Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-10-12
Words:
1,301
Chapters:
1/1
Kudos:
48
Hits:
1,223

Blooming Jasmine Milk Tea

Summary:

Sadewa mau buktiin rasa milk tea langsung dari adeknya.

Notes:

Idenya dari bengong di Tianlala awokawok :D

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Malam Minggu kali ini, Nakula habiskan untuk menonton tayangan Netflix di ruang tengah bersama saudara kembarnya. Tidak ada agenda di luar rumah yang mereka rencanakan. Keduanya sepakat untuk sekadar bermalas-malasan menikmati waktu luang berdua dengan atmosfer ruangan yang begitu tenang.

Nakula dan Sadewa duduk berdekatan di sofa, dengan yang lebih muda bersandar nyaman pada dada bidang sang kakak. Manik biru Nakula fokus menatap layar televisi yang sedang menampilkan adegan demi adegan dari film aksi pilihan mereka, sementara bilah bibirnya sibuk mengunyah basreng yang sesekali disuapkan oleh Sadewa ke dalam mulutnya.

Ding dong.

Suara bel rumah membuat si surai langit siang langsung berdiri dari duduk nyamannya. Ia bergegas berlari ke arah pintu depan, mengabaikan panggilan dari sang kakak yang terdengar heran sekaligus bertanya-tanya lantaran adiknya tiba-tiba melesat pergi tanpa memedulikan film yang hampir mencapai klimaks. Sadewa hanya bisa mengerutkan kening sembari menatap kepergian sang kembaran dengan tatapan bingung.

Nakula membuka pintu gerbang untuk menerima pesanan online-nya, Blooming Jasmine Milk Tea yang dibelinya dengan voucher di aplikasi TakTik. Ia memberikan senyum tipis dan ucapan terima kasih singkat kepada kurir ojek online yang mengantarkan pesanannya. Sembari menenteng kantong plastik yang terasa dingin dan mengeluarkan embun tipis itu, Nakula melangkah kembali ke dalam rumah dengan perasaan puas karena berhasil memanfaatkan promo potongan harga yang cukup besar.

“Kamu beli apa, Na?” adalah pertanyaan yang langsung keluar dari birai Sadewa begitu sang adik kembali mendudukkan diri di depannya.

Sadewa menatap setiap gerak adiknya—mulai dari jemari Nakula yang sibuk membuka bungkus plastik luar hingga menampakkan dua gelas minuman dingin penuh bulir embun, merobek pembungkus sedotan berwarna putih, menusuk segel plastik di atas gelas dengan sekali sentakan ujung sedotan yang tajam, hingga akhirnya menyesap isi minuman di dalam gelas tersebut dengan pipi yang sedikit mengempis.

Begitu sedotan pertama terjadi dan cairan dingin itu menyentuh lidah yang lebih muda, raut terkejut sekaligus keheranan langsung muncul di wajah jelita itu. Kulit di keningnya mengerut dalam, lalu ia menjauhkan gelas tersebut untuk menatap logonya dengan ekspresi aneh. Dirinya seperti baru saja menemukan rasa yang sama sekali tidak sesuai dengan ekspektasinya.

“Enak, Na?”

Bibir Nakula mengerucut, “It's a little bit weird, I guess? Aku penasaran aja sih ... cuma nggak expect bakal se-strong ini jasmine-nya.”

“Masa, sih?”

“Mas cobain sendiri aja, deh. Kali aja lidahku yang aneh?”

Nakula menoleh pada sang kakak, lalu menyodorkan segelas milk tea-nya yang baru disedot sekali. Namun, alih-alih mempertemukan bibirnya dengan sedotan putih itu, Sadewa justru merebut gelas dari tangan adiknya. Ia meletakkannya begitu saja ke atas meja di depan mereka dengan bunyi ketukan pelan, sebelum akhirnya bergerak cepat menarik tengkuk sang adik untuk mempertemukan belah bibir mereka.

Manik biru Nakula membelalak lebar karena terkejut dengan kelakuan kakaknya yang tiba-tiba. Walaupun begitu, ia tetap membuka mulutnya untuk mempersilakan lidah sang kakak untuk melesak masuk dan mengisap miliknya.

Sadewa memanfaatkan celah itu dengan senang hati. Lengannya yang semula berada di tengkuk kini turun ke pinggang sang adik, menarik tubuh tersebut dengan satu sentakan. Nakula yang terkejut refleks mengubah posisi tubuhnya. Pinggulnya berputar dari yang semula menghadap ke arah layar televisi menjadi berpindah dan duduk menyamping di atas pangkuan Sadewa.

Nakula berinisiatif melingkarkan kedua lengannya di sekeliling leher Sadewa, mencari tumpuan agar tidak goyah. Gerakan itu disambut Sadewa dengan remasan hangat yang semakin merapatkan jarak di antara mereka. Keduanya masih saling melumat dengan ritme lambat yang kian menuntut. Lidah mereka saling membelit dan mengulum satu sama lain, bertukar saliva yang kini terasa manis, berbaur dengan sisa aroma melati yang pekat di dalam rongga mulut.

Pagutan intens itu terus bergulir hingga pasokan oksigen di paru-paru Nakula benar-benar menipis. Nakula memukul pelan bahu lebar Sadewa, memberi isyarat halus untuk menyudahi tautan mereka. Sadewa akhirnya perlahan menarik bilah bibirnya menjauh. Tautan itu terlepas, menyisakan napas keduanya yang memburu dan tersengal-sengal di tengah keheningan ruangan. Dengan dahi mereka yang saling menempel, manik biru jernih milik Nakula langsung bersitatap dengan manik madu hangat kepunyaan Sadewa. Kedua pasang mata itu tampak begitu sayu, merekam wajah satu sama lain yang memerah di bawah pendar layar televisi.

