Work Text:
Kata Shevan—Kanala tuh tipe yang cantiknya gak ngebosenin. Cantik, bahkan manis banget.
Shevan gak pernah sanggup misalkan udah dihadapkan sama mata boba yang berbinar layaknya bayi tak berdosa.
Kanala-nya imut sekali.
Ditambah ada titik-titik yang bikin Shevan berdecak kagum, pas dia perhatiin ada banyak mole yang tersebar di beberapa sudut wajah manis kekasihnya. Ada di pipi, dekat tulang hidung, dan di atas alis yang tebal.
Belum lagi bulu mata lentik yang menghiasi kedua mata indah itu.
Ah, selalu cantik. Pujinya tanpa henti.
Kanala yang merasa diperhatikan pun menoleh. Benar saja, Shevan lagi mandang dia tanpa berkedip.
"Apa deh? Filmnya di depan," katanya dengan kernyitan bingung. Tapi, malah dibalas tawa ringan yang sialnya terdengar ganteng di telinga Kanala. Tepat saat ia menoleh lagi untuk melihat Shevan, ternyata yang lebih tua ketawa kesenangan sampai matanya menyerupai bulan sabit.
"Apa sih? Emangnya aku badut, kamu ketawain gitu?!" Kanala menatap sengit pacarnya yang seketika berhenti tertawa dan melotot kaget.
"B-bukan gitu, ay. Sumpah!" Shevan bergerak panik saat Kanala mulai menciptakan jarak darinya, yang mana kebiasaannya ketika merasa terpojokkan atau kesal.
Shevan gercep mendekat dan mengangkat Kanala ke pangkuannya. Gak sampai situ saja, ia juga mulai mengusap lembut punggung kekasihnya yang kaku karena kesal.
"Maaf ay, aku—"
"Aku se-lelucon itu, ya? Sampai pacarku sendiri ngetawain aku tanpa sebab ..." Kanala ungkapin rasa sebelnya, tangannya mengepal di atas paha. Ia juga gak natap Shevan, yang gak tau sedang berekspresi kayak apa.
"Kamu tuh sama tau, gak—kayak mereka. Katanya aku cuma bisa jadi badut penghibur yang perannya bikin mereka ketawa." Kanala terkekeh di akhir kalimatnya. Ia langsung ingat kejadian kemarin yang sangat menguras energi dan sisa-sisa kestabilan mood-nya. Kanala benci kalau mengingat itu lagi, sungguh.
"Sayang, enggak. Kamu bukan badut mereka. Kamu Kanala yang lucunya murni, kamu gak kayak yang mereka bilang, sayang ..." Shevan mulai melontarkan kata-kata penenang pada kekasihnya yang terdiam sedih. Ia memang agak salah sih.
"Ck, terus kenapa kamu ketawa-tawa gitu?" ketus Kanala. "Ah, i-itu, kamu ... cantik, sayang," kata Shevan. Malah sekarang ia yang menunduk malu.
"H-hah? Ngomong apa sih?" Kanala tersentak. Bohong aja kalo dia bilang gitu. Posisi mereka deket banget, mana mungkin Kanala gak dengar dan juga volume TV di depan mereka cuma kedengaran samar-samar. Sekarang ia mengalihkan mukanya asal gak liat Shevan, kayaknya Kanala emang selalu kalah telak kalo urusan menggombal gini.
Bukan juga sih, cuma Shevan saja yang kelewat jujur. Mulut buaya.
"Kurang jelas, ya?" tanya yang lebih tua, dia mengamati Kanala terus seolah minta mata itu menatapnya balik.
Akhirnya Shevan membetulkan posisi duduk Kanala biar lebih dekat ke dia. Ia tarik pinggang ramping itu dan secara reflek, lengan Kanala melingkar apik di lehernya.
"Ish! Mau apa sih?!"
Bukannya panik dan takut kayak tadi, Shevan malah tersenyum miring penuh kemenangan. Sekarang, ia puas menatap wajah merengut Kanala yang belum habis masa kesalnya.
"Udah dong ay, marahnya." Shevan berkata lirih di ceruk leher itu, ia menyusupkan wajahnya ke celah Kanala yang menegang karena aksi tiba-tibanya.
"Ih! G-geli, She!" Kanala berjengit kecil. Masalahnya Shevan malah makin menenggelamkan wajahnya ke leher dia. Gak tau aja, Kanala udah nahan bibirnya rapat-rapat—takut suara anehnya keluar tiba-tiba.
Tapi, Shevan tau banget pacarnya itu lemah kalo disentuh-sentuh gini. Walaupun gak pernah nolak, Kanala tetap tipe yang gengsi untuk nunjukin kalau sebenarnya dia juga menikmati afeksi itu. Begitu pun Shevan yang makin pingin isengin pacar tsundere-nya. Dia buka sedikit mulutnya dan mengembuskan napas hangat, sontak Kanala menggelinjang. Gak sampe situ aja, ia gencar mau dengar suara imut dari ranum cantik itu. Jadilah Shevan bergerak lebih berani. Ia gigit kecil perpotongan leher Kanala yang gerak menjauh, di situlah kesempatan besar bagi Shevan. Ia dikasih akses lebih untuk menguasai area jenjang si cantik yang lagi belingsatan.
"Ahnghh—Shevan, udah!" pekik Kanala setelah Shevan secara tiba-tiba gigit kuat lehernya. Ia buru-buru jauhin mukanya dari sana. Dia liat gimana Kanala yang udah semerah stroberi, pelipisnya meneteskan peluh, dan bibir bawahnya berdarah sedikit karena digigit kuat-kuat.
Uh, Shevan salah lagi.
Ia menatap melas Kanala. "M-maaf, ay. Aku kelepasan. Tadi gak sengaja sumpah! Aku kaget denger teriakan ka—"
"Hiks ... sakit." Kanala terisak kecil, memang benar sakit, kok. Siapa coba yang gak bakal teriak kesakitan kalo digigit kencang gitu? Shevan gila! Dia pikir dirinya vampir dan Kanala mangsanya?
Air matanya berderai. Ia gak mau mandang pacar sialannya ini. Udah tau Kanala gampang kepancing kalo dicium-cium gitu.
"S-sayang, maaf—huwaaaaa! Maaf, maaf, maaf, sayang! Aku gak bermaksud! Sakit, ya? Sini, aku cup-cup." Sekarang gantian Shevan yang panik dan histeris karena tindakan gragasnya tadi. Kanala gak kaget lagi, Shevan itu memang rajanya drama. Cengeng iya, tengil apalagi.
Here we go again.
Shevan malah nangis dan kejernya melebihi Kanala. "Hukss ... m-maaf ya, sayang! Janji, gak lagi!" tuturnya sambil mengangkat jari telunjuk dan tengah, membentuk peace. Wajahnya menunduk, seolah memohon ampun.
Bukannya iba dan tersentuh, Kanala malah berdecak kasar, "Lebay ih, Sheee." Dia dorong menjauh kepala Shevan yang menggosok-gosok ke dadanya. Ah, selalu ada kesempatan ya.
Kanala tarik badannya menghindar. Tapi, Shevan malah mengikuti tiap geraknya, yang buat dia merasa geli karena dadanya bergesekan sama hidung bangir itu. Padahal, pada awalnya Shevan tipe yang anti sentuhan, cuma katanya kalo itu Kanala—dia mau jadi orang pertama yang cium, peluk, dan genggam Kanala di tiap momen yang mereka ukir.
"Eunghh! Udah ah, Shev—HAHAHAHA!" Kanala tergelak karena aksi Shevan yang mendusel manja ke dadanya. Ia mau menjauh cuma takut kejengkang ke lantai. Shevan mah enak, dia bersandar di sofa.
Aksi mendusel itu berlanjut, hingga dilancarkan aksinya dengan gigit-gigit asal ke dada Kanala yang cuma dilapisi kaos putih tipis.
"Hnggh ... arghh!" Kanala menjerit pas gigitan Shevan makin ke bawah dan agak ke kanan dadanya. Pacarnya ini tau gak sih, apa yang lagi dia lakuin dan bagian mana yang digigit?
Kanala menahan lenguhan, tangannya gemetar dan untuk sekedar dorong kepala Shevan aja dia gak sanggup. Cara terakhirnya adalah dengan menjambak rambut sialan pacarnya yang clingy gak tau batas.
"ARGHH! SAKIT, AY!"
Kalo gak digituin, gak tau deh udah sekacau apa Kanala. Sekarang aja dia sangsi. Penampilannya pasti sudah acak-acakan, sebab kelakuan amoral Shevan.
Yang lebih tua meringis sembari mengusap-usap kepalanya yang terasa perih. "Sumpah, ay. Kenceng banget kamu tarik rambutku, bisa botak ini." kata Shevan dramatis. Ck, kayaknya dia lupa apa yang diperbuat pada Kanala justru lebih parah.
"Ay? kamu—"
Shevan mendongak, matanya membelalak melihat Kanala yang sudah acakadut rupanya. Wajahnya bersemu hingga ke leher, kaosnya memble sampai mengekspos tulang selangka dan dada atasnya. Ia juga lihat ada ruam merah di sisi leher itu—ah, bekas gigitannya tadi.
Shevan menelan salivanya susah payah. Apa-apaan pemandangan di depannya ini? Ia baru tau, kalo Kanala bisa berekspresi begitu seperti sekarang. Bibirnya terbuka kecil dengan embusan napas yang putus-putus. Matanya terpejam tapi bergetar pelan, seolah gak siap melihat keadaannya sendiri.
Shevan pun belum mau menyadarkan Kanala. Ia amati sosok kekasihnya yang nyaman duduk di pangkuannya. Rambut depannya menempel karena peluh yang menetes sampai ke pelipis. Dia perhatikan lagi dan baru sadar, ternyata rengkuhannya ke pinggang ramping itu teramat posesif. Tidak ada se-inchi pun, ia membiarkan Kanala menjauh. Tapi, semakin dia telisik pandangannya ke bagian torso Kanala, tiba-tiba ia melotot tak percaya.
Shevan merutuki kebodohannya. Pantas saja Kanala menjerit dan menjambak dia seperti orang kesetanan. Begitu ... ia gak sengaja gigit bagian itu.
Ups! Sehabis ini pasti Kanala bakal mencak-mencak ke dia.
"Ay, ma—"
"Diem." Kanala potong perkataan Shevan, yang ia tau mau mengutarakan permintaan maafnya.
Hening menguar di antara mereka. Tak ada yang mencoba buka suara. Apalagi Shevan yang habis digertak. Dia memang cupu kok, cuma banyak tingkah aja.
Walau begitu, bukan Shevan namanya kalo diam dan membiarkan situasi mereka makin suram. Shevan gak suka kalo Kanala mulai berlaku dingin ke dia. Akhirnya, ia coba beri jarak rengkuhannya, memundurkan badannya sampai bersandar ke sofa. Masih dengan Kanala yang gak bergeser sedikit pun, ditambah wajah yang dialihkan ke sembarang arah asal gak menatapnya.
Wah, alamat ngambek ini mah.
Shevan menghela napas sebelum natap Kanala dengan pandangan yang teramat serius. "Maaf ya, ay. A-aku gak maksud gi—"
"Gak usah diperjelas ih, Shevan bodoh!" Kanala menyerobot kesal. Apa-apaan sih?! Shevan gak tau ya, kalo Kanala lagi nahan malu? Udah tau, dia diam aja dari tadi karena masih berusaha mencerna kejadian barusan. Mau disengaja ataupun enggak, Shevan tetap kelewatan.
Kanala kembali merona semuka-muka.
"I-iya, ay. Maaf, sumpah! Kamu boleh pukul aku. Tapi, jangan dijambak lagi, ay!" mohon Shevan setengah teriak. Ia liat Kanala yang bergerak maju, mau meraih kepalanya. Pun buru-buru ia tahan kedua tangan itu dan mendekapnya erat-erat.
"Eunghh!! Sesek ih, lepas!" Kanala berontak tak nyaman. Akhir-akhir ini tenaganya terasa jauh lebih lemah dibanding Shevan, deh. Atau Shevan yang bertambah kuat, karena lagi rajin-rajinnya nge-gym? Iya sih, lengan yang gak terbalut kain baju itu terbentuk bisep yang hampir sempurna. Kekasihnya bertambah besar.
"Lepas, Shevan. Mau aku jambak lagi?" ancam yang lebih muda. Jemarinya sudah menyusup ke rambut tebal yang lebih tua. "Ehh! jangan dong, ay." Shevan akhirnya melonggarkan rengkuhannya. Senyum canggung terukir di wajah tengil yang sayangnya bikin Kanala tergila-gila.
Jari-jari Kanala turun ke wajah Shevan. Ia menangkup pipi itu, matanya mulai menyusuri tiap sudut paras kekasihnya yang teramat tampan. Ini aneh, Shevan punya fitur wajah yang lembut, malahan cantik juga. Namun, jika diperhatikan lebih detail, ia punya proporsi muka yang cukup tegas. Garis dahi ke bawahnya itu cakep banget. Alisnya tebal dan terbentang sempurna, ditambah Shevan punya nose bridge yang tinggi. Hidung mungil Kanala mah kalah. Sungguh rupawan kasihnya.
"Kenapa, ay?" Shevan mengernyit bingung melihat Kanala yang masih memperhatikan durjanya, seolah mencari hal yang buatnya penasaran.
Tapi, Kanala justru menggeleng.
"Gak kenapa-napa, kok," ujarnya dengan senyum simpul. Shevan tertegun, itu pertanda mood kekasihnya berangsur membaik.
Shevan gak ambil pusing jawaban itu. Ia agak capek juga udah menjahili Kanala berkali-kali.
"Okay. Kita obati dulu ya, memar di leher kamu." Shevan menatap khawatir luka yang ia torehkan pada leher kekasihnya. Rasa bersalah kembali menyergap, kalo tadi dia gak berlebihan pasti Kanala gak akan luka seperti sekarang.
Kanala peka kalo Shevan udah sadar atas perbuatannya dan merasa bersalah. Ia menggeleng geli. "Aku gapapa, kok," katanya disertai senyum manis yang selalu ampuh membalikkan suasana suram di antara mereka.
Shevan menatap Kanala dengan mata yang sudah berkaca-kaca, sedikit lagi air matanya jatuh.
"Tapi, sakit kan ...? Kamu tadi nangis," katanya lirih, menahan sesenggukan. Lucu sekali, padahal Shevan yang lebih banyak menangis dari padanya.
"Iya, udah gak terlalu sakit, kok," jawab si cantik enteng.
Kanala pun menghapus air mata yang jatuh di pipi kekasihnya. "Uhh, kenapa kamu cengeng banget, sih?" Ia mengunyel-unyel pipi tembam Shevan, hingga bibirnya mengerucut lucu.
"Eumm, kamu gak suka kalo aku cengeng?" tanya Shevan, menatap Kanala dengan mata memelas bak puppy.
Si cantik tergelak, apa-apaan sih pacarnya ini? Masa cuma karena alasan cengeng, rasa suka Kanala padanya akan berkurang gitu aja? Lelakinya selalu berlebihan.
"Enggak, ihh. Kamu kenapa sih? Tadi aja iseng gak ketolongan, sekarang mellow gini." Kanala mencebik tak suka. Kedua tangannya memukul main-main dada Shevan yang hanya terbalut singlet putih favoritnya.
"I-iya, ay. Aku cuma nanya aja," tuturnya penuh kehati-hatian. Ia takut kena jambak dan silent treatment lagi dari Kanala.
Pernyataan itu tak digubris lebih jauh oleh yang lebih muda. Sekarang fokusnya kembali mengamati paras tampan sang kekasih. Kanala tak pernah bosan, bahkan ketika Shevan mengaku jika ia mendekatinya bermodal tampangnya yang teruji—mulai dari anak-anak sampai orang yang sudah lanjut usia pun, selalu mengatakan jika dirinya tampan ketika bertatap muka langsung.
Kanala itu suka yang indah-indah. Shevan lah yang masuk kriterianya. Meski begitu, akhirnya Shevan juga tak main-main perihal niatnya mendekati Kanala, karena ia juga menyukai lelaki manis itu.
"Aku seganteng itu ya, ay?" tanya Shevan tiba-tiba, matanya menilik binar penuh kagum kasihnya. Kanala terkesiap. Shevan si manusia peka.
"A-apa deh?!" dengkus Kanala, bibirnya mencebik, dan matanya melotot main-main. Shevan terkekeh. "Gapapa kok, ay. Gak usah malu gitu," katanya sembari menoel pelan dagu kasihnya yang mendadak galak kalau salah tingkah.
Atmosfer ruangan yang tenang dan sejuk, membawa keduanya pada dekapan yang lebih lembut dan intens. Kanala menyandarkan kepalanya ke dada bidang Shevan, tangannya memeluk pinggang lelakinya. Shevan pun balas merengkuh tubuh ramping Kanala, kaos yang kepalang tipis itu membuatnya menghela sesaat sebelum mendekap posesif punggung sempit kasihnya.
"Emm, Shevan." panggil Kanala, suaranya teredam. Namun, Shevan jelas mendengar panggilan itu.
"Hm, kenapa?" tanya Shevan menundukkan wajahnya dan bertemu tatap dengan Kanala yang mendongak.
Nayanika yang lebih muda bergetar gugup. Kanala selalu seperti ini, jika ingin mengutarakan maksudnya. Si cantik yang galak tapi malu-malu.
"Bilang aja, ay." Tatapannya melembut memberi pengertian. Kanala yang mendengar itu, reflek menegakkan tubuhnya. Membuat Shevan yang lagi meluk dia mengernyit heran.
Sekarang Kanala menggigit bibirnya gusar. Jemarinya membuat pola acak di atas singlet yang membungkus apik tubuh atletis Shevan. Pun yang lebih tua hanya diam memperhatikan dan mengulas senyum lembut, seolah tau maksud dan keinginan pujaannya.
Shevan meraih sebelah tangan Kanala dan meremas pelan jemari lentik itu. Ia juga mengecup buku-buku jari Kanala, lantas membawa telapak tangan halus itu untuk menangkup pipi kanannya. Lalu Shevan menggesekkan wajahnya ke telapak tangan kasihnya yang sekarang termangu mengamatinya.
"Shevan ...?" tutur Kanala, ia berkedip gamang.
"Hmm?" gumam Shevan. Matanya terpejam, menikmati afeksi yang ia lakukan sendiri dari tangan halus Kanala.
"Bilang aja, kamu mau apa?" Sekarang Shevan membuka matanya dan memandang penuh tanya. Namun, Kanala justru mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan menggeleng cepat.
"Emmm—oh! Bukan apa-apa," sergahnya, tiba-tiba saja dia gugup gak karuan. Shevan mengangkat alisnya, seolah bertanya lewat itu. Tapi, yang lebih muda mengalihkan mukanya cepat-cepat.
"Serius? Hmm ...?" desak Shevan. Ia mulai memangkas jaraknya dengan Kanala. Hidung bangirnya menyapa lembut pipi gembil sang kekasih yang teramat mulus dan merona. Ia juga menggesekkan ujung hidungnya hingga mengendus-endus gemas, sebelum akhirnya menekan ranumnya ke pipi itu. Sebuah kecupan yang lama dan penuh sayang, ia bubuhkan di semburat merah kesayangannya.
Ditambah ada napas yang telak menerpa rahang hingga sisi leher Kanala yang terekspos karena kaos kelonggarannya. Yang lebih muda sontak menggeliat, kedua tangannya meremas lengan berotot yang lebih tua. Sungguh pergerakan yang Kanala tak duga-duga.
"Eunghh, S-shevan!" Suara Kanala naik satu oktaf. Tubuhnya meremang, tangannya makin kuat meremas lengan keras Shevan. Pacarnya ini baru saja melakukan hal gila lagi.
"U-udah, dulu ah!" katanya lagi, kali ini ia mendorong Shevan sampai punggung itu membentur sandaran sofa. Yang lebih tua gak protes, ia malah menatap heran Kanala.
"Bukannya kamu minta ci—emmh!"
Mulut yang teramat licin itu buru-buru Kanala bekap. "Apa-apaan sih? Aku gak ada bilang gitu!" Kanala naik pitam. Mukanya memerah sampai ke telinga, bahkan bajunya melorot hingga mengekspos tulang selangka dan sedikit bahunya.
Shevan mengernyit lalu mengangguk. "Okay." Tangannya bergerak membetulkan kaos Kanala yang agak berantakan.
"Ganti baju yuk, ay." tutur Shevan dengan raut tanpa dosanya. Sungguh peralihan otak di luar prediksi Kanala.
"Ck, gak mau!" Sekarang Kanala kembali menubrukkan tubuhnya ke dada kokoh Shevan. Jemarinya meremas gemas bisep kekasihnya, sesekali ia akan mencubit main-main lengan mulus itu.
Lama keduanya dalam posisi saling memeluk, dan yup! Shevan mulai bosan. Sedang Kanala, ia lebih suka menahan diri.
Memang harus Shevan yang mengambil inisiatif.
"Serius deh, ay." Ia menghela napas di sela perkataannya. Kedua tangannya memegang bahu Kanala, lantas didorong hingga raut penuh kebingungan kekasihnya terpampang di hadapannya.
Shevan menatap intens Kanala sebelum hela napas lelah ia embuskan.
"Aku langsung cium aja, ya?" frontal sekali. Shevan gak nunggu Kanala memproses maksud perkataannya. Namun, ketika yang lebih muda mencoba menghindar—ia peka dan langsung menarik pinggang itu mendekat, hingga dada mereka bertabrakan. Kanala menahan napas, gugup melandanya. Shevan selalu aja gak sabaran, atau ia yang terlalu mengulur waktu?
Jemari Shevan menarik turun dagu itu. Tatap keduanya bersinggungan, bisa Kanala lihat netra milik Shevan menggelap tak seperti tadi. Binarannya berganti oleh kabut nafsu yang membuncah. Kanala menelan salivanya susah payah.
"T-tunggu, She—hmmp!"
Shevan gak membiarkan Kanala menyelesaikan ucapannya. Dia bungkam bibir itu dengan bibirnya. Dilumat labium lembut kasihnya, juga menggigit kecil-kecil ranum atas-bawah itu hingga sang empu melenguh tertahan.
"Mmmhh, ssh—akhh!" desah dan jerit Kanala mengalun pasrah, sebelum Shevan melesakkan bila dagingnya ke dalam mulutnya. Yang lebih tua lagi-lagi tak menunggunya siap untuk sesi ciuman mereka yang lebih intens. Lidahnya bergelut dengan milik Kanala, bunyi decakan memenuhi kamar apartemen mereka. Sesapan Shevan makin brutal, ia tak mengizinkan kekasihnya mundur se-inchi pun. Bahkan telapak tangannya menahan wajah itu agar tetap pada posisi.
Saliva keduanya sudah bercampur sejak lima menit yang lalu. Belum ada dari mereka yang puas dan menjauh untuk sekedar mengambil napas.
"Eumhh—u-udah! She—hah!" kata yang lebih muda putus-putus, bibirnya hampir diraih lagi oleh yang lebih tua. Namun, ia buru-buru mendorong keras kekasihnya yang masih gelap mata.
Kanala terengah gak karuan. Napasnya menderu berat, tangannya yang bertengger apik di bahu Shevan bergetar lemas. Shevan pun gak kalah kacau, walaupun ia yang lebih-lebih buat kekasihnya kembali berantakan.
Napas keduanya menderu bersahutan.
"See? kamu suka juga, kan?" ujar Shevan dengan kekehan. Matanya memandang jenaka Kanala yang tak beraturan rupanya. Tapi, ia menyukai sebab perbuatannya. Jemarinya mengelus pipi merona itu, diusapnya pelipis yang meneteskan peluh, hingga poni cantik yang menutupi dahi basahnya.
Ah, lelaki cantik ini miliknya.
Belum selesai mengagumi keelokan durja pujaannya, ujung jari Shevan beralih pada ranum merekah Kanala. Karena ulahnya bibir cantik itu membengkak dan memerah layaknya stroberi yang baru saja dipanen. Ditambah ada kilau saliva bekas tautan intim keduanya yang menempel basah di dagu. Shevan menyeka dengan ibu jarinya, tak sampai situ ia menarik lembut dagu itu hingga matanya dan mata indah Kanala bersirobok. Kemudian, ia bubuhkan kecupan kecil di sudut ranum yang terbuka samar.
Kanala tertegun.
