Chapter Text
Jarum jam di angka sepuluh, pintu kelas dibiarkan terbuka kali ini. Para siswa tidak duduk di bangku mereka masing-masing seperti biasa terlepas sedang ada guru di dalam. Di tengah-tengah keriuhan kecil dan pemandangan yang biasa diliihat tiap akhir semester. Jiho, anak laki-laki itu duduk sendiri di bangkunya. Sedari tadi matanya terus berlari pada ambang pintu yang terbuka, setiap ada orang yang masuk maka dia akan langsung melihat ke sana. Wajahnya yang selalu kecewa tiap kali orang yang masuk bukanlah orang yang dia tunggu-tunggu.
“Papa mana,” gumamnya cemas, sorot matanya tidak bisa tenang, kedua tangannya sedari tadi tampak gelisah di atas meja kayu yang masih baru.
Satu persatu nama mulai dipanggil. Jiho memejam dengan kepala menunduk, jantungnya berdebar tidak mengenakan dengan perasaan kecewa yang mulai berdatangan. Seingatnya pagi tadi sudah janji, papanya sudah janji akan datang tapi sampai pukul sepuluh lewat dan nomor absennya sebentar lagi dipanggil, Jiho tak kunjung melihat keberadaan papanya.
“Apa Papa lupa kelas aku dimana?”
“Lupa kalau jam sepuluh harus sudah di sini?”
“Papa kecelakaan di jalan?”
Pertanyaan terakhir sepertinya mulai sedikit masuk akal, pun membuat Jiho kian cemas dibuatnya. Walau sebenarnya sudah bukan menjadi sebuah pemandangan aneh lagi ketika bukan papanya yang datang. Di semester ini, tapi mereka berdua sudah janji, papanya mau berjanji untuk datang.
“Jiho.”
Namanya dipanggil juga akhirnya dan Jiho juga tepat melihat seseorang masuk. Pakaiannya yang rapi walau hanya kemeja dan celana jins yang sedikit usang. Senyum Jiho melebar, hatinya melega, langkahnya jadi lebih ringan sambil berjalan menuju meja guru di depan. Bersamaan dengan raut wajah papanya yang juga tampak lega karena datang tepat waktu. Sangat tepat waktu.
“Kalau dari laporan belajar Jiho selama semester ini, sayangnya ada penurunan ya, Papanya Jiho,” jelas guru yang berusia paruh baya. Dara berkacamata yang kini sedang melihat ulang catatan-catatan kecil tentang muridnya.
“Dari peringkat delapan turun ke dua puluh. Cukup drastis, ya. Jiho sebenarnya kelihatan kurang fokus kalau di kelas, nih. Terutama mata pelajaran matematika dan bahasa indonesia,” jelasnya lagi sambil memperlihatkan deretan angka berupa nilai tiap kolom mata pelajaran.
Kedua mata papanya melihat secara sekilas. Melirik sebentar pada Jiho yang tampak kembali cemas juga merasa tidak enak. Cukup kaget dibuatnya, ternyata dia jadi semalas itu belajar hingga peringkatnya turun drastis.
“Oh, gitu, ya, Bu Guru,” ujar Ryul memberi senyum sopan.
Raut yang tidak memperlihatkan ada keberatan atau rasa kecewa di sana. Sadar reaksinya membuat gambaran heran dari wanita paruh baya di hadapannya, dia hanya bisa menunduk kecil.
“Semester depan, Jiho harus kembali giat belajar, ya,” ucapan final guru sekaligus wali kelas Jiho sebagai penutup percakapan kecil mereka bertiga.
Lembar rapot sudah diambil, tandanya mereka bisa pulang dengan lebih cepat. Besok adalah dimana hari liburannya dimulai dan Jiho tidak bisa untuk tidak sangat senang, seharusnya. Namun kini justru kepalanya tertunduk selama berjalan keluar.
“Kenapa murung gitu, Adek?”
Ryul langsung sigap perhatikan putranya yang berjalan dengan gontai, dengan tas ranselnya yang tampak ringan. Langkahnya pelan hingga tertinggal di belakang. Mereka tiba di parkiran di luar sekolah, tepat di pinggir jalan yang sekarang ramai karena banyak orang tua yang hadir.
“Mau makan dulu di luar? Mau apa? Ayo, makan sama papa.”
