Actions

Work Header

Allianz

Chapter 13: Mereka

Summary:

Singkatnya, di antara Loid Forger dan Yor Forger

Notes:

Aku tahu di beberapa chapter sebelumnya aku bilang untuk Side Mission boleh diskip, tapi untuk chapter ini, mohon dibaca Side Mission 11 dan 12 terlebih dahulu! Karena mulai dari sini sudah menjelaskan secara perlahan siapa itu Antoine yang menjadi penghubung antara Twilight dan Thorn Princess.

Jika kalian sudah membacanya, silahkan nikmati chapter ini!

Keterangan Tambahan:
“AaBbCc” – Ucapan biasa (kutip dua biasa).
AaBbCc’ – Pikiran (kutip tunggal dengan huruf miring).

Pada Chapter ini:
“AaBbCc” – Ucapan yang terdengar dari alat elektronik seperti radio, pengeras suara, telepon, atau suara seseorang yang terdengar sangat pelan, atau bahkan sedang menegaskan sesuatu. (Kutip dua dengan huruf miring)
{{AaBbCc}} – Isyarat atau kode rahasia, seperti sandi, dll. (Dua kurung kurawal dengan huruf miring)

(See the end of the chapter for more notes.)

Chapter Text

Cerita sebelumnya… (skip)

"Apa yang kamu ketahui tentang KIND?"

Tak banyak.

KIND merupakan organisasi abu-abu, tak jelas berada di pihak mana. Keberadaannya sangat samar, sehingga hampir tidak terdeteksi radar W.I.S.E.. Mereka menjadi salah satu penyokong dana dari beberapa partai pemerintah dan penyokong senjata dari beberapa partai oposisi.

Kedua, KIND dipimpin oleh Antoine von Augony, yang ternyata Antoine itu sendiri bukanlah 'seseorang', tapi 'beberapa orang'. Gila? Ya. Mereka dipimpin oleh ‘mereka’.

Twilight benar-benar tidak menduga hal itu

Chapter 13: Mereka
Story by LittlePeanutz
Spy x Family © Endō Tatsuya

Mereka
(KBBI) pron orang ketiga jamak (dia dengan yang lain); orang-orang yang dibicarakan.


***

Minggu, 19 Maret.
Pagi hari, pukul 09.20 waktu setempat.
Di suatu tempat di West Berlint. Rumah Persembunyian K.
~~~~~

“Akhirnya kau datang juga.”

Sylvia menyambut kedatangan mata-mata terhebat W.I.S.E. dengan sedikit nada ‘kenapa-kamu-lama-sekali-sudah-kutunggu-dari-tadi!’.

Twilight duduk di kursi yang ada di depan Sylvia dan segera meminta maaf, “Maaf, Handler. Informan kenalanku bangun agak telat. Tapi ini informasi yang sudah kudapatkan,” kemudian meletakkan buku catatannya di atas meja yang ada di depannya. Pengawasnya menerima buku tersebut dan membacanya dengan cepat.

Tanpa menunda waktu lebih lama lagi, Twilight langsung menjelaskan rangkuman apa saja informasi yang sudah ia dapat dari informannya, Franky Franklin, meski sudah ia tulis dalam buku catatannya itu.

“Anak itu benar, Antoine bukanlah satu orang. Namun jumlah pastinya masih simpang siur. Ada yang bilang Antoine adalah dua orang, ada yang bilang tiga, yang jelas di antara kedua itu. Dikatakan Antoine ini adalah pemimpin dari [KIND].”

Sebuah organisasi yang dipimpin lebih dari satu orang? Apakah tidak terjadi perpecahan di antara para pemimpin itu?

“[KIND]?”

“Ya. Lalu nama organisasi ini dibacanya KIND (kɪnt), bukan kind (kīnd). Awalnya kita pikir ini berasal dari bahasa asing. Tapi ternyata tidak, ini adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa lama dari wilayah barat.”

Pengawasnya membaca informasi lainnya yang tercatat di buku itu dengan seksama, beberapa kali ekspresi terkejut muncul dari wajahnya, “Jadi, [KIND] ini juga ada di balik beberapa partai persatuan dan oposisi?”

“Informanku tidak punya banyak informasi mengenai KIND. Tapi dia bersedia untuk mencari informasinya jika keselamatannya benar-benar dijamin oleh kita,” jelas Twilight mengenai permintaan dari informannya, “Dia juga bilang kita tidak boleh sembarangan mengulik informasi mengenai KIND pada sembarang informan, baik yang kita percayai atau tidak karena 90% para informan di Ostania terhubung dan diawasi oleh KIND.”

“Lalu bagaimana dengan informanmu? Bukankah ini juga berlaku buat dia?” tanya Sylvia memastikan.

“Mengenai informanku, aku sendiri sudah menjaminnya,” jawab Twilight yakin.

Sylvia tidak punya pilihan lain selain mempercayai pria pendusta yang ada di depannya ini yang baru saja menjawab pertanyaannya tanpa ragu.

“Mengawasi hampir seluruh informan di Ostania ya… Benar-benar organisasi yang tidak biasa tapi terlihat biasa saja…” Sylvia menutup buku itu, “Jadi, rencana berikutnya?” tanyanya, yang lebih terdengar sebagai sebuah pernyataan.

“Menurut catatan mereka berkontribusi dalam konflik perpecahan antara Timur dan Barat. Jadi, ini termasuk urusan W.I.S.E..”


***

Hari yang sama, Minggu, 19 Maret.
Pagi hari, pukul 09.30 waktu setempat.
128 Park Avenue, West Berlint, Ostania.
~~~~~

“Eeeeehhh???” Anya tidak percaya. Apa maksudnya dengan “Papa nggak jadi pulang hari ini?!”

