Actions

Work Header

Urip Merdhika: The Art of Letting Go

Summary:

"Lo... tahu apa soal hidup gue hah?" bisik Soobin, mencoba mempertahankan sisa-sisa harga dirinya yang koyak.
Beomgyu berjalan mendekat, memperpendek jarak di antara mereka hingga Soobin bisa mencium aroma samar minyak kayu putih dan teh tubruk dari tubuh pemuda itu.

Beomgyu sedikit mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Soobin yang bergetar. Senyum manisnya melebar, menampilkan deretan giginya yang rapi—tampak mengerikan di bawah cahaya lampu kuning yang remang.

"Saya memang tidak tahu rasanya jadi direktur hebat di Jakarta, Mas," kata Beomgyu, nadanya sangat santun namun tiap suku katanya terasa seperti belati yang diiriskan ke kulit Soobin. "Tapi saya tahu rasanya memanusiakan manusia. Warga desa yang tadi siang Mas sebut 'bodoh' dan 'pantas miskin' itu... mereka yang mengumpulkan iuran untuk memperbaiki atap rumah kakekmu yang bocor ini minggu lalu. Mereka tulus, Mas. Tanpa pamrih."

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter 1: Gulita mentari

Chapter Text

Hujan badai seakan ikut merayakan kehancuran Choi Soobin malam itu. Kota Jakarta yang biasanya berkilau dari balik dinding kaca kantor barunya di kawasan SCBD, kini menjelma menjadi penjara yang menyesakkan.

Lembaran kertas berisi surat pailit, gugatan utang, dan bukti pengkhianatan dari orang-orang kepercayaan yang selama ini ia pelihara dengan uang, berserakan di atas lantai marmer.

Dalam semalam, statusnya sebagai Direktur Muda paling bersinar di ibu kota lenyap tanpa sisa.

"Semua ini karena mereka tidak becus kerja!" geram Soobin, suaranya parau memecah keheningan malam.

Tangannya mengepal erat, menghantam meja kerja yang kini bukan lagi miliknya. Ego Soobin yang setinggi langit menolak menerima kenyataan bahwa ia telah dikelabui. Baginya, dunia ini hanyalah tentang siapa yang menginjak dan siapa yang diinjak. Dan ia menolak menjadi yang di bawah.

Dengan sisa tabungan yang hampir menyentuh angka nol dan satu koper berisi pakaian-pakaian bermerek yang mendadak terasa mencekik, Soobin melarikan diri. Ia menembus malam menggunakan kereta api kelas ekonomi menuju Yogyakarta—sebuah tempat yang selalu ia remehkan sebagai daerah pinggiran yang lambat dan tertinggal.

Tujuannya hanya satu: sebuah rumah joglo tua peninggalan kakeknya di pelosok Sleman, kaki Gunung Merapi. Tempat pelarian terakhir dari kejaran kepalan tangan para penagih utang.

Pagi harinya, Soobin tiba di desa tersebut. Sepatu pantofel mahalnya menginjak tanah becek, meninggalkan noda lumpur yang kontras. Ia berjalan dengan dagu terangkat, menatap sinis pada jajaran rumah bambu dan hamparan sawah di sekelilingnya.

Di ujung jalan setapak, seorang pemuda berambut agak gondrong dengan kaos oblong putih yang sudah pudar dan celana pendek selutut sedang sibuk membersihkan selokan desa. Pemuda itu memegang cangkul kecil, bersiul santai menikmati udara pagi.

Soobin mendengus. Ia berjalan mendekat tanpa berniat menyapa dengan sopan.

"Hei," panggil Soobin, suaranya terdengar begitu menuntut dan penuh otoritas kota yang angkuh.
Pemuda berambut gondrong itu menoleh. Itu adalah Choi Beomgyu. Alih-alih bingung atau tersinggung dengan panggilan kasar itu, Beomgyu justru mengulas senyum yang sangat manis. Matanya menyipit ramah, memancarkan kepolosan seorang pemuda desa yang tidak tahu apa-apa tentang kejamnya dunia luar.

"Iya, Mas? Ada yang bisa saya bantu?" jawab Beomgyu, suaranya renyah dan sopan.

Soobin melepaskan pegangan kopernya, membiarkannya berdiri di atas tanah. "Bawakan koper ini sampai ke rumah joglo ujung sana. Jangan sampai kotor. Nanti saya bayar."
Beomgyu menatap koper mahal itu, lalu menatap wajah Soobin yang kaku dan penuh perintah. Senyum manis di wajah Beomgyu melebar, tampak begitu tulus hingga membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa hangat.

"Oh, baik, Mas. Mari saya bantu," ucap Beomgyu ringan. Ia meletakkan cangkulnya, lalu mengangkat koper berat itu dengan mudah tanpa mengeluh sedikit pun.

Soobin berjalan di depan tanpa menoleh lagi, menganggap pemuda di belakangnya hanyalah kuli murah yang bisa diperintah dengan uang yang bahkan sebenarnya sudah tidak ia miliki. Ia tidak pernah menyadari, di belakang punggungnya, senyum manis di wajah pemuda berkaos oblong itu perlahan berubah menjadi lengkungan yang sangat tipis dan dingin.

Sampai satu minggu berada di desa tidak membuat amarah di dada Soobin mereda. Baginya, ritme hidup pedesaan yang tenang dan gotong royong adalah bentuk kebodohan yang tidak produktif. Ia benci suara ayam di pagi hari, ia benci sapaan ramah tetangga yang dianggapnya basa-basi murahan, dan ia benci fakta bahwa ia harus mengantre air bersih karena pompa di rumah tuanya rusak.

Puncaknya terjadi pada suatu sore di balai desa. Warga sedang berkumpul untuk membahas pembagian hasil panen dan persiapan koperasi tani. Soobin yang kelaparan dan frustrasi karena tidak bisa mencairkan sisa asetnya, datang ke balai desa dengan niat awal meminta bantuan logistik. Namun, melihat diskusi warga yang berjalan santai diiringi tawa dan sajian teh tubruk, urat saraf Soobin mendadak putus.

"Bisa diam tidak?!" bentak Soobin tiba-tiba, suaranya menggelegar memenuhi ruangan balai desa yang terbuka.
Seketika, tawa warga terhenti. Suasana menjadi hening mencekam. Puluhan pasang mata tetua desa menatap Soobin dengan pandangan terkejut sekaligus terluka. Di sudut ruangan, Beomgyu duduk bersandar pada tiang kayu, mengunyah pisang goreng dengan tenang, mengamati pertunjukan di depannya.

"Kalian ini sedang rapat atau sedang bermain? Pantas saja desa ini tidak pernah maju dan kalian tetap miskin! Cara kerja kalian lambat, bodoh, dan tidak punya sistem yang jelas!" Soobin meluapkan seluruh racun di kepalanya, menunjuk-nunjuk wajah para tetua desa dengan telunjuknya yang gemetar karena emosi. "Kalian cuma bisa mengandalkan alam tanpa otak bisnis! Kalau di Jakarta, orang-orang seperti kalian ini sudah dipecat di hari pertama!"

Napas Soobin memburu. Ia berharap kata-katanya akan membuat warga desa tersadar dan tunduk pada "analisis bisnis"-nya yang hebat.

Namun, yang ia dapatkan justru sebaliknya.

Tidak ada yang membalas teriakannya. Kepala desa yang rambutnya sudah memutih hanya menghela napas panjang, menundukkan kepala dengan guratan kekecewaan yang mendalam. Satu per satu warga berdiri dari duduknya tanpa suara. Mereka menatap Soobin dengan tatapan dingin, seolah pria Jakarta itu adalah seonggok sampah yang mengotori kesucian tempat mereka.

"Rapat kita sudahi sampai di sini," ucap kepala desa dengan suara bergetar menahan kecewa.
Warga membubarkan diri dalam keheningan yang menyakitkan. Mereka melewati Soobin begitu saja, mengabaikan keberadaannya seolah ia adalah makhluk tak kasat mata. Bahkan beberapa pemuda desa yang biasanya menyapa Soobin dengan ramah, kini memalingkan muka dengan rahang mengeras.

Soobin berdiri mematung di tengah balai desa yang kosong. Sisa-sisa amarahnya mendadak menguap, digantikan oleh rasa hampa yang aneh. Di sudut ruangan, Beomgyu perlahan berdiri dari duduknya. Ia berjalan melewati Soobin yang masih mematung.

Saat jarak mereka hanya selangkah, Beomgyu menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah Soobin, lalu memberikan sebuah senyuman yang sangat manis—senyuman yang sama seperti saat pertama kali mereka bertemu di selokan desa. Namun, kali ini, ada kilat aneh di dalam matanya yang jernih, sebuah tatapan yang membuat Soobin merasa seolah-olah seluruh eksistensinya baru saja dinilai dan dianggap tidak berharga.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Beomgyu melanjutkan langkahnya, membiarkan Soobin pulang ke rumah tuanya malam itu dalam kondisi perut kosong, terkunci dalam kegelapan, dan terisolasi sepenuhnya dari dunia yang baru saja ia sakiti hatinya.

 

Malam itu, hujan gerimis mengguyur Sleman, meninggalkan bau tanah basah yang pekat. Soobin duduk meringkuk di sudut ruang tamu rumah kakeknya yang remang-remang. Perutnya berbunyi nyaring, perih karena seharian tidak ada satu pun warung warga yang mau melayaninya setelah amukannya tadi siang di balai desa.

Tok. Tok. Tok.

Pintu kayu yang lapuk itu diketuk pelan. Teratur. Tiga kali.
Soobin menyeret langkahnya, berharap itu adalah salah satu warga yang kasihan padanya. Namun, saat pintu terbuka, ia membeku. Di ambang pintu stands Beomgyu. Pemuda itu masih memakai kaos oblong longgar kesukaannya, rambut gondrongnya sedikit basah oleh gerimis.

Dan dia sedang tersenyum.

Bukan senyuman jenaka yang biasa Soobin lihat saat Beomgyu memandikan lele. Ini adalah senyuman simetris yang terlalu rapi, matanya menyipit manis, namun tatapannya kosong, sedingin es kutub. Bulu kuduk Soobin meremang seketika.

"Malam, Mas Soobin," sapa Beomgyu. Suaranya lembut sekali, hampir seperti bisikan, namun entah mengapa terdengar bergema di telinga Soobin.

Beomgyu melangkah masuk tanpa diundang, membuat Soobin secara refleks mundur dua langkah. Beomgyu meletakkan bungkusan nasi kucing dan segelas teh hangat di atas meja kayu yang berdebu.

"Saya dengar Mas belum makan dari siang. Ini saya bawakan. Dimakan ya, Mas," ucap Beomgyu dengan nada yang sangat ramah, diiringi kekehan kecil yang terdengar ganjil di tengah kesunyian malam.

"Beomgyu... gue—"

"Mas Soobin," Beomgyu memotong kalimat Soobin dengan cepat, jemarinya yang lentik mengetuk-ngetuk permukaan meja. Senyum manisnya tidak luntur sedikit pun. "Sugih rung karuan seneng, mlarat rung karuan susah. Kaya belum tentu bahagia, miskin juga belum tentu menderita. Tapi kalau sudah miskin harta, miskin adab pula... itu baru namanya celaka, toh?"

Soobin menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokannya. Atmosfer di dalam ruangan itu mendadak terasa begitu menyesakkan. Aura santai dari pemuda di depannya lenyap total, berganti dengan dominasi yang luar biasa pekat.

"Lo... tahu apa soal hidup gue hah?" bisik Soobin, mencoba mempertahankan sisa-sisa harga dirinya yang koyak.
Beomgyu berjalan mendekat, memperpendek jarak di antara mereka hingga Soobin bisa mencium aroma samar minyak kayu putih dan teh tubruk dari tubuh pemuda itu.

Beomgyu sedikit mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Soobin yang bergetar. Senyum manisnya melebar, menampilkan deretan giginya yang rapi—tampak mengerikan di bawah cahaya lampu kuning yang remang.

"Saya memang tidak tahu rasanya jadi direktur hebat di Jakarta, Mas," kata Beomgyu, nadanya sangat santun namun tiap suku katanya terasa seperti belati yang diiriskan ke kulit Soobin. "Tapi saya tahu rasanya memanusiakan manusia. Warga desa yang tadi siang Mas sebut 'bodoh' dan 'pantas miskin' itu... mereka yang mengumpulkan iuran untuk memperbaiki atap rumah kakekmu yang bocor ini minggu lalu. Mereka tulus, Mas. Tanpa pamrih."

Beomgyu menjeda kalimatnya, tangannya terangkat untuk menepuk pundak Soobin dengan sangat pelan, seolah sedang menenangkan seorang anak kecil. Namun cengkeramannya di pundak Soobin perlahan mengencang, menekan titik saraf yang membuat Soobin mendesis menahan sakit.

"Urip aja mung nenuwun, Mas. Jangan cuma bisa meminta dan menuntut kenyamanan kalau Mas sendiri datang ke sini cuma bawa penyakit ego kota," bisik Beomgyu tepat di samping telinga Soobin. Suaranya beralih menjadi sangat dingin, tanpa emosi, kontras dengan wajahnya yang masih melengkungkan senyum manis.

"Kalau bukan karena saya yang menahan mereka, besok pagi koper Mas sudah dibakar di lapangan desa. Hidup itu... aja duwe mungsuh. Jangan cari musuh, Mas Soobin yang pintar. Di sini, kalau Mas mati kelaparan di dalam rumah ini pun, tidak akan ada yang tahu kalau bukan tetangga yang Mas hina itu yang menolong."

Beomgyu melepaskan cengkeramannya, melangkah mundur, lalu membungkuk hormat dengan sangat sopan seolah ia baru saja menyelesaikan pertunjukan teater.
"Nasi kucingnya dihabiskan ya, Mas. Besok pagi jam enam, saya tunggu Mas di sawah barat. Belajar mencangkul. Kalau Mas tidak datang..." Beomgyu menatap Soobin sekali lagi dari balik pintu, memberikan senyuman termanis sekaligus paling menyiksa yang pernah Soobin lihat seumur hidupnya. "...saya rasa Mas tahu ke mana Mas harus angkat kaki dari desa saya."

Pintu tertutup rapat. Soobin jatuh terduduk di lantai, napasnya terengah-engah seolah baru saja lolos dari terkaman binatang buas. Di atas meja, bungkusan nasi kucing itu mendadak terasa seperti sebuah peringatan mutlak dari sang penguasa tanah yang sesungguhnya.

Notes:

Cerita ini terinspirasi dari lagu -Ngelmu Kyai Petruk- Jogja Hip Hop Foundation(JHF)

Aku cuma pengen nulis cerita, kalau ada kesalahan atau di rasa merendahkan dan bahkan merugikan pihak lain aku mohon maaf.

Berdasarkan kultural yang ada di Indonesia yaitu yogyakarta, aku harap kalian bisa ambil sisi positif dari cerita ini.