Actions

Work Header

10 Days (But It Lingered)

Summary:

Do Eunho and Chae Bamby started to dating—only for 10 days, for work purposes.

Their feelings? Definitely not part of the deal. Which, of course, could mean nothing.

Notes:

Loosely inspired by the iconic romance/melodrama movie, “How to Lose a Guy in 10 Days”

This fanfiction explores similar themes through an original storyline with reimagined dynamics and setting!

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: All for Show

Chapter Text

How to lose a guy in 10 days, adalah sebuah judul majalah yang akan ia tulis di bulan ini. Membaca dengan seksama sebuah alamat surel yang diberikan oleh atasannya. Sedikit menyesal telah memberikan ide untuk majalah barunya. Sebab, ia harus menulis ide konyol ini dengan pengalaman pribadinya.

Bamby menghela napasnya dengan berat, tepat dengan datangnya dering pada ponselnya.

“Oh, Kak Noah. What a great day,” ujarnya menahan dirinya untuk tidak merutuk pria itu ketika ia mendengar kekehan kecil di penghujung telepon.

“You got the email?”

Bamby berdeham kecil sebagai jawaban. Lalu kembali menatap layar laptopnya.

“Yeah. No need to call me for that.”

Terdengar kekehan penuh kepuasan di ujung telepon. Ia tahu bahwa atasannya itu teramat bahagia setelah menyetujui ide konyolnya.

“You sound grumpy.”

“And whose fault is that?”

Bamby menekan tombol speaker pada ponselnya, lalu melemparkan benda itu ke atas ranjangnya. Lalu sibuk melepaskan kancing pada kemejanya.

“Ini ide lo sendiri, By.”

“I was drunk, Kak.”

“I dont care. Good luck!”

Beep. Teleponnya terputus dalam sekejap.

Bamby kembali menghela napasnya seraya melempar kemeja bermotif garis itu ke lantai. Ia mendekat ke arah meja kerjanya, mengambil sebuah buku catatan dengan sampul berwarna merah muda. Ia membuka buku catatannya itu sembari melangkah menuju lemari pakaiannya, memilih beberapa pakaian klasik di koleksinya.

Mencari sebuah halaman di mana terdapat sebuah catatan yang ia tulis kemarin malam, ketika dalam keadaan setengah sadar. Sebuah sketsa kasar tentang bagaimana majalah yang akan ia terbitkan selesai.

How To Lose A Guy In 10 Days, written by Chae Bamby.

Tertata rapi langkah-langkah yang harus ia lakukan. Mungkin ia cukup sadar untuk menulis sesuatu serapi ini.

Bamby memijat pangkal hidungnya dengan frustasi. Menertawakan tulisannya sendiri, di mana ia harus menemukan sebuah pria, dan membuat pria itu membuangnya dalam sepuluh hari.

Ide ini konyol.

Bagaimanapun ini tak masuk akal. Membuat pria meninggalkannya dalam sepuluh hari? Bamby yakin tidak akan ada yang membaca majalahnya kali ini. Siapa yang membutuhkan sebuah tutorial supaya dirinya dapat dibuang oleh kekasihnya? Hanya orang yang secara mental tidak waras.

Bamby melirik ponselnya yang kerap berbunyi. Tangannya bergerak mengambil benda itu, yang menampilkan beberapa lokasi sebuah bar. Ia melirik pada kontak sang pengirim, tentu saja, sahabat karibnya yang juga atasannya itu adalah dalang dari semua kesialan di hidupnya.

Dengan penuh kasih sayang, Han Noah menuliskan satu baris pesan yang membuat Bamby melempar ponselnya asal, “You got no time.”

 


 

Tumpukkan kertas dan berkas tanpa identitas di hadapannya telah menjadi saksi bahwa pemuda bernama Do Eunho itu belum mendapati dirinya beristirahat selama tiga hari berturut turut. Dengan layar ponselnya yang tak kunjung berhenti menunjukkan sisa waktu yang ia miliki sebelum pertemuannya dengan sosok penting pada proyek besarnya kali ini.

Sebuah proyek besar terkait iklan perhiasan terbaru yang akan rilis dalam waktu dekat. Tempat yang cocok untuk dirinya mengambil alih posisi utama pada iklan tersebut yang yakni akan membuat namanya bersinar.

“Eunho? Lo nggak ikut meeting malam ini? I thought you want that project so badly.”

Kalimat yang dilontarkan salah satu rekan kerjanya itu mampu membuat Eunho berdiri dari kursinya. Alisnya bertaut seraya melirik ke arah ponselnya, pukul enam sore. Hari sudah menuju malam, namun pertemuannya baru akan dimulai pada pukul delapan malam. Raut wajahnya menagih sebuah penjelasan.

“They rescheduled it. Lo nggak tau?”

Eunho terdiam sejenak. Ia tidak tahu menahu perihal pergantian jadwal untuk meeting tersebut.

Pemuda itu bergegas mengambil ponsel serta satu setel pakaian yang jauh lebih formal. Secara gegabah melepas kemejanya yang tak ia ganti sejak kemarin sore. Mengganti kemeja tersebut dengan satu pasang jas yang lebih formal. Tak lupa menyempurnakan penampilannya dengan beberapa semprotan parfum khas pemuda itu.

“Gue duluan!” Teriaknya setelah berlari keluar dari ruang kerjanya.

Dengan penampilan seadanya—yang masih mampu membuat puluhan orang menolehkan kepalanya ketika ia lewat—Do Eunho mengendarai sepeda motornya dengan terburu-buru. Sesekali mengabaikan lampu merah yang menghalanginya.

Do Eunho mendatangi sebuah bar ternama yang penuh dengan beberapa sosok penting dari kalangan atas. Termasuk atasannya dan klien yang akan berada digenggamannya.

Ia tersenyum bangga sembari melangkahkan kakinya mendekati mereka. Dengan penuh percaya diri menyapa dan mendudukkan dirinya diantara kedua orang di sana.

“Oh, i’m truly sorry for being late. Hello, madam.”

Kliennya, tokoh ternama yang akan memberikan berlian berharganya untuk keperluan periklanan perusahaannya. Wanita paruh baya itu tersenyum memaklumi. Sedangkan atasannya sedang menatapnya penuh rasa jengkel.

“Do Eunho, I did not remember you are part of this meeting. I’m sorry, madam, there must be a mistakes—“

“I am. You should check your mail.”

Do Eunho tersenyum jahil setelah melihat ekspresi atasannya yang kebingungan mendengar kebohongannya. Ia melirik sekitar sembari merebut gelas penuh whiskey milik seniornya itu. Menelan sedikit isinya sembari mendengarkan arah topik pembicaraan yang dilakukan dua sosok di hadapannya.

Lima belas menit terlewati dengan percakapan ringan yang diselipi gurauan. Hingga akhirnya projek besarnya ini menjadi topik utama di meja mereka.

“Everyone loves luxury. All they need is love— for diamonds.” Adalah kalimat penutup yang diberikan wanita paruh baya itu.

“I can handle luxury.”

Atasannya menggeleng tak setuju. Ia melirik pada wanita di hadapannya. Ingin memastikan dan meyakinkan untuk memilihnya sebagai pion utama di projek ini.

“I sell luxury better than anyone else, Do Eunho.”

“Sure. But I know love more than you. I can make anyone fall in love with me. Anyone, anywhere, anytime.”

Pemuda itu melirik sekelilingnya. Lalu menatap sang klien dengan wajah penuh harap supaya ia mempercayainya.

“Fell in love with you? or with diamonds?”

“Either one.”

Wanita tua itu tertawa menanggapi ungkapan angkuh pria di depannya ini.

“Oh, ya? I would like to see you prove that,” timpal seniornya yang masih tak senang dengan kehadirannya.

Eunho mengangguk semangat. Akan ia buktikan bagaimanapun caranya. Akan ia dapatkan posisi kepala pelaksana proyek ini.

“There’s a party next week after sunday. You think you can make anyone fall in love with you by then?”

Tak diberikan kesempatan menjawab, pria itu menepuk bahu Eunho perlahan, meminta pria itu menoleh ke arah kerumunan manusia. Terlihat banyak wanita dan pria dari berbagai kalangan, dari yang biasa saja hingga para sosok berjabatan tinggi.

Dihabiskan lima menit untuk memilih target yang tepat untuknya. Kerap ditolak sebab perbedaan pendapat oleh kedua rekan kerja itu. Hingga akhirnya seseorang menarik perhatian sang senior.

Lagi-lagi ditepuk bahunya. Dipaksa melirik ke sudut ruangan. Berdiri seorang pria dengan pakaian kasualnya. Sibuk memainkan ponselnya di tengah-tengah ramainya bar ini. 

“Look, that guy. The pink haired one. He is clueless, don’t you think?”

Do Eunho mendengus meremehkan. Menatap lamat-lamat paras serta tingkah kikuk pria yang hanya berjarak beberapa meter dari dirinya berada.

“Alright, it’s settled.“

Tangannya bergerak kembali untuk mengambil satu tegukan whiskey milik seniornya itu. Ia berdiri, merapikan penampilannya sebelum akhirnya meninggalkan pertemuan pentingnya itu. Ia melirik sekitar, kerap melangkahkan kakinya dengan penuh percaya diri.

Sedangkan di satu sisi, pria dengan surai merah muda itu tak kunjung lepaskan atensinya dari benda persegi di genggamannya. Kakinya bergerak gelisah, seakan tak pernah datangi tempat seperti ini. Gerak-geriknya kikuk, seolah tak terbiasa. Meskipun dalam hidupnya mungkin sudah puluhan hingga ratusan kali ia menginjakkan kakinya di sini.

Terlalu sibuk dengan dunianya, hingga tak kunjung sadar akan hadirnya sosok kedua di sampingnya.

“Sitting here all alone when you look this good. Mind for another glass?”

Do Eunho masih setia dengan senyum di wajahnya. Sekilas ia menyadari pria di sampingnya memasang wajah masam, sebelum akhirnya kembali tersenyum.

“Do Eunho anyway. Lo?”

“Bamby. Chae Bamby.”

“Waiting for someone? Friends?”

Chae Bamby menggelengkan kepalanya. Sibuk dengan isi kepalanya sendiri. Ragu apakah ia harus meninggalkan pria aneh yang telah mendatanginya ini, atau memanfaatkan pria ini sebagai topik utama di majalahnya.

Namun, dengan bayaran yang dijanjikan kepadanya. Tak mungkin akan ia tolak. Pria ini bisa saja memakinya ketika ia tahu kebenarannya, namun itu adalah masalah akhir. Saat ini Chae Bamby hanya perlu mendapatkan profit dari penjualan tertinggi majalahnya.

“Nggak. I’m here by myself.”

Eunho masih tersenyum manis mendengar jawabannya. Sepenuh hatinya yakin bahwa pria di sebelahnya ini adalah batu loncatan untuk karirnya.

“Here. Another glass.”

Chae Bamby terkekeh kecil. Dengan cepat menerima tawaran yang ia dapatkan.

“Thank you.”

“My pleasure.”

Keduanya kembali terdiam. Seolah jarak di antara keduanya membuat seisi ruangan itu menjadi sunyi. Tak ada lagi perbincangan ringan. Sebab keduanya sibuk bergulat dengan isi pikirannya masing-masing.

“So, why are you here?”

Do Eunho tersenyum girang mendengarnya. Gembira telah menarik perhatian si surai merah muda itu. Lalu Ia menunjuk ke arah meja atasannya. Meminta Bamby ikut melirik ke arah tersebut.

“Work stuff. How about you? You don’t seem to enjoy this kind of thing.”

Pria surai merah muda itu tertawa mendengarnya. Mungkin ekspresinya mudah terbaca. Atau mungkin pria disebelahnya dengan beruntung memberikan jawaban yang tepat sasaran.

“Quite the opposite— Refreshing, actually. Gue sering ke sini kok. I’m not a newcomer.”

“Oh, ya? This is actually my first time here.”

Kali ini ia berhasil menarik atensi Bamby dengan mudahnya. Membuat pria itu menolehkan kepalanya dengan cepat. Seolah tak percaya dengan ucapannya.

“Bohong. No way.”

“Not a big fan of bars. And this one is far from either my work or my house.”

Ia menutup mulutnya tak percaya. Matanya berbinar seolah tak pernah temui orang seperti Do Eunho di sekitarnya.

“Where are you from, then?”

“Why don’t you find out on your own?”

Chae Bamby tersenyum. Menaruh gelas kosong pada meja terdekat. Lalu berjalan kembali mendekati teman barunya ini. Tangannya bergerak mengambil barang-barangnya. Lalu melirik kembali ke sosok yang lebih tinggi.

“Alright. Yuk?”

Kakinya melangkah mendekati pria dihadapannya. Lalu menggenggam tangan pria itu dan menariknya keluar bangunan tersebut. Menunjukkan sebuah sepeda motor kesayangannya. Dengan santai menawarkan helmet miliknya pada si surai merah muda.

Yang dengan senang hati diterimanya. Merasa bersemangat untuk menaiki kendaraan yang menurutnya cukup keren ini.

Keduanya berbincang selama perjalanan itu. Dengan fokusnya masing-masing.

Bagaimana caranya membuat pria mungil yang tengah memeluknya dari belakang ini memberikan hatinya hanya dalam sepuluh hari? Dan apa yang harus Chae Bamby lakukan supaya pria yang tak kunjung berhenti tersenyum ini akan membuangnya dalam sepuluh hari kedepan?

Kurang dari satu jam, keduanya pun sampai. Chae Bamby terdiam sejenak melihat bangunan apartemen yang menjulang tinggi. Lalu melirik ke penampilan Do Eunho— yang sekarang sibuk pasang gigi, entah mengapa bersemangat. Pria dengan satu pasang jas hitam. Dilengkapi dengan kemeja merah maroon. Semuanya sempurna, hingga lagi-lagi Eunho menunjukkan wajahnya yang tersenyum lebar.

“What are you, a puppy?” pikirnya.

“What are you waiting for?”

Tangannya ditarik hati-hati. Bergegas memasuki bangunan mewah itu. Membuat Bamby sesekali melirik penuh rasa penasaran. Hingga akhirnya tanpa sadar Chae Bamby berhasil menginjakkan kakinya di dalam apartemen milik pria ini.

Jauh dari dugaannya. Seisi apartemennya didominasi warna putih dan abu. Beberapa ornamen pelengkap dengan unsur warna merah. Ruangannya lebih rapi dari yang ia duga.

“Make yourself at home.”

Eunho meninggalkannya sendirian. Dengan penuh rasa penasaran, ia melangkahkan kakinya mengelilingi ruangan itu. Hingga ada satu hal yang menarik perhatiannya. Sebuah ruangan yang hanya diisi dengan alat musik. Terdapat beberapa majalah di sana yang ikut menarik atensinya.

Ia melangkah masuk. Lupa jika ia sedang berada di dalam apartemen orang lain.

Tangannya bergerak menyentuh rak buku di hadapannya. Sibuk meneliti satu persatu judul yang ada di sana. Hingga ujung matanya melihat satu buku yang sangat amat ia kenali.

Sebuah majalah karya rekan kerjanya, Han Noah. Yang ia desain sampul depannya selama satu minggu lamanya. Sedikit meringis mengingat betapa kacaunya jam tidurnya pada saat itu.

Diraihnya majalah tersebut. Sedikit timbulkan senyum pada wajahnya. Tak ingin mengakui rasa bangganya ketika majalah tersebut terjual ribuan.

Atensinya jatuh penuh pada majalah digenggamannya. Sibuk mengamati karya rekan kerjanya itu.

“I love that one. Who’s that again— Oh! Han Noah, ‘kan?”

Bahunya refleks naik. Majalah di tangannya hampir ia lempar asal. Sedangkan pelakunya masih tersenyum manis. Seakan tak sadar ia hampir membuat Bamby kehilangan napasnya.

