Chapter Text
Di salah satu rumah yang ada disebuah kompleks elite megah berlantai dua bahkan lebih, serta luasnya taman yang terawat rapi seorang pria berparas cantik bernama Olyndra Atmadja Prasetya tengah menikmati sarapan paginya dengan tenang sebelum memulai hari yang dipastikan akan sangat panjang.
Kursi di hadapan olyn berisi sang suami yang bernama Reyvandra Saputra Winata, yang saat ini tak memiliki selera makan sedikit pun. Lelaki itu hanya menyandarkan kepala di atas meja makan dengan wajah pucat pasi, dan sesekali memejamkan mata sembari mengembuskan napas berat.
Morning sickness.
Tentu saja bukan karena ia sedang mengandung, melainkan akibat ulahnya sendiri.
Semalaman Reyvan menghabiskan waktu di klub malam milik salah satu temannya. Ia baru pulang ketika langit mulai membiru menjelang fajar.
Dan kini, setelah alkohol yang semalam ia tenggak mulai menunjukkan efeknya, Rey hanya bisa pasrah merasakan kepala berdenyut hebat, mual, dan tubuh yang terasa begitu mengenaskan.
"Minta Air" Rey mengangkat kepala dengan sangat berat, menatap si manis yang dua minggu ini berstatus sebagai istrinya (?).
Tanpa banyak membantah, Olyn melakukan apa yang di minta oleh pria tampan itu. Ia meraih gelas yang terletak apik di tengah tengah meja, mengisinya dan menyodorkan hal tersebut kearah Reyvan "Akan aku pesankan bubur, setelah itu istirahatlah"
Olyn beranjak, ia membawa piring sisa sarapan ke arah wastafel lalu kembali lagi untuk meraih Jas dan juga Tas kerja miliknya di meja makan. Rey tak menjawab banyak, ia hanya berdehem pelan sebagai jawaban dan kembali menjatuhkan kepala ke tempat semula.
Sudah dua minggu mereka tinggal bersama, dua minggu mereka berstatus sebagai suami-istri, dan dua minggu juga mereka tak melakukan apa apa.
Pernikahan yang mengikat mereka terjadi tanpa adanya kata Cinta.
Hubungan mereka terjalin karena adanya keputusan dari dua keluarga besar yang menganggap pernikahan adalah jalan terbaik bagi masa depan keduanya.
Rey tak menyukai pernikahan ini, amat sangat.
Ia sudah berusaha menolak puluhan, ratusan, bahkan ribuan kali. Tapi lihatlah sekarang?Seorang Olyndra Atmadja yang lebih sering di panggil Olyn itu tetap menjadi istrinya.
Setiap kali di tanya, apa alasan pria tampan itu menolak perjodohan yang terjadi. Rey dengan lantang mengatakan bahwa Olyn bukanlah Type kekasih hatinya.
Ia menyukai seseorang yang menggemaskan, baik secara wajah dan sikap. Tapi istrinya itu hanya menggemaskan di wajah saja, itupun jarang terlihat di hadapan sang suami karena selalu menatap dengan tajam.
Rey menyukai seseorang yang berjiwa bebas sama sepertinya, tapi Olyn justru bertingkah seperti burung yang terjebak di dalam sangkar.
Oh jangan lupakan hal yang paling penting... Rey menyukai seseorang yang penuh gairah, dalam artian diranjang. Tapi alih alih penuh gairah di ranjang, istrinya itu bahkan terlihat tak memiliki sedikitpun gairah untuk hidup.
Hembusan nafas berat keluar begitu saja tak kala suara pintu yang otomatis tertutup terdengar setelah kepergian Olyn.
Dalam benaknya, Rey masih menerka nerka apa sebenarnya alasan si cantik menerima perjodohan ini. Padahal selama beberapakali bertemu sebelum pernikahan, ia sering sekali dengan sengaja menunjukan segala Sikap RED FLAG kepada Olyn untuk membuatnya menyerah.
Tapi Tetap saja, olyn kini menjadi istrinya.
Resepsi pernikahan mereka dua minggu lalu digelar di ballroom megah Grand Virel Palace Hotel, sebuah hotel bintang lima, jauh di kota Bangkok. Acara itu terjadi dengan begitu meriah, di hadiri oleh ratusan tamu yang jelas bukan tamu milik pengantin itu sendiri.
Suara bel rumah yang berbunyi memecah keheningan pagi, membuat Rey segera beranjak dari kursi.
Meski kepalanya masih berdenyut dan perutnya terus bergolak, ia sudah bisa menebak siapa tamu di balik pintu itu.
Pasti bubur pesanan milik Olyn untuknya.