Sadewa mengusap sudut bibir adiknya yang basah dengan ibu jari, lalu bergumam pelan dengan suara yang masih agak serak, “You're right. The jasmine is truly strong, Na. Tapi … entah kenapa rasanya jadi manis banget pas campur sama kamu.”

Mendengar godaan blak-blakan itu, Nakula yang masih berusaha mengatur napas langsung mendaratkan cubitan gemas di pinggang Sadewa. Tindakan spontan itu sukses membuat pria yang lebih tua itu sedikit meringis dan mengaduh kesakitan, meskipun sepasang lengannya sama sekali tidak melonggarkan dekapan erat di pinggang sang adik.

“Stop being so shameless! Bilang aja Mas sengaja biar bisa nyium aku!” protesnya dengan bibir yang kembali mengerucut.

Sadewa justru tertawa renyah, terdengar begitu hangat di dekat telinga Nakula. Ia mempererat pelukannya di pinggang sang adik, menatap lekat ranum yang kini tampak merekah, “But well, kamu sendiri enjoy dan nggak nolak, ‘kan?”

Pertanyaan retoris itu sukses membungkam Nakula. Semburat merah di pipi si surai langit siang kini menjalar hingga ke ujung telinganya, membuat wajahnya terasa semakin panas. Pendar temaram ruangan tak mampu menyembunyikan wajah meronanya.

Setelah tawa kecil Sadewa berangsur mereda, atmosfer di antara mereka perlahan berubah. Keduanya terjebak dalam keheningan yang mendalam, enggan memutus kontak mata yang terjalin. Tidak ada lagi kata yang terucap. Mereka hanya saling menatap dalam diam, membiarkan figur satu sama lain mendominasi pandangan masing-masing.

Di tengah keheningan itu, ruang tengah seolah terisolasi dari dunia luar. Hanya ada suara bising dari adegan film yang masih terus berputar di layar televisi, berbaur samar dengan suara detak jantung mereka yang kini berpacu selaras dan berdegup kencang di dalam dada.

Sadewa tiba-tiba memajukan wajah, mengecup bibir Nakula sekilas dengan lembut. Sebelum sang adik sempat memprotes kecupan kilat itu, Sadewa sudah menyelipkan kedua lengannya di bawah ketiak dan paha Nakula. Dengan satu gerakan, ia mengangkat tubuh sang kembaran untuk mengubah posisi duduknya—dari yang semula menyamping, kini diputar hingga Nakula duduk berhadapan langsung di atas pangkuannya. Kedua tangan Sadewa segera melingkar erat di pinggang Nakula, mengunci posisi itu dengan dekapannya yang posesif.

Jarak yang kian mengikis membuat Sadewa leluasa memajukan wajahnya hingga menyatukan keningnya dengan kening Nakula. Embusan napas mereka kembali beradu, terasa hangat meraba permukaan kulit wajah masing-masing.

Sadewa perlahan membawa satu tangannya untuk mengusap pipi Nakula, lalu berbisik rendah dengan suara berat yang serak, “Can we continue? Aku masih mau lanjutin yang tadi, Na.”

Mendengar bisikan itu, wajah Nakula seketika memerah padam, jauh lebih pekat dari sebelumnya. Mencari celah untuk menutupi detak jantungnya yang menggila, Nakula memalingkan wajahnya sedikit, menatap ke arah televisi sebelum memaksakan diri untuk membalas ucapan kakaknya dengan nada gugup.

“L-lanjut gimana, sih? Don't you see the movie? Ini lagi seru, Mas!” cicitnya, berusaha menjadikan tayangan di layar kaca sebagai tamengnya.

Mendengar pembelaan adiknya, Sadewa melirik ke arah televisi yang kebetulan sedang menampilkan adegan sang tokoh utama pria tengah berciuman mesra dengan seorang tokoh perempuan. Nakula sempat ikut melirik sebentar ke arah layar kaca, dan begitu menyadari adegan apa yang sedang ditayangkan, wajah cantiknya seketika merona merah padam hingga ke leher.

Sadewa yang menyadari perubahan ekspresi itu merasa gemas sendiri. Ia mencubit pelan pipi Nakula sebelum berbisik menggoda di dekat telinganya, “Look at that, Na. Masa kita kalah, sih, sama mereka?”

Alih-alih menjawab tantangan tersebut, Nakula memilih untuk membungkam mulut kakaknya. Ia memajukan wajah dan langsung mengecup singkat bibir Sadewa, memberikan sensasi hangat yang mengejutkan pria yang lebih tua itu.

Begitu pagutan kilat itu terlepas, Nakula berbisik pelan dengan sisa napasnya yang masih sedikit memburu, “Shut up, Mas. Berisik banget, sih.”

Sadewa hanya tertawa pelan mendengarnya. Ia menyatukan kembali belah bibir mereka dalam ciuman yang jauh lebih dalam, menuntut, sekaligus penuh kehangatan. Kali ini, Nakula tidak lagi memberikan protes. Kedua lengannya semakin erat mendekap leher Sadewa, membiarkan televisi yang masih menyala menghilang menjadi latar belakang belaka saat mereka memilih untuk sepenuhnya larut dalam dekapan masing-masing, siap menenggelamkan diri dalam kehangatan dan kenikmatan yang akan mereka bagi sepanjang sisa malam.

Notes:

You can check my another works on my archives!