Actions

Work Header

Terima Kasih [Discontinue]

Summary:

Karamatsu sadar ia tidak pintar dalam berpikir. Apakah keputusannya tergesa-gesa? Apakah ia akan mendapatkan yang ia inginkan? Apakah saudaranya akan mengingatnya?

Notes:

Ini bakalan lebih banyak monolog dari sisi Karamatsu dan perlu diingat monolognya hampir 90% negatif, author nggak nanggung kalo kenapa-napa~ /plak

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Asal Aku Ada

Chapter Text

Seperti hari-hari lainnya, kembar enam bermarga Matsuno menghabiskan waktunya dengan cara berbeda-beda di siang hari yang menyengat.

Osomatsu tak perlu dipertanyakan lagi. Ia menghabiskan uangnya untuk berjudi di pachinko. Tidak terhitung jumlah rokok yang sudah terbakar habis karena frustasi belum mendapatkan jackpot. Bukan hanya frustasi karena uangnya habis sekejap mata, namun ia harus memutar otak agar bisa mendapatkan uang. Satu-satunya jalan mendapatkan uang dengan mudah adalah adalah mengambil diam-diam dari dompet saudara-saudaranya dan tentu saja dengan bayaran tonjokan sana-sini.

Hari ini hari spesial bagi Choromatsu, Nyaa-Chan menyanyikan lagu terbarunya dan Choromatsu sangat bersemangat karena lagu ini pertama kalinya dinyanyikan di konser kota tetangga Akatsuka. Choromatsu tidak peduli seberapa jauh perjalanan menuju kota tetangga. Asalkan ia mendengar nyanyian merdu dari idola kesayangannya, semua rasa lelahnya terbayar. Masih ada waktu kurang lebih tiga puluh menit, ia berharap agar tidak terlambat.

Kemudian Ichimatsu. Ia hanya memberikan makanan kucing kepada teman-temannya di gang sempit yang sering ia datangi. Suara bahagia dari kucing-kucing yang telah diberi makan memang sangat menenangkan hati. Ichimatsu tersenyum kecil saat seekor kucing mengeluskan kepalanya ke kaki kirinya.

"Homerun!!! Hustle hustle!!! Muscle muscle!!!" Butiran keringat dari Jyushimatsu membanjiri tubuhnya dan senyumnya semakin melebar saat menyelesaikan homerun. Anak-anak yang ikut bermain dengannya juga bersorak girang karena kehadiran Jyushimatsu.

Kembar terakhir yaitu Todomatsu berbincang-bincang tanpa henti dengan teman-teman wanitanya. Meskipun obrolan wanita-wanita itu hanya tentang rekannya yang kaya bernama Atsushi.

Semua sibuk dan menyisakan Karamatsu seorang diri tanpa kesibukan apapun.

Tanpa kesibukan, tanpa rencana, tanpa membicarakan apa yang ingin Karamatsu lakukan hari ini kepada keluarganya, ia tetap berjalan sambil bersenandung kecil. Matanya memandang langit kejauhan dari balik kacamata hitam yang dipakainya. Sinar matahari yang nampak tersenyum kepadanya dan awan-awan berarak seakan mendukung keputusannya.

Mengapa aku terus melangkah?

"Karena aku ingin."

Kau ingin apa?

"Entahlah."

Apa kau berpikir ini langkah yang tepat?

"Heh." Karamatsu mendengus mendengar bisikan nuraninya. "Selama ini tepat atau tidak suatu pilihan tergantung sesuai pandangan individu, aku hanyaー"

"Hoi! Lihat-lihat saat kau berjalan!"

Gumaman Karamatsu buyar saat seseorang meneriakinya. Memang hati nurani kadang membutakan mata. "Aku minta maaf." Sahut Karamatsu dan sedikit membungkukkan badannya. Orang tersebut hanya berdecak lidah dan melanjutkan perjalanannya.

Hidup bersama lima saudara laki-laki dengan wajah yang sama persis membuat Karamatsu terlupa bahwa orang-orang sensitif akan hal kecil. Meski harus ia akui bahwa ia adalah bagian "orang-orang sensitif" tersebut. Tapi, toh ia hanya seorang manusia. Ia masih berhak untuk menangis saat keluarganya lupa bahwa ia ada, lupa bahwa ia juga punya hati, lupa bahwa ia... Ingin diperlakukan sama seperti saudara-saudaranya.

Salahkah ia menjadi dirinya? Apakah ini hukuman untuknya saat ia tidak menjadi sama seperti lima saudaranya? Mungkin saja saudaranya benar. Seharusnya ia tidak membaca majalah dan berusaha menjadi keren, seharusnya ia tidak membeli jaket kulit hitam jika akhirannya akan dirusak Ichimatsu, seharusnya ia tersenyum lebar seperti Jyushimatsu tak peduli seberapa sakitnya ia dilempari barang-barang oleh saudara-saudaranya saat dirinya diikat di palang besar...

