Actions

Work Header

Oldtown

Summary:

Dan ku memandang riuh lanskap kota yang renta.

Notes:

I wrote this while listening to Surabaya by Crayon Case.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Surabaya kala itu tak sepanas di hari biasa, hujan mengguyur setiap sudut kota dan meninggalkan jejak petrichor dan genangan air di atas trotoar yang kurang layak dan tidak diperhatikan oleh wali kota. Dazai berhenti sejenak, mengamati bangunan klasik yang menjadi simbol dari Kota Lama—tempat favoritnya. Ia mendengus pelan, merasa konyol karena setelah hampir empat tahun berlalu, bayangan laki-laki berambut senja itu masih menghantuinya.

 

“Kau benar-benar tak ingin membiarkanku hidup tenang, bukan?" Dazai bermonolog, ia membiarkan tungkainya membawanya melewati jalan yang tak asing baginya. Ia masih ingat jelas, pertemuannya dengan sang sinoper—saat mereka masih dalam masa pubertas, sekolah menengah pertama. Chuuya, seorang anak laki-laki pindahan dari Tokyo, dengan surai orange terang yang menurutnya agak ‘nyentrik’, manik berbeda warna–biru safir bak lautan dan cokelat muda andaikan kacang pinus di musim gugur—yang berhasil membuatnya terpana dalam sekali pandang, serta kepribadiannya yang mudah terpancing emosi, atau mungkin Dazai yang suka menghasut amarah orang lain? Entahlah, yang pasti, Dazai tahu bahwa pertemuan pertama mereka bukanlah hal yang biasa, ada sesuatu yang membuatnya terjerat dalam lamunan yang tak berakhir.

 

Dazai membencinya. 

 

Tapi ia tak pernah melupakan favoritnya. Kota Lama, Jalan Tunjungan (yang mungkin menurutnya terlalu banyak turis dan overpopulasi), Jembatan Surabaya—Dazai tidak pernah betah di sana berlama-lama, tapi ia harus akui bahwa melihat matahari terbenam ditemani laut bukanlah hal yang terlalu buruk, maupun Kebun Binatang yang ikonik (menurut Chuuya) tapi bagi Dazai, itu tak lebih dari penyiksaan hewan usai berita dugaan korupsi manusia serakah yang mengorbankan kesejahteraan satwa. 

 

Usai tiga puluh dua menit berjalan, kakinya membawanya pada Jalan Tunjungan yang tak pernah sepi. Hiruk pikuk manusia dan kendaraan tiada henti, tak memberikan jeda barang lima detik. Tiap bangunan berjejer rapi, setidaknya mereka cukup peduli dengan tatanan kota yang nyaman dipandang, beberapa tanaman layu di pinggir jalan, tapi setidaknya, hujan akan kembali turun dalam tiga hari ke depan, membasahi tanah yang terlampau kering akibat maraknya pembangunan tanpa diimbangi taman kota dan penghijauan yang layak. 

 

Waktu menunjukkan pukul lima lebih tiga belas, sang baskara memunculkan diri lagi usai terjebak di balik awan mendung selama lebih dari dua jam, hanya untuk mengucapkan selamat tinggal. Semburat oranye—yang sialnya selalu mengingatkan Dazai pada surainya, dan merah yang menghiasi cakrawala menjadi pertanda bahwa hari akan berakhir. Pendarnya memantulkan embun yang hinggap pada dedaunan di tepi jalan, Tunjungan semakin ramai dan lampu-lampu mulai dinyalakan, memberikan kesan ‘hidup’ walau malam mulai menyapa.

 

Mungkin Chuuya akan buru-buru menariknya untuk menaiki transportasi publik yang akan membawa mereka ke Jembatan Surabaya, memaksanya untuk menonton sang surya yang mulai tenggelam di balik lautan Kenjeran. Lalu saat hari mulai menggelap dan dewi bulan hadir memberikan separuh cahaya, Dazai akan mengoloknya karena tak pernah membawa jaket dengan alasan "Surabaya terlalu panas kala siang" dan berakhir dengan ia yang memakai jas kebesaran milik Dazai. 

 

Ia termenung di dekat alun-alun kota, mengamati perpustakaan dan balai pemuda yang tak pernah lengkang oleh masa. Empat tahun berlalu, kota ini cukup banyak berubah, namun Dazai masih menggenggam erat setiap kenangan yang sempat mereka punya. Pria itu mendekati salah satu halte bus, menunggu transportasi yang akan mengantarnya ke ujung kota.

 

Dazai terdiam di depan sebuah batu nisan yang mulai dihiasi tanaman liar yang merambat dan debu. Sebuah nama yang tak asing terukir di sana, membuat Dazai tertawa miris. Di saat dirinya yang selalu menginginkan kematian, justru ajal memilih untuk menjemput kasihnya. Ia meletakkan satu buket bunga kamelia merah madu lalu melempar senyum tipis sebelum berbalik pergi.

 

Selamat tahun baru, Chuuya.

Notes:

I also upload this on tiktok w the same usn ^^