Actions

Work Header

Merah Jambu

Summary:

Gia sudah berkali-kali makan mie yamin, tetapi yang ini rasanya yang paling manis.

Notes:

Max Verstappen as Mikael
George Russell as Georgia
Pierre Gasly as Piyan
Alex Albon as Andre
Carlos Sainz as Karlos

Maaf bahasa Sundanya jelek dan kaku banget!

Work Text:

“Mik, ada yang nyariin. Orangnya ada di deket bengkel sipil.”

“Saha, Yan?”

“Gak tau. Adek tingkat, kayaknya mah.”

Siapa? Sejauh yang bisa seorang Mikael ingat, dirinya hanya mengenal beberapa orang dari angkatan bawah. Orang-orang yang selalu setor wajah di lapangan futsal setiap tiga minggu sekali di Hari Jum’at. Lalu ada juga sebagian kecil yang Mikael ingat wajah tapi tidak dengan namanya. Mereka yang selalu terlihat di sekitar Piyan, sekedar ngobrol atau menanyakan kisi-kisi soal ujian untuk mata kuliah tertentu. Masalahnya, orang-orang yang Mikael kenali tersebut sudah datang dan memberi ucapan selamat di kantin. Setelah wira itu babak belur di hadapan tiga orang penguji dan seorang pembimbing.

“Cewek. Cantik, Mik. Pacar maneh?”

Makin bingung. Catatan asmara Mikael masih putih dan bersih. Belum ada barangkali satu nama yang tertulis di atasnya. Kalau teman dekat dalam konteks sahabat yang sering dicurigai, Mikael punya tiga. Ada Yumna dari fakultas sebelah, tadi sudah mengabari lewat chat kalau gadis itu sedang ada bimbingan hari ini, nanti sore baru bisa menghampiri. Yang dua lainnya adalah mahasiswi dari kampus tetangga. Walaupun kemungkinan salah satu dari mereka adalah orang yang dimaksud Piyan, tetapi firasat Mikael mengatakan bukan.

“Ngaco. Aing lagi punya pacar, Ya. Ngedeketin satu aja susah,” balas Mikael sambil melepas dasi yang sebelumnya membebat leher lelaki itu.

Piyan mengangguk, namun masih meragukan. “Samperin dulu atuh. Teu gentle bikin cewek nunggu.”

“Nitip tas, Yan. Sama kirimin foto yang tadi nya, ka whatsapp. Ditanyain mulu sama si mamah.”

“Sip.”

Lelaki berasma lengkap Mikael Narendra itu pun bergegas turun dari lantai tiga ke lokasi yang sudah disebutkan Piyan sebelumnya. Rasa penasaran menjulur di sekujur benak Mikael. Terlebih yang mencarinya adalah lawan jenis. Semenolak-menolaknya ia dengan hal romantis semacam itu, Mikael juga seorang laki-laki. Hal ini cukup membuat perutnya merasa geli.

Setelah menuruni beberapa anak tangga, kaki Mikael sampai di sana. Di dekat gedung dengan warna cat yang sudah pudar dan perlahan mengelupas, suara bising besi yang sedang dipotong, juga percikan bunga api yang muncul akibat gesekan dua benda keras. Berdiri seorang gadis bertubuh ramping dengan rambut cokelat keemasan yang tertiup hembusan angin. Pandangannya jatuh ke bawah—entah fokus pada gerombolan semut yang bergotong royong membawa sisa remahan biskuit dari pinggir jalan atau sekedar hanya melamun saja. Mikael membuka kembali brankas memorinya, berusaha memanggil kembali ingatan miliknya tentang serangkaian huruf yang membentuk nama gadis tersebut. Kalau tidak salah…

“Gia?”

Gadis itu menengok ke arah Mikael dan kemudian melempar sebuah senyum kecil yang menggelitik hati. Mikael ingat. Georgia, adik sepupu Andre yang datang dari Jakarta. Ia tinggal di rumah keluarga Andre setelah tahun lalu berhasil diterima sebagai mahasiswi baru di kampusnya. Mikael juga ingat bahwa ia pernah membantu Gia ketika gadis itu menjalani masa-masa ospeknya dahulu, seperti: memotong styrofoam berbentuk ukuran nanas, memecahkan kata kunci dari kakak panitia yang membuat kepala Mikael serasa mau pecah juga, atau sekedar menjemput Gia pulang dari GOR setelah acara penutupan sebab saat itu Andre sedang ada keperluan lain yang lebih mendesak.

Ya. Ini Gia yang sama.

“Kak Mika…" sebuah nama panggilan keluar dari bibir gadis itu. "Maaf Gia datang tiba-tiba," lanjutnya dengan sepasang alis yang saling bertaut, gadis itu merasa khawatir kedatangannya yang tidak diundang ini menganggu aktivitas Mikael.

Mikael mengembangkan senyumnya, “Gak apa-apa, Gi. Sidangnya udah selesai dari tadi. Kamu kesini mau bilang selamat ke aku?”

Gia mengangguk. “Sama ini… Maaf kemarin aku sempat dengar obrolan kak Mika waktu main ke rumah. Kakak masih mau makan jambu? Tapi, jambu yang aku cari tadi di supermarket udah jelek-jelek. Mau ke pasar, pasarnya tutup. Jadi, aku cuma bisa kasih ini… Maaf ya, kak. Hadiahnya mungkin harus ditunggu 2 atau 3 tahun lagi.”

Mikael baru menyadari, ada satu pot berisi tanaman yang berdiri di samping Gia. Ukurannya mungkin 90-110 cm. Meskipun Mikael merupakan salah satu mahasiswa jurusan teknik sipil, dia tidak begitu pandai mengukur. Tetapi pohon terlihat cukup besar saat dipegang oleh Gia. Atau mungkin tangan Gia yang kelewat mungil?

“Pohon jambu?”

Gia mengangguk makin semangat. “Dicangkok langsung dari Bangkok!”

Gelak tawa Mikael menyatu dengan suara bising bengkel. Ia yakin kalimat itu pasti didengar Gia dari Mang Toto, penjual bibit bunga dan tanaman di seberang kampus. Mikael sering datang kesana, perintah dari ibundanya yang meminta dibelikan pupuk kompos saat pulang ke rumah. Menambahkan nama kota di luar negeri adalah teknik marketingnya yang pernah beliau beberkan kepada Mikael beberapa tahun lalu. Pria setengah baya itu secara gamblang mengaku mendapat bibit tersebut dari kawannya yang tinggal di Cianjur dan Sumedang. Nada bicara Mang Toto yang meyakinkan tentu akan menarik pembeli seperti Gia ini.

“Makasih, Gi. Nanti aku tanam di rumah. Mamah suka berkebun, nanti aku tanya juga soal cara merawat pohon yang sesuai kaidah si mamah,” jawab Mikael dengan tangan menjulur, menerima pot hijau yang dibungkus kantung plastik putih. Gia ini unik, ya, pikirnya.

“Gia, kamu udah makan?”

“Belum sempet, kak. Tadi buru-buru soalnya,” jawab Gia tersipu malu.

“Tunggu disini dulu, ya. Aku mau ke atas sebentar.”

Setelah berpamitan singkat, kaki jenjang Mikael balik melangkah ke ruangan atas. Menemui Piyan yang saat ini tiduran dengan posisi yang sangat-sangat tidak enak untuk dilihat—di atas meja praktik.

“Yan, aing keluar sebentar, ya. Kalau mau ke ormawa, titip barang aing sekalian atuh. Nuhun, yak,” ucap Mikael sambil mengambil jaket parasutnya yang sudah agak belel dan juga kunci motor kesayangannya itu.

Kepala Piyan mendengak sedikit, melihat sahabatnya membawa satu pot tanaman dengan agak susah payah. “Widih. Mau jadi Pak Tani maneh, Mik?”

“Ngawur.” Mikael melempar selembar tissue yang sudah iya remas membentuk sebuah bola ke arah Andre yang sedang cekikikan. “Dikasih sama orang. Gak baik nolak hadiah dari orang lain.”

“Adek tingkat yang tadi, kah?” Piyan mendadak tertarik dan langsung bangun dari tidurnya. Ia duduk bersila—masih sama, di atas meja.

Mikael mengangguk. “Dah, aing mau jalan dulu. Titip barang aing yak, Yan. Jangan ditinggal.”

“Kalo maneh udah pacaran, jangan lupa traktirannya, Yan!” sahut Piyan agak tinggi, supaya Mikael yang sudah keluar ruangan bisa mendengar wejangannya.

“AI SIA GELO.”

Piyan pun tertawa terbahak-bahak.

---
“Kak Mika, beneran gak apa-apa?” tanya Gia tidak enak sesaat setelah Mikael sampai di hadapannya kembali.

“Iya, deket kok jalannya. Kepleset juga sampe,” jawab Mikael meyakinkan Gia.

“Kita jalan kaki aja ya, kak? Gia gak apa-apa kok.”

“Gak usah nanti aku ditendang si Andre kalo nyuruh adeknya jalan kaki.”

“Aku juga bisa jaga rahasia, kok!”

Mikael tertawa pelan. “Gak apa-apa, Gia. Tempat mie yaminnya juga deket. Aku sering kesana bawa motor gak pake helm. Cuma kalo kamu harus pake. Biar selamat.” Mikael menyodorkan sebuah helm berwarna hitam glossy dengan beberapa stiker bergambar yang menempel di sekelilingnya.

Gia menurut. Ia pun memasang helm milik Mikael di atas kepalanya. Si empu yang melihatnya kesusahan menyatukan tali helm pun ikut membantu.

“Kak Mikael, maaf ya ngerepotin terus akunya.” Gia meletakan tangan kirinya di lengan Mikael pada saat gadis itu berusaha duduk di atas jok motor vespa kuning Mikael.

Mikael sudah tidak bisa lagi menghitung berapa kali Gia bilang maaf padanya sejak awal bertemu tadi. Menurutnya, Gia adalah gadis yang pemalu. Ia selalu berada di kamar ketika Mikael dan Karlos datang berkunjung ke kediaman Andre. Menolak ketika ditawari makanan oleh Mikael atau Karlos. Andre sendiri pernah bilang, Langsung dikasih aja, gak usah tanya tanya dulu. Anaknya emang gak enakan. Sama orang rumah juga begitu.

Mikael duduk di atas jok motor sambil memastikan Gia sudah duduk dengan benar di belakangnya, ia menoleh sedikit. Mesin motor bergetar pelan di bawah mereka. Pemilik nama lengkap Mikael Narendra tersebut menarik gas perlahan, membawa mereka meninggalkan keramaian di depan bengkel dan masuk ke jalan yang mulai lengang..

Mikael melirik kaca spion. Wajah Gia nyaris tak terlihat di balik helmnya, tetapi ia bisa melihat manik mata biru milik sang gadis.

“Gia, hari ini gak kuliah?” tanya Mikael memecahkan keheningan.

“Kenapa, kak Mika?” Gia balik bertanya dengan badan yang maju sedikit ke arah Mikael. Suara hembusan angin dan busa helm yang tebal membuat Gia sulit mendengar pertanyaan kakak tingkatnya itu.

Mikael lalu memundurkan badannya sedikit, “Kamu hari ini gak ada kuliah?”

“Oh! Nggak ada kak. Hari Selasa memang kosong jadwalnya.”

Setelah itu mereka kembali terdiam, hanya ditemani suara deruan mesin motor dan klakson di jalan raya. Sesampai motor Mikael di depan gerobak mie yamin, harum air rebusan mie yang khas menyapa indra penciuman lelaki itu. Membuat cacing-cacing di dalam tubuhnya berteriak meminta untuk segera diisi.

“Gia, bisa turunnya?” tanya Mikael sambil menoleh ke belakang.

“Bisa, kak Mika.” Mikael mengangguk mengiyakan.

Dua insan itu pun duduk di meja yang paling pinggir, kebetulan tempatnya masih banyak yang kosong. Mungkin sebentar lagi akan ramai, mengingat waktu sudah mendekati jam makan siang.

“Gia mau yamin apa mie ayam biasa?” Mikael bertanya tanpa melihat menu. Terlalu sering kemari sampai daftar menu saja hapal di luar kepala. Aneh, padahal dirinya kerap sekali kesulitan mengingat nama orang. Sementara itu, Gia masih menimang-nimang menu pilihannya.

“Kak Mika, aku mau mie yamin aja deh. Kakak juga sama?”

Mikael mengangguk. “A, mie yamin komplit dua. Nuhun, a!”

“Kak Mika, ih... Aku yang biasa aja…” protes Gia setelah mendengar pesanan Dean. Gia punya kebiasaan mengunyah makanan lama, membayangkan dirinya menghabiskan seporsi lengkap mie yamin, bisa-bisa mereka pulang malam hari ini.

“Gak apa-apa, sok makan dulu. Kalau gak habis nanti bisa dibawa pulang.” Gia menurut lagi. “Nanti kalau aku udah kerja, aku bawa kamu ke tempat yang lebih mewah. Tapi gak menjamin rasanya seenak ini atau nggak.”

Gia spontan tertawa. “Kak Mika suka banget makan disini ya?”

“Iya. Dulu pertama kali makan disini sama mamah. Habis daftar ulang kampus, si mamah kelaperan. Nyari yang paling deket dan di pinggir jalan aja biar gampang naik angkotnya.”

Sekarang Gia jadi penasaran, seperti apa Mikael lima tahun yang lalu. Mikael yang selama ini Gia kenal baik dan sangat sopan. Gia belum pernah lihat adam itu marah atau sekedar memaki jika sesuatu tidak berjalan dengan kehendaknya. Gia ingin tahu lapis lain dari seorang Mikael Narendra. Apakah mungkin jika Gia lahir di tahun yang sama dengan Gia, ia bisa menjadi teman yang menyaksikannya bertumbuh?

“Aku dengar kak Andre habis lulus mau pindah ke Jakarta. Apa kak Mika juga sama?”

Ah, janji itu. Janji yang dibuat oleh Mikael, Andre, dan Karlos ketika mereka masih menjadi mahasiswa bau kencur dulu. Janji ketiga sahabat yang ingin mengubah dunianya ke tempat yang, menurut mereka di masa lalu, lebih baik. Janji tetap lah janji. Harus ditepati. “Iya. Aku diminta seniorku untuk ikut dia ke perusahaan tempat dia kerja sekarang. Belum ngabarin lagi sih orangnya. Kemungkinan sebelum wisuda aku berangkat ke Jakarta,” jelas Mikael.

Gia merasa senang sekaligus kecewa. Senang karena Mikael bisa mendapatkan pekerjaan dengan cepat. Tetapi ada ruang kecewa di dalam hatinya, sebab setelah ini tidak ada lagi Mikael dan Karlos yang datang ke rumah Andre hampir di setiap Sabtu dengan segala tetek-bengek permasalahan tiga serangkai itu. Kampus juga pastinya akan terasa lebih sepi, karena diam-diam Gia berharap dirinya tidak sengaja bertemu lelaki itu di pelataran kampus.

“Nanti kalo aku pulang ke Jakarta. Aku samperin kak Mika, boleh?”

“Nanti kalo aku pulang ke Bandung juga aku pasti main ke rumah Andre.” Mikael tersenyum.

Gia tidak bersuara lagi. Sementara itu, atensi Mikael teralihkan ke arah ponselnya. Dia sekarang sibuk memilih foto yang bagus dan tidak goyang hasil jepretan Piyan setelah Mikael selesai sidang tadi, lalu mengirimnya ke grup Whatsapp keluarga. Selang beberapa detik setelah foto terkirim, masuk banyak pesan balasan dari Ibu dan kakak Mikael di grup itu.

“Kak Mika..”

“Ya?”

“Kapan-kapan kalau kak Mika gak sibuk, aku boleh main sama kakak kayak gini?”

Fokus Mikael yang semula berada pada layar ponsel, kini jatuh di mata Gia. “Kayak gini maksudnya makan mie yamin bareng? Kamu suka mienya? 'Kan Gia belum coba.”

Gia mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan, berusaha tidak menangkap sorot mata lelaki di hadapannya. “Anu… Maksudnya aku sama kak Mika pergi main, tapi jangan ada A Andre atau Kak Karlos. Kak Mika paham kan maksud aku?”

*Paham*. Tapi gimana cara membalasnya, Mikael bingung. Ia mengerti maksud dari perkataan dari gerak-gerik GIa, namun rasanya akan kurang sopan jika Mikael tidak bicara dan izin terlebih dahulu pada Andre. Bagaimana pun juga Andre berhak mengetahui kondisi yang ada di antara dia dan adik sepupunya.

“A, dua porsi kan?”

Dalam hati, Mikael langsung berterima kasih pada semesta dan bagaimana ia bekerja dengan semestinya. Mamang penjual mie yamin datang di saat yang tepat—bagi Mikael, tentunya. Mengisikan dua porsi mangkok berisi mie yamin menjadi alasan untuk Mikael menunda jawaban yang menggantung di pikirannya.

“Gi, dimakan dulu. Mumpung masih panas.”

Sementara Gia… AAAAAAARGH! Rasanya Gia mau masuk ke kamar detik ini juga, lalu bergelung di bawah tumpukan selimut. Gia malu sekali, terlihat dari pipinya yang mengeluarkan semburat merah muda. Maaf kalau Gia doanya jelek, tapi semoga Kak Mika kepentung sesuatu terus lupa sama apa yang Gia udah omongin tadi.

“Ini.”

Tiba-tiba Mikael meletakkan ponselnya di depan mangkok mie yamin Gia. Gadis itu sontak mendongak dan bertanya, “Ini apa, Kak Mika?”

“Itu coba tulis nomor kamu disitu. Nanti kalau mau main, aku kabarin,” jelas Mikael menyengir kaku memperlihatkan deretan giginya yang menurut Gia sangat lucu.

Desiran darah serasa bergerak lebih cepat di sekujur tubuh Gia. Binar mata gadis cantik itu berubah sesaat setelah Mikael bertitah. Dipastikannya angka-angka yang terangkai tersebut tidak salah. Tuhan, maaf. Aku tarik kembali ucapanku sebelumnya. Jangan buat Kak Mika lupa, Tuhan. Jangan.

“Udah kesambung ya, Gi,” kata Mikael setelah melakukan panggilan ke nomor yang sudah ditulis Gia. Memastikan bahwa nomornya tidak salah.

“Udah, kak.”

“Sekarang ayo dimakan mie yaminnya.”

Gia sudah berkali-kali makan mie yamin, tetapi yang ini rasanya yang paling manis.