Actions

Work Header

The Summer When You Became My Lover

Summary:

Dew dan Tee dihadapakan pada pilihan tersulit; cinta atau persahabatan. Mereka sama-sama tahu, tidak ada akal sehat yang bisa menjelaskan perasaan mereka. Ketika keduanya menyepakati hal ini, mungkin perasaan yang sudah lama berusaha mereka abaikan itu akhirnya bisa mereka rengkuh bersama.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter 1: you are my bestest friend

Chapter Text


Suara tonggeret menyambut Tee yang baru saja membelokkan sepedanya ke jalan tanah menurun menuju sungai. Dia memarkir sepedanya di dekat sepeda lain yang sudah ada di sana, dan menangkap presensi Dew di tengah sungai berarus pelan, sedang berusaha menangkap ikan seperti yang selalu mereka lakukan sepulang sekolah. Tee memerhatikan sekilas baju seragam Dew yang ia taruh sembarangan di tanah, kemudian beralih menatap isi keranjang sepeda Dew yang hari ini berisi beberapa snack beserta surat-surat dengan amplop biru muda, merah muda, dan gambar hati kecil-kecil mereka. Tee membuang muka.

Di tengah fokusnya mengamati air, Dew menyadari kedatangan Tee. Ia tersenyum begitu lebar dan meminta Tee untuk segera ikut turun ke sungai dan membantunya memegang saringan yang salah satu sisinya hampir lepas jahitannya.

“Ini tidak akan berhasil,” kata Tee sambil menarik naik celananya sampai ke lutut dan turun ke sungai yang dingin. Mendengar kata-kata Tee itu, Dew merengut dan menciprati Tee dengan air. Muka terkejut Tee membuat Dew tertawa begitu keras dan semakin keras karena Tee membalasnya dengan tendangan air yang membuat mereka basah seketika.

Perang air seperti ketika mereka masih bocah adalah permainan yang selalu mereka lakukan jika hanya berdua. Di usia tujuh belas itu, sebagian besar pemuda yang mereka kenal menganggap bersenang-senang berarti minum alkohol tanpa ketahuan orang tua atau guru, berpacaran dengan gadis ini dan gadis itu di satu waktu yang sama, dan berlomba memecahkan rekor tercepat meniduri gadis-gadis itu dan menyombongkannya di tongkrongan. Tee dan Dew sama-sama masih menganggap mereka adalah anak kecil yang sama ketika mereka dua belas atau delapan. Yang begitu mencolok hanyalah tubuh keduannya yang sudah hampir mekar sempurna.

Dew adalah pemuda tinggi dengan wajah ramah dan senyum yang hampir tidak pernah lepas dari wajah. Lesung pipitnya membuat pemuda itu tampak semakin rupawan. Sejak kecil Dew selalu tampak lebih unggul dari pemuda lainnya karena kemampuan sosialnya yang mengagumkan. Dew selalu punya teman di setiap tempat, dan tak pernah kehilangan bahan obrolan dengan siapapun. Sudah jadi rahasia umum, Dew tidak hanya bisa membuat semua gadis di kota mereka jatuh cinta dengan mudah, tetapi juga membuat para pemudanya yang mau tak mau menyembunyikan rasa iri mereka dengan berusaha berteman baik dengannya.

Anehnya, Dew memilih untuk berteman dengan seorang Teeradech, si anak hantu, yang lebih suka berdiam diri di perpustakaan kota sambil bekerja paruh waktu menata buku-buku yang sudah selesai dipinjam, merawat buku-buku lama, sambil membaca buku-buku yang ia sukai di tengah waktu luang paruh waktunya yang panjang. Dew dan semua orang tahu julukan kutu buku sangat cocok dengan Tee, dan Tee sendiri sama sekali tidak keberatan dengan itu.

Tee tidak pernah begitu memikirkan hubungan mereka, dia dan Dew. Baginya, Dew hanyalah Dew, seorang teman yang sudah ia kenal sejak bocah ingusan. Dew Jirawat adalah anak laki-laki kelebihan energi yang populer sejak kecil, dan Tee hanya seorang anak tetangga yang sering Dew kunjungi rumahnya sepulang sekolah untuk ia ajak pergi mencari kumbang atau berpetualang ke dalam hutan. Seringkali mereka pergi ke sungai untuk berusaha menangkap ikan, tetapi selalu pulang dengan basah kuyup dan ember berisi apapun selain ikan itu sendiri.

