Actions

Work Header

Mie Ayam Mang Ukkai

Chapter 3

Notes:

Haloo guys, Hil kembali, dan akhirnya menamatkan cerita ini, hehehe.

Jadi, aku baru aja baca slow burn itafushi yang manis banget, tapi gara-gara itu juga, jadi mempengaruhi tulisanku yang ini.
Truth be told aku suka baca slow burn, tapi ga suka nulisnya, hahaha 😭😭

Every 1st meeting sebenernya berpotensi jadi slow burn, tapi ya begitulah teman-teman. I don't write slow burn (anymore) in this moment.

Anyway. Udah itu aja. Mohon maaf kalau ada typo dan selamat membaca!!!

(See the end of the chapter for more notes.)

Chapter Text

Setelah ibu kantin meletakkan dua piring nasi goreng dan dua gelas es jeruk di meja mereka, Bokuto mengucapkan terima kasih dengan singkat dan langsung menyantap makanannya dengan lahap. Berbeda dengan Bokuto, Akaashi tidak akan langsung makan. Ia tidak suka makanan yang terlalu panas, jadi biasanya ia akan menunggu sambil memperhatikan Bokuto. 

Akaashi sudah menduga orang seperti Bokuto pasti punya nafsu makan yang besar. Sudah sekitar tiga bulan sejak mereka makan bersama pertama kali di kedai Mang Ukkai waktu itu, dan Akaashi mulai mengetahui hal-hal kecil soal Bokuto. Sebagai contohnya… Bokuto suka sekali daging. Oh, tentu saja otot-otot itu tidak akan berbohong. Dan, oke, mungkin kalian akan beranggapan bahwa Akaashi agak physicalist (bentuk lain dari materialis, tapi memandang fisik, entahlah, Akaashi tidak yakin itu adalah kata yang benar), sebab hal pertama yang ia perhatikan adalah itu, tapi seluruh tubuh Bokuto memanglah work of art! Dan apa salahnya mengapresiasi itu? 

Akaashi tidak sepenuhnya physicalist kok. Ia juga tahu hal-hal lain soal Bokuto, seperti bagaimana Bokuto punya mimpi untuk jadi atlet voli profesional; bagaimana Bokuto agak narsis karena menamai motornya dengan namanya sendiri, yang mana menurut Akaashi justru sangat lucu; dan bagaimana ekspresi Bokuto bisa langsung naik setingkat lebih antusias begitu melihat Akaashi atau membicarakan olahraga kesukaannya. Bokuto suka membicarakan soal teman-temannya, timnya, serta bagaimana mereka bisa jadi sangat kacau dan berisik karena saking bersemangat.

Hubungan Akaashi dan Bokuto berkembang dengan baik sejauh ini. Hal itu membuat Akaashi ingat saat pertama kali melihat Bokuto, ia hanya memandang Bokuto sebagai spoiled brat yang tidak pernah tahu rasanya kerja keras karena dilahirkan di keluarga berada sejak awal. Bukan berarti Akaashi sangat against hal ini sih. Bagaimanapun Akaashi juga kerja hanya untuk menambah uang jajan dan berusaha tetap produktif (sekali dayung dua pulau terlampaui), bukan karena sangat butuh uang.

Tapi, siapa sangka anak se-spoiled Bokuto rela siang-siang kepanasan karena jadi ojol hanya untuk mendekati Akaashi? Terus terang Akaashi sangat tersanjung. Bagaimana Akaashi tidak luluh? Tapi, itu menimbulkan satu pertanyaan.

“Kak Bokuto,” panggil Akaashi. Ia belum menyentuh nasi gorengnya sama sekali.

“Iya, Akaashi,” sahut Bokuto sebelum kembali menyendok nasi goreng ke mulut.

“Kamu pernah bilang kalau mulai jadi driver ojol untuk PDKT, kan?” Akaashi memulai.

Bokuto mengangguk dengan mulut penuh.

“Nanti kalau udah selesai PDKT, gimana? Masih terus kerjanya?”

Itu dia pertanyaan yang sudah ia simpan akhir-akhir ini. Menurut Akaashi, dengan kedekatan mereka yang sekarang, sudah pantas untuk menanyakannya. Akaashi tidak bisa menebak jawaban Bokuto, serta apakah jawaban itu akan memberi dampak besar pada pandangannya terhadap Bokuto atau tidak. Secara pribadi Akaashi ingin Bokuto tetap bekerja sebagai driver sih, tapi kalau dia tidak mau juga tidak apa-apa….

Bokuto mengerjap. Ia mengunyah dan menelan dulu makanan di mulutnya sebelum menjawab. Ia mengernyit. “Selesai PDKT itu waktu…?”

“Kita udah pacaran?” tawar Akaashi, sebab, memangnya apa lagi artinya selesai PDKT?

Bokuto mematung dengan kedua pipi bersemu, seolah pemikiran tentang mereka pacaran benar-benar belum pernah masuk di otaknya.

Akaashi facepalm. Dari seluruh kemungkinan jawaban Bokuto yang ia pikirkan, ia benar-benar tidak memikirkan ini. Akaashi tahu kalau Bokuto tidak pernah pacaran sebelumnya, sehingga reaksinya ini bisa dipahami. Tapi tetap saja.

“Kita nggak mungkin PDKT terus kan?” tanya Akaashi, kecemasan mulai menghampiri. Apa Akaashi saja yang ingin pacaran? Kalau dipikir-pikir, Bokuto memang tidak pernah menyinggung soal mereka jadi pasangan sih. Apa dia salah mengartikan ‘PDKT’ yang dikatakan Bokuto? Apa ‘PDKT’ di kamus Bokuto hanya jadi lebih dekat tanpa prospek apa pun di masa depan? Apa Bokuto hanya ingin dekat dengan Akaashi sebagai teman? Tapi bukankah Bokuto suka Akaashi? Lalu kenapa….

Takut-takut, Akaashi pun bertanya, “Kita bakal pacaran, kan?”

Dan sebuah jawaban yang sangat tidak memuaskan meluncur dari bibir Bokuto. “Aku belum mikirin soal itu.”

.

.

.

Setelah makan nasi goreng dengan Akaashi, Bokuto kembali ke gym untuk bertemu dengan teman-temannya, sementara Akaashi harus masuk kelas. Latihan belum akan dimulai sebelum pukul tiga sore, jadi mereka bisa memakai lapangan dengan bebas.

Sembari melakukan peregangan, Bokuto memikirkan pertanyaan Akaashi sebelumnya. Apa ia akan terus bekerja atau tidak setelah selesai PDKT. Terus terang, ia tidak pernah memikirkan soal itu sebelumnya. Ia menikmati waktu PDKT mereka. Ia menikmati juga menjadi driver. Tapi tidak bisa dipungkiri alasan ia mulai bekerja adalah karena Akaashi. Kalau tujuannya sudah tercapai, memangnya masih perlu? Jawabannya jelas tidak perlu sih.

Bokuto bukan orang yang terlalu memusingkan apa yang akan terjadi di masa depan. Ia lebih suka hidup pada momen itu dan memikirkan sisanya nanti. Itulah sebabnya ia tidak terpikir apa yang akan terjadi setelah ia selesai PDKT. Barulah setelah Akaashi bertanya ini ia benar-benar memikirkannya.

Bagaimanapun, menurut Bokuto, tujuannya sudah tercapai. Ia sudah berhasil PDKT dengan Akaashi. PDKT artinya pendekatan, kan? Dalam pikiran Bokuto, ia jadi ojol untuk mendekati Akaashi. Ia melibatkan pelanggan-pelanggan seperti Shoyo dan mengatakan pada semua orang untuk mendoakannya bisa dekat dengan Akaashi. Nah, sekarang, dia sudah dekat dengan Akaashi! Mereka sudah ngobrol setiap hari, bertemu hampir setiap hari, makan bersama, jalan-jalan memutari kota dengan Koutarou#2 bersama. Semua itu menandakan kalau mereka dekat, kan? Artinya dia berhasil!

Hanya saja Bokuto belum terpikir untuk menaruh label pada kedekatan mereka, yang rupanya juga berarti tanda dari selesainya masa PDKT itu sendiri. 

Bukan berarti tidak mau, dia hanya agak bingung awalnya! Ia mau kok pacaran dengan Akaashi! Pemikiran tentang itu saja sudah membuat Bokuto ingin pamer ke seluruh dunia, apalagi kalau dia sudah benar-benar jadi pacar Akaashi.

Saat menceritakan pada Kuroo dan Oikawa, mereka juga bertanya kapan ia berencana mau nembak Akaashi. 

“Gue udah harus nembak, ya?” tanya Bokuto sambil menggaruk kepala. Ia tidak tahu berapa lama orang biasanya PDKT.

Kuroo dan Oikawa saling menatap. 

“Tergantung,” kata Oikawa. “Orang PDKT nggak bisa ditentuin waktu, tapi ngelihat seberapa banyak progres kalian. Buat lo sekarang Bok, kalian aja udah kayak orang pacaran bahkan sebelum pacaran. Bedanya karena nggak ciuman aja mungkin? Beberapa orang juga nggak sampe ciuman sih walau pacaran.” Oikawa mengedikkan bahu.

Bayangan tentang dirinya dan Akaashi ciuman benar-benar di luar kendali Bokuto.

“Sebenarnya nggak papa kalau lo mau take it slow, Bok. Cuman, karena dia udah nanya gitu, dan lo jawabnya gitu, takutnya Akaashi merasa dia dapet missed signals.” Kuroo menjelaskan.

Oikawa mengangguk menyetujui.

Bokuto menggeleng. Tidak ada take it slow, take it slow-an, kalau memang dia bisa jadi pacar Akaashi sekarang, dia akan langsung nembak sekarang juga!

Pembicaraan soal missed signals itu agak menyeramkan sih. Ia tidak ingin dianggap main-main. Tampaknya, ia berhutang penjelasan pada Akaashi. Ditambah lagi, mengingat bagaimana ekspresi Akaashi di kantin sebelum mereka berpisah tadi. Ekspresinya langsung masam dan tingkahnya langsung menjauh seperti anak kucing yang ngambek karena tidak dikasih makan.

Sarena itulah, sore hari setelah seluruh kelas Akaashi selesai, Bokuto sudah bertengger di Koutarou#2 di depan gedung perkuliahan Akaashi.

Tidak sulit menemukan Akaashi dengan selera pakaiannya yang aneh. Akaashi sekarang sedang memakai kaos polo bergambar anjing bertuliskan ‘kaos gambar anjing’ seolah itu belum cukup jelas. Itu membuat Bokuto mengingat Deku dari My Hero Academia. Jangan-jangan Akaashi memang terinspirasi dari sana.

“Akaashi!” Bokuto mengangkat tangan.

Akaashi menghampirinya, tapi mukanya tetap masam. “Ada apa, Kak?”

“Jalan yuk?” ajak Bokuto.

Akaashi mendengus dan menggeleng. “Nggak deh. Aku mau langsung pulang.” Tanpa menunggu jawaban Bokuto, Akaashi langsung beranjak.

Bokuto menahan lengan Akaashi. Sebelum Akaashi sempat protes, ia berkata, “Aku udah punya jawaban dari pertanyaan kamu.”

.

.

.

Pada akhirnya mereka tidak langsung jalan. Akaashi bilang ia mau mandi lebih dulu, jadi Bokuto mengantarnya ke kos. Sembari menunggu Akaashi mandi, Bokuto berbaring di tempat tidur Akaashi sambil memainkan game yang akhir-akhir ini sangat populer. Biasanya Bokuto main dengan Kuroo dan Oikawa, lalu tetangga kos mereka akan ngomel karena terganggu dengan kegaduhan mereka, tapi kemudian ikut main juga. Bokuto berusaha meyakinkan Akaashi untuk main, namun selalu ditolak.

Tak lama, Akaashi keluar dari kamar mandi sudah berpakaian lengkap. Handuk tersampir di bahu untuk mengeringkan rambut.

Bokuto duduk dan tersenyum. “Makan dulu, yuk?”

Maka begitulah, mereka akhirnya baru bisa jalan-jalan santai dengan Koutarou#2 pada pukul tujuh malam setelah selesai makan. Bokuto tidak komplain, sebab nembak pada malam hari rasanya jadi lebih sakral dan romantis, dengan hawa dingin yang membelai wajah mereka, juga lampu-lampu dari toko di pinggir jalan yang menerangi trotoar.

Mesin Koutarou#2 menderu pelan, berbarengan dengan detak jantung Bokuto yang makin kencang. Duh, kenapa tidak ada yang pernah bilang kalau mau nembak pujaan hati rasanya sangat grogi begini? Duduk di belakangnya, Akaashi memeluk pinggang Bokuto dengan erat. Sebuah kebiasaan yang tumbuh entah sejak kapan.

Mereka mengitari kota tanpa tujuan pasti, membiarkan jalan membawa mereka pergi. Mereka masih punya banyak waktu, asalkan Akaashi masih sempat kembali sebelum pukul sebelas malam, yang merupakan jam malam di kos Akaashi. Sesekali, Bokuto menoleh ke samping, melihat wajah Akaashi yang rileks menikmati angin malam. Mata gelapnya menangkap lampu kendaraan yang lalu-lalang. Kelihatannya seperti bintang jatuh melewati kedua irisnya.

Bokuto tersenyum pada diri sendiri. Mimpi apa ya Bokuto sampai dia benar-benar beruntung bisa sedekat ini dengan Akaashi?

“Akaashi,” panggil Bokuto agak keras. Ia mulai menepi dan memelankan laju Koutarou#2. Bagus, dengan begini mereka bisa tetap bergerak, namun tidak perlu teriak-teriak untuk bisa ngobrol.

“Iya, Kak,” sahut Akaashi, menaikkan kaca helmnya.

Bokuto menarik napas. Bagaimana cara memulainya?

“Aku memang daftar jadi driver ojol buat deketin kamu,” kata Bokuto. Ia bisa merasakan Akaashi mencondongkan tubuh padanya, mulai tertarik. “Tapi aku nggak berpikir hanya karena kita udah deket dan pacaran nanti, berarti aku harus berhenti.”

Bokuto merasakan pelukan di pinggangnya mengerat. Akaashi diam sejenak sebelum bertanya, “Jadi kita bakal pacaran?”

Cih. Rupanya missed signals yang dibilang Kuroo benar terjadi.

“Aku suka kamu itu beneran, Akaashi. Sekarang setelah kenal semakin jauh, aku makin suka. Kamu sulit dibikin ketawa, jadi setiap kali kamu ketawa rasanya kayak aku habis cetak skor di lapangan. Puas banget rasanya kayak kemenangan.”

Akaashi terkekeh mendengarnya. “Kamu melebih-lebihkan, Kak.”

“Beneran!” Bokuto menghela napas lagi. “Aku pengen kamu tahu, aku nggak PDKT-in orang sembarangan. Aku nggak gandeng tangan, makan seporsi berdua, ngajak jalan, bilang cantik, sampe bela-belain hujan-hujan tetep anter makanan Mang Ukkai ke customer cuma karena aku pengen main-main sama perasaan kamu.”

Akaashi bergumam, menyandarkan tubuhnya ke punggung Bokuto.

Jantung Bokuto berdetak kencang sekali sampai ia takut jangan-jangan ia terkena serangan jantung. Tapi kemudian, ia juga merasakan jantung Akaashi berdetak sama kencangnya di punggungnya.

Bokuto melepas tangan kirinya dari setir dan menggengam tangan Akaashi yang memeluk pinggangnya. Perlahan, mesin Koutarou#2 benar-benar mati dan mereka berhenti di jalan yang sepi. 

Bokuto melepas helm. “Aku mau kamu jadi pacar aku.” Bokuto menoleh, melihat wajah Akaashi yang balas menatapnya. Matanya jernih, pipinya bersemu merah terang. Bokuto yakin pipinya sendiri pun sama merahnya sekarang. “Kamu mau?”

Akaashi menyadari betapa dekat wajah mereka sekarang. Hanya dengan mengurangi jarak dua atau tiga senti lagi, mereka sudah bisa berciuman. Mereka berdua menahan napas.

Akaashi menatap mata Bokuto dan akhirnya mengangguk. “Iya aku mau.”

.

.

.

Satu jam kemudian, mereka sampai di kos Akaashi. Akaashi turun dan langsung mengembalikan helm pada Bokuto. Bokuto juga melepaskan helm, masih duduk di atas Koutarou#2. Keduanya masih tidak bisa menyembunyikan senyum dan kebahagiaan masing-masing, pipi Bokuto bahkan terasa sakit karena terlalu banyak tersenyum.

“Aku baru pertama pacaran, Akaashi. Jadi kalo aku ngelakuin hal yang aneh, atau nggak ngelakuin sesuatu yang harusnya dilakuin orang pacaran, kamu kasih tahu aja ya,” kata Bokuto.

Akaashi mengangguk, manis sekali dengan kedua pipi yang masih merah muda sejak tadi. “Seneng bisa jadi yang pertama.”

Bokuto nyengir lebar. “Semoga sampe yang terakhir juga.”

Mereka menghabiskan sekitar lima belas menit kemudian untuk mengobrol, sebelum Akaashi benar-benar masuk dan Bokuto kembali ke rumah.

Koutarou#2 melaju dengan kencang membelah malam, dan Bokuto berseru kepada bulan, “HEY HEY HEY!!!!”

Setiap orang punya cara yang unik untuk PDKT, kata Kuroo, dan Bokuto adalah salah satu yang terunik. 

Yah, Bokuto telah membuktikan cara uniknya untuk PDKT ini benar-benar membuahkan hasil yang memuaskan.

Hei, mungkin Bokuto bisa membuka konsultasi untuk siapa saja yang ingin PDKT? (Ide ini langsung ditolak oleh Kuroo dan Oikawa).

Notes:

Agak gimana gitu ya. Rasanya melenceng dengan karakter di kedua chapter awal /sangat strungling. Tapi ya sudah, tidak papa teman-teman. Setidaknya akhirnya mereka bisa jadian, yey, clap clap 🥳👏👏

Terima kasih sudah membaca sampai sini!

Anyway, what do you think if I write itafushi? 🤔 ada yang suka mereka?

Notes:

Kudos, comment, boorkmark, share, etc, highly appreciated!!!
Jangan lupa juga tinggalkan masukan kritik dan saran karena aku masih butuh banyak belajar!!!

Bagi yang mau menghubungi Hilrayan bisa lewat carrd

Bagi yang mau menuliskan pesan anonim, bisa lewat secreto

Okey, sekian dari Hil, dan sampai jumpa di fanfic berikutnya!!

Series this work belongs to: