Work Text:
Layar monitor di bilik kerja Martin adalah satu-satunya sumber cahaya yang masih menyala terang ketika jarum jam dinding menunjuk ke angka 9 malam. Bagi sebagian besar pegawai di lantai lima belas gedung perkantoran itu, jam 8 malam adalah batas toleransi paling akhir untuk angkat kaki dan pulang. Namun bagi Martin, konsep 'teng go' rasanya sudah lama terhapus dari kamus hidupnya.
Sebagai seorang senior finance manager di perusahaan multinasional, hari-harinya tidak lebih dari tumpukan berkas audit, tenggat waktu yang tidak ngotak, serta rentetan lembar kerja Excel yang rasanya tidak pernah habis untuk diperiksa.
Martin tidak membenci pekerjaannya. Kesibukan justru menjadi pelarian terbaik bagi seorang workaholic seperti dirinya. Hidupnya hanya untuk mencapai target kerja dan promosi jabatan yang lebih tinggi lagi. Sayangnya, karena terlalu fokus mengejar itu semua, Martin sampai lupa caranya menikmati hidup.
Rutinitas hariannya berputar pada siklus yang monoton. Ia bangun pukul tujuh pagi, meneguk secangkir kopi hitam saset tanpa gula yang rasanya sepahit nasibnya, memoles kemeja kerja yang disetrika asal-asalan, lalu menerobos kemacetan ibu kota. Malam harinya, ia akan terseret pulang dalam keadaan energi psikis dan fisiknya berada di titik nol.
Kondisi tempat tinggalnya adalah cerminan dari jiwanya yang mati rasa. Apartemen tipe dua kamar yang ia sewa dengan gaji tingginya itu seharusnya menjadi hunian yang nyaman. Namun, di tangan Martin, tempat itu ada bedanya dengan kamar hotel mewah yang kosong dan tak berpenghuni.
Makan malam bagi Martin pun bukanlah sebuah momen yang spesial, melainkan sekadar pasokan bahan bakar agar tubuhnya tetap memiliki energi untuk melanjutkan rutinitasnya esok pagi. Bento yang dihangatkan di microwave, ayam goreng minimarket yang ia sudah bosan memakannya karna terlalu sering dibeli, atau onigiri dingin yang habis dalam tiga gigitan di atas sofa lipatnya. Itulah santapan mewahnya setiap malam.
Orang-orang di kantor sering menjulukinya 'mesin berjas', seorang pria serba rapi dengan kacamata berbingkai tipis yang jarang tersenyum dan tidak pernah membicarakan hal-hal di luar urusan pekerjaan. Martin tidak peduli. Baginya, dunia di luar pekerjaannya adalah sesuatu yang terlalu rumit untuk diurus. Ia merasa hidupnya sudah cukup tenang dengan kesendirian dan keteraturannya yang membosankan.
Namun, keteraturan yang dibangun Martin selama bertahun-tahun itu mulai berantakan pada suatu malam Selasa di pertengahan bulan Oktober.
Martin berjalan melintasi lorong lantai satu apartemennya dengan langkah kaki yang berat. Tas kerjanya terasa seperti diisi sebongkah batu besar, dan bahunya pegal luar biasa setelah kebanyakan mengetik di komputer selama empat belas jam. Kantong plastik dari minimarket bergoyang lemah di tangan kirinya—makan malam ia hari ini adalah dua buah onigiri tuna mayo.
Mata Martin sudah menyipit menahan kantuk yang amat sangat. Fokusnya hanya satu, menekan kode pin pintu apartemen, membersihkan diri secara kilat, lalu memakan onigirinya dan merebahkan badannya di atas kasurnya yang empuk.
Namun, langkah kakinya terhenti secara mendadak tiga meter di depan pintu unitnya.
Disana, persis bersandar di sebelah daun pintunya, sesosok manusia sedang berjongkok sambil memeluk ranselnya. Orang itu mengenakan hoodie abu-abu yang agak kebesaran, celana jeans kusam yang bagian bawahnya agak basah terkena air hujan, serta sepasang sepatu kets yang sudah memudar warnanya. Di sampingnya tergeletak sebuah koper besar yang ritsletingnya hampir jebol karena dipaksa menampung terlalu banyak pakaian, ditambah satu tas ransel kusam yang dipeluk erat di dadanya.
Martin mengerutkan keningnya, memperbaiki letak kacamata yang agak meluncur di batok hidungnya. Ia menghela napas panjang, mengira orang ini adalah penghuni baru yang salah lantai atau mungkin hanya orang mabuk.
"Permisi," suara Martin terdengar berat dan datar, penuh nada kelelahan.
"Anda menghalangi pintu saya."
Sosok itu mendongak kaget. Matanya yang agak bulat kelihatan sembap dan kemerahan, sementara rambut hitamnya agak acak-acakan. Saat pandangan mereka bertemu, orang itu berdiri secara mendadak.
"M-mas! Mas penghuni apartemen ini kan?!" cicit cowok itu dengan suara yang agak serak, buru-buru berdiri sampai terhuyung.
Martin mundur satu langkah, memasang gestur waspada.
"Siapa kamu? Ada perlu apa berdiri di depan unit saya malam-malam begini? Kamu kriminal ya? Saya panggil security sekarang!"
"Nggak, mas! Please jangan panggil security, saya bukan orang jahat kok. Beneran!" Cowok itu memajukan badannya satu langkah, refleks membuat Martin merapatkan tas kerjanya ke dada.
"Kenalin, nama saya Seonghyeon. Saya... saya butuh bantuan banget mas. Beneran, demi Tuhan saya sekarang lagi nggak punya tempat tinggal."
Martin menatap Seonghyeon dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan menelisik dan dingin.
"Saya bukan yayasan sosial. Kalau kamu butuh tempat menginap, ada hotel yang hanya dua blok dari sini."
"Mas, masalahnya uang saya sisa seratus ribu..." potong Seonghyeon panik, matanya mulai berkaca-kaca lagi.
"Saya... saya baru aja di PHK sebulan yang lalu dari tempat kerja lama saya. Tadi siang, pemilik kosan saya tiba-tiba ngeluarin barang-barang saya karena saya belum bisa bayar tunggakan bulan ini. Saya bingung mau kemana lagi...mana sekarang nyari kerja susah banget mas."
"Lalu? Kewajiban saya gitu untuk nampung kamu?" tanya Martin, nadanya mulai mengeras lantaran sisa energinya makin teruji.
"Kita bahkan nggak saling kenal. Tolong pergi sebelum saya beneran panggil security."
Martin menerobos keberadaan Seonghyeon, mengulurkan tangan untuk menekan tombol keypad di pintunya. Namun, sebelum jemarinya menyentuh angka pertama, sepasang tangan yang hangat dan agak bergetar tiba-tiba mencengkeram lengan jas mahal Martin dengan sangat erat.
"Mas, tolong jangan panggil security!" jerit Seonghyeon pelan namun penuh desakan. "Saya bisa lakuin apa aja. Saya bisa nyapu, ngepel, nyuci baju, nyetrika kemeja mas, bahkan saya juga jago masak! Saya bisa tidur di sofa ruang tamu, atau mas ada gudang kosong gak? Saya tidur disana juga gak apa-apa banget mas. Saya janji nggak bakal bikin masalah, begitu saya dapet kerjaan baru, saya langsung keluar dari apartemennya mas."
"Nggak. Lepas." tegas Martin sambil mencoba mengempaskan tangan Seonghyeon. "Saya nggak butuh pembantu. Saya juga lebih suka tinggal sendiri."
"Mas, tolong..." Seonghyeon tidak melepaskan genggamannya, justru ia menatap Martin dengan mata memohon yang luar biasa dramatis.
"Saya juga belum makan dari pagi. Kalau mas usir saya sekarang, mas sama aja kayak bunuh seseorang secara gak langsung!"
Martin hendak membalas argumen konyol itu dengan kata-kata pedasnya yang biasa ia pakai untuk melibas staff di kantornya. Namun, tepat sebelum bibirnya terbuka, suara nyaring terdengar dari arah perut Martin.
Kruuukkk... Gukkk...
Suara keroncongan perut Martin bergema begitu keras di lorong apartemen yang sunyi itu, disusul oleh suara keroncongan lain yang tidak kalah nyaring dari perut Seonghyeon.
Hening seketika merayapi mereka berdua.
Seonghyeon menatap perut Martin, lalu beralih menatap kantong plastik minimarket di tangan kiri Martin yang transparan, memperlihatkan dua buah onigiri yang sudah dingin.
"Mas..." gumam Seonghyeon pelan, tatapannya mendadak berubah prihatin.
"Mas juga belum makan ya?"
Wajah Martin terasa memanas. Rasa malu bercampur rasa lelah yang luar biasa mendadak merobohkan seluruh pertahanannya. Kepalanya makin pusing, dan membayangkan harus adu argumen lagi sama cowok asing ini rasanya jauh lebih menyiksa daripada mengizinkan dia tidur di apartemennya malam ini.
Martin memejamkan mata sebentar, menghela napas panjang, lalu menekan enam angka passcode pintunya.
Martin memejamkan mata sebentar, menghela napas panjang yang terdengar sangat frustrasi, lalu menekan enam angka passcode pintunya.
Bip, bip, bip, bip, bip, bip. Klek.
"Masuk," kata Martin datar tanpa melihat ke belakang. "Kalau kamu nyuri satu barang aja dari rumah ini, saya pastikan besok pagi kamu tidur di kantor polisi."
Mata Seonghyeon seketika berbinar terang.
"HAH?? MAS... MAS BENERAN IZININ SAYA MASUK?!"
"Berisik." potong Martin dingin sambil melangkah masuk.
Seonghyeon buru-buru menyambar koper dan ransel kusamnya sebelum pintu otomatis itu tertutup kembali. Sambil berjinjit panik, ia menghempaskan koper ke sudut jalan masuk, melepas sepatunya rapi-rapi, dan menutup pintu sepelan mungkin seolah-olah menggebrak pintu bisa membuat Martin berubah pikiran dan mengusirnya detik itu juga.
Apartemen Martin terasa dingin dan sepi, tapi bagi Seonghyeon yang seharian terlunta-lunta di jalanan dan tinggal di kosan yang hanya satu petak, tempat ini tidak ada bedanya dengan istana megah.
Martin menaruh tas kerjanya di atas meja makan kaca, menghempaskan kantong plastik minimarket yang isinya dua buah onigiri dingin, lalu mengusap wajahnya yang kelelahan.
"Kamar mandi disana," tunjuk Martin singkat ke arah pintu kamar mandi tamu di dekat lorong. "Terus handuknya ada di dalem lemari gantung."
"Mas, makasih...beneran makasih banyak udah mau nampung saya." pangkas Seonghyeon dengan suara yang hampir bergetar karena emosional. Ia membungkuk berkali-kali hingga rambutnya yang agak berantakan makin mencuat. "Saya janji gak bakal ngerepotin, saya bakal—"
"Mandi sekarang. Gak usah banyak ngomong," potong Martin datar, meski ada sudut kecil di dadanya yang sedikit menghangat melihat binar lega yang begitu polos di mata cowok di depannya.
Sementara Seonghyeon mandi, Martin melangkah ke dapur kecilnya. Ia menyalakan microwave, memasukkan dua onigiri tuna mayo dingin itu dan mengatur timer selama tiga puluh detik. Suara dengung mesin yang menjadi satu-satunya suara yang mengisi keheningan rumahnya, sesuatu yang biasanya terasa biasa saja, tapi malam ini rasanya sedikit berbeda karena ada suara gemericik air dari kamar mandi.
Gak sampai lima belas menit, Seonghyeon keluar dengan singlet putih dan celana training abu-abu.
"Mas... makasih ya udah bolehin saya pakai kamar mandinya," cicit Seonghyeon ragu-ragu sambil berdiri kaku di pinggir karpet ruang tamu.
Martin yang baru selesai memanaskan makanan cuma menunjuk dua piring kecil di meja makan yang masing-masing berisi satu onigiri hangat.
"Duduk. Makan ini," kata Martin. "Cuma ada ini. Kalau kurang, tahan sampai besok pagi."
Mata Seonghyeon berbinar lagi, seolah-olah onigiri hangat itu adalah hidangan bintang lima. Ia duduk di kursi meja makan, menangkupkan kedua tangannya sebentar, lalu menyantap onigiri itu dengan sangat lahap. Martin duduk di seberangnya, memakan onigirinya sendiri dengan gerakan pelan, diam-diam memperhatikan bagaimana pipi Seonghyeon yang menggembung saat mengunyah.
"Pelan-pelan. Nggak ada yang bakal rebut makanan kamu," gumam Martin pelan.
"Hehe, maaf mas laper banget soalnya." gumam Seonghyeon jujur di sela-sela kunyahannya. "Terakhir makan cuma roti tawar tadi pagi...itupun cuma selembar."
Martin hanya menghela napas pendek, tidak membalas. Usai menghabiskan bagiannya dalam tiga menit, Seonghyeon refleks berdiri dan menyambar piring bekas Martin.
"Biar saya aja yang cuci mas. Kan saya sendiri yang janji bakal beres-beres kalau diizinin numpang disini," sergah Seonghyeon cepat saat Martin mau mengambil piringnya sendiri.
Martin membiarkan cowok itu sibuk di depan wastafel dapur. Setelah membilas dua piring kecil dan mengeringkannya, Seonghyeon balik lagi ke ruang tamu, hendak meraih koper dan ranselnya yang tergeletak di dekat pintu.
Martin melangkah melewati ruang tamu, lalu menoleh singkat.
"Ikut saya."
Seonghyeon berkedip bingung, namun refleks menyeret koper dan menggendong ranselnya, mengikuti langkah Martin dari belakang. Pria itu berhenti di depan sebuah pintu kayu, memutar gagang pintunya, lalu berjalan masuk lebih dulu untuk menyalakan lampu.
Seonghyeon menyusul melangkah masuk ke dalam kamar, menatap sekeliling ruangan yang terawat dan bersih itu dengan mata berbinar.
"Kamu tidur di kamar ini," ujar Martin sambil memutar badannya menatap Seonghyeon yang masih berdiri memegangi gagang kopernya. "Taro aja koper sama ranselmu di dalem. Lemarinya kosong kalau kamu mau nyimpen baju, terus... ada selimut tebal di dalam sana kalau kedinginan."
Martin berdeham pelan, membuang pandangan ke arah koridor luar sebelum melangkah menuju ke ambang pintu.
"Oh, dan... nama saya Martin."
Seonghyeon menghentikan gerakannya yang sedang menggeser koper ke sudut kamar. Senyumnya merekah lebar, senyum paling tulus dan hangat yang pernah Martin lihat dari seorang cowok asing di tengah malam.
"Mas Martin... makasih banyak ya sekali lagi udah mau nampung saya malam ini," tutur Seonghyeon pelan, suaranya terdengar lega luar biasa.
Seonghyeon lalu memandang Martin yang kini sudah berdiri di luar pintu kamarnya, menatapnya dengan binar mata penuh rasa terima kasih.
"Selamat tidur, mas Martin."
Martin membeku sejenak di depan pintu kamarnya sendiri yang berada persis di seberang lorong. Kata 'selamat tidur' adalah ucapan yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia dengar di dalam tempat tinggalnya.
"Hm," balas Martin singkat, berusaha mempertahankan raut kaku sebelum melangkah masuk ke kamarnya dan menutup pintu pelan.
Klek.
Pintu kamar Martin tertutup rapi.
Martin melepas kacamatanya, memijat pangkal hidungnya yang berdenyut pelan sebelum melangkah menuju kamar mandi dalam. Ia membutuhkan kucuran air hangat untuk menghilangkan sisa-sisa kelelahan dan rasa pusing yang menumpuk sejak pagi.
Di bawah guyuran shower, Martin memejamkan mata. Biasanya, keheningan di kamar mandi hanya diisi oleh benaknya yang terus berputar memikirkan tumpukan pekerjaan kantor. Namun malam ini, kepalanya justru dipenuhi oleh cowok asing nekat yang saat ini tengah tertidur di kamar tamu miliknya, bayangan wajah Seonghyeon yang panik, kepasrahannya saat memohon tempat tinggal, hingga caranya menyantap onigiri hangat dengan begitu lahap.
Usai mengeringkan badan dan berganti dengan pakaian santai, Martin mematikan lampu kamar lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Martin menatap langit-langit kamarnya yang gelap.
'Saya nggak salah ambil keputusan, kan?' batinnya ragu. 'Bisa aja besok pagi dia bawa kabur barang-barang saya.'
Martin menghela napas, memiringkan badannya di atas kasur. Logikanya bilang ini keputusan bodoh, tapi mengingat raut pasrah Seonghyeon tadi, ia tahu cowok itu beneran kepepet.
Meskipun batinnya masih ragu, Martin perlahan memejamkan mata. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, apartemennya tidak terasa sepi lagi.
Ucapan Seonghyeon ternyata bukan hanya omong kosong belaka. Cowok itu bertindak persis seperti janjinya, bahkan jauh melebihi ekspektasi Martin. Pagi harinya, Martin terbangun pukul 6 pagi dan mendapati apartemennya berbau harum minyak wijen, bawang putih tumis, dan kaldu gurih yang menyeruak hingga ke dalam kamarnya.
Ketika Martin keluar dengan pakaian tidurnya, ia mendapati meja makan kaca yang biasanya tertutup debu tipis kini sudah bersih mengkilat. Di atasnya tersaji semangkuk sup dashi hangat dengan potongan tahu lembut, nasi putih yang masih berasap, serta telur gulung yang tercetak rapi. Di sebelahnya, Seonghyeon berdiri mengusap tangannya pada celana training dengan senyum lebar, memegang sebuah kotak bekal plastik warna biru.
"Pagi mas Martin!" sapa Seonghyeon ceria, seolah-olah mereka sudah berteman selama sepuluh tahun. "Saya bikin sup dashi sama telur gulung buat mas sarapan sebelum berangkat kerja. Terus ini... saya bawain bekal buat makan siang mas di kantor. Ada tumis daging cincang sama buncis. Semoga mas suka ya!"
Martin terpaku di tempatnya. Ia menatap makanan di meja, lalu menatap Seonghyeon yang rambut bangun tidurnya masih mencuat ke mana-mana.
"Kamu... masak semua ini darimana?" tanya Martin heran. "Kulkas saya kan kosong."
"Saya pakai uang seratus ribu terakhir saya buat belanja di pasar tadi," sahut Seonghyeon bangga. "Tenang aja, saya pinter nawar kok. Jadi sisanya masih ada lima ribu buat beli kerupuk."
Martin tidak tahu harus berkata apa. Ia duduk lalu menyendok sup hangat itu ke dalam mulutnya. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, rasa gurih asli masakan rumahan meledak di lidahnya, bukan sekedar rasa penyedap instan yang dijual di minimarket. Tanpa sadar Martin menghabiskan seluruh makanan di piringnya tanpa sisa.
Seonghyeon yang memperhatikan dari tepi meja dapur tersenyum makin lebar, matanya menyipit puas melihat piring dan mangkuk itu bersih tanpa sisa.
"Enak kan mas? Saya gak bohong kalo saya ini pinter masak," celoteh Seonghyeon bangga sambil langsung menyambar piring bekas Martin buat ditaruh di wastafel. "Sana mas mandi, nanti telat loh ngantornya."
Martin bergeming sejenak, menatap punggung Seonghyeon yang sibuk membilas piring dengan gerakan lincah. Ada rasa hangat yang aneh merambat di dadanya, sebuah perasaan asing yang tidak pernah ia rasakan selama bertahun-tahun menghuni apartemen ini. Tanpa bersuara, Martin berdiri dan melangkah menuju kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap.
Usai mandi dan mengenakan setelan kerjanya yang rapi, Martin keluar kamar sambil merapikan jam tangan di pergelangan tangannya. Di luar, Seonghyeon sudah berdiri menunggunya dekat pintu keluar, memegang tas bekal kain warna krem lengkap dengan sepatu kerja Martin yang sudah ditata rapi menghadap ke arah pintu.
"Ini bekalnya ya mas. Langsung dimakan nanti pas jam makan siang, dan jangan ditunda-tunda, oke?" ujar Seonghyeon sambil mengulurkan tas bekal itu.
Martin mengambil tas bekal tersebut kemudian menatap bekalnya sebentar, lalu beralih menatap Seonghyeon yang rambutnya masih mencuat bebas.