Terus janji buat jalan-jalannya gimana?!

Setelah pulang dari menginap semalam di rumah Becky, rencana jalan-jalan yang sudah Anya tunggu-tunggu malah disambut dengan pembatalan lagi!

Lagi!

Mama berusaha tersenyum sambil meminta maaf, “Maaf, Anya! Semalam Loid tiba-tiba bilang ia masih sibuk dengan pekerjaannya!”

Pantas aja di masa depan yang Bond lihat kemarin, Anya dan mama di rumah saja… Papa juga nggak terlihat ada di rumah…

Tapi kan Anya sudah sangat menanti-nanti hari ini… Anya benar-benar merasa kecewa, bahkan Anya tak dapat mengontrol ekspresi di wajah Anya. Anya tidak marah, hanya saja… sedih.

Oh tidak. Anya sangat kecewa. Kau harus melakukan sesuatu, Yor!’ Anya dapat mendengar suara pikiran mama yang mulai panik ketika melihat wajah kecewa Anya. ‘Luka di kaki ini tentu tidak seberapa! Masih bisa kutahan. Aku bisa mengajak Anya dan Bond jalan-jalan!

Luka?

“Mama terluka?” tanya Anya, giliran Anya yang khawatir. Apakah karena pekerjaan mama semalam?

Mama terkejut, ‘Anya menyadarinya?’ dan langsung menggeleng cepat, sampai-sampai Anya pikir kepala mama akan lepas saking cepatnya, “Tidak! Tidak! Hanya luka kecil! Tidak apa-apa! Ayo kita siap-siap untuk jalan-jalan!”

Apa karena jalanku yang sedikit pincang? Tidak mungkin! Luka seperti ini belum cukup membuatku pincang! Aku sudah berusaha agar tidak terlihat sakit. Aku tidak ingin Anya dan Loid tahu kalau aku baru saja tertembak dan mengkhawatirkanku!

Anya melongo.

Tunggu, apa? Tertembak?

“MAMA BAKALAN MATI??!” jerit Anya.

Setahu Anya, Mama adalah orang yang sangat kuat. Bahkan truk dan pistol pun tak bisa menghentikan mama. Tapi Papa sedang tidak ada di rumah dan Mama terluka. Jika ada sesuatu yang terjadi pada Mama ketika jalan-jalan nanti (seperti musuh Mama tiba-tiba kembali), Anya tak bisa berbuat apa-apa!

Memang Anya ingin jalan-jalan, tapi bukan dalam kondisi seperti ini!

“Tidak Anya, Aku tidak—”

“Anya mau menggambar aja, Mama temani Anya ya,” Anya menarik tangan mama menuju ruang TV, “Anya masih ingin menggambar pakai pensil warna baru dari Becky.”

“Eh? Tidak jadi jalan-jalan?”

“Nggak jadi. Di luar panas.”

Tapi kan di luar cuacanya sedang bagus…’ gumam mama memandang ke arah jendela. “Tapi Anya—”

“Pokoknya Anya mau menggambar,” seru Anya sambil menyiapkan kertas kosong dan sekotak pensil warna baru dari Becky.

Mama hanya terdiam dan menuruti Anya.


***

Hari yang sama, Minggu, 19 Maret.
Pagi hari, pukul 09.45 waktu setempat.
Di suatu tempat di West Berlint. Rumah Persembunyian K.
~~~~~

Anak-anak yang menginap di tempat persembunyian itu masih tertidur pulas meski matahari sudah semakin tinggi. Berbeda dari anak-anak tersebut, dua orang dewasa yang ada di tempat itu tengah sibuk memutar balikkan otak mereka dalam diam di pagi hari.

Ruangan tengah itu berantakan. Sungguh berantakan. Dokumen-dokumen yang sebelumnya berserakan di atas meja, kini sudah berceceran di mana-mana. Sylvia terus sibuk menganalisa setiap informasi yang dapat ia temukan di lembaran-lembaran dokumen itu yang kini benar-benar telah mengelilinginya.

Ingin sekali Twilight merapikan tempat itu, tapi ia merasa jika ia merubah sedikit saja posisi kertas yang berserakan itu (yang tampaknya masih dibutuhkan oleh Handler), konsentrasi wanita yang ada di depannya ini akan buyar. Memang terkadang ada orang yang dapat berkonsentrasi di lingkungan kerja yang berantakan. Sepertinya Handler adalah salah satunya.

“Apakah Desmond juga pernah terkait dengan KIND?” tanya Sylvia.

“Tidak, setahuku tidak. Di bawah pengawasanku selama ini, tak ada nama KIND dalam afiliasi Desmond. Makanya aku cukup kaget dengan KIND ini.” Twilight kemudian melihat ke arah pintu kamar di sudut ruangan tempat Artur dan dua anak lain sedang beristirahat. “Ngomong-ngomong, aku senang mereka akhirnya bisa beristirahat dengan nyaman, tapi aku benar-benar penasaran dengan [Bunda] yang disebutkan oleh Artur tadi. Terlebih lagi Artur bilang kalau [Bunda] mereka adalah salah satu dari orang-orang yang dijuluki sebagai Antoine.”

“Biarkan mereka beristirahat. Kita bisa menanyai mereka nanti.”

“Aku tahu.”

Twilight, di mana laporan misi Jumat kemarin?” tanya Sylvia tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen-dokumen yang ada di tangannya.

“Yang mana?” Twilight menghentikan aktivitasnya. ‘Kau tahu aku mengerjakan tiga misi berbeda di hari itu.

Sylvia memperjelas, “Misi pesawat kargo di Lanud Nasional Ostania. Yang itu.”.

Oh yang kotak merah berlogo gagak itu.Twilight langsung mengingatnya, “Belum kuserahkan. Harusnya hari ini, tapi tahu sendiri apa yang terjadi sekarang.”

“Jadi kapan mau diserahin?” Sylvia menyerahkan selembar kertas padanya. “Gagak hitam bermata emas itu adalah logo dari Golden Raven. Coba lihat ini, Golden Raven masuk ke dalam kelompok yang pernah berhubungan dengan KIND. Golden Raven juga pernah berhubungan dengan Desmond.”

“Desmond dan KIND berhubungan secara tidak langsung?”

Twilight hampir tak dapat berkata-kata lagi. Semakin banyak ia dan Handler dalami tentang KIND, semakin banyak kelompok atau organisasi yang pernah berhubungan dengan KIND. Ini bisa jadi merupakan penyelidikan terbesar yang pernah dilakukan oleh W.I.S.E..

“Laporan itu kusimpan di Kediaman Forger. Lumayan dekat dari sini, aku bisa mengambilnya sekarang.” Twilight langsung bangkit dari kursinya.

Sylvia buru-buru memperingati, “Bagaimana dengan lukamu? Apa istrimu tidak curiga melihatmu nanti?”

Ah.

Oh ya.

Ia masih mencurigai istrinya.

Hanya gara-gara suara wanita yang terdengar sangat familiar di telinganya di malam itu. Tapi ia masih belum bisa mengenali suara itu dengan benar.

Lama-lama ia bisa gila.

Ia memang perlu memastikan suara yang ia dengar pada malam itu adalah suara dari istri Loid Forger atau bukan. Padahal semalam ia sudah berbincang dengan wanita itu di telepon, tapi kenapa ia masih belum yakin? Kenapa masih belum yakin? Apakah ia merasa… takut?

Twilight, mata-mata terhebat W.I.S.E., takut?

Ia takut pada apa? Takut pada hasil dari dugaanya?

Apa hasil yang harus ia harapkan dari dugaannya itu? Apakah ia berharap kalau hasilnya tidak cocok? Lalu apa? Apa ia harus berharap kalau hasilnya cocok? Terus apa?

Kepalanya pusing. Seluruh retorika tak masuk akal di kepalanya benar-benar membuatnya pusing.

Ingin sekali ia menarik kata-kata yang sudah ia lontarkan sebelumnya. Hal terakhir yang ingin Twilight lakukan sekarang adalah bertemu dengan istri dari Loid Forger. Namun… ‘Kau adalah Twilight. Kau harus professional Twilight.

Twilight menarik napas pelan. Ia mengatur raut wajahnya.

“Darahnya sudah tidak keluar terlalu banyak seperti sebelumnya. Aku pakai baju hitam jadi Yor mungkin tidak akan menyadari kalau darahnya merembes keluar,” ujar Twilight berjalan menuju pintu, tanpa menoleh kembali, “Lagi pula laporan itu tampaknya penting untuk kepentingan ini.”

Wajah Sylvia mengerut, berusaha memahami perilaku dari pria pembohong kelas kakap yang pernah ia ketahui itu. “Ingat apa yang kukatakan tadi, Twilight. Jika kamu ada masalah kecil dengan istrimu—”

“Tidak ada masalah pada operasi Strix, Handler,” tegas Twilight, suaranya terdengar rendah. Tangannya sudah menyentuh gagang pintu, “Aku hanya pulang sebentar untuk mengambil laporan itu dan langsung kembali.”

Lalu tanpa menoleh sedikitpun, Twilight meninggalkan tempat itu.

Sylvia terdiam melihat pintu yang baru saja tertutup. Dengan kepala yang berdenyut dan ekspresi bingung, ia menghela napas. ‘Kau kan bisa menulis ulang laporan itu di sini dengan ingatan supermu itu.


***

Hari yang sama, Minggu, 19 Maret.
Pagi hari, pukul 09.50 waktu setempat.
Di suatu tempat di Berlint, Ostania.
~~~~~

Vine meletakkan cangkir teh yang baru saja ia minum di atas piring kecil. Setelah keheningan yang cukup lama di tengah-tengah kebun yang cantik ini, ia akhirnya memutuskan untuk bersuara.

“Jadi…”

Ia perlahan melirik ke arah seseorang yang sedang memangkas beberapa tumbuhan merambat yang tidak tumbuh dengan sempurna.

“Apa kata klien saya?”

CTAK.

Gunting kebun itu memotong setangkai tanaman rambat yang mengganggu.

“Ada permintaan baru.”

CTAK.

Vine terdiam sebentar sebelum menoleh sepenuhnya ke sosok yang sedang merapikan kebun nan cantik tempat ia berada sekarang. “Lalu bagaimana dengan target sebelumnya? Antoine?”

Sang Pemilik Kebun itu akhirnya meletakkan gunting kebun dan duduk di hadapan Vine. “Sebelum kuberitahu apa permintaan baru dari klienmu dan nasib tugasmu yang belum selesai, bagaimana jika pertama-tama kamu memberitahuku sudah sejauh mana tugas yang belum selesai itu?”

Vine sedikit ragu untuk menjawab. Ia sudah menduga akan ditanya seperti ini. “Antoine masih belum dapat saya temukan…” Vine merasa malu pada dirinya sendiri karena masih belum dapat menyelesaikan tugasnya. “Informasi mengenai dia masih sangat kurang. Tapi saya sudah membersihkan beberapa orang jahat yang bekerja untuknya.”

“Hm, begitu ya…”

“Tapi—” dengan cepat Vine langsung melanjutkan, “mata-mata yang saya temui pada malam itu—yang sudah saya ceritakan sebelumnya—sepertinya mengetahui tentang Antoine! Kurasa kita—”

“Mata-mata dari W.I.S.E.?”

Vine tersentak, terkejut. Bagaimana Tenchō bisa tahu itu? Padahal seingat Vine, ia hanya menceritakan bagaimana ia bisa bertemu dengan mata-mata misterius itu dan gencatan senjata sementara yang tak resmi. Ia belum menyebutkan asal usul dari mata-mata itu pada Tenchō sama sekali!

Apakah Matthew yang memberitahu Tenchō? Ia baru membicarakan tentang asal usul mata-mata itu hanya pada Matthew dan Thorn Princess, tidak ke yang lain!

“Benar,” Vine menjawab tanpa ragu.

“…”

Orang yang duduk di depan Vine hanya terdiam. Ia lalu menopang dagunya dengan kedua tangannya. Matanya kosong mengarah ke kebun yang baru saja ia rapikan. Tampaknya orang ini sedang memikirkan sesuatu dan Vine tidak yakin apa yang sedang dipikirkan olehnya. Entah itu berita baik atau berita buruk baginya.

“Jadi mengenai permintaan baru dari klienmu yang sebelumnya...” Tenchō kembali berbicara, “Kebetulan ia meminta kita untuk bekerja sama dengan W.I.S.E. untuk mencari dan membunuh Antoine.”


***

Hari yang sama, Minggu, 19 Maret.
Pagi hari, pukul 10.20 waktu setempat.
128 Park Avenue, West Berlint, Ostania.
~~~~~

Tangannya sudah memegang gagang pintu selama beberapa detik.

Ini pertama kalinya Loid Forger ragu untuk membuka pintu yang ada di depannya ini. Selama hampir 2 tahun lamanya ia tinggal di tempat ini, keraguan sebesar ini tidak pernah muncul di dalam dirinya sebelumnya.

Twilight mengatur ekspresinya. ‘Fokus, Twilight. Fokus.

Peran Loid Forger harus dimulai kembali.

KREAK!

Loid Forger membuka pintu apartemen tempat ia tinggal bersama keluarga-(samaran)nya. Ia langsung mendapati putri-(angkat)nya sedang sibuk menggambar di seberang ruangan dengan ditemani oleh anjing hewan peliharaan mereka dan istri-(palsu)nya.

Seketika setelah suara pintu berbunyi, putri satu-satunya itu langsung menoleh cepat ke arahnya, sangat cepat sampai-sampai Loid berpikir itu adalah tolehan tercepat yang pernah ia lihat. Lalu sebuah ekspresi—yang saat ini tak tahu kenapa membuat hatinya terasa seperti tertusuk—langsung muncul dari putri kecilnya itu. Wajah anak perempuan itu berbinar penuh semangat.

“Papa pulaaang!!!” sebuah suara melengking langsung menyambutnya. Belum sempat Loid menanggapi suara lengkingan itu, Anya langsung melompat dan berlari ke arahnya. “Apakah sekarang Papa sudah libur??”

Loid meringis. ‘Sama sekali belum. Justru malah lembur yang bakalan menyambutku.’ Ia lalu mengusap pucuk kepala Anya dengan lembut, “Maaf Anya, sepertinya belum untuk hari ini. Sekarang aku pulang karena aku harus mengambil barangku yang ketinggalan…”

Wajah anak itu langsung murung dan Loid seketika membenci dirinya.

“Bagaimana jika—” suara Loid tercekat. Ia langsung mengutuk dirinya sendiri. Apa yang mau ia katakan lagi kepada putri-(palsu)nya itu.

Bagaimana jika kita pergi jalan-jalannya besok saja, gitu?

Bagaimana jika malam ini akan aku masakkan hamburger kesukaanmu, gitu?

Bagaimana jika kita pergi ke aquarium di akhir pekan, gitu?

Bagaimana jika…

Ucapan tanpa kepastian dengan akhir ingkar janji lagikah yang mau ia katakan sekarang? Mau sampai kapan ia akan terus mengulang ucapannya seperti itu pada anak perempuan ini? Tak mungkin ia akan berkata seperti itu lagi kepada anak yang baru saja menatapnya dengan tatapan berbinar seakan-akan dirinya adalah orang yang telah ditunggu oleh anak itu setelah penantian panjang.

Padahal bohong, ingkar janji, dusta, munafik, penipu, atau entah mau disebut sebagai apalagi adalah bagian dari pekerjaanya yang telah ia lakukan selama bertahun-tahun. Tapi kenapa kali ini ia tak mau berkata omong kosong yang akan menghancurkan ekspresi polos itu?

Daripada hanya omong kosong, lebih baik aku diam.

Bagaimana jika… Anya lanjut gambar lagi? Nanti kamu bisa menceritakan padaku apa yang kamu gambar. Bukannya kamu bilang kalau putri dari Keluarga Blackbell memberikan pensil warna yang lebih banyak dari yang aku belikan waktu itu?” akhirnya ucapan itulah yang keluar dari mulutnya.

Putri kecilnya hanya menatapnya dengan iris matanya yang berwarna hijau gemerlap. Tak mengatakan apa-apa lalu mengalihkan pandangannya. Rasanya seperti hati pria itu tertusuk ribuan jarum raksasa yang sebelumnya mengenai pundaknya kemarin malam.

Kenapa ia merasa gelisah ketika anak ini justru tak mengatakan apa-apa?

“Jangan sedih, Anya. Maafkan aku. Oh ya, aku membeli kue,” Loid langsung menunjukkan kotak kue langganan mereka yang ia bawa pada Anya dan meletakkannya di atas meja dapur.

“Selamat datang, Loid,” Yor bangkit dari sofa dan menghampirinya. “Kau langsung pergi setelah ini? Tidak istirahat sebentar?”

“Iya, aku hanya mengambil beberapa dokumen rumah sakit dan kembali lagi ke sana,” jelas Loid sambil melepaskan jaket tebalnya. “Seperti biasa kalian bisa memesan makanan untuk makan si—”

“Tunggu, Loid!” sela Yor cepat. Loid yang sejak tadi berusaha untuk menghindari tatapan mata dengan wanita itu senatural mungkin akhirnya menatap iris merah milik istri palsunya itu. Terlihat wajah wanita itu dipenuhi oleh kekhawatiran.

“A-Apakah kau… terluka, Loid?”

DEG.

Sepertinya jantung Twilight sempat berhenti berdetak, sepertinya. Wanita ini tahu? Bagaimana? Kok bisa? Twilight dengan seluruh kekuatannya berusaha untuk tidak menunjukkan ekspresi terkejut pada wanita itu. Ia mengulum senyum dan membuat wajah bingung, seakan-akan tak memahami maksud dari istri palsunya. “Hm?”

“Aku mencium bau darah—maksudku, aku merasa seperti mencium bau darah—sedikit bau darah. Maaf ini terdengar aneh, tapi aku mempunyai penciuman yang kuat dan aku mencium—tidak, merasa mencium—ugh,” Yor mulai melantur, ia kesulitan untuk merangkai kalimat. Wanita itu kemudian terdiam sejenak sambil menarik napas perlahan, lalu mulai berbicara perlahan secara teratur, “Maksudku, aku mencium bau darah… sedikit… darimu. Kau tidak apa-apa?”

DARAHNYA MASIH TERCIUM?!?!

Dengan keahliannya, secara natural Twilight menjawab, “Aku tidak terluka, Yor.” Ia tersenyum senatural mungkin, “Maaf membuatmu khawatir. Mungkin ini darah pasienku yang terluka semalam. Tapi tenang saja, lukanya tidak parah.”

