Work Text:
Kalau Juni ditanya, apa sih yang bikin dia naksir sama Jemi? jawabannya cuman karena Jemi itu spesial.
Seakan Jemi itu nasi bungkus karet dua. Jemi itu duduknya tepat di depan meja Juni di kelas. Awalnya sih meja mereka terpaut jauh. Tapi karena ada insiden di akhir semester kemarin di mana salah satu teman mereka ketahuan menyontek, maka wali kelas mereka memutuskan bahwa mereka akan dipisahkan menjadi meja-meja sendiri dan diatur berdasarkan absen. Kebetulan absen Jemi dan Juni atas bawah, makanya mereka jadi duduk berdekatan.
Jemi bahkan nggak kelihatan di matanya sampai mereka akhirnya duduk depan belakangan. Jemi orangnya nggak menonjol. Dari antara hampir 40 siswa di kelas, Jemi itu cuman kelihatan kayak tumpukan jerami di antara sesama jerami.
Kedekatan mereka awalnya tercipta karena Jemi waktu itu lupa beli stip x dan akhirnya untuk pertama kalinya mengajak Juni ngobrol karena dia mau pinjam punya Juni.
Sepele.
Tapi itu tuh yang bikin mereka akhirnya ngobrol lebih sering sampai Juni diam-diam naksir. Perasaannya itu lahir begitu aja tanpa permisi. Bahkan saat Juni sendiri sebenarnya nggak pengen naksir siapa-siapa.
“Juni, ada stip x?”
Mungkin awalnya Juni heran aja kenapa Jemi selalu nggak bawa stip x dan hampir tiap hari dan tiap nugas malah minjem terus. Dia nggak tau aja kalau Jemi udah mulai nyaman cuman minjem dan simpan uang jajannya nggak dibeliin stip x lagi.
Selayaknya meja sekolah negri kebanyakan, meja mereka juga banyak banget bekas corat-coret yang diturunkan dari kakak mereka sebelumnya. Gambarnya macam-macam. Mulai dari dua nama yang digabung pake emot cinta, gambar aneh-aneh, sampai misuh-misuhin guru juga ada di situ.
Juni itu punya satu kakak tingkat yang dia kagumin dari dulu, namanya Kak Feri. Dia berada di dua kelas lebih tinggi dari mereka. Anak basket. Tinggi plus ganteng. Kak Feri ini banyak banget fansnya. Ya wajar sih. Selain cakep Kak Feri juga pinter, suka wakilin sekolah buat olimpiade dan selalu menang. Dia tipekal yang sering dipanggil tuh kalau senin abis upacara.
Juni sih waktu itu iseng aja nulis nama si kakak di mejanya pakai stip x. Kecil sih tulisannya. Tapi Jemi terlampau hapal sebanyak apapun coretan di meja Juni. Jadi waktu dia notis, alisnya mengkerut tak suka.
“Ngapain kamu tulis nama dia?” tanya Jemi sambil menunjuk coretan yang baru kering itu. Juni mengerjap. Nggak nyangka kalau Jemi notis.
“Ya gapapa…” cicit Juni. Tiba-tiba merasa berdebar. “Emang nggak boleh?”
Jemi nggak jawab lagi, tangannya bergerak buat membuka kotak pensil Juni tanpa permisi. Cari minyak kayu putih yang selalu dibawa Juni karena dia selalu suka cium-cium baunya. Tangannya membuka tutupnya, lalu tumpahkan sebagian kecil di atas coretan nama kakak ganteng itu.
Kini gantian Juni yang mengernyit, “Kamu ngapain, Jem?”
“Hapus.”
“Hah?” Juni membulatkan mata. Melihat jari Jemi bergerak menghapus coretan itu. “Kenapa Jemi?”
Lagi-lagi Jemi nggak menjawab. Waktu coretan itu sudah hilang, Jemi hapus sisanya pakai sisa tisu yang ada di saku celananya. Tangannya bergerak mengambil stip x Juni, menuliskan coretan baru di atas tempat yang baru saja dia hapus.
‘Jemi’
“Gini aja. Bagus.”
Juni bahkan nggak sadar kalau pipinya merona. Tulang pipi hingga telinganya menghangat. Jemi mengipas-ngipasi hasil karyanya agar cepat kering. Setelahnya dia berbisik ke Juni, “Jangan dihapus ya, Juni.”
Seakan Juni itu punya dia. Dan dia cemburu kalau ada nama lain yang Juni tulis di sana.
Selain selalu kasih hint ambigu kayak di atas, Jemi itu juga jahil banget ternyata orangnya. Juni itu posisinya ketua kelas. Dia sering ambil buku temen-temennya di ruang guru dan Jemi suka menawarkan diri untuk membantu. Juni sih senang-senang saja dibantu, tapi Jemi suka sengaja mengambil tumpukan buku yang ada punya Juninya, lalu buku Juni dia sembunyikan sampai Juni panik sendiri.
Juni bolak-balik cek meja teman-temannya satu-satu dan pastikan kalau dia nggak salah membagikan. Karena gimana ceritanya bukunya malah hilang? Sedangkan Jemi sendiri udah ketawa-ketawa dalam hati liat muka Juni yang lucu waktu panik.
“Juni, coba liat.” Jemi bawa angkat buku Juni waktu keliatan dia mau nangis. Lalu dengan perasaan jengkel Juni bawa tungkainya mengejar Jemi yang malah lari bawa bukunya. Waktu terpojok dan tak ada jalan lari lagi Juni mendekat, mau meraih buku yang disembunyikan Jemi di balik tubuhnya. Tapi yang ada malah Juni hampir mencium Jemi.
Waktu itu Jemi bisa merasakan napas hangat Juni menerpa wajahnya. Juni sendiri nggak sadar kalau jarak mereka sedekat itu sampai wajahnya mendongak dan bola mata mereka ketemu. Terlampau dekat. Terlampau kecil jarak mereka. Tepat di depan hidung Juni, ada bibir Jemi.
Juni menggelengkan kepalanya.
“Jemi! Balikin!”
Lalu Jemi yang nggak tega terus-terusan isengin Juni akhirnya mengembalikan buku Juni. Jemi bisa lihat berkas kemerahan di pipi Juni yang kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Jemi mengulum senyumnya.
“Juni tau gak Hewan apa yang bersaudara?”
Jemi dan sejuta jokes bapak-bapaknya itu. Juni tuh sebenernya udah kenyang banget sama acara tebak-tebakan dadakan Jemi. Jawabannya selalu receh cenderung nggak lucu. Tapi entah kenapa Juni nggak bisa bilang enggak waktu Jemi balikkan tempat duduknya buat sekali lagi lempar jokes anehnya itu.
“Katak beradik?” Juni jelas tau jawaban jokes itu, kan itu jokes klasik yang juga sering dilempar ayahnya di rumah.
Kemudian Jemi ketawa, “Kok bisa tau? Pinter Juni.”
“Jokes kamu mirip jokes ayah aku di rumah,” komentar Juni.
Jemi itu orangnya cenderung jarang skinship dan kelihatan nggak terlalu nyaman juga skinship yang terlalu banyak sama orang lain. Tapi entah kenapa pas sama Juni, dirinya seakan rela mau diapakan.
Juni suka mainin rambut Jemi yang mulai panjang dan menutupi kening cowok itu. Juni suka pinjam karet rambut teman perempuannya, lalu memakaikan ke Jemi. Dan Jemi? Diem aja. Kadang nggak beraturan juga tuh kepalanya dibuat, tapi dia nggak pernah protes. Kepalanya terkulai pasrah di atas sandaran bangku, membiarkan Juni melakukan sesukanya terhadap kepalanya.
Ada suatu hari, Jemi dan Juni lagi ada ulangan harian fisika. Dari semenjak menit awal, Jemi tuh udah balik badan dan bilang kalau dirinya nggak punya coretan. Niatnya mau pinjam secarik kertas sama Juni. Tapi kebetulan Juni juga udah nggak ada sisa kertas yang bisa dibagi, ada sih satu halaman kosong tapi udah nggak bisa ditarik karena takutnya kertas di depannya ikut rontok. Jadi Juni tawarkan buat kerjakan di satu buku yang sama, cuman untuk mencoret berdua.
Juni bahkan nggak sadar ada bisik-bisik di sekitar mereka. Memekik gemas sampai siulan rendah dengan kata ‘cie cie’ yang ditujukkan ke mereka. Sampai suaranya makin nyaring dan Juni terpecah fokusnya. Waktu dia menoleh ke arah sumber suara. Seisi kelas sudah ngetawain mereka berdua dan sibuk menggoda. Bahkan gurunya juga ikut memerhatikan dengan senyum tertahan, si Ibu bilang,
“Kita ulangan dulu ya, pacarannya nanti dulu.”
