Actions

Work Header

I Only Stopped Being Afraid When I Met You

Summary:

Ahn Keonho bisa melihat orang mati.

Ia membencinya.

Lalu suatu hari, di tengah serangan panik akibat sosok yang terus mengikutinya, ia bertemu Eom Seonghyeon—seorang mahasiswa Psikologi yang entah kenapa percaya padanya.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter Text

Keonho baru keluar dari perpustakaan kampus ketika jarum jam menunjukkan pukul setengah enam sore.

Langit di luar sudah mulai menggelap. Sisa-sisa hujan sore meninggalkan aroma tanah basah yang samar terbawa angin, sementara lampu-lampu taman kampus satu per satu mulai menyala.

Hari ini benar-benar menyebalkan.

Pagi tadi ia tidak sempat sarapan karena harus berlari mengejar kereta sejak subuh. Saat UTS Akuntansi Dasar, neraca saldonya sempat tidak balance dan membuatnya panik setengah mati. Belum lagi teman-teman kelompoknya yang berjanji akan mengerjakan tugas bersama di perpustakaan setelah kelas selesai, tetapi tidak satupun muncul sampai sore tiba.

Keonho menunggu cukup lama. Lalu tanpa sadar tertidur di meja baca.

Kalau bukan karena penjaga perpustakaan yang membangunkannya menjelang tutup, mungkin ia masih terlelap sampai malam.

Sial.

Seolah semua kesialan hari ini belum cukup, karena begitu ia melangkah keluar dari gedung perpustakaan, kandung kemihnya langsung memberi peringatan keras.

Keonho meringis.

Ia sebenarnya hanya ingin segera pulang dan naik kereta sebelum hari semakin gelap. Namun keadaan memaksanya untuk mampir ke satu tempat yang paling ingin ia hindari.

Toilet.

Benar saja. Bahkan sebelum mencapai gedung toilet, Keonho sudah melihat sosok yang sangat dikenalnya.

Seorang anak laki-laki berdiri di ujung koridor. Seragam sekolahnya kusut dan sedikit kotor. Rambutnya basah menempel di dahi. Wajahnya pucat seperti kertas.

Anak itu menatap lurus ke arahnya.

Ia mempercepat langkah sambil menundukkan kepala, berusaha menghindari pandangannya dari sekitar. Matanya hanya terpaku pada lantai yang basah oleh sisa hujan, tidak berani melirik ke jendela, sudut lorong, maupun pantulan kaca yang berjajar di sepanjang koridor. Pengalaman mengajarkannya bahwa semakin sedikit ia melihat, semakin baik. Karena Keonho tahu persis apa yang mungkin sedang berdiri di tempat-tempat itu, menunggunya menoleh.

"Tolong cari kakiku."

Keonho menundukkan kepala, berusaha menghindari pandangannya dari seorang anak kecil yang kehilangan satu kakinya. Tenggorokannya terasa kering. Hari ini sudah cukup buruk tanpa kehadiran sosok itu. Ia hanya ingin pulang, merebahkan diri di kasur, lalu melupakan semuanya. Namun anak itu masih ada di sana, berdiri di ujung koridor dengan tatapan kosong yang tidak pernah berkedip.

Suara itu terdengar lagi.

Lebih dekat.

Lebih jelas.

Lebih memohon.

Langkah Keonho langsung terhenti. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang mencengkram pergelangan kakinya dan memaksanya diam di tempat.

Napasnya tersangkut di tenggorokan. Jantungnya berdetak terlalu cepat hingga terasa menyakitkan. Pandangannya mulai kabur di bagian tepi, sementara suara hujan yang menetes dari talang gedung perlahan menghilang dari pendengarannya. Yang tersisa hanya suara anak itu.

"Tolong cari kakiku."

"Tolong cari kakiku."

"Tolong cari kakiku."

"Berhenti..." bisik Keonho pelan.

Kedua lututnya akhirnya kehilangan tenaga. Tubuhnya jatuh terduduk begitu saja di lantai koridor yang dingin. Tasnya terlepas dari bahu dan beberapa buku keluar dari dalamnya, tetapi ia tidak peduli. Kedua tangannya langsung menutup telinga erat-erat, sementara matanya terpejam kuat seolah kegelapan dapat melindunginya dari apa yang sedang ia lihat.

"Nggak dengar..." gumamnya berulang kali. "Nggak dengar. Nggak dengar."

Dadanya terasa sangat sesak. Udara seperti menolak masuk ke paru-parunya. Ia mencoba menarik napas, tetapi yang keluar hanya suara tercekik. Kepalanya mulai ringan. Jemarinya bergetar hebat. Panik menjalar ke seluruh tubuhnya seperti racun yang perlahan mengambil alih.

Ia mengenali perasaan ini. Biasanya ia masih bisa mengendalikan diri. Biasanya ia masih bisa berpura-pura baik-baik saja sampai berhasil menjauh dari sosok yang mengganggunya. Namun hari ini berbeda.

Hari ini tubuh dan pikirannya sudah terlalu lelah.

"Hei!"

Sebuah suara tiba-tiba menembus kepanikan yang mengurungnya.

Keonho tidak merespons.

"Hei, kamu bisa dengar aku?"

Seseorang berjongkok di depannya. Meski pandangannya masih kabur, Keonho dapat melihat siluet seorang laki-laki yang tampak panik sekaligus berusaha tetap tenang.

"Look at me."

Keonho menggeleng kuat-kuat. Ia tidak bisa.

"Look at me."

Suara itu terdengar lagi, begitu pelan hingga nyaris tenggelam oleh napas Keonho yang berantakan, tetapi justru karena itulah terasa begitu tulus, seolah seseorang sedang mengulurkan tangan kepada anak yang tersesat dan berkata bahwa untuk kali ini saja, ia tidak perlu menghadapi semuanya sendirian.

Perlahan, Keonho membuka mata.

Seorang laki-laki asing sedang menatapnya dengan wajah penuh kekhawatiran. Tidak ada ekspresi aneh di sana. Tidak ada tatapan seolah Keonho adalah orang gila. Hanya kekhawatiran murni yang membuat dada Keonho terasa semakin sesak.

"Kamu aman," ucap laki-laki itu pelan. "Dengar aku. Kamu aman."

Keonho mencoba bernapas lagi.

Gagal.

Laki-laki itu kemudian melihat sesuatu yang tergantung di lehernya. Ia segera mengambil benda itu dan menyodorkannya ke tangan Keonho.

"Two pumps, please."

Keonho menurut. Tangannya gemetar ketika menekan inhaler satu kali, lalu sekali lagi. Beberapa detik berlalu sebelum paru-parunya akhirnya mau bekerja sama. Udara perlahan masuk kembali.

Laki-laki itu tidak pergi. Ia tetap berada di sana, berjongkok di hadapan Keonho. Tidak ada tatapan aneh, tidak ada ekspresi terganggu, apalagi keinginan untuk menjauh. Ia hanya menunggu sampai napas Keonho kembali teratur, seolah kepanikan yang baru saja ditunjukkan Keonho bukanlah sesuatu yang memalukan untuk disaksikan.

Dan entah kenapa, justru itulah yang membuat mata Keonho mulai terasa panas.

Karena biasanya orang-orang akan pergi. Mereka akan menatapnya seolah ada yang salah dengan dirinya. Menyuruhnya tenang tanpa benar-benar memahami apa yang sedang ia hadapi. Menganggap semua yang dilihatnya hanyalah imajinasi berlebihan, lalu meninggalkannya untuk membereskan kekacauan di dalam kepalanya sendirian.

Namun laki-laki asing ini tidak melakukan apa pun selain tetap tinggal.

"You're okay," katanya pelan.

Suara itu begitu lembut hingga hampir membuat Keonho kembali menangis.

"You're gonna be okay."

Dan untuk alasan yang tidak bisa ia jelaskan, air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh juga.

Laki-laki itu berpura-pura tidak melihatnya.

"Kamu mau ke mana?" tanyanya setelah beberapa saat.

Keonho mengusap wajahnya dengan cepat sebelum menunjuk ke arah gedung kecil di samping perpustakaan.

"..."

"Hm?"

"Toilet."

Suaranya masih terdengar bergetar.

"Toilet. Aku mau ke toilet."

"Oke."

Laki-laki itu langsung berdiri dan mengulurkan tangan, "aku temenin."

Keonho menatap uluran tangan tersebut beberapa saat sebelum menerimanya. Entah kenapa, genggaman itu terasa kokoh dan menenangkan.

"You safe here," ucap laki-laki itu sambil menyesuaikan langkahnya dengan langkah Keonho yang masih sedikit goyah. "Aku bakal nemenin kamu."

Keonho menoleh.

Laki-laki itu tersenyum kecil.

"You're safe."

Keonho tidak pernah menyukai perhatian. Menurutnya, perhatian jarang bertahan lama. Biasanya orang-orang hanya akan peduli sampai rasa penasaran mereka terpuaskan, lalu pergi setelah menyadari bahwa dirinya terlalu rumit untuk dipahami.

"Aku udah gapapa."