Yor sedikit bernapas lega, “Begitukah? Kasihan sekali. Semoga dia baik-baik saja. Apakah perlu aku cucikan pakaian yang terkena darahnya?”

“Tidak perlu, Yor. Tidak usah.”

Twilight merutuk dirinya.

Hampir saja aku ketahuan! Yor tidak boleh tahu aku terluka akibat jarum raksasa yang hampir membunuhku semalam!

Kemudian Loid merasakan ada sesuatu yang menarik celananya. Ia menoleh dan mendapati putri angkatnya yang menatapnya dengan tatapan khawatir, ekspresi yang sama seperti yang baru saja istri palsunya buat.

“Papa terluka? Papa bakalan mati?”

“Tidak, Anya. Sudah kubilang aku tidak terluka dan aku tidak mati. Ini hanya darah dari pasienku.” Ia menjelaskan ulang dalam kebohongannya, “Aku baik-baik saja…”

“Tapi—”

“Kau sudah mengerjakan PR-mu? Meski aku jarang ada di rumah bukan berarti kamu bisa malas-malasan dengan PR-mu, mengerti?” tegur Loid, tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengawasi per-sekolah-an Anya di tengah-tengah kesibukannya, juga berusaha untuk mengganti topik pembicaraan.

“Sudah,” ucap putrinya, “Oh ya, kemarin guru Anya bilang kalau sekolah bakalan libur Hari Rabu dan Kamis besok!”

“Memangnya ada apa di sekolah?”

Loid biasanya langsung menggantung jaketnya di rak jaket, tapi karena Yor datang menghampirinya dan tanpa sadar menghalangi rak itu darinya, ia secara otomatis menyerahkan jaket tebal miliknya pada Yor, seperti yang biasa ia lakukan selama ini. Yor menerima jaket pria itu lalu melipatnya menjadi dua bagian di tangannya.

“Anya nggak tau… tapi Anya boleh nggak menginap di rumah Becky lagi? Becky suruh Anya buat cepat menginap lagi…”

Tanpa pikir panjang Loid langsung menyetujuinya. “Tentu saja asalkan kamu selalu menjaga sikapmu di rumah Blackbell.” Lalu dengan cepat Loid berjalan menuju kamarnya.

“Kalau begitu Anya, mari kita mengemas barang-barang yang mau kamu bawa ke rumah Nona Becky,” ajak Yor, “Biar kita tidak terburu-buru seperti kemarin.”

Yap. Kekacauan Keluarga Forger di Sabtu pagi kemarin benar-benar kacau. Benar-benar tidak boleh untuk diulangi lagi.

“Oh ya, Loid. Apakah kamu ingin ganti jaket untuk pergi nanti? Apa jaket ini juga terkena noda darah? Perlukah kucuci?” tanya Yor yang sempat tak sadar jika ia masih memegang jaket yang tadi Loid serahkan padanya seakan-akan merupakan suatu kebiasaan.

Loid yang sudah selesai mengambil berkas-berkas yang ia perlukan kemudian keluar dari kamar. Pandangannya masih terfokus mengecek ulang kelengkapan berkas-berkas yang ada di tangannya. “Hm? Tidak perl—”

DUK!

Sesuatu terjatuh dari saku atas jaket tebal yang terlipat menjadi dua di tangan Wanita itu. Suara benda itu cukup keras ketika membentur lantai, membuat wanita itu menoleh ke arah kakinya. Twilight langsung menyadari sesuatu.

Sial.

“Maaf, ada yang terjatuh dari saku jaketmu,” Wanita itu kemudian membungkuk untuk mengambil benda terjatuh tersebut.

Sial.

Mata Pria itu melotot. Tak habis pikir Pria itu langsung bergerak cepat—lari—mencegah wanita itu untuk mengambil benda itu.

Sial.

“Tunggu Yor!”

Sebagian kertas yang ia pegang di tangannya bahkan terlepas dari tangannya.

Sial.

“Apa ini? Kupu-kupu—” Belum sempat Yor menyentuh benda yang jatuh dari jaket milik Loid, dengan cepat Twilight langsung merebutnya. Putri angkatnya yang menyaksikan itu dapat memastikan bahwa itu adalah gerakan tercepat yang pernah putri kecil itu lihat dari pria itu.

Sial. Sial. Sial.

Yor melompat kaget. “Maaf! Aku tidak tahu kalau itu barang penting dan tidak boleh disentuh!” seru wanita itu panik, benar-benar tidak menduga reaksi yang sangat cepat yang barusan keluar dari Loid. Sangat tidak biasa.

Sial. Sial. Sial.

Tidak. Tidak, bukan begitu. Maafkan aku membuatmu terkejut,” Twilight berusaha untuk mengatur ekspresi dan juga napasnya. “Ini tidak terlalu penting. Ini hanya…”

Twilight langsung memperhatikan ekspresi dan gerak gerik dari wanita itu. Reaksi apakah yang akan wanita itu tampilkan? Terkejut? Bingung? Tidak percaya? Takut? Jelas-jelas wanita itu melihat hiasan kepala ini! Hiasan kepala berbentuk kupu-kupu berwarna putih dengan bercak darah kering! Jelas-jelas wanita itu akan menyadarinya!

Lagian kenapa kamu masih menyimpannya di saku jaketmu, Twilight?!! Kenapa kau begitu bodoh dan ceroboh sekarang?!?!! Kemanakah Twilight yang bekerja sangat profesional?!?!

Kau meragukan wanita ini sebagai wanita pembunuh yang kau lihat kemarin malam, lalu kini kau melakukan kecerobohan?! Bagaimana jika benar wanita itu adalah pembunuh bayaran dan malah membunuhmu!

Wanita itu adalah pembunuh bayaran brutal, Thorn Princess!!

Kau bisa saja mat—

“Maaf, aku tidak tahu kau akan bereaksi seperti itu, Loid. Lain kali aku tidak akan menyentuh barangmu sembarangan. Itu milik pasienmu yang terluka kah?”

i, Ah—hah?

Khawatir. Hanya ada raut khawatir dan menyesal di wajah wanita itu. Tidak ada yang lain. Tidak ada ekspresi terkejut seperti ‘Oh aku tahu benda itu!’ atau bingung seperti ‘Kenapa benda itu ada di sini?’. Tidak ada.

Sama sekali tidak ada.

Seakan-akan Yor tidak mengenali hiasan kepala berbentuk kupu-kupu berwarna putih yang baru saja Loid rebut sama sekali. Seakan-akan ia baru pertama kali melihat benda yang ada di tangannya itu.

Twilight benar-benar tidak tahu seperti apa ekspresi wajahnya sekarang.

Yor tidak… mengenali hiasan kepala ini?

Apakah dugaannya memang salah? Apakah kekhawatirannya terlalu berlebihan? Apakah kecurigaannya terhadap wanita ini memang tidak masuk akal?

Apakah Yor Forger memang bukan Thorn Princess dan ia hanya sedang mengalami paranoid parah?

“Ini…”

Seperti yang ia takutkan sebelumnya. Dugaanya salah, lalu sekarang apa? Merasa bersalah telah meragukan istri palsunya lagi?

Ia berdeham. “Ini memang milik pasienku. Tertinggal di ruanganku dan aku ingin mengembalikannya.” Loid mengambil kembali jaket yang ada di tangan Yor, “Maaf. Tapi tidak perlu dicuci, mau aku pakai lagi.”

Dengan cepat Loid kembali menyimpan hiasan kepala itu di saku dan mengenakan jaket. Berkas-berkas penting yang sempat berjatuhan di lantai langsung ia pungut dengan cepat. Pikirannya sedikit kacau akibat kecerobohannya tadi dan ia ingin segera pergi dari sini. Ia tidak ingin melakukan kecerobohan lagi sekarang. Lama-lama ia bisa gila.

Ia sudah hampir gila sekarang.

“Anya, aku pergi dulu. Jangan lupa kerjakan tugasmu meski sekolah libur,” pamit Loid yang sudah berdiri di depan pintu.

Anya hanya mengangguk dan melambaikan tangannya. Anak perempuan itu hanya terdiam saja melihat kejadian cepat tadi dan sikap ayahnya yang sedikit aneh.

“Hati-hati…”

Borf!

“Dan, Yor,” Loid menoleh ke arah Yor. Wanita itu masih terlihat kebingungan dengan sikapnya yang tiba-tiba tadi. Untuk terakhir kalinya Loid masih tak melihat raut mencurigakan dari wanita itu. “Aku pergi dulu. Seperti biasa kamu dan Anya bisa memesan makanan untuk makan siang, juga makan malam jika aku belum kembali.

“Um, y-ya…” Yor mengangguk, “Hati-hati di jalan Loid.”

Kemudian Loid segera menutup pintu dan bergegas pergi meninggalkan kediaman itu. Ia tidak menoleh ke belakang sedikitpun.

Langkahnya cepat. Ia ingin lari dari tempat itu, tapi kenapa ia harus lari? Kenapa ia harus lari? Ada apa dengan logikanya hari ini—Tidak, beberapa hari terakhir ini?

Ia merasa seperti seorang bocah yang baru pertama kali berbohong.

Ia tak tahu harus bersikap apa. Apa yang harus ia lakukan? Yor Forger—Briar, wanita yang ia curigai sejak kemarin malam sebagai pembunuh bayaran Thorn Princess berdasarkan suaranya. Suara! Hanya sepatah kata dari pembunuh bayaran itu yang membuatnya mencurigai Yor Briar. Kenapa ia bisa yakin bahwa Yor Forger adalah Thorn Princess berdasarkan sepenggal suaranya?

Tunggu, yakin?

Memangnya ia yakin? Ia kan hanya ragu. Ia curiga.

Ia telah larut dalam keraguan dan kecurigaan hingga detik ini sampai-sampai mengganggu keprofesionalitasnya. Lalu apa hasilnya? Ternyata keraguannya salah!

Tapi apakah benar-benar salah? Kenapa ia tidak mengeceknya lebih jauh lagi dan malah kabur? Kenapa dia menjadi pengecut? Ada apa denganmu hari ini, Twilight?! Semua ini tidak ada di kamus profesionalitasmu!

ARGH.

Twilight mengacak-acak rambutnya frustasi.

Tin Tin!

Twilight menoleh dan menghentikan langkahnya. Sebuah mobil sedan berwarna abu-abu berhenti tepat di sebelahnya. Jendela hitam mobil itu perlahan turun, menampilkan rekan mata-mata senior W.I.S.E. yang ia kenal sedang duduk di kursi pengemudi.

“Selamat siang, atau mungkin, selamat malam. Tuk tuk,” sapa pengendara mobil itu, “Permisi, Pak. Bolehkah saya bertanya arah menuju stasiun? Saya tersesat sejak tadi pagi.”

{{Halo, Twilight. Maaf mendadak seperti biasa, tapi tolong segera masuk ke dalam mobil.}}

Pemberitahuan rahasia yang sangat mendadak sekali, seperti biasa. Melihat senior W.I.S.E. yang menyuruhnya segera masuk ke dalam mobil dan tampak terburu-buru membuatnya berpikir sepertinya ia harus segera pergi ke suatu tempat saat itu juga.

“Selamat siang juga, Pak,” balas Twilight, “Kebetulan saya juga ingin pergi ke sana. Bolehkan saya ikut menumpang?”

{{Apakah ada sesuatu yang penting? Kemana kita akan pergi?}}

Pria paruh baya di dalam mobil membuka kunci pintu mobil dan mempersilahkan Twilight masuk. “Oh, silahkan saja. Duduklah. Maaf telah merepotkan.”

{{Atasan memanggilmu. Ada pertemuan penting yang mendadak dan misi baru.}}

Twilight melihat sekeliling sebelum memasuki mobil untuk mengecek kondisi sekitarnya. Hari ini kondisi jalanan sedang ramai dan banyak sekali orang yang berlalu-lalang, banyak sekali mata yang melihat dan telinga yang mendengar. Kemudian ia menaiki mobil tersebut dan duduk di kursi di sebelah pengemudi. “Tentu saja tidak, Pak. Terima kasih atas tumpangannya.”

{{Baiklah.}}


***

Hari yang sama, Minggu, 19 Maret.
Menjelang siang hari, pukul 10.50 waktu setempat.
128 Park Avenue, West Berlint, Ostania.
~~~~~

PRANG!!

“Mama! Ada apa!!”

“Tunggu Anya! Jangan kemari! Berbahaya!” pekik Yor dari arah dapur. Piring yang ada di tangannya tak sengaja terlepas dan pecah berkeping-keping ke lantai setelah ia menyadari sesuatu.

Sesuatu yang amat serius.

Ia begitu bodoh.

Benda yang barusan terjatuh dari saku jaket milik Loid…

Benda yang mirip dengan hiasan kepala berbentuk kupu-kupu itu…

Bukankah itu miliknya?

“Mama nggak apa-apa?” teriak putrinya khawatir.

“Borf!”

Yor langsung berusaha menghentikan Anya yang sedang berjalan ke arahnya, “Banyak beling di sini! Aku baru saja memecahkan piring. Aku tidak apa-apa, jadi jangan mendekat. Nanti Anya terluka.”

“Ba-baik…”

Yor mengutuk dirinya. Kenapa ia tidak segera menyadarinya?! Kenapa ia tidak segera sadar bahwa hiasan kepala itu miliknya?

Itu karena ia benar-benar baru membeli hiasan kepala itu kemarin dan ia tidak terlalu begitu peduli dengan bentuknya saat itu, ia juga baru satu kali memakainya sebelum ia kehilangan…

Tapi itu tidak menjelaskan kenapa ia tidak segera menyadari benda yang terjatuh dari jaket Loid adalah hiasan kepala itu?! Astaga, Yor! Apakah kepalamu terbentur atau bagaimana? Padahal kakimu yang terluka tapi kenapa otakmu seperti ini?!

Yor benar-benar membenci dirinya saat itu.

Anya hanya terdiam berdiri tak jauh dari Yor, memperhatikan wanita itu yang sedang memungut pecahan piring berukuran besar yang tersebar di lantai.

“Aku tidak apa-apa, Anya. Kembalilah menggambar di sofa. Aku akan mengambil piring lain untuk kuenya,” pinta Yor agar Anya segera menjauhi dapur. Awalnya anak perempuan itu sedikit ragu namun akhirnya kembali duduk di sofa bersama dengan anjing peliharaan mereka.

Yor menghela napas, mengutuk kecerobohannya.

Kenapa ia begitu bodoh…

Tapi tunggu, kenapa Loid memiliki hiasan kepalanya? Ia kehilangan hiasan kepala itu di hutan Thuriyen saat melemparkan senjatanya pada mata-mata misterius…

Kenapa hiasan kepala itu ada pada Loid?

Apakah Loid adalah… mata-mata yang dimaksud oleh Vine dan Direktur?

Apakah bau darah yang tadi sempat tercium dari Loid berasal dari luka tusuknya? Tapi Loid bilang ia tidak terluka. Tunggu, jangan percaya Yor! Mungkin saja Loid berbohong… sama seperti dirinya setiap hari…

Loid membohongi…nya?

Napas Yor tercekat. Jemarinya berhenti memungut serpihan piring yang berserakan di lantai.

Loid memiliki hiasan kepalanya yang hilang di dalam saku jaketnya. Ia melihatnya dengan kedua matanya sendiri, hiasan kepala berbentuk kupu-kupu berwarna putih dengan sedikit bercak merah—yang kemungkinan itu adalah darah kering waktu bekas pembunuhan Gracie.

Napasnya terasa berat.

Jadi, ada kemungkinan hiasan kepala itu ditemukan oleh orang misterius tersebut yang Vine bilang, orang tersebut adalah Twilight.

Apakah Loid adalah… Twilight?

Napasnya kacau. Bagaimana ini?

Tunggu, tunggu. Itu tidak mungkin… kan? Tidak mungkin Loid adalah Twilight. Loid kan bekerja sebagai psikiater di rumah sakit Berlint. Tidak mungkin ia adalah mata-mata….

Tapi ia adalah pembunuh bayaran yang juga bekerja sebagai PNS di balai kota.

Mu-mungkin saja ada orang lain selain orang misterius itu yang memungut hiasan kepala itu.

Mungkin saja lagi, itu hiasan kepala milik orang lain! ‘Lagi pula aku memang membelinya di toko pernak pernik biasa sepulang dari tempat kerja!’ Mungkin ada ratusan orang yang mengenakan hiasan kepala yang sama! Mungkin saja itu milik orang lain! Kebetulan saja hiasan kepala itu sama seperti miliknya. Bercak darah yang ia lihat itu hanyalah sebuah corak!

Iya kan? kan?

KRIIIIING!!!

Pikiran beruntunnya akhirnya terputus berkat dering telepon rumah yang nyaring. Ia terperanjat kaget dan langsung menoleh ke sumber suara.

Ah, fokus Yor. Fokus.

“Mama! Telepon!” sahut putrinya dari arah sofa.

“Iya, iya. Tunggu sebentar!”

Dengan kakinya yang jenjang, ia melewati serpihan pecahan piring di depannya dalam satu langkah. Sepertinya pecahan piring ini harus ia tunda sementara dulu. “Aku akan mengangkat telepon, Anya dan Bond jangan pergi ke dapur ya! Masih berbahaya!”

Oui!”

Borf!

KRIIIIING!!!

Dering telepon kembali berdering. Dengan cepat Yor langsung mengangkat telepon itu.

“Halo? Kediaman Forger.”

Kemudian suara yang amat sangat ia kenal terdengar dari telepon tersebut. Suara yang untuk saat ini, sedang tak ingin ia dengar terlebih dahulu.

“Selamat pagi, Thorn Princess. Ada pengarahan baru yang mendesak untukmu. Bisakah kau segera datang ke lokasi ini saat ini juga?”

~ End of Side Mission ~

Preview Next Chapter: Awal
Singkatnya, gencatan senjata resmi dimulai.

Notes:

Mata-mata senior WISE yang ini adalah mata-mata bapak beruban yang kadang suka ikut misi bersama Twilight di Manganya. Sampai penulisan chapter ini, nama bapak tersebut belum diketahui kan ya?

Awalnya Tenchō mau kutulis sebagai 'manager toko'(?), tapi karena kurang sreg jadinya tetep pakai Tenchō. Emang aku plin-plan dalam soal bahasa ヾ( ̄▽ ̄)

Chapter berikutnya akan di up dalam 3 minggu lagi!

[Last Edit : 08/02/2024]

Terima kasih sudah membaca!

Notes:

Halloow! Makasih udah baca sampai sini!

Saat ini, fanfic ini ditulis di sela-sela waktu luangku di perkuliahan semester tua sebagai pelarian ahaha, jadi siap-siap dengan beberapa kalimat yang mulai melantur. Tapi karena ini fanfic pertamaku, aku mau nulis ini sampai tamat, jadi tunggu aja.