Actions

Work Header

Salah Baca

Summary:

Shinyu dan Youngjae sudah lama berpacaran. Di suatu libur Chuseok, mereka sadar perasaan mereka sama-sama tumbuh pada Hanjin yang tinggal sendirian di dorm, lalu mereka mulai mendekat pelan-pelan tanpa bilang apa-apa.

Notes:

Cerita ini murni fiksi dan hasil imajinasi penulis. Karakter, nama, dan sifat idol di dalam cerita ini tidak mencerminkan kehidupan nyata atau kepribadian asli mereka.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Kak, udah siap?” tanya Youngjae nervous.  
“Hhhhh… udah,” jawab Shinyu gagap.
“Ih yang bener dong Kak. Kalau Kakak nggak yakin gimana aku?” rengek Youngjae.  
“Sayang, kakak bukan nggak yakin tapi nervous banget. Emang kamu kuat nanti harus ngomong depan dia?” aku Shinyu.  
“Loh kok jadi aku yang harus ngomong depan dia? Kakak aja, aku takut nggak kuat nahan gemes, nggak jadi ngomong malah mau unyel-unyel dia nanti,” ucap Youngjae menunggu reaksi Shinyu.
“Ya udah Kak buru samperin, keburu kelamaan di sini nanti dia tahu-tahu udah pergi gimana?” tambahnya tak sabaran.

Shinyu hanya menghela napas pasrah. Mau nggak mau harus dia yang berusaha ngomong dengan seseorang yang sedari tadi jadi perdebatan Shinyu dan Youngjae, bukan hanya supaya kekasihnya tidak marah tetapi juga agar orang tersebut mau diajak pergi oleh mereka berdua. 

Hari ini sedang Chuseok, kali ini mereka mendapat libur tiga hari. Dohoon, Jihoon dan Kyungmin, pulang ke rumah masing-masing. Shinyu dan Youngjae sebenarnya bisa ikut pulang tapi mereka memilih tinggal bersama Hanjin yang juga tidak pulang kampung ke China. Hanjin pasti akan sendirian di dorm, itulah menjadi alasan mereka sepakat memakai kesempatan ini untuk mendekati Hanjin. 

Shinyu dan Youngjae sudah lama berpacaran. Malam sebelumnya mereka berdua membicarakan perasaan mereka yang sama-sama tumbuh pada Hanjin, sehingga mereka sepakat untuk mendekati Hanjin pelan-pelan, dimulai dari momen Chuseok hari ini. 

Saat ini Shinyu dan Youngjae sedang di kamar Youngjae bersiap beranjak menuju kamar Hanjin yang berbagi dengan Shinyu.

“Hanjin…” panggil Shinyu setelah mereka masuk ke kamar. Di sana Hanjin sedang tidur tengkurap memainkan iPad-nya membelakangi pintu.

“Eh…” seru Hanjin, terkejut. Ia segera mengubah posisinya menjadi duduk agar dapat melihat siapa yang memanggilnya.

“Loh, kak Youngjae sama kak Shinyu belum pulang?” tanya Hanjin heran.
“Kita emang nggak pulang, Hanjin. Yang pulang cuma Dohoon, Jihoon, Kyungmin,” jawab Youngjae.
Hanjin hanya mengangguk paham. 

Youngjae memberi isyarat dengan mendorong bahu Shinyu pelan dan berbisik kepadanya agar Shinyu cepat buka suara mengajak Hanjin pergi.

“Kak, ayo cepet ngomong ke Hanjin,” bisik Youngjae tak sabaran. 

Shinyu menarik napas panjang untuk mempersiapkan diri dan Hanjin masih menunggu kedua hyung-nya mengatakan maksudnya, ia sedari tadi melihat semua interaksi mereka.

“Hanjin…” panggil Shinyu.
“Iya? Ada apa kak?” jawab Hanjin sambil mengulas senyumnya.
“Ikut jalan yuk ke kafe. Mau nggak?” ajak Shinyu.
“Hmmm… emangnya nggak apa-apa?” tanya Hanjin ragu.
“Loh ya nggak apa-apa dong, kan kita yang ajak kamu. Biar nggak sendiri aja di dorm,” jelas Youngjae.
“Oh boleh deh. Aku siap-siap bentar, nggak apa-apa?” ujar Hanjin.
“Ya nggak apa-apa banget. Kita tungguin kok,” ucap Shinyu.
“Oke,” jawab Hanjin.

Hanjin beranjak dari tempat tidur menuju lemari baju untuk mengambil salah satu pakaian di sana lalu mencari tas di samping tempat tidur, dicocokkan dengan pakaiannya. Setelah menemukan yang cocok ia diam sejenak ingin membuka bajunya namun tertahan karena merasa malu menyadari Shinyu dan Youngjae masih berdiri di kamarnya.

“Eh, aku ganti di kamar mandi aja,” ucap Hanjin lalu beranjak menuju kamar mandi.

Setelah Hanjin keluar kamar, Youngjae menatap tajam Shinyu dan memukul pelan lengannya.

“Kita kenapa masih ada di sini? Kenapa nggak keluar nunggu di sofa ruang tamu? Hanjin kan jadi makin canggung sama kita. Pokoknya ini salah kamu ya kalau usaha kita nggak berhasil,” omel Youngjae panjang lebar lalu beranjak keluar kamar menuju ruang tamu.

Shinyu yang diberi omelan oleh kekasihnya hanya meringis ngeri. Ia tentu tidak mau rencana mereka berdua gagal. Jadi Shinyu berpikir keras untuk mengubah keadaan agar Hanjin tidak canggung lagi sama mereka. Namun sebelum itu, Shinyu perlu melunakkan hati kekasihnya, Youngjae, terlebih dahulu.

“Maaf, sayang. Aku nggak peka. Biasanya kalau Hanjin ganti baju kayaknya aku biasa lagi fokus main HP deh makanya nggak ada canggung tapi tadi kita malah kayak nungguin dia gitu, pasti dia kaget deh,” ucap Shinyu sambil menangkup kedua tangan Youngjae dengan tangannya.
“Iya udah nggak apa-apa. Nggak seharusnya aku ngomelin kamu sebegitunya juga. Maaf ya,” ucap Youngjae.  
“Makasih sayang. Nanti aku pikirin gimana biar Hanjin nggak canggung lagi sama kita. Aku yakin usaha kita pasti berhasil,” ucap Shinyu mantap.“Sama-sama kita pikirkan sayang. Kan bukan rencana kamu doang tapi berdua. Udah sekarang kita agak jauhan dikit duduknya. Tapi biasa aja. Jangan terlalu kentara dibuat-buat biar Hanjin nggak salah paham,” ujar Youngjae menginstruksikan pergerakan mereka.

Tak lama bunyi ceklekan pintu kamar mandi berbunyi pertanda Hanjin selesai dengan urusannya. Hanjin pergi ke kamar untuk mengambil tasnya terlebih dahulu sebelum menuju ruang tamu.

“Kak Shinyu, Kak Youngjae,” panggil Hanjin.
“Udah siap, Hanjin?” tanya Youngjae.  
“Udah Kak. Maaf ya nunggu lama, aku cuci rambut dulu,” ucap Hanjin merasa tak enak.
“Eh nggak apa-apa. Santai aja. Yuk jalan,” ujar Shinyu.

Shinyu dan Youngjae beranjak dari sofa lalu mereka bertiga keluar dorm. 

Sesampainya di lobi, pesanan taksi online mereka sudah datang. Mereka semua naik dan sopir membawa mereka menuju kafe.

Dari mereka bertiga menunggu pesanan datang hingga pesanan sudah di meja mereka, kecanggungan sama sekali belum menghilang. Hanjin bergerak serba kaku, dimulai dari mengambil foto makanan dan minuman kemudian menawarkan memotret Shinyu dan Youngjae, yang mana mereka berdua mengusulkan untuk selfie bertiga. Shinyu dan Youngjae pun merasa bingung, begitu juga dengan Hanjin. Namun mereka tidak mau terlalu memusingkan hal itu, merasa tidak perlu terlalu berusaha sekeras itu nanti malahan jadi makin canggung.

Sebenarnya setelah dari kafe, Shinyu dan Youngjae berencana untuk mengajak Hanjin menonton film bareng namun mereka khawatir dengan kemampuan bahasa Korea Hanjin yang belum terlalu lancar akan menyulitkan Hanjin sendiri karena tidak paham dengan filmnya. 

“Hanjin, habis ini kita mau nonton film. Kira-kira kamu mau ikut nggak?” tanya Youngjae.
“Hmmm… kalau aku nggak ikut, nggak apa-apa?” Hanjin bertanya balik dengan ragu.
“Nggak apa-apa sih. Kamu mau nunggu aja di sini?” tanya Youngjae lagi.
“Iya, di sini aja. Sepertinya nyaman,” jawab Hanjin.
“Oke, kita tinggal ya. Nanti saling berkabar aja. Filmnya kira-kira dua jam,” ucap Youngjae.
“Oh ya. Aku share loc ke kamu lokasi bioskopnya, jadi kalau kamu mau nyusul bisa. Nanti ikutin aja pakai naver map. Pokoknya kabarin aja ya, entah kamu nunggu atau nyusulin aku sama Youngjae,” ucap Shinyu.
“Oke kakak-kakak,” ujar Hanjin.

Shinyu dan Youngjae berdiri untuk beranjak keluar kafe menuju bioskop.

Setelah kepergian Shinyu dan Youngjae, Hanjin mengirim pesan kepada kakak perempuannya yang berada di China.

[Hanjin] jiejie, hari ini aku libur jadi pergi main sama member grup aku, kak Shinyu dan kak Youngjae *mengirim foto minuman*    
[Jiejie] wah minuman apa itu? menarik sekali warna warni😍
Oh ya, Shinyu itu yang saat ini sekamar sama kamu kan? Kalau Youngjae yang kamu bilang tiap malam tidur berdua dengan Shinyu.
[Hanjin] wah jiejie mengingat curhatanku, terharu🥹
Ah aku jadi teringat sesuatu karena jiejie bahas soal mereka yang tidur berdua. Jiejie dugaanku semakin menguat kalau mereka berpacaran.
[Jiejie] jangan raguin kemampuan otakku😎 Tapi Hanjin didi, kamu jangan sembarangan berasumsi, memangnya diperbolehkan satu grup berpacaran.
[Hanjin] kalau diam-diam diperbolehkan. Tapi jiejie kalau memang mereka berpacaran aku harus gimana? Oh ya satu lagi, kenapa mereka mengajakku pergi ya kalau begitu🤔    
[Jiejie] nah itu yang harus kamu pikirkan. Kalau dugaan kamu benar, kenapa mereka mengajak kamu pergi? Selain pastinya mereka nggak mau ninggalin kamu sendiri. Aduh kasihannya xiao didi🥲
[Hanjin] heiii… siapa yang jiejie panggil xiao didi? Kalau aku masih kecil, mungkin aku nggak seberani sekarang pergi ke negara lain untuk merantau. Jadi jiejie nggak perlu khawatir aku jadi merasa sendiri. Makasih jiejie atas sarannya, akan aku pikirin lagi🤗
[Jiejie] 🥰🥰
[Hanjin] 🥰🥰

Setelah mengirim emoji kepada kakak perempuannya, Hanjin beranjak dari duduknya menuju kasir, sepertinya ia perlu memesan makanan lagi dan berniat menunggu Shinyu dan Youngjae di kafe itu daripada menyusul mereka di bioskop. 

Dua jam kemudian, Shinyu dan Youngjae kembali ke kafe dan mendapati Hanjin yang masih duduk di tempat yang sama. Di meja terdapat dua potong kue yang belum tersentuh. 

“Kak Shinyu, Kak Youngjae, duduk dulu makan kuenya, aku sengaja pesen buat kalian,” ucap Hanjin sesaat mereka berdua berdiri tepat di depan meja.
“Makasih Hanjin. Ini aku sama kak Shinyu juga ada beliin kamu popcorn dari bioskop,” ucap Youngjae menaruh boks popcorn khas bioskop di atas meja.  
“Kamu pernah bilang suka sama popcorn caramel yang dijual di bioskop jadi tadi sebelum pulang mampir beliin buat kamu,” ucap Shinyu menambahkan sebelum Shinyu dan Youngjae duduk.
“Makasih kak. Aku aja lupa kapan pernah mention suka popcorn bioskop,” ucap Hanjin berusaha mengingat-ingat.  
“Waktu itu di dorm pas kamu lagi nonton drama, kamu bilang kalau nonton sambil makan popcorn pasti lebih seru deh, apalagi pake popcorn caramel bioskop, kebayang enak banget,” ucap Shinyu sambil menirukan ucapan Hanjin waktu itu.
“Ah.” Hanjin teringat kejadian itu dan menundukkan wajahnya karena merasa malu.

Setelahnya suasana di kafe berubah tidak secanggung sebelumnya. Mereka menikmati suasana hening yang nyaman tanpa banyak obrolan.

Lompat ke beberapa bulan kemudian. Grup mereka baru saja debut. Pembagian roommate berubah. Hanjin sudah tidak sekamar dengan Shinyu lagi. Sekarang ia sekamar dengan Kyungmin. 

Sejak perginya mereka bertiga ke kafe di Chuseok hingga sekarang, mereka semakin dekat. Tidak tahu kapan momen pastinya, yang jelas itu semua berlangsung secara natural. 

Jadwal mereka latihan setiap hari untuk persiapan debut hingga jadwal-jadwal setelah debut sangat padat. Namun mereka sepakat memiliki satu hari khusus sebagai ritual untuk saling mengakrabkan diri sesuai dorongan agensi dan juga inisiasi dari mereka agar grup memiliki chemistry yang baik. Ritual tersebut bernama bonfire, di mana mereka akan duduk bersama, saling mendengar keluh kesah dan menyelesaikan masalah yang ada. Ajaibnya sesi mengeluarkan keluh kesah tersebut membuat hubungan mereka sebagai satu grup semakin merekat. 

Setahun berlalu sejak debut, usaha Shinyu dan Youngjae saat ini untuk mendekati Hanjin tidak seintens dulu. Mereka berpikir untuk mendekati secara natural saja, tidak memaksa menciptakan momen.

“Kak, gimana nih? Udah makin sibuk jadi susah cari waktu buat jalan berdua sama Hanjin atau kita jalan bertiga? Roommate-nya kenapa juga diubah sih? Jadinya waktu ngobrol sebelum tidur sama Hanjin berkurang juga deh,” ucap Youngjae.
“Loh bagus dong biar kita sekamar berdua…” jawab Shinyu.

Belum selesai Shinyu bicara, Youngjae sudah mengomel kepadanya.

“Tuh kan kakak emang nggak pernah serius soal agenda kita selama ini,” omel Youngjae. 
“Aduh bukan gitu, sayang. Kakak loh belum selesai bicara kamu udah ngambil kesimpulan. Maksud aku, aku ngerasa kemarin pas aku sekamar sama Hanjin dan kamu hampir tiap malam minta tidur bareng, Hanjin tuh jadi canggung mungkin karena itu. Kamu lihat sendiri kan gimana Hanjin sekarang ke kamu atau ke aku, udah nggak secanggung dulu. Jadi menurut aku kedekatan kita sekarang ini tuh bagus, kita bisa pakai momennya pelan-pelan buat deketin Hanjin lagi,” jelas Shinyu panjang lebar.

“Kakak yakin cukup dengan pace yang sekarang? Karna kalau nggak cukup kelihatan usaha kita, Hanjin jadi nggak sadar atau anggap perhatian kita sekedar perhatian biasa? Kakak nggak lihat member lain physical touch-nya gimana ke Hanjin. Kakak nggak panas?”  
“Jujur aku ngerasa panas. Pengen juga bisa seberani mereka. Sebagai leader kadang merasa ovt, udah cukup baik belum jalanin tanggung jawab. Sebenarnya bukan cuma ke Hanjin atau ke kamu aja, sayang, tapi ke Dohoon, Jihoon dan Kyungmin. Pengen biar kita di belakang atau depan layar terlihat sama, kalau kita dekat, aku bisa ngerangkul mereka dan mereka bisa ngandelin aku,” ucap Shinyu sedikit merasa sedih.
“Kak, kenapa sih nggak pernah ngomong hal ini dari awal kakak ovt. Kakak bisa loh ungkapin ovt kakak ke kita semua di obrolan biasa atau di sesi bonfire, tapi kakak lebih banyak bilang lagi nggak ada masalah. Member lain pasti juga sama deh kayak aku bakal bilang ke kakak, kalau leader tuh nggak harus nanggung semua-semuanya sendiri, kalau kakak banyak physical touch atau kakak easy-going ke mereka emang itu berarti bikin mereka nggak respect lagi sama kakak? Selama setahun ini kakak udah jadi leader yang keren kok,” ujar Youngjae meyakinkan.

“Makasih ya sayang. Means a lot to me. Kakak akan belajar ke depannya biar nggak simpen ovt sendiri. Mungkin dimulai dari syuting konten kita nanti kakak bakal pakai waktu buat selipin obrolan. Di luar konten pun, termasuk sesi bonfire, kakak juga bakalan lebih bisa ungkapin ovt-nya kakak,” ucap Shinyu lega.
“Nah gitu dong kak yang semangat, jangan loyo. Kalau aku mau mulai samperin Hanjin sekarang ah, mau peluk tanpa konteks. Kalau aku yang inisiasi dulu mungkin pelan-pelan Hanjin bisa sadar dan buka hati,” ucap Youngjae semangat.
“Loh kok tiba-tiba? Kamu yang selama ini kelihatan nggak suka physical touch, jangan-jangan lagi nahan diri ya?”
“Nah itu tahu,” ujar Youngjae. Setelahnya Youngjae keluar kamar menuju kamar Hanjin. 

Shinyu yang ditinggal begitu saja di kamar menatap kepergian Youngjae dengan bingung. 

“Hanjin…” panggil Youngjae di depan kamar Hanjin dan Kyungmin yang pintunya tidak tertutup rapat.
“Lagi mandi,” jawab Dohoon dari dalam kamar.  
“Ngapain duduk di kasur Hanjin?” tanya Youngjae bingung sambil membuka lebar pintu untuk ia masuk.
“Suka-suka lah. Hanjin-nya nggak masalah kok. Ya kan?” tanya Dohoon meminta dukungan dari Kyungmin.

Youngjae hanya menggelengkan kepala merasa heran. Lalu ikut duduk di kasur Hanjin bersebelahan dengan Dohoon.

Tak lama kemudian pintu terbuka lagi, Youngjae kira ini Hanjin namun member lain.

“Dedek, peluk dong,” seru Jihoon manja menuju kasur Kyungmin. Sudah menjadi kebiasaan mereka tiap malam, Jihoon yang datang ke kamar Kyungmin dan Hanjin untuk meminta pelukan dari Kyungmin, kekasihnya.