Seharusnya, seharusnya...

"......Seharusnya aku di rumah."

Langkahnya terhenti. Kedua alisnya berkedut. Karamatsu membalikkan badannya ke belakang. "Hmm..."

Karamatsu sadar ia tidak pintar dalam berpikir. Apakah keputusannya tergesa-gesa? Apakah ia akan mendapatkan yang ia inginkan? Apakah saudaranya akan mengingatnya?

Konyol sekali mempertanyakan hal itu selagi mereka lebih peduli dengan buah pir disajikan di atas piring ketimbang nyawamu.

Lihat?

Karamatsu membalikkan badannya ke depan dan kali ini ia tidak ragu akan pilihannya.

☆★☆☆☆☆

Karamatsu sampai di Stasiun Akatsuka. Ia tak menyangka bahwa sinar matahari yang sedari tadi tersenyum kini ingin pulang ke ufuk barat tempatnya berada. Langit jingga dengan burung-burung berterbangan di angkasa dan Karamatsu berpikir mereka pasti ingin pulang bertemu anak-anak dan memberi mereka makanan.

Matanya terpejam sejenak membayangkan rumah tercintanya. Apakah ibu sudah pulang? Makan malam hari ini apa? Karaage kesukaannya mungkin menunggu di meja makan dan ia harus berperang dengan Osomatsu yang tidak tahu batasan mengambil karaage bagiannya.

Tawa di meja makan yang meriah dan diakhiri dengan ucapan "Selamat tidur.", keseharian yang Karamatsu alami, terus berulang tanpa merasa bosan sedikit pun.

Masalahnya, apakah ia berhak terus berada di tengah-tengah keseharian selamanya?

Bukankah selama ini ia perusak pemandangan?

Selama ini mungkin ia bukan anak kembar. Mungkin ia hanya dibesarkan karena kebetulan wajahnya sama. Sehingga walaupun ia mati pun mereka tidak rugi sepeser pun.

"Begitu, begitu... Heh, aku paham." Senyum Karamatsu lebar saat mengerti keadaannya yang seperti ini. Ternyata memang tidak serumit yang ia pikirkan.

Sejak awal Karamatsu itu tiada.

Karamatsu berjalan menuju salah satu antrean untuk membeli karcis. Selama ini ia tidak tahu kota lain selain Akatsuka, jadi ia hanya asal mengambil rute tujuan.

Hiruk-pikuk stasiun kereta membuat Karamatsu tertegun. Orang-orang yang pulang dan pergi, penjaga stasiun, pemandu, petugas kebersihan...

Ramainya keadaan stasiun membuat dirinya merasa kecil. Apapun yang ia lakukan tidak akan berpengaruh terhadap semua orang di stasiun ini. Bahkan saudara-saudaranya sekalipun.

Meski begitu, Karamatsu ingin tahu rasanya. Rasanya menghempaskan tubuh lalu jatuh ke dasar hingga ribuan kerumunan menjadi resah dan panik. Kereta yang berkecepatan tinggi melintasi tubuhnya, ratusan tulang-tulang di tubuhnya remuk, darahnya mencuar bagaikan kembang api, dan organ-organnya berceceran ke mana-mana......

Sampai di titik itu, apakah mereka masih mau bersimpati?

"Ah." Entah bagaimana, Karamatsu hampir mencapai ujung peron dan ia melangkah kembali ke titik aman. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

Nah. Jangan di sini, setidaknya.

Suara khas pemberitahuan kereta selanjutnya terdengar di kedua telinga Karamatsu. "Matsuno Karamatsu, Kereta nomor dua," Ia membaca semua tulisan yang tertera di karcis yang telah ia beli.

"Dua menit lagi."

Tidak butuh waktu lama, kereta yang dipesannya tiba di hadapannya. Setelah menunggu orang-orang keluar dari dalam kereta, Karamatsu dan orang yang bertujuan sama dengan cepat masuk ke dalam kereta agar tidak tertinggal. Akhirnya, Karamatsu masuk ke dalam kereta dan ini pertama kalinya ia pergi menggunakan kereta seorang diri.

Pintu kereta ditutup sebagaimana hatinya yang tertutup.

Saat kereta mulai berjalan, Karamatsu membuka kacamata hitamnya. Melihat keadaan stasiun pemberangkatannya untuk terakhir kalinya dari kaca kereta dengan pandangan teduh dan hati terenyuh.

"Terima kasih..."

Lalu...

"Selamat tinggal." Bisiknya.

Notes:

Met ultah Karamatsu sayaanggg~~