malam ini. Hampir saja tidak terbangun paginya. Untung saja esok hari Jumat. Kelas-kelasku tidak terlalu pagi.
***
Hari-hariku berlalu begitu saja. Tiba-tiba sudah menuju akhir semester saja. Kebetulan, berhubung adanya thanksgiving, kuliah diliburkan. Aku bisa jalan-jalan dengan bebas.
Aku memiliki janji dengan Gaby dan Dylan. Laki-laki yang akan menemani kami merupakan teman kuliahku dari hari pertama. Anehnya, ia merupakan teman masa kecil Gaby. Saat aku baru tahu, aku sedikit terkejut. Dunia ternyata sekecil itu.
Rencana hari ini adalah mengunjungi toko baju bekas di Brooklyn dan menonton Broadway di malam hari. Ya, walaupun kami mendapatkan kursi paling jauh, setidaknya aku sudah membeli binocular untuk kami semua.
Kami menaiki Kereta 6 dari dekat asrama dan transit ke Kereta L. Hanya butuh sekitar setengah jam untuk sampai di tokonya. Gaby sudah sering membeli baju di sini sehingga penjaganya sudah hafal. Kami pun berpencar untuk mencari barang yang kami incar.
Ditinggal sebentar, Gaby sudah menenteng dua kantong tas besar. Aku bahkan belum membeli apa-apa. Ia menghampiriku dan langsung membantuku. Tiba-tiba terdengar suara tawa laki-laki. Aku menoleh dan melihat Dylan sedang tertawa. Dasar.
Teman-temanku memang tidak ada yang benar. Tak ada satupun dari mereka yang mendukung hubunganku dengan pacarku. Mentang-mentang ia tinggal jauh, aku tak boleh bersamanya? Bahkan berbeda planet pun akan tetap aku jalani. Aku harus mencari teman yang baru.
Aku hanya membeli satu pakaian. Lagi pula aku sudah memiliki banyak di lemariku. Aku rasa tidak terlalu penting untuk menimbun pakaian. Toh, mereka semua masih bisa di-mix and match.
Di sisi lain, Gaby dan Dylan masih belum puas. Mereka mengajakku untuk pergi ke toko yang lain. Setelah berjalan selama tiga menit, kami sampai juga. Bingung hendak membeli apa, aku memilih untuk mengintil Gaby saja. Hitung-hitung mengobrol dengannya, walaupun kami melakukan itu hampir tiap hari.
Ia memilah baju dengan seksama. Memegang-megang teksturnya dan melihat harganya. Ketika harganya terlalu tinggi, matanya membelalak dan ia langsung melepaskan tangannya.
Aku tak bersuara selama ia berbelanja. Apa juga yang bisa dikata? Gaby sepertinya menyadari hal itu. Ia bertanya, “So… how are things with you and her?”
Aku terdiam sejenak, bingung harus menjawab apa. Ia belum mendapat kabarku sama sekali semenjak telepon itu di Kereta F. Pesan-pesan pun sudah berhenti ia kirim sejak dua minggu yang lalu. Aku paham atas keputusannya. Lama-lama ia lelah juga sepertinya. Sama sepertiku.
“Gree?”
Panggilan itu langsung menyadarkanku. Aku menjawab, “I haven’t been talking to her.”
“That’s good. But you really should get rid of that frown. You look ugly as hell.”
“Fuck off,” jawabku bercanda.
“Seriously though. You look freer, but sometimes, you look blue—”
Aku tertawa ketika ia menyebut kata blue. Lucu saja. Tidak seperti biasanya. Ia bukan tipe orang menggunakan kiasan dalam bicaranya.
“What?” tanyanya.
“Nothing. It’s just funny. Anyway, I don’t know. Maybe I should—”
“No. Don’t do it. You’ve made so much progress.”
“But, I miss her!” seruku. Sudah kecintaan, bodoh lagi. Siapa suruh jatuh cinta kepada kakak kelas yang beda dua tahun? Kelas sejarah sialan.
Gaby tidak lagi menanggapiku. Ia langsung pergi ke rak yang lain untuk mencari celana. Di tangannya sudah terdapat pakaian yang segera dia beli. Ia terlihat kewalahan, namun ketika aku menawarkan bantuan, ia malah menolak.
Aku memutuskan untuk menghampiri Dylan. Ia terlihat bingung, namun memilih untuk tidak berkata apa-apa. Mengetahui bahwa Dylan merupakan teman masa kecil Gaby, aku pun bertanya soal perilakunya. Bukannya membantu, Dylan malah mengatakan bahwa ia biasanya berlaku seperti itu ke orang yang ia suka. Apa yang harus aku lakukan terhadap informasi seperti ini?
Tak lama dari itu, Dylan memutuskan untuk membayar belanjaannya. Gaby membayar setelahnya. Kami masih memiliki banyak waktu sebelum pertunjukkan Broadway sehingga kami memutuskan untuk singgah sebentar di salah satu dari banyaknya taman di kota.
Kebetulan, satu mil dari toko yang kami kunjungi, terdapat taman yang cukup besar. Ada area pikniknya juga. Dengan kantong Doraemon yang Dylan miliki, kami bertiga pasti nyaman-nyaman saja berteduh sebentar.
Perjalanan ke taman tidak menarik. Bayangkan saja sekelompok teman seperti apa. Itu yang kami jalani. Tiba-tiba saja, tikar sudah digelar dan kami sudah duduk di atasnya.
Dylan membawa beberapa makanan ringan. Ia sudah memprediksi bahwa kami akan mendapat waktu istirahat di antara berbelanja dan Broadway. Dylan pun mulai berbicara tentang produksi di mana ia menjadi PA. Ia memang selalu mendapatkan film-film arthouse. Sebelum proyek yang ini, ia mendapat proyek tentang film yang hanya memiliki satu latar. Sekarang, proyek yang ia kerjakan membahas hidup dan matinya seorang penipu fiktif. Ada-ada saja.
Di sisi yang lain, Gaby menjelaskan tentang pengalamannya magang di dapur rekaman. Ia menceritakan tentang seorang produser yang memiliki pendekatan paling aneh dalam membuat musik. Anehnya, semua sampel yang ia jual selalu laku. Gaby mulai berpikir untuk melakukan hal aneh juga.
Aku merasa aneh di sini. Tak ada hal yang menarik untuk diceritakan. Magangku tak menarik. Proyekku juga. Selama tak berhubungan dengan pacarku, aku merasa seperti hidupku hambar. Ia yang telah memberi warna, pergi juga dengan warna-warna itu.
Semuanya seperti semula. Aku merasa seperti menjadi orang ketiga dalam hidupku lagi. Apa benar ini semua karena ketidakhadirannya dalam hidupku? Mungkin ini semua stres dari hari kelulusan yang mulai mendekat.
Sekarang, aku hanya fokus mendengarkan mereka saja. Namun, saat ada notifikasi dari ponsel, aku langsung membukanya. Pacarku mengunggah sesuatu. Keren. Temannya dari Indonesia menyusulnya dan ia menjadi pemandu wisata dadakan. Tanpaku ia biasa saja?
Rasanya, ingin sekali aku memberinya pesan. Ingin sekali aku meneleponnya, tetapi jemariku terasa berat. Aku akan kalah jika melakukan itu. Pendirianku akan runtuh.
“Still thinking about your girl?” tanya Dylan tiba-tiba. Lamunanku langsung buyar.
“Ye—no, I mean no.”
“You don’t have to lie,” timbrung Gaby sambil tertawa. “We don’t mind if you still think about her. But just remember what she did.”
“Gabe, you don’t know just how much love was shared between us. Please don’t act as if you know the full story,” balasku agak teragitasi.
Gaby menunduk sebentar sebelum menjawab, “You’re right, I don’t know. How would I know if you never tell me?”
“Stop acting as if you’re the victim. You pulled me away from her. I still love her, Gabe. I don’t know what else I should do to show you how much I still love her. You say that I’m different, like I’m not living, right? Maybe, you’re right. It’s not living if it’s not with her,” balasku panjang lebar dengan hidung yang mulai perih dan mata yang berair.
“Who was there for—”
Dylan tiba-tiba menyela argumen kami. Ia sepertinya tidak mau terperangkap dalam peperangan. Ia berkata, “Guys, can we not… We still have that broadway show, remember?”
Aku hanya mengangguk tanpa ingin mengeluarkan suara. Aku benci sekali ketika Gaby sudah bersikap sotoy seperti tadi. Ia memang pendengar dan pemberi saran yang baik, namun terkadang ia terlalu memaksa. Apa benar kata orang-orang? Ia menyukaiku?
Mana masih ada sekitar dua jam lagi sebelum kami ingin berjalan ke kereta. Aku memutuskan untuk memasang earphone dan mendengarkan musik. Terkadang, aku hanya butuh rehat sejenak. Berhenti memedulikan dunia di sekitarku, menenggelamkan diri dalam pikiranku sendiri.
Gaby dan Dylan sedang berbicara, tapi aku tak bisa mendengar mereka. Aku rasa Dylan takut aku tiba-tiba memutuskan untuk pulang ke asrama. Tak tahu saja. Sebagai orang Indonesia, aku akan membuat setiap dolar bermakna. Tak peduli harus berurusan dengan Gaby yang terkadang menyesakkan.
Aku ingin sekali menelepon pacarku. Di tempatnya, baru pukul tujuh pagi. Sudah lama ia tak mengabariku. Aku tidak tahu jika ia sudah bangun atau belum. Ah, persetan dengan jadwalnya. Aku sudah rindu berat.
Aku pun menjauh dari Gaby dan Dylan, mencari tempat yang tidak terdengar oleh mereka. Tempat itu aku temukan di belakang pohon, beberapa kaki dari mereka. Layaknya orang kecanduan, aku grasah-grusuh mencari kontaknya. Ketika melihat foto profilnya, aku langsung menekan tombol telepon tanpa basa-basi.
Angkat dong. Angkat. Tolong.
Benar saja, ia mengangkatnya. Dengan suara khas orang baru bangun tidur, ia bertanya, “Ada apa, Gree?”
Aku merasa bersalah mendengarnya seperti itu. Tidak ada tanda-tanda kemarahan sama sekali. Padahal, aku sangat pantas untuk dihina-hina. Aku menghilang seakan kami tak ada hubungan. Dengan sengaja juga, aku tak mengacuhkannya.
“Aku kangen,” ucapku singkat, padat, dan jelas.
