Actions

Work Header

Delicate

Summary:

Kang Pio adalah satu-satunya orang terdekat Jeongyo sekarang.

Atau, Jeongyo menyadari bahwa dirinya menyukai Pio lebih dari teman.

Work Text:

Jeongyo menguap, mengedipkan matanya perlahan membiaskan cahaya, rasa sakit di tubuhnya menyerbu inderanya. Butuh beberapa detik untuk dia menyadari bahwa tubuhnya yang kaku terlalu lama di posisi miring, tengah memeluk seseorang. Tidak... Dia sedang memeluk Kang Pio...

 

Tubuh hangat Pio menenangkan. Jeongyo tidak peduli tubuhnya mengerang kesakitan karena posisinya sekarang. Bahkan sebaliknya, dia hampir menutup matanya kembali, sebelum kejadian semalam membuat matanya terbuka lebar.

 

Sialan, bagaimana dia bisa se-mesum itu melakukan—oh, Jeongyo tidak ingin melanjutkan kalimat itu—bayangan wajah Pio yang memerah sudah cukup membuatnya tersipu malu dan... Tentu saja penisnya yang bodoh sangat tertarik sehingga memilih untuk mengeras di waktu yang tidak tepat.

 

Tapi sungguh, awalnya dia tidak bermaksud melakukan hal tidak senonoh itu. Dia hanya berniat ingin menenangkan Pio dari kegelisahannya. Namun, entah mengapa dia memilih melakukan mastrubasi bersama untuk menghilangkan stres.

 

Lagi pula, jangan salahkan Jeongyo yang tidak tahan melihat wajah tampan Pio—tidak bisa dipungkiri Pio sangat tampan, cantik, dan manis—siapapun akan bertekuk lutut untuk mendapatkan cintanya. Sosok yang harus dijaga dan disayangi setelah melihat betapa rapuhnya dia. Jeongyo menggelengkan kepalanya, pikirannya mengembara ke hal yang tidak mungkin akan terjadi. Dia butuh mandi air dingin untuk menghilangkan pikiran anehnya.

 

Namun, mau berapa kali pun Jeongyo mengelak, perasaannya terhadap Pio mulai berubah. Entah sejak kapan dia mulai menyukai Pio lebih dari teman. Mungkin semenjak dia pertama kali merasakan bibir manis Hyunsu di bibirnya—bahkan setelah hari itu, dia masih bisa merasakan betapa lembutnya bibir itu.

 

Saat itu jantungnya berdetak kencang melihat Pio menyiapkan puluhan atau mungkin ratusan lilin, berupaya membantunya menghilangkan demam panggung. Pio juga mulai banyak tersenyum mendengar candaan absurd nya. Sehingga Jeongyo terpaku mengikuti instingnya, mencium bibir Pio yang terlalu menggoda untuk ditolak. Reaksi remaja itu sungguh lucu, tampak kebingungan, tapi tidak menolak. Jeongyo harus menahan diri untuk menciumnya kembali.

 

Dan semalam, mereka melakukan lebih dari sebuah ciuman. Apa itu bisa dihitung hubungan mereka memiliki sedikit kemajuan?

 

Jeongyo tahu, dia tidak bisa menyatakan cintanya langsung pada Pio. Tapi mengingat kejadian semalam, kepercayaan dirinya sedikit meningkat ingin mengungkapkan perasaannya secepat mungkin.

 

Lamunan Jeongyo tentang Pio terhenti merasakan pergerakan Pio di pelukannya. Remaja itu membuka matanya yang indah perlahan lalu menatapnya.

 

Oh, Tuhan... Jantung Jeongyo benar-benar tidak bisa berhenti berdetak kencang hanya melihat senyum malu-malu Pio dengan pipi memerah berusaha memalingkan wajah.

 

"Pagi." Jeongyo memberikan senyum terbaiknya.

 

"Pagi..." Jawab Pio terlalu pelan—suaranya serak khas seseorang baru bangun tidur—jika mereka tidak sedekat ini Jeongyo tidak akan mendengarnya.

