Actions

Work Header

Don't ask around about how to kiss.

Summary:

Niran tidak sepenuhnya percaya mengenai Cheewa yang naif perihal cara berciuman. Di balik topeng pertahanan, sifat polos Cheewa terkuak tatkala Niran mengintimidasi situasi; membuktikan bahwa selama ini, Cheewa-lah yang memegang kendali penuh akal sehat Niran.

Notes:

i was going to die after Weirdo 101 Series end. so i made this move (glad i’m still alive) to wrote extras about cheewaniran. i reallyreally miss them. we need more eps @ GMMTV

anw, this is my first time up fanfic on ao3, hope y’all enjoy the reading <3

Work Text:

Nyaris menyentuh waktu satu jam Cheewa bersila di sudut ruangan klub judo. Sambil memangku tas sekolahnya ia sesekali menatap layar ponsel untuk membunuh waktu, namun pandangannya lebih sering terlempar ke arah matras. Netra Cheewa tertuju lurus pada Niran.

Niran, dengan seragam judogi putih yang sudah basah oleh keringat, tampak fokus penuh. Ia berpasangan, saling mencengkeram kerah dan lengan baju lawan, mencari celah untuk melempar atau mengunci posisi. 

Cheewa merasa kagum sekaligus ngeri setiap kali melihat Niran terbanting, lalu bangkit lagi dengan senyum lebar seolah rasa sakit sama sekali bukan halangan. Meski suara debaman matras sempat membuatnya berjengit di awal, kini ia sudah terbiasa.

Hingga akhirnya jam latihan berakhir. Semburat cahaya matahari perlahan menghilang, hari mulai malam. Para anggota klub judo yang latihan hari ini mulai berhamburan untuk bersiap pulang.

Di lain sisi, raga Cheewa seketika bergetar tak sabar menanti kehadiran Niran setelah melihat sang empu menghampiri sembari menyeka peluh menggunakan handuk.

"Kak Niran." 

"Daritadi?"

"Iya." Cheewa mengulum bibir. Membetulkan letak kacamata yang melorot di dasar cuping hidung. "Kak Niran mau ganti baju dulu?"

Niran mengangguk lalu menyambar tas miliknya namun kalah cepat oleh Cheewa dengan senang hati membawa untuknya. "Aku temenin, Kak." Ujarnya tampak sumringah. 

Niran memicingkan mata. "Mau liatin gue ganti baju?" Ia sejujurnya paham maksud Cheewa, toh tidak ada salahnya bertingkah jahil.

Cheewa mendadak gugup. Ia diam-diam menelan saliva. "Aku bisa nunggu di luar kok."

Niran tersenyum simpul. Badannya lalu berputar keluar ruangan disusul Cheewa dari belakang. Mereka berjalan beriringan menuju toilet sekolah. Sepanjang koridor terlihat keberadaan siswa lambat laun menipis, mengejar jam pulang yang kian memakan waktu untuk esok kembali di sini.

Berhenti kompak di ambang toilet khusus laki-laki, tubuh Niran berbalik.

"Baju."

Cheewa tersentak. Ia sempat kebingungan titah Niran meminta baju padanya, detik kemudian pandangan matanya terjatuh pada tas yang ia peluk erat, oh benar—itu milik Niran.

"Ini, Kak." 

"Tungguinnya di dalem." Niran membuka resleting tas, mengambil seragam sekolah.

"Aku di sini aja, Kak. Gak lama 'kan?" 

Niran untuk beberapa detik menatap Cheewa. "Lama." Ujarnya.

"Gapapa, Kak." Cheewa mengangguk-angguk. "Aku bisa nunggu." Menunggu bukan lagi masalah besar bagi Cheewa, ia harus terbiasa ala kadarnya.

"Temenin gue."

Bukan sebuah godaan tetapi bagi Cheewa perkataan yang dilontarkan Niran terdengar cukup usil dan mengusik. Setidaknya secara tiba-tiba Niran menarik pergelangan tangan Cheewa lalu masuk ke toilet dan meyampirkan tasnya di leher Cheewa begitu santai.

Mata Cheewa mendelik ketika Niran mulai membuka seragam judogi putih dan mengekspos bagian dada. Cheewa berani sumpah sedang mati-matian untuk bersikap normal namun gejolak hati yang kontras mampu meruntuhkan kewarasannya. 

