Chapter Text
Malam itu, Denji tak pernah menyangka, jika pertemuannya dengan Yoshida akan menjadi sebuah game changer bagi kehidupannya, Yoshida tidak hanya menjadi seseorang penting bagi hidupnya, namun juga menjadi seseorang yang mengenalkan apa itu dunia kepada dirinya.
Dunia ini, Denji tidak banyak tau tentang dunia ini, bahkan tentang dirinya sendiri dia tidak tau, ya dia tau dia sseorang omega, tapi dia tak pernah tau bahwa apa itu omega, dan apa itu alpha.
Dunia Denji selama ini hanya berptar di bagaimana mencari uang, atau bagaimana agar aku makan, atau devil apa yang harus kubunuh kali ini. Ia punya beberapa referensi majalah, tapi tidak banyak yang dia mengerti dari situ, karena dia...tak bisa membaca. Satu-satunya hal yang mungkin dia mengerti mungkin hanyalah, bahwa laki-laki membutuhkan cinta perempuan, dan cinta itu berbentuk kebutuhan seksual.
Hingga, pertemuannya dengan Yoshida mengubah dan mengisi seluruh dunia dia. Mengenal Yoshida mengajarkan banyak hal kepadanya. Apa itu gender, apa itu insting seksual, apa itu supressan, apa itu tulisan, apa itu makanan yang layak, apa itu hidup yang layak, dan apa itu.....mengasihi.
Ketika hari pertama dia bertemu Yoshida, dia tidak tau mengapa devilnya, Pochita begitu waspada terhadap pemuda itu, sangat waspada melebihi saat-saat dia bersama para Yakuza ataupun saat ayahnya masih hidup. Pochita menjadi lebih banyak diam, dan hanya mengewoof sesekali saja saat Denji mengajaknya bicara. Oleh karena sebagian besar hidup Denji selama ini bergantung bersama Pochita, makanya dia mempercayai seratus persen insting devilnya itu, walaupun...ada perasaan familiar yang berkecamuk untuk lengket dan dekat dengan Yoshida.
Menurutnya, Yoshida dihari pertama mereka bertemu benar-benar meremehkannya, mulai dari peristiwa taiyaki hingga tentang langit-langit rumah Yoshida, dan yang paling menyebalkan adalah, bagaimana mungkin pria itu bertanya padanya apakah dia bisa mandi? Memangnya Denji seorang anak kecil huh. Apalagi pandangan nyalangnya ketika Denji melepas pakaiannya dihadapan pemuda itu, hish pasti dia berpikir kalau Denji benar-benar tidak beradab karena berani melepas pakaian langsung dihadapan orang lain. Ya, karena Denji pikir itu memang bukan masalah, Denji pikir...itu hal yang normal, karena dia biasa melakukan itu ketika ayahnya berada dirumah, tentu saja atas permintaan ayahnya. Kata ayahnya, ”Kau tidak perlu malu melepas pakaian mu dihadapan seseorang.”
Makanya dia marah besar ketika Yoshida berkata padanya.
“Hei kamu.”
“Hei kamu, hei kamu, aku punya nama.”
“Denji, apa kau biasa melepas pakaian mu begitu saja didepan orang lain?”
“Ya, ayah ku bilang, itu bukan sesuatu dimana aku perlu merasa malu.”
“Hei, lain kali jangan diulangi lagi.”
“Apakah karena aku miskin kali ini kau mengajarkan ku tata krama?”
“Ya.”
Dia tidak tau, namun dia bisa merasakan hawa tak nyaman dari Yoshida saat itu, namun dia mengabaikannya saja. Andai dia tau, bahwa saat itu Yoshida berusaha menahan emosi yang terkcekat ditenggorokannya, bagaimana tidak, alpha mana yang tidak getir ketika seorang omega begitu saja melepaskan pakaiannya didepan mereka, apalagi itu soulmate mu sendiri.
Beruntungnya bagi Denji, setelah insiden yang membuat emosi itu, dia mendapatkan kamar dia sendiri, dia tidak tidur dikamar Yoshida tapi tidur dikamar tamu. Hari-harinya terasa cukup menyenangkan setelah itu, karena apa? Yup, dia makan tiga kali sehari, walaupun ada Yoshida yang menyebalkan karena selalu mengikutiya setiap waktu, tapi pemuda itu cukup baik untuk selalu memanggilkan ke ruang makan untuk makan bersamanya.
Selama seminggu hidup di kediaman Yoshida, ada satu hal yang membuat Denji tidak nyaman, namun juga dia syukuri, yaitu pandangan kasihan Yoshida dan sikap baik pria itu setelahnya.
Seperti saat dia menangisi makanannya, dan tanpa sadar mengatakan kepada pria itu bahwa makan tiga kali sehari adalah kehidupan impian dia. Yoshida menatapnya kosong, Denji menganggap itu bahwa Yoshida tidak mengerti apa yang Denji katakan, namun ketika pria itu menambahkan makanan ke piringnya, dari situlah Denji mengerti, bahwa pria itu sedang mengasihaninya.
Selama ini Denji hanya mengerti, jika seseorang tiba-tiba memberi mu makan tanpa alasan tertentu, maka orang itu sedang mengasihani mu. Persis seperti nenek atau paman-paman pedagang kelontong, yang kadang memberinya roti, yah roti expired. Tapi tak apa untuk Yoshida sepertinya? Karena ada satu hal disudut hatinya yang bersorak senang saat pemuda itu memperlakukannya dengan begitu baik.
Menurut Denji ada banyak hal baik yang Yoshida lakukan kepada Denji, dan itu membuat dia dan devilnya, Pochita semakin menurunkan kewaspadaan mereka. Yoshida baik, Yoshida bukan bagian dari Om Om Yakuza. Padahal sebenarnya yang Yoshida lakukan hanyalah bare minimun sebagai alphanya –penjaganya, seperti memberinya makan, mengajaknya jalan, dan mentraktir makanan-makanan enak (saat jalan-jalan).
Dan yang lebih membuat Denji terharu adalah, pemuda itu rela meluangkan waktu dan tenagannya untuk mengajarkan Denji membaca serta sedikit hitungan. Yoshida begitu sabar mengajarkan hal ke dirinya yang kata orang di tv sudah melewati masa golden age. Namun sayangnya Denji masih belum bisa seratus persen mempercayai Yoshida. Walaupun perasaannya selalu merasa, aman nyaman, dan ingin dekat dengan pemuda itu.
Karena Denji tidak familiar dengan perasaan hangat, hari-hari yang dia lalui bersama para Yakuza dan ayahnya hanyalah perasaan-perasaan kosong, dimana hatinya sudah mati dari perasaan jijik dan muak, perasaan yang dia sendiri tidak mengerti kenapa merasa muak dan jijik. Denji tidak pernah mengerti bahwa apa yang dilakukan ayahnya dan para Yakuza itu adalah hal bejat dan tidak baik.
Ia terbiasa menepis segala emosi yang ada pada dirinya, agar setidaknya dia bisa makan dan bisa hidup, yang ternyata juga dilakukan oleh Pochita. Denji selama ini tidak mengerti bahwa sebenarnya Pochita marah kepada ayahnya dan para Yakuza itu, namun Pochita tidak berani melawan karena nanti yang akan bermasalah dan tidak bisa makan adalah Denji. Karena itulah Denji, bukanlah orang yang familiar dengan namanya emosi.
Selama ini Denji selalu hidup di momen dia saat itu, dia tidak pernah berpikir ataupun berandai-anda akan sesuatu, karena dia tau dia tak pernah mendapatkannya, dan jika memikirkan perandaian hanya akan membenani pikirannya. Tetapi, dia tak tau jika perkataan Kishibe malam itu begitu mengenai hatinya, rasanya...ada ketakutan yang begitu besar menghantamnya, apa ini konsep apa ini. Begitulah pikirnya.
Hari itu juga, dunia Denji berputar 180 derajat, dan semua itu berkat Yoshida. Besok sore, ketika Denji baru terbangun, dia menemukan Yoshida duduk disamping kasurnya. Pria itu sibuk menatapnya secara dalam, dan itu membuat Denji tak nyaman, seolah-olah dia mencoba mencari sesuatu dalam diri Denji.
“Denji apakah kau tau alpha dan omega?”
“Bukankah aku sudah menjawabnya bahwa aku tau?”
Yoshida menggeleng. “Kau bilang tidak mengertikan apa itu konsep gender.” Denji mengangguk kecil.
“Memangnya itu konsep apa?”
“Sebelum aku menjelaskan apa itu supressant, aku akan memberitahu mu sedikit tentang konsep gender di dunia ini.” Yoshida bangkit dari tempat duduknya, dia tau kalau Denji merasa tak nyaman ditatap seperti itu, lebih tepatnya ditatap seorang Alpha yang sedang menahan diri, dari menyerang omeganya yang sedang heat itu. “Kau sudah tau kan kalau aku seorang alpha?”
“Ya.”
“Gender adalah status yang menentukan kita setelah jenis kelamin kita, selain Alpha dan Omega, terdapat satu lagi gender, yaitu Beta.”
“Apa yang membedakan semuanya?”
“Mungkin kau tidak nyaman mendengar ini, tapi kita semua dibedakan berdasarkan masa birahi kita dan organ reproduksi kita.”
“Reproduksi?”
“Berbeda dengan Alpha dan Omega, Beta tidak mengalami masa birahi. Masa birahi rut, adalah sebutan untuk Alpha, sedangkan heat adalah sebutan untuk omega.” Yoshida berbalik, dia mengelus pipi Denji, yang Denji bingung kenapa dia sama sekali tidak merasa penolakan dari hal itu. Justru dia merasa nyaman dan ingin Yoshida tetap menaruh tangannya disitu. Sedangkan Yoshida hanya tersenyum melihat tidak adanya penolakan dari Denji. Ia kemudian memperliatkan kepada Denji salah satu ilustrasi yang ada di dalam buku yang dia buka. “Begini, ini organ reproduksi, ini milik ku, dan ini milik mu?”
“Hei, maksudnya ini....”
“Ya, Denji, sebagai omega kau bisa mengandung, dan yang kau alami saat ini adalah heat. Itu bukan penyakit tiba-tiba, itu adalah hal yang normal.” Yoshida melepas tangannya dari buku, dan membiarkan Denji mengamatinya. “Umumnya heat dan rut berjalan regular setiap tiga bulan sekali, namun ada juga yang jarang mengalaminya.”
“Bagaimana seorang omega bisa hamil?”
“Ekhmm tentu saja dengan berhubungan dengan seorang Alpha saat masa heatnya, atau dengan kata lain masa suburnya.” Denji melirik Yoshida, kemudian mukanya memerah. Itu membuat senyum Yoshida semakin melebar. “Haha tenang saja, aku tidak akan berhubungan dengan mu sampai kau siap.”
“Maksud mu apa?!” Denji memukul-mukul Yoshida dengan buku ditangannya, namun Alpha itu segera menahannya.
“Hei Denji....” Yoshida mendekatkan wajahnya ke Denji yang semakin memerah, karena sial sekali entah kenapa kali ini dia merasa sangat malu, dan merasa senyum Yoshida itu lebih tampan berkali-kali lipat dari biasanya. “Apa kau tau kalau kita adalah soulmate?”
“Aku tidak tau, apa itu.” Denji mendorong muka Yoshida dengan buku ditangannya. “Tapi hish jangan dekat-dekat, bau mu benar-benar menyengat.”
“Itu artinya kau dan aku ditakdirkan bersama.” Denji menampilkan muka jijik, justru membuat Yoshida terkekeh. “Ketahuilah, omega memang lebih sensitif terhadap bau alphanya saat heat.”
“Ya terus?”
”Maksud ku, itu hal yang manusiawi.” Yoshida tiba-tiba membuka bajunya.
“YAAAAA, MAU APA KAMU.” Ucap Denji panik. Namun dia terdiam ketika melihat tanda yang sama di dada Yoshida. “Tanda itu.”
“Yang menentukan Alpha dan Omega saling berpasangan adalah tanda mereka.” Yoshida menepuk dada Denji, tempat dimana terdapat tanda yang sama. “Aku yakin, devilmu pun sudah tau, tapi aku tidak tau apa yang membuat dia diam dan tak memberitahu mu. Ia bahkan tidak mau sama sekali berbicara dengan devil ku. Ia hanya mau berbicara dengan mu.”
Denji melirik Pochita yang sedari tadi diam mengamati mereka berdua. “Nanti aku yang akan berbicara dengannya.”
“Nah yang terakhir.” Yoshida meraih tangan Denji, mengengam tangan itu dan mengelus punggungnya. “Aku minta maaf atas perlakuan ku diawal pertemuan kita.”
“Yang mana?”
“Apapun itu, aku minta maaf.” Yoshida menciumi punggung tangan Denji. “Aku tidak bermaksud mengajari mu ataupun menasehati mu tentang tata krama karena kau orang yang miskin. Tapi karena kau omega ku. Apapapun yang diajarkan oleh ayah mu dan para Yakuza itu adalah hal yang salah. Menyuruh mu meminum susu mereka.”
Denji diam menatap Yoshida.
“Di sini kau tidak perlu melakukan hal seperti itu, saat kau sakit aku akan selalu berusaha ada disamping mu, dan akan selalu berusaha menyediakan obat apapun yang kau butuhkan itu.”
“Supressant.”
“Ya seharusnya mereka memberi mu itu, bukan....” Yoshida tercekat, namun Denji balik mengenggam tangan Yoshida.
“Apa?”
“Bukan menyuruh mu meminum sperma mereka.”
Denji menatap nanar Yoshida. Air mata mengalir begitu saja, Yoshida tau dan kini dia tau perasaan jijik apa yang dia rasakan selama ini, kepalanya terbayang bagaimana tatapan dan tawa-tawa para Yakuza itu. Seketika dia merasa frustasi, rendah diri, dan kesal sekali dengan dirinya. Perasaan jijiknya adalah perasaan dimana jika seseorang yang penting bagi dia mengetahui bagaimana hidup dia selama ini. Ia pikir dia sudah cukup menutupinya dengan mengatakan susu kepada mereka. Tapi dia tak tau jika mereka mampu berpikir sejauh itu. Yoshida mengusap tiap air mata yang mengalir dari mata Denji. Yoshida ikut menatap sedih omeganya itu.
“Maaf kalau aku menjijikan.”
“Kau sudah kuat selama ini, terimakasih sudah bertahan hingga kami menemukan mu.”
Mereka terdiam cukup lama, Denji menangis hingga perasaan dan bebannya hari itu terlepas, dan dia tiba-tiba menyadari.
Yoshida penting? Matanya kembali melirik Yoshida yang masih menatapnya lembut. Pikiran Denji melayang ke beberapa waktu dia tinggal dikediaman Yoshida. Perasaannya berdesir.
“Yoshida...”
“Ya Denji.”
“Terimakasih.”
“Aku yang seharusnya berterima kasih.” Yoshida menciumi sudut mata Denji. “Sekali lagi, terimakasih sudah bertahan.”
“Yoshida...”
“Ya Denji?”
“Tidur disamping ku.”
Yoshida menatap Denji ragu. “Apa kau tau saat seorang Omega menawarkan Alphanya untuk mendekat itu seperti undangan?”
“Tak apa Yoshi, aku tau kau Alpha yang baik.”
“Yoshi?”
“Ya, apa ada yang salah dari panggilan itu?”
“Tidak.” Yoshida menaiki kasur Denji, dan berbaring disampingnya, tentunya dengan Pochita diantara mereka. “Terimakasih sudah mempercayai ku Denji.”
“Temani aku tidur lagi.”
“Apa kau tak ingin makan terlebih dahulu?”
“Tidak.”
“Yoshida. Kau dan paman bilang kan aku bisa melakukan apa aja yang kumau mulai sekarang?” Denji tersenyum kecil. “Kalau begitu besok. Jika kau tak sibuk aku ingin melihat pinguin.”
“Baiklah, apapun itu, akan aku turuti besok.”
Akhirnya mereka pun tidur bersama, dan Yoshida lupa menyampaikan bahwa langsung bertelanjang dihadapan seorang alpha apalagi soulmatenya sendiri adalah hal yang bahaya.
