Actions

Work Header

AURORE

Summary:

*Republished & Revised*

KagaKuro

Pangeran Aurore dikutuk tewas tertusuk jarum pintal pada ulang tahunnya yang keenambelas, dan yang bisa membangunkannya adalah ciuman dari seseorang yang mencintainya.
Untuk menyelamatkan Aurore, tiga peri ajaib menyembunyikannya sampai dewasa. Aurore berganti nama menjadi Kuroko, yang auranya disihir seperti bayangan agar sulit ditemukan. Sang Pangeran Bayangan dilarang bertemu siapapun hingga tiba masanya kutukan itu musnah.
Suatu hari seorang pangeran berambut merah datang menjadi teman pertamanya, dan menjadi pengganti bagi cahaya yang telah hilang dalam diri Kuroko.

Notes:

*REPUBLISHED & REVISED*

First published at: 2016-09-28

Title: Aurore | Author: Aratte (www.aratte.id) | Pair: KagaKuro, AoKise | Rating: R15 | Genres: M/M Slash Romance, Fantasy, Drama, Romance, Comedy, Parody, Adventure, Fairy Tale!AU
Total Words: 9600 kata
©2016 – Author/Creator: Aratte
Illustrated by Aoshouki
Requested by Rexa Anne

Disclaimer: This is a fan work requested by Rexa Anne and created by Aratte. This is a work of fan fiction made for personal satisfaction.
Kuroko no Basuke and its characters belong to Tadatoshi Fujimaki. This work has not been endorsed by Tadatoshi Fujimaki and any of the other holding copyright or license to Kuroko no Basuke manga and anime.
AURORE is published online in AO3 and everyone can read it for FREE. :)

Versi Wattpad bisa dibaca di akun wattpad Aratte: https://www.wattpad.com/user/RaAratte

---UPDATE 2017
AURORE memenangkan dua buah penghargaan pada ajang Indonesian Fanfiction Awards 2016
- Best Fantasy MC
- Fanfiction of the Year 2016

Chapter 1: Pangeran Bayangan

Chapter Text

Tersebutlah sebuah negeri antah berantah, yang mana angin selalu meniup hangat mereka dengan wangi bunga empat musim, membuat rona penduduknya cendayam. Negeri makmur tanpa cela ini dikitari pepohon rimbun dan limpahan hasil alam. Semua orang ingin berkunjung ke sana, kerajaan lain pun ingin menjadi kawan.

Negeri termasyhur tersebut dipimpin oleh pasangan hebat. Mereka Raja Aomine dan Ratu Kise. Raja Aomine yang punya semboyan ‘yang bisa menaklukkan negeriku sendiri adalah aku’ dan Rajatu Kise yang bisa menirukan apa pun yang ia lihat—sehingga ia bisa menjadi ratu maupun raja dan dicintai rakyat.

Satu hal yang menjadi duka terdalam negeri itu, pasangan ini sulit punya anak (tentu).

Namun selayaknya kisah-kisah dongeng abadi, kaum dewa dan peri menganugerahi mereka seorang penerus. Pada suatu petang terlahir ke dunia bayi mungil berambut biru muda yang teramat lucu. Sebab terlahir pada masa petang maka bayi tersebut diberi nama Pangeran Aurore.

Kebahagiaan menyelimuti negeri itu. Segera Raja Aomine meliburkan rakyatnya dan membuat pesta besar di istana sehingga semua orang turut merayakan kelahiran Pangeran Aurore.

Mulai dari rakyat kalangan bawah hingga kaum kerdil dan kaum paling raksasa hadir di pesta itu. Raja-raja dari negeri lain pun datang—salah satunya adalah negeri paling berkuasa absolut yang menjadi tetangga mereka. Kerajaan Akashi. Bila Kaisar Akashi melangkah, tak ada rakyat yang bisa berdiri, seluruhnya tersandung, berjatuhan, dan berlutut.

Kaisar Akashi datang bersama anak lelakinya yang masih berusia empat tahun. Usut punya usut, Kaisar Akashi bertamu untuk satu tujuan; menyatukan kedua negeri mereka dengan cara perkawinan—kalau bukan menjajah secara halus.

“Daiki, sudah lama kita tak berjumpa,” sapa Akashi, memeluk akrab namun dingin.

Aomine canggung. “Hei. Lama tak jumpa.”

Kise tersenyum pamer gigi. “Kau masih tidak berubah, Akashicchi! Kudengar negerimu sudah menjatuhkan sepuluh negeri lain beberapa minggu terakhir? Ganas sekali!”

Mata heterokromatis sang kaisar berpendar. “Benar, kerajaanku tak pernah kalah perang. Karena aku absolut.”

Aomine dan Kise mengangguk cepat.

“Kubawa putra mahkotaku kemari sehingga dia bisa melihat putrimu, calon istrinya di masa depan,” kata Akashi.

“Tunggu, Akashi—anakku itu berbatang, bukan putri.”

“Tak masalah,” jawabnya. “Memangnya kalian bisa menyangkalku, seorang kaisar absolut?”

“Err—Apa kau yakin datang ke sini dengan maksud persahabatan?”

Akashi tersenyum. “Tentu, Daiki dan Ryota.”

Anak Akashi adalah seorang pangeran cilik berambut merah gelap, dengan alis tebal yang terbelah dua dan beraura penampakan macan liar. Dari kecil sudah kelihatan ketampanannya namun sikapnya agak selengean dan keras kepala. Saat mengintip bayi Aurore pada keranjang bayi, si pangeran membuat mimik muka sebal. Pun, menurut Kise dan Aomine, pangeran kecil songong ini punya hati yang jauh lebih malaikat ketimbang ayahnya. Amen.

Tamu-tamu utama memasuki aula. Mereka datang dari jendela. Tiga peri mungil memendar cahaya adirupa ungu, hijau, dan merah muda. Kise dan Aomine langsung berdiri heboh menyambut mereka, sehingga Kaisar Akashi harus menyingkir terusir ke samping supaya tetamu peri mendapat giliran.

Peri pertama adalah peri ungu yang tingginya melebihi peri lain. Tubuhnya sungguh galah, lonjong seperti penggaris. Belum mendapat sungkeman dari raja dia sudah cuek dengan camilannya. Peri penggaris ini bernama Mukkun.

Peri yang kedua adalah peri berkacamata hitam, rambut hijau. Sejak tadi dia berbisik-bisik sendiri dengan berkata, “Apa? Bukannya aku mau datang ke sini, tapi aku datang karena diundang. Lucky item-ku hari ini kacamata hitam, bukannya aku pakai kacamata hitam ini karena tidak mau ketahuan datang.” Peri tsundere aneh ini bernama Midorin.

Peri ketiga adalah peri yang paling terlihat meyakinkan. Cantik menawan, bergaun manis, dan serba merah muda. Tubuhnya molek dan berbuah dada besar. Kebetulan dia adalah sahabat Raja Aomine sejak kecil. Peri seksi ini bernama Momoi.

Tugas peri-peri ini datang memberi hadiah berkah. Mereka akan mendoakan Aurore dengan kejayaan, ketampanan, dan kebahagiaan. Seharusnya seperti itu.

Peri Mukkun maju duluan. Sambil mengemil bosan ia terbang mendekati keranjang bayi. Tongkat perinya ia ayun-ayunkan, membikin gugus bintang keunguan di atas kepala mereka, nadanya bosan. “Wahai bayi mungil, kau kecil dan pendek sekali. Tampangmu juga biasa saja. Maka kudoakan kau supaya tidak pernah kekurangan makan. Di sekitarmu akan banyak makanan berlimpah, seperti kue-kue, permen, susu kocok vanila. Walaupun makan banyak tapi tubuhmu tetap kecil, antara ada dan tiada, tapi kau—”

Peri Midorin berdeham. “Cukup, doamu tidak pernah benar. Giliranku.” Sang peri mengayun tongkat, membiaskan spektrum hijau, warna aurora pada puncak kutub selatan. “Aku tidak sembarang memberi berkah atau doa, karena kebanyakan dari mereka hanya omongan belaka. Aku realistis. Akan kuberi seribu jimat lucky item tahunan untuk putra kalian. Menurut oha asa, kau lebih beruntung bila memiliki permen karet bekas Mukkun ini, majalah dewasa, jarum anti jomblo, sempak macan anti hujan—”

“Astaga, kalian diamlah di pojok sana, aku yang akan memberinya doa.” Peri sungguhan bernama Momoi maju ke depan. Sebelumnya dia telah membawakan hadiah bekal masakan peri untuk Raja Aomine dan Kise (yang anehnya langsung ditolak mentah-mentah). Momoi terbang anggun mendekati Aurore, dan dia berbisik lembut, “Aku sudah melakukan research tentangmu, Aurore. Aku sudah tahu seberapa besar ukuran kaki, tangan, dan lain-lainmu. Tetapi begitu melihatmu dari jarak sedekat ini—” Mata Momoi berbinar. “—Sungguh kau adalah bayi paling tampan menawan yang pernah kulihat! Aku jatuh cinta padamu, Aurore. Aku bersumpah akan menjadi pengantinmu ketika kau besar nanti. Maka doaku adalah menjadi pacarmu—”

“HENTIKAN SEMUA INI!”

Yang berteriak ‘hentikan’ bukanlah Aomine atau Kise yang frustrasi, tetapi seseorang dari pintu.

Sosok gelap, megah mengerikan melangkah dari arah pintu. Dia adalah raja dari segala raja kejahatan. Dia bernama Nash Gold. Sosoknya tampak kalem dari kejauhan, tapi dilihat dari dekat semakin gelap dan angkuh saja. Dia bisa berubah-ubah kepribadian, dan di depan para hadirin dia mencemooh, “Pesta yang menarik. Kenapa aku tak diundang?”

“Oh maaf kami tidak menotismu,” geram Aomine. “Tapi aku tak butuh doa dari raja peri biang kejahatan yang sungguh rendah martabatnya. Siapa yang mau. Lebih baik aku minta Kise yang berdoa!”

Kise menangis. “Apakah aku semurah itu Aominecchi?”

“Heh, tak ada yang bisa mengalahkanku, bahkan Tuhan, para dewa, para peri sekalipun.” Nash Gold menyeringai.

“Akashicchi! Bukankah kau tak pernah kalah? Ayo kalahkan peri jahat ini untuk kami.”

Akashi bersedekap. “Tak bisa, karena dia punya mata yang sama denganku. Mungkin lain kali.”

“Yang benar saja!”

Nash Gold meludah di depan keranjang bayi. “Apa boleh buat karena aku sudah datang, aku pun harus berdoa ‘kan?”

Terlambat ketika pasukan raja telah bersiaga menghajar peri jahat ini, Nash telah membuat jampi-jampi. Kabut hitam menyelimuti keranjang Aurore. “Ya, Aurore memang bertumbuh menjadi anak yang hebat walau tak bisa sehebat aku. Dia tampan, kemampuannya tidak seberapa namun disukai banyak orang. Kemudian pada ulang tahunnya yang keenam belas, dia akan tertusuk jarum pintal, tak ada lagi cahaya tersisa dalam dirinya, lalu MATI.”

Petir menggelegar tajam. Nash Gold telah lenyap ke dalam pusara kegelapan. Jampi kutukannya yang tertinggal, menghantui seumur hidup Aurore dan kerajaannya.

Para raja menangis, dan seluruh tamu berduka. Peri Midorin menjelaskan hari ini tak begitu lucky karena zodiak Aurore bertentangan dengan zodiak Nash Gold. Peri Mukkun masih makan. Peri Momoi maju sekali lagi ke keranjang bayi, dengan lantang namun penuh kecantikan dia menjerit, “Jangan cemas, para raja dan tamu! Kutukan Nash memang tak bisa kucabut, namun doaku belum selesai.”

Bagaimana kami tidak cemas kalau perinya sepertimu? Bunuh saja kami. Kise dan Aomine meringkuk pilu.

Momoi menggeleng. Tongkat hatinya mengilat tajam, berputar-putar melenyapkan kabut hitam milik Nash. “Kutukan Nash melenyapkan cahaya dalam diri Aurore, tapi aku bisa menangkalnya. Mulai hari ini kubuat aura Aurore menjadi tak kentara bagai bayangan, dan cukup sulit menemukan ia bahkan pada keranjangnya sendiri. Nash, sang kegelapan, takkan bisa menyentuhnya! Hanya sang cahaya yang bisa menemukan ia. Dan bila suatu hari Aurore tewas karena kutukan itu, maka akan datang sang pangeran cahaya yang membawa cintanya dengan tulus.” Tampak pada bayangan sihir sesosok pangeran tampan yang mirip dengan putra Akashi. “Sang cahaya akan mencium Pangeran Bayangan untuk membangunkannya! Hiks.” Momoi terharu oleh doanya sendiri. “Percayalah, akhir kisah dongeng ini happy ending. Bila pangerannya Aurore tidak datang, aku yang akan siap menciumnya!”