Pipi Juni merah lagi deh.
Karena sadar kondisi kelas yang makin ricuh, Jemi jadi balik badan deh. Waktu itu ada debar kencang di dalam rusuk dadanya. Tapi ujung bibirnya berkedut ingin naik. Ada rasa membuncah di hatinya. Jemi somehow suka dikatain pacaran sama Juni.
Juni mulai cerita dengan temannya yang lain. Dan mereka setuju kalau Jemi pasti juga memiliki perasaan yang sama dengan Juni. Jemi tuh cuman begitu sama Juni. Sudah jelas dia juga suka sama Juni.
Intinya itu sih yang Juni yakini sampai tiba-tiba Jemi jadi nggak seramah dulu.
Waktu pinjam barang, Jemi udah nggak ucapkan ‘makasih’ dengan lembut lagi. Jemi cuman taruh sembarang di meja Juni cenderung melempar. Juni kaget, tapi nggak bertanya. Jemi sudah jarang balik badan buat nanya sesuatu sama Juni atau sekedar lempar lelucon recehnya seperti dulu. Jemi lebih suka diam dan bermain dengan yang lain.
Sampai Juni bingung sendiri apa yang terjadi dengan Jemi.
Waktu penaikan kelas makin dekat. Juni sudah nggak sedekat itu dengan Jemi. Yang dulunya Jemi suka mengobrol kisi-kisi ujian dengan Juni, sekarang udah nggak lagi.
Tapi dalam hati dia berharap kalau nanti dia bisa satu kelas lagi sama Juni.
Sampai ketika pembagian rapot tiba, Juni meraih juara satu di kelasnya. Jemi menyimpan rasa bangga di lubuk hatinya, tapi nggak berani langsung ucapkan selamat ke Juni waktu dipanggil ibu guru.
Jemi sendiri nggak tau apa yang membuat dia tiba-tiba ragu. Jemi nggak menyangkal kalau dia jelas nyaman sama presensi Juni. Untuk pertama kali di dalam hidupnya, Jemi merasa hal begini ke orang lain. Kalau kata temannya, itu bisa jadi karena Jemi suka sama Juni.
Tapi Jemi teringat kalau mereka sama-sama laki-laki, memang boleh?
Jemi jadi bergulat dengan isi pikiran sendiri. Juni sendiri sudah menempati satu sudut di hatinya. Yang jadi hangat karena Juni. Tapi Jemi berusaha sekuat tenaga buat usir Juni dari sana.
Sulit sekali rupanya pura-pura tidak peduli.
Waktu penaikan kelas, ternyata doa Jemi nggak dikabulkan. Mereka pisah kelas. Walau kelas mereka nggak terletak jauh, tapi tetap aja beda ruangan. Jemi nggak bisa lagi ngerasain pinjam-pinjam barang Juni.
Atau sekedar menikmati senyum Juni yang manis itu.
Juni ada di kelas yang isinya anak-anak yang juga sama juara kelas. Kelas unggulan lah kalo boleh disebut. Sedangkan Jemi ada di kelas biasa. Salah satu teman karibnya yang namanya Romy satu kelas dengan Juni. Dulu Juni dan Romy rival untuk berebut predikat juara satu. Dan waktu mereka sekarang sekelas, Romy malah jadi lebih dekat dengan Juni.
Jujur ada sesuatu yang mengganjal dan membakar di sudut hatinya waktu lihat Romy bahkan satu meja dengan Juni. Duduk berdua dan berbagi headset. Romy mengaku penasaran dengan lagu yang suka didengarkan Juni dan Juni dengan senang hati membagi. Tapi penampakan itu nampak terlalu intim bagi Jemi yang dulu bahkan suka diacak-acak rambutnya dengan Juni. Jemi tidak suka.
Tapi Jemi pun belum berani suarakan cemburunya.
“Jem, kenal Juni anak kelas H nggak?”
Waktu itu tiba-tiba temannya yang bahkan nggak satu kelas dengan dirinya dulu datang menanyakan hal tersebut ke Jemi. Saat Jemi tanya ada keperluan apa, jawabannya sukses bikin hati Jemi makin panas.