Meski tumbuh dewasa bersama Dew terasa biasa saja—sebagian besar waktu yang mereka berdua habiskan hanyalah untuk bermain—Tee mulai menyadari jika perasaannya pada Dew berubah pada suatu senja musim panas yang terik.

“Ini tidak berguna,” dengus Tee sambil melemparkan saringan setengah rusak yang selalu dipaksa Dew untuk ia pegang. “Ikan-ikan di sini nasibnya seperti dinosaurus, tahu. Pu-nah!"

"Kita tidak boleh putus asa, Tee. Bisa saja kita jadi penemu ikan pertama di sini, kita akan jadi terkenal!" Dew bersorak.

Kesal, Tee menendang air ke arah Dew yang masih nyengir di tempat. Dew mengusap air di mukanya dengan dramatis, membuat Tee tertawa meski berakhir berlari menghindar ketika Dew mengejarnya. Dua pemuda itu berlarian di sungai sambil terus saling menciprati air satu sama lain. Lalu tiba-tiba, Tee hampir terpeleset batu sungai yang licin dan Dew secara spontan menangkapnya. Tangan Dew melingkar di pinggang Tee, menahan bobot tubuh pemuda itu supaya tak jatuh ke belakang. Tee sendiri tanpa sadar melingkarkan lengannya di bahu Dew untuk pegangan.

Selama beberapa detik keduanya masih tertawa-tawa, sebelum perlahan jatuh dalam kesunyian karena tenggelam dalam tatapan tepat di mata. Tee tidak pernah memerhatikan iris mata Dew berwarna hazel—cokelat lembut dengan campuran hijau yang sangat tipis—ketika terkena sinar matahari. Selama beberapa detik Tee mantap mata itu seolah mereka adalah pusat semesta, sehingga Tee menahan napasnya.

Di sisi lain, Dew juga menahan napasnya. Ini adalah pertama kalinya ia begitu dekat dengan Tee. Terlalu dekat. Dew takut ia akan lepas kendali ketika tatapannya tak sengaja jatuh di bibir sahabatnya itu. Pegangannya di pinggang sempat mengerat selama sesaat, dan keduanya menyadari itu. Dew mengerjap gugup dan perlahan melepaskan pegangannya di pinggang Tee. Jarak membuat Dew lebih berani untuk melontarkan guyonan tentang Tee yang bisa saja terseret arus sungai jika saja ia tak menolongnya. Mereka tertawa canggung, dan Tee memilih untuk segera keluar dari air.

Di tepi sungai Tee melepas atasan seragamnya dan memeras mereka sebelum memakainya kembali. Dew mengikuti, mengambil bajunya dari tanah dan memakainya secara asal, tak peduli tubuhnya masih basah kuyup.

"Mau?" Dew menyodorkan sebatang cokelat pada Tee setelah sebelumnya memasukkan sepotong untuk dirinya sendiri. Tee menatap cokelat itu dalam diam, tahu betul itu adalah cokelat pemberian entah gadis yang mana dari sekolah Dew. Tee menatap Dew sambil tersenyum tipis dan menggeleng.

"Lusa ada Pasar Malam, lho. Mau ke sana tidak?" tanya Dew yang menyusul Tee yang sudah lebih dulu menuntun sepedanya pergi dari sungai. Tee mengangkat bahu sebagai jawaban. Dew berdecih.

"Buku-bukumu itu tidak akan kemana-mana, Tee. Temani aku ke sana ya, mau kan? Mau ya? Ya? Ya ya ya?"

Tee memutar bola mata dan mengiyakan. Dew bersorak dan Tee tertawa melihat temannya begitu bersemangat. Tiba-tiba Dew menaiki sepedanya dan menantang Tee untuk berlomba sampai rumah terlebih dulu. Tee menelan getir di tenggorokannya dan menyusul Dew dengan tawa. Perasaan aneh itu sebaiknya tidak memaksa untuk muncul ke permukaan, karena Tee tahu dia tidak akan pernah bisa mengendalikannya.

Rumah Dew dan Tee hanya berjarak lima rumah. Rumah Tee berada di ujung jalan, berjarak hampir tiga ratus meter dari tetangga terdekatnya. Rumah itu adalah rumah panggung cantik warisan dari leluhur yang masih terawat meski orang tua Tee membuat banyak renovasi.

Ketika sampai di depan rumah Tee, kedua pemuda itu menyadari nenek Tee ada di halaman, sedang menyiangi beberapa bunga. Dew memberi salam, dan perempuan sepuh itu membalas dengan anggukan kecil. Ketika perempuan itu pergi masuk ke dalam rumah, Dew dan Tee betukar tatapan dan menelan tawa.

"Aku masih takut kalau bertemu nenekmu," bisik Dew.

Tee terkekeh pelan, "Padahal nenek tidak akan menjewermu. Tahu kan, itu cuma rumor," bisik Tee dengan dramatis.

Keduanya sama-sama terkejut ketika nenek kembali keluar dengan dua botol teh lemon di tangan. Satu ia berikan pada Tee, satu lagi ia berikan pada Dew. Perempuan itu kemudian kembali masuk ke dalam tanpa kata.

Dew dan Tee saling memandang, kemudian meledakkan tawa. Mereka tidak menyangka jika perempuan yang tak banyak cakap itu akan memberi mereka teh dingin di sore yang terik itu. Setelah es tehnya tandas, Dew pamit pulang. Tee melambai pada punggung Dew, dengan dua botol kosong di tangannya. Pemuda itu masih berada di tempatnya meski Dew sudah lama hilang. Ditatapnya botol kosong punya Dew dengan saksama. Neneknya, tidak akan pernah memperlakukan pemuda selain Tee seperti itu. Tee sudah sering mendengar neneknya mengeluhkan kelakukan anak-anak zaman sekarang yang tidak punya adab, tetapi jelas neneknya memperlakukan Dew dengan berbeda. Apakah karena Dew adalah teman Tee sejak kecil?

Atau karena alasan yang lain?


-o0o-


Dew selalu suka keramaian, dan Tee tidak enak untuk menolak ajakan itu hanya karena ia lebih suka sebaliknya. Jadilah Tee setuju untuk pergi ke pasar malam dengan Dew, dan Dew tiba-tiba berubah menjadi bocah sepuluh tahun yang berkelakar tentang isi pasar malamnya, tentang semua permainan yang mungkin ada di sana dan memaksa Tee untuk berjanji akan ikut mencoba semuanya, tentang semua makanan enak yang mungkin dijual, dan Tee hanya memerhatikan Dew sambil memutar bola mata dan pura-pura tak antusias. Dew tahu Tee akan selalu mengiyakan semua yang dia inginkan.

Itu adalah pasar malam terbesar yang pernah ada di kota seumur hidup mereka. Dew begitu bersemangat, dan Tee tidak bisa menahan tawanya karena semangat Dew. Beberapa teman dari sekolah bergabung bersama mereka, membuat sore yang panas itu penuh dengan tawa yang meledak, ejekan dan taruhan-taruhan kecil, juga tantangan-tantangan yang sukar untuk diabaikan. Ketika malam tiba, gerombolan itu setuju untuk bergerak ke sisi kiri yang dipenuhi oleh stan-stan makanan, dan mulai berpencar untuk mencari kudapan yang sesuai dengan selera mereka.

Dew dan Tee pergi berdua, berjalan bedempetan di tengah arus manusia yang berjejalan di lorong panjang penjual makanan, dan berusaha untuk saling setuju pada menu yang akan mereka pilih. Meski selera keduanya sangat jauh berbeda, Dew yang tidak pernah pilih-pilih makanan pada akhirnya selalu mengalah dan akan ikut apapun menu yang dipilih Tee.

Mereka sedang mengantre untuk membeli roti isi sambil bergurau, ketika Chaisai, teman lama mereka di sekolah dasar datang dan beridri tak jauh di belakang Dew dan Tee.

