Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-03-05
Completed:
2026-03-05
Words:
9,107
Chapters:
20/20
Kudos:
30
Bookmarks:
1
Hits:
454

The Things We Never Said

Chapter 20: Epilog: Tempat Yang Kamu Ceritakan

Chapter Text

𝗦𝗮𝗻𝘂𝗯𝗮𝗿𝗶 𝗽𝗼𝘃

Raya pernah bilang tempat itu tidak istimewa.

Katanya hanya kota kecil yang terlalu dingin di pagi hari, dengan jalanan sempit dan kedai kopi yang tutup terlalu cepat. Tapi caranya bercerita selalu pelan, seperti sedang menyimpan sesuatu yang tidak ingin ia rusak dengan kata-kata berlebihan.

Aku mengingat semuanya.

Nama kotanya.
Stasiun kecilnya.
Dan janji setengah bercanda bahwa suatu hari kami akan ke sana—tanpa rencana, tanpa siapa pun yang menunggu.

Hari itu aku akhirnya datang sendiri.

Aku berjalan pelan, membawa tas kecil dan surat yang sudah kulipat berkali-kali. Udara terasa asing, tapi tidak menakutkan. Setiap langkahku seperti mengikuti jejak cerita yang dulu hanya kudengar lewat suara Raya.

Aku berhenti di sudut jalan yang ia ceritakan. Kedai kopi itu benar-benar ada. Tidak besar. Tidak ramai. Aku duduk di dekat jendela, memesan minuman yang pernah ia sebutkan.

"Aneh," gumamku pelan.

Rasanya seperti datang terlambat ke janji yang tidak pernah benar-benar dibuat.

Aku membuka surat itu lagi.

𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯, 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘪𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶—𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘥𝘪𝘩𝘬𝘢𝘯, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵, 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘢𝘯𝘪.

Aku menutup mata sebentar.

"Aku datang," bisikku. "Seperti yang kamu bilang."

Aku tidak menangis.
Tidak hari itu.

Aku berjalan menyusuri kota, mengambil foto-foto kecil yang mungkin akan kusimpan lama. Bangunan tua. Lampu jalan. Langit sore yang berubah warna terlalu cepat.

Aku masih mencintai Raya.

Dan mungkin, aku akan selalu begitu.

Bukan cinta yang menunggu balasan. Bukan cinta yang meminta ia kembali.

Hanya cinta yang berjalan—pelan, jujur, dan tidak menyangkal apa pun.

Saat matahari tenggelam, aku berdiri di jembatan kecil yang ia ceritakan. Angin dingin menerpa wajahku. Aku tersenyum kecil, membayangkan Raya berdiri di sampingku, tangan di saku jaket, berkata bahwa tempat ini biasa saja.

"Kamu bohong," kataku pelan. "Tempat ini indah."

Aku melangkah pergi saat malam datang.

Aku tahu, hidupku akan terus berjalan.
Aku akan tertawa lagi. Aku akan mencintai dunia dengan caraku sendiri. Tapi di antara semua langkah itu, akan selalu ada ruang kecil yang hanya milik Diraya.

Dan aku tidak ingin menutupnya.

Karena mencintainya—
meski ia tidak lagi di sini—
adalah caraku tetap mengingat siapa diriku saat bersamanya.

Notes:

Hi, ini tulisan pertama aku. Mohon maaf ya kalo ada kesalahan penulisan, semoga suka<3