"Uang seratus ribu kamu yang kepake tadi... nanti malam saya ganti."
"Eh, gak usah mas! Saya gap—"
"Saya ganti," potong Martin tegas namun dengan nada suara yang jauh lebih lembut dari semalam. "Sekalian saya kasih uang belanja buat isi kulkas. Saya berangkat dulu."
"Hati-hati di jalan yaa mas Martiinnn!" seru Seonghyeon ceria sambil melambaikan tangan pas Martin melangkah keluar.
Pintu apartemen tertutup rapat dengan bunyi klek yang halus.
Seonghyeon berdiri terpaku di depan pintu selama beberapa detik, sebelum akhirnya menghembuskan napas panjang yang amat lega. Bahunya yang tadinya tegang mendadak rileks sepenuhnya. Ia menatap sandal rumah yang dipakainya, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang kini mendadak sunyi.
"Gila... gue beneran dapet tempat tinggal ya?" gumam Seonghyeon pada dirinya sendiri, masih merasa seperti sedang bermimpi.
Kemarin siang, ia masih nangis sesegukan di pinggir jalan gara-gara diusir oleh ibu kosannya dan bingung mau tidur dimana karena jujur saja, Seonghyeon tidak kenal siapa-siapa disini. Tapi pagi ini, ia baru saja bikin sarapan di dapur apartemen mewah, makan bareng mas-mas gila kerja yang ganteng tapi kaku, dan bahkan membawakannya bekal makan siang.
Seonghyeon tersenyum lebar sampai matanya membentuk bulan sabit. Ia mengepalkan tangannya di udara, bersorak tanpa suara.
'Pokoknya gue harus rajin dan gak boleh bikin mas Martin risih biar gak ditendang keluar dari sini!'
Tanpa membuang waktu, Seonghyeon langsung menyambar sapu dan kain pel dari gudang, lalu mulai bergerak lincah menyapu setiap sudut lantai apartemen Martin. Dapur bekas masak tadi disapu bersih sampai kinclong dan piring-piring ditata sangat rapi di atas rak.
Nggak berhenti sampai disitu, Seonghyeon melangkah ke area laundry kecil dekat balkon. Di sana, keranjang baju kotor Martin sudah agak menumpuk, didominasi kemeja kerja dan celana bahan.
Seonghyeon memisahkan pakaian putih dengan yang berwarna, lalu memasukkannya satu per satu ke dalam tabung mesin cuci. Ia memberi detergen, menambahkan pelembut pakaian beraroma segar, dan kemudian menekan tombol start.
Begitu mesin berputar dengan dengung halus, Seonghyeon kembali ke ruang tamu dan mengambil laptop dari dalam ranselnya. Ia duduk bersila di atas karpet empuk, membuka puluhan tab situs lowongan kerja, lalu mulai memasukkan lamaran satu per satu dengan semangat baru.
"Semangat Seonghyeon! Hari ini harus dapet panggilan interview, terus nanti malam masak makanan enak buat mas Martin." serunya pelan sambil tersenyum manis, jemarinya lincah menari di atas keyboard laptop.
Di sisi lain, Martin sampai di kantornya tepat waktu.
Suasana lantai lima belas gedung perkantoran tempat Martin bekerja masih agak lengang saat ia tiba pukul setengah sembilan pagi. Martin meletakkan tas kerjanya di atas meja, lalu menaruh tas bekalnya tepat di sebelah laptopnya.
Tidak lama kemudian, James alias rekan kerja Martin yang terkenal paling jahil dan hobi gosip melangkah masuk membawa segelas kopi susu. Langkah James mendadak terhenti tepat di samping meja Martin. Matanya membelalak menatap tas bekal lucu bertuliskan Have a Nice Day yang bertengger manis di meja si mas-mas workaholic paling dingin sekantor.
"Bentar bentar..." James mengucek matanya, memiringkan kepala buat memastikan dia gak salah lihat. "Tin, itu di meja lu... tas bekel?"
Martin yang lagi menyalakan laptop cuma merespons datar tanpa menoleh.
"Iya."
"DEMI APAA?!" James hampir tersedak ludahnya sendiri. Dia membungkuk, meneliti tas bekal itu dari dekat seolah-olah barang itu adalah benda purbakala yang langka.
"Lu bawa bekal dari rumah? Seorang Martin?! Orang yang tiga tahun gue kenal makanannya cuma bento minimarket atau delivery makanan?!"
"Bukan saya yang masak," jawab Martin singkat sambil mengetik password laptopnya.
Mata James makin membelalak lebar, bibirnya tersenyum curiga. "BUKAN LU YANG MASAK?? Jangan bilang lu diem-diem udah punya pacar ya, Tin?! Siapa anjir yang buatin lu bekel kaya gini?"
"Bukan pacar. Cuma orang rumah," gumam Martin pelan.
"Lah, bukannya lu tinggal sendirian di apartemen?" James makin histeris, menyenggol bahu Martin gemas.
"Wah, mantep lu Tin! Pantesan pagi ini muka lu gak segalak biasanya, ternyata ada yang ngurusin di rumah toh. Isinya apaan tuh? Gue boleh minta dikit gak?"
Tangan James baru aja terulur mau membuka ritsleting tas bekal itu, tapi dengan cepat Martin menggeser tas bekal itu mendekat ke arah dadanya, menjaganya dari jangkauan James.
"Jangan sentuh-sentuh. Ini punya saya," tegur Martin dingin sambil menatap James dengan pandangan yang tajam.
James menarik tangannya kaget, lalu tertawa terbahak-bahak melihat reaksi rekannya yang gak biasa itu.
"Eh, pelit amat buset. Ya udah iya, gue gak bakal minta. Tapi asli ya Tin, muka lu seger banget hari ini. Mantap dah, mending lu gini terus daripada keliatan kayak mayat hidup tiap pagi!"
James akhirnya balik ke mejanya sambil menggeleng-geleng heran, meninggalkan Martin yang sendirian menatap tas bekal di pangkuannya. Martin mengusap permukaan kain tas itu pelan, lalu tersenyum sangat tipis, sebuah senyuman yang bahkan tidak ia sadari sendiri sudah terukir di wajahnya.
Kesibukan pekerjaannya dengan cepat menyapu bersih suasana di gedung perkantoran pada pagi itu. Martin kembali tenggelam dalam tumpukan laporan keuangan dan deretan angka di layarnya. Tapi entah kenapa, setiap kali fokusnya mulai goyah, tatapannya refleks bergulir ke arah tas bekal krem yang isinya kini sudah kosong sebab tadi siang ia memakan habis seluruh masakan yang Seonghyeon buat tanpa tersisa sedikit pun.
Martin melirik sebentar ke jam di sudut laptopnya. Sudah pukul tujuh malam. Martin menghela napas, ia masih punya tiga dokumen analisis yang harus diselesaikan. Kemudian pukul 8 malam pas, Martin akhirnya menutup laptopnya dengan bahu yang sangat kaku. Ditambah perjalanan pulang menembus kemacetan malam membuat tenaganya benar-benar terkuras habis.
Ketika langkah kakinya berhenti di depan pintu unitnya, jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan hampir pukul 9 malam.
Martin menekan tombol passcode.
Bip, bip, bip, bip, bip, bip. Klek.
Suara pintu yang terbuka menyalakan lampu koridor. Hal pertama yang disambut pandangan Martin adalah suasana ruang tamu yang rapi luar biasa. Di atas sofa, Seonghyeon tampak duduk meringkuk dengan kepala yang terangguk-angguk ketiduran.
Suara denting pintu seketika membuat cowok itu terlonjak bangun. Matanya tersentap, berkedip berkali-kali mencoba menyesuaikan dengan cahaya lampu sebelum binar cerianya kembali menyala.
"Eh, mas Martin udah pulang?" panggil Seonghyeon dengan suara khas orang baru bangun tidur, agak serak tapi penuh semangat. Ia terburu-buru berdiri hingga hampir tersandung oleh kaki sofa. "Selamat datang mas!"
"Hm," sahut Martin pelan sambil melepas sepatu kerjanya. "Kenapa kamu belum tidur?"
"Nungguin mas Martin pulang, hehe." Seonghyeon menyunggingkan senyum lebar, melangkah sigap mengambil tas kerja dari tangan Martin. "Mas pasti capek banget, kan? Makan malamnya udah siap dari tadi, tinggal saya angetin sebentar. Mas mandi dulu aja,"
Seonghyeon mendongak menatap Martin dengan mata berbinar bangga. "Oiya, tadi saya juga udah siapin air hangat di bathtub kamar mandi mas Martin. Udah pas kok suhunya, bisa langsung dipakai berendam biar capeknya langsung hilang."
Martin membeku di tempatnya. Ia menatap cowok di depannya yang masih mengucek matanya yang kemerahan menahan kantuk, namun tetap sibuk menyusun selop rumah untuk Martin pakai.
Sudah berapa tahun ia pulang ke unit yang gelap, dingin, dan sepi tanpa ada seorang pun yang menyapa atau sekadar menyiapkan air hangat untuknya? Sepertinya hampir tidak pernah.
"Kamu..." Martin menghentikan ucapannya, tenggorokannya mendadak terasa agak mengganjal. "...makasih banyak, Seonghyeon."
Seonghyeon terkekeh pelan. "Sama-sama, mas. Udah sana mandi dulu, biar pas selesai mandi makanannya udah siap di atas meja!"
Martin menatap punggung Seonghyeon yang mulai sibuk menyalakan kompor. Ia menarik nafas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, lalu berjalan menuju kamarnya dengan perasaan hangat yang kini tidak lagi bisa ia pungkiri.
Usai mandi berendam air hangat yang benar-benar menghilangkan rasa pegalnya, Martin keluar dengan pakaian santai. Di meja makan, Seonghyeon sudah menata piring berisi masakan hangat yang aromanya menggugah selera.
Saat Seonghyeon baru saja hendak menuangkan air minum, Martin merogoh dompet dari saku celananya dan meletakkan beberapa lembar uang kertas tebal serta sebuah amplop di atas meja.
Seonghyeon terhenti, menatap meja dengan dahi berkerut. "Eh... ini apa, mas?"
"Yang di dalam amplop ini uang belanja bulanan," kata Martin tenang sambil menarik kursinya untuk duduk. "Isi kulkas sama kebutuhan rumah, kamu yang atur. Terus..." Martin menggeser beberapa lembar uang ratusan ribu di luar amplop ke dekat piring Seonghyeon. "...yang ini ganti uang seratus ribu kamu yang kepakai tadi pagi, sekalian uang jajan buat kamu."
"Hah? uang jajan?!" Seonghyeon terperanjat, buru-buru mendorong lembaran uang itu kembali ke arah Martin. "Gak usah, mas! Kalau ganti uang seratus ribu sih gapapa, tapi uang jajan gak usah. Kan mas udah kasih saya tempat tinggal gratis. Saya kaya orang gak tahu malu kalau nerima duit sebanyak ini dari mas..."
"Gapapa," potong Martin tegas dengan tatapan mata yang tajam namun lembut. "Anggap aja imbalan karena kamu udah ngurus rumah dan masak tiap hari. Lagian kamu butuh ongkos sama uang makan pas pergi interview kerja, kan? Ambil. Kalau kamu nolak, besok saya anggap kesepakatan kita batal dan kamu boleh angkat kaki dari sini."
Seonghyeon menggigit bibir bawahnya, menatap lembaran uang itu lalu beralih menatap Martin yang sudah mulai menyendok makanannya. Bibirnya pelan-pelan mengukir senyum lebar yang sangat manis hingga matanya menyipit.
"Makasih banyak ya, mas Martin..." tutur Seonghyeon pelan tapi penuh rasa haru. "Nanti saya bakal masakin makanan yang paling enak terus buat mas."
Martin tidak membalas lagi dengan kata-kata, tapi diam-diam ia menyembunyikan senyum tipisnya sambil menikmati masakan Seonghyeon.
Seminggu berlalu setelah malam itu, dengan sebagian kecil dari uang jajan yang diberikan Martin, Seonghyeon sempat iseng membuka aplikasi belanja online di sela-sela waktu luangnya setelah mengirim lamaran kerja. Matanya tertahan pada sebuah apron kain berwarna pink cerah bermotif bunga-bunga putih kecil.
"Lucu banget..." gumamnya. Setelah menimbang-nimbang sebentar, ia pun memutuskan untuk membelinya.
Dua hari kemudian, paket berisi apron itu pun sampai. Dan tepat di minggu berikutnya, perubahan di apartemen Martin makin terasa nyata.
Martin yang biasanya baru menginjakkan kaki di rumah hampir tengah malam, kini mendadak mulai membiasakan diri pulang jam 8 malam. Ia sadar, ada makanan hangat dan seseorang yang menunggunya.
Malam itu, Martin baru saja melepas sepatunya di area foyer.
"Selamat datang, mas Martiinn!"
Seonghyeon muncul dari balik sekat dapur sambil memegang spatula kayu. Langkah Martin seketika terhenti di tempat. Pandangannya membeku tepat di tubuh Seonghyeon.
Cowok itu memakai apron pink bunga-bunga. Kaos oblong cokelat tua yang dipadukan dengan apron merah muda itu membuat penampilan Seonghyeon terlihat imut, manis, dan...lucu. Tali apron yang terikat rapi di belakang pinggangnya memperlihatkan lekuk tubuh Seonghyeon.
Ada kejutan berdesir yang mendadak menghantam dada Martin, membuat detak jantungnya terhenti sejenak sebelum berpacu cepat. Martin berusaha keras mempertahankan wajah kaku khasnya, membuang muka ke samping.
"Sini mas, tasnya biar saya yang simpenin." Seonghyeon melangkah mendekat, sigap mengulurkan tangan menyambar tas kerja kulit milik Martin.
Jari-jari mereka tidak sengaja bersentuhan saat memindahkan tali tas. Gesekan singkat dari kulit jari Seonghyeon yang hangat membuat Martin spontan menarik tangannya sedikit terlalu cepat.
Seonghyeon mendongak, mengerjapkan matanya bingung. "E-eh... mas Martin? Kenapa?"
"Gak. Tadi kirain ada lalat di tangan kamu." alibi Martin dengan nada ketus, berusaha menutupi detak jantungnya yang makin brutal.
"Kamu... kenapa pakai apron itu?"
Seonghyeon menunduk menatap apron barunya, lalu terkekeh polos. "Eh? Oh apron ini, lucu gak mas? Waktu itu saya beli pakai uang jajan dari mas Martin biar baju saya gak kena cipratan minyak pas lagi masak. Mas mandi dulu aja, air hangatnya udah siap di bathtub. Habis itu baru kita makan bareng,"
Martin menelan ludah, menatap punggung Seonghyeon yang kembali melangkah ke dapur dengan apron pink-nya. Ia menarik napas panjang, berusaha menguasai dirinya sebelum masuk ke kamar mandi.
Dua puluh menit kemudian, Martin keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih setengah basah.
Di meja makan, Seonghyeon sudah menata mangkuk berisi sup iga yang berasap tipis. Saat melihat Martin mendekat, Seonghyeon berbalik hendak mengambil mangkuk nasi. Namun, kakinya yang licin berbalut kaus kaki tipis mendadak tersandung ujung kaki meja.
"Ehh—!"
Seonghyeon kehilangan keseimbangan dan tubuhnya meluncur jatuh ke samping.
Refleks Martin bertindak lebih cepat dari otaknya. Pria itu melempar badannya maju dan langsung menyambar pinggang Seonghyeon dengan tangan kanannya.
Srettt.
Dorongan itu membuat Seonghyeon jatuh tepat ke dalam dekapan Martin. Punggung Seonghyeon menempel erat di dada Martin, sementara lengan kokoh Martin melingkar tepat di sekeliling pinggangnya.
Seketika suasana menjadi hening, seolah-olah seluruh isi ruangan ikut menahan napas.
Jarak di antara wajah mereka begitu dekat. Hidung Seonghyeon nyaris bersentuhan dengan rahang tegas Martin. Seonghyeon bisa merasakan dada Martin yang naik turun memburu di punggungnya, sementara Martin dapat merasakan aroma sabun mandi lavender yang menguar jelas dari ceruk leher Seonghyeon.
Deg. Deg. Deg.
Dada keduanya berdegup kencang secara bersamaan. Sapuan napas Martin yang hangat di dekat telinganya membuat seluruh bulu kuduk Seonghyeon meremang seketika. Pipinya berubah agak merah.
Martin membeku. Telapak tangannya di pinggang Seonghyeon meremas kain apron itu sedikit lebih erat tanpa sadar, menatap mata Seonghyeon dari jarak tak sampai lima sentimeter.
"M-mas Martin..." bisik Seonghyeon pelan, suaranya gemetar halus.
"Kamu... gak apa-apa?" suara Martin terdengar amat serak dan dalam.
"G-gak apa-apa... makasih, mas..."
Martin perlahan membantu Seonghyeon berdiri tegak kembali, meski tangannya terasa berat saat harus melepaskan pinggang Seonghyeon. Begitu berdiri, Seonghyeon buru-buru membelakangi Martin, menyibukkan diri menata ulang mangkuk di meja dengan jemari yang gemetar hebat.
"H-hampir aja supnya tumpah... aduh, maaf mas, saya emang ceroboh banget...ha-ha." cerocos Seonghyeon panik dan agak kaku untuk menutupi rasa canggungnya.
Martin tidak menjawab. Pria itu mendudukkan dirinya di kursi, menatap telapak tangannya sendiri yang baru saja merengkuh pinggang Seonghyeon. Ada denyut asing yang masih tertinggal di sana, getaran hangat yang membuat dadanya mendadak bergemuruh tanpa alasan.
Martin tidak mengerti kenapa jantungnya harus berpacu sekencang ini hanya karena satu dekapan tak sengaja. Ia buru-buru mengepalkan jemarinya, berusaha mengusir sensasi aneh itu dan menepis jauh-jauh gejolak asing yang mulai merusak kontrol dirinya.
Satu bulan berlalu dengan cepat. Perubahan pada diri Martin mulai disadari oleh orang-orang di kantornya.
"Martin," ujar Pak Hendra, atasan Martin, saat rapat revisi anggaran di suatu sore. "Kamu keliatannya agak berubah ya belakangan ini? Muka kamu nggak sesuram biasanya. Kantong mata kamu juga udah mendingan. Kamu dapet pacar baru ya?"
Martin hampir tersedak kopinya.
"Oh, eggak Pak. Cuma... pola makan saya agak teratur belakangan ini."
"Baguslah," gumam Pak Hendra. "Soalnya biasanya jam segini kamu masih kelihatan kayak mayat hidup yang dipaksa ngetik."
Martin tidak bisa menyangkalnya. Kebiasaannya berubah drastis. Ia tidak lagi menunda-nunda pekerjaan hingga larut malam. Pikirannya saat jam menunjukkan pukul 5 sore kerap melayang pada bayangan Seonghyeon yang mungkin sedang sibuk membuat adonan kue atau merapikan tumpukan kemejanya.
Martin mendapati dirinya ingin cepat-cepat membereskan pekerjaannya hanya demi bisa duduk di meja makan apartemennya, mendengarkan cerita Seonghyeon tentang betapa menyebalkannya HRD yang tidak pernah membalas emailnya.
Momen-momen di antara mereka makin lama makin diwarnai oleh kehangatan yang tak tersirat.
Jumat malam itu, meja makan di apartemen Martin menyajikan aroma harum yang begitu memikat selera yaitu ayam goreng ketumbar dan sayur labu siam. Martin duduk di posisinya sambil memegang sendok. Di hadapannya, Seonghyeon sibuk mengunyah pelan, sesekali menyangga pipinya yang agak pegal setelah seharian duduk di depan laptop mengirimkan puluhan lamaran kerja.
Suara denting halus dari alat makan yang beradu dengan piring keramik mengisi keheningan yang nyaman di antara mereka. Martin memperhatikan garis lelah yang samar di bawah mata cowok di depannya itu.
Martin meletakkan sendoknya pelan, berdeham sebentar untuk memecah keheningan meja makan.
"Besok weekend," cetus Martin kaku.
Seonghyeon mendongak dari mangkuk nasinya, mengerjapkan mata bingung dengan sisa bumbu di sudut bibir. "Iya, bener mas. Kenapa? Mas Martin mau saya masakin yang spesial kah buat besok?"
