Actions

Work Header

Brothers Complex

Chapter 22: Posesif Itu Genetis (Final)

Chapter Text

"Ini aku membawa paspormu, Haiden! Benda ini terjatuh di depan pintu kamarmu!"

Haiden terkejut karena Nicky muncul untuk menyusulnya—tapi dia seribu, dua ribu, bahkan sejuta kali lebih terkejut karena ada dua makhluk jadi-jadian yang berlari di belakang Nicky, jauh lebih cepat dan terlihat sangat siap untuk meringkusnya.

"Woi, bisa-bisanya si kutu kupret mau kabur ke luar negeri!"

"Jadi emang kayak gini ya kelakuan cowok red flag yang sok jagoan!?"

Bukan hanya Haiden dan Nicky yang terkejut, orang seisi bandara juga menoleh pada dua sumber suara yang petentang-petenteng tanpa peduli diamuk massa.

"Orang kayak gini enaknya diapain, Bang?"

"Memangnya dia orang!?"

"Lha terus kalau bukan orang apaan? Titisan genderuwo?"

"Bisa jadi, kan genderuwo suka ngehamilin orang!"

WHAT!!?

Entah apa yang dipikirkan oleh kakak-beradik sialan itu sampai tega membuat Haiden sepenuhnya kehilangan muka.

Mau ngajak berantem di sini, tidak mungkin.

Petugas security akan berbaik hati melempar mereka ke jalanan, atau lebih buruk lagi: ke kantor polisi.

"Mereka kenapa?" Nicky yang berdiri di sisi Haiden, berniat melindungi (2 lawan 2 lebih adil dibanding 1 lawan 2), bertanya sambil mengerutkan kening. "Kesambet?"

"Probably," Haiden seketika berniat untuk pura-pura tak kenal. "Abaikan aja."

"Enak aja abaikan!" Jian hampir berubah jadi titan. "Adikku yang bloon itu bisa kamu abaikan, tapi aku dan abangku? Jangan harap!"

"Astaga," Nicky tak menyangka Raja dan Jian Syailendra terlibat cinta segi empat dengan Haiden dan Shea. "Kamu PHP-in mereka semua? Demi apa?"

Jadi ini Haiden x Jian, Haiden x Raja, Haiden x Shea?

Bjir.

"Jangan berpikir macam-macam, bukan kayak gitu maksudnya." Haiden menyela pikiran Nicky yang meliar ke mana-mana. "Tapi mereka ngomong apa sih tadi? Aku nggak denger."

"Kamu genderuwo," Nicky mencoba menjadi translator bahasa kuyang, "dan suka ngehamilin orang."

Haiden loading. Menatap Raja dan Jian yang bersungut-sungut sambil mengacungkan tinjuan.

"Memangnya iya?" Jangan tahan Nicky kalau dia ingin menampar Haiden sekarang juga. "Siapa—"

Dan seketika ia teringat:

"SHEA?! ASTAGA! YA AMPUN! JADI BENERAN SHEA!?"

Nicky menatap kakaknya dengan bingung.

Ya jangan tanya saya, kan kamu yang berbuat...

"SHEA KAN MAKSUDNYA!?" Haiden mengguncang-guncang pundak Nicky. "SHEA KENAPA!?"

"Sumpah aku nggak tahu, argh sakit!"

"NICK, KENAPA KAMU NGGAK BILANG SAMA AKU, SIH?!"

"Haidenaku nggak tahu apa-apa! Ini pundakku hampir rontok kayak kena gempa bumi!"

"TAPI MEREKA BILANG SHEA HAMIL, NICK!!!"

"Ya tanya aja mereka! Atau tanya dirimu sendiri!"

"YA AMPUN AKU HARUS GIMANA, NICK!?"

"Ya mana aku tahu, Bambang!"

Siapa pula itu Bambang!?

Karena frustrasi, Haiden mulai buntu dan bahkan tak tercetus untuk nanya baik-baik.

Nicky yang sudah mencoba sabar, melihat Haiden malah seperti orang kesurupan, hanya menyingkir tanpa dosa saat bogem mentah dari Jian menghajar muka kakak tirinya.

"Sialan kamu! Sialan kamu! Berani-beraninya merenggut kesucian adikku!"

Nicky menyalakan kamera ponselnya dan mulai merekam video.

Hitung-hitung menyiapkan barang bukti kalau Haiden dikira nimbrung tawuran atau ikut demonstrasi.

Raja yang selalu ingin menjaga tangannya tetap bersih, menatap Nicky dengan bingung.

"Kamu nggak nolongin si curut ini?" Ia menunjuk Haiden yang masih digebukin Jian di lantai, "Nggak kasihan sama saudaramu?"

"Enggak, sih," Nicky berkata datar, balas menatap Raja. "Jivan apa kabar?"

"Oh... baik"—abaikan saja Haiden dan Jian yang mulai dikerumuni para pengunjung bandara yang lain, plus bapak-bapak security—"Kenapa nanyain Jivan? Kangen?" tanya Raja.

"Mana mungkin," Nicky mematikan rekaman videonya. "Gimana? Kalian udah jadian lagi?"

"Hm. Biarin ngalir aja kayak air," Raja mengangkat bahu.

"Air apa?" Nicky berdecak. "Air ketuban?"

"Kenapa jadi air ketuban?" Raja mengernyit.

"Kalau air susu namanya bukan pacar hasil selingkuh."

"Tapi nggak air ketuban juga."

Mendengar kata 'ketuban', Jian yang sedang dikuasai jin ifrit mendadak memalingkan muka pada Raja dengan mata menyala-nyala, "Kenapa ketuban? Cia-ku udah pecah ketuban?"

Dan pertanyaan bodoh itu tidak kunjung dapat jawaban, hingga membuat Haiden makin dihajar sampai berteriak kesakitan.

"LIHAT! LIHAT! GARA-GARA KAMU ADIKKU UDAH PECAH KETUBAN!!!"

Raja dan Nicky hanya menghela napas dalam sambil menggumam, "Apa sih, tolol."

Tidak ada yang bisa melerai pertikaian itu sampai Haiden benar-benar terkapar dan tak bangun lagi.

"Eh, eh! Udah!"

Raja baru sadar pertarungan ini tak seimbang.

Haiden pasrah-pasrah saja (entah mengapa si kampret itu lebih jinak pada Jian dibanding padanya).

Namun, Jian yang masih belum bisa menguasai diri, terus menyumpah-nyumpah supaya di kehidupan selanjutnya, Haiden bereinkarnasi jadi sayur-sayuran.

"Dasar wortel! Buncis! Enceng gondok! Kusumpahi kamu lenyap kecebur kuah sop!"

"Udah, Jian. Udah!" Raja melerai. "Kayaknya dia udah tewas itu!"

Nicky menggeleng heran. Jelas-jelas dia cuma pingsan, tewas darimananya? Dasar kakak-beradik rabun.

"NGGAK BISALAH! NGGAK BOLEH TEWAS DULU!" Jian masih ngelunjak. "Aku belum bilang ke dia kalau harus tanggung jawab! Aku belum sempat ngejelasin apa-apa soal adik kita, Bang!"

"Ya salah sendiri dia keburu kamu hajar," Nicky tak habis pikir, ia terus memenceti ponselnya, entah melakukan apa. "Kalian sengaja bikin ponakan kalian jadi yatim? Belum juga lahir, bapaknya sudah disikat sama penjahat."

"Penjahat?" Baru sadar dirinya kelewatan, Jian terduduk lemas di lantai, memandang Haiden yang terbujur tanpa gerak. "Heh...," ia menyentil pipi Haiden dengan jempol kakinya. "Bangun, woi..."

Tiba-tiba, terdengar raungan suara sirine.

"B-Bang Raja..."

Di sela-sela suara gemetar Jian, Raja menoleh dan terkejut. "Ya ampun! Ada polisi!"

"Huft, akhirnya datang juga."

Nicky baru menyimpan ponselnya dengan tenang saat aparat mulai bermunculan.

"Well, Haiden akan kubawa ke rumah sakit. Kalian nginep di penjara dulu, ya. Siapin aja pengacara biar hukumannya di bawah 15 tahun." Nicky memapah tubuh kakaknya dibantu petugas security yang entah kenapa menurut saja saat dimintanya membantu. "Yuk, Pak. Mari."

"Oh iya. Mari, Mas."

"Bocah edan!" Jian mengumpat saat melihat Nicky mulai menjauh. "Bang, ini gimana kita!?"

"Dosa besar sih, jujur."

"Dosa besar apa!?"

"Kalau sampai bikin ponakan kita jadi anak yatim."

Kok malah ke situ sih. "Lha terus gimana, Bang!? Itu Haidennya sudah hampir koit! Mana aku belum bilang suruh nikahin Cia pula! Jadi nggak kelar ini urusannya!"

"Ya udah tinggal tunggu dia bangun, sih."

"Kalau nggak bangun!?"

"Ya Shea nggak jadi nikah."

"Aduh! Ntar adik kita jadi single parent, dong?"

"Ya kan kamu yang gebukin si kampret itu."

"Abisnya kalau lihat muka dia, bawaannya emosi mulu!"

"Ya udah doain aja bangun."

"Tapi pasti bangun nggak?"

Raja tidak menjawab karena polisi-polisi kesiangan itu sudah bergerak untuk meringkus mereka berdua.

"Pak, borgolnya di kiri aja boleh, nggak?" Jian masih nego. "Soalnya di kanan, aku pakai jam tangan Rolex."

"Lepasin jamnya! Dasar kamu!" bentak polisi itu. "Kamu pikir ini main-main!"

"Enggak bisa dilepas," Jian nyolot, "aku sejak di kandungan udah pakai Rolex."

"Jian... Jian... Nurut aja kenapa sih?"

Raja memijat kening, pasrah-pasrah saja saat digelandang polisi bersama adiknya.

Namun...

"Wait, Pak, di penjara ada Wi-Fi?"

Ternyata si sulung Syailendra juga sama saja.

"Saya masih ada email yang harus dikirim pada investor penting di luar negeri, nih. Baru ingat kalau malam ini deadline-nya. Ada nggak ya, Pak?"


"Shea Syailendra! Shea Syailendra! Mohon keterangannya!"

"Iya! Mohon keterangannya! Apakah benar kakakmu baku hantam dengan Haiden Adhikara!?"

"Sam! Sam! Bisa minta tolong pelanin dikit nggak jalannya Shea?"

"Sam Cassian! Nggak usah pura-pura budeg, ya! Sama-sama pers nggak usah jual mahal! Kita ini satu angkatan!"

Sam yang menjaga Shea dari belakang di perjalanan 'mengerikan' menuju pintu masuk rumah sakit, melemparkan death glare pada para wartawan yang sudah mengepung mereka.

"Sorry, nggak ada komentar dulu ya, teman-teman." Sebagai pemburu berita, Sam sudah lihai untuk mengelak karena dia juga sering ditolak. "Kalian bubar saja daripada mengganggu pasien lain."

"Tapi katanya Raja dan Jian Syailendra menghajar Haiden Adhikara!"

"Iya! Mereka bisa dituntut!"

"Itu tanyakan saja pada mereka! Apa urusannya sama Shea!?" Sam emosi. "Mending kalian pergi sekarang!"

"Bukannya Haiden sampai tidak sadar?"

Sam segera menarik tangan Shea yang sudah sangat siap bertanya 'lho, Sam, tapi kata kamu tadi Haiden masuk rumah sakit karena keselek tulang? Kenapa jadi nggak sadar?'

"Ayo buruan, Elsa!" Tapi Sam tidak membiarkannya bertanya sedikit pun, "Selamatkan diri."

Shea menurut.

Dengan susah payah, mereka melarikan diri dari kepungan wartawan—terima kasih pada Sam yang jago martial arts.

Ternyata dia benar-benar selevel dengan Jackie Chan.

"Sam, Sam! Sebenarnya Mas Ethan kenapa?"

Shea baru berani buka mulut saat mereka sudah terlepas dari pemburu berita yang kelaparan.

"Bukannya dia cuma keselek tulang ikan? Katamu dia nggak bisa bedain bandeng presto sama bandeng yang belum dipresto 'kan? Emang kalau kesakitan keselek tulang bisa pingsan?"

Sam diam saja.

Sejujurnya dia cuma asbun supaya adik ipar sekaligus sahabatnya itu tidak syok.

Namun, yang jadi perkara di sini, Shea malah percaya begitu saja dengan omongannya soal bandeng-bandengan.

"Samantha, Kak Jian dipenjara, ya? Kenapa Kak Jian dipenjara?"

Jian doang yang ditanya? Raja kagak? Dasar bungsu diskriminatif.

Sam memutar mata, jengah. "Elsa, ceritanya panjang, tapi sejujurnya aku juga nggak tahu kronologinya. Sekarang, kita doakan saja Haiden supaya bangun dan bisa bertanggungjawab sama anak kamu."

"Memangnya Mas Ethan kenapa?"

Serius, Sam ingin terjun payung dari puncak Gunung Everest, karena air mata Shea mendadak telah berderai-derai di pipinya.

"Mas Ethan kenapa, Sam? Kenapa kamu nggak cerita aja sama aku?"

Sumpah aku juga nggak tahu. Aku pas itu nggak ada di TKP!

Sam menelan semua kata-katanya itu karena dia yakin Shea tidak akan paham.

Daripada buang-buang tenaga.

"Elsa, sekarang yang penting kamu doa..."

"Doa apa?"

"Doa biar Haiden-mu itu bangun dan nggak kebablasan pergi ke akhirat."

"Ooh, oke."

Sam terus berjalan tapi setengah menit kemudian, dia sudah menoleh ke belakang karena Shea tidak mengikutinya dan malah mematung di tempat sambil memejamkan mata.

"Ih, Elsa! Sini! Ngapain sih, di situ!? Sini, dong!"

Shea membuka matanya dan menatap lugu, "Katanya tadi disuruh doa. Ya udah aku berdoa dulu di sini."

"Ya ampun..."

Demi apapun, Sam tak tahu lagi gimana cara bersabar menghadapi konyol-konyolnya dunia.


"Kakakmu kenapa, Nick?"

Jonathan Adhikara yang baru turun dari mobil bersama pengawalnya, berjalan menghampiri putra bungsunya yang menunggu di salah satu tempat paling privat di parkiran rumah sakit.

"Anak itu benar-benar harus dihajar."

"Sebenarnya Haiden sudah dihajar sampai nyaris tewas," Nicky menjawab, berusaha menerangkan apa yang terjadi. "Jangan Ayah tambah penderitaannya dengan pukulan yang lain. Aku tahu Haiden sudah mengerti bahwa semua perbuatan ada konsekuensinya."

"Sebenarnya apa perkaranya?" Jonathan memandang penuh curiga. "Apa dia berusaha menyabotase penerbangan?"

"Tidak, bukan seperti itu," jawab Nicky. "Sepertinya itu cuma perkelahian biasa."

"Kamu yakin tidak tahu alasannya?"

"Mungkin Ayah bisa tanyakan sendiri kalau Haiden bangun nanti."

"Nick," Jonathan menatap tajam, "kamu jangan mengulur waktu."

"Aku tidak mengulur waktu."

"Nick, aku tahu kamu mau mengambil hatinya Haiden supaya bisa menerimamu sebagai adik," Nicky melirik tangan sang ayah yang menepuk pundaknya. "Tapi bukan seperti ini caranya. Kesalahan, sekecil apapun pun, harus tetap dipertanggungjawabkan."

Nicky tersenyum simpul.

Sayang sekali. Pria yang mengaku ayahnya ini ternyata belum tahu seberapa besar hatinya untuk menghadapi orang-orang bermasalah seperti Haiden dan seisi keluarga Adhikara.

"Aku tidak pernah buang-buang waktu untuk mengambil hati siapa pun," jawabnya tanpa gentar. "Aku menolongnya hanya karena kasihan."

"Kasihan pada Haiden?" Ayahnya terheran-heran. "Tapi dia tidak pernah baik padamu, 'kan?"

"Urusan itu, biar saja jadi urusannya. Urusanku adalah apa yang mau aku lakukan, terlepas dari apapun yang dia lakukan padaku."

"Kenapa kamu sangat naif, Nicky?"

"Karena ibuku juga naif," Nicky tak memudarkan senyumnya. "Bayangkan saja, kalau dia bukan perempuan yang naif, dia tidak akan jatuh ke pelukan seseorang yang jelas-jelas sudah punya anak dan istri."

Pemuda tampan itu tidak memberi kesempatan ayahnya untuk membantah lagi.

Bergegas ia berbalik karena tak ingin membahas dosa masa lalu orang tuanya lebih jauh.

Namun, Jonathan Adhikara yang—baru kali ini—merasa dikalahkan oleh putranya sendiri, mengangkat suara dan berkata geram, "Haiden tidak akan pernah mengerti kalau kamu peduli padanya! Dia cuma peduli dengan dirinya sendiri, Nick!"

Langkah-langkah panjang Nicky seketika terhenti.

Tanpa berbalik, ia menjawab pertanyaan ayahnya. "Haiden bukan peduli pada dirinya sendiri. Dia cuma tidak punya siapa-siapa yang saat ini mau berpihak padanya."

"Jadi apa yang mau kamu lakukan sekarang? Mau sok jagoan melindungi kakakmu?"

"Aku akan pastikan dia sadar dan pulih dengan baik. Ayah jangan mengganggunya, apalagi memaksanya pergi ke Eropa dan meninggalkan apa yang dia cintai di sini," ujarnya penuh penekanan. "Jangan tanya kenapa aku terdengar membela Haiden. Bagaimana pun, seperti kata Ayah saat membujukku untuk tinggal bersama kalian, aku adalah adiknya sekarang."


"Pak, adududuh. Harus banget apa dipenjara? Nggak asyik banget, sumpah."

Jian terus-terusan mengeluh. Sementara Raja masih tampak tegang karena dia belum bisa memegang laptop dan menemukan Wi-Fi yang ia cari.

"Ini kita bisa hubungi siapa gitu nggak, sih?" Jian bertanya pada Raja dari balik jeruji. "Kapolri gitu nggak bisa? Emang keluarga kita nggak kenal?"

"Hubungi Jivan aja," Raja menjawab cepat, "Cuma nomor Jivan yang aku hapal."

"Seriously?" gigi Jian bergemeretak. "Orang bucin memang beda, ya. Dari semua networking yang kamu lakukan sejak balita sampai sekarang, cuma Jivan yang nomornya kamu hapalin?"

"Iya," Raja duduk di pojokan, menatap pada dinding kusam yang dingin. "Soalnya yang lain nggak penting. Apalagi nomor kamu."

"Anjir."

Jian mendekat ke pintu, mengetuk-ketuk gembok agar menarik perhatian polisi yang berjaga.

"Hai, Pak. Boleh dibantu info ayah saya nggak ya kalau anaknya dipenjara?"

"Emangnya ayah kamu siapa?"

"Stevan Syailendra, Pak. Masa nggak tahu, sih? Terkenal lho, sering muncul di TV."

"Ya emangnya kenapa aku harus tahu?" Polisi ketus balik bertanya. "Emang bapak kamu presiden? Bukan, toh?"

Jian yang sangat sensitif mendengar kata 'presiden' langsung memukul jeruji dan berakibat kesakitan sendiri.

"Awas aja ya, kalau sampai saya dipenjara gara-gara Haiden Adhikara, saya bakal balas dendam, Pak!"

"FYI, Jian Archayan Syailendra," Raja menggumam dalam kegelapan. "Yang bikin kita dipenjara itu ya kamu sendiri."

"Hah? Nggak bisa gitulah!" Jian membantah, tak mau kalah. "Pokoknya semua kesialan kita gara-gara Haiden! Nggak ada yang boleh disalahin kecuali dia! Titik!"

"Terserah kamu aja," Raja mulai mengubah posisinya jadi berbaring. "Aku akan menyuruh pengacaraku untuk berbicara dengan Haiden nanti. Sepertinya cuma dia yang bisa meringankan hukuman kita jadi tahanan rumah, atau wajib lapor."

"Jadi kamu mau ngejilat Haiden ikan asin itu? Aku sih ogah."

"For the sake of my company, yes," Raja memejamkan mata. "Kalau kamu masih betah di sini, ya terserah."

"Tapi harga diri kita gimana, Bang? Masa ngemis-ngemis sama orang itu?"

"Persetanlah soal harga diri," Raja menggeram. "Investorku akan banyak yang kabur kalau aku terlalu lama di sini."


"Halo? Stevan Syailendra?"

"Ya, betul. Ini siapa?"

"Jonathan Adhikara."

"Oh, Pak Presiden?"

"Iya, maaf mengganggu tiba-tiba. Ada yang ingin saya bicarakan."

"Oh boleh. Ada apa, Pak?"

"Atas nama anak sulung saya Haiden Adhikara, saya minta maaf yang sebesar-besarnya karena, lantaran kebodohannya, anak saya Haiden telah menghamili Shea Syailendra."

"Hah?"

"Maaf, ini pasti mengejutkan. Penjelasannya panjang dan sepertinya hanya Haiden sendiri yang bisa menjelaskan," Jonathan menghela napas berat, "tapi saya berinisiatif menelepon agar masalah ini tidak menjadi bumerang untuk keluarga kita."

"Ah, begitu. Ya. Saya sudah lama tahu mereka punya hubungan. Tapi tidak menyangka kalau sampai sejauh ini."

"Saya akan berbicara pada Haiden dan memastikan jika dia akan bertanggung jawab," Jonathan berjanji, melirik Nicky yang masih menunggu di sampingnya, "saya tidak akan membiarkan Haiden melakukan kesalahan saya yang dulu. Membiarkan seorang anak tidak diakui sampai bertahun-tahun... Itu adalah dosa besar yang tidak termaafkan."

Nicky tidak bereaksi apapun saat sang ayah mengelus pundaknya.

"Ah, baiklah, Pak Presiden. Saya mengerti. Mari kita bicara lebih jauh lagi secara langsung," tanggapan baik Stevan membuat Jonathan menyunggingkan senyum. "Kita bisa mengobrol untuk membicarakan rencana pernikahan dan memastikan publik tidak tahu ini 'kecelakaan'. Bagaimana?"

"Ya itu ide bagus. Nanti asisten saya akan mengirim jadwal saya yang masih kosong."

"Baik, terima kasih, Pak Presiden."

Telepon ditutup setelah satu kali sapaan sopan.

Nicky menerima ponselnya dari tangan Jonathan dan menyimpannya di dalam saku.

"Mungkin jika tidak ada kamu, sejarah buruk akan terulang, Nick," Jonathan berkata seraya berdiri dan mengancingkan jasnya. "Lekas ajak bicara kakakmu kalau dia sudah bisa berpikir waras. Ayah akan kembali bekerja. Kabari saja kalau ada apa-apa."

Nicky mengangguk, "Ya, Ayah. Akan kutemui Haiden sekarang."


"Permisi. Eeeh ya ampun, Pak Dokter Hewan Ganteng. Kok ada di sini, Pak? Nungguin saya, ya?"

Nicky tersenyum tipis melihat Sam Cassian membuka pintu, membawa Shea Syailendra yang menguntit seperti anak kucing di belakang tubuhnya.

"Samantha," Shea mencolek pundaknya bingung. "Kok dokter hewan, sih? Ini kan rumah sakit buat manusia?"

Namun, Shea langsung kena pelototan galak. "Berisik!" Sam menegur, lalu berpaling lagi pada Nicky dengan senyum termanisnya. "Maaf ganggu. Kami dapat izin dari Bapak-Bapak yang berjaga di luar sana, Pak Dokter."

"Oh, Pak Samsuri?" Nicky membuka pintu lebih lebar agar Sam dan Shea bisa masuk. "Iya, sepertinya dia sudah kenal dengan temanmu, jadinya diizinkan."

"Oh, bukan teman, kok. Saya adik iparnya—"

"Hush, enak aja," Sam terkekeh. "Aku masih single, Pak Dokter. Maaf ya teman saya kadang-kadang suka halu. Padahal kapan saya nikahnya? Kayaknya kok masih gini-gini aja."

"Gini-gini gimana?" Shea protes. "Itu Kak Jian suami kamu, Sam."

"Ih, biarin aja Jian!"

"Haha," tawa Nicky yang sopan dan tampan membuat Sam dan Shea terdiam. 

Dua-duanya tidak berkedip melihat pria yang lebih muda ini. 

Ternyata, adik tiri Haiden Adhikara memang seperti pangeran.

"Baiklah. Silakan masuk. Haiden dirawat di sini atas permintaan Ibu Negara. Hanya ada tamu khusus yang boleh masuk, jadi sepertinya harus tetap kujaga..."

"Oooh. Nggak papa, nggak papa. Pak Dokter di sini aja. Saya nggak keberatan kok. Seneng banget malah."

"Sam," Shea menyenggol pundak Sam. "Ini kapan aku ketemu Mas Ethan-nya kalau kamu ngobrol terus sama dia?"

"Ya sana, gih. Ngapain juga masih di sini? Ganggu orang PDKT aja."

"Ih, dasar nggak jelas." Shea melirik sebentar pada Nicky dan mengangguk rikuh, "Pak Dokter, saya mau lihat Mas Ethan dulu, ya. Permisi..."

"Ya," Nicky memberi isyarat arah dengan tangan kanan, "mari silakan."


"Mas?"

Shea membuka pintu kedua yang memisahkan kamar inap Haiden dengan tempat di mana Nicky dan Sam masih mengobrol seperti teman lama.

Ia membuka pintu dengan hati-hati dan menutupnya dengan hati-hati pula.

Di atas ranjang, Haiden terbaring dalam keadaan kepala diperban dan muka babak belur.

"Mas Ethan baik-baik aja?" Shea sungguh sungkan menanyakan itu. Bagaimana pun—menurut omongan para wartawan—kedua kakaknya lah yang sudah membuat Haiden terkapar di sini.

Shea tidak ingin memikirkan hal buruk. Namun, sepertinya jika Haiden pada akhirnya akan mengusirnya dan menyuruhnya jauh-jauh, ia tidak akan menanyakan apa alasannya.

"Mas Ethan, aku mau minta maaf atas nama Kak Raja dan Kak Jian."

"Kenapa kamu nggak ngasih tahu aku, Dik?"

Haiden yang sudah sadar sejak Nicky membawanya ke rumah sakit, langsung menoleh dan bertanya tanpa berusaha menjawab pertanyaan Shea.

"Kenapa harus Raja sama Jian yang ngasih tahu aku?"

Shea terdiam. 

Tiba-tiba urung mendekat karena ternyata Haiden marah soal itu—bukan karena tubuhnya hancur lebur dan harus dijebloskan ke rumah sakit.

"Sebenarnya...," mata Shea berlarian karena takut. "Sebenarnya aku juga nggak setuju kalau mereka yang ngasih tahu kamu. Aku cuma belum tahu harus gimana..."

"Tapi harusnya aku yang paling duluan tahu," Haiden berusaha duduk, menolak dibantu saat Shea mengulurkan tangan. "Dik, kamu nganggap aku apa, sih? Patung?"

"Aku.. aku cuma takut...," Shea sudah hampir menangis. "Maaf. Aku nggak tahu Mas Ethan bakal bereaksi kayak gimana. Katanya Mas Ethan belum siap jadi bapak."

"Siap nggak siap, ini 'kan harus kita hadapi? Aku kemarin hampir minggat ke luar negeri. Kamu nggak mikir apa yang bakal kamu hadapin sendirian di sini kalau aku terlanjur jauh di Eropa? Kamu nggak mikir risiko apa yang bakal kamu tanggung sendirian kalau hal sepenting ini kamu nggak mau cerita?"

"Aku nggak tahu," Shea menggeleng berkali-kali. "Aku cuma nggak mau ngerepotin aja..."

"Ngerepotin apa?" Haiden menggunakan tangannya yang masih tersambung selang infus untuk merenggut Shea mendekat. "Kamu harusnya marah sama aku karena masa depan kamu udah aku kotorin. Apa kamu nggak kepikiran buat nampar aku dan minta biar aku nggak pergi ninggalin kamu?"

Shea belum berani menatap Haiden, "Memangnya kalau aku minta Mas Ethan nggak pergi, Mas Ethan bakal dengerin aku? Kan Mas Ethan harus kuliah di London..."

"Kenapa kamu selalu mikirin orang lain dibanding diri kamu sendiri?" Haiden menyentuh pipi Shea, memintanya bersitatap. "Shea Ellio Syailendra, dari awal aku itu nggak pantas buat kamu. Kamu terlalu baik, aku lebih takut kamu kusakiti dibanding kamu nyakitin aku."

"Mas Ethan...?"

"Aku sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu. Nggak ada yang bisa gantiin kamu—siapa pun nggak ada yang bisa. Kamu hidup aku. Aku bakal berusaha keras biar kamu selamanya bahagia sama aku." 

Haiden merasakan tubuh Shea mengejang saat ditariknya dalam pelukan. 

"Bilang kalau kamu datang ke sini buat nagih pertanggungjawaban. Aku bakal ngasih kamu apapun yang kamu mau."

Shea tidak berkata apapun, hanya membenamkan wajahnya di cekungan leher Haiden yang hangat.

"Dik Shea, kita hadapin ini sama-sama, ya? Kamu mau 'kan, nikah sama aku?"

Alih-alih mengangguk, Shea hanya menarik kepalanya, lalu mendekatkan bibir mereka.

"I love you, Shea Syailendra."

Tanpa membuang kesempatan, Haiden segera menyambarnya jadi ciuman yang sangat dalam.


Seminggu kemudian...

"Males banget nggak sih wajib lapor terus sampai 5 bulan? Mana tiap lapor sama Mama disuruh bawa makanan. Ya gorengan, jajan pasar, sampai lontong isi oncom disuruh bawa buat polisi-polisi itu. Tiap minggu jok mobil sport kita kena minyak semua."

Jian menutup pintu Porsche 911 berwarna merah yang ia tunggangi bersama kakaknya.

Raja membetulkan kacamata hitam sambil menatap jalanan, "Ya masih mending kita nggak ditahan lebih dari dua hari. Kalau sampai telat dibebasin waktu itu, investor penting dari luar negeri bisa gagal deal sama Syailendra Ventures."

"Bang, kamu tuh ya...," Jian gemas. "Kerjaan mulu yang dipikirin. Jangan-jangan kalau udah di liang lahat kamu juga masih bakalan nanya tuh apakah proyek kamu nembus atau kepental."

"Emang tujuan hidup aku apa sih kalau bukan itu?" Raja menjawab santai, mobilnya mulai melaju membelah jalanan. "Lagian Jivan sampai sekarang juga nggak ngasih kejelasan."

"Makanya cari yang lebih jelas," Jian bersungut-sungut, padahal perjuangan cintanya untuk mendapatkan Sam juga sama-sama tak jelas. "Setelah ketemu langsung sama Nicky Dante Adhikara, aku sekarang paham kenapa kalian nggak kunjung jadian. Dia ganteng banget, Bang. Jivan seratus persen pasti gagal move on dari dia."

"Jivan nggak ngelihat fisik," Raja merespon kesal. "Lagian Nicky itu masih muda. Jauh lebih muda dari kita semua. Mana bisa dia nikah dalam waktu dekat. Dia sama Jivan udah kayak ponakan sama tantenya."

"Bjir, nggak sejauh itu kali jarak umurnya," Jian melengos. "Itu kamu aja yang ketuaan."

"Sialan kamu, ya!"

Jian masih tertawa-tawa mendengar umpatan Raja, sebelum matanya menangkap keberadaan sesosok Barbie imut yang pastinya akan membuat mata keranjang abangnya lupa daratan.

"Eh, eh! Kiri-kiri!"

"Ngapain, sih?" Raja senewen. "Dikira angkot!?"

"Udah buruan kiri dulu!"

Dengan kesal, Raja menepikan mobilnya.

Karena terlalu fokus pada jalanan, ia tidak melihat sosok imut Jivan yang sedang menunggu taksi untuk kembali ke sekolahan.

"Hai, cantik. Masuk yuk, mobilnya masih lega. Tenang, nggak bakal dibawa ke hotel," Jian membuka pintu dengan sumringah. "Ada yang mau aku bicarakan atas nama abangku yang bloonnya nembus ke angkasa. Douzo."

"Kok kalian di sini?" Jivan bingung. Namun, Jian Syailendra terlalu flamboyan untuk ditolak. 

Ia duduk di jok belakang, melirik pada Raja yang salah tingkah.

"Mau ke mana? Balik ke tempat kerja, ya?" Jian masih senyum-senyum. "Supirku tahu 'kan alamatnya di mana?"

Raja belum bicara apapun, sehingga Jian merasa harus mewakilinya.

"Jiv, awal bulan depan adikku menikah sama anak presiden yang songong itu, kamu bakal datang 'kan?" Jian to the point. "Masalahnya, aku kebetulan udah nikah juga. Tapi kakak sulung aku agak kurang beruntung nih, kisah cintanya."

Jivan kembali melirik Raja. Sekarang, pria muda itu tampak memucat di balik setir kemudinya.

"Sebenarnya kasihan, sih, kalau sampai dilangkahi dua kali. Pertama, sama aku. Kedua, sama Shea. Kan kasihan, ya? Padahal dia pengusaha sukses. Rumahnya banyak, mobilnya apalagi. Siapa pun yang jadi istrinya pasti bakal bahagia lahir batin. Udah jago masak, poliglot, suka anak kecil... Pokoknya nggak ada kekurangannya satu pun, kecuali bucin gamon sampai bertahun-tahun."

Jivan terkejut karena Jian sangat blak-blakan.

Ia butuh beberapa menit sampai akhirnya punya keberaninan untuk bertanya, "Jian, aku bukannya nggak mau. Tapi apa kakakmu yakin kalau nikah sama orang biasa kayak aku?"

"Oooh, jelas pantas," Jian meyakinkan dengan ekspresi berapi-api. "Meskipun agak workaholic, aku bisa memastikan dia cuma mau sama kamu. Kalau nggak dapat kamu, dia pasti bakal kerja seumur hidup dan nggak mau nikah. Kasihanlah, nanti Mama sama Papa aku kekurangan cucu."

"Ow...," Jivan meringis. "So sad."

"Makanya, udah kamu nikah aja sama dia. Biar dia nggak jadi perjaka selamanya."

Raja mulai terbatuk-batuk. Entah setelah ini dia harus menggampar Jian atau memeluknya.

"Tuh, dia udah sakit-sakitan, Jiv. Udah batuk-batuk. Udah tua soalnya."

"Berhenti bilang aku tua ya, bangsat. Kita cuma beda 5 menit..."

"Tuh 'kan, Jiv, orang tua sukanya marah-marah... Daritadi aku dibangsat-bangsatin."

"Tolol!"

"Ya udah deh kalau kamu maksa," Jivan memotong percakapan mereka agar tidak berubah jadi pertengkaran. "Kalau emang kakakmu mau sama aku, dia mau ngajak nikah kapan?"

Jian tertawa kencang sampai refleks memukul pundak Raja.

Raja terbeliak sampai menginjak rem dadakan.

"Serius kamu mau sama aku, Jiv?"

Ia menoleh ke belakang, menemukan Jivan memandangnya dengan mata berbinar-binar.


"Ayo makan. Kamu harus makan supaya cepat sehat dan bisa pulang."

"Dik Shea."

"Hm?"

"I love you."

"Oke," Shea mengambil buku catatan kecil di atas nakas, menggoreskan garis yang ke-189 untuk hari ini. "11 kali lagi menuju 200."

"I love you, I love you, I love you, I love you, I love you, I love you, I love you, I love you, I love you, I love you, I love you."

"Wah, pas 200."

Shea meletakkan bukunya, menyendok makanan dari mangkuk, dan meminta Haiden membuka mulut.

"Jangan yang itu," Haiden tidak berpaling sedikit pun dari wajah cantik Shea, "aku benci sayuran."

"Sejak kapan?" Shea mengerutkan kening. "Kamu bukan orang yang pilih-pilih makanan."

"Sejak kapan...?" Bahkan Haiden perlu mengingat lebih lama; ia masih tidak menyangka akan memiliki Shea sepenuhnya.

Ayahnya telah datang hari ini dan mengatakan jika ia sudah menyelesaikan urusannya dengan Stevan Syailendra. 

Semuanya telah diatur. Mereka hanya tinggal pulang dan menikah.

"Dik Shea, nggak bisa ya kita nikahnya dipercepat? Pakai jalur express gitu? Jalur prioritas?"

"Hah?" Shea tertawa kecil, mengelus pipi Haiden dengan sayang. "Sabar. Kalau masih babak belur begini, nanti difoto jadi kurang tampan."

"Peduli amat," Haiden menyingkirkan mangkuk di tangan Shea, memaksanya agar mau dipangku. "Serius, kalau bukan karena kamu, aku nggak mau jadi adik ipar Jian dan Raja."

"Hush, jangan gitu. Nanti mereka jadi kakakmu. Kamu harus panggil 'Kak Raja' dan 'Kak Jian."

Haiden mendengkus, "Nggak sudi."

"Kenapa nggak sudi? Kamu mau kuhajar sampai kolaps lagi?"

Shea buru-buru berdiri.

Suara Jian yang nyaring dan galak terdengar dari pintu yang terkuak.

Shea kira Jian datang bersama Sam, tapi kakak keduanya itu justru tengah mendorong kursi roda seorang wanita, "Nih, Haiden, Nyonya Adhikara mau lihat calon mantunya."

Detik itu juga, Haiden meraih tabung infus dan melompat dari ranjang. 

"Ibu!"

Bukan hanya Haiden yang bersimpuh di kaki sang ibu, Shea yang merasa bersalah karena menganggap dirinya ikut menyebabkan huru-hara, ikut berlutut di samping Haiden yang sekarang dipeluk oleh ibunya.

"Maafin Haiden ya, Bu... Haiden pasti bikin kecewa Ibu..."

"Mas, jangan bilang gitu," Maharani Adhikara menepuk-nepuk pundak putranya. "Ibu nggak apa-apa, kok. Mas Haiden nggak pernah bikin Ibu kecewa."

"Tapi Haiden udah bikin Ibu malu."

"Mas, Ibu nggak bakal malu kalau Mas Haiden bertanggungjawab sama apa yang udah Mas Haiden lakukan," ibunya meraih tangan Shea, menyatukannya dengan tangan Haiden di atas pangkuan, "kalian tahu nggak, hari ini Ibu ngerasa jauh lebih sehat karena dokter mengizinkan Ibu ketemu sama kalian. Kalau ada orang yang paling bahagia karena kalian akan menikah, itu adalah Ibu."

Shea tidak berani mengusap setitik air mata yang jatuh di pipinya, saat ibu Haiden menyerahkan cincin kawinnya untuk dipasangkan oleh Haiden ke jari manis Shea.

"Jangan sakiti anak cantik ini, ya," tangan hangat sang ibu menyentuh lembut dagu Shea, "Haiden harus janji untuk selalu membuatnya bahagia."


Lima Tahun Kemudian...

"Kak Jivaaan! Ayunan yang di depan pataaah!"

"Ya ampun. Lagi?"

Jivan yang sedang menulis laporan tentang hasil pemeriksaan gigi anak-anak, harus dibuat pening lagi karena di bulan ini, ayunan di taman TK sudah patah untuk yang keempat kalinya.

"Pasti anak itu lagi."

Minggu-minggu belakangan ini, rasanya ujian penguji kesabaran tidak berhenti datang.

Jivan mulai stres, mulai berpikir untuk mengambil cuti secepatnya sebelum anaknya lahir; meskipun sebenarnya Raja sudah ratusan kali mengatakan, setelah menikah Jivan sebenarnya tak perlu kerja jadi guru lagi.

"Biar aku aja yang ngurusin mereka, istirahat saja di sini," teman sesama gurunya mengingatkan. "Ingat, Jiv, kamu udah hampir empat tahun lebih nunggu buat punya bayi. Lagian ini juga udah jam pulang TK."

"Nggak papalah. Gimana pun itu keponakan aku. Aku ke sana dulu, ya."

Jivan berjalan pelan menuruni tangga.

Ia menghampiri seorang anak berambut jabrik yang sedang merundung dua temannya.

Bocah kecil itu masih TK A.

Berani-beraninya dia mengajak bertarung dua bocah gendut dari TK B.

Pakai bawa-bawa tongkat bisbol pula.

"Jino Alexander Syailendra," Jivan susah payah berjongkok di depan bocah yang sekarang bersungut-sungut itu, mencoba merebut tongkat bisbolnya tapi dihalangi. "Kamu kenapa lagi, sih? Jangan berantem terus dong, nanti dimarahin Mama sama Papa, lho."

Anak kecil dengan rambut lurus jabrik dan pipi bulat seperti cimol itu menatap Jivan penuh semangat, "Jak bakal mayah, kok. Papa acu biyang, kalau ada yang nacal, acu boyeh puculin."

"Ya ampun," Jivan memijit kening. Bocah ini bahkan belum bisa ngomong dengan benar, tapi sudah mau jadi preman. "Kayaknya habis ini aku harus ngomong serius sama Jian dan Sam..."

"Abicnya dua oyang jeyek itu mau godain Haica. Acu gak teyima!"

"Ya ampun, Jino...," sungguh, buah memang jatuh nggak jauh dari pohonnya. Meskipun secara fisik lebih mirip ibunya, bocah laki-laki berusia empat tahun ini punya tabiat fotokopian sifat bapaknya. "Ya udah, sekarang Haisha ada di mana?" tanya Jivan. "Lari ketakutan?"

"Bayusan diyemput cama Om Nici."

"Dijemput Om Nicky?"

"Iya, Om Nici."

"Oh, kalau gitu Jino siap-siap pulang juga, ya. Ayo ambil tasnya di kelas, sayang."

"Iya, mau calim dulu."

"Anak pintar."

Jino berlari menuju kelas setelah mencium punggung tangan Jivan.

Sementara itu, gurunya harus susah payah berdiri.

Jivan berjalan secepat yang ia bisa menuju tempat parkir.

Di lahan luas yang sepi itu, Haisha Elaira Adhikara sedang digendong oleh seorang pemuda yang memegang gulali di sebelah tangannya.

"Malam ini aku nginep nggak di rumah Om Nicky?" bocah cantik yang duduk di TK B itu memeluk leher adik ayahnya dengan sayang. "Kata Kakek, Om mau pergi ke luar negeri, ya?"

"Iya, tapi masih minggu depan. Om dapat kerjaan di organisasi internasional perlindungan hewan. Doain Om, ya?"

"Tapi nanti Om Nicky sering pulang, nggak?" Haisha memeluk leher Nicky makin erat.

Kulitnya yang sangat putih seperti ibunya, tampak kontras dengan jaket merah yang dikenakan oleh pamannya.

Mata Bambi-nya yang diturunkan dari sang ayah, berkaca-kaca menatap Nicky.

"Aku nggak suka sama Ayah. Ayah suka ngerebut Bunda. Aku sukanya sama Om Nicky."

"Haha, ya udah, nanti Haisha ajak Ayah sama Bunda buat nemuin Om. Gimana?"

"Memangnya Om Nicky kerja di hutan, ya?"

"Bukan, sayang. Om kerja di organisasi milik PBB."

"PBB itu apa?" Haisha bertanya, tapi segera minta turun dari gendongan saat melihat gurunya mendekat. "Om Nicky jangan gendong-gendong aku terus, dong! Aku bukan anak kecil!"

Namun, dasar gengsian, bocah perempuan cantik dengan kuncir dua di kiri dan kanan itu langsung berteriak untuk dilepaskan.

Dasar anak Haiden. Nicky menggeleng maklum.

"Nick, udah lama di sini?"

"Oh, Jiv, hai," Nicky menyapa canggung. "Wow. Bentar lagi beneran jadi ibu," ia menujuk perut Jivan yang disembunyikan di balik seragam dinasnya.

"Yah begitulah. Ngomong-ngomong, semua orang akan liburan ke Bali. Pesawatnya berangkat nanti malam," Jivan tiba-tiba memberi tahu. "Raja menyuruh aku meneleponmu, tapi kebetulan kamu di sini untuk menjemput Haisha."

"Oh, Bali?" Nicky mengangguk-angguk, "Ya, kakakku sudah bilang minggu lalu. Tapi maaf, aku nggak bisa ikut. Ada urusan visa yang harus aku tangani hari ini. Nggak apa-apa 'kan?"

"Oh," Jivan tersenyum kecut, "sayang banget."

"Mungkin next time," Nicky menggaruk tengkuk. Sudah lama sekali rasanya ia tidak berbicara dengan Jivan berdua saja.

Lho, tunggu.

Kok berdua?!

"Haisha! Astaga! Haisha mana!?"

"Hah?"

Nicky berlari mencari keponakannya yang raib begitu saja, sementara Jivan sudah tahu harus mencari Haisha di mana.

Entah harus berapa kali sehari dia harus menengahi pertengkaran antara krucil-krucil itu.

Dan lagi-lagi, jagoannya tetap sama:

"Jinooo! Sudah berapa kali Kakak Guru bilang, jangan mukulin teman-temanmu lagi!"

"Tapi Upin cama Ipin godain Haica! Meyeka nayik-nayik yambut Haica!"

"Namanya Raven dan Revan, bukan Upin sama Ipin, Jino!"

"Acu beyum bica ngomong 'L"! Upin cama Ipin lebih enyak!"

Nicky ikut melerai pertengkaran itu.

Ia mengambil Haisha yang sudah menangis karena rambutnya dijambak.

Sementara Jino masih menyumpahi dua anak kembar di depannya agar jadi sayur-sayuran, padahal bocah-bocah itu sudah menangis sampai meraung-raung karena lututnya ditendang.

Di tengah pertengkaran para bocil kematian, dua mobil mendekat ke gerbang TK.

Jian dan Sam Syailendra turun dari mobil pertama dan bergegas menghampiri mereka.

"Jino! Astaga, ya ampun Jino!"

Sam buru-buru menggendong anaknya yang masih sekecil biji kecambah, tapi tengilnya luar biasa.

"Kamu kenapa sih, Nak, berantem terus? Nggak capek apa, nggak di rumah, nggak di sini, kamu marahin semua orang yang deketin Haisha?"

Bahkan tanpa bertanya apa sebab pertengkarannya, Sam sudah tahu keributan itu karena apa.

"Udah, kalau nakal terus, Jino nggak boleh ikut Mama sama Papa ke Bali pokoknya!"

"Gak mau, Mama!" Jino langsung protes. "Jino mau ke Bayi buat jagain Haica!"

"Hih, dasar tuyul posesif!" Jian menoyor jidat anaknya. "Haisha nggak bakal kenapa-kenapa juga kalau kamu nggak ikut, bocah!"

"Kalau ngomong tuh minimal ngaca. Dia posesif itu nurunin siapa coba!?" Sam menjauhkan anaknya dari Jian, memandang Shea dan Haiden yang muncul belakangan dari mobil yang lain. "Parah. Kayaknya Jino udah nggak bisa diselamatkan deh, Guys."

"Ya maklumlah," Haiden mendengkus. "Turunan bapaknya 'kan emang kayak gitu."

"Eh, kampret!" Jian langsung menyalak. "Aku juga nggak bakal kayak gitu ya kalau kamu nggak ngehamilin adik aku!"

"Buktinya adik kamu juga seneng-seneng aja jadi istri aku! Mau ngomong apa, ha!?"

"Siapa bilang dia seneng!? Kemarin aja dia nangis di dapur!"

"Itu dia lagi ngiris bawang merah!"

Sam dan Shea hanya bisa menggeleng sambil menggendong anak mereka menjauh dari bapaknya yang sama-sama korslet.

"Udahlah, kita tinggalin aja kali ya ini orang berdua?" Sam memberi usul.

"Iya, udah. Nggak usah diajak ke Bali. Daripada ribet, soalnya mereka nggak bisa dimasukin bagasi," Shea setuju.

Keduanya sudah berjalan menjauh, sebelum Nicky yang berdiri di sisi Jivan, tiba-tiba berteriak penuh kepanikan:

"Shea, Sam! Ini kayaknya Jivan mau lahiran!"

TAMAT

Notes:

Raja's dictionary:

Isso e besteira (Portuguese): "Omong kosong"