Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of PAKET MANTAN ANTI ASING - poohpavel au on twitter
Stats:
Published:
2026-10-04
Updated:
2026-10-04
Words:
2,309
Chapters:
1/?
Comments:
2
Kudos:
3
Hits:
93

PAKET MANTAN (narasi only)

Summary:

cuma sepasang mantan yang lagi bahas cara menjadi mantan yang baik.

Notes:

Pooh Krittin as Pijar
Pavel Naret as Nendra

Chapter 1: episode 2 : meeting lanjutan paket mantan

Chapter Text

Sabtu itu jadi kali pertama Pijar datang lagi ke rumah Nendra sejak kondangan beberapa hari lalu.

Agendanya sih jelas. Mereka mau melanjutkan pembahasan Paket Mantan Premium Anti Asing yang gagal diselesaikan lewat video call kemarin. Maklum, tiga puluh menit ternyata nggak cukup buat membahas tata cara menjadi mantan yang baik dan benar. Apalagi pesertanya dua orang yang putus aja masih butuh fasilitas pacaran.

Masalahnya, nggak ada buku panduan tentang bagaimana seharusnya dua mantan bersikap ketika ketemu buat merundingkan regulasi perpisahan.

Mungkin itu juga yang bikin Pijar berdiri di depan pintu sedikit lebih lama dari biasanya.

Bel dibunyikan.

Nendra buka pintu dan langsung menemukan Pijar masih berdiri rapi di depannya. Satu tangan pegang ponsel, satu lagi nyangkutin tas kecil di bahu.

Nggak ada gerakan masuk, nggak ada kebiasaan nyelip lewat bahu Nendra sambil buka sepatu kayak rumah itu punya sertifikat atas nama Pijar.

Anak ini malah mengangguk kecil. “Permisi.”

Nendra mengerutkan dahi. “Apaan?”

“Mau menghadiri meeting.”

“Gue tau.” Nendra masih nahan pintu. “Ngapain pake permisi?”

Pijar mengangkat bahu. “Sekarang ‘kan statusnya beda.”

Nah, kalimat itu sukses bikin keduanya diam sebentar.

Bukan karena mendadak sedih. Bukan juga karena mau nangis berjamaah di depan pintu. Cuma cukup asing buat bikin mereka sama-sama ingat kalau, oh iya, ternyata ada beberapa hal yang emang udah berubah.

Untungnya Pijar punya bakat alami merusak suasana sebelum jadi terlalu serius.

“Mantan harus sopan, Kak.”

Nendra menatapnya datar. “Kemaren jam setengah satu malem lo video call gue pake kaos kutang.”

“Itu kan online.” 

“Terus bedanya apa?”

“Sekarang ketemu langsung hehe..”

“Masuk sana, ah. Biar nggak tambah ngaco.”

Pijar masih belum bergerak.

Nendra udah hampir nutup pintu di mukanya ketika Pijar protes, “Belom dipersilakan.”

“ASTAGA.”

Masih pagi kesabaran Nendra yang setipis tissue udah diuji aja.

“Silakan masuk. Jangan anggap rumah sendiri.”

“Wkwkw terimakasih pak Nendra.”

Pijar akhirnya masuk dengan muka puas. Nendra mempertimbangkan untuk mengirimnya ke hutan Amazon tanpa tiket pulang.

 


 

Ruang tamu Nendra nggak berubah sama sekali.

Sofanya masih sama, meja kecilnya masih di sana, gelas bening yang Pijar hafal letaknya ada di kabinet kedua dari kanan masih ada, remote televisi kemungkinan besar masih nyangkut di sela bantal seperti biasa. Bahkan aroma rumahnya masih sama.

Masalahnya justru itu, semuanya terlalu familiar.

Sampai hal-hal kecil yang dulu nggak pernah mereka pikirin sekarang malah kelihatan banget.

Pijar nggak langsung ambil minum sendiri. Nendra juga nggak otomatis nyuruh dia buka kulkas kalau haus.

Begitu duduk, Pijar pilih ujung kiri sofa. Nendra ambil ujung kanan.

Di tengah-tengah mereka ada laptop, dua bantal sofa, dan jarak yang agak tolol kalau mengingat sebulan lalu mereka masih bisa ribut gara-gara siapa yang narik selimut lebih banyak pas tidur.