Dengan satu tangan menekan perutnya yang masih terasa mual, Rey berjalan pelan menuju pintu utama, dan begitu pintu dibuka, seorang satpam yang bertugas berjaga di gerbang rumah tampak berdiri sembari membawa sebuah kantong plastik.
Pria itu tersenyum ramah sebelum mengulurkan kantong berisi bubur di dalamnya "Atas nama Non Olyn, den" ucapnya sopan.
Rey mengangguk, ia menerima kantong tersebut dengan senyum tipis "makasih pak Don, udah sarapan belum?"
Satpam yang di panggil Don itu mengangguk dengan semangat dan mengacungkan ibu jari kepada sang Tuan "udah den, di masakin istri tadi sebelum berangkat" jawabnya membuat Rey terkekeh pelan
Setelah berbincang sebentar, Pak Don berpamitan kembali ke pos jaga. Sedangkan Reyvan menutup pintu rumah secara perlahan.
Baru beberapa langkah berjalan menuju ruang makan, aroma bubur hangat yang menyeruak dari dalam kantong membuat perutnya kembali bergejolak. Membuat si tampan buru-buru membekap mulut sendiri dengan satu tangan, sementara tangan lainnya masih menggenggam kantong plastik itu erat.
Rey memejamkan mata beberapa detik, menarik napas panjang hingga rasa mualnya sedikit mereda "Engga lagi lagi lah anjing" makinya pada diri sendiri sembari membawa kantong berisi bubur itu kembali ke ruang makan.
Ia membuka bungkus bubur perlahan, lalu memaksakan diri menyuapkan beberapa sendok ke dalam mulut.
Rasa mual memang belum benar-benar hilang, tetapi perut kosong hanya akan membuat kepalanya semakin pening.
Butuh waktu hampir dua puluh menit hingga akhirnya semangkuk bubur itu tandas. Setelah meneguk segelas air putih dan meminum obat pereda sakit kepala, Rey melangkah gontai menuju kamar.
Begitu tubuhnya menyentuh kasur empuk, ia langsung menarik selimut hingga sebatas dada, dan tak butuh waktu lama, matanya kembali terpejam.
Rey memang tidak memiliki alasan untuk bangun lebih lama, ia ada di meja makan karena hendak mengisi perut dengan segelas air setelah mengeluarkan seluruh Alkohol yang telah ia minum dan tak sengaja melihat sang istri sudah bersiap untuk melakukan rutinitasnya.
Jika bertanya tentang pekerjaan, jawabanya adalah... Ia tidak bekerja. Tapi bukan karena Reyvan tak memiliki potensi, justru sebaliknya.
Ayah Reyvan adalah pemilik salah satu perusahaan di negeri ini. Sejak kecil ia di-didik untuk menjadi penerus perusahaan keluarga.
Pria itu bahkan menempuh pendidikan yang sesuai agar suatu hari bisa mengambil alih posisi Sang ayah.
Namun setelah lulus kuliah, semua rencana itu seolah menguap begitu saja. Hingga kini... Reyvan belum sekali pun berniat menginjakkan kaki ke perusahaan milik keluarganya.
Ia memilih menjalani hari sesuka hati. Bangun siang, menghabiskan malam di klub bersama teman-temannya, berlibur tanpa tujuan, menghamburkan uang untuk apa pun yang ia inginkan, lalu mengulang rutinitas yang sama keesokan harinya.
Bagi Rey, hidup terasa terlalu singkat jika hanya dihabiskan di balik meja kantor. Lagipula, selama ayahnya belum memaksa, mengapa ia harus terburu-buru mengambil tanggung jawab yang sama sekali belum ingin ia pikul?
Siang berganti malam dengan begitu cepat.
Jarum jam telah menunjuk pukul 23:45.
Pintu utama rumah akhirnya kembali terbuka setelah Olyn memasukkan PIN pada panel digital di samping pintu.
Tubuhnya terasa begitu lelah karena sharian penuh harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain, menghadiri beberapa pertemuan, memeriksa sejumlah dokumen, lalu masih harus menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya bisa ia kerjakan besok.
Pria cantik itu melangkah masuk dengan langkah malas. Jas yang sejak pagi melekat di tubuhnya sudah sedikit kusut. Bahkan dasi yang sebelumnya terikat rapi kini hanya menggantung longgar di leher.
Olyn sudah membayangkan dirinya langsung masuk kamar, mandi air hangat, lalu tidur dengan nyenyak.
Begitu lah kira kira rencana yang ia pikirkan, sebelum suara dari ruang keluarga menarik perhatiannya.
