Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-09-14
Words:
791
Chapters:
1/1
Kudos:
28
Bookmarks:
5
Hits:
240

Find You

Summary:

George menghilang dalam cepatnya dunia balapan bergerak. Max hanya ingin melihatnya, melihat bagian dari dunianya.

Work Text:

Angin sore berhembus pelan melintasi ladang gandum di pedesaan Yorkshire. George menyeka keringat di dahinya, lalu menyandarkan beban tubuhnya pada tongkat kayu ek di tangan kanannya. Kakinya yang tak lagi sekuat dulu terasa sedikit kaku, namun senyum tipis menghiasi wajahnya.

Tragedi di penghujung musim 2026 itu telah merenggut kecepatan dan karir balapnya, tapi di tanah ini, ia menemukan nyawanya kembali.

Ia memilih menghilang tak lama setelah keluar dari rumah sakit. Tidak ada wawancara perpisahan, tidak ada sorotan kamera, dan tidak ada tatapan iba dari rekan-rekan paddock-nya. Hanya dia, ladang pertanian impiannya, dan keheningan yang menyembuhkan.

Namun, sore itu keheningan pecah oleh deru mesin mobil yang terdengar canggung di jalanan berbatu menuju peternakannya. Sebuah mobil SUV hitam berhenti di dekat pagar. Pintu terbuka, dan dari sana, sosok yang sangat ia kenal melangkah keluar.

Max Verstappen.

Wajah juara dunia itu tampak lebih dewasa, dengan garis kelelahan yang tergambar jelas di wajahnya. Selama empat tahun, Max tidak pernah berhenti mencari. Ketika dunia Formula 1 perlahan melangkah maju dan melupakan George Russell, Max menolak untuk menyerah pada hilangnya kawan sekaligus rivalnya itu. Walau dia berkali-kali menyangkal perasaanya. Tapi Max menyadari bahwa ada bagian dunianya yang hilang dengan kepergian George.

"Kau benar-benar membuatku repot, George," suara Max memecah jarak di antara mereka. Nada suaranya bergetar—sebuah perpaduan antara lega, frustrasi, dan kerinduan yang mendalam.

George terkekeh pelan, tawa yang tulus dan ringan. Ia berjalan tertatih menghampiri Max, tongkatnya menancap mantap di tanah yang gembur. "Dan kau masih saja keras kepala, Max. Apa yang membawamu ke antah berantah ini?"
Mata Max turun menatap tongkat George, lalu beralih ke pakaian flanel dan tangan sahabatnya yang kini kasar karena bekerja di ladang. "Aku datang untuk membawamu kembali ke peradaban. Atau setidaknya... memastikan kau tidak hancur sendirian di sini."

George tersenyum penuh kehangatan. Ia menepuk bahu Max, mengisyaratkan pria itu untuk mengikutinya berjalan ke beranda rumah kayunya. Dari sana, hamparan hijau ladang, domba-domba yang merumput, dan matahari terbenam menyajikan pemandangan yang luar biasa damai.

"Dulu, saat aku bangun dan menyadari aku tidak akan pernah bisa menginjak pedal rem dengan normal lagi, aku pikir itu adalah akhir duniaku," ucap George pelan, pandangannya lurus ke arah matahari terbenam. "Tapi lihatlah ini, Max. Aku tidak hancur. Aku tidak bersembunyi karena aku menderita. Aku di sini karena aku akhirnya menemukan kedamaian."

Max terdiam. Ia datang melintasi benua dengan ekspektasi menemukan seorang pria yang patah hati dan terpuruk dalam trauma. Namun yang ia temukan adalah seorang George Russell yang utuh—lebih damai, lebih bahagia, dan benar-benar bebas dari tekanan dunia yang selama ini mengikat mereka.

Max menghela napas panjang, melepaskan beban rasa bersalah dan kekhawatiran yang ia bawa selama empat tahun terakhir. Ia menyandarkan punggungnya di pagar kayu beranda, ikut menikmati angin sore yang sejuk.

"Kau menang kali ini, George" gumam Max, sudut bibirnya akhirnya terangkat membentuk senyum yang terasa begitu lama ia nantikan.

Cahaya keemasan matahari terbenam mulai memudar, digantikan oleh temaram malam yang dihangatkan oleh lampu-lampu kecil di sekitar beranda rumah batunya. Suasana yang tadinya diwarnai gurauan ringan kini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam.

Max tidak lagi bersandar di pagar. Ia melangkah mendekat, perlahan menyejajarkan dirinya di hadapan kursi kayu tempat George duduk. Tangan Max terulur, jemarinya yang hangat menutupi tangan George yang masih bertumpu pada tongkat kayunya. Sentuhan itu ragu pada awalnya, namun kemudian mengerat, seolah Max takut George akan kembali menghilang jika ia melepaskannya.

"Kau bilang kau menemukan kedamaian di sini, George," suara Max terdengar serak, nyaris seperti bisikan yang terbawa angin malam. Mata birunya menatap lurus, memancarkan kerentanan yang tidak pernah ia tunjukkan kepada dunia. "Tapi bagaimana denganku? Empat tahun, George... empat tahun aku mencarimu ke setiap sudut."

George terdiam, napasnya tertahan melihat rasa sakit dan kejujuran di mata pria di hadapannya.
"Alex, Charles, Lando, Oscar... mereka semua menantimu. Mereka merindukan senyummu, tawamu di paddock," lanjut Max, ibu jarinya kini mengelus punggung tangan George dengan lembut.

"Tapi bagiku... kekosongan itu menyiksaku setiap malam. Aku tidak hanya kehilangan seorang teman atau rival. Aku kehilangan separuh dari diriku. Aku merindukanmu, George. Sangat merindukanmu."

Mendengar pengakuan itu, benteng pertahanan yang dibangun George selama bertahun-tahun perlahan runtuh. Ia melepaskan genggamannya pada tongkat, membiarkan kedua tangannya menangkup wajah Max. Jari-jari kasarnya membelai rahang Max, mencoba menghapus jejak kelelahan dan pencarian bertahun-tahun di sana. George tersenyum, kali ini dengan mata yang berkaca-kaca.

"Maafkan aku karena membuatmu merasakan hal itu max," bisik George lembut. "Aku mungkin tidak bisa lagi berlari bersamamu di lintasan, Max. Tapi aku di sini sekarang. You found me"

Max memejamkan mata, menghela napas panjang seolah beban berton-ton baru saja terangkat dari dadanya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menyandarkan dahinya pada dahi George. Napas mereka berbaur dalam keheningan malam Yorkshire yang damai. Di bawah langit berbintang, tidak ada lagi ambisi kejuaraan—hanya dua pria yang akhirnya menemukan jalan pulang ke hati masing-masing.