Chapter Text
Layar komputer di kamar yang remang itu memancarkan cahaya kebiruan, memantul di netra Bambu yang menatap kosong ke arah deretan log obrolan yang baru saja dikunci. Di sudut kanan bawah, status keanggotaannya dan Nanz telah berubah menjadi “Di keluarkan”. Tidak ada lagi akses. Tidak ada lagi panggung tempat mereka biasa mendominasi obrolan harian.
Di sebelah grup yang mati itu, sebuah jendela panggilan suara privat masih terhubung. Suara napas Nanz terdengar berat dan tidak beraturan, memecah hening kamar Bambu.
"Mereka tidak mengerti apa pun, Bambu!" bentak Nanz. Suaranya melengking, penuh distorsi akibat kecemasannya. Jemarinya menghantam meja kayu dengan keras.
"Semua orang di sana munafik! Aku sudah tidak sudi bergabung dengan grup haram itu! Mereka pura-pura jadi pahlawan moral padahal cuma cari alasan buat menyingkirkan kita!"
Bambu memejamkan mata rapat-rapat. Ia bisa merasakan dadanya sesak, bukan hanya karena drama yang pecah beberapa jam terakhir, tapi karena melihat bagaimana Nanz hancur di depannya.
Semuanya bermula dari tindakan Bambu sendiri. Dalam simulasi peran beberapa hari lalu, Bambu melangkahi batas etika yang tajam.Namun, alih-alih menjauh untuk menyelamatkan reputasinya sendiri, Nanz justru meledak. Begitu nama Bambu dicoret dari daftar pengurus, Nanz kehilangan kendali. Rasa panik dan ketakutan akan kehilangan Bambu membuatnya bertindak destruktif. Nanz mulai membalas dendam dengan caranya sendiri—melempar candaan ofensif di ruang publik hingga akhirnya berhadapan langsung dengan Pemimpin Komunitas.
Teguran keras dari pimpinan dibalas Nanz dengan serangan verbal bernada diskriminatif. Nanz sengaja membakar habis semua jembatan yang tersisa, memastikan dirinya bernasib sama dengan Bambu: diusir dan dibuang.
"Nanz, cukup..." bisik Bambu pelan. Suaranya serak, lelah luar biasa.
"Aku nggak bakal biarin mereka memperlakukan aku kayak gitu!" potong Nanz cepat. "Padahal kita sudah berkorban! Kenapa kau malah diam?! Jawab aku Bambu!"
Bambu perlahan membuka matanya, menatap nama profil Nanz di layar. Karakter Nanz mungkin dikenal oleh seluruh komunitas sebagai sosok yang kasar, problematik, dan tak ragu merusak apa pun demi kepuasannya. Tapi Bambu tahu lebih dari itu.
Di balik semua toksisitas dan benteng pertahanan yang aneh itu, ada ketergantungan yang teramat dalam. Nanz tidak bisa membiarkan Bambu sendirian di tempat gelap, bahkan jika itu artinya Nanz harus melompat ke dalam api yang sama.. dengan putus asa Nanz mencoba memanipulasi bambu untuk menghancurkan komunitas itu.
Hening mendadak menyelimuti panggilan suara itu. Suara napas Nanz yang memburu perlahan melambat, berganti menjadi hembusan napas yang berat dan tertahan.
"Aku nggak peduli soal komunitas itu," gumam Nanz, suaranya mendadak turun beberapa oktav, terdengar rapuh dan sedikit bergetar. "Aku cuma peduli sama kamu. Kalau mereka buang kamu, aku nggak punya alasan buat tinggal di sana." Kata kata Nanz menusuk hati Bambu. Bambu yang timid hanya bisa termakan oleh niatan jahat Nanz.
Bambu menyandarkan punggungnya ke kursi, memandangi langit-langit kamar. Mereka berdua memang bukan orang baik dalam cerita orang lain. Mereka cacat, penuh cela, dan berulang kali membuat keputusan yang salah. Namun di dalam keterasingan dari dunia luar ini, di dalam ruang privat yang terisolasi dari penghakiman ratusan orang, hanya ada mereka berdua.
Bambu meraih mikrofonnya, mendekatkannya ke bibir. "Kemari," katanya lembut. "Matikan gadget mu. Datang ke tempatku. Kita selesaikan sisanya di sini."
Di ujung talian, Nanz terdiam sejenak sebelum terdengar hembusan napas lega yang halus. "Buka pintunya. Aku sampai sepuluh menit lagi."
Layar monitor yang tadinya menyala terang kini telah gelap total. Bambu mematikan ponselnya, menyisakan kamar yang hanya diterangi oleh lampu meja remang-remang dan pendar tipis dari cahaya jalanan di luar jendela.
Dua belas menit berlalu sebelum ketukan pelan—agak terburu-buru—terdengar di pintu kamarnya.
Bambu tidak perlu bertanya siapa. Ia bangkit, melangkah, dan membuka kuncinya. Begitu selot pintu terlepas, Nanz langsung melangkah masuk tanpa kata. Jaket hitam yang dikenakannya basah oleh embun malam, dan helai rambutnya sedikit berantakan. Wajah yang biasanya dipenuhi seringai sinis,nada provokatif, dan candaan brutal di ruang obrolan itu kini tampak telanjang: pucat, lelah, dan diliputi amarah yang mulai surut menjadi kekosongan.
Sebelum Bambu sempat bersuara, Nanz maju satu langkah dan mendorong dada Bambu pelan—tidak keras, namun cukup untuk menahan laki-laki itu di tempatnya.
“Mereka bodoh," bisik Nanz, suaranya serak. "Kenapa mereka harus seperti itu?..”
Bambu menatap netra Nanz yang bergetar. Di balik semua perilaku destruktif dan ucapan tajam Nanz yang dibenci satu komunitas, Bambu bisa melihat pusaran emosi yang hanya ditujukan untuknya. Ketakutan akan ditinggalkan. Rasa kepemilikan yang hampir obsesif.
"Aku tahu mereka egois, Nanz," jawab Bambu pelan, mengikis jarak di antara mereka. Tangan Bambu terangkat, jemarinya yang dingin perlahan menyentuh rahang Nanz, menuntut mata itu untuk terus menatapnya. "Tapi kamu... kamu nggak perlu ikut hancur cuma buat buktiin sesuatu."
Nanz tertawa tipis, tawa pahit yang tertahan di tenggorokan. Ia memiringkan kepalanya, menyandarkan pipinya ke telapak tangan Bambu, membiarkan kehangatan tipis itu menjalar.
"Aku nggak lagi buktiin apa-apa," gumam Nanz, memejamkan mata sejenak sambil menikmati sentuhan itu. "Aku cuma nggak bisa ngebayangin ada di tempat itu kalau nggak ada kamu. Tempat itu nggak ada artinya kalau kamu diusir. Kalau kamu dianggap monster sama mereka, ya udah... aku jadi monster yang berdiri di sebelahmu."
Kata-kata itu terdengar toxic, kacau, dan melenceng dari logika orang normal. Tapi bagi Bambu, yang juga sama-sama cacat dan penuh cela, ucapan Nanz adalah satu-satunya kenyataan yang terasa hangat.
Bambu menarik tengkuk Nanz perlahan, mendekatkan wajah mereka hingga napas mereka saling beradu di udara kamar yang dingin. Nanz tidak menghindar. Ia justru maju menyambutnya, melingkarkan kedua lengannya di pinggang Bambu dengan erat—seolah takut jika ia melepasnya sedikit saja, Bambu akan menghilang ditelan kegelapan yang baru saja mengusir mereka.
Ciuman itu tidak lembut pada awalnya. Ada sisa kemarahan, keputusasaan, dan rasa frustrasi dari bentrok malam ini yang tertumpah di sana. Nanz menyesap bibir Bambu dengan desakan yang hampir menyakitkan, seolah ingin memastikan bahwa Bambu benar-benar ada di sini, bersamanya, bukan sekadar avatar atau nama pengguna di layar monitor.
Bambu membalasnya dengan intensitas yang sama. Jemarinya menyusup ke sela-sela rambut Nanz, menariknya makin rapat. Rasa bersalah yang tadi menindih dadanya perlahan terangkat, digantikan oleh kehangatan posesif yang membakar. Mereka berdua mungkin telah dibuang oleh dunia yang mereka ciptakan sendiri, tetapi di dalam belitan lengan ini, tidak ada satu pun dari mereka yang peduli.
Ketika Nanz akhirnya menarik diri untuk meraup udara, dahi mereka tetap bersatu. Napas Nanz memburu, matanya sayu menatap Bambu dari jarak yang nyaris tak ada.
"Mereka benar-benar merusak semuanya, ya?" bisik Nanz, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang miring—senyuman khasnya, tapi kali ini terasa jauh lebih lembut.
Bambu merengkuh pinggang Nanz, membawanya melangkah mundur hingga bagian belakang lutut Nanz menyentuh tepi tempat tidur.
"Biarkan saja," sahut Bambu, lalu mendaratkan kecupan pelan di sudut bibir Nanz, berpindah ke rahangnya, hingga Nanz mendesis pelan sambil makin merapatkan tubuh mereka. "Dunia luar sudah selesai dengan kita. Mulai sekarang, cuma ada kita di sini."
