Actions

Work Header

berempat

Summary:

Serba-serbi kisah keluarga Papa Jimmy, Papa Nong Sea, Kakak Sea Kecil, dan Cean.

(Bagaimana jika Papa Besar dan Papa Kecil sebenarnya memiliki dua orang anak: Kakak Sea, dan Cean yang umurnya berbeda jauh?)

Chapter 1: ceritanya, cean sakit dan dijaga oleh kakak

Chapter Text

Saat Sea memasuki ruangan, Papanya mendongak, dan tersenyum kecil. Sea rasanya tidak bisa membalas senyumnya melihat mata Papa Kecilnya nyalang, dengan kantung gelap di bawah mata.

"Pa…" ujar Sea pelan sembari duduk di samping Papa. "Sekarang Kakak yang jagain Cean, Papa pulang aja, ya? Istirahat…"

Papa menggelengkan kepala. "Papa gak bisa tidur…"

"Ya… di sini kan gak enak, bau obat… Coba Papa pulang, biar bisa tidur."

Itu bohong, tentu saja. Papa Kecil bisa tertidur di manapun, dan kapanpun. Tapi saat Avocean jatuh sakit, Papa nampak sangat terpukul dan stress.

"Pulang." kata Sea pendek.

Papa tertawa kecil. "Persis Papa Jim kalo menurutnya Papa ngeyel."

Katanya, Sea mirip sekali dengan Papa Kecil. Tapi Sea tidak menemukan letak kemiripannya; garis wajah Papa lebih halus dan mata lebih bercahaya karena sering tersenyum. Tapi dia juga tidak menemukan jejak Papa Besar di wajahnya.

Papa mengusap rambut Sea, merapikannya. "Papa jadi inget waktu kamu kecil." katanya.

Sea memandangnya.

"Waktu kecil, kamu jarang sakit, gak pernah rewel juga… Selalu patuh, dan cepat tumbuhnya." Papa tersenyum. "Gak kerasa, kamu udah gede, ya. Udah jadi seorang kakak sekarang, udah lebih tinggi dari Papa."

Sea menundukkan kepala, tapi Papa masih mengusap rambutnya.

"Maaf, kalo sekarang Papa gak bisa kasih perhatian lebih ke Kakak…"

"Kan, Kakak udah gede…" Sea mengulang perkataan Papa.

Papa tertawa. "Di mata Papa kamu masih kecil."

"Sekecil Cean?"

"Ya." Papa tersenyum. "Apalagi kalo kalian udah berantem… maaf Papa sering marahin kamu, menyalahkan kamu… seakan-akan jadi anak sulung ini pilihan kamu…"

Mata Sea terasa panas; dadanya sesak. Namun dia menahannya.

Namun Papa tampak tak menyadari perubahan hati Sea karena perkataannya. Dia melanjutkan, "Kak… terima kasih, ya, udah jadi anak baik selama ini."

Sea berdeham. "Apa sih, Pa…" Tapi suaranya bergetar, dan tangan Papa pindah ke bahu Sea, merangkulnya, menariknya mendekat.

"Papa tuh, ya, sering peluk Cean… cium Cean, karena Papa tahu, hidup ini sebentar… sama kayak kamu, nanti Cean juga tumbuh besar…"

"Sekarang aja dia udah gede banget…"

"Hush." Papa menepuk kepala Sea, namun dia juga terkekeh. "Ya… ada saatnya nanti Cean menolak dipeluk Papa… sama kayak kamu gak mau dipeluk lagi…"

Sea menarik napas. Itu benar; dia tidak ingat kapan terakhir kali merasakan pelukan Papa yang hangat. Tangan Sea balas merangkul Papa, dan mereka duduk di sana, saling merangkul, memegang, sembari mengingat kenangan-kenangan dulu ketika Sea masih kecil.

"Papa pulang, ya…" bujuk Sea sekali lagi. "Istirahat dulu. Sea yang di sini jaga Cean."

Papa mengangguk. Dia menarik diri, menegakkan tubuh, dan Sea melihat bagaimana Papa kembali menjelma menjadi Papa yang Sea tahu; lembut tetapi tegas.

"Kamu kalo ada apa-apa, telepon Papa, ya."

Sea mengangguk. Tak lama, Papa Jim menghubungi, dan Papa turun untuk bertemu di lobi.

Hanya ada Sea bersama Avocean yang masih tertidur. Sea duduk di pinggir kasur, dan mengamati adiknya yang terlelap; entah memimpikan apa dia, setelah membuat panik semua orang.

Sea menyayangi Avocean. Avocean hadir ketika Sea sudah cukup dewasa untuk menjadi sosok Kakak yang tidak pernah dia bayangkan. Tetap saja, ada rasa cemburu di dada ketika melihat Avocean tetap dimanjakan, meskipun baru saja memecahkan gelas.

Sekarang Avocean sakit, dan hanya bisa terbaring lemas di kasur rumah sakit. Betapa rindunya Sea melihat adiknya berlarian di rumah. Rumahnya terasa sepi tanpa tawa Avocean.

Sea meraba kening Avocean; seperti yang Papa lakukan bila Sea demam. Tangan Papa selalu terasa sejuk di kulit, dan Sea harap, sentuhannya juga bisa menenangkan Avocean di mimpinya.