“Kalian benar-benar berpacaran ya ternyata?” katanya.

Awalnya Dew dan Tee mengabaikan pemuda itu karena mereka kira Chaisai tidak sedang mengatakan itu pada mereka. Tak lama setelahnya Dew dan Tee dihantam kesadaran penuh karena tidak ada orang lain yang akan Chaisai ajak bicara sesantai itu.

“Aku melihat kalian berciuman di sungai kemarin lusa,” kata Chaisai dengan cukup keras sampai membuat beberapa orang di sekitar mereka menoleh kaget dan buru-buru pergi dengan berbisik-bisik.

Itu jelas omong kosong, dan Dew yang rahangnya sudah mengeras berusaha untuk menahan diri. Sudah sejak lama Chaisai tidak menyukai Dew, apalagi Tee. Fakta jika keduanya adalah sahabat membuat Chaisai semakin tak menyukai mereka.

Tee menatap Chaisai dengan marah, dan pemuda itu balas menatapnya dengan tatapan merendahkan.

“Kau ini, selain jadi yatim piatu juga jadi gay ya sekarang?” Chaisai menunjuk Tee sambil menekan kata spesifik itu dengan nada yang dibuat-buat, hampir membuat Dew menerjangnya dan menghajarnya di tempat. Namun dia kalah cepat dengan Tee yang lebih dulu melayangkan sebuah tinju tepat ke wajah Chaisai yang membuat pemuda itu terhuyung ke belakang meski tidak sampai jatuh ke tanah. Chaisai meringis ketika menyadari ada rasa darah di lidahnya, tetapi kemudian dia menyeringai dan kembali menatap Tee dengan tatapan jijik.

Dew bersumpah dia bisa melihat Chaisai menggumamkan sesuatu yang tidak pantas pada Tee, tetapi Tee menahan Dew mengejar Chaisai. Mereka menyadari jika kerumunan berbisik-bisik sambil menatap keduanya dan Chaisai yang sudah hilang entah ke mana, sehingga Tee lebih memilih untuk bergegas pergi dari sana. Dew mengikutinya keluar dari pasar malam, terus berjalan di belakang Tee tanpa berniat mensejajarkan langkah.

Sepanjang jalan rasanya Tee menahan napasnya. Tangannya terkepal keras, dan dia hampir muntah di jalan. Tee tidak tahu apakah dia bertingkah seperti itu karena kata-kata Chaisai benar atau karena salah besar. Isi kepalanya begitu penuh, tetapi juga kosong. Yang Tee rasakan adalah dia ingin lenyap dari dunia saat itu juga.

Dew beberapa kali ingin meraih Tee, tetapi hatinya enggan untuk mengganggu sahabatnya yang ia yakini hanya ingin pulang dan sendiri karena malamnya sudah rusak karena Chaisai. Semua rencana Dew untuk mereka menguap tak berbekas. Ketika ia sampai di rumahnya, Tee masuk begitu saja, tak mengindahkan Dew yang berdiri di depan pagarnya bahkan sampai beberapa lama. Nenek sempat bertanya pada Tee kenapa temannya tidak ia suruh masuk ke rumah, tetapi Tee tak menjawab dan hanya terus menenggalamkan wajahnya di bantal karena ia tak lagi bisa menahan air mata.

 

Hubungan keduanya berubah sejak malam itu.

Tee bisa melihat semua orang membicarakan mereka, dan Tee menghindari Dew sebisanya. Mereka hidup di sebuah kota kecil, dan semua orang seakan saling mengenal. Inilah kenapa semua orang tahu Tee adalah anak itu, satu-satunya korban selamat dalam kecelakaan besar di dekat perbatasan kota. Orang tuanya tidak selamat di kecelakaan itu, juga beberapa korban lainnya. Semua orang mengatakan anak kecil yang selamat itu pastilah dilindungi malaikat, tetapi Tee tidak berpikir sama. Hidupnya seperti di neraka setelahnya. Tak banyak orang yang tahu, tetapi sejak sekolah dasar banyak teman yang menyebut Tee sebagai pembawa sial karena orang tuanya meninggal sedangkan dia selamat. Kata-kata itu menancap di otaknya, berbaring bersamanya tiap malam.

Karenanya, Tee tahu ini tidak adil untuk Dew. Pemuda sebaik Dew tidak seharusnya berteman dengannya. Bukankah apa yang dikatakan Chaisai benar? Meskipun apapun yang didengar semua orang tentang apa yang terjadi di sungai itu tidak benar, jauh di lubuk hati Tee, ia bertanya sebaliknya. Apakah itu benar? Apakah benar jika Tee menginginkan Dew lebih dari seorang teman?

Dew tahu dia harus memberikan Tee waktu. Sayangnya, jarak yang dia buat itu berakhir berminggu-minggu lamanya, sampai keduanya terasa seperti orang asing. Dew takut untuk menghubungi Tee lebih dulu, dan Tee tampak tidak berniat untuk menghubungi Dew. Tee sebetulnya justru merasa ini lebih baik. Demi menghindari rumor yang lebih buruk, lebih baik jika dia dan Dew tidak pernah terlihat bersama lagi.

Hari itu adalah hari rabu terakhir di libur musim panas Tee, dan hari rabu terakhir paruh waktunya di perpustakaan. Tee sedang memasukkan judul-judul baru ke dalam komputer perpustakaan ketika Nona Natcha, pustakawati yang bisa dibilang adalah atasannya itu tiba-tiba saja mengajaknya berbicara. Itu seolah jadi obrolan pertama mereka selama paruh waktu Tee yang berminggu-minggu di sana.

“Rasanya aku sudah lama tidak melihat temanmu. Siapa namanya? Dew?"

Tee tanpa sadar berhenti mengetik, tetapi kemudian melanjutkan pekerjaannya tanpa menjawab. Nona Natcha mendengus pelan, kemudian memutar kursi dan menatap kepala belakang Tee.

“Jika kau diam dan membiarkan semua orang memperlakukanmu seperti ini, yang akan berakhir menjadi pecundang adalah dirimu sendiri,” katanya. “Jika aku jadi kau, aku akan menatap mereka tepat di mata dan mengatakan jika semua yang mereka katakan itu tidak benar.”

Tee kembali terdiam. Nona Natcha sempat melihat Tee membuang napas panjang, sebelum berbalik perlahan. “Bagaimana jika itu benar?” tanya Tee lirih.

Nona Natcha mengangkat alisnya. “Yang mana?”

Tee mengangkat bahu. “Entahlah. Semuanya?”

“Apakah ini termasuk tuduhan tidak masuk akal hanya karena kau yang selamat di kecelakaan itu?” Tee terdiam, tanpa sadar melamun sambil menatap ke arah jendela berkaca patri di atas ventilasi pespustakaan.

“Tee, itu kecelakaan. Sopir truknya mengakui jika itu murni kesalahannya dan dia sudah dihukum. Kau adalah salah satu korbannya dan tidak ada yang berhak mengatakan jika kau adalah pembawa sial. Yang kehilangan orang tua adalah kau, bukan mereka.”

Tee belum melupakan rasa hancur ketika ia duduk di depan peti mati orang tuanya dengan bahu retak. Apakah karena ia tidak menangis di depan semua orang jadi mereka berpikir jika dia tidak memiliki perasaan dan dia tidak hancur? Hari itu Tee merasa terlalu hancur untuk menangis. Dia masih sembilan tahun, dan dalam waktu empat puluh delapan jam sejak mobil keluarganya ditabrak oleh sebuah truk yang remnya blong, dia harus bertemu begitu banyak orang asing. Polisi, petugas medis, polisi lagi, dokter-dokter berwajah serius, pamannya yang menangis, neneknya yang menangis, sakit di sekujur tubuhnya, polisi lagi, dokter lagi, dan demi Tuhan, ketika pemakaman itu Tee baru saja menjalani operasi dan sisa biusnya belum sepenuhnya hilang. Tee tidak menangis karena dia masih mencerna keadaan, bukan karena dia tidak berduka.

