Work Text:
Ohh.. Hanya Tuhan yang tau betapa buruknya perasaan Minkyu sekarang, ia berseluncur terus.. terus..walaupun kakinya menjerit untuk berhenti, tapi ia tau apa yang menantinya ketika dia keluar dari rink ini, seseorang menunggunya, wanita itu menunggunya.
Dia tahu dari awal, ketika dia diikut sertakan di kamp pelatihan ini, dia melihat nama perempuan itu dan langsung merasa buruk, sangat buruk bahkan, tapi Minkyu tau dia harus tetap datang, dan dia sadar ia harus harus segera menghadapi rasa tidak nyamannya, rasa takutnya, perasaan yang masih mengganggunya sampai saat ini, lagi pula apalagi yang wanita itu bisa lakukan setelah mendapat hukuman? (Walau dicabut pada akhirnya) oh, liat betapa sifat optimis Minkyu langsung dihancurkan, ketika dia memulai latihan pagi ini, dia bisa merasakan tatapan mata tajam pada dirinya dan langsung membuatnya mual, dia berusaha mengalihkan pikirannya dan gagal, latihan berlangsung buruk, ia jatuh beberapa kali, pelatihnya menyuruhnya untuk beristirahat tapi dia menolak, dan disinilah ia sekarang berputar-putar dengan pikiran kosong.
Sesi latihan pagi itu dinyatakan selesai, rink harus dibersihkan, tidak ada alasan untuk Minkyu agar berlama-lama disana, dia menghela nafas lesu, sial! Tidak akan terjadi apa-apa bukan? Kejadian itu sudah berlalu lama sekali, Minkyu sudah melewati masa-masa panjang dengan wawancara yang mengerikan, harusnya mudah untuknya bersikap biasa saja, tapi rasa berat di perutnya membuatnya sangat tidak nyaman, menyebabkannya sedikit menggigil.
Minkyu merapihkan barang-barangnya secepat mungkin, lalu dengan cepat berjalan keluar, ketika dia sampai ke pintu keluar dia merasa lega bahwa semua hal buruk yang dia bayangkan tidak terjadi dan dia baik-baik saja, sampai-
"Minkyu-" Dia bisa merasakan jantungnya jatuh ke perutnya, dia berhenti melangkah dan membeku, dia bahkan tak sanggup untuk menoleh ke asal suara yang memanggilnya.
"Hei! Apakah kau akan mengacuhkanku seperti itu?" Ucapnya lagi, dan Minkyu berputar dengan kaku, oh, tidak, betapa Minkyu menghindari ini, dia menatap ke tanah, menolak berhadapan langsung dengan wanita di depannya.
Sial, dia benci ini, dia benci dirinya sendiri karena membeku, menjadi tidak berdaya, dia pasti terlihat sangat rentan, dan wanita itu akan sangat senang melihat Minkyu bahkan tidak bisa membela dirinya sendiri.
Wanita itu tersenyum puas (sesuai dengan firasat Minkyu) lalu memegang pundak Minkyu, "Sepertinya kau sedang sendiri, bagaimana kalau kita makan siang bersama?" Minkyu tersentak dan langsung melepas cengkraman wanita itu, wanita itu menatapnya dengan kesal.
"Maaf, aku tidak bisa."
"Benarkah? Aku tau kau pembohong yang buruk, Minkyu." Ia mendesis, "Apakah seburuk itu pergi berdua denganku?"
YA, Minkyu ingin berteriak seperti itu, tapi lidahnya kelu, matanya menyapu pandang area di sekitarnya, apapun.. Apapun yang bisa menjadi alasan Minkyu untuk lari dari tempat ini.
"Bagaimana?" Tanya perempuan itu lagi.
"Aku.. " Minkyu tergagap, lalu matanya menemukan sosok yang akrab baginya, mulutnya bergerak otomatis, bahkan sebelum ia sempat berpikir, "Aku akan pergi bersama Rio."
"APA?! " Wanita itu bahkan Rio terkejut, dan Minkyu baru tersadar dari sekian banyak orang, dia menyebutkan nama rivalnya. Dia meringis malu, matanya melirik Rio yang tampak sangat terkejut, Minkyu harus meminta maaf sehabis ini.
"Sudah kubilang kau pembohong yang buruk, Minkyu" Ucap wanita itu tidak puas, Minkyu menundukkan kepalanya, apa tidak ada cara lain?
Rio menatap dua orang tersebut dan ia tau bagaimana kuatnya perasaannya untuk tidak ikut campur, tapi melihat Minkyu menunduk lesu, dan bahunya terkulai lemas, tidak mungkin ia meninggalkannya begitu saja.
Rio tau apa yang terjadi antara Minkyu dan wanita disampingnya, ketika berita itu disebarkan, dan beberapa info mengarah ke rivalnya, Rio menghabiskan banyak waktu untuk mencari informasi lebih dalam, Rio tidak bisa membayangkan betapa mengerikan hal tersebut untuk Minkyu, Dia menatap wajah Minkyu lekat-lekat, tetapi Minkyu bahkan tidak balas menatapnya.
Ketika wanita itu tampak akan berbicara lagi, Rio dengan cepat langsung memotong "Dia tidak berbohong, kami akan pergi bersama untuk makan siang" Minkyu langsung memutus pandangannya dari tanah, matanya membelalak terkejut, dan seperti langsung tersadar ia menjauh dari wanita itu, dan mundur selangkah mendekati Rio.
Wanita itu menghujamkan tatapan penuh amarah ke arah Rio, dan Rio merasa agak ciut karena wanita itu lebih senior dari mereka, dia mendecak kesal "Tampaknya kau beruntung sekali ya, Minkyu, tapi tetap saja kau pembohong yang buruk, aku tau itu, lebih baik dari siapapun." Lalu wanita itu dengan cepat meninggalkan mereka berdua, dengan kaki yang dihentakkan.
Rio menghela nafas lega, lalu menoleh ke Minkyu, "kau baik-baik saja?" Tanyanya, dan Minkyu mengangguk sebagai respon dengan senyum yang dipaksakan, wajahnya agak pucat, dan ia menyilangkan tangannya di dada.
"Maaf.." Ucap Minkyu lirih, "Maaf karena aku melibatkanmu tiba-tiba." Dia menundukkan kepalanya lagi, "Tenang saja, itu bukan masalah besar." Rio berusaha menghibur Minkyu dan menepuk pundak Minkyu, dan melihat Minkyu langsung tersentak, Rio langsung menyesali ide tersebut.
Minkyu yang menyadari bahwa responnya yang agak berlebihan, merasa makin bersalah karena bersikap seperti itu pada Rio yang berusaha menghiburnya "Maaf.." Ucapnya lagi, dan keheningan diantara mereka terasa begitu pekat dan canggung.
"Aku pergi dulu." Minkyu bergumam, Rio langsung membalas "Eh, kita tidak akan makan siang bersama?" Minkyu menggeleng dan meminta maaf untuk sekian kalinya yang membuat Rio merasa makin tidak nyaman "Aku tidak nafsu makan"
"Baik." Balas Rio, "Hati-hati, ya." Lalu bergeser mempersilahkan Minkyu untuk pergi, Minkyu mengangguk samar, lalu meninggalkan Rio yang masih terpaku di jalan dan ikut kehilangan nafsu makan.
Minkyu sudah sampai dikamar hotelnya, berbaring di kasur yang empuk bahkan tidak membuatnya merasa lebih tenang dan nyaman, dia masih merasa mual dan tegang, jantungnya masih berdetak kencang, kepalanya sakit karena terus memikirkan kenapa wanita itu datang menganggunya lagi tapi setiap ia berusaha memikirkan hal lain, yang ia pikirkan adalah bagaimana ia meminta tolong Rio dan betapa memalukannya hal tersebut.
Dia memikirkan Junhwan, Junhwan bilang dia akan menemani Minkyu, tapi Minkyu tau betapa sibuk hyungnya itu dan Minkyu tidak ingin membebani Junhwan, karena Minkyu tahu pasti Junhwan akan selalu dengan senang hati menemaninya dan membuatnya merasa lebih baik, tapi dia tidak bisa membebani Junhwan dengan hal-hal yang harusnya Minkyu bisa kontrol sendiri, Lagi-lagi ia menyalahkan dirinya sendiri atas traumanya.
Minkyu baru hendak berdiri ke kamar mandi untuk mencuci muka, ketika kamarnya diketuk, Minkyu mengerang kesal dan mencoba mengabaikan ketukan tersebut, tapi ketukan itu malah makin kencang, dan Minkyu langsung membuka pintu tanpa berpikir untuk memeriksa siapa yang dibalik pintu itu.
"Sudah kubilang kamu pembohong yang buruk, Minkyu." Minkyu merasa seperti di tembak 10 kali di dada, wanita itu ada di depannya, dan Minkyu langsung merasa tidak bisa bernafas, "kenapa kamu bisa disini?" Tanyanya, berusaha agar suaranya tidak bergetar, Dia berusaha mundur menjauh.
"Kenapa kamu tampak begitu terkejut? Apa salah untukku berasa disini? Aku hanya ingin mengajakmu makan siang, lho." Wanita itu tidak menjawab pertanyaannya, dan dengan kasar mulai menarik Minkyu dari kamarnya.
"Aku tidak mau!" Minkyu dengan kasar melepaskan dirinya, dan wanita itu menjadi sangat marah, apa yang terjadi setelahnya terasa buram bagi Minkyu, mereka berdebat dan bertengkar, wanita itu makin kesal dan beberapa kali mencubit tangan Minkyu dan Minkyu yakin akan meninggalkan bekas yang jelek.
Mereka bertengkar dan tanpa sadar sudah ada sosok ke-3 yang berdiri depan mereka, "Maaf." Ucap sosok itu kaku, "kalian di depan pintu kamarku." Minkyu sontak menoleh dan untuk kedua kalinya hari ini, dia berada di kondisi serba salah dengan saingannya, Rio.
Minkyu sangat terkejut menyadari bahwa kamar Rio rupanya tepat berada di samping kamarnya, jadi ketika dia bertengkar dan wanita itu terus menariknya pergi, sekarang ia tepat berada didepan pintu kamar saingannya.
"Kau lagi." Wanita itu memicingkan matanya, "Aku ada urusan penting dengan anak ini, ku harap kalian tidak ada janji ' Makan siang' yang kalian ada-adakan itu.
" Mulut Rio masam, dan dia hanya bisa melihat bagaimana Minkyu mulai ditarik menjauh darinya.
Rio bisa melihat bagaimana Minkyu memberontak, tapi wanita itu menekan tangannya dengan keras, dan ia hanya memandang nanar. tidak, batin Rio berdebat, ia tidak bisa diam ketika melihat Minkyu dipaksa seperti itu.
"Berhenti." Rio terkejut bagaimana lantangnya ia bersuara, seketika gadis itu dengan kesal berbalik "kebohongan apa lagi yang kalian punya, hah?" Minkyu juga menatapnya dengan kaget, menatap Rio dengan ketidak percayaan. Rio menghirup nafas "Kau tampak seperti memaksa Minkyu untuk pergi bersamamu." Tuduhnya , dan wajah wanita itu memerah "Lancang sekali kamu menuduhku seperti itu. Katakan Minkyu, kau akan pergi bersamaku, kan? tanpa merasa terpaksa." Tangannya meraih lengan Minkyu dan meremasnya dengan keras, Minkyu meringis.
"Aku tidak mau." Gumam Minkyu, "Aku tidak mau pergi denganmu!" Dia melepaskan diri ketika perempuan itu lengah, Rio memasang wajah puas, dengan reflek menarik Minkyu ke sisinya, dan berdiri menghalangi mereka berdua.
"PERSETAN KALIAN BERDUA!" Teriak perempuan itu marah, dan langsung meninggalkan mereka begitu saja.
Rio menarik nafas lega, mungkin ia tidak sadar sedari tadi menahan nafasnya sebab ia merasa telah berlari 3 putaran, Rio menoleh ke sosok disampingnya yang masih merundukan kepala, tangan mereka masih terkait, dan Rio merasa tangannya basah oleh keringat, entah keringatnya sendiri atau keringat Minkyu, ia tidak peduli lagi.
"Kau baik-baik saja?" Rio bertanya, Minkyu hanya menggeleng kepalanya lemas, wajahnya pucat lebih buruk daripada sebelumnya, matanya berkaca-kaca dan merah, nafasnya juga tersendat "Aku mau muntah." Jawab Minkyu lirih, dia melepaskan tangannya dari pegangan Rio untuk membuka pintu kamarnya dan menyadari pintunya telah terkunci dan kartu kamarnya masih berada didalam, dia dengan marah dan tergesa-gesa berusaha mendobrak pintunya, sebuah usaha yang sia-sia.
"Kamu bisa gunakan kamar mandiku, oke? " Rio segera menarik badan Minkyu sebelum mendobrak pintunya lagi, dan melukai dirinya sendiri, Rio membuka pintu kamarnya, lalu Minkyu langsung berlari masuk ke kamar mandi melewati Rio yang masih terpaku, untung saja tata letak kamar mereka sama persis.
Setelah Rio memastikan wanita itu tidak kembali, dan menutup pintunya rapat, Rio berjalan ke kamar mandi, dan berhenti tepat di pintu yang tertutup, Dia dengan jelas bisa mendengar suara-suara menyedihkan didalamnya, Perasaan ingin masuk ke dalam dan menenangkan Minkyu merasuki hatinya, tapi dia hanya membeku di depan pintu, terhalang sekat yang memisahkan mereka, Rio tidak berani, dia belum siap menghadapi saingan terkuatnya yang sedang rapuh.
Ditengah pergulatan pikirannya, pintu kamar mandi itu terbuka, Rio langsung menatap langsung saingannya yang tampak seperti anjing liar yang kehujanan, wajah dan rambutnya basah karena dibasuh, matanya bengkak, dan tangannya gemetaran, mata Minkyu menolak menatap langsung mata Rio, dan Rio juga menunduk kebawah dan menyadari bekas-bekas kebiruan di tangan Minkyu.
"Bekas-bekas itu tampak buruk." Ucap Rio, dan baru Minkyu menyadari bahwa wanita itu telah 'benar-benar' meninggalkan bekas ditangannya, wanita itu meninggalkan tanda lagi ditubuhnya, dan Minkyu merasa dirinya sesak, sulit untuk bernafas, rasanya seperti tenggelam dalam pikirannya sendiri, tubuhnya gemetaran tidak terkendali,
'Tidak lagi..' Pikirnya, apakah semuanya akan terulang lagi, kenangan-kenangan menakutkan datang menghantuinya lagi, begitu jelas, begitu cepat.
"Minkyu."
"Minkyu!" Rio mengguncangnya cukup keras, "kita bisa perbaiki ini, oke?" Rio berusaha meyakinkan Minkyu,
"Aku punya obat salep, kita bisa mengobati memar-memar itu, kamu baik-baik saja." Ucap Rio lagi kali ini dengan senyuman, tangannya masih dipundak Minkyu, dan untuk kali ini merasakan tangan Rio di pundaknya sangat menenangkan, Nafas Minkyu mulai kembali normal dan mulai sadar dengan sekitarnya, dan dia baru menyadari bahwa pipinya basah dengan air mata.
Melihat kondisi Minkyu yang membaik, Rio dengan segera menarik Minkyu untuk duduk di kasurnya, lalu melompat untuk membongkar tasnya agar menemukan krim yang mereka butuhkan. "Dapat!" Seru Rio pelan, lalu langsung kembali tepat di sisi Minkyu.
Rio melihat kondisi Minkyu yang masih agak linglung tapi setidaknya tidak panik lagi, Jadi dia dengan lembut menyentuh tangan saingannya, "Apa kau keberatan kalau aku mengobati lukamu?" Tanya Rio, lalu Minkyu menggoyangkan kepalanya, Rio menganggap itu respon positif untuk maju, jadi dia membawa tangan Minkyu ke pangkuannya dan dengan sangat lembut mengusapkan krim itu di bagian yang memar.
"Maaf.. "
"Kau tau kamu tidak perlu meminta-"
"Maaf." Tegas Minkyu, lalu menarik nafas panjang walau tersendat-sendat, "Maaf membuatmu terlibat hal ini sejak awal, harusnya aku bisa lebih baik, harusnya aku bisa mengatasi masalahku sendiri, tapi aku membawamu pada masalahku, membuatmu mengurusku seperti ini, aku orang yang buruk." Dan Minkyu mulai terisak lagi.
"Aku tidak terpaksa, tidak sama sekali." Bantah Rio, "Aku senang bisa membantumu, oke?" Rio secara spontan menarik Minkyu ke dalam pelukannya, Rio sedikit ragu sebelumnya tapi ketika sadar Minkyu tidak menolaknya maka ia tetap melanjutkan pelukan tersebut. "Aku ingin kau percaya bahwa hal yang terjadi padamu adalah hal buruk, dan kau pantas sekali untuk mendapatkan bantuan dari orang-orang sekitarmu, kamu tidak buruk Minkyu, kamu kuat dan kamu berani untuk melawan dan meminta tolong." Bisiknya, dan dia bisa mendengar Minkyu terisak di pundaknya dan Rio tidak keberatan, dia akan membiarkan saingannya menangis di pundaknya kali ini.
Minkyu menangis cukup lama hingga akhirnya rileks dipelukan Rio, ketika ia merasa lebih baik Minkyu menyudahi pelukan tersebut, mulutnya terbuka akan mengucapkan sesuatu,
"Terimakasih." Kali ini, bukan permintaan maaf dan Rio merasa sangat puas karena hal tersebut, "Senang melihatmu lebih baik." Ucap Rio, Dan Minkyu mengangguk mantap.
"Sepertinya aku harus segera kembali ke kamarku." Kata Minkyu, tapi entah kenapa Rio belum mau mereka berpisah sekarang oleh karena itu Rio berusaha mencari alasan agar Minkyu tinggal lebih lama.
"Kamarmu terkunci, bukan?"
"Aku bisa ke resepsionis untuk membuka kamarku." Jawab Minkyu masuk akal, Rio tidak puas.
"Kamu bisa melakukan itu nanti, istirahat dulu bagaimana? Kamu pasti sangat lelah." Tawar Rio, sedikit bergeser menunjukkan kasurnya yang luas, "kamu bisa beristirahat disisi ini, dan aku bisa beristirahat disebelah sana."
Minkyu tampak berpikir dan akhirnya berkata, "Baiklah, kalau begitu." Dan Rio terperangah bagaimana Minkyu meng-iyakan alasannya yang lemah. Dia dengan cepat berdiri dan mempersilahkan saingannya untuk berbaring, melihat tingkah Rio yang seperti itu membuat Minkyu terkekeh dan rasanya hati Rio menghangat.
"Aku akan mematikan lampunya, ya."
"Ya." Balas Minkyu, "Terimakasih, Rio. Aku sungguh-sungguh." Rio lansung berbalik dan melihat Minkyu sudah memejamkan matanya, dan tubuhnya di tutupi selimut.
Rio berbaring disisi yang berjauhan dengan Minkyu, dan menyadari betapa ia merasa sangat lelah, tanpa hitungan menit matanya terpejam dan tidur menyambutnya.
Rio yang terbangun pertama sebab ia mendengar ketukan-ketukan tapi bukan di pintu kamarnya, tapi kamar disebelahnya. Setelah Rio mulai tersadar sepenuhnya dia baru menyadari bahwa ketukan itu disertai suara pria yang memanggil Minkyu, Dia melihat pria yang masih tidur lelap di sampingnya.
Rio dengan kikuk mengguncang tubuh Minkyu perlahan, setelah upaya yang tidak mengambil waktu lama, Minkyu terbangun, matanya mengerjap-ngerjap masih setengah mengantuk. "Ada yang mencarimu." Ucap Rio.
"Oh." Minkyu masih mengumpulkan nyawanya, dan setelah dia lebih terjaga dan dapat berpikir dengan baik, dia baru menyadari siapa pemilik suara yang memanggilnya, Minkyu terlalu akrab untuk tidak menyadarinya.
"Itu Junhwan-hyung." Minkyu langsung berlari ke luar.
Junhwan sangat khawatir, nomor Minkyu tidak bisa dihubungi, bahkan sekarang ketika Junhwan menghampiri kamarnya seperti tidak ada orang. Junhwan hendak mengetuk pintu sekali lagi tapi tiba-tiba pintu tepat sebelahnya terbuka.
"Hyung."
"Minkyu!" Junhwan memekik lega melihat juniornya baik-baik saja, "Kau disini rupanya, sepertinya aku dari tadi salah kamar." Junhwan malu-malu menggaruk tengkuknya. Sedangkan Minkyu tersenyum kecut.
"Tidak, hyung, ini kamar Rio." Minkyu sedikit bergeser dan dari sebelahnya muncul Rio yang membungkuk hormat pada Junhwan, dan Junhwan sangat bingung bagaimana Minkyu berakhir dikamar Rio.
Baru Junhwan menyadari mata Minkyu yang bengkak, dan senyuman yang kaku. patut membuat dia langsung curiga, "Apa ada sesuatu yang terjadi, Minkyu." Selidik Junhwan, Minkyu menjawab soal itu dengan mengangguk.
Ketika Minkyu mengatakan bahwa wanita itu menemuinya dengan paksa, Junhwan kecewa karena tidak bisa menjaga juniornya dengan baik, dan langsung merangkulnya, “Aku benar-benar menyesal, seharusnya aku disana.” Ucap Junhwan.
“Tidak apa-apa,hyung. Lagipula Rio menemaniku.” Balas Minkyu sambil melirik Rio, dan entah kenapa hal itu membuat wajah Rio memerah.
Junhwan berterima kasih kepada Rio, dan membuat Rio makin tersipu, ia berkali-kali mengucapkan ‘tidak apa-apa’ tapi sepertinya Junhwan masih belum puas, karena itu dia mengajak makan malam bersama-sama.
Rio dengan senang hati menerima ajakan tersebut, karena berarti ia bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan Minkyu, sisa malam itu sangat menyenangkan, makan di meja yang sama, Junhwan yang sangat ramah dan terus memancing percakapan hingga mereka tidak kehabisan topik.
Rio dengan senang memerhatikan bagaimana Minkyu sudah jauh lebih baik, ia tertawa dan tersenyum lebar, berbeda dengan sosok sedih yang ia lihat tadi.
Mereka pulang setelah menyadari mereka sudah tinggal di restaurant terlalu lama, lalu menemani Minkyu meminta tolong membuka pintu kamarnya, ketika semuanya sudah selesai disinilah Rio berdiri di depan kamarnya kikuk.
“Sebaiknya kamu tidak tidur disini dulu, Minkyu. Tidurlah dikamarku.” Saran Junhwan, dan Minkyu dengan cepat setuju, lalu bergegas merapihkan barang-barangnya, menyisakan Rio dan Junhwan berdua, Junhwan tersenyum padanya lagi, “Maaf, kalau ini terkesan berulang-ulang, tapi aku sangat berterima kasih.” Katanya sambil mengusap kepala Rio. dan Rio merasa terpana melihat skater tampan itu (wow, Junhwan benar-benar tampan)
Sehabis Minkyu merapihkan barangnya, mereka langsung berpamitan dengan Rio,Lalu Minkyu menggenggam tangan Rio, “Aku senang menghabiskan waktu denganmu.” katanya, dengan senyuman paling manis yang pernah Rio lihat.
“Aku juga.” Balas Rio, Kemudian Junhwan dan Minkyu meninggalkannya, Minkyu beberapa kali menoleh kembali melambaikan tangannya, “Sampai jumpa besok.” terbentuk di mulut Minkyu, dan senyum Rio tersimpul karenanya.
Ketika mereka berdua menghilang dari pandangan Rio, Rio memasuki kamarnya, dan bersandar di pintu, menyadari dadanya berdetak lebih cepat.
Oh, betapa Rio menyadari bagaimana perasaan lain tumbuh dihatinya,
Dan disisi lain, Minkyu memegang dadanya, dan senyum lembut menghiasi wajahnya, dan ia juga merasakan bagaimana perasaan lain telah tumbuh dihatinya pula.
Tapi perasaan tersebut mungkin harus kita bahas di lain hari?
