Actions

Work Header

Different Paths Intertwined

Summary:

Kai dan Adrian berasal dari dua kubu dan dunia yang berbeda, bagaikan daratan dan langit, hampir mustahil bahwa keduanya dapat bertemu. Sedikit yang mereka tahu bahwa semesta memiliki rencana lain untuk mempertemukan jalan mereka. Namun, apakah pertemuan mereka akan membuka jalan baru? atau justru saling merusak satu sama lain hingga 'hilang arah'?

Notes:

Haiii so, my very very first post, ini pure cerita random aja yang aku pikirin di tengah lamunan aku.

Sebelum kalian baca, please don't have that high of an expectation because this is just a random work I decided to publish :" I know very well that I need to improve and learn much more. Ditambah, as of right now i haven't even finish the whole story yet haha. Dan juga updatesnya kayaknya bakal ngambil waktu yang cukup lama because i'm gonna be busy for the upcoming studies ;-; Tapi kalau kalian tetep mau baca, I am beyond grateful for taking interest :) Let me know what you think yaa! ━☆

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: First Encounter

Chapter Text

Gemercik air yang awalnya turun secara perlahan manjadi badai yang ramai seakan langit sedang berkelahi. Warna langit yang tadinya memiliki nuansa jingga dicampur dengan biru tua seketika berganti menjadi abu-abu dan gelap. Walaupun benar, waktu sudah menandakan pukul 18.30 dimana seharusnya para mahasiswa sudah bubar sedari tadi, tetapi beberapa mahasiswa keras kepala tetap memutuskan untuk berdiam dan melanjutkan tugas mereka. Alhasil, mereka terjebak di dalam bangunan perpustakaan tersebut. Diantara dari mereka ialah Adrian Desmon, mahasiswa psikologi yang baru saja menyelesaikan tugasnya di dalam perpustakaan. Jujur saja, mungkin jika Adrian tidak terganggu oleh penemuan novel fiksi yang tidak ada sangkut pautnya dengan tugas dia maka ia tidak akan terjebak di situasi sekarang, namun mau bagaimana lagi selain menerima nasib?

 

"Ahh, kenapa harus hujan sih? Tadi perasaan cerah-cerah aja.." Gumam Adrian yang berada di depan perpustakaan. Ia meraih kedalam tas nya untuk mencari payung lipat yang selalu ia bawa untuk antisipasi hal seperti ini terjadi. Selesainya ia membuka payung, ia mendengar suara sesuatu jatuh di dekat tempat ia berdiri.

 

Adrian memiliki dua pilihan. Yang pertama, ia bisa mengabaikan suara tersebut seakan-akan ia hanya berhalusinasi dan jalan pulang ke rumah. Yang kedua, ia bisa menelusuri sumber suara tersebut dan memuaskan rasa penasarannya. Tentu saja, Adrian memilih opsi yang semua orang akan hindari, opsi kedua.

 

Ia jalan perlahan ke arah sumber suara tersebut, ia berdoa "Please bilang itu cuma suara kucing ngacak sampah doang" di dalam hati. Entah kenapa ia takut padahal ia sendiri yang mau samperin. Ia sekarang sudah mendekati sumber suara tersebut, mencoba untuk melihat lebih jelas, namun cukup sulit karena hujan yang terus menghalanginya.

 

Tidak jauh dari tempat ia berdiri, Adrian melihat tempat sampah dan tumpukkan plastik sampah lain di sekitarnya, di antara plastik sampah tersebut terlihat bayangan hitam tubuh manusia yang tergeletak.

 

"Walah mampus gua ketemu mayat anjing" Kata Adrian dengan panik. "Ini mending gua cek...atau gausah...?" Gumamnya dengan diri sendiri.

"Don't be stupid Adrian, Ini tipikal cerita true crime yang lu denger tiap malem. Yang ada malah mayat kamu yang ditemuin besok pagi."

"ya tapi masa gua tinggalin sendiri?"

"manggil satpam aja gasih..."

"ya tapi nanti kalo malah gua di tuduh yang engga-engga gimana"

" Adrian, you've watched too many true crime podcast ..."

"Akhhh-! udahlah! kita harus ngapain ini?!"

"cek aja! masa kita ninggalin orang yang ga sadar sendirian?"