Kyungmin yang sedang memainkan ponsel, menaruhnya ke atas kasur lalu merentangkan tangan menyambut Jihoon. 

“Kak Dohoon, Kak Youngjae, dan Jihoon, ngapain ya ramai-ramai di sini?” tanya Hanjin bingung karena sesaat ia masuk kamar, semua sudah berkumpul di kamarnya dan Kyungmin. Sedari tadi Youngjae dan Dohoon duduk bersisian di kasurnya sementara Kyungmin dan Jihoon tidur berpelukan di kasur Kyungmin.

“Sengaja nungguin kamu.”
“Nungguin kamu, mau minta masker,” ucap Youngjae dan Dohoon bersamaan. 

Mereka berdua ingin menghampiri Hanjin yang berdiri di dekat pintu namun tertahan karena kedatangan Shinyu yang tiba-tiba. Shinyu yang ditinggal sendirian di kamar, menunggu Youngjae tidak balik-balik ke kamar jadi tidak tahan menyusulnya ke kamar sebelah. Shinyu menoel bahu Hanjin pelan yang membuat Hanjin hendak membalikkan badan. Namun sebelum balik badan sepenuhnya, Shinyu sudah merangkul pinggang Hanjin. Hanjin yang bingung merangkul balik Shinyu. Shinyu menepuk-nepuk pantat Hanjin lalu beranjak menuju Youngjae menepuk bahunya sekilas kemudian menuju Dohoon, melakukan hal yang sama lalu berpaling ke Jihoon dan Kyungmin, menepuk pantat mereka masing-masing sekilas. Setelahnya, Shinyu hendak keluar kamar Hanjin dan Kyungmin, melewati Hanjin lalu merangkulnya lagi sebelum benar-benar keluar kamar.

“Pilih kasih dah, leader kita satu itu,” ucap Dohoon hendak melangkah kembali menghampiri Hanjin namun lagi-lagi terhalang oleh Youngjae yang tiba-tiba menyerobot mendekat ke Hanjin dan memeluknya. Karena terlalu semangat Hanjin sedikit terhuyung keluar pintu. Lalu Youngjae keluar kamar begitu saja seolah sebelumnya tidak terjadi apa-apa.

“Ampun dah. Apaan lagi ini temen gua satu,” ucap Dohoon bingung.

Hanjin yang mendapat perlakuan tiba-tiba dari kedua hyung-nya tersebut pun ikut bingung namun tidak terlalu memusingkan. 

“Nih, minihuni nggak mau sekalian?” tanya Dohoon kepada kedua yang sedang berpelukan, Kyungmin dan Jihoon.
“Sampe lupa datang mau minta masker, saking dari tadi ke-distract,” tambahnya.  
“Ngomong dong kak, masker mah gua tahu tempatnya nggak perlu nungguin kak Hanjin mandi sampe ganggu kita mesra-mesraan,” ucap Kyungmin bercanda.
“Heh bocah, nggak ada gua datang mau recokin lu. Mana Hanjin maskernya?” ujar Dohoon setengah kesal.
“Nih kak,” ujar Hanjin sambil menyerahkan masker ke tangan Dohoon. Setelah Dohoon menerimanya ia kembali bersuara. “Makasih ya Hanjin. Udah lah gua balik. Woy lu juga balik, nggak nyaman gua walaupun di dorm tapi sering banget ngelihat kegiatan kurang menyenangkan begini,” ucap Dohoon sambil menarik tangan Jihoon yang masih menempel dengan Kyungmin.
“Iya-iya kak. Gua balik sendiri. Udah sana duluan ke kamar,” jerit Jihoon karena merasa dipaksa lepas pelukannya.

Suatu hari semua member diundang ke acara YouTube seorang produser variety show terkenal. Mereka di sana melakukan siaran langsung, berbincang soal melejitnya lagu comeback mereka. Challenge di semua sosial media yang memakai lagu mereka viral di mana-mana. Di sana mereka membicarakan banyak hal sampai muncul satu cerita sebelum debut di mana Shinyu, Youngjae dan Hanjin pergi bersama ke kafe. Youngjae mengungkap momen tersebut, mengatakan soal kecanggungan saat itu dan sedikit bertanya soal sikap Hanjin. 

“Waktu libur biasanya member pulang ke rumah masing-masing tapi Hanjin nggak pulang. Makanya karena kita nggak mau Hanjin sendirian di dorm,  biasanya ada member yang ajak Hanjin ikut ke rumah tapi Hanjin selalu nolak. Aku juga pernah ajak tapi ya gitu, ditolak. Nah waktu itu aku sama kak Shinyu emang berencana nggak pulang dan mau pergi jalan-jalan. Kita ngajak Hanjin. Hanjin ikut ke kafe tapi dia cuma duduk kaku dan kita jadi ngerasa bersalah,” cerita Youngjae panjang lebar.
“Oh ya, waktu itu aku sama kak Shinyu juga mau nonton dan berencana ajak Hanjin juga tapi akhirnya cuma aku sama kak Shinyu aja yang nonton. Waktu itu bahasa Korea Hanjin belum sebagus sekarang makanya nggak ikutan nonton,” tambah Youngjae.

Produser bertanya apa Hanjin mengingat momen tersebut dan bertanya mengapa Hanjin bersikap demikian. 

“Aku juga bingung, kenapa ya aku waktu itu? Tapi aku ingat kejadian itu, waktu melihat mereka berdua, kak Shinyu dan kak Youngjae, aku berpikir apa mereka tuh berpacaran ya?” jawab Hanjin.

Jawaban Hanjin yang tidak terduga membuat semua orang di ruangan sedikit panik dan sibuk menutupi perkataan Hanjin, berkata ini kesalahan siaran dan meminta maaf.

“Maaf guys, ada kesalahan siaran.”
“Bukan begitu guys, maksudnya.”
“Di bagian ini bisa di-cut nggak ya?”

Ucap beberapa member berbarengan menambah rasa panik akibat ucapan Hanjin. Produser tersebut segera menengahi. 

“Ini live, nggak bisa di-cut. Duduk guys, tenang-tenang,” ucap produser tersebut menenangkan mereka.

Hanjin sebagai pelaku utama cepat-cepat klarifikasi.

“Maaf guys, maksudnya nggak begitu. Ini tuh karena mereka terlihat sangat dekat, akrab dan hubungannya baik. Bukan beneran mereka pacaran. No-no…” ucap Hanjin sambil tersenyum canggung.

Siaran berlanjut dan berakhir tanpa kekacauan lain dan berakhir setelah lebih dari dua jam. Walaupun ada ke-chaos-an namun semua bisa diatasi dengan baik. Menjadi pengalaman mereka sebagai grup yang baru satu tahun aktif. Member pamit undur diri dari lokasi siaran lalu pulang ke dorm mereka. 

Sesampainya di dorm semua member merasa perkataan Hanjin sebenarnya cukup lucu dan polos kecuali pelakunya sendiri dan orang yang tertuduh, Hanjin yang hanya diam karena merasa bersalah lalu Shinyu dan Youngjae yang mukanya kusut. 

Hanjin, Shinyu dan Youngjae masuk kamar masing-masing. Setelah masuk kamar, Shinyu dan Youngjae menuju kasur mereka masing-masing dan duduk berhadapan.

“Kenapa jadi gini ya?” tanya Shinyu merenung.
“Nggak tahu kak. Apa selama ini kita salah langkah?” tanya Youngjae balik.

Mereka terdiam cukup lama. Merenungi rangkaian kejadian selama setahun belakangan ini mulai dari Chuseok sebelum debut hingga sekarang ini.

“Tapi kak, Hanjin tahu nggak sih kita deketin bukan cuma mau deket sebagai member aja tapi maksud lain?” tanya Youngjae.
“Sayang, kayaknya sebelum ke pertanyaan itu, kita perlu bahas masalah kita yang selama ini nggak pernah ungkap jujur status kita ke member. Jadi mungkin Hanjin juga nggak tahu maksud kita selama ini,” jawab Shinyu.
“Ah iya. Kenapa ya kak kebiasaan kita mirip gini? Mendem. Bikin masalah yang kecil berubah jadi besar. Maaf ya kak, kayaknya ini juga gara-gara aku, aku banyak nuntut atau neken kakak,” ucap Youngjae merasa bersalah.
“Jangan ngomong gitu. Aku nggak pernah ngerasa kamu yang jadi penyebabnya. Kita sama-sama perbaiki kebiasaan buruk kita ya? Kalau dibiarin lama-lama makin banyak orang yang jadi korbannya. Oh ya Hanjin. Kita perlu jelasin ke dia karena selama ini kita deketin dia tapi kita bikin dia merasa bingung soal status kita,” ujar Shinyu.
“Kita cari waktu buat ngobrol sama Hanjin ya kak? Sama-sama minta maaf ke dia,” ujar Youngjae.

Mereka berdua memutuskan menyudahi percakapan dan akan mencari waktu meminta maaf juga menjelaskan maksud mereka kepada Hanjin. Youngjae pamit tidur terlebih dahulu sementara Shinyu keluar kamar untuk minum.

Sementara itu di waktu yang bersamaan setelah melihat Hanjin, Shinyu dan Youngjae ke kamar masing-masing, Jihoon mengajak Kyungmin dan Dohoon berkumpul.

“Ayo rapat dadakan, analisis perilaku manusia,” bisik Jihoon ke Dohoon dan Kyungmin di ruang tamu.
“Ya udah di sini aja kak,” balas Kyungmin.   
“Gossip aja bocah,” ucap Dohoon.
“Yeeee, ya udah kalau nggak mau ikut,” ucap Jihoon acuh tak acuh.

Dohoon berkata begitu namun dia duluan duduk di lantai beralaskan karpet dan menarik tangan Kyungmin dan Jihoon yang masih berdiri.

“Sejak kapan sih sebenarnya? Bukannya kawan gua si Youngjae dan abang leader pacaran ya? Nggak tahu sih bener apa nggak, tapi gua curiga aja gitu dari kedekatan mereka. Tapi kok tiba-tiba deketin si imut?” tanya Dohoon heran.  
“Lah lu aja bingung kak, gimana gua?” heran Jihoon.
“Kenapa gua?” tanya Dohoon.
“Lu kan lagi deketin Hanjin harusnya lebih peka soal ini nggak sih? Beneran itu mereka juga mau deketin Hanjin?” tuduh Jihoon.
“Woy sejak kapan? Gua cuma curhat-curhat aja ke dia, adalah hal lain,” ucap Dohoon tidak terima.
“Wah curhat apa nih?” tanya Kyungmin penasaran.
“Udah nggak usah kepo bocah. Ini dulu fokus mereka kenapa?” ujar Dohoon menghindar.
“Jujur nggak tahu kak. Harus tanya langsung ke yang bersangkutan nggak sih?” usul Kyungmin.

Mereka bertiga diam cukup lama memikirkan apa yang sebenarnya terjadi sampai tidak sadar ada yang keluar kamar.

Shinyu keluar kamar dengan mata sedikit merah karena mengantuk. Langkahnya terhenti saat melihat ruang tamu lampunya masih nyala, ternyata adik-adiknya belum tidur.

“Kenapa kalian belum tidur deh?” tanya Shinyu.
“Nah pas banget. Orang yang jadi topik muncul,” seru Jihoon.
“Sini lah kak duduk dulu,” ucap Kyungmin menepuk sisi sebelahnya untuk memberi gestur Shinyu duduk.  
“Bentar, haus mau minum dulu,” ucap Shinyu dengan suara serak.
“Kyungmin, tolong ambilin,” suruh Dohoon kepada maknae grup mereka.

Setelah Shinyu minum ia turut bergabung duduk di ruang tamu.

“Mau mulai dari mana nih? Jelasin siaran tadi, mau ada yg diklarifikasi atau mau kasih tahu agenda lu dan Youngjae yang disembunyiin terus libatin Hanjin?” cecar Dohoon.
“Kayaknya nggak perlu dijawab semua deh,” ucap Shinyu lirih.
“Eitss nggak bisa. Ini menyangkut masalah di grup. Kalau kejadian kayak tadi lagi, siap nanggung risiko?” ucap Dohoon tidak terima.

Shinyu terdiam memikirkan perkataan Dohoon.

“Kak contohlah adikmu yang datang terang-terangan ngaku pacaran, walaupun harus disidang tapi berani hadapin. Jadi kita sebagai sesama member juga bisa lindungi, nggak main asumsi dan terkesan nggak ada yang ditutupi satu sama lain,” tambah Dohoon panjang lebar.
“Aduh jadi malu dijadiin contoh sama kakak-kakak. Tapi serius deh kak, kalau kita punya asumsi ke kak Shinyu dan kak Youngjae nggak jelas gini, apa nggak mikir Jinnie yang jadi korban di sini?” ucap Jihoon.

Deg. Perkataan Jihoon tidak pernah terpikirkan Shinyu sebelumnya. 

Shinyu menghela napas, mempersiapkan untuk menjelaskan maksud mereka selama ini.

“Oke-oke. Maaf guys, nggak pernah ada maksud buat nutupin ini semua. Harusnya gua dari dulu ngaku soal ini berdua sama Youngjae, kalau gua sama dia pacaran dan soal Hanjin gua sama Youngjae juga udah putusin buat cari waktu ngobrol sama dia,” ucap Shinyu merasa bersalah. Ia menjeda omongannya terlebih dahulu sebelum melanjutkan lagi.

“Guys, apa gua sama Youngjae bisa dapat maaf dari Hanjin? Karena gua bertindak sejauh ini tanpa pernah benar-benar ngobrol dengan Hanjin sebelumnya,” tambah Shinyu tampak berpikir.

“Bonfire part berapa ya ini? Kayaknya perlu diadain deh deket-deket ini. Kalau cuma lu yang jelasin aja sekarang ini rasanya belum clear deh permasalahan kalian,” ucap Dohoon memberi solusi.
“Setuju,” seru Jihoon dan Kyungmin kompak.

Beberapa hari kemudian mereka memutuskan mengadakan sesi bonfire. Suasana kali ini sangat campur aduk. Semua member sudah diberi informasi sebelumnya jadi kurang lebih mereka sudah mempersiapkan mental di hari H.

“Udah ada minuman, cemilan ringan, tisu…” ucap Dohoon mengabsen barang-barang di tengah mereka. Saat ini semua member duduk melingkar di atas lantai beralaskan karpet.

“Mulai kak,” bisik Kyungmin menginstruksikan Dohoon.
“Kenapa jadi gua?” protes Dohoon.
“Lu yang paling tua di antara yang nggak disidang,” ucap Jihoon menimpali sambil memberi gestur dengan telunjuknya ke arah Shinyu, Youngjae dan Hanjin.
“Ah.” Dohoon baru tersadar.

Dohoon berdeham. Mempersiapkan diri untuk membuka sesi mereka.

“Mau mulai dari mana? Siapa duluan yang mau ngomong?” tanya Dohoon membuka pembicaraan.

“Boleh aku duluan?” tanya Hanjin meminta persetujuan.

Semua orang di sana terdiam, tidak menyangka bahwa Hanjin yang akan pertama buka suara. Karena tidak mungkin menolak maka Dohoon mempersilakan Hanjin bicara sambil melirik ke arah yang lain mencari bantuan.

“Boleh, silakan Hanjin,” ucap Dohoon sedikit tergagap. Akhirnya Hanjin buka suara duluan.

“Oke. Pertama aku mau minta maaf ke kalian semua terutama ke kak Shinyu dan kak Youngjae atas kejadian salah bicara waktu siaran langsung di hari itu. Walaupun aku punya asumsi namun nggak seharusnya aku ungkapin apa yang menjadi isi kepala aku di siaran langsung. Jujur aku udah menduga dari lama, tapi aku nggak berani tanya langsung ke kak Shinyu dan kak Youngjae,” ucap Hanjin. Ia menjeda perkataannya untuk melihat sekilas reaksi member sebelum melanjutkan lagi.

“Lalu untuk sikap kalian, walaupun nggak pernah secara gamblang ungkapin tapi aku merasa perlakuan kalian berusaha untuk dekat sama aku berbeda. Aku sama Jihoon memang nggak banyak ngobrol tapi aku merasa kalau kita saling nyaman sebagai teman seumuran. Terus kak Dohoon walaupun banyak jahilnya tapi aku nggak masalah dengerin curhatan dia dan merasa nyaman layaknya kakak. Dan Kyungmin, aku seneng dia clingy dan manja ke aku selayaknya adik. Tapi kelakuan kak Shinyu dan kak Youngjae yang kadang nggak terduga membuat aku bingung. Terlepas dari apapun status kalian, aku kurang nyaman dilibatkan karena aku merasa kalian jadiin aku mainan atau bahan cemburu. Aku senang dengan kehangatan grup kita, makanya aku berharap kita punya hubungan yang positif,” ungkap Hanjin.

Selesai Hanjin bicara, ia menundukkan wajahnya tidak berani menatap semua orang, ia menunggu reaksi mereka.

“Emmmm… guys, ada yang mau nanggepin nggak nih?” tanya Dohoon memutus keheningan selama beberapa detik.

“Hanjin, maaf atas kelakuan aku sama Youngjae, bikin kamu jadi merasa seperti itu,” ucap Shinyu menanggapi.
“Untuk masalah siaran, kita nggak ada yang nyalahin kamu. Kita jadiin ini pembelajaran aja. Justru gua yang mau minta maaf ke kalian, status gua sama Youngjae bikin bingung semua orang. Seharusnya dari awal ngomong jujur kalau gua sama Youngjae memang berpacaran. Juga sebagai leader harusnya bisa bersikap lebih bijak,” tambah Shinyu.

Setelah pengakuan Shinyu, tanpa disadari yang lain Hanjin menggeser duduknya sedikit ke belakang tidak sejajar agar tidak berdempetan dengan Youngjae dan Shinyu. Karena posisi duduk mereka sejak sesi dimulai yaitu Youngjae-Hanjin-Shinyu-Jihoon-Dohoon-Kyungmin. 

Selanjutnya Youngjae membuka suara. Ia menghela napas sebelum mulai.

“Hanjin dan yang lain, maaf ya guys atas kelakuanku dan kak Shinyu. Selama ini nggak ada maksud nutupin status. Tapi emang perlu banyak belajar soal komunikasi. Karena kebiasaan mendem jadi susah datang ke kalian buat jujur soal ini. Sekali lagi minta maaf,” ucap Youngjae merasa bersalah.

Dohoon melirik Shinyu, Youngjae dan Hanjin secara bergantian setelah Youngjae selesai bicara. Menunggu mereka sekiranya ada yang ingin disampaikan lagi.

“Kalau belum mau ngomong lagi, gua yang ngomong dah. Gua mau klarifikasi kalau gua sama Hanjin deket biasa aja bukan deket yang gimana-gimana. Gua sering curhat ke Hanjin aja, adalah masalah lain. Hanjin, gua ngomong gini karena waktu lalu Jihoon sempet curiga gua deketin lu. Maaf ya nggak pake ngomong ke lu dulu,” ucap Dohoon klarifikasi. 

“Oh ya lanjut ke kak Shinyu dan kawan Youngjae, karena sepertinya unek-unek Hanjin udah kelar disampaikan. Kayaknya Hanjin tadi mention soal perasaan dia yang ngerasa dijadiin mainan atau bahan cemburu sama kalian, bener kalian begitu?” tanya Dohoon menyelidik.

“Nggak! Bukan kayak gitu,” bantah Youngjae spontan.

“Terus apa?” cecar Jihoon.

Hening. Shinyu dan Youngjae saling lihat-lihatan. Shinyu menarik napas panjang sebelum membuka suara lalu menoleh ke Hanjin. 

“Oke, nggak mau nunda-nunda lagi. Hanjin, aku sama Youngjae suka sama kamu. Bukan suka sebagai adik,” ucap Shinyu.

“Hahhhh?” seru Kyungmin terheran.

“Udah bukan suka lagi, mungkin lebih. Dari sebelum debut aku sama kak Shinyu udah ngomongin hal ini. Pengen hubungan bertiga,” jelas Youngjae.
“Makanya kita deketin kamu dari libur Chuseok waktu itu,” ucap Shinyu menambahkan.

“Aku bingung harus bereaksi atau nanggepin gimana,” ucap Hanjin pelan.
“Hanjin, kita bisa kasih kamu penjelasan, ngobrol bertiga. Kamu yang nentuin,” ucap Youngjae menenangkan pikiran Hanjin.

“Kita yang penonton harus ngapain? Setelin musik gih buat backsound,” bisik Dohoon kepada Kyungmin terlampau keras, bisa dibilang bukan bisikan.
“Udah selesai kak sesinya, udah nggak perlu musik lagi,” ujar Jihoon yang mewakili menjawab suruhan Dohoon soal musik.
“Lah gitu doang? Udah confess terusannya apa?” tanya Dohoon heran.
“Nggak ada kak. Udah boleh tutup aja kak sesinya,” jawab Hanjin.
“Iya tutup aja sesinya. Soal hubungan aku, Youngjae dan Hanjin kita obrolan terpisah ya setelah ini,” ucap Shinyu.

Hanjin tidak menjawab hanya mengangguk kecil.

“Okelah. Kita akhiri. Inget ya apa yang ditumpahkan di sini berakhir di sini, selesai ya, nggak ada yang ngeganjel,” ucap Dohoon mengakhiri sesi hari ini.

Karena tidak banyak sampah berserakan, Kyungmin dan Jihoon sudah mengumpulkan semuanya di satu plastik jadi member lain bisa langsung pergi. Hanjin yang pertama kali berdiri lalu beranjak menuju kamar mandi. Ia mencuci mukanya dan menggosok gigi lalu menuju kamarnya.

Sesampainya di kamar Hanjin mengaplikasikan skincare ke mukanya secara cepat, mematikan lampu lalu tidur di kasurnya. Walaupun sebelum sesi berakhir tadi Shinyu bilang akan ngobrol lagi setelah ini, namun Hanjin seperti tidak siap mental, masih sedikit terguncang atas pengakuan kedua hyung-nya, kak Shinyu dan kak Youngjae. Semua kilas balik perlakuan mereka terbayang lagi. Suara knop pintu terdengar, Hanjin cepat-cepat mengubah posisi tidurnya sedikit menyamping dan menutupi kepalanya dengan selimut. Ia berpura-pura tidur untuk sedikit menekan kepanikannya.

Member yang masuk ke kamar tentu saja bukan Kyungmin, roommate-nya, tapi Shinyu dan Youngjae. Sebelumnya mereka berdua sudah meminta kepada Kyungmin untuk malam ini memperbolehkan mereka tidur di kamarnya, sebaliknya mempersilakan Kyungmin dan Jihoon memakai kamar Shinyu dan Youngjae.

“Kak, kamu yakin Hanjin belum tidur? Apa ngobrolnya ditunda besok aja?” tanya Youngjae ragu sesaat mereka berdua berdiri depan pintu.
“Yakin, sayang. Sebaiknya kita ngobrol malam ini aja. Tadi kan sebelum mengakhiri sesi, aku juga udah sempet mention ke Hanjin. Tapi kalau emang mau ditunda sampai besok ya nggak apa-apa juga. Kita coba samperin dulu aja. Kalau pun udah tidur, kita tetep tidur di sini. Kan tadi udah ngomong juga ke Kyungmin,” jawab Shinyu. Saat ini mereka bicara dengan berbisik namun sepertinya dengan kondisi ruangan yang begitu hening, suara bisikan mereka tetap terdengar di telinga Hanjin.

Hanjin masih tetap mempertahankan posisi tidurnya. Ia menunggu pergerakan Shinyu dan Youngjae yang ia rasakan mendekat ke arahnya dan duduk di kasurnya, menahan napasnya, belum mau ketahuan kalau sebenarnya ia masih bangun.  

Dengan kondisi posisi Hanjin saat ini yang membelakangi mereka dan menutupi kepalanya dengan selimut, Youngjae dan Shinyu tidak bisa memastikan apakah Hanjin sudah tidur atau belum walaupun Shinyu sebelumnya begitu yakin Hanjin belum tidur. Karena tidak mau mengganggu, Shinyu menepuk pelan bahu Hanjin dari luar selimut lalu memanggil namanya lembut.

“Hanjin… udah tidur ya? Aku sama Youngjae mau ngobrol, penting banget. Kalau belum tidur, boleh nggak minta waktunya sebentar?” ucap Shinyu lembut dekat dengan kepala Hanjin.

Hanjin sebenarnya ingin mengabaikan mereka dan lanjut berpura-pura tidur saja. Namun hati kecilnya berkata bahwa ia nggak boleh lari dari masalah. Kalau ia tunggu sampai besok belum tentu keadaan bisa sama. Akhirnya ia buka perlahan selimut yang menutupi kepalanya dan mengubah posisinya menjadi duduk. Ia melihat kedua hyung-nya menunggu dengan ekspresi sulit dibaca.

“Mau ngobrol apa kak?” tanya Hanjin dengan mengatur suara agar tetap tenang.   
“Hanjin… kami mau lanjutin obrolan yang tadi,” ucap Youngjae.
“Kalau soal minta maaf, udah aku maafin kak, kan tadi juga udah dibahas di sesi bonfire,” ujar Hanjin sambil membetulkan posisi bantal untuk senderan.
“Bukan cuma itu, Hanjin. Di sana kita cuma bilang intinya. Sekarang di sini aku sama kak Shinyu mau jelasin lebih jauh biar kamu nggak salah paham lagi,” ujar Youngjae.
“Boleh kalau aku yang kasih pertanyaan ke kalian?” tanya Hanjin. Shinyu dan Youngjae tidak mengeluarkan suaranya hanya mempersilakan dan mengangguk. 

“Sejak kapan kak?” tanya Hanjin pelan.   
“Sebelum debut. Sebelum Chuseok itu,” jawab Youngjae jujur.
“Jadi jalan-jalan waktu itu… udah direncanain?” tanya Hanjin teringat kembali kejadian tersebut.
“Iya. Tapi bukan buat ngerjain kamu,” jawab Shinyu.
“Terus kalau udah dari waktu itu kenapa nggak bilang kak?” cecar Hanjin lagi.   
“Nggak mau bikin kamu nggak nyaman dan menjauh,” ucap Shinyu. Shinyu terdiam sejenak sebelum melanjutkan bicara.
“Tapi ternyata caranya aku sama Youngjae malah bikin kamu bingung,” tambahnya sambil merenung.

Hanjin menarik napas pelan setelah menimbang apa yang ingin ia ucapkan. 

“Jujur iya kak, aku bingung. Dengan kalian ngelakuin ini diam-diam, aku jadi mikir apa jangan-jangan aku cuma bagian rencana? Soalnya kalian selama ini baik banget ke aku, makanya aku susah percaya gitu aja kalau kalian cuma mainin aku,” ucap Hanjin panjang lebar. Ia sebenarnya ragu mengungkap hal yang mengganjal ini namun ia pikir perlu diungkap agar semuanya clear.

“Kamu nggak salah mikir gitu. Kalau aku di posisi kamu, aku pun juga bertanya hal yang sama,” ucap Shinyu sambil menggeleng pelan.

“Kejadian ngajak kamu ke kafe memang bagian dari rencana, biar kamu nggak sendirian di dorm dan kita bisa deket. Nggak ada yang lain. Aku sama kak Shinyu memang sengaja nggak pulang di Chuseok waktu itu,” ucap Youngjae.

“Kamu inget waktu aku kasih kamu popcorn caramel? Aku memang inget kamu suka itu dan bukan buat nyari bahan. Aku memang merhatiin kamu,” ujar Shinyu mengulas senyum.

Hanjin mencerna semua hal yang diucapkan oleh kedua hyung-nya. Ia menunduk dan memainkan ujung selimut.

“Aku cuma takut kalau ternyata aku salah baca,” ucap Hanjin.
“Kamu nggak salah baca. Kamu cuma nggak pernah dikasih tahu,” ucap Youngjae lembut.
“Terus ke depannya kalian ngarepin apa dari aku?” tanya Hanjin.
“Aku sama Youngjae nggak ngarepin apa-apa dari kamu. Kamu bebas menolak dan ke depannya hubungan kita sebagai member nggak ada yang berubah,” ucap Shinyu. Tangannya ia taruh di atas selimut.

“Tapi kan kalian udah berdua? Aku takut cuma ganggu hubungan yang ada dan jadinya cuma nyelip di antara kalian,” ujar Hanjin mengungkap ketakutannya.
“Kamu bukan sekadar tambahan,” ucap Youngjae cepat.  
“Kita nggak lagi nyari orang buat dimasukkin ke hubungan kita. Kita nyari kamu,” tambahnya.

Hanjin yang semula menunduk, mengangkat kepalanya dan menatap mereka satu persatu. Ia melihat ketulusan dari ucapan mereka berdua. Hanjin yang lebih dulu meraih tangan Shinyu, lalu meraih tangan Youngjae, ia menggenggam kedua tangan sebentar sebelum melanjutkan.

“Aku belum bisa jawab apa-apa. Tapi aku percaya sama kalian,” ucap Hanjin.

Kalimat tersebut menjadi penutup obrolan mereka malam itu. Mereka memutuskan untuk tidur dan tidak terburu-buru soal hubungan mereka ke depannya. 

“Ya udah yuk tidur,” ucap Hanjin setelah mereka terdiam beberapa saat.

Shinyu dan Youngjae berdiri dan beranjak ke kasur Kyungmin.

“Kasurku masih muat satu orang lagi,” ucap Hanjin pelan namun cepat dan hampir tanpa jeda. Ia merasa malu kalau harus diucapkan secara gamblang. 

Ruangan yang begitu hening tentu saja ucapan Hanjin dapat terdengar hingga ke telinga Shinyu dan Youngjae. Mereka berdua saling pandang, menghentikan langkah mereka. Tanpa suara, Youngjae mengepalkan tangannya.

“Suit,” bisik Youngjae.

“Kak serius?” tanya Hanjin sambil tertawa.

Youngjae menang dengan kertas. Shinyu menunduk menatap kepalan tangannya. Hanjin terkekeh geli melihat kelakuan hyung-nya. 

“Kak Shinyu, sini,” ucap Hanjin sambil merentangkan tangannya.  
“Makasih ya,” ucap Shinyu sambil memeluk Hanjin erat. Hanjin membalas dengan menepuk pelan punggung Shinyu sebelum melepas pelukan mereka.

“Hanjin, aku boleh nggak elus kepala kamu?” tanya Youngjae setelah ia naik ke kasur dan tidur di sebelah Hanjin.
“Boleh kak, sebentar aja,” jawab Hanjin.

Telapak tangan Youngjae dengan hati-hati mendarat di kepala Hanjin lalu mengelus pelan kepalanya. Tidak ada lagi pembicaraan setelahnya. Mereka semua terlelap dengan suara napas teratur hingga pagi menjelang.

 

 

 

 

Notes:

Cerita ini menampilkan hubungan poliamori antar tokoh dewasa yang dibangun dengan komunikasi dan persetujuan, bukan perselingkuhan. Akhir ceritanya sengaja dibuat terbuka karena Hanjin belum memberi jawaban.