“Cantik anaknya, pinter lagi, kira-kira udah punya pacar belum, ya?”
Jemi bahkan nggak tahu kalau Juni udah ada di tahap ada orang asing dari kelas lain yang naksir dia. Padahal Juni bukan orang yang aktif sana sini. Biasanya yang kenal dia cuman teman sekelas.
Dan temannya ini nggak main-main. Besokannya dia beranikan ajak Juni mengobrol.
Juni memang ramah. Waktu diajak kenalan dia terima dengan baik. Juni jadi suka mengobrol bahkan diajak jalan sama si teman Jemi ini. Di tahap ini Jemi bahkan sampai malas lewat depan kelas Juni karena malas berpapasan dengan cowok itu.
Jemi kangen masa-masa dulu dia bikin Juni ketawa. Bikin Juni senyum. Masa-masa Jemi bisa sepuasnya jahilin Juni sampai mukanya pias. Masa-masa Jemi cari seribu alasan buat ngobrol dengan temannya itu.
Tapi Jemi merasa kalau perasaannya lebih dari kata wajar. Mungkin dia nggak seharusnya ngerasa begini.
“Jem, tau gak Juni suka apa?”
Waktu temannya yang namanya Naufal ini tanya-tanya soal Juni, Jemi sebenarnya enggan member tahu. Tapi Jemi juga bingung apa alasan dia buat nggak kasih tau? Cemburu? Nggak, Jemi nggak cemburu. Jadi Jemi bantu deh si Naufal buat kenal Juni lebih dekat.
“Juni suka baca buku,” katanya. “Jangan kasih cokelat ke dia, dia nggak terlalu suka manisnya cokelat. Tapi beliin beng-beng aja, dia suka tuh.”
Jemi tau kalau tindakannya ini nggak perlu. Bahkan waktu Naufal mau kasih surat ke Juni juga dia bantuin. Jemi yang tuliskan bahkan. Waktu Juni menerima, Naufal bilang Juni bilang kalau dia suka semua pemberiannya. Seakan dia udah kenal Juni lama. Sudah kenal Juni dekat.
Jemi merasa dadanya diperas.
Selang dua bulan masa pdkt Naufal, akhirnya cowok itu beraniin diri untuk tanya Juni perihal jadi pacarnya. Jemi berharap Juni bakal bilang nggak, Juni tolak, Juni nggak terima.
Tapi ajah sumringah Naufal hari itu jadi jawaban telak untuk semua doa Jemi yang lagi-lagi ditolak.
Juni jadi sering dibawa Naufal ke kelasnya. Otomatis itu membuat Jemi dan Juni kembali bertemu. Sayangnya nggak ada obrolan lagi antara mereka walau manik mereka sering bersirobok. Bahkan Juni menghindari Jemi. Berusaha agar mereka tak bertemu. Meminimalkan interaksi.
Jemi meyakinkan diri sendiri kalau dirinya nggak perlu sedih. Karena untuk apa sedih? Harusnya dia senang kalau temannya sukses menggaet pujaan hatinya. Jemi kan udah bantu. Jadi harusnya dia ikut senang dong?
Tapi Jemi juga nggak bisa bohong kalau dadanya berdetak ribut tiap lihat figur Juni di bayang-bayang koridor. Waktu Juni di luar kelas. Waktu Juni mampir ke kantin. Waktu Juni gandengan dengan Naufal. Di depan mata Jemi.
Malam itu Jemi duduk di bangku meja belajarnya. Matanya menatap sayu layar ponsel di mana Juni nampak tersenyum lebar ke arah kamera dengan Naufal menggandeng tangannya.
Apa harusnya dia peluk ya perasaannya dulu? Apa harusnya dia bilang maaf ke Juni karena tiba-tiba menjauh? Apa harusnya dulu dia ngaku kalau dia suka sama Juni?
Jemari Jemi bergerak ambil selembar kertas di bawah kotak pensilnya. Sekarang kotak pensilnya udah diisi lengkap. Karena dia udah nggak pinjam ke siapa-siapa lagi. Mengingatnya Jemi jadi tersenyum sendiri. Jemi tulis satu kalimat.
‘Juni, aku kangen.’
Kertas itu dia pandangi sebentar sebelum dia remas dan akhirnya masuk ke dalam tong sampah di dekat kaki.
Jemi merasa nggak pantas rindu dengan pacar orang.