Olyn menghentikan langkah dengan Kening yang berkerut.
Bukankah tadi pagi Reyvan sedang tidak enak badan?
Dengan sedikit rasa penasaran, Olyn mengalihkan pandangannya menuju ruang keluarga yang hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri.
Di sana ia melihat sesuatu yang membuatnya terdiam beberapa detik.
Rey, suaminya. Duduk santai di sofa panjang dengan posisi setengah rebahan. Kedua tangannya sibuk memegang stik PlayStation, sementara matanya terpaku pada televisi berukuran besar yang memenuhi sebagian dinding.
Kaos hitam polos yang dikenakannya tampak sedikit kusut, dipadukan dengan celana pendek rumahan dan rambut yang acak acakan.
Yang lebih membuat Olyn heran adalah...Di atas meja kecil di hadapan pria tampan itu terdapat begitu banyak makanan.
Mulai dari Keripik, Burger, Kentang goreng, Pizza, Cokelat dan Beberapa kaleng minuman.
Bahkan ada semangkuk es krim yang entah sejak kapan mencair berada di sana.
Olyn memandangi pemandangan itu dengan tatapan datar. Pagi tadi Rey bahkan terlihat seperti orang yang berada di ambang kematian.
Dan sekarang? Bermain PlayStation sembari dikelilingi makanan seperti sedang mempersiapkan pesta kecil seorang diri.
Olyn mengembuskan napas panjang, mencoba memanggil nama sang suami "Rey" tapi tidak ada jawaban
Suara permainan dari Televisi masih terdengar.
Headshot!
Rey seketika bersorak kecil "Yes!"
Olyn menatapnya tanpa ekspresi, jelas kesal karena merasa di abaikan "Reyvan" Kali ini sedikit lebih keras.
Namun yang di panggil olehnya tetap tidak menoleh, membuat Olyn mau tak mau harus berjalan mendekat "Reyvan!"
"HEH!" Rey tersentak begitu menyadari seseorang berdiri tepat di samping sofa dengan Kepala seketika langsung menoleh dan mata membesar.
Tatapan terkejut dari mata Rey perlahan melunak, menatap Olyn dari ujung kepala sampai kaki, lalu tersenyum tipis "lah udah pulang?"
Olyn mengangguk sebagai jawaban, Tanpa ada ekpresi yang keluar dari wajah cantiknya "Jam berapa sekarang?"
Rey melirik jam digital besar yang terpampang di dinding tak jauh di atas Televisi "Jam sebelas lewat"
"Dan kamu belum tidur?" Tanya si manis dengan cepat membuat rey seketika menduduki diri begitu saja
"Lagi seru" Reyvan menunjuk Televisi menggunakan dagunya, memberi kode agar Olyn menaruh perhatian pada benda tersebut.
Olyn mengusap pelipisnya dengan pelan.
Rasa lelah yang sejak tadi ia tahan mendadak terasa semakin berat dan kemudian meletakkan tas kerjanya di sofa lain sebelum membuka jas.
Rey melirik sekilas, lalu kembali mengotak atik PlayStation yang berada di tangannya "kenapa pulang?"
Mendengar pertanyaan sang suami, Olyn seketika berhenti bergerak dan secara perlahan menoleh ke arah pria itu "Karena ini rumahku??"
Rey mengangguk seolah baru mendapatkan informasi penting "Oh iya"
"Dan rumahmu juga" lanjut si cantik lagi, takut takut Rey merasa salah paham, padahal pria yang di maksud tak perduli dengan apapun.
"Iya"
"Jadi jangan berbicara seolah aku adalah tamu"
Reyvan mengangguk, ia mulai memainkan permainan yang sudah ia pilih beberapa detik lalu "Dan jangan buang makanan sembarangan seperti ini"
"Iya"
"Jangan ju-"
"Lo cerewet banget kalau lagi capek, tau ga?" Sungut Rey memotong ucapan sang istri sembari menoleh dan masih tersenyum kecil "Udah makan belum?"
Olyn sempat berpikir beberapa detik, disaat ia hendak menjawab Rey lebih dulu membuka suara "Belum kan?duduk gih, makan bareng kita"
Walaupun pernikahan mereka merupakan hasil dari sebuah perjodohan, hubungan Olyn dan Reyvan di rumah sebenarnya tidak sedingin yang mungkin dibayangkan.
Mereka memang tidak memiliki perasaan seperti pasangan suami istri pada umumnya.
Tidak ada panggilan sayang, tidak ada sikap romantis yang berlebihan, Bahkan kamar tidur pun masih mereka pisahkan.
