Chapter Text
Satu lantai di bawah Koutarou dan Keiji, hidup sebuah keluarga kecil yang harmonis. Tooru dan Hajime sudah menikah hampir sepuluh tahun lamanya, dan telah dikaruniai seorang anak laki-laki sehat yang dinamai Tobio. Meski dengan raut wajah tidak ramah, sebenarnya anak itu cukup sopan dan penurut. Sebagai satu-satunya anak yang sebaya dengan Shoyo di lokasi rusun, mereka jadi akrab karena sering bermain bola bersama.
Pagi itu Hajime mengubek-ubek lemari baju, mencari sepotong kemeja yang harus ia pakai, sementara istrinya sedang sibuk di dapur.
Saat menemukan yang ia cari, Hajime mengerutkan kening. “Tooru, kenapa kemejaku belum disetrika?” tanya Hajime dari dalam kamar.
“Kenapa keran air belum dibenerin?” Bukannya menjawab, Tooru balas berteriak.
Hajime menghela napas. Ini bukan kali pertama mereka saling mempertanyakan tanggung jawab.
Hajime keluar dari kamar, melihat Tooru sedang membagi nasi goreng ke atas tiga piring. “Kan udah dibilang bakal aku benerin waktu libur,” katanya sambil memijit pelipis. “Kamu kenapa nggak sabar banget? Lagian masih bisa dipake, kan? Nggak harus buru-buru?” katanya lebih lembut, berusaha berunding. Urusan kemeja jauh lebih mendesak dibanding keran air yang bocor.
“Yah, kemejamu juga masih bisa dipake kan walaupun kusut?” tukas Tooru, menatap tajam Hajime seolah siap mendebat setiap kata yang akan ia ucapkan. “Masih bagus udah dicuci.”
Ekspresi Hajime berubah. Ia ingin bicara lebih panjang, namun jam sudah menunjukkan pukul tujuh lebih sedikit. Dengan helaan napas dan hati dongkol, ia berbalik dan kembali ke kamar. “Kalau nggak bisa nunggu aku libur, panggil tukang aja.”
“Kalau nggak mau setrika sendiri, laundry-in aja!” Suara Tooru mengikuti.
Hajime mengabaikannya. Sebenarnya istrinya itu kenapa sih? Rasanya beberapa tahun belakangan dia jadi mudah sekali marah. Seingat Hajime, pada awal mereka menikah, istrinya itu adalah istri yang sangat, sangat sempurna. Ia akan mencium Hajime sebelum berangkat bekerja. Merapikan kerah dan dasi Hajime saat ia bercermin. Menyiapkan makanan-makanan terbaik. Menyambutnya dengan rumah yang bersih, dirinya yang wangi, dan segelas kopi saat Hajime sudah pulang. Tidak pernah ada cela dalam kesempurnaan Tooru.
Semuanya mulai berubah sejak Tobio lahir. Dengan datangnya nyawa baru yang harus diberi makan, Hajime harus bekerja lebih keras. Hal yang sangat melelahkan sebab bukan hanya pekerjaannya bertambah, ia juga harus mengurus Tobio selama masa pemulihan Tooru. Tidak lupa pula bayi Tobio yang menangis tiap dua jam sekali di malam hari, membuat ia dan Tooru tidak pernah mendapatkan istirahat yang cukup. Ditambah lagi, perhatian Tooru juga terbagi. Pusat perhatiannya tidak lagi pada suaminya, melainkan pada anak mereka.
Meski demikian, semuanya masih berjalan dengan baik. Meski Hajime tidak lagi mendapat ucapan “aku cinta kamu” setiap hari dan kecupan-kecupan ringan sebagaimana anak remaja, keadaan rumah masih teratur. Tidak pernah ada cucian menumpuk. Tidak pernah ada rumah berantakan. Tidak pernah ada makanan yang belum siap dihidangkan. Tooru bisa mengurus semuanya selama Tobio bersama Hajime atau orang lain.
Saat Tobio sudah lebih besar, Hajime kira akhirnya kehidupan kembali seperti sebelumnya. Setidaknya sekarang tidak akan ada tangisan bayi pada pukul 2 pagi. Setidaknya Tobio tidak perlu lagi pengawasan non stop, sehingga ia dan Tooru bisa lebih santai.
Rupanya tidak juga.