Satu-satunya orang yang tahu bagaimana Tee melewati kehancuran itu dan berusaha bangkit adalah Dew. Bocah itu selalu duduk di samping Tee  tanpa kata selama berbulan-bulan. Tidak pernah sekalipun Dew berusaha mengajak Tee bicara jika Tee memang tidak ingin bicara. Yang Dew lakukan adalah memberi tahu pada temannya itu jika dia akan selalu ada untuk Tee. Lalu sekarang, pertemanan mereka pun sedang berada di ujung tanduk.

“Entahlah Nona Natcha. Rasanya saya pantas menerima ini.”

“Apa alasannya?”

Tee kembali mengangkat bahunya sebagai jawaban. Nona Natcha meremas lengan Tee dan menunjuk pintu masuk dengan dagunya. “Kau tidak salah, Tee, untuk semua hal yang kau pikirkan adalah kesalahan dan tanggung jawabmu. Kau tidak salah.”

Tee melihat Dew sedang berjalan masuk ke arahnya. Dulu, kunjungan Dew di jam paruh waktunya seperti ini adalah hal biasa. Sekarang, Tee merasakan ketegangan dan kecanggungan. Ia bahkan dengan begitu kentara menghindari menatap Dew.

“Selamat siang, Nona Natcha,” sapa Dew pada pustakawati itu. Nona Natcha memberinya anggukan, dan tatapan dingin seperti yang biasa ia berikan pada semua orang. Perempuan itu kemudian merangkul setumpuk buku dan pergi ke belakang, meninggalkan Tee sendirian di balik meja register.

“Aku ingin mengobrol denganmu,” kata Dew sambil menahan dagunya dengan tangan di meja.

“Aku sedang sibuk,” jawab Tee dingin.

“Aku tunggu sampai kau tidak sibuk. Aku yakin lorong novel horor itu ada di sebelah sini.”

Dew pergi dari hadapan Tee tanpa peduli jika temannya itu hampir membantah. Kemudian, selama sisa jam kerjanya, Tee melihat Dew berkeliling seperti sengaja meminta atensi dari Tee, meski sesekali Tee menyadari jika Dew tertidur di salah satu meja dengan wajah yang ditutupi buku.

Tee berusaha keras menghindar, meski pada akhirnya Dew dapat mengejernya ketika Tee diam-diam keluar dari perpustakaan.

“Tidakkah kau ingin menanyakan kabarku?” tanya Dew yang berdiri di samping Tee dan sepedanya.

“Kau terlihat sangat sehat,” kata Tee singkat tanpa benar-benar melihat Dew. Ia sibuk melirik ke sekeliling, takut jika ada yang melihatnya berdekatan dengan Dew.

“Yah, aku makan dengan baik. Bagaimana kabar nenekmu?”

“Baik.” Tee sudah memegang stang sepedanya, ketika Dew menahannya.

“Aku serius, Tee," Tee melihat buku tangan Dew memutih di stang sepedanya. Cengkraman itu terlalu kuat. "Tidakkah kau ingin tahu bagaimana perasaanku?” tanya Dew dengan suara bergetar.

Tee tidak bisa menjawabnya. Ia tidak mengerti. Perasaan yang mana yang Dew maksud? Perasaannya sebagai teman Tee atau perasaan seorang anak lak-laki yang digosipkan berkencan dengan anak laki-laki yang lain?

“Dew, aku harus pulang.” Tee berusaha menarik sepedanya, dan Dew justru lebih erat memegang kemudi sepeda Tee. Dia hampir tidak bisa mengeluarkan suara. Rasanya Tee bisa ikut menangis jika dia di sana lebih lama lagi.

“Kau terbiasa pulang larut. Kenapa sekarang buru-buru?”

“Aku lelah.” Hanya jawaban itu yang bisa dipikirkan Tee. Tetapi itu bukan kebohongan. Bebeberapa minggu terakhir ini dia begitu mudah lelah meski tidak banyak kegiatan yang dilakukannya.

“Apa ini karena kita?" sergah Dew. "Bukankah kau tahu sendiri jika itu tidak benar?”

Tee merasa mual. Kalimat yang meluncur dari mulut Dew itu terasa benar dan salah di saat yang bersamaan. Bagaimana jika ia tahu Tee begitu lega dan kecewa karena rumor itu tidak benar? Bagaimana jika Dew tahu beberapa waktu terakhir ini dia suka memimpikan sahabatnya sendiri merengkuhnya di sungai itu seperti yang Chaisai katakan?