Namun, bukan berarti setiap hari mereka diisi dengan keheningan dan tatapan penuh kebencian.
Reyvan dan Olyn tetap saling menyapa, tetap berbicara mengenai hal-hal kecil, tetap makan bersama jika kebetulan memiliki waktu yang sama Dan terkadang, tanpa mereka sadari, mereka mulai memiliki rutinitas kecil layaknya pasangan yang sudah lama tinggal bersama.
Dengan kesadaran penuh, Rey akhirnya meletakkan stik PlayStation yang sejak tadi masih berada di kedua tangannya ke atas meja. Kemudian menarik meja kecil yang dipenuhi makanan itu sedikit lebih dekat, lalu mulai membuka satu per satu bungkus makanan yang belum sempat disentuh olehnya.
Mulai dari Kotak pizza dibuka, Bungkus burger disingkirkan dan kentang goreng yang masih berada di dalam wadah plastik dituangkan ke piring.
Bahkan minuman yang sejak tadi masih tersegel ikut dibuka olehnya.
Olyn hanya berdiri di tempatnya sembari memperhatikan semua tingkah sang suami "Kamu mau makan sebanyak itu?"
Rey mengangkat wajah, jelas menggeleng "Enggak"
"Terus kenapa dibuka semua?"
"Kan lo belum makan" Jawaban sederhana itu membuat Olyn terdiam untuk sesaat.
Rey tidak terlihat seperti sedang melakukan sesuatu yang istimewa. Ia bahkan masih sibuk membuka bungkus makanan sembari sesekali mencuri satu potong kentang goreng untuk dimakan sendiri.
"Kamu beli semuanya sendiri, tapi kenapa belum di makan?" Tanya si cantik sembari menduduki diri tak jauh dari tempatnya Rey duduk
"Keasikan main, tau tau lo udah pulang aja"
Olyn menghela napas panjang, dan menggeleng kecil "kamu punya kebiasaan buruk"
"Maaf ya, istri..." jawab Rey membuat taapan Olyn seketika langsung berubah tajam.
Melihat hal itu, bukannya takut anak tunggal dari keluarga Winata itu justru tertawa kecil "Bercanda"
"Jangan panggil aku begitu" protesnya yang hanya di balas anggukan oleh Reyvan.
Pria tampan itu kini menyodorkan dua buah kentang goreng ke arah Olyn "Nih"
Olyn melihat makanan tersebut dan wajah Rey secara bergantian "Apa?"
"Makan"
Olyn tak kunjung meraihnya "Aku bisa ambil sendiri"
"Ya udah, ambil sendiri." Rey menarik kembali tangannya, lalu menjauhkan piring yang berisi kentang goreng dari jangkaun Olyn tanpa merasa bersalah.
Rey menahan tawa, dapat ia lihat raut kesal dari sang istri "Katanya bisa ambil sendiri"
Olyn mendengus pelan sebelum akhirnya menarik diri dan duduk jauh lebih dekat kearah rey dan mengambil sedikit makanan dari piring yang berada di hadapannya.
Untuk beberapa menit, tidak ada percakapan di antara mereka.
Hanya suara televisi yang masih menampilkan layar permainan yang sedang dijeda.
Tatapan Olyn yang tadi sibuk memperhatikan makanan di hadapannya kini beralih kepada Rey. Ia memperhatikan wajah sang suami yang memang sudah terlihat jauh lebih sehat dibandingkan pagi tadi "Kamu sudah merasa sehat?"
Rey menggeleng pelan sebagai jawaban, membuat si manis kembali bertanya "Masih mual?"
"Sedikit"
Olyn mengangguk kecil, lalu kembali menyantap makanannya dengan tenang.
"Tentu saja, Kamu terlihat seperti pecandu tadi pagi"
Tangan Rey yang sedang mengambil kentang goreng seketika berhenti di udara dan menatap Olyn dengan wajah tidak percaya "Lo kalau ngomong emang se-blak blakan itu ya?"
Olyn memgangkat bahu acuh, bersikap tenang seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sangat biasa "Memangnya aku salah?"
Rey menghela napas panjang, mencibir pelan dan meraih Stik PlayStationnya kembali "Naik dah lo sana, mandi terus tidur" tuturnya tanpa menoleh sedikitpun
Olyn mengulum bibir sesaat sembari kembali melirik Rey. Tatapannya sedikit menyipit, memperhatikan pria di hadapannya yang kini kembali sibuk dengan permainan di televisi.
Entah kenapa, Rey terlihat seperti sedang merajuk "Kenapa? Kamu ngambek, ya?"