Belum sempat Bamby menaruh protes, Eunho kembali membuka mulutnya, “I have called your name like ten times already.”

Alisnya naik satu sebagai tanda protes. Yang dibalas dengan sebuah senyuman. Lalu kedua tangannya terangkat, menunjukkan sebuah soda di tangan kanannya, dan sebotol wine di sebelah kirinya.

“You choose.”

Senyuman menyelinap di wajah Bamby. Ia melirik ke arah kedua pilihan yang ditawarkan. Lalu berakting seolah itu adalah pilihan yang sulit, antara hidup dan mati.

“It is not that deep, pretty.”

Kekehan ikut meloloskan diri dari mulutnya. Kali ini ditemani dengan semburat merah muda di pipinya. Ikut meniru warna rambutnya. Lalu tangannya bergerak menyentuh botol wine di hadapannya. Matanya kembali menatap sang pemilik apartemen seolah itu akan menjawab pertanyaannya.

Eunho tersenyum. Dengan bergegas kembali ke dapurnya. Menyiapkan hadiah khusus untuk kehadiran Bamby di apartemennya.

Sedangkan si surai merah muda masih terdiam diri. Eunho bahkan tidak mempertanyakan mengapa Bamby memasuki ruangannya tanpa izin, maupun mengapa Bamby memegang majalah ternama di tangannya. Tak ingin pusing, ia segera menyusul pergi keluar.

Baru ia melangkahkan kakinya di sana, ia sudah dihadapi dengan meja makan yang penuh dengan berbagai jenis makanan. Dilengkapi sebotol wine yang ia pilih beberapa menit lalu.

Ia melirik ke arah Eunho yang menarik sebuah kursi. Mengundang Bamby untuk duduk di sana. Yang dengan mudah diterima oleh pria itu.

“Here, have a glass.”

Bamby terkekeh, menelan satu teguk dari gelasnya setelah dituangkan oleh pria di hadapannya.

“Isn’t this too much?”

Lagi-lagi ia terkekeh melihat meja di hadapannya yang hampir penuh dengan berbagai jenis menu. Ia melirik ke Eunho yang sibuk menatapnya.

Eunho masih setia dengan senyum di wajahnya. Ikut mencicipi rasa alkohol di gelasnya. Ia melirik ke mejanya lalu ke sosok di hadapannya lagi.

“Nah, you deserve extra everything.”

Tanpa diduga, jawabannya mengundang tawa dari sosok di hadapannya. Sebuah tawa ringan yang entah mengapa terdengar sangat lembut.

Eunho meletakkan gelasnya, masih tersenyum. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Yang mungkin tidak memiliki makna apapun.

Sedangkan Chae Bamby sudah sepenuhnya sadar dengan tingkah laku Eunho yang tiba-tiba menjadi kaku dan canggung. Ia melirik ke pria itu dengan senyuman jahil di wajahnya. Dengan sengaja menumpahkan sedikit isi gelasnya ke pakaiannya sendiri. Mengundang atensi pria di hadapannya.

“Ah—Sorry, gak sengaja.”

Dengan bergegas Eunho berdiri, mendatangi Bamby yang sibuk membersihkan noda pada pakaiannya. Dengan sebuah kain lap di tangannya, dibersihkan pakaian pria itu dengan lihai dan perlahan.

Sang empu tersenyum ketika melihat perlakuan Eunho padanya. Yang memang sudah ia perkirakan sebelumnya.

“Wait, gue ganti aja. I still have my jacket.”

Tak sempat menjawab, pria di depannya sudah melucuti pakaiannya sendiri. Satu persatu kancing kemejanya ia buka. Sedangkan Do Eunho sudah gelagapan sendiri.

“You want to borrow my shirt?”

Yang Do Eunho tawarkan adalah entah kemeja atau kaos bersih miliknya yang sudah tertata rapi di lemari pakaiannya. Bukan yang sedang ia kenakan saat itu. Sebab, setelah diberikan penawaran—yang diterima dengan senang hati oleh Chae Bamby— saat ini pakaiannya ikut dilucuti oleh pria surai merah muda itu.

“Thank you, ya. Eunho.”

Chae Bamby terkekeh ketika berhasil mengambil alih pakaian pria di depannya.

“You are doing it on purpose, aren’t you?”

Kali ini tawa lega yang dikeluarkan oleh dirinya. Sedangkan Eunho masih sibuk menutupi tubuh bagian atasnya. Menyadari Bamby kerap melirik pada tubuhnya.

“Nice body. Been working out?”

Besar kepala ia mendengar pujian yang dilontarkan Bamby pada tubuhnya. Dengan bangga mengekspos tubuhnya. Sedangkan Chae Bamby dengan susah payah menahan dirinya supaya tidak langsung mencium sosok di hadapannya.

“Mind if I touch those arms?” celetuk Bamby asal.

Eunho terkekeh. Ia berjalan mendekati Bamby yang masih terduduk di kursinya. Tak kunjung sadar dengan ekspresi jahil di raut wajah pria itu.

“Yeah, sure—“

Dingin terasa ketika jemari Bamby menyentuh dan menelusuri lengannya. Membiarkan pemuda itu mengeksplorasi otot-otot yang telah ia latih itu. Keduanya fokus dengan pikirannya masing-masing. Hingga jarak diantara keduanya mulai terkikis.

Kesadarannya hadir ketika ia merasa geli pada lehernya. Keduanya terlalu dekat, sehingga dapat Eunho rasakan napasnya menyentuh kulitnya. Sementara Bamby secara sengaja melakukan itu.

“I think this is enough—“

Bukannya menjauh, Bamby kerap melangkah maju. Seakan menantang pria di hadapannya. Yang dengan mudah tertantang.

Kedua tangannya sudah melingkar di leher Eunho. Tak sadar bahwa tidak ada satupun dari mereka yang sedang memakai pakaiannya. Bertelanjang dada seraya menggoda satu sama lain.

Susah payah ia bertumpu pada ujung kakinya agar bisa berikan kecupan singkat di bibir Eunho. Yang justru mengundang kekehan manis dari pria itu.

Eunho menurunkan tubuhnya perlahan, membungkuk sedikit supaya Bamby akan dengan mudah mencapainya. Tangannya bergerak menggenggam pinggang Bamby, membantu menopang tubuh pria itu.

“If you want to do it. Then, at least do it right,” celetuknya dengan nada mengejek.

“Alright, Boss,” jawabnya dengan nada tak kalah mengejek.

Kali ini dengan mudah Bamby mencapai wajah Eunho. Tangannya bergerak menarik Eunho untuk mendekat. Ia menariknya ke dalam ciuman. Tak sedetik pun ia beri ruang untuk Eunho bernapas. Sedangkan Eunho kewalahan mengikuti kecepatan yang diberikan Bamby. Ciumannya tak kunjung terputus, masih dengan arus yang kuat dan tak terhentikan.

Napasnya terengah, sedangkan Bamby masih terus melahap bibirnya. Ritmenya tak kunjung melambat. Tangannya masih menahan Eunho agar tak ada sedikitpun jarak diantara mereka.

Ciumannya terputus. Eunho memalingkan wajahnya, berusaha mencari udara di sekitarnya. Sedangkan keadaan Bamby tak jauh berbeda dengan Eunho. Dadanya naik-turun, namun, matanya masih menatap Eunho dengan lamat-lamat, seolah ia masih menginginkan lebih.

“Slow down, okay?”

Bamby mengangguk. Sepenuhnya sadar atas teguran yang diberikan Eunho.

Bamby sendiri tak tahu menahu mengapa malam ini ia sungguh penuh dengan nafsu. Mungkin karena ia tak dapatkan hari libur selama satu minggu terakhir, atau mungkin karena ini pertama kalinya ia berciuman dengan seseorang lagi. Yang mungkin tidak memiliki makna apapun.

Kali ini Bamby menciumnya lagi, namun lebih pelan. Bibirnya menyapu ringan, memperlakukannya dengan hati-hati seolah ia adalah sebuah benda yang rentan hancur. Gerakannya tak lagi tergesa. Maka dari itu Eunho dengan mudah membalasnya. Mencium pria mungil di depannya ini. Menelusuri tiap bagian dari bibir tersebut.

Tangannya naik, menarik tengkuk Bamby mendekat, memperdalam ciuman mereka. Dengan lihai menghisap dan menggigit bibir bawah pria itu. Membuat sang empu mau tak mau membuka mulutnya. Membiarkan Eunho mengeksplorasi isi mulutnya.

Jemarinya menyusuri sisi leher Eunho, berhenti di tulang selangka seolah ia tengah menggodanya.

“You’re enjoying this way too much, doll.”

Eunho menunduk, menciumi leher hingga tulang selangka Bamby. Meninggalkan bercak merah di sana.

“Now, aren’t you a little too quiet, cantik?”

Bamby mendesah kecil, mencoba bicara, namun, Eunho dengan cepat membungkam bibirnya dengan ciuman. Sebuah ciuman singkat yang berikan hangat pada bibirnya.

“Say something,” tantangnya dengan jahil, sementara wajahnya terus menerus mendekat ke arah Bamby. Matanya tak lepas dari wajah Bamby yang memerah.

Mungkin Bamby akan tersungkur ke belakang jika Eunho tak menahan pinggang pria itu. Bamby merasa kewalahan dengan sesuatu yang ia mulai. Ia melirik ke Eunho. Stamina nya sudah hilang.

“Fuck you, Do Eunho.”

Eunho tertawa puas. Ia tarik tubuh Bamby mendekat. Sedangkan pria itu sudah sepenuhnya memeluk Eunho. Membiarkan Eunho menyokong berat tubuhnya.

“You will get that later,” ucapnya asal.

Ketika keduanya ingin kembali menautkan bibir mereka, suara dering telepon tiba-tiba menginterupsi. Keduanya terdiam sejenak.

Bamby melirik pada ponselnya, dengan segera meraih benda tersebut dan mendorong Eunho dari tubuhnya. Ia tak menjawab telepon tersebut, namun tetap sibuk dengan ponselnya. Mengabaikan Eunho sepenuhnya.

Han Noah baru saja menghubunginya. Perihal majalah barunya. Perihal sesuatu yang seharusnya sedang ia lakukan, alih-alih berciuman dengan pria bernama Do Eunho ini.

Bamby bergerak mendekati Eunho. Memberikan sebuah kecupan singkat di bibirnya. Sebelum akhirnya memakai jaketnya dan merapikan barangnya.

Eunho terkekeh tipis. Mungkin perjalanannya membuat Bamby jatuh hati padanya masih sangat jauh.

“I need to go. Here is my number.”

“I thought you were staying, no?”

Pinggangnya dipeluk dari belakang. Eunho menaruh wajahnya di bahu Bamby. Sedikit menggodanya.

“Next time, alright?”

Lagi-lagi ia berikan kecupan hangat di bibir pria itu. Membuat Eunho mau tak mau menganggukkan kepalanya mengerti. Lalu ia bergegas menuju pintu apartemennya.

“Later, Eunho!” ujarnya, lalu melangkah keluar dengan cepat.

Eunho berjalan menuju balkon apartemennya. Melihat ke arah bawah, memperhatikan Bamby yang berjalan menuju taksi pesanannya.

Ia tersenyum bangga. Dengan yakin rencana miliknya akan berjalan sempurna. Dengan yakin Chae Bamby akan jatuh hati padanya dengan mudah. Lalu akan ia dapatkan proyek besar tersebut dalam sepuluh hari.

Tak jauh berbeda, Chae Bamby berjalan di bawah menuju taksinya seraya terkekeh geli mengingat ekspresi Eunho beberapa saat yang lalu. Pria itu sudah jatuh di dekapannya, dan ia hanya perlu melakukan hal-hal gila supaya Eunho akan membuangnya dalam sepuluh hari.

Malam itu, keduanya saling berangan-angan akan apa yang akan terjadi dalam sepuluh hari kedepan. 

Notes:

Hope you enjoyed it! Can’t wait to share the next chapter with you, cause things are just getting started!