Saat Tobio mulai masuk sekolah, Tooru bersikeras untuk bekerja. Ia hanya akan bekerja setengah hari dari Tobio berangkat sampai Tobio pulang sekolah. Selain itu tidak ada yang berbeda. Hajime tidak setuju. Kalau memang kebutuhan mereka kurang, ia bisa cari pekerjaan lain dengan upah yang lebih besar. Melakukan dua pekerjaan sekaligus juga tak masalah. Ia tidak mau membebankan Tooru untuk masalah keuangan. Lagipula, itu tidak seperti mereka benar-benar kurang. Hajime tidak tahu di mana Tooru mendapatkan pikiran itu, tapi Tooru hanya ingin… sesuatu untuk menyibukkan diri dan mencapai sesuatu, serta rasa bebas karena punya uang sendiri, atau apalah.
Perdebatan mereka dimulai dari sana, dan semakin memanjang dan melebar ke mana-mana seiring berjalannya hari. Hajime merasa tidak lagi dipercaya sebagai suami. Seburuk itukah Tooru merasa kurang sampai dia sendiri harus bekerja? Apakah Tooru sebegitu tidak percaya Hajime bisa memenuhi seluruh kebutuhan mereka bertiga? Membuat mereka bahagia tanpa rasa khawatir akan makan apa besok pagi?
Pertengkaran makin memanas saat Hajime mulai melihat peralatan makan yang menggunung di wastafel atau mainan Tobio yang berserakan di lantai. Awalnya, Tooru akan bilang, “Iya, nanti dibersihkan, tadi belum sempat.” Lalu Hajime akan berkata, “Kalau kamu nggak kerja, pasti udah beres dari tadi.” Itu membuat Tooru tidak jadi membersihkannya dan malah menyalakan tivi. Hajime akan sangat geram kalau Tooru sudah merajuk seperti itu.
Hajime tidak mengerti. Bukankah yang dia bilang benar? Tooru diberikan pilihan untuk hidup yang nyaman dan aman, kenapa dia tetap menolak?
Hal itu terus berlangsung dan seiring waktu, pekerjaan rumah makin diabaikan. Hal yang aneh adalah, entah bagaimana pakaian-pakaian yang belum disetrika, cangkir-cangkir kopi yang belum dicuci, semuanya selalu hanya milik Hajime. Seragam Tobio selalu licin setiap kali akan pergi sekolah. Tempat bekalnya juga tidak pernah ketinggalan.
Terus terang, di titik ini Hajime sudah tidak tahu apakah Tooru sengaja melakukan hal-hal itu hanya untuk membuatnya jengkel atau memang tidak sempat.
Makan malam di rumah Hajime lebih sering dilakukan berdua saja dengan Tooru, sementara Tobio sedang les di tempat Keiji. Selain itu, mengingat betapa sering mereka bertengkar, lebih baik Tobio tidak perlu dilibatkan sejak awal.
Hajime sedang merebus air untuk kopinya sebagai teman makan malam saat menyadari tidak ada sisa di dapur. “Tooru, bukannya kemarin baru dari supermarket?”
“Iya,” jawab Tooru yang sedang menggoreng telur orak-arik.
“Kamu nggak lihat kopiku habis?” tanya Hajime.
Tooru tampak terdiam seperti baru menyadari sesuatu. Ia berdecak. “Kayaknya kelewat. Aku udah ngerasa ada yang kurang kemarin, tapi Tobio pengen cepet-cepet pulang, jadi lupa. Ditambah Bu Bos juga pesen sesuatu, barang yang dibeli jadi banyak.”
Hajime menatapnya. “Beneran lupa atau sengaja nggak beli?”
Tooru memutar bola mata. “Tolonglah, aku nggak mau berdebat lagi, capek. Kamu nggak capek memangnya?”
Hajime tidak langsung menjawab. “Aku yakin kamu nggak bakal secapek ini kalau berhenti kerja.”
Tooru dengan kasar mematikan kompor dan menaruh spatula, lalu menatap Hajime dengan tangan terlipat di dada. “Mungkin kalo kamu bantu sedikit aja pekerjaan rumah, kamu nggak bakal kehabisan kopi, atau punya baju-baju yang belum disetrika.”
“Aku kerja!”
“Jangan bertingkah seolah kamu sendiri yang kerja!” bentak Tooru. “Aku juga kerja, dan aku masih bisa ngurusin semuanya. Tapi cuma perkara kecil kayak kopi habis aja kamu permasalahin! Harus dibenerin saat itu juga! Padahal kamu sebenarnya bisa beli sendiri! Punya kaki juga buat jalan ke toko, kan?! Emangnya kamu Tobio yang masih harus disuapi?! Nggak kan?” kemarahan Tooru meledak. “Sementara kamu, kalau lampu atau keran air rusak, nggak pernah cepet-cepet dibenerin! Lama-lama aku yang benerin sendiri!”