Nendra memperhatikan posisi mereka beberapa detik.

“Lu kenapa duduk sejauh itu?”

Pijar ikut melihat jarak di antara mereka seolah baru sadar.

“Menjaga profesionalitas.”

“Anjir kita bukan rapat kabinet, ngapain sejauh itu?”

Pijar cuma nyengir.

Laptop akhirnya dibuka dan ditaruh di atas meja, tepat di wilayah netral antara mereka.

Sejak video call kemarin, mereka udah berbagi satu dokumen yang dipakai buat nyatet segala aturan Paket Mantan. Sistem kerjanya juga udah terbentuk secara alami: Pijar bertugas asal lempar ide, Nendra bertugas membuat ide-ide itu terlihat seperti hasil pemikiran manusia berpendidikan.

Di paling atas dokumen tertulis besar-besar:

PAKET MANTAN PREMIUM ANTI ASING

T&C — BELUM FINAL JANGAN SOK FINAL

 

Profesional. Sangat meyakinkan. Pembahasan dimulai dari hal-hal yang sebenarnya masih masuk akal.

 

  1. Jangan ghosting.
  2. Kalau nggak mau ketemu, bilang.
  3. Kalau lagi nggak mood ngobrol atau bales chat, bilang.
  4. Kalau butuh bantuan, minta. Tapi yang dimintain bantuan juga punya hak buat nolak tanpa harus merasa bersalah.

 

Sejauh ini aman. Sehat. Dewasa.

Dua orang yang melihat dokumen itu tanpa konteks mungkin bakal mengira Pijar dan Nendra akhirnya punya kemampuan komunikasi yang baik.

Lalu Pijar mulai melakukan pekerjaan utamanya : mencari celah.

Sepuluh menit kemudian mereka sudah masuk ke wilayah dosa lama.

Bukan karena sengaja mau membongkar masa pacaran. Masalahnya, makin banyak aturan yang mereka tulis, makin kelihatan kalau hampir semuanya lahir dari sesuatu yang pernah salah mereka lakukan sendiri.

Nendra membaca salah satu poin.

“Gak boleh ngambek terus berharap orang lain otomatis tau salahnya apa.”

Pijar langsung mengangguk mantap. “Setuju banget.”

Nendra melirik, terus nambahin, “gak boleh bikin orang ngambek terus pura-pura gak tau penyebabnya.”

Pijar langsung angkat wajah dan taruh sebelah tangan di udara.

“Keberatan.”

“Ditolak.”

Nendra mengetuk meja tiga kali pakai tangannya.

“Belom voting,” protes Pijar.

“Customer punya hak veto, ya.”

“Sejak kapan?”

Pijar nggak terima. Harusnya dia yang paling mendalami roleplay Paket Mantan ini. Kok sekarang Nendra malah bikin peraturan baru seenaknya?

“Barusan.”

Pijar menarik laptop sedikit ke arahnya.

“Kalau gitu gue tambahin. Gak boleh jawab ‘terserah’.”

Nendra mendengus. “Gak boleh nanya pendapat kalau ujung-ujungnya pilihan lo sendiri.”

“Gak boleh bilang ‘gapapa’.”

“Gak boleh percaya gue kalau gue bilang ‘gapapa’.”

Pijar berhenti.

“Lah lau pikir gue dukun?”

“Ya harusnya lo tau.”

Pijar langsung duduk lebih tegak.

“NAH!!"

Nendra telat sadar, sialnya dia masuk jebakan Pijar.

Dia langsung nunjuk Nendra kayak jaksa yang baru nemu barang bukti paling menentukan dalam persidangan.

“NAH INI NIH MASALAH KITA.”

Hening, cuma beberapa detik.

Bukan hening besar yang butuh hujan di luar jendela dan lagu galau sebagai backsound. Cuma jeda kecil ketika dua-duanya sadar kalimat itu terlalu benar buat percakapan yang lima menit lalu masih dipakai buat saling tuduh siapa yang lebih nyebelin waktu pacaran.

Karena emang itu salah satu masalah mereka.

Terlalu sering berharap yang lain ngerti sendiri, terlalu sering merasa, harusnya lo tau, padahal ternyata nggak. Nendra yang pertama balik melihat layar.

“Tulis aja ‘kata gapapa dilarang dalam keadaan apa pun’.”

Pijar ikut melihat laptop lagi.

“Oke ini setuju.”

Udah, nggak ada yang berniat membedahnya lebih jauh hari itu.

 


 

Satu jam lebih ternyata bisa habis cuma buat membahas tata cara menjadi mantan yang baik dan benar.

Mata mereka mulai capek lihat layar. Daftar aturan bukannya makin pendek malah makin panjang. Cemilan belum ada. Minuman juga belum.

Nendra akhirnya menyerah lebih dulu.

“Udah ah, break dulu. Snack time.”

Baru setelah berdiri dia sadar sejak Pijar datang tadi dia belum nawarin apa-apa. Agak aneh juga. Biasanya Pijar nggak perlu ditawarin. Kalau haus tinggal buka kulkas. Kalau lapar tinggal bongkar kabinet. Kadang malah Nendra yang baru sadar stok makanannya berkurang setelah pelakunya pulang.

“Thank you, please. Gue haus.”

Nendra yang udah setengah jalan menuju dapur langsung menoleh.

“Ya elu kenapa nggak ngambil sendiri?”

Pijar nyengir. “Malu... hehe.”

Nendra menatapnya beberapa detik.

“Najis, punya malu juga.”

Lalu pergi ke dapur sambil geleng-geleng kepala ninggalin Pijar yang cekikikan sendiri.

 


 

Sambil nunggu Nendra mengambil makanan, Pijar buka ponsel dan mulai scrolling Twitter.

Isinya campur aduk seperti biasa. Postingan oomfs, akun yang nggak pernah dia follow, orang berantem, orang pacaran, orang jualan, sampai manusia yang entah siapa tapi tiba-tiba nongol di berandanya.

Pijar sebenarnya nggak terlalu suka Twitter sekarang. Kurang privasi, cuitan orang yang bukan following bisa muncul seenaknya di beranda. Tapi ya udahlah, dia juga bukan Elon Musk, ngapain ikut pusing.

Lagipula ada urusan yang lebih penting. Kepoin bocil yang lagi keluyuran sama temennya.

Pijar baru aja ketawa ketika Nendra balik membawa dua gelas dan beberapa bungkus makanan ringan.

“Liat apa sih kok ketawa-tawa?”

“Adik lo.”

Kalimat itu rupanya cukup buat Nendra batal kembali ke ujung kanan sofa.

Dia taruh makanan di meja, lalu duduk di sebelah Pijar supaya bisa ikut ngintip layar.

Jarak mereka jauh lebih dekat dibanding satu jam lalu ketika dua manusia ini merasa perlu dipisahkan dua bantal demi menjaga profesionalitas, mereka belum ada yang sadar soal itu.

“Ohh iya baru inget, tadi dia izin mau pergi sama temennya.”

Pijar menoleh pelan, “temennya?”

“Iya.”

Pijar lihat Nendra, terus lihat layar hp dimana Piko lagi digombalin secara halus sama ‘temennya’, lalu balik lihat Nendra.

“Kenapa?” Nendra heran.

“Enggak.” Pijar geleng-geleng lebih heran.

“Apaan?”

Pijar mulai senyum.

“Gue cuma kagum.”

“Sama?”

“Optimisme keluarga lo terhadap definisi pertemanan.”

Nendra langsung nyikut pinggangnya.

“Anjing—” Pijar ketawa sambil hampir menjatuhkan ponsel. “NIH LIAT. Dari tadi Jazzy live report.”

Postingan terbaru Jazzy muncul di layar.

Foto Piko.

Jelek.

Jelek banget sampai Nendra butuh beberapa detik untuk memastikan hubungan darah mereka.

“Ini adek gue?”

“Katanya sih gitu menurut kartu keluarga.”

“Kenapa mukanya kayak habis digusur?”

“Fotografernya punya dendam pribadi kayaknya.”

Nendra mengambil ponsel Pijar buat memperbesar foto itu. Pijar otomatis ikut merapat supaya tetap bisa lihat. Bahu ketemu bahu, udah gak ada jarak lagi, tapi nggak ada yang protes, atau mungkin belum sadar.

“Bales,” kata Nendra.

“Pake akun gue?”

“Iya.”

“Lu punya Twitter.”

“Maleees.”

Pijar mendengus, tapi jarinya udah bergerak.

Setelah itu bukannya balik meeting, mereka malah sibuk nimbrung di live report Jazzy. Saling bales komen, saling roasting, dan ngetawain respon Piko.

Pijar ketawa sampai badannya miring nabrak Nendra, sementara Nendra yang harusnya menyuruh dia menjauh malah sibuk mengetik balasan berikutnya.

Meeting resmi ditelantarkan karena dua mantan lebih tertarik mengurus hubungan orang lain yang sama-sama nggak jelas.




 

Setelah puas mengganggu hidup Piko dari jarak jauh, perhatian mereka akhirnya balik ke laptop.

“Lanjut nggak?” Nendra bertanya.

“Lanjut lah.”

Yang nggak mereka lakukan adalah balik ke tempat duduk masing-masing.

Pijar tetap di sebelah Nendra.

Laptop yang tadinya sengaja ditaruh di tengah meja sebagai wilayah netral sekarang ditarik mendekat supaya layarnya bisa dilihat berdua.

Dua bantal pembatas tadi? Satu jatuh ke lantai, satunya lagi entah kapan pindah ke belakang punggung Pijar. Profesionalitas apa profesionalitas. 

“Next,” kata Pijar.

Nendra membaca aturan berikutnya, ada yang disepakati dalam hitungan detik. Ada yang berubah jadi debat sepuluh menit cuma karena Pijar merasa penggunaan stiker jelek adalah hak dasar manusia dan nggak seharusnya dibatasi hukum.

Sesekali mereka bahkan lupa lagi bikin aturan.

Satu topik lompat ke topik lain. Dari pembagian waktu, pindah ke makanan di kondangan kemarin, lanjut ke film yang belum sempat mereka tonton, terus entah gimana ujungnya jadi sidang kasus hilangnya kaus Nendra.

“Gue nggak pernah ngambil.” Pijar berkilah.

“Pasti ada di lemari lo, Pi.”

“Berarti kausnya yang milih gue.” 

“Benda mati gak punya kehendak tololll.”

“Terus kenapa dia ada di lemari gueeee?”

“Lo pakee waktu itu abis nginep!!”

“Gak deh, kayaknya hantu di kamar lo yang naro di tas gue.” 

“Anying Pijar jangan bahas bahas hantu lagi!!!”

Pijar ketawa sampai badannya condong dan bahunya nabrak Nendra, Nendra ikut ketawa walaupun tetep kesel.

“Tapi ya, pernah gue lagi mandi tiba-tiba ada yang manggil, suara lo tuh.” 

“Wkwkwkw hantunya sekarang udah bisa niruin gue?” 

“Gue malah ngiranya lo udah mati terus hantuin gue.”

“Jahat banget doain gue matii.”

Obrolan itu berlanjut, dan mereka nggak ada yang menjauh.

Laptop masih terbuka di depan mereka, tapi dokumennya nggak bergerak hampir sepuluh menit.

Mereka malah lanjut debat soal hantu, lalu soal makanan, lalu Pijar nunjukin video random dari Twitter, terus Nendra cerita sesuatu, terus tahu-tahu langit udah sore.

Waktu emang suka kurang ajar kalau lagi nggak diperhatiin.

Cahaya dari jendela udah berubah. Bungkus makanan di meja makin banyak. Es di gelas tinggal air. Pembahasan Paket Mantan yang awalnya direncanakan kelar sebelum makan siang masih punya beberapa poin yang belum disentuh.

Tapi nggak ada yang merasa buru-buru. Karena kalau dipikir-pikir, dulu akhir pekan mereka juga sering habis begini. Spending quality time doing nothing together.

Bedanya sekarang ada dokumen bernama T&C PAKET MANTAN — BELUM FINAL JANGAN SOK FINAL terbuka di depan mereka sebagai pengingat bahwa semua yang terasa biasa itu harusnya udah nggak sebiasa ini.

Sayangnya dokumen itu udah lama nggak ada yang baca.

 


 

Pintu depan terbuka, Piko masuk dengan paper bag di satu tangan, tas di bahu, dan sisa tenaga sosial yang kelihatannya udah hampir habis.

“Gue pula—”

Berhenti.

Ada dua manusia di sofa. Nedra lagi berusaha merebut hp dari tangan Pijar.

“APUS.”

“GAAAK ini bagus jir harta karun.”

“Bagus pala lo kotak. Apus GAAAKK.”

“Buat dokumentasi negara oii.”

“Dokumentasi apaan muka gue lagi nguap anjirrr Pijarsibalsekkiyaa!”

“Kenangan.”

“KENANGAN SINI GUE GUNDULIN PALALU.”

Pijar mengangkat ponselnya lebih tinggi sampe naik ke sofa.

Nendra langsung kejar naik ke sofa buat meraihnya, satu tangan otomatis bertumpu di bahu Pijar biar nggak jatuh.

Pijar berkelit sambil ketawa soalnya geli digerayangin kak Nendra yang mau rebut hp. Ketawanya lepas banget, Nendra juga ikut ketawa karena Pijar udah sampe ngeluarin air liur saking gak kuatnya dikelitikin.

Dan Piko masih berdiri di dekat pintu, merhatiin mereka berdua, terus matanya pindah ke laptop yang terbuka di meja beserta dengan snack yang berserakan dan bantal yang gak tau aturan.

Menarik.

Kalau Piko baru bangun dari koma tiga minggu dan masuk rumah sekarang, mungkin dia nggak akan tahu kalau dua orang di depannya udah putus. Soalnya kelakuannya sama aja.

“Eh, bocil.”

Pijar akhirnya sadar ada orang.

“Udah pulang?” Nendra ikut menoleh.

“Iya.”

Piko masih berdiri, Nendra mengernyit melihat ekspresi adiknya. “Kenapa?”

“Nggak.”

Tatapan Piko turun sebentar ke arah tangan Nendra yang meluk perut Pijar, dan posisi Pijar yang tetap angkat tangan di udara.

Nendra mengikuti arah tatapan itu dan OH! Damn, dia lupa. Keduanya langsung memisahkan diri.

Dan, yep. Canggungnya balik.

Piko yang liatnya jadi pengen cekikikan.

Oke, berarti mereka masih inget kalau mereka mantan cuman kadang-kadang aja lupa.

“Gimana ngedate sama Jazzy? Seru gak?” Pijar buru-buru mengalihkan topik.

“Ngedate palalo trapesium!” 

Pijar langsung ketawa, Piko mendengus lalu jalan ke arah tangga.

“Mending kalian lanjutin aja tuh.”

“Lanjutin apa?” tanya Nendra.

Piko berhenti di anak tangga pertama, menoleh ke laptop.

“Oh iya, meeting.”

Dia manggut-manggut seolah baru inget tujuan keberadaan Pijar di rumah mereka.

Pijar langsung meraih bantal dan menaruhnya di tengah-tengah seperti di awal dia datang 

“Profesional banget kelihatannya bang wkwkw. Abis meeting nanti jangan lupa ciuman” Celetuk Piko ngeledek.

“ANAK KURANG AJAR!” Nendra teriak sambil lempar bantal ke Piko yang udah keburu lari naik tangga sambil ngakak.

Suara Piko langsung nyaut lagi dari atas. “SEMANGAT RAPATNYA, MANTAN-MANTAN!”

Pijar pura-pura minum air di gelas yang kosong, Nendra menjatuhkan punggung ke sofa. Dua-duanya salting.

Hening beberapa detik, terus entah siapa yang mulai duluan, mereka saling liat dan tiba-tiba aja ketawa.

“Konyol, anjir.” 

Dan waktu tawanya selesai, nggak ada satu pun yang kepikiran buat geser menjauh.

"Btw kak, mantan premium boleh pelukan?"

"Gak boleh." 

hening sebentar.

"Boleh, lima menit." Nendra revisi dan kasih keputusan final.

 

Well.. sebenarnya kita tahu kan, batas mantan itu sampai mana, tapi dua-duanya masih nanya supaya bisa nego batas-batas itu.

Series this work belongs to: