Chapter Text
Park Jimin adalah seorang daydreamer dan overthinker.
Kesukaannya yang tergolong berlebih pada anime dan manga sukses membuat Jimin menjadi seorang pengkhayal lihai. Makanya tak heran bila julukan ‘tukang halu’ adalah sesuatu yang ia embrace. Mungkin bagi sebagian orang julukan itu bisa dikategorikan sebagai cemooh atau hinaan. Namun bagi Jimin, halu adalah kegiatan favoritnya.
Di sisi lain, overthinking adalah kegiatan yang sangat ia benci. Sayangnya, kebiasaan untuk over analyzing semua hal itu tidak dapat Jimin hiraukan begitu saja. Otaknya dengan lancang akan memaksa Jimin untuk memikirkan segala sesuatu secara menyeluruh. Mungkin akan berguna bila menyangkut hal yang fundamental. Namun faktanya ia kerap memikirkan hal yang tidak penting.
Seperti keakraban sang sahabat dan musuh bebuyutannya misalnya.
Hari sudah larut, namun Jimin masih tetap terjaga memikirkan berbagai kemungkinan dan dampak yang akan menimpanya berkat perkembangan ini. Bukannya Jimin melarang Taehyung berteman dengan Jeongguk, sama sekali bukan. Masalahnya, Jimin tahu betul bagaimana sahabatnya itu adalah orang yang perseptif. Taehyung tidak akan mungkin mau mengakrabkan diri dengan seseorang yang memiliki niat tidak baik. Dari jaman SMA, Taehyung akan selalu vokal bila ada yang mencoba menjahati Jimin. Namun kali ini, lelaki dengan suara bariton itu malah sering sekali menghabiskan waktu untuk membicarakan tentang Jeongguk, yang notabene adalah musuh bebuyutan Jimin.
Fakta ini sedikit lebih membuat Jimin jadi bertanya-bertanya; apakah ada sesuatu tentang Jeongguk yang ia lewatkan? Sesuatu yang sampai-sampai membuat sahabatnya tidak bereaksi setiap kali Jeongguk iseng menjahili Jimin.
Ah sudahlah. Kenapa juga Jimin harus memikirkan Jeon Jeongguk di waktu senggangnya sebelum tidur? Memangnya masih belum cukup apa, hari-harinya sering terusik karena keisengan lelaki jangkung itu? Menang banyak tuh orang!
Keesokan paginya, Jimin yang kesiangan karena telat bangun buru-buru bersiap untuk mengikuti kelas Branding and Interaction Design. Sambil merutuki diri dan menyalahkan Jeongguk—yang membuatnya terjaga semalam suntuk—di sepanjang perjalanannya menuju kampus, Jimin yang terburu-buru pun abai mengecek pesan yang dibagikan di grup WhatsApp kelasnya oleh sang dosen yang menginfokan bahwa kelas pagi itu ditiadakan. Makanya tak heran kalau Jimin disambut dengan sunyi dan kelas yang kosong ketika ia tiba.
“Orang-orang pada kemana deh?” Lelaki itu bergumam sambil terengah-engah, sebelum mengecek jam tangan digital berwarna hijau army yang ia kenakan hari itu.
“Coba cek grup WhatsApp,” sahut sebuah suara yang familier di belakang Jimin.
“Grup WhatsApp?” Dengan gerakan otomatis Jimin lalu merogoh ponsel yang ia kantongi di celana. Pertanyaannya pun terjawab ketika ia membaca notifikasi pesan yang masuk di layar kunci. “Oh, kelasnya di-cancel toh? Dadakan amat.”
“Iya kan, gue juga baru tau pas udah sampai di gerbang kampus tadi,” sahut suara itu lagi. “Emang kebiasaan nih Pak Jiyong.”
“Tapi untung aja, kalau nggak bisa kena omel gue sama doi gara-gara telat. Pak Jiyong kan galak banget kalau sama yang nggak disiplin.”
Kekehan kecil lalu terdengar mengalun di balik punggungnya. “Kayaknya lebih galak lo deh daripada Pak Jiyong.”
Tunggu dulu. Jimin tahu betul mengapa suara itu terdengar familier di telinganya.
Mata Jimin terbelalak kaget. Lelaki itu pun sontak memutar badannya untuk menghadap ke arah asal suara yang dari tadi menanggapi celotehannya. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati seorang Jeon Jeongguk—dengan setelan kaus putih dibalik balutan jaket denim dan celana cargo hitam, serta topi baseball berwarna senada—sedang menyandarkan diri ke kusen pintu kelas. Lengkap dengan kedua tangan yang dilipat di dada.
Otak Jimin seakan baru saja berfungsi di detik itu. Rupanya sejak tadi ia sedang berbincang santai dengan sang musuh bebuyutan. Sosok yang notabene menjadi objek utama di pikirannya semalaman!
“Mukanya biasa aja dong,” kata Jeongguk dengan cengiran menggoda, sambil menelusupkan sebelah tangan ke dalam kantong celana. “Kayaknya lo nggak senang amat ketemu gue pagi-pagi.”
Jimin hanya bisa membisu. Dalam diam, kedua matanya dengan lancang memerhatikan Jeongguk dari ujung kepala hingga ujung kaki, seakan ingin mengabadikan momen di depan mata. Bagaimana tidak? Dari sekian skenario yang Jimin pikirkan sebelum tidur, tak pernah sedikitpun terbesit di benaknya kalau ia akan berbincang santai dengan Jeongguk dalam waktu dekat.
Jimin bahkan sempat berpikir untuk semakin menjaga jarak dengan Jeongguk, supaya lelaki itu tidak mengusik pikirannya di waktu senggang lagi.
Namun ada satu hal yang sepertinya luput dari analisanya semalam. Sensasi sengatan kecil yang saat ini muncul di dadanya sama sekali tidak Jimin perhitungkan. Sengatan kecil yang kemudian membuat Jimin tersadar, bahwasanya ia cukup rindu berinteraksi dengan sosok di hadapannya ini.
Sebentar. Rindu? Sejak kapan otak Jimin mengasosiasikan kata ‘rindu’ dengan sosok Jeongguk? Semua gara-gara Taehyung!
“Kok lo bisa ada di sini?” Jimin akhirnya membuka suara untuk mengalihkan pikirannya yang mulai berisik. “Mau ngapain?”
Sebelah alis Jeongguk terangkat naik kala mendengar pertanyaan retoris Jimin. “Kita kan satu jurusan dan sekelas? Lo lupa atau gimana?”
“Oh, iya ya.”
“Lo kurang tidur ya?”
“Iya kayaknya. Gara-gara Taehyung nih.”
“Kenapa Taehyung?”
“Ngomong yang nggak-nggak,” sahut Jimin asal, sambil berjalan menuju kursi yang ia biasa duduki di dekat jendela. “Bikin gue kepikiran.”
“Memangnya Taehyung ngomong apa?”
“Tanya aja sendiri sama orangnya. Lo berdua kan akrab.”
Lagi-lagi kekehan kecil terdengar mengalun keluar dari mulut Jeongguk. “Jangan gitu dong, Jimin. Kesannya lo kayak jealous gue akrab sama Taehyung,” goda Jeongguk, sambil berjalan menghampiri.
“Siapa yang jealous? Gue cuma nggak terima aja kalau lo rebut sahabat gue.”
“Hahaha, siapa yang mau rebut sahabat lo sih? Kebanyakan baca komik lo. Justru gue mau berguru sama Taehyung.”
Jimin melirik lelaki yang kini sudah berdiri di sampingnya dengan tatapan menyelidik, lengkap dengan sebelah alis yang terangkat naik. “Mau berguru soal apa sama Tae?”
“Hmm, mau tau aja atau mau tau banget?”
“Ih, Jeongguk! Lo tuh nyebelin banget, tau nggak?!”
“Sorry, sorry,” kekeh Jongguk lagi. “Kebiasaan. Abis lo gitu sih.”
“Kok jadi gue? Kenapa gue?”
“Lo pernah nggak, ngaca pas lagi ngambek?”
“Hah? Apa hubungannya? Nggak nyambung lo!” Jimin menyahuti dengan nada jengkel. Sungguh ia tak habis pikir. Bisa nggak sih, sekali saja Jeongguk tidak bersikap konyol?
“Nyambung kok. Soalnya kalau lo tau gimana ekspresi lo pas lagi ngambek, pasti lo bakal paham kenapa tadi gue ngomong gitu.”
Jimin memutar bola matanya malas. “Apa deh? Gue nggak paham.”
“Ya udah. That’s for me to know, and for you to find out.”
Dengan sembarangan dan tanpa permisi, jantung Jimin secara tiba-tiba berdebar cukup kencang. Namun karena ini masih pagi, dan ia juga belum mengkonsumsi sugar intake unntuk dapat berpikir jernih, Jimin pun memilih untuk menghiraukannya.
Blame it on the adrenaline rush. Cukup kali ini saja deh, Jimin bangun kesiangan. Sejatinya ia memang paling tidak suka kalau melakukan segala sesuatunya dengan terburu-buru. Jimin butuh waktu yang cukup untuk mercerna keadaan sebelum mengambil sikap.
“Malesin ah. Lo bisa nggak sih, sekali aja nggak nyebelin?”
“Nyebelin sama siapa?”
“Ya sama gue! Memang sama siapa lagi lo nyebelin? Bukannya ke gue doang ya?”
“Cieeeh, sok merasa spesial gitu ya lo ceritanya?” Lagi-lagi Jeongguk menanggapi dengan nada menggoda. “Nggak mau ah, kan gue gini ke lo doang.”
“Justru itu! Bisa nggak sih lo bersikap normal kalau sama gue? Kayak ke yang lain gitu.”
“Nggak bisa, Jimin. Kalau bisa mah udah gue lakuin dari dulu.”
Kali ini pernyataan Jeongguk berhasil memancing emosi Jimin. Apa coba salahnya selama ini? Bukannya Jimin sudah menuruti permintaan orang tuanya untuk jadi anak baik ya? Ia juga tak pernah berbuat jahat pada orang lain. Jangan bilang ini gara-gara insiden di kantin dua tahun yang lalu? Tapi kalau iya, bukankah seharusnya Jimin yang bersikap rese pada lelaki jangkung di hadapannya? Kok ini malah sebaliknya? Yang jelas-jelas salah kan waktu itu Jeongguk, bukan Jimin.
Atau ini gara-gara kejadian di kantin sebulan yang lalu? Tapi bukannya sama saja ya? Yang seharusnya di atas angin adalah Jimin, bukan Jeongguk. Jelas-jelas yang melontarkan kata-kata menyakitkan adalah lelaki itu. Lantas, kenapa Jeongguk selalu saja menjadikannya target untuk diganggu? Apa ini semua gara-gara Jimin adalah seorang wibu? Makanya lekaki itu jadi suka mengganggunya? Iya?
Memangnya kenapa sih kalau Jimin wibu? Jadi wibu kan bukan tindakan kriminal!
Astaga, lagi-lagi Jeon Jeongguk sukses menjadi objek yang berlari-lari di pikirannya.
Jimin yang sudah tidak mau ambil pusing pun menghela napasnya lelah. “Two years, Jeongguk. Two freaking years. Apa sih salah gue sama lo, yang bikin lo sampai segininya sama gue? Tolong kasih tau, karena demi Tuhan gue capek lo jadiin target bully terus-terusan kayak gini.”
Mata bulat Jeongguk terbelalak ketika mendengar ucapan Jimin. “Siapa yang bully lo sih? Waktu itu di kantin lo juga ngomong gini. Gue pikir lo bercanda doang, ternyata lo serius mikir gue nge-bully lo?”
“Ya menurut lo aja,” kata Jimin acuh, sambil mengedikkan bahu. “Gue capek tau.”
“Jimin, lo salah paham. Demi Tuhan, gue sama sekali nggak ada maksud buat nge-bully lo. Selama ini gue cuma mau jadi teman lo aja.”
“Teman? Jeongguk, lo kan punya banyak teman. Lo juga udah gede. Pasti lo paham dong gimana caranya berteman?”
Kali ini gantian Jeongguk yang menghela napasnya lelah. Ia kemudian menarik kursi untuk diduduki di depan Jimin. Keduanya saling adu tatap untuk sesaat. Jimin dengan segala pikiran negatifnya luput menyadari bagaimana Jeongguk memainkan jarinya di atas meja. Kalau saja pikirannya sedang jernih, Jimin pasti akan bisa melihat dan menilai betapa gugupnya lelaki di hadapannya itu .
“Gue minta maaf kalau selama ini udah nyakitin lo,” kata Jeongguk memecah hening. “Please percaya sama gue, selama ini gue nggak ada niatan buat nge-bully lo. Gue beneran pengen berteman sama lo, Jimin. Tapi gue bego, I don’t know how to start, makanya gue kayak gitu.”
“Kalau—”
“Jimin, dengerin gue dulu ya. Let me finish first, abis itu lo boleh ngatain gue sesuka lo.”
Jimin hanya menanggapi permintaan sang musuh bebuyutan dengan anggukan kepala.
“Lo pasti pernah ngaca kan?”
“Hah?”
“Pasti lo tau betul kan gimana mengagumkannya lo,” lanjut Jeongguk menghiraukan Jimin. “Dari awal kita jadi MABA, gue udah aware sama eksistensi lo. Gimana nggak, lo adalah satu-satunya MABA yang berani ikutan OSPEK dengan rambut pirang. Gue yakin semua orang juga aware sama lo sih.”
“Itu gara-gara gue abis cosplay jadi Naruto,” gumam Jimin pelan.
“I know, kan lo jelasin di tengah lapangan waktu itu. Jujur awalnya gue pikir lo aneh. Orang dewasa mana sih yang mau ngaku di acara OSPEK masuk kuliah, kalau dia ngecat rambut buat ikutan cosplay? Makanya pas lo dihukum sama senior, disuruh praktekin jurus Naruto, gue ikut cekikikan aja di belakang barisan.”
“Being wibu is not a crime.”
“Kan gue belom kelar?” Jeongguk menanggapi dengan sebelas alis yang terangkat naik. “Kayak yang tadi gue bilang, awalnya gue pikir lo aneh. Tapi lama-lama gue sadar kalau lo justru mengagumkan. You’re a very passionate person, Jimin. Lo bangga ngaku kalau lo wibu ya karena lo memang suka sama anime. Your confidence is off the chart. Lo nggak peduli sama tanggapan orang lain, yang penting lo happy. And you are happy. You did this for yourself. Lo nggak butuh approval dari orang lain. Bukan pengakuan kayak gitu yang lo cari. For that, I salute you.”
Pengakuan Jeongguk membuat Jimin tertegun. Sampai-sampai ia hanya bisa menanggapi dengan, “Oh? Thanks, I guess?”
“Mungkin lo nggak sadar, tapi gue cukup sering perhatiin lo dari jauh. Gue lihat lo selalu asik sendiri, dan itu bikin gue jadi penasaran. Apa sih yang bikin lo asik sendiri sampai segitunya? Kok bisa? Lama-lama gue jadi pengen kenal lo lebih jauh. Nggak cuma gue sih. Gue yakin satu jurusan kita juga pasti pengen kenal dekat sama lo.”
“Kok bisa?”
“Soalnya aura lo tuh untouchable banget. Sadar nggak sih? Dari jauh lo kelihatan cuek dan cool, tapi aslinya kalau udah kenal tuh lo orangnya hangat banget. Terbukti gimana sikap lo bisa beda seratus delapan puluh derajat kalau lagi sama Taehyung. Banyak orang yang juga pengen ngerasain ada di posisi Taehyung. Masalahnya, nggak gampang buat ngeruntuhin tembok yang udah lo bangun.”
Jeongguk lalu menarik napas cukup dalam. Raut wajahnya pun terlihat serius. Detik itu juga akhirnya Jimin menyadari, bahwasanya lelaki di hadapannya itu sedang gugup. Sambil menggaruk tengkuk kepalanya yang Jimin yakini tidak gatal, Jeongguk lalu melanjutkan penjelasannya. “Tau nggak kalau lo tuh diomongin, in a good way, sama anak UKM Basket? Bahkan sama senior. Tiap kelas kosong lo duduk di pinggir lapangan buat baca komik. Cuek aja sendiri, nggak peduli sama sekitar. Kalau ditegur juga cuma jawab formalitas secukupnya. Ekspresi lo beneran yang bare minimum. Tapi pas sama Taehyung, lo senyum lebih lebar dan ketawa lebih kencang. Semua orang pengen bisa dekat sama lo, Jimin. Tapi nggak ada yang tau caranya. Termasuk gue.”
Napas Jimin tercekat. Ia bisa merasakan bagaimana wajahnya memerah dalam seketika. Jantungnya kembali berdebar, namun kali ini lebih kencang dibanding sebelumnya. Dan sayangnya kali ini Jimin tak kuasa untuk menghiraukan irama debaran jantungnya yang berantakan. Sungguh, Jimin butuh sugar intake sekarang.
“Gue nggak akan ngomong panjang lebar lagi,” kata Jeongguk melanjutkan. “Gue rasa penjelasan gue udah cukup buat ngelurusin salah paham ini. In another time and another place, kalau timing-nya udah ok, nanti gue bakal lanjutin lagi. Tapi gue yakin lo paham maksud gue barusan. Gue harap lo juga paham kalau gue nggak asal ngomong aja. Dan yang paling utama, gue mau lo paham kalau selama ini gue sama sekali nggak ada maksud buat nyakitin lo. Please, maafin gue?”
Jimin hanya bisa mematung dan terdiam. Beberapa kali mulutnya terbuka seakan ingin mengucapkan sesuatu, namun tak ada kata-kata yang keluar. Otaknya berusaha mencerna dengan saksama penjelasan Jeongguk. Masuk akal memang, namun masih ada dua hal yang mengganjal dan belum masuk di nalar Jimin.
“Jujur gue masih bingung,” kata Jimin memecah hening setelah beberapa saat. “Kalau memang lo pengen berteman sama gue, kenapa lo malah bersikap nyebelin dan bikin gue nggak mau berteman sama lo? Oke, lo nggak tau caranya. Tapi kenapa lo nggak bersikap normal aja kayak orang-orang atau kayak ke teman-teman lo? Harusnya lo sadar dong, dengan lo nyebelin kayak gitu malah bikin gue makin nggak mau dekat sama lo?”
Lagi, Jeongguk terlihat menarik napasnya dalam-dalam, lalu secara perlahan ia embuskan keluar. Lelaki itu pun kembali terkekeh, namun kali ini kekehannya terdengar seperti dipaksakan. “Tadi kan gue udah bilang kalau gue bego? Gue mau lo aware sama eksistensi gue, kayak gue ke lo. Gue pikir, kalau gue bersikap normal kayak orang-orang, ya lo bakal anggap gue sama aja kayak mereka. Gue nggak akan ada bedanya di mata lo.”
“Terus menurut lo, dengan lo bersikap nyebelin sama gue, lo berhasil?”
“Lumayan? Buktinya lo cuma adu debat sama gue doang kan? Di kampus ini cuma gue yang berhasil bikin lo berekspresi bete, sebel, jengkel, ngambek, you name it. Cuma sama gue, dan Taehyung, lo nggak nunjukkin ekspresi datar. Ya gue anggap gue cukup sukses sih.”
Jimin menggelengkan kepalanya heran. “Aneh. Lo yang aneh, tau nggak? Bukan gue.”
“Kenapa aneh? Jimin, gue mau jadi kayak Taehyung yang berhasil ngeruntuhin tembok lo. Oke, gue akuin mungkin cara gue salah. Karena terbukti gue masih belum berhasil bikin lo senyum lebar dan ketawa kencang. Gue bahkan sampai tanya caranya sama Taehyung.”
“Hah?”
“Selama ini gue cuma fokus sama gimana caranya supaya lo bisa anggap gue spesial, kayak gue anggap lo spesial. Gue mau jadi satu dari segelintir orang yang bisa munculin berbagai macam ekspresi di muka lo. Makanya gue pakai cara ‘kotor’ kayak gitu. I did it all to get a different reaction from you. Sampai sini paham dong?”
“Ok, anggaplah gue paham yang itu,” jawab Jimin dengan nada menyelidik, lengkap dengan kedua alis yang mengkerut. Masih dengan debaran jantung yang belum stabil, ia pun berkata, “Tapi terus apa yang bikin lo sampai segitunya pengen dekat sama gue?”
Kali ini gantian napas Jeongguk yang tercekat. Kedua mata bulatnya kembali terbelalak. Ekspresinya dengan gamblang mengatakan kalau ia terkejut mendengar pertanyaan Jimin. Padahal sejak awal mendengar penjelasan Jeongguk tadi, itu adalah pertanyaan utama yang terus berlari-berlari di kepala Jimin.
“Ya gue pengen aja?”
Jimin memutar bola matanya malas. “Itu bukan jawaban, Jeongguk. Jangan jawab pertanyaan sama pertanyaan juga dong.”
“Lagian masa gitu aja lo pakai nanya sih?”
“Loh? Justru karena gue nggak tau jawabannya, makanya gue tanya ke lo. Gimana sih?”
“Masa nggak paham sih, Jimin?” Jeongguk menanggapi dengan nada frustasi.
“Ya gimana gue mau paham kalau lo nggak kasih tau, Jeongguk.”
“Ini lo sengaja ya kayak gini? Lo sebenarnya udah tau jawabannya kan? Tapi lo pengen dengar langsung dari mulut gue. Iya kan? Ngaku!”
“Kok jadi balik nuduh gue,” sanggah Jimin tidak terima. “Orang lo sendiri yang kasih penjelasan setengah-setengah. Tinggal jawab aja apa susahnya sih?”
“Ya susah dong, Jimin!”
“Ya kenapa susah, Jeongguk?”
“Soalnya lo masih belom jadi teman gue,” jawab Jeongguk tegas. “Nanti kalau kita udah temenan, dan gue udah berhasil jadi satu dari sekian orang yang lo anggap spesial, baru deh gue bakal jelasin semuanya.”
Untuk sesaat, raut wajah Jimin menunjukkan ekspresi terkejut mendengar pengakuan Jeongguk. Namun pada detik berikutnya, emosi lelaki itu kembali dibuat meluap. “Gimana gue mau jadi teman lo, kalau lo nggak ngeyakinin gue? Dengan lo kayak gini, gue justru jadi sangsi mau dekat sama lo, tau nggak? Apa sih yang lo sembunyiin? Gue nggak suka nggak dilibatkan, Jeongguk. Apalagi kalau udah menyangkut soal diri gue sendiri kayak gini.”
Lagi-lagi Jeongguk terlihat menarik napasnya dalam-dalam, lalu secara perlahan ia embuskan keluar. “Please, Jimin, trust me on this. Give me chance?”
“Jeongguk, hal pertama yang lo harus tau tentang gue adalah gue orang yang cukup logis dan kritis. Gue butuh ngumpulin data yang konkrit dulu sebelum gue bisa memutuskan sesuatu. Dari Shinichi sama Heiji gue belajar kalau kita nggak boleh sembarangan bikin deduksi yang belum matang.”
“Hah?”
“Oke,” lanjut Jimin gantian menghiraukan Jeongguk. “Mungkin memang gue agak sedikit emosional dan kekanak-kanakkan kalau udah menyangkut yang menjadi kesukaan gue, I admit it. Terbukti dari gimana reaksi gue pas lo ngejatuhin gacha Aomine gue ke selokan kantin dua tahun yang lalu.”
“Kan gue udah minta maaf soal itu! That wasn’t on purpose!”
“Ya tapi abis itu lo ngatain gue kan?”
“Itu karena gue nervous! Lagian seingat gue, yang gue katain waktu itu kan karakter gantungan kunci lo. Bukan lo nya.”
“Kalau lo ngatain karakter kesukaan gue, itu namanya sama aja lo cari ribut sama gue.”
“Jangan bilang gara-gara itu makanya lo selalu sinis tiap lihat gue?” Gantian Jeongguk bertanya dengan nada menyelidik, lengkap dengan kedua alis yang mengkerut.
“Kalau iya kenapa? Salah lo yang cari gara-gara.”
“Bocah banget sih lo.”
“Loh? Kok lo jadi ngatain gue?” Jimin menyanggah tidak terima. “Lagian kenapa juga waktu itu lo pakai acara ngatain Aomine segala?”
“Aomine?”
“Nama karakter gantungan kunci gue yang lo jatohin.”
“Oh, itu. Dibilang gue nervous.”
“Why?”
“Because it was you, Jimin!”
“But why?”
“Because I like you, goddamnit!”
“Hah?”
“Hah?”
Hening sesaat. Hanya detik jarum jam dinding dan embusan napas yang terdengar mengisi sunyi di ruangan kelas yang kosong. Sampai akhirnya, “What?”
Tunggu dulu. Tadi Jeongguk bilang apa?
“Shit!” Jeongguk mengumpat panik. “Kelepasan!”
“Maksud—”
Namun belum sempat Jimin menyelesaikan kalimatnya, Jeongguk dengan sigap langsung memotong, “Ah, Jimin. Please lupain yang tadi. Gue salah ngomong.”
Oh? Salah omong katanya?
Lelaki itu pun lalu berdiri, mengencangkan kedua tali ransel di punggung, dan menurunkan topi baseball hitam yang yang ia kenakan. “Gue cabut duluan ya, ada janji sama anak basket. Semoga abis ini lo udah nggak salah paham lagi. See you around,” kata Jeongguk sebelum beranjak pergi, mengakhiri sesi diskusi.
“Wait, Jeongguk—”
Namun lelaki jangkung itu dengan gesit berlari meninggalkan ruangan, sebelum Jimin sempat memintanya untuk tidak pergi.
Lagi, hening kembali mengisi sunyi di ruangan kelas yang kosong pagi itu. Samar-samar Jimin bisa mendengar suara mahasiswa yang berlalu-lalang di koridor kampus. Ada yang sedang tertawa bersenda gurau dengan temannya, ada yang berseru memanggil nama temannya, lalu ada juga yang sedang berlari—mungkin telat menghadiri kelasnya.
Namun di sinilah Jimin sekarang, termenung, sembari menatap nanar ke arah papan tulis putih yang kosong. Sama seperti isi kepalanya saat ini. Padahal sejak semalam dan sesaat sebelum sesi diskusinya dengan Jeongguk dimulai tadi, Jimin berani sumpah kalau suara-suara di dalam kepalanya sangatlah berisik.
Rupanya semesta memang senang sekali menjadikan hidupnya sebagai bahan bercanda. Baru semalam ia menghabiskan waktu memikirkan Jeon Jeongguk, pagi ini ia kembali dibuat memikirkan sosok yang sama. Bahkan oleh orangnya langsung.
Jimin lalu melipat kedua tangannya di atas meja, sebelum akhirnya membenamkan kepalanya di sana. Wajahnya panas. Jantungnya pun masih berdebar lumayan kencang.
Apa-apaan tadi itu?
“Ini sama sekali nggak lucu, ya Tuhan!”
