Chapter Text

Gedung aula bergetar dengan setiap langkah kaki yang berpacu. Semua orang di dalamnya bergerak, mengejar kebutuhan masing-masing demi sebuah ekspektasi. Gulungan pita tersebar acak dekat pilar putih gading. Karton warna-warni yang telah terpotong, membentuk pola dari sebuah ide milik seseorang. Spidol, gunting, lem, pensil dan segala alat tulis kantor berada di tangan-tangan para ahli. Microphone dan speaker juga saling bersahutan, berpartisipasi menciptakan 'kekacauan'. Aula sedang bernapas cepat, untuk persiapan penyambutan mahasiswa baru mendatang.
"Sandy, tolong koordinasi lagi sama anak konsum, kapan snack pagi tepatnya bisa mereka ambil? Terakhir kali jam tujuh, tapi dari transportasi baru ambil mobil di teksip jam tujuh juga."
*Konsum: Konsumsi
*Teksip: Teknik Sipil
"Kak Sandy, katanya ruangan sebelah operator belum bisa dipake untuk ruang panitia. Jadi, kalo kita lakuin pinjaman ke ruang sebelah kesehatan aja gimana? Agak jauh sih memang."
"Sandy, mending registrasi peserta jam sembilan pas atau gimana? Soalnya kaprodi konfirmasi dia baru bisa kesini jam delapan lewat lima puluh."
*Kaprodi: Kepala Program Studi
Sandy, sang wakil panitia menghela napas lelah. Dia mengusap pangkal hidungnya pelan, saat semakin banyak pertanyaan ditujukan untuknya dengan nada mendesak. Matanya terpejam sebentar, lalu terbuka perlahan dan menatap satu per satu anggota panitia yang bertanya padanya.
"Untuk mobil yang dipinjam jam tujuh itu, keperluannya bukan untuk snack, kak. Anak transport yang ambil mobil cuman dua orang. Semua anak konsum dibantu sisa dari anak tranportasi tetep bisa ambil snack, pake motor. Lokasinya juga deket kok, kak. Yang warung Bu Teja itu, kakak tau kan? Itu lima menit dari sini."
*Anak transport: Sie Transportasi
*Transport: Transportasi
"Kalo surat pinjaman untuk ruangan sebelah kesehatan udah ada, boleh langsung diajuin ke Pak Agus ya. Kalo dia bilang terlalu mepet pinjamnya, panitia taro tas di backstage aja."
"Registrasi tetap di jam yang sama, karena udah dibroadcast ke maba. Minta tolong anak humas confirm ke beliau, kalau beliau yang buka acara dengan pemukulan gong. Kalo ternyata beliau ngaret, minta tolong Pak Ginan yang buka acara, konfirmasinya di hari-H langsung."
*Maba: Mahasiswa Baru
*Anak Humas: Sie Hubungan Masyarakat
Lalu tiga orang yang mengelilinginya itu mengangguk paham dan bubar dari hadapan Sandy. Itu sudah cukup melegakan. Tapi jauh di dalam hatinya, dia melayangkan sumpah serapah pada sang ketua.
Bara kampret! Bisa-bisanya dia demam di rapat akhir! Dan lagi kenapa sih kating-kating sok iye itu, baru dateng sekarang?! Kemarin-kemarin pas rapat pada kemana, kampret?!
*Kating: Kakak tingkat
Tapi Sandy menghela napas lagi. Dia tidak mungkin melemparkan makian begitu saja, disaat posisi yang dia perankan saat ini menentukan masa depannya. Wakil Ketua Panitia untuk acara Penyambutan Mahasiswa Program Studi Destinasi Pariwisata (DPW) adalah golden ticket agar dipilih sebagai salah satu kandidat calon Ketua HIMA (Himpunan Mahasiswa) periode berikutnya. Jadi, Sandy hanya bisa tersenyum tipis dan berjalan mendekat ke Sie Acara yang sibuk dengan persiapan dekorasi aula.
"Citra, itu karton yang bakal dipake buat bikin nama kelompok kan?" tanya Sandy memastikan, yang langsung dijawab anggukan oleh si empunya nama. "Oke. Kalian fokus selesain ini semua, hari ini ya. Dengan pita-pita dekornya. Kalo ada kerepotan, telfon aja. Aku ke ruang operator dulu."
