Actions

Work Header

Desir Cerek dan Pasir

Chapter 6: Secarik Kertas Penghimpun Badai

Summary:

Tighnari dan Haypasia memiliki hal manis yang pahit dicecap Kaveh.
Hari itu, kepahitan yang dicecapnya berupa secarik kertas yang mengundang badai dalam hatinya.

Notes:

Halo, saya kembali setelah menikmati indahnya blue moon Jyestha Adhik Purnima di negeri jiran. Memang rupiah melemah membuat saya terkapar secara finansial. Anjir apa apaan sejuta cuma dapet 200 ringgit. Gws para buruh Indonesia.

Chapter Text

Flashback : Hutan dan Surat Pengikat Kasih

 

Awalnya, ketenangan itu nampak seperti oase.

 

Tighnari berjumpa dengan Haypasia lagi ketika Haypasia ditugaskan ke Gandharva Ville untuk beristirahat dan penugasan lain yang mana merupakan bagian dari pemulihannya, setelah Akasha. Ia lebih tenang sekarang, lebih bijaksana. Ucapannya mungkin tak banyak, namun perhatiannya penuh. Ia seperti menguasai hutan itu seolah-olah memang ia berasal dari sana. 

 

Kaveh telah pergi saat itu.

 

Rumah Tighnari yang pernah menjadi impian untuk hidup bersama telah menjadi memori. Demikian juga suara tawa Kaveh yang memenuhi dapur bersama mereka. Yang tersisa hanyalah kekosongan yang tak dapat diisi Tighari. Entah untuk keberapa kalinya is duduk sendirian di situ sambil menyesap tehnya yang begitu dingin.

 

Haypasia tidak pernah mencampuri urusan hati Tighnari.

 

Yang ia lakukan hanya hadir. Tenang. Sabar. Berkebalikan dengan badai yang Tighnari cintai, sang Kaveh, yang saat ini pun telah menghilang itu.

 

“Kamu nampak lelah”, ucap Haypasia dengan ketenangan yang mendalam.

 

Tighnari memandang cangkir tehnya yang hangat. Teh yang disajikan Haypasia tidak menuntutnya untuk diseruput. Teh ini hanyalah kebaikan hatinya untuk menenangkan Tighnari.

 

Memang bukanlah percintaan yang hebat yang menyebabkan hatinya jatuh, melainkan kebaikan kecil sekecil cangkir inilah yang menyebabkannya.

 

Awalnya, ia pun tidak berharap semua akan berubah namun perlahan keduanya menemukan keselarasan dalam semua hal bahkan dalam cara mereka menghirup napas.

 

Dan mereka hidup berdampingan dalam kedamaian.

 

Tighnari menyadari perasaan cintanya dalam damai itu, bukan dalam nafsu yang menggebu.

 


 

Saat Ini: Secarik Surat Penghimpun Badai

 

Kaveh selalu membenci pagi hari. Sinarnya menyeruak tidak sopan merenggut kenyeyakan tidurnya. Ia berjalan mondar-mandir di dapur dengan mata sayu setengah sadar. Alhaitham sudah duduk membaca sesuatu di meja. Wajahnya datar tak terbaca seperti biasa tapi jemarinya terlihat sedikit kaku saat akan menyodorkan sepucuk surat.

 

Kaveh menuangkan tehnya dengan madu. Ia duduk di seberang Alhaitham.



Alhaitham menyorongkan sepucuk surat tanpa mengalihkan pandangan.

 

“Ada surat untukmu”

 

Kaveh membuka surat itu perlahan dan menyangka ada surat resmi kiriman kliennya.

 

Alih-alih surat dari klien, ia melihat surat warna krem lembut dengan kaligrafi elegant.

 

Sebuah undangan

 

Tighnari dan Haypasia akan mengadakan perjamuan dan resepsi perkawinan …

 

Jemarinya gemetar.

 

Kaveh membaca lagi.

Dan lagi.

 

Hurufnya tak berubah.

 

“Mereka… me-ni…kah,” ucapnya dengan terbata-bata.

 

Alhaitham hanya terdiam. Hanya memandangnya.

 

Kaveh memaksa dirinya tertawa namun terdengar rapuh, serapuh kaca tipis yang siap retak.

 

“Hidup cuma mampir minum teh, kan?”

 

Namun, teh yang ia siapkan tak ia minum.

Tangannya terlalu gemetar untuk mengangkat secangkir teh hangat yang mulai mendingin itu.



Notes:

Tentu saja berdasarkan kisah nyata. Namun, bukan kisah saya, trims. Aku ga main Genshin tapi emang suka baca fanfiction/AU Sumeru. Jadi emang settingnya sengaja dibuat antara Sumeru dan Konoha karena apalah arti hidup tanpa memperjuangkan cinta pada tanah air wkwkwkwk
Terimakasih buat inspirasinya sobat, semoga lancar nikahnya dan semoga yang patah hati dipulihkan.
Teman yang (tidak) baik ini hanya bisa menyimak sambil menulis fiksi.