“Itu yang dari dulu coba aku bilang!” Bukannya berusaha menenangkan, Hajime juga tersulut emosi. “Kita hidup punya tanggung jawab di porsi masing-masing. Kamu sama tanggung jawabmu, dan aku sama tanggung jawabku. Waktu di mana kamu ikut campur sama tanggung jawabku, kamu juga pengen aku bantu tanggung jawabmu. Padahal sejak awal aku nggak setuju.”
Tatapan Tooru pada suaminya menunjukkan seperti ia tidak lagi mengenal laki-laki di depannya. Mana Hajime yang dulunya berterima kasih hanya karena ia melakukan hal-hal kecil seperti membuat kopi. Mana Hajime yang sering memberikannya hadiah hanya karena rasa masakannya lebih baik dari percobaan pertama. Mana Hajime yang selalu mengapresiasinya, meskipun dengan cara canggung yang penuh teka-teki? Sekarang, suaminya itu bukan hanya tidak pernah mengapresiasi semua yang Tooru lakukan, dia juga selalu protes dan menuntut.
Perang dingin mereka diinterupsi suara ketel mendidih.
Tooru melepas celemek dan mengambil tas tangannya. “Makan aja duluan. Aku mau beli flanel buat dibawa Tobio ke sekolah besok.” Ia diam sejenak. “Sekalian kopimu.”
Pada akhirnya, tidak ada makan malam bersama sama sekali.
.
.
.
Di bagian paling bawah rusun terdapat kedai kopi lesehan dengan sebuah televisi. Tempat itu sering digunakan berkumpul para bapak-bapak untuk begadang menonton bola bersama.
Hajime datang untuk mencari udara segar, berharap bisa menenangkan pikiran dengan bicara ke orang lain, tapi malah bertemu Koutarou yang sedang makan gorengan dengan sebuah majalah di tangan.
Koutarou yang menyadari kehadirannya tersenyum lebar. Dia ramah sekali pada semua orang.
Hajime balas tersenyum kecil dan duduk di sampingnya. Sebenarnya, yang Hajime inginkan untuk diajak bicara adalah pria yang lebih tua darinya, seorang bapak-bapak paruh baya yang sudah lebih lama menjalin rumah tangga. Atau seorang kakek-kakek kalau perlu. Yang sudah punya cucu dan bisa menasehati putranya.
Tapi, tidak dapat dipungkiri Koutarou dan Keiji tampak sangat bahagia. Bahkan mungkin bisa dibilang mereka adalah pasangan paling bahagia yang Hajime kenal. Sedikit saran darinya tidak akan merugikan siapa pun.
“Nilai Tobio jadi lebih bagus setelah les. Makasih buat Keiji,” kata Hajime memulai percakapan.
“Seneng bisa bantu,” sahut Koutarou.
Setelah basa-basi itu, secara otomatis saja, Hajime sudah menuangkan masalahnya pada Koutarou.
Setelah Hajime menyelesaikan ceritanya, Koutarou bertanya, “Kapan terakhir kali ajak istrimu kencan? Beliin bunga, atau gaun baru tanpa dia minta?”
Hajime mengernyit, dalam hati mempertanyakan kenapa Koutarou ingin tahu soal hal yang tidak relevan. “Lupa. Sejak Tobio lahir kayaknya udah nggak pernah.”
“Duh, kasihan ya.”
Oke itu membuat Hajime tersinggung. “Harusnya kamu bela aku di sini.”
“Maunya gitu, tapi kamu nggak kasih banyak hal yang bisa dibela,” kilah Koutarou.
Hajime mendengus.
“Keiji itu ya, selalu komunikasi. Dia selalu terbuka sama aku. Jadi aku selalu tahu apa yang dia pengen dan yang nggak dia pengen,” jelas Koutarou. “Pernah kepikiran nggak, nanyain apa yang Tooru pengen? Atau kalau yang dia pengen sebenarnya cuma dukungan dari kamu?”
“Tapi aku dari awal emang nggak mendukung? Aku menentang, dan dia tahu itu, tapi dia sendiri yang ngotot.”
“Kalau gitu ajak bicara baik-baik,” kata Koutarou. “Pernah nggak, nanya kenapa dia pengen banget?”
Hajime terdiam.
Koutarou mengangguk-angguk seolah mengatakan, itulah masalahnya. “Saranku, ajak kencan, terus baru bicara. Tanyain kenapa dia pengen banget kerja. Dan terbuka juga, kenapa kamu nggak pengen dia kerja,” tutur Koutarou. “Inget, harus jujur.”
Di situ Hajime menarik napas panjang sekali.
“Kayaknya aku tahu kenapa,” desah Koutarou. “Nggak enak ya, nunjukin sisi lemah ke istri?”
Hajime mengangguk enggan.
“Sama,” kata Koutarou. “Tapi dia kan istrimu, orang yang sejak awal udah tahu kamu nggak bakal setiap hari jadi superhero. Kita aja yang nggak ngizinin mereka, padahal aslinya mereka nggak bakal keberatan.”
Beberapa percakapan lagi dengan Koutarou, membuat Hajime menghela napas berat, tiba-tiba merasa menjadi orang yang bukan hanya jahat dan tidak bersyukur, tapi juga sangat egois.
Selama ini Hajime hanya ingin didengar dan tidak mau mendengarkan, dengan alasan suami dan istri sudah seharusnya seperti itu, sebagaimana keluarga-keluarga lain. Sebagaimana suami dan istri lain. Sebagaimana standard yang ada di masyarakat. Lebih buruknya lagi, itu bahkan bukan alasan sebenarnya Hajime tidak mau Tooru bekerja.
Yeah. Hajime sebenarnya tidak peduli dengan standar masyarakat. Itu hanya sebuah kedok untuk menutupi alasan sesungguhnya yang tidak ingin ia ucapkan.
“Kamu sayang Tooru, kan?”
“Gausah ditanya,” jawab Hajime tanpa ragu.
Koutarou tersenyum. “Kalau gitu kalian cuma butuh bicara.”
Lagipula, kenapa dengan standar masyarakat? Kalau Tooru tidak suka, ya sudah. Bagaimanapun Hajime dan Tooru bukan suami atau istri lain. Mereka adalah diri mereka sendiri. Kalau tidak setuju, lakukan saja penyesuaian yang bisa bekerja untuk mereka berdua.
Lihat saja Koutarou dan Keiji. Tidak ada dari kehidupan mereka yang menunjukkan ‘standard masyarakat’, tapi mereka bahagia. Sangat, malah.
Hajime jadi berpikir, kalau standar hanya membuat banyak orang sedih, kenapa harus ada sejak awal?
Hajime melipat tangan di dada. Benar juga. Kalau ia dan Tooru bisa bicara lebih awal, hal ini tidak akan berkepanjangan. Kalau Hajime menanyai Tooru sejak awal, bukannya langsung menolak, mereka tidak akan sampai di keadaan ini.
“Hei,” Koutarou menepuk pundaknya sebagai tanda dukungan. “Itu terjadi, kita semua bikin kesalahan. Ini pertama kalinya kita jadi suami, juga pertama kalinya kalian punya anak. Lumrah kalo nggak bisa langsung sempurna.” Koutarou tersenyum. “Aku juga kok.”
Hajime menaikkan sebelah alis, tidak percaya dengan kata-katanya.
Koutarou menghela napas. “Aku pernah bikin Keiji nangis… sampai dia nggak mau makan dan keluar kamar seharian….” akunya dengan berat hati.
Mata Hajime membulat kaget. “Yang bener?”
Koutarou hanya mengangguk. “Masih membekas sampai sekarang.”
Hajime jadi merasa simpati, tapi juga merasa cukup tenang. Sebab, meski selalu bertengkar, setidaknya ia tidak pernah membuat Tooru menangis. Di sisi lain Koutarou yang selalu tampak bahagia dengan Keiji, rupanya juga pernah melakukan kesalahan yang mungkin lebih besar darinya. Kalau Koutarou bisa memperbaiki kesalahan besar itu dan jadi sebahagia sekarang, maka kesalahan kecil Hajime juga bisa diperbaiki. Hajime tahu, tidak ada kata terlambat atau tanggal kadaluarsa.
Hajime tertawa pendek untuk sedikit mencairkan suasana. “Parah sih itu. Untung nggak talak, Kou.” Kini giliran Hajime yang menepuk pundak Koutarou.
Koutarou ikut tertawa. “Iya kan.”