"duh, kenapa sih gua peka banget jadi orang.." Akhirnya perdebatan dengan dirinya sendiri selesai dengan keputusan untuk menjadi orang yang baik.

 

Ia jalan mendekati tubuh tersebut untuk melihat lebih jelas. Dengan berpikir ia ketemu 'mayat' jelas menakutkan sekali, namun ia tidak akan membiarkan tubuh itu tergeletak juga. Ia masih punya adab dan hati.

 

Ia mendekati tubuh tersebut sehingga hanya sisa beberapa senti yang menjaraki kaki Adrian dengan tubuh itu.

 

Oke, ia sudah mendekati tubuh tersebut, sekarang apa?... "aduh, mama takut" gumam Adrian gemeteran. Lagian, kenapa sih dia ngide banget nyamperin tubuh manusia yang tergeletak begitu saja di tempat sampah tanpa memanggil satpam atau penjaga kampus?

 

Adrian melihat ke kanan kiri untuk mencari suatu pertolongan namun tidak ada seorang pun yang lewat. Mencoba mengesampingkan ketakutannya, ia dengan bodohnya mencolek lengan dari tubuh tersebut, mencoba mengkonfirmasi bahwa tubuh tersebut beneran sudah meninggal atau tidak.

 

Tidak ada respon.

 

"wah beneran mayat inimah, duh... mati gua" Kata Adrian sambil menggaruk rambutnya dengan rasa gugup. Namun sesuatu di dalam ia ingin menkonfirmasi lagi, seakan tidak percaya bahwa yang di bawah dia adalah sebuah 'mayat'.

 

Dia menarik napas dalam-dalam beberapa kali sebelum menampar pipi dari tubuh tersebut.

 

PLAKKK!!!

 

Alhasil, tubuh yang awalnya dikira tidak memiliki jiwa bangun dan berteriak-

 

"AHHHH- SAKIT GOBLOK-!" Teriak kesal oleh orang tersebut

 

Adrian. kaget . setengah . mati .

 

"WEHHH- EH- EH- BANG-" Teriak Adrian balik saat tubuh yang ia kira 'mayat' tiba-tiba bangun.

 

Orang tersebut duduk tegak sambil mengelus pipinya yang mulai memerah yang dihasilkan oleh tamparan Adrian. Memang tamparan tersebut tidak terlalu kuat namun cukup kuat untuk menyebabkan kulit menjadi merah. Ia melihat kearah Adrian dengan kesal.

 

"Ngapain sih lo?! ngajak berantem? hah?!" Tantang orang tersebut yang membuat Adrian merasa takut dan bersalah

 

"E-eh engga bang maafin bang sumpah ga maksud kayak gitu bang- a-anu..." Sebelum Adrian selesai menjelaskan, Orang tersebut berdiri masih penuh amarah dan menggenggam kerah Adrian dengan keras.

 

"Kalo ga niat ngajak berantem ngapain nampar-nampar gua? hah?! jagoan lo?!" Tantang orang tersebut yang sudah siap menonjok Adrian dengan siku dan genggaman tangannya di Udara dan menghadap muka Adrian.

 

Namun, Adrian melihat sesuatu di lengan orang itu.

 

"E-eh bang, itu lengannya berdarah..." Kata Adrian, menunjuk ke lengannya yang terluka dan berlumuran darah. Ia melihat kearah lengannya dan mengeluarkan suara sakit setelah sadar lukanya.

 

"Bang mau di anter ke farmasi ga? harusnya masih buka sih di sekitaran sini.." Ajak Adrian

 

"apaansih- luka segini ga seberapa. Kayak apaan aja" omel orang itu, melihat ke arah Adrian dengan sinis

 

"ya... gabisa di biarin kaya gitu juga, nanti infeksi loh. Atau kita ke warung sebrang situ?" Kata Adrian yang sedang menunjuk ke arah warung yang tidak jauh dari perpustakaan kampus

 

Sejujurnya, Adrian sedang mendistraksi orang itu yang sudah siap melempar tangan ke arahnya. Selain itu, ia juga merasa besalah karena sudah menampar wajah orang tersebut hingga pipi kirinya mulai menunjukkan warna kemerahan. 'Emang tenaga gua sekuat itu ya..?' pikir Adrian.

 

"udah gw bilang gapa-" Perkataan orang tersebut terpotong oleh Adrian yang tetap keras kepala ingin membersihkan lukanya. Adrian pindah ke belakangnya yang sudah mendorong secara perlahan menuju warung itu.

 

"hushhh udah lah ga nyampe sejam kok, ngobatin doang. Lu gausah batu deh!" omel Adrian kembali yang membuat orang tersebut bergumam "lu juga batu banget di bilang..."

 

Sesampainya di warung, orang tersebut duduk di salah satu kursi sedangkan Adrian sedang membeli beberapa perban dan betadine. Tidak lama, Adrian menghampiri orang tersebut, Adrian meletakkan tangannya di atas meja agar bisa membersihkan lukanya dengan mudah. Orang tersebut menatap Adrian yang sangat fokus untuk membersikan lukanya.

 

Sebelumnya, ia memiliki banyak pikiran dalam kepalanya, namun entah kenapa pikiran-pikirannya seketika hilang saat Adrian menyentuh lengannya dengan sentuhan yang sangat lembut, seakan takut ia akan merusaknya, seakan lengannya sebuah seni terbuat dari kaca yang harus di jaga dengan baik.

 

Tidak lama, lengannya bersih, hanya butuh di balut dengan perban. Adrian yang baru sadar kesunyian di antara mereka memutuskan untuk membuka suara. Ia masih merasa bersalah dari perlakuan sebelumnya.

 

"bang, maaf ya tadi gua malah nampar pipi abang, tadi gua kira abang mayat... gua kalo panik suka ga mikir gitu hehe..." Kata Adrian yang menjelaskan dengan cengengesan dan muka melas, tangannya tetap fokus untuk membalut lengan dengan perban.

 

Orang tersebut yang awalnya muka datar kembali melihatnya dengan sinis.

 

"Heh, mana ada orang ngeliat mayat malah di tampar! cek nadi kek, apa kek. Gak jelas banget.." Omelnya sambil menendang kaki Adrian

 

"A-aduh- ya kan gua udah jelasin..." Keluh Adrian setelah mendapatkan tendangan yang lumayan keras. "Oh iya, bang, kok bisa tiba-tiba tiduran di tempat sampah sih..." Tanya Adrian, penuh rasa penasaran.

 

Orang tersebut melihat ke arah lain seolah lagi berpikir sebelum megeluarkan hembusan nafas "...gatau, tadi abis minum, ga inget lagi selebihnya" Katanya

 

Adrian mengerutkan keningnya kebingungan "Minum? lo mabok di kampus?" Tanya nya lagi

 

"Ya ga di kampus lah, tadi gua abis ke bar, tiba-tiba cewe gw minta ketemuan di kampus. Kenapa lagi gw jabanin, malah di putusin sama dia.." tawa orang tersebut. Adrian tipe yang perasa merasa sedih mendengarnya

 

"Duh, yang sabar ya bang... Jangan sedih" kata Adrian, membuat orang tersebut menaikkan salah satu alisnya

 

"Apa yang harus di sedihin sih? Perkara gini doang mah sepele gituloh" Kata orang tersebut yang membuat Adrian sedikit tersinggung.

 

"Dih, kok abang kayak gitu sih?! anak orang malah di jadiin mainan" Omel Adrian dengan kesal

 

"Lah kok kamu yang marah? lagian, mereka juga gonta ganti pasangan. Gaada bedanya sama gua" Kata orang tersebut, mencoba untuk menjelaskan dan membela dirinya sendiri.

 

'gua juga ngapain lagi ngejelasin ini ke bocah polos kek dia..' pikir orang tersebut, hal ini bisa di anggap cukup aneh karena, mana peduli dia dengan bagaimana orang lain melihat dia?

 

"Ya sama aja loh bang..." omel Adrian dengan pasrah. Ia akhirnya selesai membalut perban di lengan orang tersebut "ohiya, nanti pulang gimana bang? mau gua pesenin ojol ga?" tanya Adrian

 

"minjem hp lu deh, gua minta jemput temen gua" kata orang tersebut. Adrian dengan suka rela meminjamkan hp nya. Orang tersebut berdiri dan berjalan kedepan warung untuk mencari privasi. Namun samar-samar Adrian tetap mendengar ucapannya,

 

"Gua di warung-" "Yaelah cepetan ah ntar gua-" begitulah kira-kira ucapan yang bisa di dengar Adrian sebelum orang tersebut menutup telfonnya dan mengembalikannya kepada Adrian. Ia kembali duduk di samping Adrian.

 

"Bentar lagi temen gua jemput" Ucap orang tersebut, Adrian hanya mengangguk dan mengeluarkan kata "Oh"

 

"Oiya, salam kenal ya bang, gua Adrian" ucap Adrian dengan ceria, menatap orang tersebut dengan senang. Orang tersebut melihatnya dengan ekspresi kebingungan. "buat apa gua ngasih tau nama gua? ntar juga ga bakal ketemu lagi" gumam orang tersebut namun masih bisa di dengar dengan jelas oleh Adrian.

 

"Yakan bentuk formalitas doang, siapa tau lu penasaran" Gumam Adrian balik dengan kesal, menyilangkan tangannya di depan dada dan memanyunkan bibirnya. Melihat aksi Adrian, orang tersebut malah tersenyum karena menganggap aksinya 'gemes'

 

'aelah, bocah kenapa lucu banget sih' pikir orang tersebut. 'hah? gw mikir apaih anjir' dengan cepat menghilangkan pikirannya.

 

"Iyaudahhh, salam kenal nama gua Kai" ucap Kai. Ia menyolek dagu Adrian dengan gemas "udah gausah ngambek gitu" Ejek Kai.

 

Aksi tersebut membuat pipi Adrian merah dan membuatnya malu. "apasih- orang gua ga ngambek.." omel Adrian yang membuat Kai lebih gemas.

 

"Terus kenapa tangannya silang gini? bibirnya juga kenapa manyun? hahaha" ejek Kai, ofcourse he's having fun teasing Adrian.

 

"Enggalah! gua ga ngambek! ngapain ngambek?" Adrian terus menyanggah perkataan Kai "utututuu iya dekkk ga ngambek kokkk hahaha" tawa Kai yang mencubit salah satu pipi Adrian dengan gemas.

 

Sebelum Adrian menyanggah lagi, terdengar suara klakson mobil di depan warung. Mereka berdua menoleh kearah suaranya yang menunjukkan mobil BMW putih.

 

"oh, temen gua udah nyampe. Duluan ya" ucap Kai yang tersenyum sembari mengusap rambuat Adrian sebelum berjalan memasuki mobil tersebut.

 

Tidak lama mobil itu pun jalan meninggalkan warung serta Adrian yang memiliki pipi kemerehan karena ejekan Kai.

 

"dih, dasar buaya..." gumam Adrian, entah kenapa interaksi tadi membuat hati dia berdetak lebih cepat. Why is he acting like this?!

 

"dek, cepet pulang gih, ntar ke maleman" Terdengar suara penjaga warung di belakang dia, menariknya keluar dari krisis internalnya.

 

"eh iya pak.." jawab Adrian tergesa. Ia mengeluarkan payungnya lagi dan mulai berjalan menuju kosannya di tengah hujan. Tanpa ia ketahui, langit yang awalnya bertengkar dengan sengit berubah menjadi hujan yang tenang.

 

 

Sementara di dalam mobil, Kai di jumpai oleh sahabatnya, Jay. Setelah mobilnya berjalan meninggalkan warung, Jay membuka suara.

 

"Siapa?" Tanya Jay, penasaran dengan lelaki yang menemani sahabatnya di warung.

 

"ga perlu tau" Ucap Kai dengan muka datar

 

"yeee, simpenan baru?" ejek Jay, namun Kai melihatnya dengan muka sinis, entah kenapa ia tidak suka saat Adrian dipanggil 'simpenan'. Jay yang menyadarkan tatapan Kai berhenti tersenyum, merasa tidak enak. "bercandaa, mukanya serius banget sih." ucap Jay terkekeh. Kai hanya membalas dengan memutar bola matanya.

 

Sepanjang jalan, Kai mencoba untuk tidak memikirkan Adrian, tapi pikirannya selalu kembali menatap mukanya yang ceria, melas, gemas... "adrian, adrian, kenapa sih betah banget di pikiran gua?" pikir Kai yang tersenyum membayangkan interaksi mereka kembali.

 

.

.

.

.

.

.

.

 

"LOH EH LENGAN LU KENAPA?!"

 

"Berisik bangsat"

Notes:

Please kritik dan sarannya sangat aku terima!! i'll be very thankful to recieve them :D! ━☆