Sedari tadi ia diam karena perlakuan Shevan yang menurutnya agak berbeda dari biasanya setelah mereka berciuman. Perkataannya yang enteng, juga ada tawa ringan yang terdengar meremehkan di telinganya. Belum lagi netra yang selalu memandangnya teduh, penuh cinta, dan berbinar bak golden retriever itu lenyap dalam satu kegiatan.
Kanala gak suka, sebab Shevan berlaku seperti lelaki brengsek yang hanya memanfaatkannya demi kepuasan sendiri, lalu merendahkannya lantaran berhasil mendapatkan apa yang diinginkan.
Duh, Kanala mulai berpikir berlebihan.
Shevan menelisik netra Kanala yang sebelumnya terpancar bingung, sekarang berubah menjadi redup penuh kesedihan. Perlahan binar bening menghiasi kedua iris indah itu, tapi belum sempat Shevan melontarkan tanya—Kanala bergerak menjauh.
"Ay, kamu—"
"Aku mau ke toilet."
Kanala bersiap untuk bangun dari pangkuan Shevan. Tapi, lelaki itu menekan kuat pinggulnya untuk tetap pada posisi. Kanala menyorot tajam. "Lepas, Shevan."
Percuma, Shevan adalah pribadi yang cukup keras. Inginnya itu mutlak, seolah ada otoritas yang tidak bisa Kanala hindari. Sekarang tatapan yang lebih tua makin mengintimidasi, tidak ada keramahan di sana. Kanala juga menelisik obsidian Shevan yang memandangnya seperti mencoba menguak hal yang ia sembunyikan.
"Jujur, Kanala. Aku gak suka kamu yang bohong gini," tekan Shevan masih menatapnya penuh selidik. Sebenarnya ia juga bukan pribadi yang suka memaksa, tapi kalo Kanala mulai gusar dan menghindarinya begini, pasti ada yang mengganjal pikirannya.
Kanala tersentak kecil sebelum sempat menyuarakan jawabannya, Shevan lebih dulu menariknya maju hingga hidung mereka bersentuhan tipis. Dari jarak sedekat ini, Shevan dengan jelas melihat pendar cantik kasihnya memandangnya penuh gundah.
"Kanala, kamu ...?"
Setetes butiran bening jatuh bebas dari netra indah itu. Kanala-nya menangis, tunggu—apa itu karenanya? Apa yang ia perbuat? Di mana kesalahan yang ia torehkan? Apalagi hal yang tidak seharusnya ia lakukan pada dayitanya?
Shevan memaku tak mengerti.
"S-sayang, k-kamu?" Lidahnya kelu, tak tahu apa yang harus ia katakan pada kekasihnya yang berderai. Ia bergetar penuh kekhawatiran.
"J-jangan nangis, sayang ... i-itu karena aku ya? Maaf, sayang! A-aku gak tau apa yang salah. Tapi, pasti gara-gara aku, kan?" Yang lebih tua kelabakan sendiri, ia benar-benar buntu atas kesalahan apa yang dilakukannya. Entah lima menit yang lalu atau jauh sebelum itu.
Kanala menarik napas lalu mengembuskannya pelan, guna menetralkan degup jantungnya yang berdetak tak normal. Tangannya mengusap kasar pipinya yang basah karena tangisan. Bibirnya masih mengatup rapat dan tidak ada tanda-tanda akan mengindahkan tanya Shevan. Wajahnya dialihkan ke bawah, ia tak mau memandang Shevan—yang mungkin sudah mendung dan akan tersedu-sedu.
"Sayang?" panggil Shevan, suaranya serak menahan gejolak tangis. Jemarinya terangkat dan meraih dagu Kanala yang sekarang memejamkan manik indahnya.
"Serius, sayang. Kamu kenapa? Kalo aku salah … maaf, ya. Tapi jangan diemin aku kayak gini," tuturnya penuh keputusasaan. Tidak tau lagi deh, kalo udah begini. Ia hanya bisa menunggu Kanala tenang dan siap mengeluarkan resah hatinya. Ia siap jadi samsak, jika Kanala memarahinya habis-habisan.
Setelah lima menit rengekan Shevan yang membujuknya bak anak kecil, Kanala pun membuka mata. Ia disambut tatapan sedih dan was-was dari kekasihnya. Kanala tak langsung berbicara, ia menelisik mata yang sudah berubah drastis cara pandangnya. Tidak ada lagi tatapan meremehkan dan menggelikan di sana.
"Aku ..."
"Iya?"
"Aku gak suka."
"Gak suka, apanya?"
Keduanya saling pandang. Shevan menunggunya dan Kanala mengumpulkan keberanian atas kalimat yang ingin ia ungkapkan. Sebenarnya ada keraguan yang mungkin saja terdengar berlebihan nantinya.
Kanala menghela napas. "Aku gak tau. Mungkin ini bakal kedengaran lebay di telinga kamu. Tapi ... aku benar-benar gak suka pas kamu gelap mata dan pandang aku rendah setelah kita, c-ciuman. Kamu mandang aku kayak hal yang mudah didapat ... dan setelah puas buat aku berantakan, kamu kesenangan. Seolah aku orang yang mudah kamu tundukin. A-aku tau kalo ini mikirnya terlalu jauh, tapi aku juga liat kamu suka, kan? Kalo aku keliatan gak berdaya di hadapan kamu setelah apa yang kamu lakuin ke aku ...?"
Ungkapan Kanala buat Shevan tertegun, mendadak otaknya membeku. Maksudnya, Kanala berpikir sejauh itu mengenai apa yang telah ia perbuat padanya? Dan satu hal yang ia tangkap dari maksud kasihnya adalah bagaimana ia memperlakukannya setelah puas membuatnya kacau tak menentu.
Ok, Shevan pikir Kanala baik-baik saja dengan segala afeksi yang ia berikan. Kanala memang bereaksi lebih, jika itu di luar batasnya. Tapi, sungguh! Ternyata kasihnya menyimpan praduga—di mana setelah perlakuan yang dicurahkan, ia dinilai sebagai seorang bajingan-brengsek yang kerap melihat insan yang dicintainya bagaikan hal gampangan yang bisa diperlakukan semaunya.
Apakah ekspresinya semenjijikkan itu, hingga Kanala menganggapnya sebagai lelaki red flag yang suka mempermainkan dan merendahkannya?
Shevan paham apa yang memicu sang kekasih enggan menatapnya. Ia ingat, di mana dirinya tertawa remeh dan mengerling layaknya sosok yang tak bisa Kanala hindari. Lebih-lebih, dirinya kira—yang lebih muda akan suka, jika ia berlaku seperti karakter dalam fiksi yang dibacanya. Mengangkat alis, menatap dalam tanpa pengampunan, dan tertawa sarkas—seperti yang sering Kanala ceritakan padanya.
Ya, Shevan hanya sedikit me-reka ulang adegan itu menjadi kenyataan. Tanpa ketidaktahuannya, kalau itu akan dianggap berlebihan dan membuat sang kekasih tak menyukainya.
"Maaf, maaf, maaf."
"A-aku gak mikirin itu terlalu jauh, aku pikir kamu baik-baik aja dan gak keberatan. Kamu bisa terus protes dan marahin aku, kalo itu berlebihan, ya?" tutur Shevan dengan mata menyendu tanda penyesalan. Ia hampir habis kata-kata karena Kanala berkali-kali menangis sebabnya. Beruntung, lelaki manis itu adalah sosok yang pemaaf dan selalu menerima segala kurang dan khilafnya, walaupun harus diperlihatkan dulu sisi rapuh itu.
Kanala mengangguk. "Hm, aku paham. Kamu bisa terus sentuh aku, karena aku suka. Tapi, jadi Shevan yang lembut dan ramah itu lebih baik dari segalanya. Aku makin sayang kalo kamu selalu lembut ke aku." Kanala mengusap pipi Shevan, memberi pengertian. Binar matanya kembali cerah. Cantik rupa itu menatapnya penuh kehangatan.
"Sure, I'll remember it." Shevan pun mendaratkan kecupan khidmat di dahi Kanala sebagai tanda maaf dan penyesalannya.
Tatapan keduanya kembali terkunci sebelum pagutan lembut dan penuh cinta mereka labuhkan pada ranum satu sama lain.
