Chapter Text
Semua manusia memiliki cara yang unik untuk PDKT.
Seumur hidupnya, itulah yang Kuroo percaya. Setelah menyaksikan banyak kisah cinta orang termasuk kisah cintanya sendiri dari tahap kenalan, jadian, putus, balikan, dan seterusnya, Kuroo sudah melihat banyak cara PDKT yang beragam. Semuanya sesuai dengan kepribadian dan karakter masing-masing orang. Dan mungkin, cara paling unik dan paling effort untuk PDKT sejauh ini telah jatuh kepada sohibnya sendiri, Bokuto Koutarou.
Semuanya dimulai ketika Kuroo mengajak Bokuto pergi ke sebuah kedai mie ayam milik Mang Ukkai. Bisa dibilang kedai itu adalah kedai legend untuk para mahasiswa di kampus sekitar. Porsi banyak, enak, murah lagi! Siapa yang bisa menolak?
Oke, jadi, seperti mahasiswa fomo pada umumnya, Kuroo mengajak teman sehidup sepermainannya untuk makan di kedai itu (Kuroo tidak mau menyebut mereka sehidup semati, terlalu menakutkan. Prinsipnya, mau sedekat apa pun pertemanan mereka, kalau mereka mau mati mah silahkan saja, jangan ajak Kuroo juga). Ia pun berangkat bertiga dengan Bokuto dan Oikawa.
Tempat itu tidak terlalu besar, hanya seluas dua kamar dijadikan satu. Dengan area dapur terbuka, sehingga pelanggan bisa melihat segala hal yang terjadi di situ.
Nah, ajaibnya adalah, bukan hanya kepincut dengan makanan yang ada di sana, Bokuto juga kepincut dengan tukang masaknya.
“Yang best seller di sini apa?” tanya Oikawa pada pelayan pirang berkacamata. Bisa ditebak ia berusia setahun atau dua tahun lebih muda dari Kuroo dkk.
“Ada mie ayam ceker, bakso mozzarella, mie jamur, atau bakso urat,” jawab si pelayan dengan malas.
Kuroo mengernyit padanya. Dengan muka tidak peduli seperti itu, dia tidak cocok jadi pelayan. Jadi kasir boleh lah.
“Bakso mozzarella tuh gimana?” tanya Bokuto. “Disiram mozzarella?”
“Bukan, bakso isi mozzarella,” jawab si pelayan.
“Ohhh.” Bokuto mengangguk-angguk mengerti. Pandangannya lalu mulai menerawang, membayangkan bagaimana rasanya. “Emangnya enak bakso sama keju?”
“Itu bestseller sih,” kata si pelayan. “Berarti banyak yang suka.”
Kemampuan promosinya juga buruk, Kuroo mencatat di kepalanya. Kalau Kuroo yang jadi pelayan, dia akan mengagung-agungkan bakso mozarella yang digadang-gadang itu. Mulai dari kuahnya yang gurih, baksonya yang kenyal, dan keju yang menjadi pelengkap semua itu.
Setelah berdiskusi sejenak dengan kedua temannya, mereka akhirnya memutuskan. “Ya udah, bakso mozzarella tiga.”
Si pirang mencatat pesanan mereka. “Minumnya?”
“Teh pahit panas,” jawab Kuroo, ketika Bokuto dan Oikawa mengatakan, “Es teh manis.”
Si pelayan pirang mendengus. “Jompo ya, Kak?”
Oke, mendapat ejekan seperti itu dari sang pelayan saja sudah cukup buruk. Ditambah dengan Oikawa dan Bokuto yang malah ikut tertawa membuat Kuroo semakin naik darah. Dasar tidak setia kawan! Sebenarnya mereka berada di pihak siapa?
“Oi, awas lo ya!” Kuroo mengancam si pelayan yang sudah meninggalkan mereka. Ia beralih menatap kedua temannya yang sangat laknat. “Gue siram kalian pake teh panas gue kalo nggak diem.”
“Kapan lagi lihat Kuroo di-roasting pelayan warung mie ayam?” kata Bokuto yang masih tertawa.
“Lagian lo, ngapain siang-siang beli teh panas coba?” tanya Oikawa.
“Tck, kalian nih nggak tahu,” kata Kuroo mulai narsis dan ngeles. “Gue hot begini, makanya harus minum yang hot juga.”
“Halah,” sahut Oikawa.
Mereka pun kembali jatuh pada gelak tawa.
Dari sudut matanya, Bokuto memperhatikan si pelayan pirang memberikan pesanan mereka pada bagian dapur.
Di situlah matanya terbelalak.
