Chapter Text
Kesuksesan acara dating show yang diusung Hanzhen tiga bulan lalu baru menemukan momentum ledakannya. Seorang influencer secara tidak sengaja menginap di vila yang sama dengan lokasi syuting Real Date Story. Sebenarnya Real Date Story sudah cukup sering menjadi trending topic saat perilisannya. Namun, berkat exposure dari influencer tersebut, bukan hanya program acaranya yang melejit, melainkan lokasi syutingnya pun mendapat perhatian khusus dari publik.
Karena momentum itu, stasiun TV tempat Hanzhen bekerja kini dibanjiri permintaan untuk mengadakan season selanjutnya. Tentu atasan Hanzhen langsung menunjuknya kembali menangani proyek ini.
Hanzhen bersama timnya mulai memikirkan konsep acara yang lebih menarik sekaligus pemilihan lokasi yang berpotensi memikat minat penonton. Hanzhen perlu melakukan survei lapangan ke beberapa tempat yang berpotensi viral, salah satunya area pantai utara.
Jika pada survei sebelumnya Hanzhen didampingi oleh timnya, kali ini ia harus pergi sendiri. Anggota tim yang lain masih harus mengurus program lain yang jadwal tayangnya lebih dekat. Karena Real Date Story musim baru masih lumayan lama rencana tayangnya, prioritas tim beralih mengurus ke program-program tersebut.
Saat ini Hanzhen sedang menyiapkan perlengkapan untuk survei di pantai, yang sekaligus ia manfaatkan sebagai kesempatan refreshing selama tiga hari. Setelah baju, skincare hingga camilan masuk ke ransel dan tas tentengnya, Hanzhen pun keluar dari apartemen.
Sesampainya di lobi, Jihoon sudah menunggunya. Begitu menyadari keberadaan Jihoon, Hanzhen menghela napas. Rencana untuk pergi sendiri terpaksa ia relakan karena Jihoon bersikeras untuk ikut. Tiga hari lalu, Hanzhen sempat mengabari bahwa ia akan survei sendirian. Jihoon yang mendengar kabar tersebut tentu saja langsung bersemangat untuk ikut.
Hanzhen sebenarnya sempat tidak mengizinkan karena khawatir akan pekerjaan Jihoon. Walaupun jam kerja Jihoon sangat fleksibel, namun karena agenda survei yang berpindah-pindah lokasi di sana, ditakutkan bakal menyulitkan Jihoon untuk fokus bekerja.
Namun, Jihoon membujuknya. Ia meyakinkan Hanzhen bahwa hal itu tidak akan jadi masalah. Saat Hanzhen sibuk keliling lokasi, Jihoon bisa menunggunya sambil bekerja di kafe atau restoran hotel. Ia meminta Hanzhen untuk tidak terlalu memusingkan keberadaannya, mereka bisa berkumpul lagi setelah urusan Hanzhen selesai di malam hari. Lagipula, Jihoon hanya ingin berada di area yang sama dengan Hanzhen.
“Hehehe… Halo, sini aku bawain tas kamu,” ujar Jihoon menyengir, lalu mengambil alih tas tenteng Hanzhen. Hanzhen hanya membiarkannya. Dengan tangan satunya yang kosong, Jihoon menggenggam jemari Hanzhen dan menuntunnya menuju parkiran.
Sesampainya di depan mobil, Jihoon membukakan pintu mobil untuk Hanzhen dan memastikan kekasihnya duduk dengan nyaman sebelum akhirnya memutar ke kursi pengemudi. Jihoon mulai melajukan mobilnya menuju area pantai utara, perjalanan yang akan memakan waktu kurang lebih dua jam.
Selama perjalanan, ditemani oleh alunan musik dari playlist ponsel Hanzhen.
“Babe, kamu ngintilin aku survei, emang udah booking hotel?” tanya Hanzhen.
“Aku sih udah dipesenin dari kantor,” tambahnya.
“Belum. Aku mikirnya nanti aja pas udah nyampe baru nyari-nyari,” jawab Jihoon santai.
“Oh iya, kamu dipesenin kantor ya? Aku nggak bisa bareng kamu aja?” lanjut Jihoon begitu tersadar.
“Gimana ceritanya coba,” ucap Hanzhen sambil memicingkan mata.
“Oh atau minta kamar di sebelah kamu aja kali ya? Minta yang ada connecting door-nya,” tambah Jihoon.
Hanzhen sengaja tidak menanggapi omongan Jihoon. Namun, tahu-tahu Jihoon membelokkan mobilnya masuk ke rest area.
“Kamu mau ke toilet?” tanya Hanzhen heran, karena sebelumnya mereka sudah sepakat untuk tidak berhenti di rest area.
“Nggak. Sebentar, ada yang mau aku urus,” jawab Jihoon sambil memarkirkan mobil di area menepi.
Jihoon langsung mengambil ponselnya begitu mobil berhenti.
“Nama hotelnya apa, sayang?” tanya Jihoon.
Hanzhen mengecek ponselnya dan membuka galeri foto untuk melihat tangkapan layar pemesanan hotel.
“[Nama Hotel] Hotel and Resort,” jawab Hanzhen.
“Kamu beneran mau booking di sini? Lumayan loh harganya. Aku bilangin aja ya ke kantor biar kamu dibolehin bareng,” ujar Hanzhen. Sebenarnya ia sedikit tidak tega membiarkan Jihoon memesan kamar di hotel tersebut, walau awalnya ia sempat sinis mengira Jihoon hanya bercanda ingin sekamar dengannya.
“Aku bayarin setengahnya aja, sayang. Nggak enak kalau pakai uang kantor terus aku nebeng gitu aja,” ucap Jihoon.
“Ya udah, aku bilangin ke kantor dulu. Kamu jangan pesen dulu.”
“Kamu aslinya mau berduaan kan sama aku, sayang?” goda Jihoon jahil.
“Nggak jadi nih aku bilangin,” ancam Hanzhen galak. Namun, sebenarnya ia hanya salah tingkah.
Jihoon terkekeh melihat omelan Hanzhen. Dari daun telinga Hanzhen yang memerah, Jihoon sudah tahu kalau kekasihnya sedang menutupi malu. Setelah memastikan Hanzhen mengirim pesan ke pihak kantornya, Jihoon kembali menancapkan gas menuju tujuan.
Perjalanan dari rest area menuju lokasi tidak begitu jauh, hanya tersisa sekitar 40 menit. Jihoon mengarahkan mobilnya menuju tujuan utama mereka, hotel tempat menginap. Di sana, Hanzhen memang sudah berencana menemui manajer hotel untuk melakukan negosiasi.
Sesampainya di lobi, manajer hotel ternyata sudah menunggu kedatangan mereka. Staf hotel langsung membantu membawakan barang bawaan mereka, sementara mobil Jihoon dibantu untuk diparkirkan oleh petugas valet. Jihoon cukup bingung dengan sambutan sebegitu rupa, tetapi ia hanya diam dan mengekor. Manajer hotel kembali menuntun mereka menuju lounge hotel agar bisa berdiskusi dengan lebih leluasa.
“Aku harusnya nggak ikut masuk nggak sih? Jadi sungkan aku, sayang,” bisik Jihoon saat hampir sampai di pintu lounge.
“Udah, nggak apa-apa. Ikut aja dulu. Nanti aku bilangin kalau kamu bukan tim TV, jadi kalau kamu misal bosen dan mau pamit duluan bakalan lebih enak,” bisik Hanzhen menenangkan.
Selama dua puluh menit berada di lounge, manajer hotel lebih banyak memperkenalkan fasilitas yang mereka miliki. Setelahnya, Hanzhen dan Jihoon diajak keliling untuk melihat kamar, restoran, hingga hall pertemuan. Selama hotel tour tersebut, Jihoon tetap mengekor. Padahal, ia sebenarnya bisa saja pamit duluan karena sejak awal Hanzhen sudah memperkenalkan bukan sebagai bagian dari tim TV.
Setelah rangkaian diskusi selesai, mereka akhirnya bisa check-in. Hanzhen pun menerima kunci kamar mereka.
“Besok masih lanjut diskusinya, sayang?” tanya Jihoon sesaat setelah mereka masuk ke dalam lift.
“Masih. Besok aku mau diajak nyobain aktivitas rekreasi mereka di pantai. Kamu mau ikut nggak?” ajak Hanzhen.
“Aku tunggu di pinggir pantai aja ya. Besok aku mau review materi kerjaan,” ujar Jihoon.
“Kirain kamu di sini bakalan bebas dari kerjaan. Huuu…” cibir Hanzhen sambil memberi gestur jempol ke bawah.
“Hehehe…” Jihoon hanya menyengir.
“Aku palingan sama mereka dari pagi sampai siang. Nanti kalau kerjaan kita berdua udah sama-sama beres, baru kita main-main sendiri,” ucap Hanzhen.
“Oke,” jawab Jihoon singkat.
Tak lama pintu lift terbuka dan mereka berdua melangkah keluar menuju kamar.
Sesaat setelah tiba di dalam kamar, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Hanzhen. Pesan tersebut berisi undangan makan malam khusus yang sudah disediakan pihak hotel. Karena acara makan malam baru dimulai sekitar dua setengah jam lagi, Hanzhen dan Jihoon memilih untuk bersantai menikmati fasilitas kamar.
Ukuran kamarnya yang cukup luas membuat mereka yang awalnya duduk di sofa dalam ruangan, kini berpindah ke sofa balkon yang pemandangannya langsung menghadap ke pantai. Mereka mengobrol santai sambil menikmati kue-kue sambutan yang disediakan khusus untuk kamar mereka.
“Kamu beneran nggak mau ikut aja makan malamnya?” tanya Hanzhen.
“Nggak ah, sungkan aku. Padahal kayaknya makanannya enak-enak deh,” jawab Jihoon.
“Ih, ya udah ikut aja.”
“Kan itu undangan buat kamu. Udah nggak apa-apa. Nanti aku pesan GoFood aja. Lagian bisa diantar sampai depan kamar pakai robot hotel yang di bawah,” ucap Jihoon.
“Ya udah deh…”
“Nggak usah sedih gitu dong nadanya,” ujar Jihoon sambil mengelus pelan puncak kepala Hanzhen.
“Nggak sedih. Cuma baru sadar lagi, oh iya… aku kan lagi kerja. Soalnya perginya bareng kamu, terus siang sampai sekarang masih sama kamu, jadi belum berasa kerjanya,” ucap Hanzhen.
Jihoon meraih jemari Hanzhen, mendekatkannya ke bibir lalu mengecupnya sekilas.
“Kamu nggak mau siap-siap?” tanya Jihoon.
“Oh, iya,” jawab Hanzhen tersadar karena waktu terus berjalan.