"Gak perlu masak," ucap Martin tenang, walau ada sedikit getaran di tenggorokannya. Ia membuang pandangan ke arah gelas air putih di samping piringnya, menolak menatap langsung pasang mata polos Seonghyeon.
"Daripada kamu bosen karena di rumah terus... besok ikut saya keluar. Kita jalan-jalan, sekalian makan diluar."
Seonghyeon tertegun.
"Hah? Jalan-jalan? Beneran, mas?"
"Iya," balas Martin datar.
"Jadi besok kamu siap-siap aja yang rapi."
Seonghyeon membeku sejenak, sebelum sebuah senyum manis terbit di wajahnya. Matanya berbinar riang, seketika melupakan tumpukan email lamaran kerja yang bikin pusing seharian.
"Okey mas Martin, nanti saya bakal dandan yang rapi deh!" seru Seonghyeon antusias.
Begitu Martin beranjak membelakanginya untuk menuju kamarnya, Seonghyeon reflek melompat-lompat kecil di tempat. Ia mengulum bibirnya kencang-kencang, berusaha menahan pekikan girang yang nyaris lolos dari tenggorokannya. Pipinya merona merah, dihiasi senyum selebar garis bibirnya yang tak kunjung surut sampai ia selesai mencuci piring malam itu.
Esok harinya, udara terasa begitu sejuk dan segar. Martin membawa Seonghyeon berkendara agak jauh ke Hutan Botani Grand Arch, sebuah area kebun raya luas nan rindang di pinggir kota yang dikelilingi pepohonan tua menjulang tinggi, jembatan kayu di atas sungai kecil, dan deretan jalan setapak berkerikil.
Di sepanjang jalan setapak, Seonghyeon berulang kali menahan napas kagum. Matanya berbinar-binar menatap pepohonan yang rimbun, mengagumi jembatan gantung tua, hingga terkekeh girang saat melihat bunga-bunga liar berwarna warni di tepi jalan setapak.
"Mas Martin, liat deh! Pohonnya tinggi banget, mirip sama area hutan pinus dekat kampung halaman saya!" seru Seonghyeon antusias, spontan menunjuk ke arah barisan pohon tua tanpa sadar kalau lengan bajunya bersentuhan rapat dengan coat Martin.
Martin tidak benar-benar memperhatikan deretan pohon yang ditunjuk Seonghyeon. Pandangan pria itu justru terkunci sepenuhnya pada wajah Seonghyeon. Pada pipinya yang merona alami karena hawa sejuk hutan dan tawa renyah yang akhir-akhir ini tanpa sadar selalu dinanti Martin setiap kali menginjakkan kaki di apartemennya.
Bibir Martin terangkat, membentuk senyuman yang tak pernah disaksikan oleh siapa pun di kantornya.
Tiba-tiba tetesan air hujan mulai jatuh satu per satu dari celah-celah daun. Dalam hitungan detik, gerimis halus berubah menjadi hujan deras yang membasahi seluruh kawasan kebun raya. Orang-orang di sekitar mulai panik, berhamburan mencari tempat berteduh.
"Aduh, mas Martin! Hujan!" panik Seonghyeon, refleks mengangkat kedua tangannya untuk melindungi kepalanya.
Sebelum Seonghyeon sempat melangkah membabi buta, Martin bergerak cepat. Tangannya meraih jemari Seonghyeon, menggenggamnya erat tanpa ragu lalu menarik cowok itu pelan ke sebuah rumah kaca tua yang terletak di tengah area kebun raya.
Area luar rumah kaca itu cukup sempit. Ditambah terpaan angin deras yang membanjiri pelataran, mereka terpaksa harus berdiri sangat merapat ke dinding kaca agar tidak terkena cipratan air hujan.
Hawa dingin merayap cepat, membawa serta aroma tanah basah, embun segar, dan dedaunan yang pekat.
Seonghyeon mengusap-usap kedua lengannya yang hanya terbalut kaus rajut tipis, menghembuskan napas yang membentuk embun halus di udara.
"Dingin banget ternyata..."
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Martin merogoh saku coat panjangnya. Ia mengeluarkan sebuah syal rajut tebal berwarna abu-abu gelap.
Martin memangkas sisa jarak di antara mereka, membiarkan dada bidangnya hampir menempel ke dada Seonghyeon. Martin melingkarkan syal tebal itu di leher Seonghyeon dengan gerakan yang teramat lembut dan telaten.
Sensasi hangat dari kain wool dan sisa wangi parfum Martin yang menempel di syal itu seketika memeluk leher Seonghyeon.
Namun, bukannya menarik tangannya kembali setelah merapikan syal, jemari panjang Martin justru tertahan di dekat dada Seonghyeon. Tangannya perlahan merayap naik, menyapu garis rahang Seonghyeon yang halus sebelum telapak tangannya yang hangat menangkup pipi cowok itu sepenuhnya.
Ibu jari Martin bergerak pelan, mengusap setitik sisa air hujan yang hinggap di kulit pipi Seonghyeon.
Jantung Seonghyeon berdetak begitu dahsyat hingga dadanya terasa ngilu. Sensasi sentuhan telapak tangan Martin yang kasar namun hangat di pipinya membuat seluruh saraf Seonghyeon mendadak lumpuh. Ia menahan napas, matanya terkunci rapat oleh tatapan tajam Martin.
Tidak ada lagi tatapan dingin, datar, atau kaku dari pria itu. Di balik sorot mata tajam itu, ada intensitas yang begitu membara, penuh dengan rasa ingin melindungi dan kehangatan tulus yang selama ini disembunyikan Martin rapat-rapat.
"Mas... Martin...?" bisik Seonghyeon gagap, suaranya nyaris tenggelam oleh deru hujan di luar dinding kaca.
Martin tidak menjawab. Tangannya yang satu lagi turun perlahan, melingkar kokoh di pinggang Seonghyeon dan menarik tubuh yang lebih muda itu agar semakin merapat dalam dekapannya. Martin menatap lurus tepat ke dalam iris mata Seonghyeon, menyisakan jarak hanya beberapa sentimeter di antara wajah mereka yang cukup dekat hingga napas hangat mereka beradu di udara dingin.
"Masih dingin?" bisik Martin.
Seonghyeon meremas kuat pinggiran coat Martin dengan jemarinya yang gemetar hebat. Matanya bergetar halus, menggigit bibir bawahnya sendiri untuk menahan gejolak perasaan luar biasa yang siap meledak di dalam dadanya.
"G-gak... udah gak dingin, mas..." balas Seonghyeon hampir tak terdengar, menenggelamkan wajahnya di dada bidang Martin untuk menyembunyikan pipinya yang membakar hebat.
Martin menyunggingkan sebuah senyuman amat tipis di sudut bibirnya, sebuah senyum manis yang penuh kepuasan terselubung. Ia melingkarkan kedua tangannya dengan erat, mendekap Seonghyeon sepenuhnya di dada bidangnya sembari mendaratkan dagunya dengan lembut di atas kepala Seonghyeon.
Di bawah naungan rumah kaca tua, di tengah derasnya hujan kebun raya sore itu, Seonghyeon tahu satu hal pasti, batas di antara mereka mulai mengabur dan luruh tanpa bersisa. Dan Martin, pria kaku yang selalu membentengi hatinya rapat-rapat, tak lagi bisa menahan gejolak di dadanya sendiri.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan selamanya.
Malam itu, jarum jam dinding di lorong apartemen baru saja melewati angka sembilan lewat lima belas menit. Seonghyeon baru selesai mengelap counter dapur hingga mengilap dan menata rak bumbu ketika suara beep berkali-kali dari tombol pintu memecah keheningan rumah.
Klek.
Seonghyeon refleks menyambar kain lap, berjalan tergesa menuju area foyer dengan senyum khasnya yang selalu siap menyambut sang pemilik rumah.
"Mas Martin udah pul—"
Ucapan Seonghyeon terhenti di udara. Martin tidak sendirian.
Di belakang Martin yang tampak kelelahan dengan dasi yang sudah dilonggarkan, berdiri seorang pria lain berusia awal tiga puluhan. Pria itu mengenakan kemeja slim-fit bertumpuk jas abu-abu mahal, memegang sebuah dokumen tebal berlogo perusahaan investasi tempat Martin bekerja. Tatapannya tajam, dingin, dan langsung menyapu seluruh sudut apartemen Martin sebelum akhirnya terhenti tepat di wajah Seonghyeon.
"Dion, masuk aja. Sepatunya lepas di sini," kata Martin pelan, suara seraknya mengindikasikan bahwa ia baru saja melalui rapat marathon yang menguras tenaga. Martin mengusap tengkuknya, lalu menatap Seonghyeon. "Seonghyeon, ini Dion. Rekan kerja saya. Malam ini kita harus selesain draft laporan akuisisi buat presentasi direksi besok pagi."
"Selamat malam, mas Dion" sapa Seonghyeon sopan, menganggukkan kepalanya sedikit.
Dion tidak membalas sapaan itu. Ia hanya menaikkan satu alisnya, menatap kaos polos ketat dan celana kain longgar yang dipakai Seonghyeon, lalu beralih menatap Martin dengan ekspresi heran yang tidak berusaha ia sembunyikan.
"Martin, lo ada sepupu tinggal disini?" tanya Dion santai, tapi nadanya ketus dan penuh penilaian. "Perasaan lo selalu bilang kalo lo tinggal sendiri."
"Nanti saya cerita," potong Martin cepat, jelas tidak ingin memperpanjang topik di depan pintu. "Dion, kamu duduk dulu aja di meja makan. Saya ambil laptop sama berkas-berkasnya dulu di kamar."
Martin melangkah masuk menuju kamarnya, meninggalkan Seonghyeon dan Dion berdua di area lorong menuju ruang tamu. Suasana mendadak menjadi canggung dan sarat akan ketegangan yang tidak kasat mata.
Berusaha bersikap ramah, Seonghyeon secepatnya memasang senyum di wajahnya. "Mas Dion mau minum apa? Ada teh dan kopi, atau mau air putih aja?"
Dion tidak langsung menjawab. Ia melangkah perlahan menuju meja makan, meletakkan tas kulit mewahnya di atas kursi, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Matanya tertuju pada tas bekal kain bermotif lucu milik Martin yang tergeletak rapi di atas kaunter dapur, lalu ke karpet ruang tamu tempat ada laptop kusam milik Seonghyeon dan beberapa lembar kertas lowongan kerja yang belum sempat dirapikan.
"Gak usah repot-repot," jawab Dion dingin, mendudukkan dirinya di salah satu kursi. "Air putih aja. Tapi gak usah dingin."
"Baik mas. Sebentar ya."
Seonghyeon bergerak cepat ke dapur, mengambil gelas kaca bersih, dan menuangkan air dari dispenser. Saat menyerahkan gelas itu ke meja, Seonghyeon mendapati Dion melihatnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dilihat secara terang-terangan begitu membuat Seonghyeon merasa aneh. Ia refleks mengusap wajah dan memeriksa pakaiannya, bingung kalau-kalau ada noda menempel atau penampilannya yang aneh.
"Makasih," kata Dion pendek. Ia mengambil tegukan kecil, lalu meletakkan gelasnya kembali dengan bunyi tugh yang agak keras di atas meja kaca.
Tidak lama kemudian, Martin keluar dari kamar dengan laptop yang sudah menyala dan setumpuk dokumen analisis risiko. "Dion, kita pakai data keuangan kuartal ketiga yang kemarin disetujui Pak Hendra. Kamu cek bagian rasio utangnya, saya yang benerin proyeksi cash flow."
"Oke," jawab Dion, beralih fokus ke layarnya.
Selama satu jam berikutnya, apartemen yang biasanya tenang itu dipenuhi oleh istilah-istilah finance yang berat, dentikan jemari di atas keyboard dan diskusi yang cukup intens antara Martin dan Dion. Seonghyeon memilih untuk tidak mengganggu. Ia duduk diam di sudut sofa ruang tamu, berpura-pura membaca artikel di ponselnya sambil sesekali mencuri pandang.
Ia memperhatikan betapa kontrasnya Martin saat di dunia kerja, tegas, analitis, dan sangat dominan. Namun, Seonghyeon juga menyadari bagaimana Dion beberapa kali melempar tatapan sinis ke arah Seonghyeon tiap kali Martin sedang tidak melihat.
Sekitar pukul setengah sebelas malam, Martin mendadak menghentikan ketikannya. Ia mengusap wajahnya yang makin pucat, lalu menggeledah isi tas kerjanya dengan dahi berkerut.
"Kenapa?" tanya Dion singkat.
"Flashdisk yang isinya data perusahaan sama berkas fisik laporan auditnya ketinggalan di mobil saya," gumam Martin frustrasi.
"Saya turun sebentar ke basement buat ambil."
"Mau gue temenin?" offer Dion.
"Nggak perlu, kamu lanjutin cek angka di Q3 aja." kata Martin sambil menyambar kunci mobilnya di meja. Sebelum melangkah keluar, Martin menoleh ke arah Seonghyeon di sofa, matanya melunak sedikit.
"Seonghyeon, kalau kamu ngantuk, tidur duluan aja ya."
"Iya, mas Martin."
Pintu apartemen tertutup rapat dengan bunyi klek.
Keheningan menyelimuti ruangan itu seketika. Suara pendingin udara yang berdengung halus mendadak terasa makin nyaring. Seonghyeon berdiri dari sofa, bermaksud membereskan gelas Dion yang sudah kosong dan menyajikan sepiring kue kering buatan sendiri agar suasana tidak terlalu kaku.
Namun, baru saja Seonghyeon mengambil langkah untuk menuju area dapur, suara Dion memecah keheningan.
"Gak usah pura-pura sibuk, dek."
Seonghyeon membeku di tempatnya. Ia menoleh, menemukan Dion sedang menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, bersedekap dada, dan menatapnya dengan tatapan meremehkan.
"Maaf, mas Dion..?" tanya Seonghyeon bingung.
Dion terkekeh sinis, sebuah tawa pendek yang terderengar amat dingin dan merendahkan. Ia memajukan badannya, menopang kedua sikunya di atas meja makan.
"Kamu siapa sebenernya?" tanya Dion langsung, tanpa basa-basi.
"Martin itu anak tunggal, gak punya adik. Temen-temen dekatnya di kantor cuma segelintir, dan gue kenal semuanya. Jadi, lo ini siapa? Temen numpang? Atau malah...simpenannya Martin?"
Pipi Seonghyeon mendadak terasa panas. Kata-kata terakhir Dion menghantamnya seperti pukulan telak di dada. tangannya yang memegang piring berisi kue mulai bergetar pelan.
"Saya... saya cuma orang yang numpang tinggal sementara disini, mas." jawab Seonghyeon, berusaha menjaga suaranya agar tetap stabil meski tenggorokannya mendadak mengganjal. "Saya bantu beres-beres rumah dan masak buat mas Martin sebagai gantinya."
"Bantu-bantu?" Dion menaikkan kedua alisnya dengan raut wajah pura-pura kaget, sebelum akhirnya ekspresinya berubah menjadi sangat dingin. "Dua bulan? Sementara? Dua bulan itu bukan sementara. Sementara tuh kalo seminggu atau dua minggu."
Dion berdiri dari kursinya. Pria itu melangkah pelan mendekati Seonghyeon yang berdiri kaku di dekat meja dapur. Tinggi badan Dion yang hampir setara dengan Martin membuat aura intimidasinya terasa makin mencekam.
"Lo tau gak Martin itu siapa?" suara Dion memelan, tapi setiap kata yang keluar dari bibirnya rasanya ditakar khusus untuk menyakiti. "Dia itu calon Associate Director paling muda di kantor kita. Karirnya lagi memuncak, prestasinya banyak, dan masa depannya di perusahaan itu cerah banget. Dan lo tau kenapa dia bisa kayak gitu selama ini?"
Seonghyeon tidak bisa menjawab. Ia menundukkan kepalanya dalam.
"Karena dia fokus," jawab Dion sendiri.
"Dia kerja keras, hidupnya teratur, dan gak pernah aneh-aneh pokoknya. Tapi belakangan ini? Martin berubah. Dia sering buru-buru pulang dan nolak lembur, bawa bekal konyol yang bikin dia ditertawain anak-anak divisi lain. Bahkan minggu lalu pas rapat penting, dia malah salah ngasih file presentasi ke direksi. Menurut lo, itu semua bukan gara-gara lo? Hah?"
Dion berhenti persis di depan Seonghyeon, merendahkan badannya sedikit agar bisikannya terdengar makin menusuk.
"Martin itu orangnya gak tegaan. Muka dia emang galak dan kaku, tapi kalau ada orang melas-melas minta tolong di ddepanya, dia pasti gak bakal tega buat nolak. Dia terlalu baik. Dan lo... lo manfaatin kebaikan dia, kan?"
"Nggak mas... saya gak pernah—"
"Gak pernah apa?" potong Dion cepat dan tajam.
"Lo ngaca deh. Udah gak punya kerjaan, gak punya rumah, terus sekarang numpang hidup gratisan di tempat orang kaya? Lo tuh cuma beban yang ngerusak karir dia."
Bagaikan disiram air es di tengah malam, tubuh Seonghyeon gemetar hebat. Dadanya terasa sesak luar biasa, menyisakan rasa sakit yang teramat perih.
"Gue cuma mau ingetin," lanjut Dion dingin. "Kalau lo masih punya harga diri, mending lo cepet-cepet angkat kaki dari sini. Martin itu butuh orang yang setara, bukan manusia beban yang cuma bisa bersih-bersih sama masakin makanan buat bayar sewa tempat tinggal."
Suara kunci pintu otomatis berbunyi di ujung lorong.
Bip, bip, bip, bip, bip, bip.
Dion dengan sangat cepat mundur dua langkah, mengubah raut wajahnya kembali normal, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ia kembali duduk di meja makan dan menggeser layar laptopnya.
Pintu terbuka, dan Martin melangkah masuk sambil membawa dua amplop dokumen cokelat.
"Sorry agak lama."
Martin menatap ke arah dapur dan mendapati Seonghyeon berdiri mematung di dekat counter dengan piring kue di tangannya.
"Seonghyeon? Kamu belum ke kamar?" tanya Martin lembut, menyadari ada yang aneh dengan gestur tubuh cowok itu.
Seonghyeon dengan cepat menundukkan kepalanya dalam-dalam, berusaha menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca. Ia meletakkan piring kue itu di meja dengan tangan yang gemetar.
"I-iya mas Martin. Ini saya bawain kue kering buat cemilan. Saya... saya ke kamar duluan ya. Permisi mas Martin, mas Dion."
Tanpa menunggu balasan dari siapa pun, Seonghyeon setengah berlari menuju kamar tamunya dan menutup pintu rapat-rapat.
Di dalam kamar yang remang-remang, Seonghyeon menyandarkan punggungnya ke pintu yang terkunci. Ia perlahan merosot jatuh ke lantai, menutupi mulutnya dengan kedua tangan agar suara tangisnya yang pecah tidak terdengar ke luar.
Kata-kata Dion terus berputar seperti gema beracun di dalam kepalanya. Seonghyeon memeluk lututnya rapat-rapat.
'Mas Martin terlalu baik buat orang kayak gue, mas Dion bener... gue cuma orang gak tau diri yang manfaatin kebaikan Mas Martin.'
Malam itu, Seonghyeon tidak bisa tidur sama sekali.
Keesokan harinya, pukul enam pagi.
Martin terbangun oleh suara alarm ponselnya. Ia merenggangkan otot-otot lehernya yang kaku, semalam ia dan Dion baru selesai merapikan dokumen pada pukul 1 dini hari, dan Dion langsung pulang menggunakan taksi online.
Martin melangkah keluar kamar dengan mata yang masih setengah mengantuk. Biasanya, jam segini aroma tumisan sudah memenuhi lorong apartemennya, disertai suara denting kuali yang bertabrakan dengan spatula dari arah dapur.
Namun pagi ini, apartemennya sangat sunyi. Dapur gelap. Tidak ada aroma makanan. Tidak ada sapaan ceria.
Dahi Martin berkerut. "Seonghyeon?" panggilnya pelan.
— Tidak ada jawaban.
Martin mengira Seonghyeon mungkin ketiduran karena semalam tidur terlalu larut. Ia melangkah menuju kamar tamu, berniat membangunkan cowok itu dengan pelan. Pintunya tidak terkunci, sedikit terbuka.
