Work Text:
Disklaimer:
- Captain America: The First Avenger adalah sebuah film yang disutradarai oleh Joe Johnston, dengan naskah buatan Christopher Markus dan Stephen McFeely, diproduksi oleh Marvel Studios dan didistribusikan oleh Walt Disney Studios Motion Pictures, berdasarkan komik karya Stan Lee dan Jack Kirby.
- Captain America: The Winter Soldier adalah sebuah film yang disutradarai oleh Anthony dan Joe Russo, dengan naskah buatan Christopher Markus dan Stephen McFeely, diproduksi oleh Marvel Studios dan didistribusikan oleh Walt Disney Studios Motion Pictures, berdasarkan komik karya Stan Lee dan Jack Kirby.
- Tidak ada keuntungan materi sedikit pun yang Penulis dapat atau ambil dari fanfiksi ini.
"... Bucky, ini ... apa?"
Steve menganga melihat dekorasi baru di rumahnya yang sekaligus adalah rumah Bucky. Dinding ruang tengah, dapur, kamar tidur, pintu kulkas, bahkan pintu kamar mandi tidak luput dari hiasan baru di rumah mereka.
Secarik kertas bergambar sama tertempel di setiap penjuru rumah. Sejauh mata memandang, Steve mendapati gambar yang sama.
"Prank dariku dan Sam. Katanya, kau paling alergi dengan gambar jelek. Aku sedang bosan, jadi, ya.... Mohon maklum," kata Bucky. Ia kembali menyendok banyak-banyak sereal dan memasukkan ke dalam mulutnya.
Steve menghela napas. Ia tidak alergi pada "gambar jelek" seperti yang Sam beri tahukan pada Bucky. Ia hanya punya tendensi ingin membantu mengoreksi kekurangan dan memberi saran bagi gambar yang ia rasa membutuhkan. Mau bagaimana lagi; hidupnya, kan, memang dari menggambar.
Dengan sekali lihat, Steve tahu kalau Bucky memfotokopi gambar-gambarnya. Mungkin karena malas menggambar banyak-banyak.
Sebenarnya, gambar Bucky tidak buruk. Model stickman sudah pernah digunakan salah satu komikus yang ia kenal. Bahkan, komik beliau jadi populer. Ide yang mau disampaikan Bucky melalui gambarnya juga mudah ditangkap.
Terutama karena ide itu melibatkan ia dan Bucky yang melayang di antara "bintang-bintang" dan "sparkle-sparkle" dan "galaksiii" sambil berusaha menggapai tangan satu sama lain.
Namun, mengakui hal itu hanya akan membuat Bucky dan Sam kegirangan. Bukan berarti ia tidak mau melihat Bucky bahagia. Ini lain persoalan.
Steve membiarkan sudut-sudut bibirnya terangkat sejenak, sebelum buru-buru memasang ekspresi siap menegur. Ia harus segera mencopot tempelan-tempelan itu sebelum perekat merusak cat tembok.
"Aku menyesal mengenalkanmu pada Sam, Buck," ujar Steve akhirnya. Ia dengan sengaja menggeleng-gelengkan kepala sambil melepas gambar Bucky dari dinding dapur.
Dari meja makan, Bucky tertawa dengan mulut penuh sereal.
"Sama-sama, Stevie. Sama-sama."
.
.
.
.
.
(Selembar gambar Bucky yang asli berakhir di clear holder pribadi Steve, sementara kopiannya menjadi alas buang hajat kucing milik Natasha dan Clint.)
