Actions

Work Header

throw it all up

Summary:

Ketika Chris tanpa sadar membangkitkan barrier saat panik berlari ke ruang Kepala Jurusan, memperlihatkan bahwa ia memiliki kemampuan mengendalikan ruang dan waktu. Di tempat lain, Minho menemukan kucing terluka dengan cahaya emas misterius. Sentuhannya memicu resonansi, membuat kucing itu berbicara dalam wujud roh penjaga. Minho dipilih sebagai penjaga untuk melawan fragmen-distorsi yang berubah menjadi monster karena energi jahat di sekeliling kampus melonjak. Kini Chris dan Minho, tanpa sadar, menjadi dua manusia yang terikat pada kekuatan supernatural yang mulai bangkit di kampus.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter 1: Prolog

Chapter Text

Di sudut paling sunyi Fakultas Kedokteran, ruangan yang biasanya dipakai untuk belajar diam-diam atau sekadar menangis tanpa saksi, seorang gadis duduk membungkuk di depan meja kayu dingin. Rambut cokelat sebahunya jatuh menutupi sebagian wajah, menyembunyikan sorot mata yang merah dan bengkak, tanda jelas dari malam panjang yang tak memberi ampun. Jemarinya menekan buku catatan penuh coretan tergesa, angka-angka laboratorium yang tak masuk akal, tanda seru berderet marah, dan lingkaran-lingkaran kacau yang semakin tak beraturan. Ia menarik napas panjang, namun bukannya lega, dadanya justru terasa makin sesak. Seakan ruangan itu ikut menahan udara bersamanya. Dari balik jendela, hujan tipis mengetuk kaca dengan ritme kasar, bukan menenangkan, melainkan menyerupai detak jantung yang kacau, berdentum di telinganya.

Gadis itu mengusap wajah, bergumam lirih, “Tidak… aku tidak bisa begini terus.” Suaranya terdengar seperti pengakuan sekaligus doa.

Udara di sekitarnya mulai berubah. Halus pada awalnya, seperti getaran samar dari speaker rusak, lalu perlahan semakin nyata. Lampu neon di atas meja berkelip; bukan sekadar gangguan listrik, melainkan seolah ada sesuatu yang melintas dan menyentuh cahaya. Ia mendongak, kening berkerut, tatapannya mengikuti kilatan samar di dinding.

Di lantai, tepat di bawah meja panjang itu, tampak sesuatu. Awalnya ia mengira hanya serpihan sampah: pecahan kecil yang memantulkan cahaya. Namun bentuk itu mulai bergerak. Dari sudut pandangnya, fragmen-fragmen aneh muncul—gelas kimia retak, kursi jatuh dari gedung seni, hingga helm keselamatan berdebu dari laboratorium teknik. Artefak kampus yang seharusnya tak mungkin ada di ruangan itu, melayang tanpa benar-benar menyentuh lantai, seakan hanya bayangan kenangan yang menolak lenyap.

Potongan-potongan itu menyatu, perlahan membentuk siluet setinggi manusia. Wajah samar terbentuk dari distorsi cahaya, seperti pantulan kaca bengkok. Mata kosongnya menatap lurus, hampa, menuntut. Seolah bertanya mengapa ia masih bertahan di tempat yang sarat tekanan, di ruangan yang menyimpan sisa ketakutan mahasiswa sebelumnya. Napas gadis itu tercekat.

“A-apa itu…” suaranya pecah. Ia bergeser mundur, bangku berderit pelan di lantai dingin.

Bayangan itu merayap mendekat. Bukan dengan langkah, melainkan mengalir di udara seperti asap berat. Fragmen-fragmen menempel di dinding, memanjang ke arah meja, dan setiap kali menyentuh permukaan, gadis itu merasakan gelombang emosi yang bukan miliknya: kecemasan, panik, trauma. Semua stres yang terkubur dari kecelakaan dan kegagalan lama di kampus. Energi yang seharusnya hilang ternyata diam-diam bersemayam di sudut-sudut gedung selama bertahun-tahun.

Dengan tangan gemetar, ia meraih bukunya, mencoba menutupnya seakan itu bisa menghapus penglihatan, namun bayangan itu tetap jelas bahkan di balik kelopak mata. Angin dingin menyapu tengkuknya, membuat bulu kuduk berdiri. Lampu berkedip semakin cepat, ruangan berganti terang dan gelap seperti denyut yang tak teratur.

Lalu suara itu datang.

Dentuman menggema. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Tak jelas dari mana asalnya—lantai, langit-langit, atau dari dalam kepalanya sendiri. Bunyi itu terasa seperti palu kecil mengetuk tulang. Bayangan bergerak liar, bergesekan dengan udara menimbulkan jeritan bisu yang merambat ke seluruh ruangan. Gadis itu tersentak, panik, tubuhnya bereaksi sebelum otak sempat memproses. Ia melompat ke belakang, kursi terjungkal, jantung berdegup keras menghantam dada.

Fragmen-fragmen itu menggumpal, saling menempel seperti serpihan kaca yang dipaksa menyatu oleh gravitasi asing, lalu membesar dengan suara retakan halus. Setiap gerakannya meninggalkan goresan tipis di lantai, seolah permukaan itu terkelupas oleh kehadirannya. Retakan memanjang, membentuk mulut gelap tanpa ujung, menganga tanpa suara, memantulkan kilau lampu neon yang terus berkelip. Dari celah itu keluar kabut dingin yang menempel di kulit gadis, membuatnya menggigil tak berdaya. Siluet besar itu menunduk, bayangannya menelan tubuhnya, mulut retak semakin melebar, siap melahapnya utuh dalam satu gerakan.

“J-jangan mendekat…!”

Dengan napas tercekik, gadis itu mundur, kursi berderit keras di lantai. Mata membelalak, tubuhnya membeku antara ketakutan dan naluri ingin lari. Jeritan panjang pecah dari tenggorokannya, menggema menembus lorong-lorong kampus yang kosong malam itu. Melalui pantulan di dinding kelas, bayangan bergerak liar, menampilkan sesuatu yang tak bisa disaksikan langsung oleh mata telanjang. Siluet gadis itu tampak terperangkap, tubuhnya bergetar, lalu mulut retak gelap yang terbentuk dari fragmen menyatu semakin melebar. Sang gadis menjerit, mulutnya terbuka lebar, tetapi suara yang keluar perlahan teredam, seakan ditarik masuk ke pusaran kabut. Jeritan itu memanjang, lalu mendadak terputus, lenyap begitu saja.

Ruangan kembali sunyi, seolah tak pernah terjadi apa pun… kecuali lampu di pojok yang masih berkelip, menandakan sesuatu telah terbangun.


Chris seharusnya tidak terlambat. Ia tidak pernah terlambat. Ketepatan waktu adalah bagian dari reputasinya, sesuatu yang ia jaga dengan disiplin hampir obsesif. Namun pagi itu seakan bersekongkol untuk menjatuhkannya. Printer di kos rusak, kunci loker entah ke mana, dan map asistensi justru terselip di bawah kasur. Semua hambatan kecil itu menumpuk menjadi satu rangkaian bencana yang membuatnya berlari melintasi lapangan parkir dengan napas terengah. Jam tangannya menunjukkan pukul 08.58. Dua menit lagi. Hebat, batinnya. Dua menit untuk menyeberangi setengah kampus.

Dengan map dipeluk erat di dadanya, Chris berlari. Bagi orang yang biasanya berjalan dengan ritme teratur dan anggun, langkah tergesa itu terasa asing, bahkan memalukan. Ia terbiasa menjaga citra diri yang tenang dan estetis, tetapi kali ini ia harus menabrak prinsip itu demi satu hal: jangan mengecewakan Kepala Jurusan. Lorong kampus tampak memanjang tanpa ujung, mahasiswa lalu-lalang seperti penghalang hidup, pintu kelas berderak menambah kebisingan, dan detik jam tangan berdentum di telinga seperti alarm yang tak henti mengingatkan bahwa ia sedang berpacu dengan waktu.

“Sialan!” Chris mengumpat panik. Rusak sudah citra Asisten Dosen Keren yang melekat padanya (kali itu, ia tidak peduli.)

Derap langkahnya semakin cepat, tubuhnya dipaksa melampaui ritme biasa. Namun di tengah kepanikan itu, ada sesuatu yang aneh, sesuatu yang menggelitik di udara. Chris merasakan tekanan halus di kulitnya, seperti ruangan yang tiba-tiba bernapas. Ia sempat menoleh, mencoba mencari sumber sensasi itu, tetapi segera menepis pikiran tersebut. Tidak ada waktu untuk memikirkan hal-hal aneh. Fokusnya hanya satu: ruang Kepala Jurusan.

Lalu dunia berubah. Suara lorong meredam, seakan seluruh kampus terbungkus kain tebal. Warna-warna di sekitarnya memudar, udara bergetar seperti kaca tipis yang ditepuk. Chris tersandung langkahnya sendiri, terkejut oleh sensasi yang tidak masuk akal. Di lorong yang tadinya panjang dan dipenuhi mahasiswa, tiba-tiba saja muncul semacam lapisan transparan yang menyelimutinya. Bentuknya menyerupai kubah besar, berkilau antara putih dan biru keperakan. Ia berlari di dalam gelembung itu, langkahnya bergema aneh, terpantul dari dinding tipis yang memisahkan dirinya dengan dunia luar. Tidak ada lagi orang-orang, tidak ada lagi suara berisik kampus, semua teredam di balik lapisan kubah. Hanya dirinya, terisolasi dalam ruang buatan yang seakan lahir dari dorongan batinnya, dan kekuatan tak terlihat yang menariknya semakin cepat ke depan.

“Apa ini?”

Ketika akhirnya ia tiba di depan pintu Kepala Jurusan, dan Chris mulai menenangkan diri, kubah itu lenyap begitu saja. Lapisan transparan yang memisahkannya dari dunia nyata pecah, dan suara kampus kembali masuk bersamaan: kicau burung dari luar jendela, dengung AC, langkah mahasiswa yang bergaung di lantai. Dunia tercampur lagi, seakan tidak pernah ada gelembung yang menutupinya.

Tiba-tiba, tepat di sampingnya, seorang mahasiswa lain terbelalak atas kehadiran Chris. Ia juga hendak membuka pintu, namun terhenti karena kaget melihat Chris yang seolah muncul mendadak di sana. Tatapannya membesar, wajahnya penuh keterkejutan, seakan baru saja menyaksikan sesuatu yang mustahil. Mahasiswa itu menelan ludah, lalu bersuara dengan nada ragu, “K-Kak Chris…? Aku tidak melihatmu barusan, tiba-tiba saja ada di sini.”

Chris berusaha merapikan ritme napasnya, meski jantung masih berdegup kencang. Ia mengangkat pergelangan tangan, melihat layar smartwatch yang tetap membeku di angka 08.58. Kedua alisnya mengernyit. “…Masih sama.”

Mahasiswa itu mengerutkan kening, matanya bergantian menatap Chris dan smartwatch di tangannya, tidak mengerti apa yang dikatakan Chris.

Chris menunduk, tetap diam. Ia juga tidak mengerti. Dalam hati ia bergumam, Apa yang sebenarnya terjadi? Kubah itu… waktu berhenti… tapi aku tetap bergerak. Lalu dengan suara pelan ia berkata, “Aku … harus masuk. Kepala Jurusan sudah menunggu.”

Mahasiswa itu masih melongo, namun tidak menahan Chris. Ia hanya berdiri di tempat, seakan masih berusaha memahami kejadian yang baru saja ia saksikan.


Hujan rintik turun di halaman kampus, membuat lantai depan klinik fakultas kedokteran hewan berkilau memantulkan cahaya lampu berwarna kuning temaram. Genangan kecil di sela ubin memantulkan bayangan pepohonan yang bergoyang diterpa angin, sementara aroma tanah basah bercampur dengan bau obat-obatan dari dalam klinik. Minho baru saja selesai menghitung persediaan obat untuk esok hari. Matanya terasa berat, bahunya pegal, dan jas putih yang tersampir di pundaknya separuh basah. Di kursi pojok, ransel berisi makanan ringan menunggu, seakan mengingatkan bahwa ia membutuhkan istirahat.

Suara kecil dari luar tiba-tiba menarik perhatiannya.

“Meong…”

Suara kucing terdengar samar di antara rintik hujan. Minho menoleh, keningnya berkerut, lalu melihat seekor kucing kampus oranye duduk terpincang di bawah bangku luar klinik. Doongie. Si penguasa kafetaria yang terkenal suka mencuri mandu goreng. Bulunya basah, ekornya melingkar rapat, dan tatapannya seolah meminta pertolongan.

“Kamu kehujanan?”

Minho berjongkok, lututnya menyentuh lantai dingin, lalu mendekat dengan hati-hati. Barulah ia melihat ada bekas cakaran memanjang di sisi tubuh Doongie. Tiga garis, tetapi bukan seperti goresan kucing lain. Kulit di bawah bulu tampak aneh, seakan menyimpan sesuatu yang lebih dari sekadar luka. Ia mengangkat hewan itu ke pangkuannya, bulu basah menempel di kemeja, dingin meresap ke kulit.

“Siapa yang tega mencakarmu sampai seperti ini?” gumamnya, mencoba menenangkan si kucing dengan belaian lembut.

Ia membawa Doongie masuk ke ruang tindakan. Lampu putih di langit-langit menyala terang, memantulkan kilau dingin pada meja stainless yang penuh goresan bekas alat medis. Bau alkohol medis memenuhi udara, menusuk hidung, bercampur dengan aroma bulu kucing basah. Menaruh Doongie di atas meja, suara kuku kecil itu beradu dengan permukaan logam, menghasilkan bunyi tipis yang membuat ruangan semakin hening.

“Duduklah dengan tenang. Jangan mencakar-cakar,” katanya sambil mengusap bulu sekitar luka dengan hati-hati.

Jemarinya bergerak pelan, merasakan tekstur bulu yang kasar di bagian basah dan lembut di bagian kering. Saat bulu tersibak, matanya langsung mengerutkan dahi. Di bawahnya bukan darah, melainkan kilau keemasan yang menyembur tipis, seperti benang cahaya yang berusaha keluar dari kulit. Kilau itu memantul di permukaan meja, membuat bayangan kecil bergetar di dinding. Minho menahan napas, jantungnya berdetak lebih cepat ketika menyadari ini bukan luka biasa.

Ia mendekatkan wajah, matanya menajam, mencoba memastikan penglihatannya.

“Apa sebenarnya ini…?” gumamnya lirih.

Doongie hanya menatap balik, pupilnya melebar, seakan ingin mengatakan sesuatu. Minho meraih kapas dan antiseptik, lalu menekan pelan ujung luka. Saat ujung jari Minho menyentuh kulit di sisi tubuh Doongie, seketika ada sensasi aneh yang merambat masuk. Bukan rasa sakit, melainkan semacam getaran halus yang berawal dari permukaan kulit kucing itu, lalu menjalar ke telapak tangannya. Hangatnya terasa nyata, seperti arus kecil yang menelusuri nadi, naik perlahan dari pergelangan hingga mencapai siku. Jemarinya sempat bergetar, seakan tubuhnya tidak siap menerima energi asing yang menyusup begitu saja.

Minho terperanjat, napasnya tertahan, matanya melebar menatap luka yang berpendar. Ia bisa merasakan denyut halus di dalam tangannya, mirip dengan detak jantung kedua yang berirama sendiri. Kulitnya terasa kesemutan, hangat bercampur dengan rasa berat yang tidak bisa dijelaskan. Seolah ada sesuatu yang baru menempati ruang kecil di tubuhnya, menandai kehadiran energi yang bukan miliknya. Suasana hening, terlalu hening, bahkan suara hujan di luar seperti lenyap.

“Akhirnya engkau menyentuhnya juga, manusia.”

Lalu sebuah suara masuk ke dalam kepalanya. Tidak berasal dari udara. Tidak berasal dari mulut Doongie. Namun jelas, elegan, sekaligus menyimpan nada sinis. Suara itu bergema di dinding pikirannya, membuat Minho hampir menjatuhkan botol antiseptik.

Matanya langsung mengarah ke Doongie. “Kamu… berbicara?” tanyanya dengan nada terperanjat.

Doongie tetap diam, bulunya masih berkilau samar. Tetapi suara itu muncul lagi, lebih jelas, lebih dalam. “Para manusia fana tidak tahu aturan itulah yang memanggil diriku Doongie. Nama diriku adalah Byakkuren.”

Suara itu menggema di dinding pikirannya, seperti ada harimau besar yang berbicara dari balik kabut.

Minho terpaku, bibirnya bergetar. “Bya… apa?” tanyanya, masih sulit percaya.

Doongie berkedip pelan, pupilnya berkilau. Suaranya—atau pikirannya—bergetar seperti bulu yang menggeser udara. “Byakkuren. Diriku adalah penjaga.”

Minho menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. “Apakah ini mimpi? Apa aku terlalu sering melakukan kontak dengan kucing hingga berhalusinasi?” tanyanya, memegangi kepala.

Suara itu menjawab cepat, penuh nada sinis. “Jika ini mimpi, diriku sudah mencakar wajahmu sejak tadi supaya engkau sadar. Fokuslah sedikit.”

Minho menghela napas, matanya menyipit. “Sungguh menyebalkan…” gumamnya.

Suara itu kembali bergema, kali ini terdengar lebih angkuh. “Diriku tidak menyebalkan.”

Minho menutup mata sejenak, mencoba mengumpulkan logika. Doongie berbicara langsung ke otaknya. Ada cahaya emas di bawah bulunya. Ada energi aneh masuk ke tangannya. Ia membuka mata lagi, menatap kucing itu dengan serius.

“Apa yang kamu inginkan dariku?”

Doongie—atau Byakkuren mengangkat kepala sedikit. Ekspresinya tenang, seakan-akan ini hanya formalitas. “Engkau terpilih menjadi salah satu penjaga kampus ini,” ucapnya.

Minho melongo, napasnya tercekat. “Apa?”

Suara itu kembali bergema, lebih berat. “Energi jahat di kampus ini sudah mulai tidak stabil. Dibutuhkan manusia dengan resonansi yang kuat. Diriku telah mengawasi banyak dari kalian.”

Minho mengerutkan kening, jemarinya masih gemetar. “Dan kamu memilih aku?” tanyanya dengan nada tidak percaya.

“Tanganmu cekatan. Instingmu tajam. Energi dalam dirimu… liar tetapi kuat.” Suara Byakkkuren kembali terdengar, namun pada kenyataannya ia hanya tampak sedang menggaruk telinga.

Minho menatap luka aneh itu, cahaya emas masih berpendar. “Jadi ketika aku menyentuhmu tadi, energi itu masuk ke tanganku?”

Suara itu menegaskan, “Itu bukan ‘masuk’. Itu menyatu. Energimu dan tempat ini sudah bersinggungan.”

“Apa yang harus aku lakukan?” tanyanya dengan nada getir.

“Engkau harus memusnahkan fragmen-fragmen yang terdistorsi dan menjelma menjadi monster.”

Minho mendesah panjang, bahunya jatuh. “Setiap hari aku sudah cukup lelah dengan praktikum. Sekarang aku harus melawan monster?”

“Engkau tidak sendiri.” Suara itu terdengar lebih lembut kali ini, seakan-akan kalimatnya barusan bisa meminimalisir rasa keberatan Minho.

Minho mendongak, matanya menyipit. “Apa maksudmu?”

Byakkuren mengibaskan ekornya dengan tenang, meski luka di sisi tubuhnya masih berpendar. “Engkau memiliki seorang partner,” jawabnya.

Minho menatapnya curiga, alisnya terangkat. “Siapa?” tanyanya cepat.

“Belum waktunya engkau tahu,” katanya ringan. Byakkuren menjilat bulunya santai seperti kucing biasa, seakan-akan tidak pernah memberikan pengumuman mengenai dunia lain dengan suara yang tidak mungkin bisa dikeluarkan seekor kucing. Tentu saja, kucing tidak berbicara!

“Baiklah, tugasku sekarang hanya memberikan informasi ini padamu. Sampai jumpa lagi, Penjaga.” Suara Byakkuren kembali memecah kebingungan di kepala Minho. Ia melompat ke jendela klinik yang tertutup, lalu menghilang begitu saja menembus kaca.

Meninggalkan Minho yang masih berdiri dengan mulut terbuka, membentuk huruf ‘o’, dan sirkuit di kepalanya yang berdesing, mencoba mencari konklusi atas kejadian tidak masuk akal yang baru saja ia alami.

Notes:

ha-lo-! aku sedang nonton ulang anime kekkaishi (tebak usia) ketika tiba-tiba kepikiran: 'sepertinya menarik juga jika menulis fanfiksi yang bertemakan melawan monster atau ayakashi!' dengan sentuhan modern, tentu.

anyway! ini masih prolog, entah kapan chapter 1-nya dipublikasi. sekarang pekan UAS, lalu akhir tahun. lalu gagal cuti. orz.