"Seonghyeon, saya berangkat agak pagi hari ini, jadi—"
Kata-kata Martin terhenti di tenggorokan.
Kamar tamu itu kosong melompong. Ia baru menyadari koper hitam besar milik Seonghyeon yang biasanya bertengger di sudut ruangan dekat lemari sudah tidak ada di tempatnya. Ranselnya juga hilang.
Di atas meja kecil di samping kasur, tergeletak sebuah kunci cadangan apartemen dan selembar kertas catatan putih kecil.
Jantung Martin serasa berhenti berdetak selama satu detik penuh.
Dengan langkah kaki yang mendadak terasa amat berat dan bergetar, Martin mendekati meja itu. Ia menyambar lembaran kertas catatan itu.
Mas Martin,
Maaf banget saya harus pergi tiba-tiba tanpa pamit langsung dan tanpa nunggu mas bangun.
Saya baru sadar kalau kehadiran saya di sini selama dua bulan terakhir ternyata cuma nambahin beban hidup mas dan ngerusak fokus kerjaan mas Martin. Mas udah terlalu baik sama saya, dan saya gak mau manfaatin kebaikan mas lebih banyak lagi.
Baju-baju kerja mas buat seminggu ke depan udah saya setrika dan saya gantung rapi di lemari. Di kulkas ada sup dashi dan beberapa makanan lain yang udah saya masak semalam, tinggal dipanasin aja buat sarapan atau makan malam. Jangan lupa makan yang teratur ya, mas. Jangan balik makan makanan instan terus. Ga baik buat kesehatan tau! Eh maaf mas, kok saya jadi ngatur gini, hehe, maaf ya mas.
Sekali lagi, terima kasih banyak buat semuanya mas Martin. Mas orang paling baik yang pernah saya kenal.
— Seonghyeon
Napas Martin mendadak menjadi pendek dan memburu. Matanya membaca baris demi baris surat itu berulang kali dengan rasa tidak percaya.
"Hah?" gumam Martin dengan suara serak yang bergetar emosi.
Martin berlari ke arah lemari kamarnya, baju kemejanya tergantung begitu rapi berdasarkan gradasi warna. Ia berlari ke dapur dan membuka kulkas, sebuah wadah besar berisi sup dashi bertengger di sana dengan stiker catatan waktu pemanasan.
Jejak tangan Seonghyeon ada di setiap sudut rumahnya. Semuanya masih ada di sana, terasa begitu hangat... tapi menempatinya telah hilang.
Martin menyambar ponselnya dengan tangan yang gemetar hebat. Ia menekan tombol panggilan cepat ke nomor Seonghyeon.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan...
"Brengsek!" umpat Martin kasar, melempar ponselnya ke atas sofa.
Ia mencoba menelpon lagi. Satu kali. Tiga kali. Delapan kali. Hingga belasan kali. Suara operator yang dingin itu adalah satu-satunya jawaban yang ia terima.
Hari itu, Martin tidak masuk kantor tepat waktu. Ia mengendarai mobilnya mengelilingi area sekitar apartemen, menelusuri stasiun kereta terdekat, halte bus, hingga taman-taman kota. Namun di kota seluas ini, keberadaan Seonghyeon bagaikan sebutir pasir yang hilang ditelan samudera.
Malam harinya, Martin pulang ke apartemennya yang gelap. Ia tidak menyalakan lampu. Pria itu mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur kamar tamu yang dingin, meremas kertas catatan dari Seonghyeon yang mulai remuk di tangannya.
Ia menghirup udara di ruangan itu, aroma sabun mandi lavender yang biasa dipakai Seonghyeon masih tertinggal tipis di udara.
Apartemennya kembali sunyi. Tapi kali ini, kesunyian itu tidak lagi membawa ketenangan. Kesunyian itu terasa bagaikan pisau yang menyayat dadanya tanpa henti, meninggalkan rasa hampa yang begitu dingin, mencekam, dan menyiksa.
Martin memejamkan matanya rapat-rapat, menenggelamkan wajahnya ke dalam kedua telapak tangannya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, air matanya menetes melewati sela-sela jarinya.
Keesokan harinya di kantor. Atmosfer di gedung perkantoran tempat Martin bekerja terasa amat tegang sejak pukul 9 pagi. Martin datang dengan penampilan yang tidak pernah terlihat seumur hidup karirnya. Kemeja yang sedikit kusut, dasi yang terpasang miring, lingkaran hitam pekat di bawah matanya, dan tatapannya begitu dingin menusuk, seolah-olah salah kata dari orang lain bisa menyulut ledakan besar di kantor itu.
James yang biasanya suka bercanda bahkan memilih untuk diam dan berpura-pura sibuk mengetik saat Martin meletakkan tasnya dengan dentuman keras di atas meja.
Sekitar pukul 11 siang, Dion melangkah masuk ke dalam ruanganan dengan berkas revisi akuisisi di tangannya. Pria itu tersenyum santai, berjalan menuju meja Martin.
"Martin, ini draft akuisisi yang udah gue—"
Brak!
Martin berdiri secara mendadak, menghantam mejanya sendiri hingga semua orang di ruangan itu terlonjak kaget. Suara perbincangan di seluruh lantai mendadak terhenti total.
"Ikut gue sekarang," kata Martin dengan suara rendah, dalam, dan penuh ancaman yang begitu kental.
"Eh? Kenapa Tin? Ada yang salah sama—"
Sebelum Dion sempat menyelesaikan kalimatnya, Martin sudah menyambar kerah kemeja Dion dan menariknya secara paksa menuju ruang rapat yang kosong di ujung lorong.
"Woi, Martin! Lo apa-apaan sih?!" seru Dion kaget, berusaha melepaskan cengkeraman tangan Martin yang luar biasa kuat saat mereka masuk ke dalam ruang rapat.
Martin membanting pintu kaca itu hingga bergetar hebat, lalu melepaskan kerah Dion dengan dorongan yang membuat pria itu terhuyung mundur menabrak meja rapat.
"Lu ngomong apa ke Seonghyeon waktu itu?" tanya Martin tajam. Matanya yang merah menatap Dion bagaikan seekor pemangsa yang siap menerkam.
Dion merapikan kemejanya yang kusut, mencoba tertawa meremehkan meski raut wajahnya jelas memperlihatkan rasa terkejut. "Ngomong? Gue gak ngomong apa-apa! Gue cuma ngobrol biasa pas lo ke basement!"
"Jangan bohong sama gue, Dion!" bentak Martin, suaranya menggelegar memenuhi ruangan kedap suara itu. Ia maju satu langkah, mengikis jarak di antara mereka.
"Seonghyeon pergi dari apartemen gue! Dia ninggalin catatan dan bilang dia cuma jadi 'beban' gue! Satu-satunya orang asing yang bicara sama dia waktu itu cuma lu!"
Dion menghela napas kasar, memutar matanya dengan raut wajah tidak bersalah. "Oh, anak itu pergi? Ya bagus dong! Harusnya lo berterima kasih sama gue, Martin."
"Apa lu bilang?!"
"Gue cuma mau bikin dia sadar!" seru Dion tanpa rasa menyesal. "Gue cuma bilang kenyataan kalo dia itu cuma orang gak jelas yang numpang dan manfaatin lo! Lo itu calon AD di kantor ini, Tin. Posisi yang gak semua orang bisa dengan mudah dapein. Lo gak butuh gangguan dari parasit kayak dia yang bikin fokus lo kebagi-bagi. Gue ngelakuin ini demi karir lo!"
Brugh
Martin mencengkeram kerah jas Dion lagi, menghempaskannya ke dinding kaca dengan mata yang memancarkan kemarahan yang amat pekat. Beberapa rekan kerja di luar, termasuk James dan Pak Hendra mulai berkumpul di balik kaca dengan wajah panik.
"Denger baik-baik Dion," bisik Martin tepat di depan wajah Dion, suaranya gemetar menahan amarah yang hampir meledak.
"Lu gak tau apa-apa tentang hidup gue. Lu gak tahu rasanya pulang ke rumah yang rasanya kayak kuburan selama bertahun-tahun sampai Seonghyeon dateng! Dia bukan parasit. Dia satu-satunya alasan gue ngerasa kembali hidup pas gue pulang ke rumah!"
Dion membeku, matanya terbelalak melihat betapa emosionalnya Martin, sosok yang selama ini terkenal paling rasional dan dingin di seluruh perusahaan.
"Urusan profesional kita selesai begitu proyek ini juga selesai." kata Martin dengan nada dingin yang menusuk tulang. Ia melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar.
"Dan kalau sampai terjadi apa-apa sama Seonghyeon... gue pastiin lu gak bakal pernah tenang di kantor ini."
Martin berbalik, membuka pintu kaca rapat, dan melangkah keluar tanpa memedulikan tatapan heran puluhan pasang mata rekan kerjanya. Pria itu menyambar kunci mobil dan jasnya di meja, berjalan lurus menuju elevator tanpa menoleh lagi.
Martin tahu ia tidak bisa tinggal diam. Ia harus menemukan Seonghyeon hari ini juga, bagaimanapun caranya.
Memanfaatkan seluruh koneksinya, Martin mendatangi kantor lama Seonghyeon, perusahaan tempat Seonghyeon dulu bekerja sebelum di PHK. Dengan mendesak bagian SDM perusahaan tersebut, Martin berhasil mendapatkan lembar salinan biodata lama Seonghyeon, termasuk alamat kampung halamannya yang tertera di KTP nya.
Martin menyambar kunci mobilnya, mengajukan cuti dadakan kepada Pak Hendra melalui pesan singkat, hal paling nekat yang pernah ia lakukan sepanjang karirnya. Ia langsung memacu mobilnya keluar kota, menembus hujan deras yang mulai mengguyur.
Perjalanan menembus kemacetan kota dan hujan lebat terasa begitu lambat. Setiap detik yang berlalu serasa menyiksa benak Martin. Wajah Seonghyeon seolah terus terbayang tepat di hadapannya, bagaimana senyum mewarnai wajahnya saat membawakan bekal, ekspresi antusiasnya saat menyajikan makanan, hingga binar ceria dari mata cowok itu yang kini terus berputar-putar menghantui pandangannya.
