Actions

Work Header

california rewind

Summary:

Spontanitas, bagi Oikawa Tooru, tidak semata-mata didasarkan pada perasaan benar-atau-salah. There's something underlying the reason to be spontaneous, be it reckless or not. Mungkin menggabungkan work trip dengan holiday trip untuk berbaikan dengan sahabat yang tak bicara selama 2 tahun terakhir bisa dianggap sebagai sesuatu yang spontaneous dan reckless di saat yang bersamaan. But for Tooru, anything to mend their relationship, to have Hajime back in her life.

Notes:

i know it's currently december but hey, don't we all miss the summer breeze and shining sun in this deadly cold months! happy reading x

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Prologue

Chapter Text

Setiap kali Tooru iseng mengisi kuis kepribadian pseudoscience gratis di internet, selalu ada pertanyaan:

 

You’re burned out from neverending work and want to travel. Which one below reflects yourself the most?

a.) Plans everything into the tiniest details
b.) Jumps into any scenario spontaneously

 

Yang, bagi Tooru pribadi, sebenarnya keduanya terlalu ekstrem karena ada di dua titik spektrum yang berbeda. Sure, spontaneity makes life challenging, hanya saja bukan berarti Tooru tidak bisa menyusun agenda liburan. Tapi, tulisan international arrival yang menyambutnya di pintu masuk Los Angeles International Airport mengatakan yang sebenarnya, juga koper besar berukuran 32 inch yang berdiri di dekat kakinya dan bantal leher Sully dari Monster Inc. yang masih melilit lehernya.

(Untuk pertanyaan personality quiz itu, Tooru menjawab B. Teman-teman sekantornya di Postcards from Paradise kompak tidak setuju dengan pilihan A apabila disangkutpautkan dengan Tooru.)

Sekarang hari Kamis. Hari Kamis yang biasa saja di bulan Juli yang juga biasa saja. Kapten pesawat maskapai penerbangan antara HND-LAX tadi sempat menyebutkan besar derajat cuaca panas di Los Angeles hari ini tepat sebelum mendarat, yang membuat Tooru melempem di kursi. 80℉, alias 27℃. Bisa mati meleleh dia. Pilihannya memakai lounge set panjang ternyata tidak pas melihat kenyataan teriknya matahari LA di luar pesawat. Keputusannya didasari oleh jam bangun tidur yang terlalu mepet, yang membuat Tooru lompat dari kasur untuk buru-buru cuci muka dan gosok gigi dan memakai apa saja lembaran pakaian pertama yang dilihat oleh matanya.

Seseorang menabrak bahu Tooru cukup keras secara tiba-tiba dan membuatnya hampir oleng. Seseorang itu — perempuan berambut pirang dikuncir cepol tinggi — meliriknya dengan sinis. Tas backpacker di punggungnya menjulang melewati kepala. Ah, turis-turis backpacker ini. Kalau ada daftar orang sombong di dunia, mereka pasti berada di urutan paling atas. Tapi Tooru tak ambil hati. Selain karena sudah sering bertemu dengan orang-orang seperti itu di perjalanan dinasnya, memang salahnya karena berdiri seperti orang tolol di koridor, sementara penumpang lain mengalir keluar dari pesawat dan masuk ke dalam lobi kedatangan.

“Kenapa diam?”

Jarak penerbangan antara Tokyo dan Los Angeles tidak bisa dibilang pendek. 10 jam perjalanan udara di kabin ekonomi, terjebak bersama tiga bayi yang menangis meraung-raung seperti audisi penyanyi Opera, seharusnya membuat Tooru — paling tidak — desensitised dan menganggap segalanya normal. Well, actually, she still has PTSD as if there are nonexistent crying babies screaming non-stop in her ears, tapi untuk yang satu ini… rasanya tidak mungkin memutuskan untuk desensitised dan menganggap segalanya normal dan wajar dan—

“Ayo jalan,” the feeling of his skin on hers is still the same as Tooru remembered from two years ago. Tooru mengedip seperti orang idiot ketika Hajime menarik pergelangan tangannya supaya melanjutkan langkah yang tertunda. Beberapa meter kemudian, Hajime melepaskan pergelangan tangan Tooru dan mereka berjalan sendiri-sendiri. Bukan sesuatu yang harus dipikir sampai botak, apakah Hajime cuma spontan atau disengaja.

Probably just… it’s just happened. Not spontaneity, not intentionally.

Sesuatu yang spontan pun, Tooru pikir, pasti punya titik tolaknya sendiri. Alasan kenapa keputusan itu diambil, be it reckless or not, dan Tooru percaya pilihan yang diambilnya saat ini bukan spontanitas belaka. Tooru yakin tentang hal itu selama dia menandatangani perjanjian kontrak penyewaan mobil karena Hajime menyerahkan semua administrasi akomodasi selama liburan padanya. Tooru memutar-mutar kalimat itu di kepalanya seraya tersenyum dan berterima kasih ketika pegawai rental car memberinya kunci SUV Ford, mencoba tidak menunjukkan ekspresi apapun ketika Hajime menjawab, “oh, cuma teman,” saat pegawai rental car menyerukan, “semoga honeymoon kalian menyenangkan!” dengan nada yang kelewat ramah. Tooru masih merapalkan kalimat itu layaknya mantra yang perlu ditanamkan dalam-dalam di otaknya ketika ia duduk di dalam mobil dengan tas Birkin di pangkuannya, Hajime di balik kemudi, dan koper-koper mereka disimpan rapi di bagasi.

Heningnya suasana dalam mobil terpecah oleh ketukan jari-jari Hajime pada kemudi membentuk nada random. Tooru memperhatikan lelaki di sebelahnya yang menelisik setiap tombol dalam mobil. Mungkin mengira-ngira mana yang harus dipencet untuk menyalakan mesin.

Tooru berdeham menjernihkan kerongkongan. “Bisa nggak?”

Hajime bergumam tak jelas. “Agak aneh ya mobilnya. Biasa nyetir mobil right hand drive.”

Tidak tahu harus memberikan respons yang seperti apa, Tooru menoleh ke luar kaca, ke arah toko rental car tempat penyewaan mobil. Mereka belum beranjak dari halaman parkir sejak lima menit yang lalu. Mungkin pegawai-pegawai di dalam toko tertawa beramai-ramai menyaksikan kebingungan customer yang satu ini. “Ganti mobil aja?” tawarnya.

“Memangnya bisa begitu?”

“Ya… dicoba dulu.”

“Semua mobil di Amerika left hand drive Tooru, mau pakai mobil apa saja juga tetap menyetir di kiri.”

Sengatan panas matahari Los Angeles mulai menyelinap ke dalam mobil. Lounge set yang dipakainya menjadi makin gerah karenanya sehingga Tooru memutuskan untuk mengikat rambutnya menjadi ponytail lalu menyalakan mini fan yang ia bawa di tas “kantong Doraemon”. Wrrrr, wrrrr. “Memangnya selama kamu di California dulu nggak pernah bawa mobil?”

“That was 6 years ago, Tooru, mana mungkin gue ingat,” gumam Hajime lagi, kali ini menyerempet ke arah gerutuan. Kalau sudah menggerutu begitu, Tooru memutuskan untuk diam dan menyerahkan semua keputusan ke depan di tangan Hajime. Tapi untungnya, kernyitan di kening Hajime mengendur segera setelah berhasil menemukan tombol ignition. Hajime lantas memencet tombol itu dan mesin mobil langsung menyala. AC meniup wajah mereka berdua dengan hembusan angin dingin menyejukkan.

“Alright, where to now, Miss Oikawa?” tanya Hajime, kini memusatkan sorot matanya pada Tooru.

Tooru berdeham lagi, tapi tidak ada hubungannya dengan lendir yang mendesak di kerongkongan. “Palm Springs.”

“Palm Springs,” Hajime mengonfirmasi. Salah satu sudut bibirnya terangkat meski samar. Melirik kaca rearview untuk memastikan area belakang sepi sebelum membawa mobil Ford sewaan itu membelah jalanan selama agenda liburan mereka di California. “Nggak bawa kabel USB?”

“...Hah?”

“Bukannya lo selalu nggak mau kalah kalau soal carpool karaoke?” Hajime tersenyum sekilas. “Siapa tuh dulu yang ngotot dengerin playlist buatannya karena menurut dia lagu-lagu pilihan gue hard to listen?”

Dulu adalah kata ganti waktu yang relatif. Bisa satu bulan yang lalu, satu tahun, bisa lebih dari itu. Kadang menimbulkan efek nostalgia, dan nostalgia bisa menyenangkan, bisa juga menyebalkan. Untuk yang kali ini, dulu membuat Tooru seperti berdiri di persimpangan jalan menuju dua pintu neraka. Mau pilih yang mana saja, semua terasa keliru.

“Memang,” jawab Tooru dengan gaya acuh tak acuhnya yang biasa. Ia memutuskan dulu tidak boleh menghantui kesempatan kali ini, apalagi merusaknya. “Hidup terlalu singkat untuk denial kalau white girl music enak-enak didengerin di mobil. Tapi sekarang giliran kamu, deh. I’m a benevolent carpool disc-jockey goddess anyway."

“What,” Hajime tertawa. Tooru ditarik lagi kepada tahun-tahun mereka bersama. “Lo masih suka bikin istilah-istilah sendiri, ya. Carpool disc-jockey goddess?”

“Cerewet ah,” Tooru membalas sengit. “Kabel USB-nya udah kepasang nih. Mau dengerin lagu apa?”

“Hmmmm,” mengetuk-ngetukkan telunjuk ke kemudi, Hajime menimbang-nimbang pilihan lagu di kepalanya. “Oasis. Don’t Look Back in Anger.”

Tooru tidak banyak familiar dengan lagu-lagu kesukaan Hajime. Ia cuma tahu beberapa band favorit lelaki itu, seperti The Strokes, Nirvana, The Cranberries, Oasis. Hajime menempelkan banyak poster band alt-rock di dinding kamar, tapi Tooru tidak pernah benar-benar mendengar lirik dari lagu-lagunya.

“Enak juga,” Tooru mengaku.

Hajime menaikkan sebelah alis, menoleh pada gadis di sebelahnya sebentar sebelum kembali ke jalanan. “Mm-hm. Makanya dengerin dulu lagunya, jangan keburu nolak cuma gara-gara nama genre aja. Baru sekarang kan, nyangkut di telinga? Telat.”

Dengusan Tooru dan ekspresi malas di wajahnya membuat Hajime tergelak. “Bercanda, Ru. Gitu aja lo udah senewen sih,” dia tertawa.

Dulu, setiap kali mereka berbagi mobil, kalau Hajime sudah jenuh dengan lagu-lagu pop dari playlist milik Tooru, mereka mencabut kabel USB yang terhubung dengan ponsel Tooru dan menggantinya dengan saluran radio. Radio apa saja. Karena Hajime sudah merantau ke Amerika saat itu dan hanya pulang saat liburan musim panas, dia tidak mau ketinggalan berita lokal apa saja yang sudah terjadi.

Tooru tidak memprotes tentang common ground mendengarkan radio di mobil. Genre musik jazz, musik klasik, dan lofi berpotensi membuat Hajime mengantuk dan tidak ada yang mau mengundang kecerobohan. Jadi, teman perjalanan mereka saat bermobil adalah Katy Perry, Taylor Swift, Ayumi Hamasaki, Hikaru Utada yang diputar berulang kali sampai Hajime menggumamkan lagu First Love tanpa sadar, lalu berpindah ke suara renyah bersahabat milik penyiar berita.

“Hmm, tapi kayaknya ada yang kurang.”

Tooru mengernyitkan alis. “Kenapa? Ada yang ketinggalan?”

“Bukan,” Hajime menggeleng, kedua sudut bibirnya naik membentuk seringai, menandakan dia mulai rileks meniti jalanan California lagi. “Nggak ada popcorn.”

Oh.

Ah, benar juga: kebiasaan Hajime dan Tooru untuk berbagi popcorn setiap kali mereka melakukan perjalanan liburan yang diisi cuma berdua, mengendarai mobil Toyota Corolla Altis 2015 milik ayah Hajime. Selain mendengarkan lagu dan menyanyi keras-keras, stok camilan harus tersedia di cupholder mobil. Popcorn dipilih sebagai teman setia Hajime menyetir mobil karena tidak membuat jarinya cemong pewarna makanan seperti snack berbumbu.

Tooru tertawa geli. "Berarti harus mampir pom bensin untuk beli camilan. Salted caramel?”

Hajime mengangguk setuju. “Salted caramel.”

Sumringah di bibir Tooru tidak bisa menipu perasaan hatinya. It’s going to be better now, harapnya dalam hati, it will definitely be

Semua boleh mendapatkan kesempatan kedua, kan?

Sementara mobil SUV Ford itu meluncur mulus di jalan tol, menuju tempat yang terpenjara selamanya di tahun 1960, Noel Gallagher bersenandung sendu di pemutar musik.

 

 

And so, Sally can wait, she knows it's too late as we're walking on by
Her soul slides away
"But don't look back in anger," I heard you say

 



Notes:

what reading romcoms do to you.

so, yup. this is a result of locking in to read emily henry's people we meet on vacation. fell in love with her way of stringing words together, also with poppy and alex, the protagonists of the novel. i've always been wanting to write a romance comedy fic, and pwmv gave me rainfall of inspiration. palm springs, the city i choose for hajime and tooru to have summer trip at, is the same place of alex and poppy did their trip to. obviously the places in this fic will be different from the novels, and since i dont live in america i'm truly apologise if theres any inaccuracies happening in terms of restaurants, hotels, tourism spots, etc.

see you on the next chapter!

Series this work belongs to: