Chapter Text
Siapa yang ngga setuju jumat itu hari yang paling ditunggu-tunggu. Terlebih lagi buat anak kelas 3 yang menanti-nantikan libur pasca ujian akhir selesai. Para remaja berlarian memenuhi gerbang, ada yang memilih langsung pulang, ada yang bermain dengan teman-teman, ada pula yang berkencan.
Seperti Neteyam, yang mendorong ringan tubuh kekasihnya yang tengah bersender di motor. Hadirkan Ao’nung yang mencubit lengan nya halus. Mereka saling berbagi tawa sebelumnya Neteyam duduk manis di tempat penumpang, dengan Ao’nung sebagai pengemudi nya.
10 menit atau mungkin kurang mereka habiskan secara jalanan siang itu begitu sepi. Akhirnya mereka tiba di kediaman Sully. Kali ini tidak perlu sembunyi-sembunyi, karena Neteyam tahu pasti di waktu seperti ini rumahnya tak berpenghuni.
Neytiri dan Jake yang masih menjalankan tugas di kantor, Tuk di sekolah, begitu pula Kiri dan Lo’ak yang akan pulang paling larut karena hari ini pun jadwal kelas tambahan si kembar itu. Selama 4 jam kedepan, hanya akan ada dirinya dan kekasihnya, Ao’nung yang menghuni rumah itu.
Tanpa buang waktu lama, Neteyam tarik tangan Ao’nung untuk masuk ke kamarnya. Mengunci pintu dengan cepat sebab Ao’nung sudah lebih dulu mengangkat pinggang rampingnya ke dalam pelukan. Dua na’vi itu terbaring di atas kasur Neteyam sambil saling tertawa.
Dengan tubuh yang masih terbalut seragam sekolah itu, mereka saling menyentuh, tertawa, tersenyum satu sama lain. Neteyam sudah menemukan posisi nyaman nya di atas dada bidang Ao’nung, terkekeh tak kala si lebih tinggi menainkan rambut tebalnya sambil mempautkan bibir.
Neteyam kecup sekilas bibir ikan kekasihnya itu, yang hadirkan pupil yang membulat dari Ao’nung.
“Lagi,” Minta Ao’nung, semakin mempautkan bibirnya.
Neteyam lagi-lagi terkekeh, lalu menggeleng. “Nggak.”
“It wasn’t even a kiss!” Protes Ao’nung
Alih-alih menjawab, Neteyam julurkan lidahnya mengejek. “Ambil sendiri ciumnya.” Ucapnya jahil.
Lantas Ao’nung menahan pergerakan Neteyam yang hendak beranjak. Posisikan tubuh si ramping di bawah kukungan nya. Rambut Neteyam terurai bebas di atas kasur lembutnya. Ao’nung dengan jahil menciumi pipi Neteyam yang memerah, lalu leher nya, naik sedikit ke pelipis nya, hidung, dan berakhir ke bibir sang kekasih.
Tak satupun dari mereka dapat membendung rasa cinta dan bahagia dari mata mereka. Saling bertukar ucapan manis sambil terus mengapresiasi sosok di hadapan mereka. Neteyam balas tautan bibir Ao’nung sambil kalungkan tangan nya secara bebas di leher si lebih tinggi. Saling berbagi hangat yang sudah mereka rindukan selama beberapa minggu belakangan perkara harus fokuskan diri pada ujian akhir.
Lalu mereka saling berbagi tatapan, 2 menit, 5 menit, mereka tak begitu yakin. Yang mereka yakinin, waktu seolah tak berguna ketika keduanya tengah saling bersama. Lantas Ao’nung sembunyikan wajahnya di perpotongan leher Neteyam, menghirup aromanya hingga tak ada tempat untuk oksigen baginya.
“Pengen lihat…”
Sebelah bibir Neteyam terangkat, teringat hal yang mereka bahas di ponsel mereka kemarin malam. “Lihat apaan?”
“Kamu… rok…” suara Ao’nung samar samar terdengar, bikin Neteyam semakin ingin menjahili nya.
“Aku? Rok? Apa sih ga ngerti.” Balas Neteyam, sambil memainkan rambut ikal Ao’nung.
“Yang di chat kemarin, lho.” Ucap Ao’nung, kali ini suaranya sedikit lebih jelas.
Ah, kemarin malam. Tentang perbincangan mereka di kamis malam. Awalnya sekadar percakapan biasa perihal sudahkan Neteyam makan malam, kemana mereka akan pergi sebagai agenda sepulang sekolah, sampai tiba-tiba satu foto muncul. Hasilkan Ao’nung yang tersipu malu, mengenggelamkan kepala nya ditumpukan bantal kasurnya selama beberapa menit.
Ia ingin berteriak. Ia ingin satu rumah, tidak, satu perumahan tahu ia begitu mencintai kekasihnya dengan gila-gilaan. Kekasihnya, Neteyam, dengan manis nya berpose di depan kaca dengan mengenakan potongan kain pendek ditubuh bagian bawahnya. Sebuah rok indah yang sedikit bergelombang. Warna nya hitam, dengan kilauan glitter silver samar samar terlihat dari pantulan cahaya kamar nya. Potongan kain itu menutupi hingga paha bagian atasnya, biarkan kaki jenjang dan indah nya itu terpajang dengan mulusnya.
Hanya satu foto. Satu foto tanpa kata-kata apapun dan cukup untuk membuat Ao’nung ingin berteriak dari lubuk hatinya hingga suaranya terdengar ke dalam dasar laut. Dia kirimkan pesan berulang, entah apa yang ia ketik Neteyam pun tak paham.
Neteyam di sebrang sana tertawa kecil, misinya sukses untuk menjahili kekasihnya itu. Sebenarnya sudah sejak beberapa bulan lalu dirinya berkecumbung dengan ‘hobi’ ini. Sejak Kiri meninggalkan potongan kain itu di ruang laundry, beralasan sang adik tak lagi menggunakan rok itu. Neteyam, dengan segala keingin tahuan nya membiarkan pikiran nya menang. Diam diam membawa rok itu ke dalam kamar nya, diam-diam kenakan di dalam kamar mandi.
Rasanya seru. Neteyam sendiri bingung bagaimana ia harus menjelaskan. Ia tidak merasa aneh sama sekali. Lama kelamaan hal ini menjadi adiksi baginya. Saat ia bosan, ingin mencoba gaya baru, atau sekedar untuk memandang dirinya di cermin dengan potongan kain pendek itu.
Setelah mengangguri pesan pesan dari Ao’nung selama beberapa menit, Neteyam pun mengetikkan sesuatu. Yang langsung dibalas dengan banjiran notifikasi dari Ao’nung di sebrang sana.
#
“Okay, you can look now.” Ucap Neteyam, berdiri dengan canggung dihadapan Ao’nung yang sudah tersenyum lebar seperti anak kecil yang menanti cemilan.
Matanya membulat sempurna, garis bibir yang semula tersenyum berubah menjadi oval. Neteyam balas dengan ekor nya yang bergerak cepat ke kanan kiri karena malu.
“Woah…”
Senyum Neteyam sama dengan kekasihnya, tak ada niatan untuk menghilang dari wajah mereka. Genggaman tangan yang semula nya kuat di ujung rok kini berpindah pelan ke atas bahu Ao’nung. Cengiran masih ia tampilkan sambil secara pasti mendudukan diri di atas pangkuan kekasihnya.
“What do you think?” Tanya nya, menatap dengan penuh ingin tahu dari pantulan iris Ao’nung.
“I think you look…” Ao’nung berikan jeda, memposisikan tangan nya agar memeluk hangat pinggang si lebih pendek. “gorgeous, beautiful, breathtaking.” Ucapnya, mengecup sekilas pipi Neteyam.
“Itu doang?”
“Mm… and hot?” Ucap Ao’nung samar-samar.
Neteyam tertawa sekilas, “Karena i wear this, huh?”
Lantas Ao’nung eratkan pelukan nya, bibir tebal itu maju seperti mulut ikan. “Engga lah. You’ve always been gorgeous, Neteyam. Mau pakai apapun kamu selalu indah, kayak dipahat langsung sama Eywa.”
Ucap Ao’nung, tak lepaskan kontak mata mereka. Neteyam tahu sejak awal berpacaran Ao’nung selalu handal dalam kata-kata nya, dan kali inipun dia kalah tertunduk merah mendengar itu.
Ah, indahnya jatuh cinta.
Kekehan Ao’nung buat dia mencibir kesal. Ao’nung harusnya tahu pasti Neteyam paling lemah kalau sudah diberi pujian. Terlebih lagi oleh sang kekasih.
“Cie, salting ya? Kenapa sembunyi-sembunyi gitu.” Ucapan Ao’nung hasilkan Neteyam yang bersembunyi di pelukan nya mencubit lengan atas nya, diikuti dengan protesan kecil.
“Bacot,”
“Salting mah bilang aja,” ejek Ao’nung, yang kali ini dibalas dengan gigitan secara tiba tiba dari si rambut lurus. Gigitan yang spontan dan berbekas di lengan nya.
“Akh! Sakit woy!” Protes Ao’nung, mengelus cepat bekas gigitan itu sebelum ia membalik cepat posisi keduanya.
Hadirkan Neteyam yang terbaring cepat di atas kasur. Rok hitam itu tersikap, menampilkan paha jenjang nya. Ao’nung tersenyum jahil, seperkian detik bibirnya sudah tenggelam di perpotongan leher Neteyam.
“Woy! Akh, geli Ao’nung!” Protes Neteyam, memukul kecil dada Ao’nung.
“You bit me!”
“I was just joking—“
“Sakit tau,”
“Yaudah sih, ahk!” Neteyam meringis, kini yakin sebuah bekas isapan terpampang di leher nya.
“Gila ya,” Si rambut lurus mendesis, bersiap untuk menggigit punggung tangan Ao’nung yang saat itu bertengger di telinga nya.
“Let’s see who can leave marks the most.” Ucap Neteyam kesal, sebelum giginya tertanam di atas kulit kehijauan Ao’nung. Tak lama, teriakan terdengar menggema di kamar itu.
Si kedua sejoli habiskan siang kala itu dengan saling memberi tanda di kulit satu sama lain. Diselingi dengan tawaan, desisan, atau bahkan sedikit desahan.
Kalau kemarin Neytiri khawatir melihat kulit Neteyam yang dihiasi bekas ciuman, ia harus lebih teliti lagi untuk menyadari beberapa bekas gigitan tertinggal di lengan dan bahu Ao’nung. Ulah siapa lagi, jika bukan karena gigi kelinci milik Neteyam.