 

Mereka hanya saling memandang dalam diam, terlalu canggung untuk memecahkan keheningan, tapi diam-diam menikmatinya. Hari masih terlalu pagi untuk memulai aktivitas, tapi waktu terlalu sempit untuk kembali tidur. Masih ada waktu sejam untuk mereka sebelum pergi ke sekolah.

 

"Te-tentang semalam... Maaf, aku hanya terlalu banyak berpikir sehingga menjadi stres." Pio memulai percakapan duluan, menyinggung kegelisahannya semalaman.

 

Jeongyo yang mendengarnya tidak bisa untuk tidak tersenyum lembut, senyuman yang menenangkan. Tangannya otomatis terangkat mengelus pipi lembut itu yang terlalu menggoda untuk disentuh. Dia memberikan usapan paling lembut walau tangannya sedikit gemetar dan terasa kasar.

 

"Jika kau merasa sedih, atau sekedar melampiaskan keluh kesah mu. Kau bisa menceritakan semuanya padaku." Jeongyo menawarkan diri. Dia tidak mengenal kata lelah sebelum Pio mau membuka diri padanya. Dia sangat ingin mengerti dan mengenalnya lebih dekat.

 

Pio hanya menatapnya diam seolah mengobservasi, lalu mengangguk sebagai tanda persetujuan. Walau Jeongyo tampak ragu, senyuman tetap tersungging di wajahnya. Tidak ingin Pio merasa terintimidasi karena terlalu banyak dipaksakan.

 

Jeongyo bergeser, dengan berat hati melepaskan pelukannya, turun dari kasur. Merenggangkan tubuhnya yang benar-benar kaku karena tidur tanpa bergerak. "Baiklah, aku akan keluar mencari sarapan."

 

"Kita bisa beli bersama." Pio hampir turun dari kasur sebelum Jeongyo menghentikannya.

 

"Tidak, aku bisa sendiri. Kau bisa... Mandi atau mungkin kembali tidur? Terserah kau." Jeongyo mengambil hoodie acak di lemarinya, menciumnya sebentar, dahinya mengerut karena baunya. Berulang kali merutuki dirinya, merasa malu membawa Pio ke kamarnya yang berantakan. Dia membuat catatan pribadi bahwa sepulang sekolah dia akan membersihkan dan mencuci semua pakaiannya agar Pio semakin betah tidur bersamanya.

 

Ah, sial, Jeongyo sudah merasa rindu untuk berbaring bersama Pio kembali.

 

Pio tampak canggung duduk di kasurnya, "a-aku harus mandi. Uhmm.... Apa aku bisa meminjam bajumu, lagi?" Tanyanya ragu tapi berusaha terlihat santai.

 

"Oh, ah-" Jeongyo menggaruk tengkuknya merasakan semburat merah di pipinya yang panas. Matanya tidak bisa berpaling dari Pio yang masih mengenakan jaket miliknya semalam. Jeongyo menyayangkan harus mencucinya nanti, karena dia sangat menyukai aroma tubuh dan parfum Pio.

 

Sialan, dia semakin terdengar seperti orang mesum.

 

"S-sebentar aku akan mencari baju bersih." Dia berbalik kaku, membuka lemari mencari baju yang pas untuk Pio gunakan. Merasa sangat bersyukur tinggi mereka tidak terlalu berbeda jauh, hanya saja Pio tampak terlalu kurus darinya, pinggangnya sangat pas untuk dipeluk—Jeongyo sadarkan dirimu, berengsek—dia mencium semua pakaiannya satu-persatu sebelum merasa ragu menyerahkan baju kaos yang tampak usang dimakan usia. "Maaf, kau hanya bisa mengenakan ini." Dia menyerahkan baju dan celana pendek yang diterima Pio tanpa mengeluh.

 

"Terimakasih." Ucap Pio yang tampak berusaha untuk tidak mencium pakaian ditangannya.

 

"Apa kau juga ingin meminjam itu...." Tanyanya canggung, tidak berani mengatakan celana dalam.

 

"Itu?" Tanya Pio balik tidak mengerti.

 

"Itu, kau tahu maksud ku." Ulang Jeongyo, melirik ke arah bawah sebagai indikasi apa yang dia maksud.