Dengan gesit, Sandy melangkah menuju ruang operator di area backstage. Udara pengap khas bau badan yang tersisa, menyerang indra penciumannya. Barang-barang yang terpakai milik kegiatan sebelumnya dan sengaja ditinggalkan, menempel dengan kacau ke dinding. Dia menghela napas lagi. "Orang-orang tuh kenapa sih, kalo gak mau dipake kan bisa langsung dibuang. Bukan ditumpuk gini," keluhnya. Walaupun mulutnya melayangkan protes, dengan sisa kesabaran yang masih tersisa untuk hari itu, Sandy mengambil satu per satu gabus yang dipotong asal, dan kertas-kertas tak yang bertebar di salah satu meja kayu—dia sudah memeriksanya dan itu dari dua hingga tiga tahun yang lalu—kemudian membuangnya ke tempat sampah terdekat. Tangannya pun dengan lihai mendorong peralatan musik tradisional ke tembok, dan menyusun beberapa kursi yang tersebar acak. "Gini kan rapi." Setelah teringat ingin memastikan masalah operator, Sandy melanjutkan langkah ke ruang operator.
"Permisi, ada masalahkah disini? Atau aman terkendali?" tanya Sandy sopan.
"Aman Kala, tapi..."
Berarti gak aman, batin Sandy langsung.
"Kayaknya laptopmu gak bisa kita pake untuk hari H nanti. Soalnya daritadi entah masalah update atau gimana, cuman dia gak mau munculin layar ppt lewat proyektor. Dan semua laptop anak pdd kepake untuk postingan dan live streaming hari H."
*ppt: Power Point
*anak pdd: Sie Publikasi dan Dokumentasi
Sandy mencerna pelan perkataan Koordinator PDD tersebut. Masalah baru muncul. Laptop miliknya memang sudah direncanakan untuk dipinjamkan ke anggota PDD pada hari H nanti, makanya kenapa semua anggota berterima kasih karena mereka bisa menggunakan laptop mereka dengan bebas untuk mengedit bahkan di hari H itu. "Tanya sama anak-anak sie lain di grup. Konfirmasi ke aku sebelum jam enam sore ya. Biar aku coba cari ke temen-temenku, kalo enggak ada." Lalu Koordinator PDD tersebut langsung mengirim pesan ke grup panitia. Setelah Sandy memastikan kembali terkait kendala sie dan mendapatkan bahwa hal lain sudah aman terkendali, dia pun keluar darisana untuk kembali ke aula.
Sebelum langkah Sandy sampai ke aula, ponsel di saku kanan celananya bergetar. Itu panggilan darurat. Dengan cepat dia berjalan menuju sisi lain backstage yang hening dan mengangkat telepon dari seberang.
"Halo—"
"Kakak di? Aku di depan kos."
Sandy meringis. Dia lupa janji adiknya yang akan main ke kosnya. Kini hanya permintaan maaf yang bisa dia sampaikan, karena persiapan acara akan makan waktu sampai matahari terbenam.
"Duh dek, aku lupa lagi kamu mau dateng. Ini aku di aula FPAR. Kamu kesini aja, kalo mau..."
*FPAR: Fakultas Pariwisata
Panggilan dimatikan sepihak.
Sandy tertawa pahit. Dia bingung harus marah karena sifat kurang ajar adiknya, atau karena dia harus terjebak di gedung aula sampai hampir malam itu. Pandangannya menoleh ke jendela besar yang menampakkan jalanan gedung Fakultas Pariwisata. Disana masih ada beberapa mahasiswa yang berlalu-lalang. Entah selesai kelas, akan ke perpustakaan, atau bahkan ke kantin yang buka sampai jam enam sore. Dia menghela napas, lagi.
Ada satu hal yang orang-orang tidak ketahui tentangnya, sampai dia bisa terjebak di tahun keduanya sebagai mahasiswa pariwisata. Dia tidak pernah menginginkan posisinya, gelarnya, jabatannya di HIMA. Itu semua bukan maunya sejak awal. Lalu kemudian pandangan Sandy beralih ke jari panjang putih pucat miliknya. Jemari itu, sebenarnya diam-diam diasah oleh benang dan kain, bukan diperuntukkan untuk mengurus suatu acara besar.
Kalau ada kehidupan kedua, aku harus jadi anak busana dan desainer terkenal, batinnya. Hening dan pahit, di tengah hiruk-pikuk aula yang bergemuruh.
Sandy menyudahi pikiran sedih itu, dan berjalan kembali ke aula. Tempat kekacauan tercipta, dan dia sudah terlalu basah untuk naik ke permukaan.
Menit demi menit berlalu dengan cepat. Tulisan nama kelompok untuk keperluan games sudah terpasang cantik, di tirai-tirai merah maroon yang menutup cahaya masuk ke dalam aula. Pita-pita dekorasi juga sudah mengelilingi pilar putih gading dengan rekat. Laptop keperluan hari H juga sudah didapatkan oleh Sie PDD. Jadi, melalui toa yang diberikan oleh Sie Perlengkapan, Sandy memanggil semua anggota untuk berkumpul. Jam di ponselnya kurang lima menit lagi menuju jam enam. Mereka harus bergegas, karena untuk hari itu aula hanya bisa dipinjam sampai jam enam sore. "Semuanya udah pada kumpul kan?" tanyanya, yang kemudian dibalas satu per satu oleh semua koordinator sie. "Oke. Untuk hari ini persiapan penyambutan mahasiswa baru sampai di sini aja. Besok semuanya kita rapat teknis di jam lima, terus dilanjut gladi operator, MC dan pengisi acara sampai jam sembilan malam. Karena aula gak bisa dipake di hari Sabtu. Jadi untuk acara, pastikan MC dan pengisi acara datang semua, sebelum setengah enam. Anak PDD, gladi untuk tes live streaming di YouTube HIMA, terus koordinasi sama Team Redaksi FPAR buat blokingan kamera, harus pastikan kita tetep dapat lebih banyak spot. Terus yang di bagian operator, besok juga siapin laptop untuk musik pengisi acara, backsound, bumper, maupun ppt. Terus gladi juga untuk lighting di setiap penampilan pengisi acara. Anak kesehatan pastikan lagi obat-obatan lengkap, dan latihan mandiri lagi untuk pertolongan pertamanya. Selebihnya..."
Penjelasan Sandy masih berlanjut, hingga persiapan setiap sie telah dia sebutkan satu per satu. Semua mendengarkannya dengan baik, termasuk para kakak tingkat—Steering Committee, Inti Lembaga HIMA dan perwakilan BPM (Badan Perwakilan Mahasiswa) yang juga memberikan satu dua saran. Setelah mengucapkan terima kasih dan salam semangat kepada semua panitia, satu per satu meraih tas mereka dan bergegas dari hawa panas aula yang perlahan menguap. Sandy sendiri keluar paling terakhir, dia harus memastikan semua lampu dan AC dimatikan. Setelahnya, mengunci pintu aula dan menyerahkannya ke satpam kampus.
Udara dingin menusuk kulitnya ketika Sandy sudah mulai berjalan menuju kosnya. Langit dengan cepat berubah gelap, dari sejak dia menyampaikan pesan terakhir kepada anggota panitia. Masih pukul 18:21, artinya belum terlalu malam untuk dia membeli makan di gang sebelah kosnya. Teringat dengan adiknya, Sandy menelponnya kembali.
"Kamu udah makan malam?" tanya Sandy saat telepon sudah tersambung.
"Aku punya pacar, jadi gak sepelupa kakak sih."
Sandy mendecih tajam. Adiknya itu baru duduk di bangku SMA, dan sudah sangat sombong dengan memamerkan pacar yang sudah dia sukai dari sejak mereka masih kecil. Pertemanan mereka sudah terjalin sejak kecil, begitupun dirinya dengan sang kakak dari pacar adiknya. Jadi, tak heran mengapa kepercayaan diri itu ditunjukkan tanpa malu. Setelah mengetahui adiknya sepertinya sudah makan, Sandy langsung mematikan ponselnya sepihak. Anggap saja itu sebagai balas dendam.
"Memang kenapa kalo udah punya pacar? Kasihan Janen sih, harus jadi alarm makannya anak itu," kesal Sandy. Dia sendiri memang belum punya pacar. Karena bagaimana dia mau punya pacar, kalau hidupnya harus disibukkan memenuhi kemauan keluarga. Sandy jelas tak bisa sesuka hati menyukai sesuatu dengan mudah. Dia dan adiknya ditempa dengan ajaran yang berbeda.
Sandy menghela napas lagi. Setidaknya dia punya sahabatnya. Jadi untuk mengisi kesunyian malam itu, Sandy menelpon sahabatnya.
"Halo Tataku~"
"Kala..!!"
Itu suara Wiyata Candramawa, sahabat kecil Sandy yang lebih beruntung. Keduanya memiliki ketertarikan yang sama di bidang fashion. Wiyata berhasil masuk SMK jurusan Tata Busana yang terkenal di kota mereka, dan sekarang tengah menempuh pendidikan di kampus swasta yang membinanya di bidang tersebut. Sedangkan Sandy, terpaksa terjebak di bukan dunianya.
Suara pekikan dengan samar kelelahan dan amarah itu, buat Sandy tertawa kecil, dia sudah tau apa yang akan dikatakan Wiyata.
"Kala!! Aku beneran pengen nelfon kamu, tapi aku tau kamu sibuk dengan kepanitiaan sialan itu!"
Suara Wiyata menajam pahit di akhir kalimat, yang membuat Sandy lebih besar. Dia teringat nada yang sama itu juga terdengar olehnya, saat Wiyata memaki kegiatan OSIS di SMAnya.
"Santai Ta, kamu bisa nelfon aku kapanpun kok."
"Nah itu juga masalah! Karena aku juga gak bisa nelfon kamu, kapanpun..."
Wiyata mengerang di ujung telepon. Sandy bisa menduga bahwa ini memang tidak akan jauh-jauh dari tugas desain polanya yang melelahkan itu. "Tugas kuliah ya?" tanyanya memastikan.
"Iya! Masa aku harus buat dua pola gaun sendirian?! Dan deadlinenya cuman tiga minggu dari sekarang! Gaun loh!!"
Kenyataan pahit menyerang Sandy kembali. Dia selalu senang saat Wiyata bercerita tentang kehidupan kuliah sebagai anak desainer itu. Tapi di lubuk hatinya yang terdalam, Sandy masih menanyakan hal yang sama ke semesta. Kenapa dia tidak diberi kesempatan yang sama untuk memilih yang dia mau?
Keluhan Wiyata tentang tugas kuliahnya terus berlanjut, sampai langkah ringan Sandy terhenti. Matanya menyipit menatap sesuatu di bawah lampu jalanan. Debaran jantungnya meningkat, pikiran buruknya melayang, dan suara Wiyata tenggelam karena itu.
Itu terlihat seperti seseorang. Ketika semakin Sandy beranikan diri untuk mendekat, napas tersengal-sengal terdengar semakin jelas di telinganya.
"Ta, aku matiin telfon dulu ya." Tanpa menunggu balasan, Sandy mematikan panggilannya. Lalu berjalan semakin dekat ke bawah lampu untuk melihat dengan jelas sosok tersebut. "Halo..." sapa Sandy, memanggil orang tersebut. Kemeja yang digunakannya sebagai luaran itu, nampak kusut. Tas punggung—yang Sandy duga milik orang tersebut, terhempas jauh ke sisi jalan yang tidak diterangi lampu.
Sosok tersebut mendongak perlahan. Mata mereka bertemu beberapa detik, sebelum akhirnya Sandy memekik, menyadari banyak bekas lebam di wajah pria muda tersebut. Kemudian dia berjongkok di hadapannya. "Kamu habis kemalingan kah? Ini... luka pukulan semua," ringisnya menatap ngeri memar ungu disana. Tangan Sandy melayang di sekitar wajah pria itu, tak tahu harus menyentuh dimana. Dengan insting mantan sie kesehatan, dia meraih tas pria tersebut, dan berusaha membantunya berdiri. "Kita ke klinik FK sekarang."
🎀📚
Pandangan Sandy tak teralihkan sedikitpun dari pria muda yang berhasil dia bawa ke klinik FK (Fakultas Kedokteran). Dia memperhatikan perawat klinik yang telaten mengompres memar, dan membersihkan beberapa luka di wajah pucat itu.
"Ini bakal cepet sembuh, asal sering-sering dikompres bukan cuman pas nyerinya kambuh. Tapi setiap kamu sendiri ada waktu. Plester luka ini juga, harus sering-sering diganti. Memang gak lebih parah dari memarnya, tapi tetep usahain jangan sampai kena air dulu," jelas perawat yang kemudian dibalas anggukan oleh laki-laki tersebut.