Jiho menyebutkan keinginannya untuk makan apa. Sebuah restoran yang jarang sebenarnya mereka datangi. Tapi mengingat ini hari kenaikan kelas putranya, Ryul berpikir tidak apa-apa. Perayaan kecil-kecilan, sudah lama juga tidak kemari. Mereka makan di dalam ruangan ber-AC yang sejuk. Sedikit ramai di sini. Jiho dipesankan juga es krim sundae yang tidak ingat kapan terakhir kali dia makan.
“Papa, kenapa enggak marah?”
Di sela adegan makan mereka, Jiho bertanya masih dengan suasana hatinya yang murung. Suaranya kecil, kepalanya sedikit menunduk sambil makan. Sorot matanya jelas perlihatkan bahwa perasaannya tidak baik-baik saja sekarang.
“Marah?” Ryul bertanya kebingungan. “Kenapa harus marah?”
“Peringkat Adek turun. Kenapa Papa enggak marah?”
Ryul tidak pernah mengharapkan apa-apa pada putranya. Bagi dia yang terpenting Jiho bisa mengemban pendidikan. Tidak ada patokan bagaimana putranya harus belajar. Tak ada. Dirinya hanya perlu menyekolahkan anaknya dan dia percaya bahwa Jiho bisa melewatinya sendiri.
“Adek sendiri mau peringkat segitu?”
“Enggak,” balas Jiho.
“Terus, kenapa bisa peringkat segitu? Tadi kata gurunya apa?”
“Adek kurang belajar.”
“Itu tau kenapa. Sekarang Adek taukan, kalau peringkatnya mau naik harus apa?”
“Papa kenapa kayak enggak perhatian sama Adek?”
“Gimana?”
Jiho menunduk dalam, suara Ryul terdengar sedikit tinggi setelah itu. Mungkin kalimatnya salah, tapi dia hanya mengutarakan apa yang dia rasakan. Jiho cuman mau merasa bahwa dia diperhatikan.
“Adek merasa… Papa seperti tidak perhatian sama Adek. Orang tua teman-teman Adek suka marah atau menyuruh anaknya belajar. Tio yang peringkatnya turun satu aja langsung dimarahi, Mamanya langsung suruh Tio buat les.”
“Adek mau ikut les?”
Tangannya yang di atas meja tampak mengepal. Ingin rasanya kian marah, kesal karena papanya tidak mengerti isi hatinya yang sedang berusaha dia utarakan. Perlahan mengangkat kepala, berusaha berani menatap kedua mata papanya yang selalu terlihat penuh intimidasi. Meski Jiho tahu kalau papanya bukan orang yang kejam seperti yang terlihat.
“Papa enggak paham.”
“Kalau Papa marah juga, memangnya Jiho bakal senang?”
“Papa enggak marah, berarti tidak perhatian sama Adek.”
“Kata siapa?”
“Kata aku.”
Bahunya tampak turun dengan lelah. Ryul menghela napas pelan, matanya teralihkan, melihat sekitar lebih baik timbang pada putranya yang sudah terlihat kesal. Berdebat memang selalu membuat suasana tidak nyaman. Jadi Ryul tahan dirinya untuk tidak mendebat, walau jauh dalam hati sangat keberatan dengan perkataan putranya.
Mereka di jalan pulang, dan tiba di rumah kecil sederhana yang hanya mereka berdua tempati. Ryul tidak ikut masuk, tapi langsung pamit untuk kembali lanjut bekerja. Tinggalkan putranya yang langsung turun dari motor dan masuk ke dalam rumah tanpa berkata apa-apa maupun melihatnya.
Dua kepala yang kini seperti saling membuat jarak. Ryul terpaksa tinggalkan rumah dengan buta akan perasaan anaknya saat ini.
Kalau perhatian yang putranya maksud dengan marah atau pandai mengomeli perkara peringkat di kelas turun, Ryul rasa itu bukan pilihan yang akan dia ambil. Baginya, menyekolahkan Jiho sama dengan menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan pada guru di sekolah yang katanya wali murid. Baginya, dia hanya perlu mendidik di luar hal selain itu.
Ryul memang tidak akan memastikan Jiho sudah mengerjakan PR setiap malam, tidak bertanya berapa nilai ulangannya, tidak bertanya apa materi yang tidak dia bisa. Ryul merasa itu sama akan menambah beban pada putranya; pikirnya di rumah cukup mereka membahas hal di luar sekolah. Baginya, Jiho bisa menyelesaikan semua itu sebagaimana guru yang mengajarkan di sekolah.
Tapi nyatanya tidak begitu.
Mungkin, ketika dia merasa sudah memberikan banyak perhatian pada anaknya, sudah bertanggung jawab, sudah membelikan apa yang anaknya mau maka itu sudah cukup.
Tapi nyatanya Jiho merasa tidak demikian.
Matanya terasa sakit hingga kepala. Malam itu, Jiho baru terbangun setelah menangis sampai tertidur. Matanya sedikit bengkak, terlihat merah. Berjalan gontai ke arah meja makan, menemukan kotak nasi ayam yang tadi dibeli lebih oleh papanya; untuk makan malam sekalian katanya.
Jiho makan sendirian di kursinya, melihat jam sudah di angka sembilan. Papanya belum pulang, padahal biasanya paling telat jam enam. Jiho tidak pernah betul-betul tahu kenapa papanya pulang telat, tapi dengan perdebatan kecil mereka setelah mengambil rapot, Jiho mau simpulkan kalau papanya marah.
Air matanya kembali keluar, Jiho memakan nasinya dengan derai air mata yang tidak bisa dia tahan. Rasanya sakit, perhatian yang dia bilang tak terasa dari papanya. Jiho jadi terpikir lagi, apa dia jahat, ya sudah bilang begitu. Papanya yang selalu memberi tahu kalau dia harus berbuat baik, mengajarkan bagaimana berkata dengan baik, nyatanya dia malah melanggar itu semua pada papanya sendiri.
Pintu rumah terbuka dan lampu-lampu baru dinyalakan. Jiho langsung turun dari kursi, berlari masuk kembali ke dalam kamarnya sebelum langkah papanya tiba mendekat. Menutup pintu perlahan, duduk di balik pintu dengan tangisnya yang masih terjadi.
“Adek?”
“Adek dimana?”
Ryul sedikit kebingungan melihat lampu banyak yang belum menyala. Sampai di meja makan, kotak nasi yang sudah terbuka dengan sisanya yang masih banyak. Matanya langsung tertuju pada pintu kamar yang tertutup rapat.
Suara ketukan pintu membuat Jiho mengeratkan pejaman mata, menutup telinganya rapat-rapat dengan kedua tangan; tak mau dengar suara ketukan serta panggilan padanya. Jiho merasa ingin berlari atau masuk ke dalam bumi sekarang juga. Andai dia punya kekuatan bisa berpindah-pindah, maka Jiho mau pindah kemana saja asal tidak dengan papanya.
“Adek kenapa?”
Pintu itu tidak dikunci—nyatanya tidak bisa dikunci. Ryul terpaksa mendorong agak keras pintu tersebut, sampai sadar bahwa ada putranya yang duduk di balik pintu sambil menahan suara tangisan.
“Adek kenapa nangis?”
Jiho merasa bahwa dunia berubah menjadi kejam. Tapi berikutnya dia ada di dalam pelukan papanya yang tak menyerah untuk menggendongnya. Ryul tak peduli berat tubuh Jiho yang kian berat; baginya masih seperti mimpi bahwa putranya sudah kian besar.
Menggendong putranya yang mulai kembali terisak. Kini memeluk lehernya dengan erat. Meski dia sendiri sudah amat lelah, tapi dia tidak punya pilihan lagi. Ryul bawa putranya kembali ke meja makan, dirinya yang duduk di kursi dengan putranya di pangkuan.
“Papa minta maaf. Maaf kurang perhatian sama Adek.”
Orang tuanya dulu memang bilang kalau menjadi orang tua tunggal, rasanya akan berat. Ryul sudah jauh-jauh hari tahu menahu soal itu, dan berat yang kini dia rasakan nyatanya hanya bisa dia hadapi apapun yang terjadi. Pilihan yang tidak akan membuatnya menyesal. Sama sekali.
“Adek mau maafin Papa?”
Kepala itu mengangguk kecil, punggung yang tak lepas dari usapan darinya. Ryul tersenyum lega, menarik pelan putranya dari pangkuan. Mengusap jejak air mata di wajah Jiho yang sudah basah sana-sini. Senyumnya mengembang pelan, mengecup lembut pipi kiri putranya yang langsung terdiam.
“Makannya habisin, ya.”
“Mau disuapin.”
Ryul tidak bisa menolak sama sekali. Malam itu dirinya yang biarkan sang anak kembali dimanjakan olehnya. Malam yang akhirnya es mencair di antara mereka berdua, mereka terlelap di kasur dengan berpelukan.
“Nanti Adek mau jalan-jalan?”
“Mau, Pa.”
“Mau kemana?”
“Belum tau.”