 

Ada jeda sebelum wajah Pio memerah, menggigit bibirnya menahan malu. "T-tidak... Terimakasih."

 

"Ya, tentu saja. Kau tidak membutuhkannya, maksudku, ya, kau tetap membutuhkannya. Tapi...." Jeongyo tertawa canggung, membanting pintu lemari terlalu keras, "kau bisa mandi, aku akan membeli sarapan!" Seru Jeongyo, nadanya terlalu tinggi mengakibatkan Pio tersentak terkejut. Dia mengenakan sepatunya terburu-buru, pergi begitu saja tanpa melirik Pio.

 



Sesampainya di toko serba, Jeongyo bingung apa yang harus dia beli, lupa menanyakan pada Pio apa yang disukai remaja itu. Sehingga tanpa berpikir panjang, dia menenteng 1 bungkus plastik besar berisi beraneka macam jenis makanan. Mungkin dia harus mengajak Pio keluar sesekali untuk makan bersama...

 

Tidak, apa yang dipikirkan? Apa dia ingin berkencan dengan Pio? Sialan, Pio benar-benar berhasil membuat Jeongyo gila, atau mungkin dia yang mulai tergila-gila dengan Pio.

 

Setelah kembali, dia mendapati Pio duduk di kasur yang sudah rapi. Selimut yang semalam mereka berdua gunakan terlipat di atas tumpukan bantal. Bahkan kasur di bawahnya juga sudah tidak ada.

 

"Kau sudah datang." Pio mengangkat kepalanya menyambut kedatangan Jeongyo. Jeongyo yang bodoh tidak bisa untuk berhenti tersipu terus-menerus hanya melihat Pio yang mengenakan bajunya. Astaga, dia seperti anak gadis yang kasmaran.

 

Jeongyo berdeham, "Ya." Jawabnya singkat sebelum matanya menatap ngeri pada buku musik yang ada di genggaman Pio.

 

"Apa kau menulis lagu-"

 

Jeongyo menyambar buku itu sebelum Pio selesai berbicara, meletakkannya di tumpukan buku pelajaran di atas meja. "Tidak hahaha... Aku hanya, kau tahu, ketika stres aku biasa melakukan hal-hal aneh. Hahaha..." Dia mulai mengoceh lagi, memaksakan diri untuk tertawa, walau jelas terdengar dipaksakan dilihat bagaimana reaksi bingung Pio.

 

"Sudahlah, lupakan saja. Ini makanlah, kau terlihat sangat kurus." Jeongyo menyerahkan bungkusan, "dan sisakan untuk ku," lalu masuk ke kamar mandi dengan terburu-buru. Dia benar-benar harus mendinginkan kepalanya.

 



Rutinitas mereka seperti biasa, tidak ada yang berubah semenjak Pio menginap di kamar asramanya. Pergi sekolah bersama, latihan piano dengan guru Do.

 

Semenjak Jeongyo sering bersama Pio, semua masalah terasa hilang sejenak, tapi tentu saja tidak selamanya. Dia hampir lupa bahwa direktur Kim-preman yang bermasalah dengan ayahnya-tengah mengincar Pio, sehingga Jeongyo akan selalu berada di dekat Pio kemanapun remaja itu pergi.

 

Tapi terkecuali untuk sekarang. Pio mengatakan ingin pergi ke perpustakaan kota. Jeongyo sudah siap mengekori sebelum Pio menolaknya, meminta Jeongyo untuk kembali ke asrama lebih dulu, karena dia ingin pergi sendiri. Jeongyo ingin menolak, mulai membuat argumen agar dia bisa tetap menjaganya, tapi Pio sudah lebih dulu menaiki taksi, pergi meninggalkannya.

 

Sesampainya di asrama Jeongyo tidak bisa untuk berhenti mengkhawatirkan Pio yang pergi sendirian. Dia mengirim pesan namun tidak ada balasan, lalu menelpon tapi tidak diangkat. Kegelisahannya semakin menjadi, skenario bagaimana jika direktur Kim menculik Pio menghantuinya.