Setelah perawat berpamitan pada mereka, Sandy mendekat ke laki-laki itu untuk menyerahkan tasnya. "Kamu—"
Dengan cepat tas itu diambil oleh si empunya. Tanpa menoleh, menatap dan mengucapkan satu kata pun, laki-laki itu langsung turun dari ranjang medis dengan cepat.
"Aku udah nolongin kamu, dan gini caranya kamu berterima kasih?" nyalang Sandy. Dia tak suka sifat kurang ajar orang lain, selain kalau itu adiknya sendiri. Tangannya bersedekap di dada, dan menatap laki-laki itu yang masih menunduk dengan topi hitam yang menutup wajahnya. "Setidaknya kasih tau aku nama kamu."
Mata mereka bertemu lagi. Tapi tatapan pria itu sangat tidak bersahabat. Sandy melihat kilatan tak senang di sana. "Oke, oke. Mungkin gak nama, tapi kamu siapa? Anak SMA mana?" tanya Sandy lagi.
Decakan tajam terdengar dari pria muda itu, matanya masih menatap tak suka pada Sandy. "Tahun pertama."
Sandy terdiam mencerna jawaban tersebut. Kemudian akhirnya tersadar maksud kata-kata tersebut. "Oh! Mahasiswa tahun pertama?" Matanya menelaah fisik laki-laki tersebut. Masuk akal untuk disebut sebagai mahasiswa tahun pertama, mungkin karena wajahnya yang terlihat masih anak-anak—belum terlihat seperti wajah yang diterpa kepahitan kehidupan perkuliahan. "Berarti baru lulus ya. Kuliah disini? Fakultas apa?" Sandy jadi semakin penasaran dengan laki-laki itu.
Tapi laki-laki itu mendecak lagi. Dia membuang muka, sebelum akhirnya tersadar oleh sesuatu dan membungkuk pelan. "Terima kasih." Lalu pergi meninggalkan Sandy dengan mulut setengah terbuka.
Sandy tertawa pahit. "Anak zaman sekarang..!!" geramnya. Akhirnya Sandy tak mau ambil pusing, dia keluar dari sana, dan entah dengan kecepatan seperti apa, laki-laki tadi sudah tidak terlihat lagi. "Kalo bukan karena hati nurani, udah kutinggal." Sandy kesal bukan main. Dia rela menghabiskan waktunya menahan lapar demi membantu seorang mahasiswa baru yang tidak sopan. Ditambah, gang yang tadi itu adalah gang menuju warung makan langganannya yang akan tutup segera di jam sembilan malam.
Setibanya di warung langganannya, Sandy langsung membeli menu favoritnya dan kemudian berjalan pulang ke kos. Kosnya memang berada tak jauh dari kampusnya—kos mahal dengan fasilitas memadai itu ditemukan oleh kedua orangtuanya. Walaupun Sandy anak pertama dengan satu adik laki-laki, dia tetap dimanjakan oleh orang tuanya—karena itu juga merupakan kesepakatan mereka.
“Kalo mama papa mau aku kuliah di Pariwisata, aku minta 5 hal ini harus terpenuhi selama aku kuliah. Satu, kos dekat kampus dengan fasilitas lengkap. Dua, biarin aku ikut daily-worker apapun yang aku suka. Tiga, jangan pernah datang ke kosku, kecuali aku yang izinin. Empat, aku bebas pilih mata kuliah apapun sesuai kemauanku. Terakhir, aku minta mobil.”
“Yang terakhir mama tolak. Saat kamu udah semester lima, baru mama izinkan.”
“Yaudah. Terakhir, selalu beliin tiket pulang-pergi kemanapun aku mau pas liburan semester.”
“Kamu udah daily-worker…”
“Dan papa berharap aku dapat uang 5 juta sekali kerja?”
“Papa kasih kamu 5 juta per bulan sebagai uang makan. Tiket itu, darisana. Kamu yang atur sendiri.”
“Tujuh.”
“Enam juta.”
“Enam setengah.”
“Deal.”
Itu bukan kesepakatan yang seharusnya ada. Sandy harusnya tetap masuk SMK Tata Busana, kuliah di program studi yang sejalan, dan berakhir menjadi desainer terkenal sesuai dengan cita-citanya sejak kecil. Tapi apalah daya. Bagi kedua orang tuanya, anak-anak tetaplah aset. Mereka tidak memaksakan Sandy untuk ambil jurusan bisnis dan berakhir di perusahaan keluarga, itu sudah lebih dari cukup. Pariwisata jadi alternatif keinginannya. Dia suka jalan-jalan, sesederhana itu. Tadinya Sandy berencana mengambil jurusan bahasa dan berakhir kuliah di luar negeri sekalian, tapi terurungkan karena kata Nyonya Arunakara—ibu dari papanya, “Semua cucu tidak boleh menekuni bidang yang sama. Belum ada yang menekuni itu. Pilih itu, Sandy.” Tentu saja semua didasari oleh sebuah rencana, proyek atau apapun yang diinginkan Keluarga Arunakara, dan dia tidak pernah bisa menduga itu apa.
Malam masih panjang, Sandy harus segera makan malam, menyelesaikan laporan ilmiahnya dari salah satu mata kuliah, memeriksa daftar tamu undangan yang terkonfirmasi hadir, menandai jobdesk setiap sie agar tidak ada yang terlewat, menonton 1-2 episode drama Korea yang sedang dia tonton—itupun kalau masih ada waktu sebelum jam satu, lalu mandi dan tidur. Mata jernih dengan samar kelelahan itu menerawang langit malam. Bintang-bintang bertaburan acak, namun cantik bersamaan. Dia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Udara malam sangat sejuk dan cukup membantunya menenangkan pikiran. Sejak dia memutuskan untuk menerima tawaran menjadi wakil ketua panitia, Sandy sadar dengan pasti, dia akan semakin kelelahan. Belum lagi kalau dugaannya dengan, bahwa dia akan menjadi salah satu kandidat untuk PEMILU Ketua HIMA nanti, maka dia tak akan pernah bernapas dengan tenang, sampai akhir kepemimpinan itu. Tapi inilah dia. Dia menerima tawaran itu untuk menghindar dari berbagai kekesalan akan mimpi masa kecil yang tidak tercapai. Ini balas dendam yang sempurna, harusnya. Karena kalau proyek Keluarga Arunakara membutuhkan pion, dia harus jadi pion yang kuat untuk bisa menyingkirkan orang-orang yang telah membawanya ke proyek tersebut.
🎀📚
Di bawah langit gelap bertabur bintang kecil, Hema menarik napasnya dengan cepat. Dia baru saja lari dari gedung berbau kapitalis, dan dari sosok yang dia duga sebagai kakak tingkat. Debaran jantungnya berpacu dengan cepat. Bulir keringat turun satu per satu di dahinya. Malam dimana harusnya dia meringkuk di kasur, kini jadi malam penuh pelarian. Tapi bukan klinik FK dan kating itu yang menakutkan, tapi orang-orang dari SMA-nya yang menemukannya berlalu-lalang di sekitar kampusnya sendiri. "Sial," desisnya tajam, lalu meringis karena lebam yang tepat di sudut bibirnya. Hema mendekat ke sebuah halte bus, duduk disana dan menatap jalanan yang ramai. Bermodalkan masker seribuan di warung yang dia punya, Hema menutup wajahnya agar tidak mendapatkan tatapan aneh dari orang-orang. "Aku jauh-jauh kesini, bukan untuk ketemu mereka." Suara kecil itu menerobos keramaian. Tatapannya menyendu, kala kilatan ingatan masa SMA menerobos di dinginnya malam.
Hema bukan murid menonjol di sekolahnya. Dia hanya seorang kutu buku yang menyukai novel, dan tertarik untuk terjun ke dunia kepenulisan. Mimpinya adalah menjadi penulis, yang berakhir dengan ditentang keras oleh keluarganya. Katanya, penulis tidak punya penghasilan, menulis hanya aktivitas buang-buang waktu, dan itu sebuah mimpi yang konyol. Tapi mereka lupa, bahwa penulis memberikan sisi manusiawi di diri setiap orang. Tulisan fiksi membantu orang-orang merasakan arti dari kehidupan—hubungan dengan sesama, cara memandang segala hal dari sisi yang lebih lembut, dan itu bukanlah kekonyolan. Menulis adalah pekerjaan besar untuk membuat manusia hidup. Hema tidak menutup fakta tentang penghasilan, tapi sedikit keliru disana. Penulis punya penghasilan, walaupun itu tergantung pada eksekusi ide yang mereka lakukan. Mimpinya besar sampai dia berhasil masuk di jurusan Bahasa ketika SMA, tapi tidak cukup besar untuk menentang kemauan ayahnya.
“Tidak cukup bertahun-tahun kamu lihat ayah kerja di bidang seni dan gagal karena hal yang ayah sukai itu? Butuh berapa tahun lagi, Hema, buat kamu yakin kalau ayah sudah hancur karena itu? Kita kekurangan dari tahun ke tahun, dan kamu mau nambah kekurangan lagi di hidup kita? Seni memberi rasa, tapi dia tidak cukup memberi uang untuk makan sehari-hari.”
Angin malam menusuk kulitnya. Ucapan ayahnya di hari kelulusan SMA ikut terputar bagai kaset rusak. Benar, menulis tidak memberikan jaminan hidup yang layak. Tapi itu kalau kita mengeksekusinya dengan cara yang salah.
Itu sudah terjadi 3 bulan yang lalu. Walau masih samar-samar terputar di kepalanya, setidaknya untuk sekarang, Hema berada jauh dengan ayahnya. Program Studi Destinasi Pariwisata adalah keputusan mutlak yang ayahnya berikan. Katanya dia harus melanjutkan bisnis agen perjalanan wisata milik omnya yang belum mempunyai anak itu. Katanya, pekerjaan itu lebih menjamin hidup mereka. Katanya, tidak akan ada aib lain di Keluarga Aryasatya bila dia nurut.
Baiklah. Hema akan usahakan yang dia bisa untuk bertahan di program studi itu, tapi dia tetap akan menulis bagaimanapun caranya. Hidupnya adalah untuk menulis, dan selamanya akan tetap seperti itu.
Jalanan masih ramai dengan suara kendaraan, obrolan segerombolan pemuda, musik dari rooftop cafe, drama Cina yang diputar oleh orang lain di sisi lain bangku halte, dan masih banyak lagi. Hema tidak sedang menunggu bus. Dia hanya melihat halte itu dan berharap sosoknya tidak terlihat di antara kerumunan. Berbicara soal pengejaran, dia juga tak yakin pasti kenapa orang-orang tak bermoral yang mengganggunya di gang sepi tadi, bisa tahu keberadaanya dimana, kampusnya dimana. Ditambah itu gang menuju kosnya. Kalau suatu saat mereka menemukannya di gang itu lagi, bukan tidak mungkin sampai akhirnya mereka tahu kosnya yang mana, dan lebih parahnya yang mana nomor kamarnya.
Hema mendecak, sebelum akhirnya meringis ketika nyeri di sisi lain wajahnya kembali terasa. Luka dan lebamnya harus hilang sebelum penyambutan mahasiswa baru tingkat program studi di hari senin nanti, dan itu hanya tersisa 3 hari. Setelah duduk beberapa saat lagi di halte bus yang mulai ramai, karena dipenuhi orang-orang perkantoran yang akan pulang, Hema akhirnya bangkit darisana dan berjalan dengan menuju gang tadi, kembali ke gang menuju kosnya. Dia hanya perlu perlu lebih berhati-hati terhadap siapapun yang lewat disitu.
Langkah Hema terasa berat, dia ingin cepat sampai ke kosnya tapi juga ketakutannya masih tergambar jelas dari bahasa tubuhnya. Hingga langkah itu tiba-tiba berhenti. Pandangannya terarah lurus pada satu titik yang hampir 10 meter di depannya. Itu sosok tinggi dengan kaos putih seukuran sebagai atasan dan vest cardigan sebagai luaran, serta jeans putih panjang. Seseorang yang Hema kenal. Itu kakak tingkat yang tadi!
Dengan gesit, Hema melemparkan tubuhnya ke balik semak-semak di taman yang ada di gang itu. Matanya memperhatikan kakak tingkat yang menolongnya tadi. Postur tubuhnya tinggi, badannya nyaris tiang listrik yang beberapa senti di depan langkah kakak tingkat itu. Hingga akhirnya dia menyadari apa yang dia lakukan. "Aku ngapain sih," desahnya, lalu perlahan keluar dari sana tapi tetap menjaga jarak, agar setidaknya bayangan tubuhnya tidak terlihat oleh orang di depan sana. Dia hanya takut dapat banyak pertanyaan tidak penting, lagi, dari kakak tingkatnya.
"Kalo gitu aku pamit ya, Sandy."
Sekarang Hema ingat nama kakak tingkat itu, ketika dia tak sengaja mendengar pamitan dari perawat di klinik FK tadi. Sandy, batinnya. Sepertinya orang-orang disana mengenal kakak tingkatnya itu cukup baik. Dia menduga bahwa Sandy adalah mahasiswa kedokteran, entah tahun keberapa. Karena teman-teman IPAnya dulu tipikal banyak tanya seperti dokter sebelum mendiagnosis penyakit ataupun apoteker sebelum menyerahkan obat ke pembeli. "Mirip wartawan juga," gumamnya.
Sandy yang sedari tadi jalan dalam keheningan langsung menoleh cepat saat mendengar sebuah suara. Dia menyipitkan matanya untuk melihat siapa orang yang berjarak cukup jauh yang sayangnya keheningan malam berhasil menangkap suara itu. Dia memperhatikan gang itu dengan mata yang sedikit rabun. Kalau dari bentuk tubuhnya, sepertinya dia kenal walaupun tidak yakin apakah itu orang yang terpikirkan olehnya.
Hema yang mendapati Sandy menoleh kearahnya, langsung menghentikan langkah. Jantungnya berdebar dengan cepat. Diliputi rasa takut karena tertangkap basah berjalan di belakangnya, maupun sisa-sisa perasaan was-was terhadap orang-orang di SMAnya.
"Kamu mahasiswa tadi kan?!" sahut Sandy agak teriak. Dia yakin seribu persen itu laki-laki yang tadi tergelatak di bawah lampu jalan, seperti orang yang baru habis diganggu. Dia mendengus kesal. "Ooh, jadi setelah ditolong kamu malah mau ikutin aku?!" Sandy masih kesal karena tidak mendapatkan setidaknya kata 'terima kasih' dari mahasiswa baru itu. Bukannya gila hormat, tapi terima kasih memang basic manner yang seharusnya orang-orang sadari untuk ucapkan setelah dibantu atau apapun yang memerlukan kata itu. Tapi mungkin yang membuatnya marah juga, karena dia harus rela menahan lapar demi menolong laki-laki dengan hoodie abu demi putih itu.
Hema yang sudah bersiap untuk kabur, langsung mengurungkan niatnya saat mendengar tuduhan tak berdasar itu. Dia masih menatap lurus Sandy, dan mencetak ekspresi yang tak kalah kesal juga. "Memang sepenting apa, sampe perlu diikutin?" balasnya langsung. Karena kosnya memang ada di ujung gang itu, jadi sudah seharusnya Hema jalan di gang itu.
Perkataan menohok itu—menurut Sandy, buat dia tercengang sesaat. Dia tidak menyangka bahwa laki-laki itu punya mulut jahat—menurut Sandy. Tapi karena dia harus menghemat energi untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan nanti di kos, Sandy hanya menghela napas panjang. Matanya melembut sejenak. "Iya iya, serah deh. Kita udah papasan lagi gini, tetep gak ada ‘makasih’ juga nih?" tanyanya masih berharap. Dia melihat sosok tidak sopan dari adiknya sendiri di mahasiswa baru itu. Baginya cukup wajar bahwa sifat remaja yang nakal itu melekat disana. Kehidupan SMA memang penuh dengan kenakalan dimana-mana.
Tak ada balasan apapun dari Hema. Toh, pertolongan Sandy tadi, bukan atas kemauannya sendiri. Jadi tak ada kewajiban untuknya berterima kasih. Lagipula, kalau memang ikhlas menolong, tidak akan mungkin mengemis terima kasih.
"Hadeh, anak zaman sekarang. Serahlah. Semoga kamu gak dibully aja sih, gara-gara gak sopan." Sandy melambaikan tangannya malas, lalu berbalik melanjutkan perjalanannya ke kos. Karena setumpuk rencana yang tersisa untuk malam ini, masih menunggunya. "Kurangin gak sopannya!" serunya sekali lagi, lalu akhirnya benar-benar semakin jauh dari Hema.
Hema hanya bergeming, menatap punggung lebar Sandy yang mulai tak terlihat, ditelan gelapnya malam. Dia tak peduli dengan peringatan itu. Rencana perkuliahannya sudah bulat dari sejak dipaksa bergabung ke program studi yang tidak pernah diimpikannya. Itu hanya akan sebatas datang ke ruang kelas, mendengarkan materi dari dosen, mengerjakan tugas, lalu pulang ke kos dan tanpa perlu membangun interaksi dengan siapapun.
Bersambung…