“Aku juga… Kamu ke mana aja? Sibuk?” tanyanya lembut.
Deg. Aku tak tahu harus menjawab apa. Apa aku harus jujur dan mengatakan ini dari saran Gaby? Apa aku harus berbohong dan mengatakan bahwa aku sangat sibuk belakangan ini? Pada akhirnya, aku memilih untuk jujur. Apa arti sebuah hubungan jika tak ada kejujuran di dalamnya?
Aku membuat pengakuan itu dengan suara tercekat. Tangisanku hendak keluar. Aku telah menyakiti orang yang paling aku cintai di dunia ini dan dalam prosesnya, aku juga menyakiti diri sendiri. Semua ini untuk apa? Untuk Gaby yang bahkan tidak punya nyali untuk mengatakan isi hatinya?
“Udah, nggak usah nangis. Aku maafin kok. Selama kamu masih mau ada dalam hubungan ini, aku bakal terus usaha. Aku minta maaf karena jarang ngabarin. Nggak ada alasan yang pantas aku pakai sebenarnya. Kasih aku kesempatan, okay?” jelasnya panjang lebar setelah mendengar pengakuanku.
“Aku goblok, Cyn. I don’t want to lose you.”
“I’m still here. Everything’s gonna be fine. Nanti, kalau ada kesempatan, aku janji bakal temuin kamu di sana. Kamu sabar aja. Jangan nangis karena aku lagi, ya?”
Apa yang telah aku lakukan untuk pantas mendapatkan pasangan sepertinya. Aku hanyalah anak rewel. Ia yang selalu pengertian. Bahkan, aku merasa aku tak pantas mendapatkannya.
“Aku mau kita buat perjanjian,” ungkapku spontan.
“Perjanjian apa?” tanyanya.
“Kita harus bikin satu hari dalam seminggu di mana kita video call. Aku nggak mau terima sibuk sebagai alasan lagi,” jelasku.
Ia tertawa renyah mendengar itu. Entah karena permintaannya aneh atau ia merasa bahwa aku terlalu menuntut. Aku senang mendengar tawanya lagi. Rasanya, aku telah kehilangan banyak darinya sejak lama.
“Hari Minggu, gimana? Aku bisa telepon kamu setiap Minggu malam. Minggu malamku itu minggu pagimu, kan? Aku telepon tiap jam sepuluh, gimana?”
“Boleh, boleh. Yang penting kita bisa komunikasi terus.”
“Aku tutup dulu, ya, Sayang. Ngantuk, aku mau tidur lagi,” tutupnya.
“Okay, love you,” balasku.
“Love you too.”
Setelah telepon singkat itu aku kembali menemui Gaby dan Dylan. Mereka sedang sibuk memakan kudapan yang Dylan bawa. Aku hanya terdiam saja, kesal kepada mereka berdua. Tetapi, sekesal-kesalnya aku, kami masih memiliki pertunjukan teater itu.
Satu setengah jam berlalu begitu saja. Sudah tiba waktunya untuk menaiki Subway lagi. Kami akan naik Kereta L dan transit ke Kereta E. Perjalanan ini jauh lebih hening dari sebelumnya. Dylan sepertinya tidak enak ketika ingin berbincang dengan Gaby.
Dalam perjalanan kaki dan perjalanan kereta, tak ada hal penting yang dapat aku ceritakan. Aku lebih banyak menggunakan ponsel untuk mengecek media sosial. Suasana hatiku sedang tidak enak.
Waktu yang dihabiskan hanya setengah jam, setelah itu kami bertiga mengantri di depan teater. Ada pengecekan security. Setelah kami lolos dari pengamanan, kami langsung menuju ke lantai paling atas. Seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, kami memilih tempat duduk paling atas karena paling murah.
Sambil menunggu acaranya mulai, Dylan mengajakku untuk berfoto bersama. Aku mengiakan meskipun ada yang mengganjal. Dengan senyuman yang terpaksa, foto itu akhirnya diambil juga.
“Gree, I’m sorry,” ucap Gaby tiba-tiba. “Please forgive me.”
Mendengarnya mengatakan itu malah membuatku tertawa. Dylan yang melihatku jadi ikut tertawa. Dramatis sekali laganya. Orang itu memang sangat aneh.
“Guys, can you please give me a break,” balasnya bercanda sambil memutar matanya.
“It’s all cool, Gabe. Just don’t mention it again.”
Gaby mengangguk mendengar itu. Kami lanjut menunggu pertunjukan hingga akhirnya lampu dipadamkan. Drama ini diawali oleh monolog dari karakter utama.
Ya, intinya drama yang baru saja aku tonton merupakan drama yang keren. Aku tidak bisa merangkum setiap adegan yang ada. Yang ada, aku akan yapping seperti: “Ini pacaran anak muda, tapi diambil secara sederhana dan pas, tidak berlebihan. Ini yang menyebabkan masyarakat semuanya menjadi ingin nonton. Semuanya jadi kaget dan menjadi booming. Ini sudah lebih dari 7 juta, kan?”
Kami keluar belakangan. Kalau terburu-buru, nanti kami akan berdesakan di tangga. Lagi pula, tak ada salahnya menunggu keramaian menjadi sedikit lebih sepi?
Saat sudah berada di luar gedung teater, tiba-tiba Dylan mengatakan bahwa ia ingin sekali buang air kecil. Sialan, tadi padahal bisa di gedung teater. Akhirnya, ia memutuskan untuk datang ke kafe dekat sini—eh, atau itu modusnya saja untuk pergi ke kafe tersebut. Entah.
Kepergian Dylan menyisakan aku dan Gaby di luar. Dylan mengatakan bahwa ia tak akan lama sehingga aku dan Gaby memutuskan untuk menunggu di luar. Beramai-ramai di satu kafe kecil tidak terasa enak.
Aku hanya diam-diaman saja dengannya. Sepertinya rasa bersalahnya masih sangat besar. Saat sedang terdiam, tiba-tiba ia menarikku ke gang dekat sini. Aduh, apa-apaan lagi ini?
“Gree, I really gotta say something to you,” ucapnya dengan kesan bahwa hal yang harus ia katakan sangatlah urgen.
“What is it?”
“Aku suka kamu,” ucapnya percaya diri. Aksennya khas penutur bahasa asing.
Aku yang mendengar itu langsung merasa bahwa dunia berhenti berputar. Baru saja aku berpikir bahwa ia merupakan pengecut karena tidak pernah mengatakannya kepadaku. Nyatanya, ia hanya menunggu waktu?
“You’re joking, right?” tanyaku tidak percaya.
“I’m serious. I even asked my mom to teach me Bahasa,” jelasnya.
Semuanya makin jernih sekarang. Ia memang perhatian karena menyimpan rasa. Bukankah aku sudah jelas tentang hubunganku dengan pacarku? Apanya yang ia tidak pahami?
“Why?”
“This is really corny, but I fell at first sight.”
Aku menggeleng-gelengkan kepala. Tidak mungkin. Aku merasa seperti telah berselingkuh. “I have a girlfriend, Gabe.”
Ia mengangguk kencang, “I know. You keep on yapping about her.”
“Are you hearing yourself?” tanyaku dengan nada sedikit takut.
“I am. I’ve kept this feeling for so long, Gree. You’re gonna spend the rest of your life here and she’s not gonna be there for you, so why don’t you take a chance with me.”
“I can’t!” sahutku keras.
“Why?”
“I have loved her, longer than I’ve known you.”
“If you need time, you do know I could give it to you, right? Let’s just do this,” paksanya.
“You’re scaring me. I already said that I won’t.”
“Are you sure that you don’t even have an ounce of feeling for me? After all that we’ve been through? Are you sure that you don’t like me a bit?”
“Fuck off, Gabe!” seruku lalu mendorongnya ke bawah. Bersamaan dengan itu, Dylan keluar dari toko dan melihat kami dengan terkejut. Aku tidak bisa lebih masa bodoh dari ini.
Dengan Gaby yang terjatuh di lantai, aku membalikan badan. Aku tak peduli lagi padanya. Apa aku yang salah karena membiarkannya terlalu dekat? Aku hanya butuh seseorang saja, ya Tuhan.
Aku berlari ke stasiun di dekat toko M&M. Air mata bercucuran. Aku tak tahan lagi. Mengapa ini semua harus terjadi kepadaku?
Saat sedang berusaha untuk tidak terlihat lemah, tiba-tiba ponselku berdering. Syukur. Pacarku menelepon.
“Gree, kamu tuh apa-apaan sih?” tanyanya tanpa basa-basi.
“Maksud kamu apa?” tanyaku balik. Suaraku masih sedikit tersendat. Sulit sekali untuk mengontrol tangisan dan tenggorokan.
“Liat story-nya Dylan,” tegasnya.
“Kamu mutu—”
“Liat aja.”
Aku langsung mengecilkan aplikasi telepon dan membuka Instagram. Benar saja, ada dua story baru. Yang pertama adalah foto yang kami ambil di awal dan yang kedua adalah foto Gaby yang sudah jatuh. Tulisan yang menyertainya adalah: before and after.
Masalahnya adalah story kedua Dylan. Ia membuat wawancara ala-ala, menanyakan Gaby tentang pengakuannya yang berakhir dengan bokong mengenai lantai. Yang sekiranya membuat pacarku marah adalah fakta bahwa Gaby menjelaskan bahwa ia menyukaiku.
Kekasihku pasti berpikir bahwa aku membiarkannya terlalu dekat. Memang salahku. Seharusnya, sebagai pasangan yang baik, aku membuat jarak antara aku dan teman-teman. Aku benci diri sendiri. Kalau sudah begini, apa lagi yang dapat aku lakukan.
“Cyn, aku minta maaf. Aku salah.”
“Jadi, selama ini kamu insecure soal aku tuh gara-gara dia? Kamu takut aku bakal ngelakuin hal yang sama kayak kamu? Aku nggak serendah itu, Gree. Aku tau bedanya mana yang pantes buat temen dan nggak.”
“Cyn….”
“Aku selalu berusaha ngertiin kamu, Gree. Aku ngerti kok pergolakan kamu. Aku juga pernah di posisi kamu, tapi kalau kayak gini, aku jadi mikir: apa hubungan ini masih pas buat kamu?” jelasnya panjang lebar dengan suara seperti menahan tangis. “Aku nggak bisa kasih kamu kepastian, Gree. Semaksa apa pun itu, aku nggak bisa janji kalau aku bisa netap di sana sama kamu. Aku juga nggak mau narik kamu ke sini. Kalau emang kamu ngerasa kita udah nggak mungkin lagi, mending kita akhiri.”
“Nggak, Cyn. Aku nggak mau.”
“Terus kamu maunya apa, Gree?” tanyanya putus asa.
“Aku masih sayang sama kamu, Cyn. Aku juga yakin kalau kamu sayang sama aku. Jangan tinggalin aku.”
“Kita kayaknya bakal saling nyakitin deh kalau dilanjutin. Mungkin kita cuman butuh waktu sendiri buat nyari apa yang bener-bener kita cari di hidup ini. Kita berdua, kan, udah bareng-bareng dari SMA, kayaknya kita butuh waktu untuk mengenal diri sendiri lebih banyak. Kalau waktunya tiba, aku janji bakal balik ke kamu lagi.”
“Aku nggak mau break, Cyn. Nggak mau.”
“Don’t make it harder than it already is, Gree. Aku sayang sama kamu dan aku rasa itu satu-satunya hal yang nggak bakal berubah, tapi aku juga nggak tahan ngeliat kita sama-sama sakit kayak gini. Mungkin perbedaan waktu ini pertanda kalau kita harus rehat sejenak. I love you, Gree. See you when I see you,” tutupnya.
Sebelum aku sempat menjawabnya, ia sudah terlebih dulu mematikan telepon. Aku mengirimnya pesan, tetapi hanya dibaca. Gaby sialan, sekarang semuanya rusak.
Sesampainya aku di asrama, aku langsung membuka baju dan mandi. Mungkin air dingin ini dapat menjernihkan pikiranku. Salah. Aku masih sedih. Ya, setidaknya air dari shower dapat menyamarkan air mataku.
Mengapa aku ceroboh sekali? Sekarang, aku tidak memiliki siapa-siapa. Ingin marah ke Gaby pun tidak bisa. Aku merasa sudah keterlaluan mendorongnya.
***
Hampir setahun berlalu semenjak kejadian itu di depan teater. Aku tidak tahu aku masih punya pacar atau tidak. Yang pasti, tidak pernah ada kata putus di antara kamu. Sejak hari itu, ia tidak pernah menghubungiku lagi.
Aku dan Gaby masih berteman. Kami tidak sedekat dulu, tetapi ia masih sering mencoba menghiburku. Aku rasa ia berhenti berharap padaku. Buktinya, ia memacari perempuan dari fakultas hukum. Mereka jauh lebih cocok. Sama-sama warga lokal dan tidak tertahan masa lalu.
Hari ini bertepatan dengan wisudaku. Bahkan, aku sekarang berada di tengah-tengah wisudawan lainnya. Untungnya, soal pekerjaan sudah aman sehingga aku dapat lulus dengan kepala yang tenang. Lagi pula, wisuda di sini tidak seperti wisuda di negara asalku. Berhubung muridnya terlalu banyak, kami tidak dipanggil satu per satu untuk naik ke atas, kami datang keroyokan di atas panggung berdasarkan jurusan. Setelah itu, kami duduk dan mendengarkan pidato serta menyaksikan pertunjukan dari wisudawan lain.
Aku sudah melakukan perjalanan singkat di atas panggung itu sehingga aku hanya perlu menunggu seremoni ini selesai. Orang tuaku dan Abang pasti tidak sabar acara ini selesai. Kami sudah lama sekali menunggu.
Akhir itu pun tiba juga. Kami semua keluar dari aula secara bertahap. Kebetulan venue-nya terletak di dekat Rockefeller Center dan terdapat kedai ramen yang biasa aku kunjungi. Lokasinya berada di W 48th Street. Tidak perlu waktu lama untuk berjalan kaki ke sana, palign sekitar lima menit saja.
Setelah mengembalikan gaunnya di tempat yang tersedia, aku bertemu orang tuaku yang menunggu tidak tepat di depan pintu keluar. Kami memilih suatu kafe karena kondisinya terlalu ramai. Aku muak melihat orang. Pada akhirnya, kami mampu berkumpul juga.
“Akhirnya lulus juga kamu,” ucap Mama.
Aku tersenyum pada Mama. Abang hanya duduk sambil meminum kopi. Papa sibuk menelepon entah siapa. Di saat seperti ini, aku berharap dapat bertemu dengan kekasihku lagi. Ia seharusnya menjadi orang pertama yang memelukku. Nyatanya, kami sudah lama tak berbicara.
Setelah Abang menyelesaikan kopinya, kami beranjak ke tempat ramen. Abang tiba-tiba berbicara, “Belum ada yang baru nih, Dik?”
“Sembarangan!” tepisku cepat. Aku tahu ia hanya menggodaku. Abang adalah orang yang melihatku seperti orang gila ketika mendekati pacar—eh, masih bisa disebut pacar tidak, ya?
“Gaby gimana, Dik?” tanyanya lagi.
“Kurang asem. Semua aja, Bang, keluarin. Mending aku lah, daripada Abang yang jomblo karatan.”
“Dih.”
“Aduh, ini dua nggak pernah ketemu, sekalinya ketemu malah berantem gini,” ucap Mama tiba-tiba. Aku tertawa sedikit mendengar itu.
Sudah sangat lama semenjak aku merasakan kehangatan keluarga. Beberapa tahun ini, mereka mengunjungiku bisa dihitung jari. Aku juga malas balik ke Indonesia karena penerbangannya menyiksa. Mau naik kelas bisnis pun penerbangan empat belas jam ditambah delapan jam dan transit sangatlah membosankan.
Sebentar lagi, aku akan sampai di tempat makan yang ditunggu-tunggu itu. Aku hanya harus menaiki tangga ini. Tiba-tiba saja, Mama menyerobot ke depanku. Aku terbingung, tetapi mungkin ia ingin memastikan reservasinya.
Mama berbicara dengan pelayannya pelan-pelan. Aku tak dapat mendengarnya. Di belakangku, aku dapat mendengar Papa dan Abang tertawa. Mereka pasti ada main ini.
Saat kami berempat sudah sepenuhnya masuk, alangkah terkejutnya diriku ketika melihat figur yang sudah aku rindukan selama setahun lamanya. Bisa-bisanya ia datang tanpa memberitahuku. Tak memedulikan kondisi restoran yang ramai, aku langsung memeluknya.
“Aku kira kamu nggak bakal datang,” ucapku tepat di telinganya.
“Nggak mungkin lah aku nggak datang.”
“Kok kamu bisa ke sini?” tanyaku.
“Aku ngomong ke Mama. Aku minta maaf buat selama ini. Aku harusnya—”
Belum sempat ia melanjutkan, aku mempererat pelukanku. “Nanti aja jelasinnya. Aku mau puas-puasin dulu.”
Kami pun duduk berlima. Kekasihku sudah lebih dulu memesan Sushi platter, tetapi belum memesan makanan berat sehingga pelayannya datang ke kami. Aku memesan pesanan biasaku dan menyarankan orang tuaku untuk memesan hal yang sama. Mereka pun melakukan hal itu.
“Jadi, 5 Shoyu Ramen, ya?” tanyanya memastikan.
“Iya, makasih, ya,” jawab Mama.
“Sama-sama, Bu!”
Kebetulan pelayan kedai ini merupakan orang Indonesia. Bahkan pemilik kedai ramen ini juga keturunan Indonesia. Bedanya, pemilik kedai tumbuh dan besar di New York sedangkan yang baru saja melayani kami berimigrasi ke Amerika belasan tahun yang lalu.
“Kamu di sini suka kangen makanan Indo nggak, sih?” tanya pacarku tiba-tiba.
“Pertanyaannya basic banget, ya?” tanyaku balik. “Kamu sendiri kangen nggak sama makanan Indo di Sydney?”
“Kan, kalau di Australia mah udah banyak diasporanya, Gree.”
“Di sini juga banyak. Buktinya tiga blok dari sini ada tempat makan Indonesia,” balasku tak mau kalah.
“Di Sydney yang deket aja cuman ada seratus ribu, Gree. Masa iya, di sini segituan juga. Lagian satu tempat makan nggak ngebuktiin diasporanya banyak lah, kocak.”
“Bisa aja,” balasku tetap pada pendirian ngotot itu.
“Ngawur,” balasnya.
“Ini mereka emang gini terus kah, Bang,” tanya Papa tiba-tiba.
“Iya, Pa. Abang aja bingung kenapa Cynthia mau sama Adik.”
“Dasar!”
“Tapi, kamu nggak kayak orang yang abis dighosting setahun loh, Gree.”
“Masih aja,” balasku sambil memutar bola mata.
Pertukaran senda gurau itu menjadi awal dari perbincangan yang lebih ramai. Aku sudah lama tidak melihatnya dalam wujud asli. Rasanya seperti khayalan.
Aku tahu pasti banyak orang yang mengatakan bahwa aku bodoh karena menerimanya lagi, tetapi aku memang salah. Aku menuntut terlalu banyak dari orang yang sedang mencoba menata hidupnya. Kami berdua masih muda, masih ada banyak ruang untuk tumbuh. Kalau kami berdua bersedia, apa masalahnya? Toh, kami sudah sama-sama dewasa dan tahu apa akibat dari melanjutkan hubungan ini.
Memiliki keluargaku yang sekarang membuatku bersyukur. Aku senang bisa menghabiskan waktu dengan mereka serta pacarku tanpa harus sembunyi-sembunyi. Prosesnya tidak instan, namun melihat orang tuaku berdamai dengan memiliki anak perempuan yang tidak akan memberi mereka menantu laki-laki menghangatkan hatiku. Setidaknya, aku tidak perlu sembunyi-sembunyi. Ada banyak orang yang tidak seberuntung aku.
Makanan itu akhirnya datang dan kami menyantapnya bersama. Aku terus melihat pacarku, mendapatkan mengalihkan pandanganku sulit. Ia beberapa kali melihatku dengan aneh, seakan bertanya mengapa aku tidak bisa memindahkan mataku. Andai ia tahu betapa terpesonanya diriku.
Tidak ada yang menarik untuk diceritakan dari perbincangan selama makan siang. Kami hanya mengobrol tentang keseharian saja, mencoba untuk membarukan informasi yang kami tahu dari satu sama lain.
Setelah sesi makan-makan itu berakhir, kami memilih untuk berpisah. Papa, Mama, dan Abang memutuskan untuk berjalan-jalan melihat kota sedangkan aku akan menghabiskan waktu dengan Mbak Pacar. Sampai sekarang pun rasanya masih seperti mimpi.
Sesudah membayar dan keluar dari gedung kedai ramen itu terletak, aku berpisah dengan orang tuaku. Mereka masih mau belanja sedangkan aku memilih untuk mengajak Cynthia ke daerah ‘pantai’ dekat Brooklyn Bridge. Ia harus merasakan melamun sambil memandang jembatan itu juga.
Stasiun keretanya tidak terlalu jauh dari tempat kami makan. Kami hanya perlu berjalan ke arah Barat dan menyeberang jalan. Ada suatu hal yang membuatku tersenyum. Cynthia menggenggam tanganku erat ketika menyeberang. Aku jadi sadar betapa besar perasaanku untuknya yang tersisa.
“Kamu nginep di mana, Cyn?” tanyaku sembari menuruni tangga ke kereta bawah tanah bersama Cynthia.
“Hotel random deket Empire State. Stafnya ramah-ramah cuman dindingnya tipis banget. Kamar sebelah yang diisi bocah-bocah jadi kedengeran.”
“Bocah?” tanyaku sambil menempelkan ponsel ke scanner-nya.
“Iya, bocah. Bocah study tour kali. Nggak tau lah, mereka ngomong pake Bahasa Portugis,” balasnya sembari mengikutiku di sebelah.
Kami sudah menunggu di peron stasiun. Sengaja agak jauh dari pinggir karena pernah ada beberapa kasus orang didorong. Ya, aku tidak pernah melihatnya dan rada tidak percaya, tetapi lebih baik hati-hati. Apalagi ketika datang bersama pacar. Aduh, kalau dipikir-pikir, aku langsung senyum-senyum sendiri.
“Malam ini, kamu balik ke hotel?” tanyaku lagi.
Belum sempat ia menjawab, suara kencang kereta menginterupsi. Kami berdua pun memilih fokus menunggu kereta itu sepenuhnya berhenti. Orang-orang di sini bsia lebih agresif. Nanti kami tidak kebagian.
Entah mengapa hari ini ramai sekali. Padahal sekarang belum peak hour, tetapi isi kereta sudah sangat penuh. Aku pun berdempetan dengan Cynthia, memegang tiang yang sama.
Ia tiba-tiba tertawa yang membuatku bertanya kenapa. Jawabannya adalah, “Kita kayak lagi di film Past Lives, ya?”
Tidak! Film paling horor yang pernah aku tonton. Aku tidak mau kisahku berakhir seperti mereka. Aduh, mana latarnya sama-sama New York lagi.
“Jangan lah, Cyn. Nanti kita ikutan HaesungNora FailMarriage.”
“Kamu pernah ngebayangin nggak sih karakter favorit film kamu yang selalu kamu sebut-sebut tiap ngobrol itu dulu pernah kayak kita gini.”
“Jangan bawa-bawa orang tua fiktif aku yang udah cerai,” balasku dengan nada pura-pura ingin nangis.
“Kamu stres banget sih. Suka itu film dari umur tiga belas sampe sekarang udah dua puluh dua tahun. Gila. Konsisten,” ucapnya.
Pembahasan macam apa sih ini sebenarnya. Anehnya, ketika bersamanya, aku seketika lupa atas semua dendam yang aku simpan. Aku hanya ingin berlama-lama dengannya, lupa dibuat gila setengah mati karena tidak ada kontak.
“Malam ini kamu nginep di mana?”
“Dih, mesumnya.”
“Lah, kamu yang mulai.”
“Tergantung sih. Kalau kamu mau aku temenin kamu, ya, nggak apa-apa, tapi aku harus ambil baju dulu di hotel.”
“Kamu nggak sayang sama uangnya? Udah pesen hotel, tapi nggak ditempatin?”
“Nggak lah. Uang bisa dicari, waktu sama kamu kapan lagi.”
Aku tersenyum malu mendengar itu. Selama ini kami hanya mengalami terlalu banyak miskomunikasi. Kami sama-sama lelah ketika berbincang. Perbedaan waktu dan komunikasi tidak langsung memang memperkeruh arti.
Dua puluh menit berlalu begitu saja. Kami berdua sudah sampai di Stasiun York Street. Dari sini, jaraknya hanya sekitar empat mil. Perjalanannya akan memakan waktu sekurangnya sembilan menit.
Aku senang hidup di sini. Tak ada yang peduli ketika melihatku menggenggam tangannya. Tak ada yang peduli jika kami berciuman sekalipun. Suatu hal yang tidak pernah aku rasakan ketika aku masih di negara asalku dulu.
“Gree,” panggilnya tiba-tiba, mendisrupsi jalan pikiranku.
“Kenapa?”
“Aku minta maaf soal setahun belakangan. Sebenernya—”
“Kita bahas pas udah sampe aja, ya?” potongku tak mau mendengar penjelasannya. Aku tidak mau kisahku berakhir seperti film yang bertajuk Past Lives. Saking takutnya, aku berubah menjadi Windah.
Dari tempat ia bertanya memanggil namaku hingga sampai di tempat tongkronganku, hanya ada lima menit. Itu juga dilalui dengan sedikit keheningan. Tapi, tak apa. Sunyi tidak selalu buruk, sama seperti halnya keramaian yang tidak selalu baik.
Ada tempat yang cocok untuk diduduki di sini. Keadaannya sedang sepi. Wajar saja, hari ini hari kerja. Pacarku menyenderkan kepalanya ke bahuku dan aku memainkan jemari tangannya. Entah mengapa, aku tidak ingin melakukan konfrontasi terhadap masalah di antara kami. Perasaanku tidak enak.
Dipikir-pikir, cepat atau lambat, kebenaran akan datang. Lebih baik bertemunya sekarang daripada menunda-nunda. Aku pun memberanikan diri untuk bertanya, “Kamu mau ngomong apa tadi?”
Ia langsung menegakkan badannya, berhenti menyender di pundakku. Ia menjawab, “Aku minta maaf soal setahun ini. Sebenernya, aku awalnya takut kamu udah benci aku. Atau lebih parah lagi, kamu udah sama Gaby. Pas aku tanya Mama kamu, dia bilang kamu belum ada siapa-siapa. Aku cuman—”
Aku tak tahan melihatnya. Dari tadi, aku ingin sekali mencuri bibirnya. Sialnya, aku bersama keluarga—mungkin, situasi itu merupakan ‘untungnya’ untuk Cynthia. Entah. Intinya, aku memilih untuk melakukan kata hatiku.
Curian itu tidak berlangsung lama. Rasanya seperti jutaan kembang api menyala secara bersamaan. Aku sudah lupa rasanya memiliki jantung yang ingin keluar dari kekangan rusuk-rusuk. Eh, dipikir-pikir seram juga. Aku tidak mau itu terjadi.
“Nakal.”
“Kangen.”
“Gree, kayaknya kita harus bahas soal ke depannya deh,” ucapnya.
“Aku nggak mau denger kalau kamu minta putus.”
Ia berpikir sejenak, membuatku deg-degan. “Nggak lah. Tapi—”
Belum sempat ia menyelesaikan omongannya, aku sudah berjalan ke tepi daratan. Kalau ia meminta putus, aku akan lompat ke air. Walaupun tak akan mati, itu lebih dari cukup untuk membuat kejadian yang dramatis.
Aku menunggunya menyusulku, hampir menyerah sebelum mendengar derap kakinya. Ia beranjak ke sampingku dan menggenggam tanganku lalu berkata, “Gree, aku nggak mungkin nyerah begitu aja. Udah berapa lama kita bareng-bareng, coba? Jarak doang nggak bakal bikin aku nyerah.”
“Terus solusi kamu apa? Aku pindah ke Sydney untuk kamu? Aku rela-rela aja sih. Mungkin aku bisa dapet kerja juga di sana. Cuman, aku butuh waktu karena udah ada—”
“Siapa yang mau nyuruh kamu pindah? Kamu tau, kan, perusahaan tempat aku kerja punya cabang di sini. Katanya, kalau performance aku bagus, bisa aja aku dimutasi ke sini. Sekitar dua-tiga tahunan lagi lah minimal. Nggak pasti sih, tapi setidaknya ada yang bisa aku usahain biar kamu bisa terus ngejar mimpi kamu.”
Aku menatapnya dengan mata berbinar-binar. Mimpiku bisa terwujud? Aku tidak akan mengalami nasib sama seperti Nora dan Haesung ataupun orang tua fiktifku yang sudah cerai? Aku pasti menyelamatkan satu desa di kehidupan lampau.
Meski begitu, aku sedikit takut soal dua hingga tiga tahun yang dibicarakannya. Apa kami akan bertahan selama itu? Apa gunanya ia ke sini jika hubungan kami sudah rungkad lebih dulu?
Seakan bisa membaca pikiranku, ia langsung berkata, “Nggak usah khawatir gitu. Aku bakal usahain ketemuan sama kamu seenggaknya tiga bulan sekali. Aku ada jatah cuti empat minggu.”
Senyuman langsung terukir di bibirku dan aku memilih untuk memeluknya seerat-eratnya. Tubuhnya yang kecil itu terasa sangat mudah untuk diangkat. Akhirnya, aku bisa menghabiskan waktu dengannya secara rutin. Aku sudah membayangkan dirinya tinggal bersamaku bahkan.
“Gree, turunin!” ucapnya sambil tertawa.
“Nggak mau,” balasku tengil. Aku malah membawanya kabur ke arah stasiun kereta lagi. Ya, aku tidak akan membawanya sampai sana, tetapi melihat reaksinya akan lucu.
“Aku mau dibawa ke mana ini?” tanyanya.
“Ke rumah kita.”
“Rumah kita?” tanyanya dengan nada mengejek.
“Aku lempar nih.”
“Tolong, aku diculik!” serunya. Aneh sekali dia. Siapa juga yang mengerti Bahasa Indonesia di sini?
Beratnya mulai terasa. Aku bukan tikus gym jadi ketahananku tidak begitu kuat. Tak memiliki pilihan lain memaksaku untuk menurunkannya.
“Ada-ada aja kamu. Malu tau,” ucapnya sambil memanyunkan bibir.
“Nggak ada yang peduli di sini. Lagian, kapan lagi kita pacaran di New York, Cyn?”
“Nanti lah, pas aku udah tinggal bareng kamu dan nggak usah muter La La Lost You sampe muak.”
