Chapter Text
Himeko menghela nafas untuk kesekian kalinya melihat antrian bbm yang tidak juga kunjung selesai. Waktu menunjukan pukul tujuh lewat dua puluh menit, tapi antrian motor di depannya sama sekali tidak menunjukan perubahan sejak 20 menit lalu. Dia menghela nafas kasar, memaki dalam hati karena lupa mengisi bensinnya dari kemarin.
Jadi dosen honorer dengan jarak 6 km dari tempat tinggalnya membuatnya mau tak mau harus mengisi bensin, dia akan segera merealisasikan skenario mendorong motor sampai kampus yang jaraknya sangat jauh itu. Belum lagi jarak antara gerbang utama dan gedung fakultas yang harus ditempuh. Membayangkan terlambat absen membuatnya makin awur-awuran.
Mengecek lagi jam tangan kulitnya yang sudah kusam, ia segera kembali menyalakan motor nya dan pergi meninggalkan area spbu.
Pemerintah bangsat, mereka pikir kota kecil tidak berpengaruh dengan kondisi ekonomi sialan ini. Hidup pas-pasan setelah merasakan kehidupan berkecukupan dan harus jatuh karena kondisi ekonomi yang terus menurun, membuat keluarganya hancur tak bersisa.
Semoga mereka semua terbakar bersama hutan yang mereka bakar beserta sawit-sawit sialan itu.
Himeko mengedarkan pandangannya sambil menjalan motornya secara perlahan, melihat dengan putus asa apakah ada kios yang menjual pertalite eceran. Matanya menyipit ketika melihat ada kios di samping jembatan yang buka dengan beberapa botol berisi warna yang sangat familiar.
Menghentikan motornya tepat di kios, kepala Himeko menengadah ketika tak nampak satupun orang di kios itu.
“Nyari apa mba cantik?” Bahunya tersentak ketika mendengar suara serak dari belakang diiringi bau tembakau yang menyengat.
Rambut magenta nyentrik segera menyapa pandangan Himeko ketika ia menolehkan kepalanya. Sosok perempuan berwajah rupawan namun kusut lengkap dengan sebatang rokok yang masih mengapit di bibirnya.
“Bukan urusan kamu”
Perempuan itu mengernyit lalu menaikkan bahunya, melewati Himeko lalu duduk di salah satu bangku di depan kios.
“Kamu yang punya kios ini?”
“Bukan mba, oligarki yang punya”
“Hah?” Himeko mengerutkan dahinya.
‘Wanita sinting’ pikirnya.
“Kan katanya semua punya negara mba” Kekeh wanita itu.
“Saya mau beli bensin, bukan mau bicara sama orang sinting”
“Santai aja mba, negara hancur gini kalau ga dibawa santai nanti tambah down kayak Ihsg”
“Mau berapa?”
Belum selesai Himeko membalas racauan tidak jelas wanita rambut wanita bermagenta itu, tangannya sudah beralih pada kumpulan botol berwarna biru terang.
“Penuhin aja” Jawabnya singkat. Dirinya sudah masa bodoh dengan percakapan absurd yang baru saja terjadi.
“Tangkinya apa harapan hidupnya, mbak?”
“Hah?!” Himeko memijit dahinya pelan, kampret lah pagi-pagi gini udah kekuras aja energinya.
Sedangkan sang pelaku hanya terkekeh sendiri menertawakan lelucon yang entah bisa disebut lelucon atau tidak.
“Bisa cepet ngga? Saya ini udah telat!” Hardik Himeko
“Jir, galak bener” Celetuknya.
Himeko hanya bisa memutar mata dan merogoh dompetnya.
Pemerintah sialan. Bensin susah, antrean panjang, sekarang dia juga harus berurusan dengan orang sinting di pinggir jalan.
Sekalian aja larang penjualan bensin eceran. Biar hidupnya makin susah sekalian.
“Nih, done” Perempuan itu menegakkan botolnya sebelum menerima uang yang disodorkan Himeko.
“Kafka” Ucapnya sambil menyerahkan duit kembalian.
Himeko menaikkan alisnya sebelah.
“Nama saya, kali aja mba cantik jadi pelanggan tetap. Siapa coba yang buka jam segini di tempat strategis selain saya” Akunya dengan percaya diri.
“Modelan gini, saya juga ogah langganan di kamu”
Himeko menghembuskan nafas kasar untuk kesekian kalinya, menutup joknya dengan secepat kilat sebelum menyalakan stater motornya.
“Mbak!”
Baru saja mau menancapkan gas, suara perempuan itu mencegah Himeko.
“Apa lagi?!”
“Anu- itu standarnya belum dinaikin”
Himeko merutuk pelan, untung saja dia pakai helm, kalau tidak, mau dibawa harga dirinya? Hell nah, lengkap sudah kesialan hidupnya.
Tanpa mengucap terimakasih, Himeko segera meninggalkan kios itu, enggan berlama-lama berinteraksi dengan perempuan aneh bernama Kafka itu. Sepertinya kelas pertamanya akan mendapat hadiah “selamat pagi” atas mood buruknya pagi ini.