Di lain sisi, Niran menyembunyikan gelak tawa. Ia diam-diam menikmati reaksi Cheewa atas situasi ini. Seolah-olah solusi penghilang rasa jenuh dan lelah. 

Niran menyalakan keran wastafel. "Tadi kenapa gak ikut latihan klub astronomi? Bukannya hari ini ada praktikum, ya?" Telapak tangannya menampung air untuk membasuh wajah, disusul mengusap bagian dada menyeluruh yang terasa super gerah.

"Praktikum jadinya besok, Kak. Pembina minggu ini cuti. Sebenernya bisa aja hari ini, tapi sesi voting setuju untuk pulang daripada praktikun tanpa pembina." Cheewa dengan nada ciri khasnya yang mengalir konsisten. Tidak rendah apalagi tinggi.

Mendengar balasan lengkap Cheewa, Niran cukup meladeni dengan memanggut paham.

"Kak Niran besok bisa ikut praktikum?" Tanya Cheewa. Binar matanya seakan-akan menyorot harapan yang mengebu-gebu. 

Di sela aktivitas mengancingkan seragam, Niran menjawab. "Kurang tau. Besok jadwal latihan lagi, minggu kemarin banyak bolosnya sih. Bayaran konsekuensi, mungkin." Niran lantas tertawa getir. Berat dipikul, ringannya mana ya anjing. Mungkin pribahasa jenaka itu mampu mendeskripsikan suasana hati Niran mengenai beban klub judonya.

Cheewa tipe perasa aktif, ia bisa menyetarakan perasaan seseorang dan mengerti keadaan mereka kendati tak sepenuhnya. Jika energi Niran memancarkan kepenatan, lantas Cheewa pun merasakan hal yang sama.

"Kalau besok latihan judo lagi. Boleh gak aku nunggu Kak Niran—"

"Nggak."

Cheewa mengulum bibir sedikit menekuk ke bawah. Jelas sekali ia kecewa atas penolakan itu.

Beberapa menit berlalu dalam senyap yang menggantung di antara mereka. Sebuah pertanyaan mendadak mencuat begitu saja dari mulut Niran. 

"Lu punya mantan gak sih?"

Pertanyaan asing, yang tak pernah diduga akan berani disuarakan oleh Niran. 

Mata Cheewa berkedip dua kali. "Tiba-tiba, Kak?"

Niran mengedikkan bahu. "Nanya aja."

Cheewa mendorong kacamatanya ke pangkal hidung sedikit kikuk. Niran terkekeh karena tahu aksi itu bagian dari kecanggungan Cheewa yang sedang salah tingkah. Bukan sekadar kacamata melorot.

"Nggak, Kak." Cheewa mengulum bibir, lagi, sampai kedua pipinya melembung. 

"Ada yang pernah confess ke lu?" 

Cheewa pelan-pelan mengangguk. 

Mungkin sesuai tebakan namun Niran tetap takjub. "Wow! Serius?" 

"Bulan kemarin ada anak dari klub basket yang ngasih aku surat dan coklat, tapi aku langsung tolak karena aku pilih Kak Niran." 

Cheewa gamblang bila bersangkutan tentang Niran karena perasaan ia sungguh-sungguh. Tak peduli seberapa besar halangan, Cheewa yakin ia bisa melalui itu semua demi menggapai cintanya.

Niran tersenyum miring. "Yakin gue pilih lu juga?" hendak ia merosotkan celananya Cheewa refleks memutar badan. Hampir Cheewa kehilangan jawaban akibat situasi mendistraksi fokusnya.

"Aku bisa bikin Kak Niran pilih aku." Ujarnya lugas.

"Dengan cara?" Niran lagi-lagi memprovokasi. "Padahal rentan sewaktu-waktu gue bisa jauhin lu sebagai penolakan loh. Masih percaya diri?" lanjutnya.

Cheewa menunduk, pandangan matanya menatap lantai seolah-olah di sana ada contekan garis jawaban. Ia diam sejenak, benang pikirannya beradu mencari celah karena benar adanya Niran berkata demikian. 