“Aku mohon, Dew. Aku harus pulang.”

Dan begitulah Dew akhirnya melepaskan genggaman tangannya di stang sepeda Tee, seolah ikut melepaskan harapan terakhirnya untuk memperbaiki hubungan mereka. Sudah kepalang basah, pikirnya. Mungkin sekalian saja membuat hubungan ini rata dengan tanah.

“Aku sudah lama menyukaimu, Tee,” kata Dew tanpa ragu. Tee membeku di tempat sambil mencengkram stangnya erat-erat. Ia tidak sadar jika ia menahan napas.

“Aku sudah lama menyukaimu, dan menyayangimu bukan sebagai teman. Tetapi bukan berarti aku tidak memikirkanmu sebagai temanku. Kau adalah teman terbaik yang pernah aku miliki, dan selamanya akan seperti itu. Tetapi perasaanku juga nyata, dan aku ingin kau tahu itu. Aku tahu kau sulit menerima ini, tetapi aku bisa menghargainya.”

Tee menggigit bibirnya erat-erat, terus menatap ke tanah selama mendengarkan pengakuan Dew. Ia iri dengan keberanian itu, dan ia merasa menjadi pengecut sekarang. Benar, dia menjadi pecundang seperti yang Nona Natcha katakan. Karena setiap kali dia berusaha untuk jadi berani, Tee tidak bisa melupakan tatapan-tatapan itu, bisik-bisik itu, rumor-rumor itu. Rasanya, yang bisa Tee lakukan adalah berjalan menjauh, mendorong perasaan itu ke dalam lorong tergelap hatinya.

"Aku mohon jangan menjauh, Tee. Aku akan melakukan apapun tapi tolong menjauh dariku—"

Dew terkejut ketika Tee menepis tangannya yang akan meraih tangan Tee.

"Lalu apa?" tanya Tee dengan setetes air mata yang jatuh ke pipinya. "Jika aku terus berada di sisimu lalu apa? Tidakkah cukup semua hal yang sudah kau punya di sini? Tidakkah kau sadar kau punya segala hal yang kau butuhkan di sini? Tidakkah semua ini cukup untukmu?!"

Dew menatap Tee terkejut dan tak membeku ketika Tee menekan dadanya dengan telunjuk. "Sayang katamu? Tidakkah kau sadar jika perasaan itu hanyalah rasa kasihan. Itu bukan rasa sayang, Dew. Kau hanya kasihan padaku."

Dew sungguh-sungguh ingin membantah. Bagaimana bisa Tee lebih tahu tentang perasaannya? Tapi Dew membiarkan sahabatnya itu pergi. Dia membiarkan cinta pertamanya itu berjalan menjauh, meninggalkannya di parkiran perpustakaan yang sepi.

Setelah kejadian di parkiran perpustakaan itu, Dew hanya melihat Tee sekilas di sekolah, dan tidak berniat untuk merusak jarak yang dibuat Tee dengannya. Chaisai masih jadi pemuda yang menyebalkan, dan Dew masih merasa ia memiliki hutang untuk menghajar Chaisai dan mulut liciknya. Tetapi, selama pemuda itu tidak mengganggu Tee, Dew siap menahan diri.

Lalu, pekan ujian akhir sekolah berlangsung diikuti dengan pekan-pekan penuh tekanan untuk tes masuk perguruan tinggi. Dulu, Dew selalu belajar bersama Tee yang selalu lebih unggul dalam bidang akademik. Tetapi sekarang Dew berlajar bersama kelompok belajar yang lumayan, dan bekerja keras di tengah malam sampai hampir fajar di rumah. Bermodalkan kepercayaan diri yang sama pas-pasannya dengan kemampuan akademiknya, Dew lulus dengan nilai yang tidak begitu buruk, merasa bangga dengan Tee yang namanya terpampang di daftar siswa dengan nilai terbaik.