 

Seperti apa yang dia takutkan terwujud. Sebuah pesan ambigu masuk menampilkan nama preman yang mengincar ayahnya di layar ponsel miliknya. Tangannya gemetar membaca pesan itu berulang kali. Tanpa pikir panjang, Jeongyo mengambil jaketnya, berlari ke lokasi markas preman itu.

 

Sesampainya, Jeongyo hampir mengamuk bahwa direktur Kim berhasil menemukan ayahnya yang kini bersimbah darah. Namun, ada perasaan lega bahwa bukan Pio lah yang berada di posisi ayahnya sekarang.

 

Masalah itu masih jauh dari kata selesai. Demi bisa melunasi utang ayahnya, Jeongyo harus terpaksa meminta bantuan dengan kepala sekolah untuk menolong ayahnya. Walau bukan ayah kandung, Jeongyo masih menyayangi pria itu yang telah merawatnya.

 

Karena hal itu juga, Jeongyo tanpa sadar telah menjaga jarak dengan Pio. Membuat remaja itu berpikir bahwa Jeongyo terlalu muak dengan keberadaan dirinya yang menumpangnya di asrama, sehingga dia memilih untuk kembali pulang. Jeongyo tidak sempat menjelaskan kesalahpahaman itu, dan kini masalahnya bertambah karena dirinya kedapatan sedang memainkan piano di hadapan banyak tamu kakek Pio di rumah besar keluarganya.

 

Tentu saja Pio terkejut melihat Jeongyo berada dirumahnya. Sungguh kesalahpahaman ini semakin mengakar. Jeongyo meminta izin setelah menyelesaikan 1 lagu, beranjak pergi mengejar Pio yang terlihat sangat sedih dan marah, yang sangat jelas ditujukan padanya.

 

Jeongyo benar-benar berusaha menjelaskan, tapi Pio tidak mau mendengarkannya. Dia tahu ketegangan di antara Pio dan kakeknya, hanya saja dia tidak tahu akan separah ini. Membela Pio dihadapan pria tua itu hanya memperkeruh suasana. Jeongyo akhirnya mengerti mengapa Pio sangat ambisius bermain piano, walau keluarganya sendiri pun tidak menghargainya.

 

Setelah kejadian itu, Jeongyo merasa sangat bersalah mendengar Pio yang di rawat di rumah sakit karena mengalami pneumonia. Saat dia sudah berada di depan rumah sakit, berniat ingin menjenguk Pio, tentu saja ibu Pio tidak mengizinkannya dari telpon Pio. Mengingat wanita jahat itu sangat membencinya, dan terlalu banyak mempengaruhi Pio. Tapi entah bagaimana ibu Pio berubah pikiran menelponnya kembali, menyuruhnya untuk datang ke kamar Pio dirawat. Jeongyo menghela nafas lega Pio ingin menemuinya.

 

Jeongyo menutup pintu dengan canggung melihat belakang punggung Pio yang duduk di kasur. Kakinya melangkah mendekat, rasa ingin memeluk remaja itu begitu kuat. Dia sungguh merindukan Pio dari apapun.

 

Jeongyo berusaha mencarikan suasana dengan mengoceh tanpa henti, membicarakan sekolah dan mengatakan dengan jujur bahwa dia sangat merindukan kehadiran Pio.

 

Hubungan yang mereka jalin harus terpaksa merenggang lagi karena kesalahan Jeongyo. Pio memaksanya untuk ikut berpartisipasi di kompetisi Harmonie yang tidak dia inginkan. Terkadang Jeongyo tidak mengerti jalan pikiran Pio. Sifat labilnya yang berubah-ubah sungguh membuat Jeongyo frustasi.

 

Jeongyo tahu bahwa hubungan mereka terlalu rapuh, terlalu mudah hancur hingga berakhir salah satu dari mereka—atau mungkin mereka berdua—ada yang tersakiti.

 

Bagaimanapun, Jeongyo tidak bisa mengeluh. Karena dia akan melakukan apapun yang Pio inginkan, walau dia harus mengorbankan segalanya, untuk membangkitkan semangatnya.

 

Karena Pio adalah satu-satunya orang terdekat Jeongyo sekarang.

Series this work belongs to: