Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-09-12
Words:
585
Chapters:
1/1
Kudos:
2
Hits:
55

Monolog Penyangkalan

Summary:

"Aku membencimu dan aku tidak akan merelakanmu."

Work Text:

Kabar kehilangan datang dan aku tak tahu cara menyambutnya.

Tubuhku ditarik menjauhimu yang tertidur tenang. Kata mereka, kau telah tiada.

 

"Relakanlah."

 

Apanya yang direlakan? Ini semua bahkan tidak nyata untukku.

Aku mana mungkin percaya. Kau masih ada, mataku masih menangkap ragamu. 

Aku tidak percaya. Kau selalu berpamitan sebelum pergi. Hari ini kau tidak katakan apa-apa, jadi, kau masih ada. Tidak akan ke mana-mana.

Kemudian, sekelilingku mulai ribut suara tangis dan bisik-bisik memuakkan. Aku jadi ingin cepat-cepat pergi.

Kalau ada kau, kau pasti bawaku pergi dari sini, kan?

 

"Ikut aku ke belakang."

"Untuk apa?"

"Di sini ramai orang. Di sana hanya kita berdua."

 

Jadi, kenapa belum kau bawa aku pergi dari sini?

Apa benar karena kau telah tiada? 

Apa?

Jadi, mereka benar? 

Kau telah tiada?

Mengapa?

Apa denganku tidak cukup kasih sayang?

Apa ada bahagia lain di tempat baru yang ingin kau datangi?

 

Tak ada satu pun pertanyaan beruntunku yang kau sahuti.

 

Kenapa? Aku perlu bertanya sebanyak apa?

 

Dan diammu, seketika jadikan rongga dadaku sesak, jadikan ujung lidahku kelu, jadikan gendang telingaku tuli, jadikan sekujur tangan kakiku lumpuh. Jadikan seluruh organku disfungsi seketika. 

Aku bagai lampu yang sakelarnya dimatikan tiba-tiba. 

 

"Katanya cinta, tapi ditinggal mati ia tak menangis rupanya."

 

Kalau tangisan adalah bukti cinta. Maka tangiskulah yang harusnya paling nyaring terdengar dan paling lama usai.

 

Seharusnya....

Lalu, mengapa air mataku tak kunjung turun seperti semua orang di sekitarku?

Apa benar aku tak cinta?

Kejam sekali aku.

Kejam sekali aku padamu....

Harusnya aku menangis.

Harusnya aku menangisimu....

Harusnya aku menangis bila aku mencintaimu.

Aku yakin aku mencintaimu....

Atau mungkin, karena yang aku tak yakin ialah kau telah pergi.

Jadi, aku menangisi apa kalau begitu?

 

Lalu, di beribu detik kemudian, ketika sakelarku kembali dihidupkan, aku meledak—aku disadarkan, dihadapkan pada realitas.

Seluruh organ yang mati rasa mendadak dijalari rasa sakit yang tak pernah kuderita sebelumnya.

Air mataku tumpah, semua suara seakan berlomba menusuk gendang telingaku, setiap tangan yang mencoba meraih dan menenangkan seakan menikamku, semua orang yang datang menghampiri rasanya ingin kuteriaki satu-persatu. 

 

"Kau bukan Leehan, berhenti mendekatiku!"

 

Lalu, perlahan aku menjelma jadi seonggok boneka yang hanya kebetulan diberi napas. 

Seminggu penuh meringkuk di atas ranjang tanpa terganggu oleh rasa lapar dan haus sementara air mata terus mengalir. Air mata terus mengalir hingga sepertinya habis, menyisakan sedu-sedan yang masih belum mau berhenti meski mati-matian kutahan.

Aku menangis sejadi-jadinya seakan dengan menangis orang mati dapat kubangkitkan kembali.

Aku harap imajinasiku yang itu nyata. Maka, aku hanya perlu menangis lebih banyak lagi, lebih lama lagi.

Jadi, kuharap sang waktu mau berhenti sejenak, setidaknya tunggu hingga air mataku cukup.

Tunggu aku pulih. Aku sungguh tak terbiasa dengan rasa sakit ini. 

Namun, waktu sungguhlah jahat, sama sepertimu yang pergi tanpa salam perpisahan. Separah apa pun luka yang kuderita kini, waktu sungguh tak mau peduli. Kau juga tidak.

Waktu terus berjalan maju dengan tak acuh. Tidak menungguku barang sedetik pun.

Ketika mataku menangis, waktu berjalan. Ketika tubuhku meringkuk menyedihkan, waktu berjalan. Ketika mulutku mengeluh, waktu berjalan. 

Waktu terus berjalan maju, menoleh sejenak pun ia enggan.

Pada akhirnya, aku yang harus mengejar waktu sembari menyeka air mata, sembari mengutuk takdir, sembari tersungkur berdarah-darah, sembari berdoa penderitaanku disaksikan olehmu, supaya kau bersedih dan menyesal telah meninggalkanku seorang diri.

Setidaknya, membayangkan engkau, Leehan, yang bersedih dan memohon ingin kembali kemari membuatku tertawa.

 

Lihat apa yang kau lakukan padaku! Ini hukuman! Tangisku hukuman untukmu! Aku membencimu! Aku tidak akan merelakanmu!

 

"Kalau kau mencintai Leehan, maka kau harus merelakannya, Riwoo."

 

Persetan. Aku tidak butuh diajari caranya mencintai.

 

Lagipula sudah kukatakan, aku membencimu dan aku tidak akan merelakanmu.