Suaranya masih terdengar serak, menyisakan kepanikan yang belum sepenuhnya hilang.

Laki-laki di hadapannya hanya mengangguk pelan. "Oke."

Tidak ada usaha untuk menggali lebih jauh apa yang sebenarnya terjadi padanya beberapa menit lalu. Seolah apa pun yang baru saja dilihatnya bukanlah sesuatu yang perlu dijelaskan.

“Hei, ayo aku antar ke toilet.”

Mereka akhirnya berjalan menuju toilet di samping gedung perpustakaan. Keonho masuk ke salah satu bilik sementara laki-laki itu menunggu di luar tanpa banyak bicara.

Ketika urusannya selesai, ia keluar dari bilik dan langsung menghampiri wastafel. Air dingin mengalir di sela-sela jemarinya, membasuh sisa gemetar yang masih tertinggal di tubuhnya. Ia membungkuk sedikit, membiarkan air menyentuh wajahnya sebelum mengangkat kepala perlahan.

Pantulan dirinya di depan tampak menyedihkan.

Wajah pucat lengkap dengan ekspresi lelah yang rasanya sudah terlalu lama menetap di sana.

Keonho memalingkan wajah lebih dulu.

Ia tidak suka melihat dirinya sendiri setelah melewati serangan panik. Selalu ada rasa malu yang tersisa, seolah tubuhnya baru saja mempermalukannya di depan orang lain.

Saat ia melangkah ke luar toilet, laki-laki itu ternyata masih berdiri di tempat yang sama, masih menunggu.

"Aku Seonghyeon."

Tangannya terulur di antara mereka.

Keonho hanya menatapnya sebentar. Ada jeda yang cukup panjang sebelum ia bereaksi.

Ia tidak pernah benar-benar tahu bagaimana harus menanggapi kebaikan yang datang tanpa alasan. Terlalu sedikit orang yang pernah memperlakukannya dengan lembut hingga hal sesederhana ini pun terasa asing di dadanya.

Ketika seseorang akhirnya memilih untuk tinggal, hal pertama yang tumbuh di benaknya bukanlah rasa syukur, melainkan kecurigaan yang sudah mengakar terlalu lama.

Apakah semua ini hanya lahir dari rasa kasihan?

Seonhyeon berdeham, “jadi… siapa nama mu?”

"Ah! Ahn Keonho."

Senyum kecil muncul di wajah Seonghyeon.

"Senang kenal kamu, Keonho."

Keonho tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kikuk sebelum berjalan lebih dulu keluar dari toilet.

Udara sore terasa lebih dingin setelah hujan. Langit perlahan menggelap, menyisakan semburat warna pucat di balik deretan gedung kampus. Lampu-lampu taman mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya kekuningan di atas jalan yang masih basah. Mereka berjalan berdampingan dalam diam, namun Keonho menyadari bahwa keheningan itu tidak terasa menyesakkan.

Seonghyeon tidak memaksanya berbicara.

Tidak mencoba membuatnya tertawa.

Tidak memperlakukannya seperti orang yang rusak.

Ia hanya berjalan di sampingnya.

Mereka terus berjalan sampai tiba di persimpangan menuju gerbang kampus.

"Aku mau langsung ke stasiun."

Seonghyeon menoleh lalu mengangguk pelan, "hati-hati, Keonho."

Mereka berpisah ke arah yang berbeda.

Keonho berjalan menuju stasiun, sementara Seonghyeon melangkah ke arah sebaliknya. Harusnya selesai sampai di situ.

Harusnya pertemuan ini berakhir seperti puluhan pertemuan lain yang pernah terjadi dalam hidupnya—singkat, lalu dilupakan begitu saja. Akan tetapi, beberapa langkah kemudian, langkah Keonho justru melambat.

"Seonghyeon!"

Laki-laki itu menghentikan langkahnya lalu menoleh.

"...terima kasih."

Suaranya lebih pelan daripada yang ia inginkan, nyaris hilang tertiup angin sore.

Namun Seonghyeon tetap mendengarnya.

Senyum yang muncul di wajahnya sesaat kemudian membuat dada Keonho terasa sedikit aneh. Senyum itu sederhana, hangat, dan entah kenapa terlihat seperti seseorang yang benar-benar senang mendengarnya.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang berkata apa-apa. Lalu Seonghyeon mengangkat satu tangan dan melambaikannya pelan.

Keonho membalas dengan senyum tipis sebelum buru-buru memalingkan wajah dan mempercepat langkah menuju stasiun.

Notes:

sampai jumpa di chapter selanjutnyaaa! hehe boleeeh tinggalkan sedikit cuap-cuap disini :p