Si pelayan pirang kini bicara dengan seorang laki-laki paling cantik yang pernah Bokuto lihat. Matanya tajam, alis matanya begitu tegas, rambutnya keriting lucu dan minta diusap-usap, lalu kulitnya mulus dan halus sekali seperti boneka burhan di rumahnya (yang ini halu saja sih, sebab Bokuto belum pernah menyentuhnya).
Kuroo dan Oikawa yang menyadari diamnya Bokuto pun heran. “Bok?”
Mereka mengikuti arah mata Bokuto yang berbinar-binar ke tukang masak kedai itu yang sedang menyiapkan pesanan mereka dengan cekatan.
“Kur, please bilang gue belum meninggal,” kata Bokuto, begitu terpesona dengan cara si tukang masak meracik bumbu ke mangkuk.
“Hahhh?”
“Habis gue nggak yakin yang gue lihat sekarang ini manusia atau bukan.”
Kuroo pun menatap Bokuto dengan wajah penuh pertanyaan. “Bok? Lo demen tukang masak itu?” tamya Kuroo.
“Hehehe.” Bokuto cengengesan, tidak dapat mengalihkan pandangannya, seolah si tukang masak punya magnet kuat yang menarik seluruh perhatian Bokuto.
“Bok lo homo???!!!” tanya Kuroo tidak percaya.
Bokuto menatap sinis. “Emang kenapa sih?”
Kuroo facepalm. Siapa yang menyangka kalau Bokuto homo? Astaga, jadi karena itu dia selalu menolak saat Kuroo mengajaknya berkenalan dengan gadis cantik? Sebab yang dia suka ternyata yang berbatang? Harusnya Kuroo tahu!
Oikawa yang melihat itu menyeringai. “Tahu nggak sih, alasan yang bikin kedai ini disebut legend, karena semua yang kerja di sini mahasiswa,” ujarnya menjelaskan. “Pemiliknya alumni kampus kita.”
“Nice info,” kata Bokuto tidak peduli, tidak mengerti arah pembicaraan.
“Tahan gue Kur,” kata Oikawa sambil mengambil wadah sambal yang tersedia di setiap meja.
“Oi, oi, oi!” Kuroo menahan lengan Oikawa sebelum ia melempar wadah berbahaya itu pada Bokuto.
Setelah Oikawa tenang, Kuroo menghela napas. “Maksud Oik, lo daftar gih, kerja di sini,” Kuroo menjelaskan dengan sabar. “Sekalian PDKT.”
Akhirnya hal itu menarik perhatian Bokuto. Ia menatap kedua temannya. Itu ide yang luar biasa. Hanya saja… “Gue belom pernah kerja.”
Iya, iya, anak konglomerat, batin Kuroo.
“Ya makanya, coba aja di sini sekalian cari pengalaman,” kata Oikawa. “Sekali dayung dua pulau terlampaui.”
Oke, kalau yang itu, baru Bokuto setuju. Senyumnya begitu lebar sampai Kuroo takut mulutnya bisa sobek. “OIK, ITU BRILIAN.”
Oikawa tersenyum sombong. “Makasih dulu sama gue.”
“MAKASIH, GUE TRAKTIR LO HARI INI.”
“Asik, gitu dong.”
“Gue gimana?” tanya Kuroo tidak mau ketinggalan.
“Lo juga karena udah ngajak ke sini,” jawab Bokuto.
“Itu baru Bro gue!”
Terdengar derap langkah mendekat. “Sorryyyyy telatttt!!!” kata seorang laki-laki dengan rambut silver yang baru datang, mengambil perhatian mereka bertiga.
“Akhirnya datang juga Kak Suga,” kata si pelayan pirang menyambut orang yang baru datang itu.
Suga meringis lebar. “Makasih ya Tsukki udah gantiin aku bentar. Biasalah, dosen clingy banget nggak mau ditinggal.”
Oikawa bersiul.
Itu mengambil perhatian Tsukki si pelayan pirang dan Suga.
“Oh, ada Tooru,” Suga tersenyum sadis dan menghampiri mereka.
“Ada Kouchi ternyata,” balas Oikawa. “Keberadaan lo tetep bikin refreshing kayak biasanya.”
“Baguslah, karena keberadaan lo justru bikin tempat ini nggak nyaman.” Suga menekankan kata ‘lo’ seolah itu bukan gaya bicaranya yang biasa.
“Mau berantem?” tantang Oikawa.
“Ayo!”
“Kalian saling kenal?” tanya Kuroo dengan sebelah alis terangkat.
“Oh, iya,” jawab Suga. “Dulu waktu SMA kami sering tanding.”
“Tanding voli kan?” tanya Bokuto.
Suga atau Oikawa tidak menjawab, malah saling menatap satu sama lain dengan pandangan yang tidak dapat diartikan.
“Tanding… voli… kan…?” ulang Bokuto, mulai merasa ngeri dengan keadaan di antara mereka.
“Kak Suga, makanannya udah siap,” kata si tukang masak pujaan hati Bokuto, memotong ketegangan antara Suga dan Oikawa.
“Tunggu di sini,” Suga mengatakan dengan nada mengancam, kemudian ke dapur untuk mengambil makanan mereka.
Sementara Kuroo menghela napas lega, Bokuto justru makin jatuh cinta. Bukan cuma cantik, tapi si tukang masak juga jadi pahlawan yang menyelamatkan mereka semua dari kemungkinan adanya pertumpahan darah. Dan suaranya! Suaranya lembut banget!
Saat Suga menyajikan makanan untuk mereka, Bokuto langsung bertanya sambil menunjuk ke tukang masak, “Sori, sori. Nama dia siapa?”
Suga mengernyit. “Kenapa?”
Oikawa merangkul bahu Bokuto. “Kouchi, temen gue ini love at first sight sama tukang masak lo. Bantuan dikit dong.”
“Oh?” Suga menaikkan sebelah alis, senyum miringnya mulai terbentuk. Lalu, dia berseru dengan volume keras yang sebenarnya sangat tidak necessary, “Akaashi, ada yang suka kamu nih!”
Ohhhhh, namanya Akaashi!!! Cocok banget buat yang punya! Sama-sama cantik! Bokuto akan ingat itu sampai mati!
“Hah?” Akaashi yang sedang mengelap meja dapur menatap mereka dengan bingung.
Bokuto yang bahagia mendapat perhatian Akaashi pun melambai padanya.
Akaashi mengabaikannya dan lanjut mengelap meja.
Bokuto cemberut.
“Nice try, Bro,” kata Kuroo, menepuk-nepuk pundak Bokuto, berusaha simpatik.
“Diem.” Bokuto menepis tangan Kuroo.
Saat mereka membayar, mereka dilayani lagi oleh Tsukki. Nah, kan. rupanya tebakan Kuroo benar. Tsukki adalah kasir. Dan laki-laki bernama Suga itulah pelayannya.
.
.
.
Seperti saran dari teman-temannya, Bokuto daftar untuk bekerja di kedai Mang Ukkai. Setelah mengumpulkan informasi, akhirnya dia berhasil mendapatkan alamat si pemilik. Bokuto pun datang ke rumahnya dengan tujuan suci meminta pekerjaan.
“Bukannya nggak mau ngasih, tapi slot sudah full,” kata Mang Ukkai. Rambutnya yang pirang disibak ke belakang dengan bando seperti biasa.
“Pleaseeeeee, jadi tukang parkir juga boleh!” Bokuto memohon.
“Di situ bebas parkir. Nanti kamu dapat uang dari mana?”
“Nggak dapat uang juga nggak papa! Yang penting kerja dulu!” Bokuto bersikeras.
Mang Ukkai menatap Bokuto bingung. “Butuh banget kerjaan?”
Bokuto mengangguk heboh. “Banget.”
Mang Ukkai diam sejenak. Melihat Bokuto yang tampak sangat melas ia pun berkata, “Ada sih kenalan. Nanti aku tanyain masih bisa narima anak part time atau enggak.”
“Eh, nggak bisa Mang! Harus di tempat Mang Ukkai!” kata Bokuto panik.
“Lah? Katanya yang penting kerja?”
“Iya, kerja di tempat Mang Ukkai!” jelas Bokuto.
“Kenapa?”
“Akaashi ada di sana!!!”
Sepertinya itu adalah kalimat yang tidak seharusnya diucapkan, sebab setelah itu, Mang Ukkai menatap Bokuto dengan pandangan tidak terkesan dan mengusirnya begitu saja.
Saat bercerita pada Kuroo dan Oikawa, mereka malah menertawakannya.
Gara-gara itu, Bokuto pundung tiga hari di bawah meja.
“Ayolah Bok, inget kata pepatah, banyak jalan menuju Roma.” Kuroo berusaha menghibur.
“Nggak ada jalan menuju Akaashi,” sahut Bokuto murung.
Kuroo heran. Bahkan sampai sekarang, yang Bokuto tahu dari Akaashi hanyalah nama dan wajahnya saja. Nama pun bukan nama lengkap. Bokuto bahkan tidak pernah mencari tahu Akaashi dari fakultas apa atau angkatan berapa. Maksudnya, kalau dia tahu kan, Bokuto bisa modus jalan-jalan ke sana eh tiba-tiba saja ketemu Akaashi, begitu.
Tapi setelah dipikir, hal itu karena Bokuto sejak awal memang belum pernah PDKT, apalagi pacaran! Wajar saja dia tidak tahu caranya. Wajar saja dia langsung pundung seolah dunia akan berakhir ketika satu saran dari teman-temannya tidak berhasil.