Di hari kelulusan SMA, Dew tak dapat menemukan Tee di manapun, dan memutuskan untuk mampir ke rumah Tee hanya untuk menemukan rumah itu kosong. Dew tak mendengar kabar apapun dari Tee selama berminggu-minggu, dan sempat panik jika terjadi sesuatu padanya atau neneknya.

Dew tidak tahu harus ke mana untuk mencari informasi, tetapi mungkin Nona Natcha tahu sesuatu. Jadi, Dew mengayuh sepedanya dengan agak buru-buru ke perpustakaan kota, dan menemukan Nona Natcha sedang membaca sebuah novel roman dewasa di belakang mejanya.

“Oh, Dew? Apa kau baru dikejar anjing? Kenapa ngos-ngosan begitu?” bisik Nona Natcha pada Dew yang memegang dada dan berusaha bernapas.

“Tee… apakah Tee mengatakan pada Anda… dia pergi ke mana?”

Nona Natcha menatap Dew dengan tatapan kasihan, dan berusaha memberinya senyuman. “Tee tidak berpamitan padamu?” tanya Nona Natcha.

“Berpamitan?”

“Tee pergi mengantar neneknya ke rumah salah satu pamannya, dan dia memutuskan akan tinggal di sana untuk kuliah. Tee diterima di salah satu Universitas di Bangkok, Dew. Hanya saja dia tapi dia tidak mengatakan yang mana.”

Di tengah berita kepergian Tee itu, Dew tidak bisa menahan senyumnya. Ini sesederhana ikut merasa senang untuk pencapaian sahabatnya, dan ia tidak bisa menahan perasaan itu. Dew perlahan jatuh berlutut di lantai, dan mulai menangis. Nona Natcha memutuskan untuk keluar dari bilik kerjanya dan merangkul pemuda itu. Dia membiarkan Dew menangis dengan keras seperti anak kecil, dan berusaha membuat beberapa pengunjung perpustakaan yang bingung untuk mengerti. Anak ini sedang berduka, bisiknya pada semua orang.


-o0o-


Seribu tujuh ratus delapan puluh satu...

Dew menghitung hari sejak kepergian Tee.

Ia bukan tidak ingin mencari pemuda itu. Dew tahu, percuma mencari seseorang yang tidak ingin ditemukan.

Jadi, ketika Dew mendengar kabar jika Tee terlihat di kota, ia tanpa akal sehat pergi mencari sosok yang paling ia rindukan di dunia itu. Dew menyusuri setiap jalan, setiap gang, setiap tempat yang sering mereka kunjungi dulu ketika mereka masih bocah. Tetapi tak satu pun dari tempat itu ada Tee. Lalu, dengan keraguan di dalam hatinya, Dew pergi ke rumah Tee yang sudah lama kosong.

Di ujung jalan, di jarak yang cukup jauh untuk seseorang bisa melihatnya tapi cukup dekat untuk Dew menatap ke rumah itu, ia melihat jendela-jendela itu akhirnya terbuka. Ketika sesosok manusia berjalan mondar-mandir di dalamnya, Dew manahan napasnya.

Tee...

Itu Tee...

Itu adalah seseorang yang tiap malam selalu ia impikan, yang selalu ia rindukan.

Tubuhnya bergetar hebat karena rasa rindu, tapi terlalu takut untuk mendekat. Dew menangis di tempatnya, sambil menatap Tee yang sibuk dengan debu-debu.

Sudah lima tahun sejak terakhir kali Dew melihat Tee, dan sekarang dia menjadi pecundang. Dia tak lagi punya keberanian yang dulu membuatnya tegar. Bagi Dew sekarang, melihat Tee sehat sudah cukup. Dia tidak akan mengganggu pemuda itu lagi.

Tapi kemudian Dew melihat seseorang berjalan ke arah rumah Tee dengan wajah pongahnya. Seseorang yang dulu menjadi alasan perpisahannya dengan Tee. Mungkin, perasaan Dew bisa menunggu. Karena kali ini, Chaisai tidak akan lolos darinya.


 

Notes:

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita iniiiii... jika kalian merasa pernah membaca cerita yang sama dari fandom yang berbeda, don't worry, that's also me hehe... hope you guys enjoy the ride<3