Yang di tanya tidak kunjung menjawab, Jarinya masih sibuk menekan tombol pada stik PlayStation, dengan mata yang terpaku pada layar seolah pertanyaan Olyn sama sekali tidak menarik untuk dijawab.
Namun beberapa detik kemudian, ia mendengus pelan "Engga, muka lo noh udah kaya orang teler"
"Udah gih sana, lo besok harus kerja lagi biar bisa menafkahi gw"
Olyn mengernyit-kan alis, sementara Rey kembali menekan beberapa tombol pada stiknya, lalu bersandar lebih nyaman di sofa.
Seolah olah tak memiliki beban atas ucapan sendiri.
Si manis tidak tersinggung atas ucapan sang suami. Reyvan sudah mengatakan kepadanya jauh sebelum pernikahan bahwa ia belum ingin bekerja, Olyn tak masalah.
Karena selain dari uang milik Olyn, mereka hidup juga dari Uang milik keluarga Reyvan.
Perihal rumah, untuk hal ini mereka sepakat membeli dengan uang bersama.
Si manis dengan hasil kerja kerasnya, dan si tampan dengan hasil menabungnya.
Rey bahkan rela tidak berfoya foya selama dua bulan karena Olyn mendesak harus ada rumah sebelum mereka menikah saat itu.
Perjodohan antara Reyvan dan Olyn sebenarnya tidak pernah ada dalam rencana.
Keluarga Prasetya dan keluarga Winata telah saling mengenal jauh sebelum kedua anak itu lahir.
Juna Prasetya, selaku ayah Olyn, merupakan salah satu rekan bisnis terdekat Marko Winata, ayah Reyvan.
Hubungan keduanya sudah berlangsung selama bertahun-tahun, melewati berbagai kerja sama dan perjalanan bisnis hingga akhirnya keluarga mereka pun menjadi cukup dekat.
Namun semakin bertambah usia, kekhawatiran sebagai orang tua tentu mulai muncul.
Reyvan, putra satu-satunya keluarga Marko, sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan untuk bekerja di perusahaan miliknya. Putranya itu bahkan terang-terangan menolak ketika sang ayah mulai membicarakan masa depan perusahaan.
Lebih buruknya lagi, rey juga tidak memiliki sedikit pun keinginan untuk menikah di usia yang bahkan sudah 26 tahun. Hal tersebut menjadi keluhan yang cukup sering didengar oleh Marko dari istrinya, yang bernama Wona winata.
"Anak kita mau sampai kapan hidupnya begitu terus?" Pertanyaan sang istri akhirnya membuat Marko tanpa sengaja mengeluhkan keadaan putranya kepada Juna ketika keduanya sedang membicarakan urusan bisnis.
Namun siapa sangka, keluhan tersebut justru dibalas dengan keluhan yang hampir serupa. Bedanya, masalah Juna justru berada di sisi yang berlawanan.
Olyn terlalu sibuk bekerja. Putranya itu hampir tidak pernah memikirkan kehidupan di luar pekerjaannya.
Ia jarang bersosialisasi, tidak tertarik menghadiri acara keluarga, dan bahkan nyaris tidak pernah menunjukkan keinginan untuk mencari pasangan.
Jika Reyvan terlalu santai menghadapi hidup, Olyn justru terlalu serius menjalaninya.
Jadi.. jika di tanya mengapa cara komunikasi mereka bisa jauh berbeda, maka jawabannya hanya satu, yaitu kehidupan keduanya yang benar benar bertolak belakang.
Dari percakapan sederhana antara dua sahabat lama itulah sebuah ide yang awalnya terdengar seperti candaan mulai muncul.
"Bagaimana jika mereka dijodohkan?"
Awalnya tidak ada yang benar-benar menganggap serius gagasan tersebut. Namun semakin lama dibicarakan, semakin masuk akal pula bagi kedua keluarga.
Rey membutuhkan seseorang yang mungkin bisa membuatnya sedikit lebih bertanggung jawab. Sementara Olyn membutuhkan seseorang yang bisa membuatnya berhenti sejenak dari pekerjaannya dan mulai menikmati kehidupan di luar dunia bisnis.
Dan pada akhirnya, kedua keluarga pun menyepakati pernikahan tersebut. Tapi bukan karena Olyn dan Reyvan saling mencintai, bukan pula karena ada kepentingan tertentu yang harus disatukan.
Melainkan karena dua pasang orang tua percaya bahwa anak-anak mereka mungkin justru membutuhkan satu sama lain.
Sayangnya, mereka lupa satu hal.
Tidak ada seorang pun yang bisa memastikan dua orang asing akan benar-benar cocok hanya karena orang tua mereka merasa keduanya saling melengkapi.