Martin tahu persis dari berkas itu bahwa kedua orang tua Seonghyeon sudah meninggal sejak ia masih kecil, dan cowok itu tumbuh tanpa sanak saudara. Jika ia pulang ke kampung halaman, Seonghyeon benar-benar sendirian disana.
Pukul lima sore, mobil Martin berhenti di ujung jalan setapak sebuah kawasan pemukiman tua di pinggiran desa. Gerimis tipis masih menetes dari langit sore yang kelabu.
Martin keluar dari mobil tanpa membawa payung. Kemeja kerjanya basah terkena percikan air hujan, rambutnya berantakan, dan kakinya yang melangkah cepat tergenang air di jalanan tanah yang becek.
Ia menyusuri gang sempit itu hingga matanya menangkap sebuah bangunan tua yang tampak begitu mengenaskan. Rumah peninggalan orang tua Seonghyeon itu sudah hampir tak layak huni, atap sengnya berkarat dan melengkung, tembok semennya retak-retak terkelupas dimakan usia, dan cat pintunya sudah mengelupas habis.
Martin melangkah mendekat ke teras yang sempit. Dengan jantung yang berdegup kencang, ia mengetuk pintu kayu yang lapuk itu berkali-kali.
Tok! Tok! Tok!
"Seonghyeon?" panggil Martin, suaranya agak bergetar. "Seonghyeon, kamu di dalam?"
Tidak ada jawaban. Martin mencoba mengintip lewat celah jendela yang berdebu tebal. Dari celah jendela tersebut, Martin menangkap sekilas bayangan seseorang di dalam sana.
Martin tanpa membuang waktu langsung mengetuk pintu lapuk itu berkali-kali, lalu memberanikan diri mendorong gagangnya. Pintunya ternyata tidak terkunci rapat, hanya diganjal dari dalam. Begitu pintu terbuka, aroma debu dan udara dingin yang lembap langsung menyengat indranya.
Di tengah kegelapan ruangan yang terbengkalai itu, duduk seorang pemuda di atas lantai yang dingin. Itu Seonghyeon. Seonghyeonnya. Seonghyeon sedang meringkuk memeluk kedua lututnya sendiri di sudut ruangan, menyandarkan kepala ke dinding tembok kusam yang terkelupas untuk mengusir rasa dingin yang menusuk tulang.
Koper hitam besar dan ransel kusamnya tergeletak tak jauh darinya. Ia tidak punya tempat tujuan lain setelah meninggalkan apartemen Martin, dan uang di dompetnya bahkan tak cukup untuk menyewa kamar penginapan termurah sekalipun. Satu-satunya tempat berlindung yang tersisa hanyalah dalam rumah masa kecilnya yang terbengkalai ini.
"Seonghyeon."
Panggilan itu tidak keras, namun begitu sarat akan beban emosi yang menumpuk.
Seonghyeon pelan-pelan membuka matanya yang sembap dan merah. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, mengira rasa lelah dan kantuknya sedang menciptakan ilusi di tengah remang ruangan. Mana mungkin Martin ada di kampung halamannya yang jauh ini?
Namun sosok tinggi basah kuyup yang berdiri di ambang pintu itu sangat nyata. Martin berdiri di sana, dadanya naik turun memburu karena bernapas terengah-engah, menatap Seonghyeon dengan tatapan mata yang begitu intens, lega, dan hancur secara bersamaan.
"Mas Martin...?" suara Seonghyeon keluar bagaikan bisikan yang terbata-bata. Ia beranjak berdiri dengan cepat, membuat kakinya yang kesemutan hampir saja kehilangan keseimbangan. Matanya terbelalak tak percaya. "Mas... kok mas bisa ada di sini?! Gimana mas—"
Ucapan Seonghyeon terputus secara mendadak.
Martin melangkah lebar memangkas jarak di antara mereka dan langsung menarik Seonghyeon ke dalam pelukan yang amat sangat erat.
Martin merengkuh tubuh Seonghyeon yang gemetar dan dingin itu dengan kedua lengannya, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Seonghyeon. Rasa lega yang luar biasa dahsyat membakar dada Martin saat ia merasakan detak jantung Seonghyeon kembali beradu dengan dadanya sendiri.
Seonghyeon membeku total di dalam dekapan itu. Punggungnya yang basah oleh keringat dingin kini dihangatkan oleh tangan Martin yang memeluknya begitu protektif, hangat, dan bergetar hebat, seolah-olah jika Martin melepaskannya sedikit saja, Seonghyeon akan menghilang lagi dari hadapannya.
"Mas..." bisik Seonghyeon pelan, air matanya yang sudah ditahan sejak semalam akhirnya pecah tanpa bisa ditahan. "Kenapa mas ke sini...mas gak boleh kesini,"
Martin melepaskan pelukannya pelan-pelan, tapi kedua tangannya bergerak naik, menangkup kedua pipi Seonghyeon dengan jemarinya yang hangat. Ia memaksa cowok itu mendongak dan menatap matanya secara langsung.
"Dengerin kata-kata saya, Seonghyeon," suara Martin terdengar serak, parau, dan penuh emosi yang mendalam.
"Kamu mau tahu apa yang bener-bener jadi beban paling berat dalam hidup saya? Pas saya bangun tidur dan saya gak nemuin kamu di sana, Rumah itu sepi banget tanpa kamu. Saya gak bisa tidur, gak bisa makan dan saya gak bisa fokus ngapa-ngapain! Saya bener-bener gak bisa kalau gak ada kamu di samping saya."
Seonghyeon menatap Martin dengan mata yang terbelalak lebar, bibirnya bergetar hebat saat mendengar ucapan jujur pria yang biasanya sangat kaku dan tertutup itu.
"Jangan pernah dengerin omongan orang lain," bisik Martin lagi, suaranya melunak sepenuhnya. Jemarinya mengusap air mata yang terus mengalir di pipi Seonghyeon dengan sangat lembut dan hati-hati.
"Dion gak tau apa-apa. Nggak ada seorang pun di dunia ini yang berhak bilang kamu beban buat saya."
"Tapi saya gak punya apa-apa, mas..." cicit Seonghyeon di sela isakannya yang pilu.
"Orang tua saya udah gak ada dari saya kecil, saya gak punya sodara, saya gak punya rumah, saya gak punya pekerjaan... saya cuma bisa jad beban—"
"Saya gak peduli kamu punya apa atau gak punya apa-apa," potong Martin tegas namun diwarnai oleh ketulusan paling murni. Tangannya naik, menangkup kedua pipi Seonghyeon dengan teramat lembut, memaksa mata bersimbah air mata itu untuk menatap lurus ke dalam iris matanya dari jarak yang teramat dekat.
"Saya butuh kamu, Seonghyeon. Bukan cuma buat bersihin rumah atau bikin makanan enak... tapi saya butuh kamu ada di hidup saya setiap hari. Saya suka kamu Seonghyeon. Sangat."
Tangis Seonghyeon pecah seketika dalam skala yang lebih besar, namun kali ini bukan lagi karena rasa sakit hati, rasa kesepian ataupun rasa rindu, melainkan rasa haru yang meluap-luap memenuhi seluruh relung dadanya. Ia mengangguk cepat-cepat di bawah usapan ibu jari Martin yang lembut menyapu air matanya, sebelum jemarinya yang gemetar bergerak menyambar kemeja basah Martin dan meremasnya erat-erat.
"Mas Martin..." isak Seonghyeon bahagia.
Martin tersenyum sangat tipis, sebuah senyuman paling hangat yang pernah ia miliki. Ia menyusupkan jemarinya ke sela-sela jari Seonghyeon, menggenggamnya rapat-rapat, lalu menyambar koper hitam besar milik Seonghyeon dengan tangannya yang satu lagi.
"Ayo pulang," ajak Martin lembut, menatap mata Seonghyeon yang penuh binar di balik sisa air matanya. "Ke rumah kita."
Seonghyeon mengusap air matanya dengan lengan baju, lalu menyunggingkan senyum paling lebar.
"Iya, mas... ayo kita pulang."
Satu bulan kemudian.
Sinar matahari pagi menerobos masuk melintasi tirai jendela ruang tamu apartemen. Bau harum kopi yang baru diseduh dan aroma gurih french toast hangat menyeruak ke seluruh ruangan.
Martin duduk di meja makan, tidak lagi mengenakan kemeja atau jas kaku sebelum jam 7 pagi. Ia hanya mengenakan kaus polos santai dan celana pendek. Di depannya, laptopnya terbuka, namun kali ini layar laptopnya tidak menunjukkan lembar kerja keuangan, melainkan foto-foto destinasi liburan akhir pekan yang sedang ia pilih.
Seonghyeon keluar dari dapur sambil membawa dua piring sarapan, kuku jarinya masih agak basah karena baru selesai mencuci piring. Ia menaruh piring di depan Martin lalu mendaratkan ciuman singkat nan manis di pipi kanan Martin sebelum duduk di kursi sebelahnya.
"Pagi mas sayang."
"Morning too, babe,"
Seonghyeon kemudian meraih sepotong roti bakar beroleskan selai favoritnya.
"Seriusan mas mau ngambil cuti buat minggu depan?" tanya Seonghyeon sambil tersenyum lebar, menggigit roti bakarnya.
Martin menyesap kopinya, kopi buatan tangan Seonghyeon yang sekarang terasa seribu kali lebih nikmat dari kopi saset mana pun. Ia lalu menoleh menatap kekasihnya itu dengan senyum tipis yang hangat.
"Serius," sahut Martin tenang, tangannya terulur di atas meja untuk menggenggam tangan Seonghyeon. "Kan saya udah bilang, hidup saya bukan cuma soal kerjaan lagi sekarang."
Seonghyeon tertawa renyah, sebuah suara ceria yang kini menjadi melodi favorit Martin setiap harinya. Apartemen itu tidak lagi dingin dan sepi. Di dinding ruang tamu kini tergantung bingkai foto mereka berdua yang tersenyum lebar di taman kota, kulkas dipenuhi oleh tempelan resep masakan baru, dan yang paling penting, hati Martin tidak lagi terasa hampa.
Sebab di sana, di balik pintu apartemen yang pernah ia buka secara terpaksa pada suatu malam yang basah, Martin telah menemukan kehangatan paling sempurna dalam hidupnya. Seonghyeon.