Yah, kalau begini, membuat Bokuto berhenti emo akan lebih sulit dari biasanya.
Bokuto keluar dari meja dan pergi. Postur dan rambutnya masih lepek jelek dan tidak bertenaga.
“Eh, udah selesai pundungnya?” tanya Kuroo. “Mau ke mana?”
“Ke tempat mie Mang Ukkai.”
“Oh, oke.” Kuroo memutuskan membiarkannya saja.
“Nggak kita temenin?” tanya Oikawa.
Kuroo menggeleng. “Biarin deh, biar dia sendiri dulu,” ujarnya. “Oh, atau lo mau ketemu Suga?”
.
.
.
Suga menghampiri Bokuto yang duduk dengan murung sendirian di salah satu meja. “Tumben nggak sama yang lain?”
Bukannya menjawab, Bokuto justru menjatuhkan kepalanya ke meja.
Suga menghela napas. “Siapa sangka kamu mudah menyerah banget begini,” komentar Suga. “Baguslah, Akaashi cocoknya sama cowok yang pantang menyerah. Bukannya yang sekali ditolak langsung mundur.”
Bokuto menatap Suga.
Suga mengedikkan bahu. “Mau pesen ga?”
Bokuto pun kembali mengangkat kepala dari meja. “Bakso mozzarella sama es teh.”
Suga tersenyum. “Oke.” Suga meninggalkan Bokuto.
Bokuto menghela napas, memikirkan yang diucapkan Suga. Sebenarnya, dia setuju dengan yang dikatakan Suga. Kalau ada orang setidak nyata Akaashi, maka setidak-tidaknya dia membutuhkan pasangan yang tidak mudah menyerah padanya.
Benar juga. Bokuto tidak boleh menyerah! Dia harus tetap mengejar Akaashi sampai dapat! Dia harus membuktikan kalau dirinya pantas mendapatkan Akaashi!
Sekarang masalahnya adalah, bagaimana caranya?
Bokuto membuka ponsel, niatnya mencari di internet bagaimana cara PDKT yang ampuh, ketika sebuah kesempatan lewat di depannya.
Seorang driver ojek online dari aplikasi oranye datang. Ia langsung pergi ke kasir dan menunggu makanan yang sudah dipesan. Akaashi keluar dari dapur dan memberikan langsung makanan itu pada Tsukki yang ada di kasir. Wow, itu adalah satu-satunya waktu di mana Akaashi keluar dari area dapur yang tampaknya seperti rumah perlindungan baginya, tapi juga bagaikan benteng penghalang besar untuk mencapainya bagi Bokuto.
Sang driver membayar dengan tunai ke Tsukki, kemudian langsung pergi untuk mengantarkan makanan tersebut pada pemesan.
Bokuto membelalakkan matanya. Itu dia! Itu yang bisa Bokuto lakukan! Dengan sedikit modifikasi di sana sini, Bokuto bisa menjadikan itu kesempatan!
.
.
.
“BROOO!!! GUE AKHIRNYA MENEMUKAN CARA PDKT YANG SEMPURNA!!!” Bokuto mengumumkan dengan heboh.
“KEREN!!!” sahut Kuroo tidak kalah heboh, bahagia akhirnya sohibnya berhenti pundung.
“Gimana?” tanya Oikawa.
“JADI OJOL!!!” seru Bokuto.
Kuroo bertukar pandang dengan Oikawa. Teman mereka yang satu ini memang sangat… di luar prediksi.
“Bagus kan ide gue?” kata Bokuto pongah.
“Eee… iya. Ide dari mana Bro?” tanya Kuroo.
“Gue sendiri!”
Oke, ingatkan Kuroo untuk tidak perlu mempertanyakan bagaimana ide itu muncul. “Keren. Boleh sih boleh. Coba aja. Tinggal daftar aja kan? Pake aja tuh si Kou#2.”
Oikawa mengangguk. “Bisa sih. Bakal jadi poin plus kalau Akaashi ngeliat Bokuto juga ada di sepatu yang sama,” kata Oikawa.
“Gimana?” Bokuto menelengkan kepala.
“Maksudnya jadi nunjukin kalau kalian setara gitu,” jelas Kuroo.
“Ohhh!” Bokuto tidak terlalu paham sih, tapi kalau ada poin plus, berarti bagus, kan?
“Semangat ya Bok!” kata Oikawa dan Kuroo bersamaan.
Dan begitulah awal mula Bokuto menjadi orang kaya gabut.
Atau setidaknya, begitulah Kuroo menyebutnya, sebab Bokuto tidak pernah berpikir dirinya kaya, dan ia juga tidak gabut!
Dia melakukan ini bukan karena tidak ada kerjaan, tapi karena untuk tujuan suci mendekati Akaashi si pujaan hati!
Semuanya, doakan Bokuto, ya!