"Aku gapapa Kak Niran tolak aku. Toh perasaan emang gak bisa dipaksa. Aku cukup simpan sendiri sampai suatu hari luntur," berhenti. "Tapi, kayaknya bakal susah untuk luntur." 

Dengan sikap bersedekap Niran lalu menumpu bokong pada sisi wastafel. Menatap punggung Cheewa yang masih membelakanginya.

"Oh gitu?"

"Kak Niran, aku jujur gak pernah maksa sama sekali kakak untuk bales perasaan ini. Tapi semoga Kak Niran ngerti seberapa serius aku ngejar Kak Niran."

Niran nyengir lebar. "Kejarnya sampai ujung samudra?" 

"Sampai aku bisa berdiri di bintang-bintang alam semesta,"

Cheewa dan maniak astronomi itu. Di situasi ini yang dapat Niran lakukan hanyalah memasang telinga dan merespons.

"Kak Niran, tau gak? Katanya kalo ada bintang jatuh pemintaan kita cepat terkabul. Tapi bagi aku, lebih baik kita kejar sendiri bintangnya biar semua catatan keinganan terkabul." 

"Oh, wow..."

Cemerlang, dan terdengar mustahil. Memang. Ambisi dan obsesi Cheewa yang kukuh mengahadirkan ekspektasi kompleks. Akan tetapi, poros hidup tetap berputar, siapa tahu Cheewa benar-benar bisa melakukan apa yang ia katakan.

"Kalo ternyata gak bisa ke bintang?"

"Kak."

Niran tertegun. "Kenapa?" mendengar intonasi Cheewa yang melambat dan berubah samar, ia sedikit gelisah.

"Udah ganti bajunya?"

"Udah." 

Niran memperhatikan ekspresi Cheewa, apakah ia tersinggung?

Cheewa melepas tas yang daritadi mengalung di lehernya. Setelah itu berbalik badan dan ia sodorkan tas tersebut pada Niran. "Ini," Cheewa menelan ludah bimbang. "Aku kebelet pipis..."

Spontan Niran mengembuskan napas lega. Beberapa detik lalu untuk pertama kali Niran merasa sedikit panik menanggapi Cheewa. Ia juga sadar nyaris menghancurkan suasana, atau bahkan memang sudah. 

Niran menaruh tasnya di wastafel, menatap Cheewa yang mulai masuk ke bilik toilet. Membuang sisa daya yang menggerogoti dirinya hidup-hidup. Tekanan memang datang sepihak, Cheewa hanya tidak bisa bersikap biasa saja. Membayangkan tubuh halus nan putih Niran. Cheewa bisa gila.

"Kak Niran." Panggil Cheewa masih di balik bilik toilet. Beres membuang air. Ia terduduk di dasar penutup kloset, kedua kakinya menutup rapat. Seperti mempersiapkan sesuatu yang ingin dikatakan.

Niran membalas dengan dehaman. 

"Kak Niran sendiri punya mantan gak?" Jari jemari Cheewa bergerak gelisah. "Gak dijawab gapapa—"

"Punya." 

Cheewa terdiam.

Niran menggaruk tengkuk. Berpikir tidak ada yang perlu disembunyikan jika ini berkaitan fakta. Niran sendiri pula penasaran bentuk respons Cheewa tentang ini. Kendati begitu sesuatu terasa salah di sini. 

"Kak Niran... pernah kissing?" Lirih Cheewa setelah itu. Terdengar perkataannya mengambang ragu, seperti dilema bila tidak diutarakan.

Niran bergerak jalan menghampiri keberadaan Cheewa. Langkah kakinya berhenti tepat di depan bilik. Cheewa yang semula termenung, sorot matanya beralih terkunci pada sepatu Niran yang terlihat jelas di bawah bilik pintu. 

Hening menyelimuti keduanya. Masing-masing tidak ada yang membuka lanjutan pembicaraan.

Hingga,

"Buka." 

Ucapan singkat Niran barusan runtuh di telinga Cheewa, mengikis habis nyalinya tanpa sisa. Kali ini Cheewa gelagapan, ia terjebak dalam perangkapnya sendiri. 

"Buka, Cheewa." 

Entah bagaimana Cheewa sekonyong-konyong, ibarat terhipnotis, membuka bilik pintu. Sekarang ia tak kuasa selain menerima arah situasi ini berlanjut. Cheewa bergeming bersama duduk yang memaksa dirinya untuk tidak bangun.

Niran memandang Cheewa yang terselimut kaku. Sempat bingung menanggapi pertanyaan tadi, akhirnya Niran timbul sebuah balasan. 

"Kalo pernah. Kenapa?" singkat. Niran hanya perlu alasan Cheewa bertanya hal serupa. 

"Itu.." perkataan Cheewa menggantung. Bibirnya mengulum, dan lagi, jarinya menjentik kacamata. 

"Pasti ada alasannya, 'kan?"

"Kak Niran, tau gak? ada pepatah yang mengatakan semua jawaban memiliki pertanyaan namun tidak semua pertanyaan memiliki jawaban," Cheewa menggigit bibir bawah bagian dalam. "Kak Niran pasti ngerti maksud aku. Aku cuma tanya karena penasaran, gak ada tujuan lain."

Niran mengernyit. Posisi semula bersandar berubah tegap. "Yakin?"

Cheewa mengangguk mantap.

"Kalo gitu—"

"Tunggu, bro! Udah di ujung nih sumpah. Gue sebentar doang kok!"

Sayangnya seseorang menginterupsi. Kedatangan itu menarik refleks Niran untuk masuk ke dalam bilik dan mengunci pintu. Ia pun tanpa pikir panjang mendaratkan duduk di pangkuan Cheewa supaya kakinya dapat terangkat dan tak terlihat.

Napas Cheewa tercekat, tubuhnya membeku. Netranya membulat syok. Atmosfer di sekelilingnya mendadak mengunci. 

"Kak.."

"Diem." Bisik Niran.

Detik itu juga, dimensi dunia Cheewa seolah berhenti berputar. Merasakan hawa Niran yang berada begitu dekat di hadapannya. Semesta di kepalanya mendadak senyap, menyisakan gemuruh jantungnya sendiri yang berdentum terlalu bising.

"Oi! Ini tas siapa? Ada yang tau gak?"

Niran menoleh pada Cheewa, memberi sinyal untuknya merespons seruan orang tersebut, mengakui sementara bahwa tas itu milik Cheewa.

Cheewa berdeham sekilas. "A-aku, Kak!"

"Oh? Ada orang? Oke deh maaf gue gak nyadar."

"Iya, Kak."

Niran menghela napas kasar setelah menumpuk udara mengumpul penuh di rongga dadanya. Setelah itu melirik Cheewa yang terlihat tegang, mata di balik kaca itu berkedip berkali-kali. Ah Konyol. Niran menahan gemas pada Cheewa, ia mengistirahatkan kakinya tanpa mengubah posisi duduk. 

"Cheewa."

Suara Cheewa tersangkut di tenggorokan. Ia membalas dengan anggukan dan alis yang terangkat.

"I-iya..?"

Niran menghirup udara dalam-dalam. Sejenak ia memejamkan mata. Ia enggan bangun tampaknya terlanjur terikat oleh sensasi. Nyatanya perkataan Cheewa sebelum itu sedang berputar mengehantui pikirannya mengenai perasaan cinta Cheewa yang tak masalah jika ditolak namun akan sulit untuk luntur. 

"Kak Niran.." panggil Cheewa lirih.

Oh, God.

Setiap pertanyaan pasti memiliki jawaban, meskipun terbatas. 

Tenggorokan Niran mendadak terasa kering.

“.. lebih baik kita kejar sendiri bintangnya biar semua catatan keinganan terkabul.”

Tidak perlu, Cheewa.

"Aku gapapa Kak Niran tolak aku. Toh perasaan emang gak bisa dipaksa. Aku cukup simpan sendiri sampai suatu hari luntur,"

Niran menghirup pasokan udara dalam-dalam.

"Tapi, kayaknya bakal susah untuk luntur."

Setelah itu Niran menolehkan kepala. Untuk beberapa detik membatu menangkap pasang mata Cheewa.

Tidak ada yang boleh luntur.

Niran terpaku menelan situasi. Mati-matian menahan diri. Demi semesta, kedekatan yang teramat tipis ini sanggup meloloskan bunyi debar jantung yang riuh beradu. 

Cheewa bergeming bak patung, ia sangat takut bahkan bergeser sedikitpun. Atmoster lambat laun semakin menekan dirinya, amat panas. Pikiran Cheewa kosong melompong. 

"Mau.. ngerasain?" 

Niran lebih dulu kehilangan kewarasan.

"A-apa, Kak?" Cheewa berkedip. 

Sungguh, Niran benci bila Cheewa mendadak berlagak bodoh, padahal ia tahu benar otak Cheewa sejatinya begitu responsif.

"..Ck," Niran bangkit untuk mengubah posisi. Tanpa ragu, ia kembali naik ke atas pangkuan Cheewa, duduk mengangkang dengan nyaman di sana. Kedua kaki Niran melingkar bebas di sisi luar paha Cheewa, sementara tangan Niran masih mencari letak yang pas. 

Cheewa lantas meraih kedua tangan Niran. Mengisi penuh celah jemarinya ia genggam dengan rapat. 

"Kak Niran, aku gak bisa. Ajarin pelan-pelan."

“Gue minta maaf kalo buat lu kesinggung tadi..” Niran berada di puncak gila. Ia hanyut oleh tatapan melas Cheewa tanpa kepalsuan. "Cheewa, gila.."

"Kak Niran. Respons tubuh kita sama. Hawanya semakin panas kalo kita gini terus," napas Cheewa mendadak berat. "Kak.."

Niran melepaskan tautan jari kanannya dengan Cheewa. Setelahnya terangkat menangkup pipi kiri Cheewa, ia mengelus-elus pelan. Saliva di tenggorokannya berkali-kali ia telan akibat gugup tak karuan. 

"Lu sama sekali gak tau caranya?"

"Dari drama yang aku tonton sih kayaknya aku bisa, Kak. Tapi," Pandangan Cheewa beralih ke bibir merah muda Niran. Setelah dibuat terpaku oleh kecantikan paras Niran, bagi Cheewa, bibir tebal itu adalah titik terindah yang paling memikat. "Udah ada yang pernah lakuin ini sama kakak.." 

Niran merotasikan bola mata. "Itu udah lama."

Cheewa jelas cemburu. Ia kesal mengingat perasaan Niran sempat singgah bersama seseorang. Kendati yang lalu biar berlalu, jengkel rasanya jika bagian hidup Niran pernah terbagi. Angan-angan Cheewa menjadi satu-satunya yang hadir di hidup Niran seketika sirna.

"Kak Niran cantik." Cheewa mengusap bibir Niran. "Bisa gak anggap aku first kiss, Kak Niran? Hati aku gak enak tiap kebayang Kak Niran pernah ciuman sama yang lain—hmph!"

Seluruh tubuh Niran sudah panas nyaris mendidih tambah lagi mendengar ocehan Cheewa yang terus menusuk indra pendengarnya. Bisa-bisa otaknya meledak. Toh lebih cepat lebih baik. Niran tanpa permisi mendaratkan ciuman lembut untuk mengakhiri percakapan tak berujung tersebut.

Cheewa terpaku merasakan sapuan lembut bibir Niran di permukaan bibirnya. Sentuhan yang tak pernah Cheewa rasakan semasa hidupnya.

Hatinya bergejolak riang merasakan ciuman pertama kali dengan seseorang yang ia dambakan. Delusi Cheewa otomatis dapat melihat jelas mengenai bintang-bintang berjatuhan. Permintaan terkabulkan. Cheewa layaknya melayang di alam semesta.

"Miringin kepalanya, bibirnya dibuka lebih lebar." Jempol Niran membuka bibir Cheewa. 

Penyatuan itu bergulir dalam alunan yang tenang; Niran mengambil kendali, dengan hati-hati membimbing gerakan Cheewa yang masih terasa kaku. Pejaman mata menandakan mereka mulai larut.

Usapan tangan Cheewa menguasai pinggang Niran. Keduanya terlarut oleh suasana dalam waktu yang membeku. Sampai-sampai Niran tak sengaja mengeluh samar ketika tak sengaja Cheewa menyentuh area sensitif Niran di bagian pinggul. 

Napas berat mereka beradu tempo. Mengembus panas menusuk tiap dasar kulit. Rasanya berada di sebuah sauna dengan suhu puncak.

“Kak Niran..” tepat panggilan itu datang kala Niran mencapai di titik lekuk leher Cheewa, mencium jakunnya yang bergerak naik turun.

Ada kehangatan manis yang menguar dari leher Cheewa. Bau yang begitu asing, namun dalam sekali tarikan napas, mampu mengunci seluruh indranya dan menjadikannya sebuah candu baru. 

“Kak..” Cheewa nyaris menjenggut rambut Niran. Permukaan bibir tebal itu menyangkut lembut di lehernya, meninggalkan kesan yang lengket. 

Tatapan mereka kembali bertemu. Tenang namun intens. Seperti rupanya air laut yang siap menggulung ombak menerkam ganas pesisir. Sorot netra Cheewa terkunci stabil, konstan dan tak berkedip layaknya ritme akrab yang biasa ia lakukan.

“Cheewa, jangan natap gue kayak gitu..” semburat merah tampak pada kedua pipi Niran, bibir tebal yang semula bergerak dominan itu mendadak kelu. 

Keangkuhannya luruh begitu saja, menyisakan ranum yang pasrah—mendamba untuk balik dipimpin. 

“Kak Niran, aku gak tahan.”

Naluri Cheewa menuntut untuk memekik keras. Topeng pertahanan dirinya seratus persen goyah. Lagak sok polos yang ia ciptakan pecah berkeping-keping. 

Detik itu juga, bibir Cheewa menyusul. Tangannya terangkat, menyusup pelan untuk meloloskan kacamata yang bertengger di sana. Benda itu dilepaskan begitu saja, membuang satu-satunya penghalang yang sedari tadi mengusik pagutan mereka.

Ritmenya berubah sangat drastis. Kendali berpindah mutlak pada dirinya; melumpuhkan Niran. Terlihat sang empu terkesiap, sesaat Cheewa mulai melumat bibir Niran seutuhnya.

“Che-Cheewa.. mmhh..” Sebuah lenguhan halus lolos dari bibir Niran, langsung terserap habis oleh lumatan Cheewa yang kian menuntut. “ … pelan-pelan.” 

Cheewa menguasai aktivitas ini sepenuhnya. Tangan kanan bertugas memegang kacamata, tangan kiri menekan tengkuk Niran. Memperdalam tautan ciuman. Lekuk tubuh Niran condong menekan milik Cheewa. Gerak elokan pinggul akibat respons gairah hebat membabat habis Niran. 

“Ngghh..” Niran tak kuasa menahan suara parau, ia melepaskan diri. Pasrah. 

Di sela-sela pagutan yang mendorong, Cheewa membujuk belahan bibir Niran agar meregang, bersiap membawa ciuman mereka ke tingkat yang lebih intim. 

Niran meremang. Lidah Cheewa mulai menyusup halus, mencicip tiap dasar bibir. Gerakan kepala mereka bergeser secara alami dari satu sisi ke sisi lain, menuruti insting dan ritme panas yang sedari tadi mendikte tubuh mereka.

Tubuh mereka merapat sempurna, menghapus seluruh jarak yang tersisa.

“Ah..” Niran berjengit. Bunyi kecupan mengisi ruang kosong. “Mmhh..” 

Mereka tenggelam.

”Kak Niran,” Cheewa sejenak melepas. “Ini bintangnya..” dan kembali melumat. 

Niran menepuk dada Cheewa, meminta izin untuknya menghirup sisa oksigen yang diraup habis. 

“Ah.. ah..”

Begitu pagutan terputus, napas keduanya memburu bertabrakan, Niran seketika kaku merinding. Ribuan kupu-kupu seolah bergolak di dalam perutnya, menenggelamkan logika dalam sensasi yang memabukkan.

“Sok-sokan minta diajarin, padahal tadi nyiumnya udah kayak ahli.” Niran membenturkan keningnya pada Cheewa dengan gemas. “Emang apa sih yang ditonton? atau ternyata… lu yang berpengalaman?” 

“Ikutin naluri, Kak.” Jawab Cheewa singkat penuh percaya diri. “Aku..” Cheewa menunduk lalu mendongak kembali. “.. juga gak sadar.”

“Gue..”

Niran mengusap bibir tipis Cheewa, mendadak tersadar akan satu hal; benda selembut itu nyatanya mampu mengambil alih kendali dan sanggup menyegel mati eksistensi bibir tebalnya dalam satu pagutan. 

“Gue rasa lu paham maksud situasi mendadak ini.. ‘kan?” Niran hikang akal. Ia linglung sana sini. Setengah gengsi, agaknya. 

Gue juga suka sama lu, Cheewa. Ah. 

Niran merutuki diri. Bagaimana bisa ia lolos menunjukkan perasaan timbal baliknya melalui aksi namun terlalu payah untuk dilakukan melalui beberapa patah kata?

Cheewa menggigit bibir. “..Nggak.”

Obviously.

Niran memanggut. Ia yakin Cheewa lambat laun mengerti.

“Ya, gitu deh. Omong-omong jangan bahas tentang mantan lagi. Maaf gue udah bawa topik itu.”

Cheewa menggeleng. “Gapapa, Kak, eh ini kok muka kakak merah banget,”

“Karena lu.” Tukas Niran. Pipinya benar-benar panas. Salah tingkah mampus.

“Misi. Ada orang di toilet?”

Keduanya sontak kaget. Masing-masing spontan kelimpungan. Cheewa memasang kembali kacamatanya sedang Niran sigap berdiri dan merapihkan kerah seragam. 

“Biar gue yang keluar, nanti lu nyusul.” Bisik Niran lantas dibalas dengan anggukan oleh Cheewa.

Bilik pintu terbuka, lekas Niran bersandiwara seolah-olah baru saja membuang air melalui cara ia merapihkan resleting celana. 

“Eh, Bapak. Mau kunci gerbang, ya?”

”Loh, Niran? Bapak perhatiin di toilet sama orang deh tadi? Lama amat di toilet.”

”Apa, Pak? Sendiri kok saya.”

”Kirain berduaan sama siapa gitu di sini~”

”Ah, ngaco Bapak nih..”

Mendengar penuturan itu, Cheewa tersipu malu. Kilasan balik tentang pagutan intim mereka beberapa jenak lalu mendadak berputar di kepala, memicu kurva senyum tipis di sudut bibirnya hingga dadanya berdesir hebat.

“Baru BAB, Pak.” Niran menyampirkan tasnya. Tangannya bergerak mengusap perut. “Mules dari siang..”

“Owalah. Cepetan pulang, ya. Saya mau balik patroli. Gerbang 20 menit lagi ditutup.” 

“Oke, Pak.”

Satpam itu keluar, kembali melanjutkan tugasnya. Di belakang Niran berpura-pura ikut pergi, padahal langkah ia pelan-pelan mundur.

“Psstt, Cheewa! Ayo.” 

Cheewa tersentak sedikit. Sebelum bangun ia membetulkan letak kacamata dan merapihkan rambut serta seragam yang tampak kusut. Tas yang ia gendong sejak awal bagaikan tempurung kura-kura.

Langkah Cheewa berjalan kecil menyusul keberadaan Niran yang menunggu di luar. 

Namun, sebuah sensasi mendesak mendadak mengacaukan langkahnya.

“Kak Niran,” panggil Cheewa, tubuhnya tiba-tiba menegang.

“Aku kebelet pipis... lagi,” cicit Cheewa pelan dengan wajah merona. 

Perut Cheewa menggelitik luar biasa akibat aktivitas intens mereka tadi, rupanya berujung memicu panggilan alam yang sama sekali tidak bisa ditunda.

Semburan tawa terdengar samar. “Yaudah, gue tunggu,” balas Niran santai, melipat kedua tangannya di dada sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan Cheewa.

Dunia di sekitar mereka seolah melambat saat keduanya sibuk mengenang keintiman yang baru saja lewat. Rasa hangat dari ciuman pertama mereka—atau yang kedua bagi Niran—masih tertinggal jelas di sana. Sambil mengusap bibirnya sendiri, Niran tersenyum lebar menatap langit malam. 

Cheewa yang berada di bilik toilet terus-menerus tersenyum lebar, tak kunjung bisa melunturkan kurva bahagia yang terus menghias wajahnya.